Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Saat petang, jalur itu sepi, hanya ada gonggongan anjing yang terdengar dari waktu ke waktu. Hanya ada sedikit bangunan yang masih terlihat terang. Di punggung Hong Jun, ikan mas yao mengoceh terus menerus, “Aku sudah katakan padamu untuk datang lebih awal, tapi kau tidak mendengarkanku. Sekarang sudah gelap, semua penerangan dan pelita sudah padam, dan tulisan yang ada di papan sudah tidak terlihat lagi. Bagaimana kita menemukan bangunan yang kita tuju?”

Hong Jun berdiri selama beberapa saat dan mendengarkan suara terakhir dari 3000 ketukan genderang, yang menandakan di mulainya jam malam. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah membulatkan tekadnya, mengetuk pintu seseorang, dan menanyakan arah. Hong Jun sudah mencoba bertanya ke beberapa kediaman dan pada akhirnya dia menemukan orang tua bisu yang mengguncang sebuah lentera di wajah tampannya. Hong Jun dengan sungguh-sungguh meminta maaf karena sudah menganggunya sebelum dia berbalik dan berjalan lagi. Di dalam gang ada sebuah rumah kosong yang dipenuhi dengan banyak rumput liar yang tumbuh, tidak jelas sudah berapa lama rumah itu tidak ada yang membersihkan. Hong Jun lalu melanjutkan untuk menggelar tikar anyaman dan berbaring di atasnya, tanpa memperdulikan kotoran. Dia sangat lelah dan langsung tertidur.


Pada malam hari, awan hitam menghalangi cahaya bulan. Di kedalaman Istana Xingqing, angin yang mencekam melambai-lambaikan tirai sutra. Tertiup oleh angin, cahaya lilin berkedip-kedip nyala-mati, bersinar beberapa saat lalu padam pada saat berikutnya.

Mengenakan jubah hitam dengan bersulamkan pola topeng taotie1. Seorang wanita duduk tegak di kursi tengah aula istana. Tiga orang pria menemaninya, mereka semua memakai jubah yang menutup wajah mereka. Salah satu dari mereka memegang nampan, yang disana ada pisau lempar bernoda darah.

“Apa ini?” Tanya wanita itu.

“Ketika ao terbang berburu di luar kota, dia tertusuk oleh pisau.” Pria itu berkata dengan suara rendah, “Kami membiarkannya pergi ke Istana Daming, di mana dia akan bersembunyi dan memulihkan diri.”

Wanita itu menggunakan jarinya dengan hati-hati untuk mengambil pisau lempar itu, alisnya mengerut ke dalam. Dia memperhatikannya selama beberapa saat dan Pisau Lempar Zhanxian memantulkan penampilannya yang bermartabat, yang sangat indah dan dapat menyebabkan jatuhnya kerajaan dan kota.

“Aku belum pernah melihat ini sebelumnya.” dia melemparkan pisau lempar kembali ke nampan, mendarat dengan suara dentangan logam ‘clang‘.

“Seseorang telah datang,” kata pria yang lain.

“Sudah bertahun-tahun.” Wanita itu melanjutkan dengan dingin, “Namun mereka baru datang sekarang. Besok serahkan pisau lempar ini kepada Yang Mulia; mari lihat apa yang dia katakan. Bagaimana orang yang menggunakan pisau lempar ini?”

“Mereka dikejar oleh Li Jinglong, dan mereka berdua terlibat dalam pertempuran,” Lapor pria ketiga. “Tapi dia kehilangan jejaknya, hamba takut…”

“Hahahaha.” Wanita itu tertawa tak terkendali, gerakannya anggun seperti biasa. “Ini sedikit menarik. Si gila dan bodoh Li Jinglong, kenapa dia masih memiliki mimpi yang besar untuk mengusir setan dan membunuh yao?”

“Semalam, ao terbang secara tidak sengaja menampakkan dirinya, ada rumor di mana-mana,” kata pria itu. “Mereka mengatakan bahwa Chang’an memiliki yao.”

“Oh?” Wanita itu tertawa kecil. “Apa Chang’an memiliki yao? Ini kali pertama aku mendengar hal seperti itu. Putra Suci dari Langit itu sudah duduk diatas takhta, keempat samudra di dunia hidup damai, dan semua hati di seluruh dunia telah berpaling untuk mendukungnya, jadi bagaimana mungkin ada yao? Besok, kita harus membicarakan masalah ini dengannya. Kalian semua bisa pergi sekarang. Beri tahu ao terbang untuk tidak menampakkan diri di depan umum lagi, dan temukan pemilik pisau lempar ini; lalu berikan orang itu ke ao terbang untuk dimakan.”


Udara pagi di awal musim gugur terasa pengap. Tak lama kemudian, kicauan burung, dan suara kepakan sayap dari pohon wutong di luar rumah kosong terdengar ketika semua burung terbang menjauh.

Dari depan halaman terdengar suara berisik yang membangunkan Hong Jun dari mimpinya.

Ikan mas yao terbangun juga — dia begitu ketakutan sehingga dia menggeliat dari buntelan dan menjatuhkan diri — tubuh ikannya menggelepar-gelepar di tanah berulang kali dan berkata, “Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?”

Tak lama setelah itu, ia melakukan lompatan dan berbalik dengan cepat di atas kakinya. Melihat ke kiri dan ke kanan, ikan mas yao bertanya, “Di mana ini?”

“Apa ada orang di dalam?” terdengar suara seorang pria, yang mendorong untuk membuka pintu ruang depan dan berjalan masuk.

Hong Jun dengan cepat mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya. Di tengah sinar matahari yang berkabut, dia melihat seorang pemuda langsing setinggi sembilan chi. Pemuda itu mengenakan pakaian aneh dan menatap Hong Jun dengan heran.

Mereka berdua saling bertatap-tatapan selama beberapa saat, dan akhirnya Hong Jun dapat dengan jelas melihat wajah pemuda itu: bentuk wajahnya jelas, tulang pipinya tinggi, alisnya hitam seperti bulu burung elang, dan bibirnya tajam. Warna kulitnya coklat-perunggu yang sehat karena paparan sinar matahari sepanjang tahun, dan rambut tebalnya telah disisir menjadi kepangan kecil. Di punggung pemuda itu tergantung sebuah busur dan tempat anak panah, dan dia mengenakan pakaian luar dari kulit domba yang memperlihatkan bahu kanannya yang berwarna coklat-perunggu. Sepasang sepatu bot berburu warna hitam dan tas berpergian di pinggangnya membuatnya mirip seorang pemburu.

Dengan bahu yang lebar dan pinggang yang ramping, meskipun dia mengenakan jubah berburu dari kulit domba, dia masih terlihat luar biasa.

“Aku takut setengah mati,” ikan mas yao menggerutu.

Pemuda itu memperhatikan ikan mas yao dan mulai mengambil ancang-ancang. Dia meraih tangannya ke belakang untuk mengambil panah dari tempatnya dan dia tidak buang-buang waktu untuk menarik busurnya.

Hong Jun segera bergerak untuk melindungi ikan mas yao. “Yao ini tidak membahayakan manusia! Aku adalah pengusir setan!” Sekarang dia takut bahwa ikan mas yao akan menggali kuburnya sendiri, dia lalu berteriak “Zhao Zilong! Berhentilah berbicara omong kosong!”

Pemuda itu menarik kembali busur dan panahnya, dia setengah percaya setengah ragu dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia menatap Hong Jun dari atas ke bawah sebelum bertanya, “Kau pembasmi setan? Jadi kenapa kau membawa yao bersamamu? Lupakan, kepada siapa aku harus melapor?”

“Melapor?” Kata Hong Jun bingung.

Pemuda itu mengangkat tangan dan menunjuk titik di atas Hong Jun, memberi isyarat padanya untuk melihat ke atas.

Hong Jun mendongakkan kepalanya dan melihat bahwa di ruang depan dari rumah kosong itu ada papan dengan 6 kata yang ditulis besar: Departemen Pengusiran Setan Tang yang Agung


Di luar tembok Istana Xingqing, langit tertutup oleh awan gelap. Tamannya sangat lembap dan panas. Li Longji2 menggenggam Selir Yang Yuhuan3, mereka berdua saling berdekatan tapi merasa terlalu panas. Namun ketika mereka sedikit menjauh, mereka ingin menempel satu sama lain. Setelah beberapa waktu berhubungan dengan mesra, sepasang tubuh itu tertutupi oleh keringat dan memutuskan untuk mengaitkan jari-jari mereka satu sama lain sambil menyeruput minuman prem asam dingin. Di dekatnya seorang wanita dari Negeri Guo mengupas buah leci dan meletakkannya di mangkuk kaca warna-warni, karena diletakkan es batu buah itu tetap dingin. Disamping wanita itu, Yang Guozhong mengambil dan memakan leci yang sudah disiapkan.

“Petugas Li Jinglong dari Akademi Militer Longwu mengambil kesempatan untuk menghabiskan malam di rumah bordil ketika melakukan patroli malam. Orang-orang di bawah komandonya bahkan minum-minum, main-main, dan terlibat dalam perkelahian. Setelah bangun pada pagi harinya dan menyadari bahwa mereka tidak dapat memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan, mereka membuat lelucon besar sebagai alasan.” Kata Yang Guozhong dengan senang.

“Kita harus menghukum orang itu,” kata wanita Negeri Guo itu. ” Dia tidak bisa mengurus bawahannya, mengabaikan tugasnya, dengan bodohnya berusaha menipu Putra Langit, dan bahkan menyebarkan rumor palsu. Bagaimana semua itu bisa diterima?”

Yang Yuhuan tiba-tiba terpikirkan sesuatu dan bertanya, “Bukankah Li Jinglong itu… sepupu Jenderal Feng?”

“Itu dia,” kata Yang Guozhong. “Beberapa hari yang lalu, Changqing kembali ke pengadilan kekaisaran dan menulis surat yang isinya memuji-muji sepupunya itu, dia bertujuan untuk membawanya ke medan perang dan mendapatkan tanda kehormatan untuk Li Jinglong karena jasa militer. Dari apa yang aku lihat, tidak ada yang Li Jinglong lakukan; asingkan dia, minta dia bertugas beberapa tahun di ketentaraan, yang tentunya akan menghentikan cara gegabahnya.”

Li Longji menggerutu dan hendak berbicara. Yang Yuhuan memperhatikan ekpresinya dan tidak bisa menahan dirinya untuk berbicara, “Jenderal Feng baru saja berjuang untuk negara dan mendapatkan tanda kehormatan untuk jasa militernya. Bagi kita mengasingkan sepupunya seperti ini… Semua anak muda bernafsu dan menggebu-gebu dan kejahatan yang dia lakukan juga tidak berat.”

“… Bertahun-tahun yang lalu, ketika Duke Di (Di Renjie) menjadi pikun, sepanjang hari dia akan berbicara tentang yao.” Li Longji mengenang masa lalu dan melanjutkan pembicaraannya, “Saat itu, dia bahkan membangun departemen yang disebut, ‘Departemen Pengusiran Setan’ dan dipimpin oleh Manajer Urusan Pemerintahan. Setelah ibukota dipindahkan, departemen itu juga dipindahkan di sini.”

Yang Yuhuan teringat, “Aku masih mengingat masa kecilku, ah…”

“Aku tahu kamu akan membicarakan rubah putih itu,” kata wanita Negeri Guo dengan senyum tipis.

Li Longji berkata, “Ngomong ngomong, selama masa kecil kita, kita pergi bersama. . . mereka ke upacara pemujaan surga dan melihat punggung naga hitam di air sungai.”

Yang Yuhuan tertawa, “Itu pertanda baik! Orang-orang tidak mengerti maknanya, jadi mereka menyebutnya yao. Bukankah itu bukti pertanda baik dari Yang Mulia atas Kekuasaan Langit?”

“Benar,” jawab Li Longji. “… Mn. Aku4 punya ide, karena Li Jinglong memiliki bakat yang aneh, kenapa kita tidak mengirimnya untuk mengawasi Departemen Pengusiran Setan? Bagaimana kedengarannya?”

Yang Guozhong, Yang Yuhuan, dan wanita Negeri Guo saling menatap. Kemudian, Yang Yuhuan tertawa lepas, sedangkan sudut mulut wanita Negeri Guo itu sedikit berkedut. Selama beberapa saat, dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi.

Dengan ekspresi yang sangat serius, Li Longji melanjutkan pembicaraannya, “Jadi sudah diputuskan. Aku tidak tahu lokasi Departemen Pengusiran Setan, tapi aku kira ada satu diluar sana. Bagaimanapun juga, Li Jinglong tidak bisa tetap berada di Keprajuritan Longwu, jadi kirim dia untuk mengawasi Departemen Pengusiran Setan itu. Disana, dia dapat memberitahu orang-orang biasa di Chang’an tentang ‘pertanda baik’ itu dan juga memenuhi keinginan Feng Changqing. Kau yang akan mengurus semuanya, Guozhong.”

Yang Guozhong: “…”


Di dalam rumah kosong, Hong Jun dan pemuda tampan itu menatap kaget satu sama lain. Tidak pernah terpikirkan oleh Hong Jun bahwa tempat ini adalah tujuan yang dia cari! Sudah jelas bahwa tempat ini sudah terbengkalai selama bertahun-tahun. Aula depan dipenuhi oleh jaring laba-laba, tapi area departemen ini cukup besar dengan tiga ruangan dan empat halaman. Setelah melewati aula depan, seseorang dapat menemukan teras yang luas dan beberapa peti yang lapuk, peti-petinya benar-benar kosong.

Pemuda itu bernama Mo Rigen, dia adalah pengusir setan yang datang melapor untuk bertugas. Hong Jun memintanya untuk memeriksa surat laporan tugasnya dengan cermat dibawah sinar matahari. Inti dari kedua surat mereka adalah bahwa yao dan setan/iblis (demons) membentuk perkumpulan mereka sendiri di Chang’an dan para pengusir setan dari keluarga yang berpengaruh di seluruh negeri diundang ke Departemen Pengusir Setan Tang yang Agung di Chang’an demi melapor untuk bertugas.

Setelah itu, sementara Mo Rigen mempelajari surat-surat itu, Hong Jun berkeliling di sekitar Departemen Pengusiran Setan yang di telantarkan. Di halaman terbuka, dia menemukan pohon parasol yang bahkan lebih tinggi dari atap didekatnya. Di bawah pohon itu ada beberapa pohon yang masih muda, hal itu menyebabkan rasa kedekatan dan keakraban di dalam hati Hongjun. Terasnya terhubung ke ruangan di sisi timur dan barat dengan dua lorong yang berliku. Lonceng angin berkarat tergantung di langit-langit lorong. Di ujung lorong ada sekat batu yang melindungi kamar-kamar di belakang dari pandangan orang luar. Pintu dan jendela dari 12 kamar itu sudah lapuk, dan tikus-tikus keluar-masuk, mencicit dengan berisik.

Di bagian paling dalam dari kediaman itu ada aula yang luas: aula utama. Dipan luas yang terbuat dari bambu terletak disana, dan di tengahnya ada meja teh kecil. Waktu telah banyak berlalu, semua tampak berantakan, dan di bawah meja kayu ada beberapa gelas porselen yang hancur.

Tidak hanya itu, tapi di halaman belakang ada pintu belakang yang tertutup rapat.

“Kong Hong Jun.” Mo Rigen selesai mempelajari surat itu dan menghampirinya dengan cepat dari aula depan, dan dahinya hampir menabrak ambang pintu. “Kedua surat kita sama,” Mo Rigen memberitahu.

Hong Jun membalas, “Itu aneh…”

Dalam bayangannya, Departemen Pengusiran Setan Tang yang Agung seharusnya adalah tempat dengan banyak orang di dalamnya. Tempat ini tidak seperti kantor pemerintahan yang dia dengar, yang kebanyakan memiliki tempat untuk pergantian kuda. Tempat ini benar-benar kosong dan terlantar, jadi siapa yang mengirimkan surat itu?

Sebelum Hong Jun menuruni gunung, Qing Xiong tidak memberitahunya darimana surat ini berasal dan dia juga tidak mengatakan tentang perantara dari keluarga yang berpengaruh. Tapi tampaknya, seseorang telah menyalin suratnya sebelum menyegel dan mengirimkan duplikatnya, bahkan di surat itu ada tanda tangan dari orang bermarga ‘Di’.

“Apakah pengirim dari surat-surat ini adalah Di Renjie?” tebak Mo Rigen. “Tapi bukankah dia telah mati selama bertahun-tahun?”

“Apa kau sudah melihat dindingnya?” kata ikan mas yao, dia berdiri di aula utama dan memiringkan kepalanya.

Hong Jun: “Eh?”

Hong Jun berjalan maju untuk menyapu debu yang ada di dinding, dan menampakkan mural berbintik. Mural itu melukiskan seorang pejabat berpakaian warna ungu dan duduk tegak. Bahkan ada pembakar dupa tembaga yang ditutupi patina5 di depan lukisan itu.

“Aku menduga lukisan ini pasti dia,” kata Mo Rigen.

“Apa mungkin Departemen Pengusiran Setan sudah dipindahkan?” tanya Hong Jun.

“Di surat ini menyatakan bahwa lokasinya ada disini.” Jawab Mo Rigen. “Selain itu, lihat sekelilingmu; tempat ini telah ditelantarkan selama bertahun-tahun. Ini tidak terlihat seperti mereka baru saja pindah.”

Mereka berdua berdiri di depan mural itu selama beberapa saat. Untuk sampai disini, Hong Jun telah melewati semak-semak berduri dan telah berjalan melalui dataran dan sungai. Akhirnya, setelah berjalan puluhan ribu mil, dia tiba di tempat tujuannya tapi apa yang dia dapatkan sangat berbeda dari bayangannya. Dia tiba-tiba merasa kecewa seperti seseorang yang telah mendaki gunung selama setengah hari, hanya untuk menemukan bahwa tidak ada apa pun di puncak. Kemudian, pikirannya buyar ketika suara seseorang terdengar dari halaman depan: “Yo, pintunya roboh. Apa ada orang di dalam?”

Seorang pemuda asing mengenakan jubah militer berwarna merah marun dan membawa sitar di punggungnya sedang berdiri di halaman, yang sekarang penuh dengan barang bawaannya. Dia menyerahkan uang kepada dua orang porter6 yang membawa banyak barang berbagai ukuran dipundaknya, dan meletakkannya di halaman.

Pemuda itu mempunyai hidung tinggi seperti jembatan, mata yang dalam, rambut keriting, empat cincin di jari-jarinya, dan kulit putih seperti susu. Dia membuka kipasnya yang bertutul permata biru di tangannya dan menggunakannya untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari ketika dia melihat ke kiri dan ke kanan, ekspresi wajahnya kebingungan.

Mo Rigen dan Hong Jun berjalan keluar dari aula depan.

“Hey!” teriak orang asing itu, dan membuat keduanya terkejut.

Hai Mie Hou Bi!7” lanjut si orang asing itu, melebarkan lengannya dan berteriak dengan penuh semangat, “Teman-teman tersayangku dari Tang yang Agung! Hello!”

Segera setelah itu, pemuda itu berjalan cepat ke depan dan memeluk Mo Rigen sebelum berbalik untuk memeluk Hong Jun dengan erat.

“Nama ku Tailobudamia Homihok Hammurabi,” kata si pemuda asing itu. “Kalian dapat memanggilku ‘A-Tai’.”

Setelah memperkenalkan dirinya, dia meletakkan kedua tangan di dadanya, perlahan mundur, kemudian membungkuk dengan anggun, dan berkata, “Permisi, apa ini adalah Departemen Pengusiran Setan Tang yang Agung? Ini surat rekomendasiku. Siapa petugas yang bertanggungjawab?”

Mo Rigen dan Hong Jun tercengang pada saat yang sama. Tetapi sebelum mereka dapat membalasnya, ada seorang lagi yang datang.

“Ada orang di sana?”

Mereka bertiga memalingkan kepalanya secara bersamaan dan melihat seorang pemuda terpelajar yang sedang menjulurkan kepalanya ke halaman untuk melihat-lihat.

“Orang rendah hati ini bernama Qiu Yongsi dari Jiangnan.” Pemuda terpelajar itu menangkupkan kedua tangannya sebagai salam dan berkata sambil tersenyum, “Setelah menerima titah dari kakekku, Aku datang kesini untuk… Apa yang terjadi? Kenapa ekspresi kalian semua sangat a… neh…? Eh? Kenapa ada yao di departemen ini?!”

Lima belas menit kemudian, mereka semua tampak cemas, sambil memegang surat masing masing.

“Ini tidak mungkin benarkan, ah, kalian semua datang melapor untuk bertugas? Apa Pengadilan Kehakiman dan Revisi8 bertanggungjawab?” Tanya Mo Rigen, pemuda dari Shiwei.

Pemuda terpelajar Qiu Yongsi menjawab, “Sebelum datang kesini, aku pertama-tama pergi ke Pengadilan Kehakiman dan Revisi. Tapi mereka tidak bertanggungjawab.”

Pemuda asing, Ah Tai menambahkan, “Aku pergi ke Pengadilan Upacara Negara9 dan bertanya pada sekitar. Mereka juga tidak bertanggung jawab.”

Mereka berempat duduk melingkar dan departemen menjadi sunyi. Mereka berempat menerima surat tugas, tapi Departemen Pengusiran Setan yang mereka temukan sangat sepi dan di tumbuhi banyak rumput liar. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Aku pikir ada sesuatu yang mencurigakan.” A-Tai menjentikkan jarinya, mondar-mandir di aula, dan menatap Mo Rigen sambil bergumam, “Aku berasal dari Sungai Tarim Basin, saudara Mo Rigen berasal dari padang rumput Hulunbuir di Mongolia Dalam, dan saudara yang cantik ini adalah…”

“Namaku Hong Jun. Kong Hong Jun,” jawab Hong Jun.

“Di mana kau tinggal?” tanya A-Tai dengan senyuman.

“Di Gunung Taihang.”

“Dan kau?” tanya A-Tai berpaling ke arah pemuda terpelajar bernama Qiu Yongsi.

“Danau Barat,” jawab Qiu Yongsi.

Ah Tai berkata, “Beberapa dari kita datang dari dekat dan yang lain dari jauh. Masing-masing dari kita menerima surat di waktu yang berbeda, jadi kenapa kita bisa datang ke Chang’an di hari yang sama?”

“Kau benar!” Hong Jun tersadar.

“Oh?” tanya Qiu Yongsi. “Kalian semua juga baru saja tiba?”

“Mn.” Mo Rigen mengangguk perlahan, tampak termenung, dan berkata, “Setelah kita menemukan pengirim surat-surat ini, kebenaran akan terungkap.”

Hong Jun memikirkan situasinya; jika orang ini dapat mengirimkan surat ke tangan Qing Xiong, lalu apakah itu menandakan bahwa pengirim tahu bahwa dia berasal dari Istana Yaojin? Jika pengirimnya sadar, apakah memungkinkan bahwa Di Renjie dan ayahnya, Kong Xuan saling mengenal satu sama lain? Bahkan, jika bukan itu masalahnya, paling tidak si pengirim mengetahui kejadian di masa lalu

Hong Jun sesaat ragu dan tiba-tiba mendapat ide cemerlang. “Apa kalian semua berpikir akan ada banyak orang yang akan datang nanti?”

Ah Tai mengangguk, dengan senyuman licik di sudut bibirnya. “Benar. Mungkin yang harus kita lakukan sekarang hanyalah menunggu.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Pola topeng taotie.Pola topeng taotie
  2. Li Longji: Nama pribadi Kaisar Tang Xuanzong.
  3. Yang Yuhuan: dikenal juga dengan nama Yang Guifei adalah salah satu dari 4 wanita tercantik dalam sejarah Tiongkok.
  4. Zhen: pengganti kata ‘aku’, digunakan oleh Kaisar.
  5. Noda warna pada permukaan luar material logam.
  6. Kuli angkut barang.
  7. Hai Mie Hou Bi: bahasa Persia, artinya Hallo temanku.
  8. The Court of Judicature and Revision. Nine Courts (9 pengadilan): 九寺, 9 pengadilan tingkat atas di pemerintah pusat di kekaisaran Cina dari dinasti Qi Utara (550-577) hingga dinasti Qing (1636–1912).
  9. The Court of State Ceremonial, merupakan salah satu dari Nine Courts.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments