• Post category:Embers
  • Reading time:10 mins read

Penerjemah: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Xing Ye tidak mengatakan apa pun.

Tapi jarak di antara mereka memungkinkannya untuk merasakan reaksi pihak lain terhadapnya.

Sheng Renxing menunggu selama tiga detik dan mengulurkan tangan untuk merasakannya.


Keesokan harinya, Sheng Renxing terbangun oleh alarm jam, menutup matanya dan mengulurkan tangan untuk mematikan sumber suara, tapi dia lupa tentang tatonya, dan ketika dia bergerak, dia “mendesis”, dan rasa sakit membangunkan sebagian besar otaknya.

Pengaturan di depannya sangat asing, dia berguling, berbaring telentang di tempat tidur, sebuah tangan menyentuh rambutnya, dan ingatan tadi malam berangsur-angsur muncul.

Berkendara, tato, pengakuan, ciuman…

Dan satu sama lain…

Sheng Renxing tiba-tiba duduk, merasa bahwa dia sekarang cukup bersemangat untuk dapat segera melakukan satu set tinju militer.

Dua menit kemudian, orang yang duduk kaku di tempat tidur itu perlahan-lahan menekuk kakinya dan memeluk lututnya, seolah-olah dia ingin menyusut menjadi bola.

Tapi pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Xing Ye membeku ketika dia melihat bahwa Sheng Renxing telah bangun, dan dia berdiri di ambang pintu, menatapnya.

Sheng Renxing hampir melempar selimut karena terkejut. Sekarang, setelah dia melihatnya, gambaran semalam tidak bisa berhenti mendidih, tangannya mencengkeram kain itu dengan erat, dan dia berteriak sebagai refleks, “Kenapa kamu tidak mengetuk!”

Xing Ye menatapnya selama dua detik, mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.

“Tok, tok.”

Sheng Renxing: “…”

Keduanya saling menatap kosong untuk beberapa saat, lalu Xing Ye melontarkan kalimat, “Kita akan terlambat” dan berbalik.

Sheng Renxing: “…”

Dia bahkan merasa lebih kesal.

Beginikah caramu memperlakukan pacarmu?

Kamu tidak seperti ini tadi malam!

Bajingan!

Duduk di tempat tidur, Sheng Renxing perlahan mengganti pakaiannya, pakaian yang sama dengan yang dia pakai kemarin.

Hanya saja, pakaian dalamnya sudah dia lempar ke keranjang cucian. Sekarang, dia mengenakan jumper luar, yang terlihat tebal tapi tidak terlalu hangat, ditambah lagi angin bertiup masuk dari sudut.

Melihat pakaian kusut yang dilemparkan ke tempat tidur, wajahnya menjadi aneh lagi, terutama saat dia melihat celana olahraga!

Sheng Renxing menarik pakaian itu dan melemparkannya ke keranjang cucian.

Lebih baik tidak melihatnya.

Di sisi lain, Sheng Renxing tidak bisa tidak menyalahkan dirinya sendiri karena bereaksi tidak jantan tadi malam.

Sepanjang waktu, Sheng Renxing hanya bergantung pada belas kasihan Xing Ye.

Dia tidak melawan sama sekali!

Sheng Renxing menggigit sikat giginya di mulutnya dengan rona kemarahan tanpa ekspresi.

Pasti Xing Ye pernah memiliki pengalaman dengan seseorang, jadi dia kalah karena tidak berpengalaman!

Atau mungkin Xing Ye memberi makan dirinya semacam ekstasi tadi malam, jenis yang bekerja setelah kamu meminumnya!

Sheng Renxing melihat dirinya di cermin dan mengangguk dengan tekad dan persetujuan.

Pada hari pertama bersama, dia mulai menemukan ketidaksetian diantara mereka1從自己給自己找綠帽戴開始。Itu adalah idiom aslinya. Jadi, jika kalian lebih tahu mungkin bisa memberitahu kami..

Sheng Renxing belum selesai berurusan dengan guncangan emosional tadi malam ketika dia tiba-tiba mendengar tawa datang dari belakangnya.

“?” Sheng Renxing tiba-tiba menoleh dengan tajam dan melihat Xing Ye bersandar di pintu, menatap dirinya sendiri, wajahnya dingin, tidak terlihat seperti dia baru saja menertawakannya.

“!” Sheng Renxing ingin bertanya apa yang kamu tertawakan, tapi busa di mulutnya menghalangi kata-katanya. Dia memalingkan kepalanya dan meludahkan busa untuk membilas mulutnya.

“Apa?” Setelah beberapa detik, Sheng Renxing mencerna emosinya dan Xing Ye masih bersandar di sana sambil memandanginya.

“Pagi.” Xing Ye tersenyum padanya.

Jendela di kamar mandi dilengkapi dengan jendela besi, dan sinar matahari yang terbit terbagi menjadi beberapa kotak, menyinari dirinya dan melembutkan ketidakpeduliannya, yang terlalu hitam-putih dan tidak dapat didekati karena fiturnya yang tajam.

Sudut mulutnya, yang semula tidak berwarna, telah diwarnai oleh sinar matahari, membuatnya terlihat seperti pria yang sedang jatuh cinta.

Atau mungkin dia hanya berdiri di bawah cahaya dan membuat lubang di cangkang es tebal yang bertuliskan “tidak ada yang boleh masuk” dan melangkah ke luar dengan ragu-ragu.

Pihak lain hampir lupa, bahwa remaja berusia tujuh belas atau delapan belas tahun identik dengan sinar matahari.

Sheng Renxing menelan sedikit air rasa mint.

Habis sudah, pasta gigi ini juga dibubuhi obat-obatan.

“Pagi.” Sheng Renxing ingin mengatakannya dengan tenang, tapi sudut mulutnya tidak mendengarkan kontrolnya, menampakkan senyum yang lebar.

“Apa kamu tidur nyenyak?” Xing Ye bertanya.

“Yah,” Sheng Renxing berkedip dua kali dengan cepat, “itu cukup bagus.”

Nyatanya, Sheng Renxing terbangun dua kali karena Xing Ye tidak bisa tidur nyenyak, dan dia tidak tahu apakah itu karena kedinginan atau apa, tapi dia terus menghimpitnya. Tembok itu tepat di sebelahnya, jadi tidak ada ruang untuknya.

Sheng Renxing terpenjara di antara dinding dan Xing Ye, hampir bergesekan dengannya.

Sheng Renxing terbiasa tidur dengan bebasnya, dan ketika dia bangun dengan tangan dan kakinya terperangkap, dia tidak ingin mendorong Xing Ye saat dia tidak sadarkan diri, tapi dia justru sedikit serakah atas “kedekatan” Xing Ye, yang membuatnya terbangun oleh panas tubuhnya.

Namun, mentalitas seperti ini tidak baik untuk dikatakan, jadi Sheng Renxing memutuskan untuk berpura-pura tidak bangun tadi malam.

“Aku juga cukup bagus.” Mata Xing Ye sedikit menyipit saat dia menatapnya dan tersenyum.

Bahkan lebih baik lagi ketika dia terbangun dan menemukan Sheng Renxing bersandar di pelukannya.

“…” Sheng Renxing merasakan keanehan dari senyumnya dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menahan tawanya dan di satu sisi sambil menggosok telinganya dengan tidak nyaman.

Sheng Renxing ingin keluar dari kamar mandi, tapi Xing Ye terus bersandar di ambang pintu, tidak terlihat seperti dia ingin menyingkir.

“Kamu ingin ke kamar mandi?” Sheng Renxing bertanya.

Xing Ye menggelengkan kepalanya. Dia mengulurkan tangan dan secara alami mengusap kerah bajunya, “Hari ini semakin dingin, kamu akan kedinginan jika memakai pakaian ini.”

“Ah,” Sheng Renxing sedikit linglung, perhatiannya mengalir tak terkendali ke tangan Xing Ye di sisi lehernya, “Kamu tidak bilang tadi malam, aku hanya punya ini. Apa kamu punya jaket ekstra di sini?”

Xing Ye tidak melepaskannya, mengusap-usapkan jari-jarinya ke rambutnya dan mendorongnya ke belakang telinga untuk memperlihatkan batu yang tergantung di daun telinganya: “Liang-ge punya. Aku akan kembali untuk mengambilnya. Dalam perjalanan ke sekolah.”

“Oke.” Sheng Renxing tampak ragu. Dia tidak memakai mantel orang lain.

Xing Ye menganggukkan kepalanya dan memutar batu itu dengan jarinya. Getaran menyentuh daun telinganya.

Sheng Renxing: “…”

“Kalau begitu,” Sheng Renxing memiringkan kepalanya dengan tidak nyaman, “kita pergi ke sana sekarang?”

Xing Ye tidak mengatakan apa-apa, seolah dia tidak mendengar apa pun. Pupil matanya sangat gelap sehingga kamu tidak dapat melihat bagian bawahnya bahkan saat matahari menyinari mereka. Matanya memiliki semacam aura yang dalam dan misterius, ditambah fakta bahwa dia selalu menundukkan matanya ke bawah dengan cara yang membuatnya memandangmu dengan tidak tertarik.

Ada semacam aura yang membuat orang tidak berani mendekatinya, dan aura yang menarik orang untuk menjelajahinya.

Xing Ye masih melihat batu itu dengan mata tertunduk, dan nadanya tenang tanpa menunjukan emosi apa pum: “Telingamu sangat merah.”

Sheng Renxing: “…”

Sheng Renxing: “Tahukah kamu bahwa orang terakhir yang mengatakan ini padaku sekarang telah menumbuhkan beberapa meter rumput di kuburannya?”

Xing Ye mengangkat matanya. Begitu dia mengangkat matanya, emosinya, yang ditutupi oleh bayangan besar bulu matanya, terungkap.

Sheng Renxing melihat senyuman di matanya.

“Jadi, apakah kamu akan menyanyikan Janda Kecil di Kuburan2Kesini jika kalian penasaran https://m.youtube.com/watch?v=W0ud7CHpVcA untukku tahun depan?”

Sheng Renxing: “…”

Sheng Renxing: “Kamu adalah janda kecil.”

Sheng Renxing: “Ayo pergi, jangan menghalangi. Kita akan terlambat. Aku tidak ingin berdiri di koridor bersamamu di hari ulang tahunku.”

Setelah diganggu oleh Xing Ye, ketidaknyamanan serta ketidaktepatan mengikuti kedekatan hubungan mereka yang tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Seolah-olah Xing Ye telah kembali ke mode percakapan di antara mereka berdua beberapa hari yang lalu.

Xing Ye mengangkat alisnya: “Siapa yang berani?”

Sheng Renxing: “…”

Saudaraku, apa kamu lupa bahwa kamu masihlah seorang siswa, dan kepala sekolah belum mengembalikan namamu?

Sheng Renxing: “Kamu luar biasa,” katanya dengan asal-asalan, lalu mendesaknya, “Ayo pergi.”

Tapi Xing Ye tidak bergerak. Dia justru menggunakan sedikit kekuatan di tangannya untuk tidak mendekatinya.

Sheng Renxing: “?”

Xing Ye menatap garis di lehernya dalam diam.

Sheng Renxing: “…”

Xing Ye mengerutkan alisnya dan dia mengerutkan bibirnya.

Pikiran Sheng Renxing melintas, dia mencoba: “Ciuman selamat pagi, pacar?”

Xing Ye mengangkat matanya, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia justru mengendurkan kekuatan tangannya.

Sheng Renxing: “…”

Dia kemudian dengan cepat berjalan mendekat dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan “ledakan” yang keras.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply