• Post category:Embers
  • Reading time:15 mins read

Penerjemah: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Mereka berdua menginap di sini malam ini, dengan tempat tidur tunggal di kamar kecil di sebelahnya.

Selain tempat tidur, ada banyak barang yang menumpuk di dalam kamar, sehingga terlihat bahwa kamar ini jarang ditempati, dan digunakan sebagai ruang serba guna.

Ada kamar mandi di dalamnya, tapi ketika dia masuk, Sheng Renxing hanya melirik ke tempat tidur dan menoleh untuk mandi di kamar mandi.

Ketika Sheng Renxing memasuki kamar mandi, dia menopang dirinya di wastafel dan melihat dirinya sendiri, dan dalam sekejap, matanya beralih ke tato di lengannya.

Tato itu dibalut dengan plastik wrap, polanya agak buram, namun rasa sakitnya tidak mereda.

Sheng Renxing mengangkat tangannya dan menyentuh tato itu, rasa sakit itu menjalar melalui ujung jarinya, tapi itu tidak sama seperti ketika Xing Ye menyentuhnya.

Ketika Sheng Renxing menyadari apa yang dia lakukan, dia segera melepaskan sentuhannya dan menghembuskan rambutnya, memperlihatkan dahinya yang bersih.

Saat dia melihat dirinya di cermin, pantulan dirinya yang lain juga menatapnya kembali. Pipinya memerah dan cahaya terpantul di matanya. Dia mengira dia baru saja melakukan sauna.

Sheng Renxing segera meratakan sudut mulutnya yang terangkat dan menampar wajahnya dengan kedua tangannya.

Dia merasa bahwa reaksinya sungguh menjijikkan!

— Baru saja, ketika Xing Ye menatapnya setelah berciuman, dia hampir menjadi keras.

Di luar, Xing Ye tiba-tiba mengetuk pintu.

“Ada apa?” Sheng Renxing terkejut dan menoleh ke arah pintu, dengan sengaja merendahkan suaranya.

“Apa kamu sedang mandi?” Xing Ye bertanya.

Pintu kamar mandi terbuat dari kayu, jadi dia tidak bisa melihat apa pun yang ada di luar.

“Ya.” Sheng Renxing menyadari bahwa dia telah berdiri di depan cermin selama beberapa menit, dan tidak bisa berkata-kata. Setelah mengatakan itu, dia merasa ada yang tidak beres dan segera menyalakan pancuran.

Saat air mengalir keluar, Sheng Renxing tiba-tiba tersadar.

“…” Sheng Renxing, “Ada apa?”

Setelah beberapa saat hening di luar, ketika Xing Ye membuka mulutnya lagi, suaranya jelas diwarnai dengan tawa: “Buka pintunya, kamu tidak membawa pakaian.”

Sheng Renxing: “…”

“Aku akan memakai kembali pakaian milikku.”

“Apa kamu juga tidak akan mengganti pakaian dalammu?” Di luar, Xing Ye merendahkan suaranya dengan ragu.

“…”

Setelah beberapa saat, pintu dibuka, dan Sheng Renxing, masih berpakaian lengkap, mengulurkan tangan kepada Xing Ye, nadanya keras: “Pakaian.”

Xing Ye bersandar ke dinding di sebelahnya, menatapnya dari atas ke bawah, dan bertanya sambil tersenyum, “Apa yang baru saja kamu lakukan di toilet?”

Sheng Renxing memejamkan mata: “Buang air kecil!”

Melihat Xing Ye tidak bergerak, Sheng Renxing mengulurkan tangan untuk mengambil pakaian itu.

“Oh.” Xing Ye menghindari tangan Sheng Renxing dan berkata, “Apa kamu ingin pacarmu membantumu?” Seolah dirinya meminta bantuan untuk menyalalakan air panas.

“?” Sheng Renxing mengangkat kepalanya untuk menatapnya. Bayangan pihak lain mencium tatonya terlintas di benaknya pada saat yang tidak tepat, dan membuatnya hampir menyetujuinya!

Detik sebelum Sheng Renxing membuka mulutnya, dia ingat apa yang dia katakan dengan nada menggoda ketika dia sedang mabuk, dan tahu bahwa pihak lain sedang menghibur dirinya sendiri. Suhu yang baru saja surut segera memanas kembali, jadi Sheng Renxing mencoba yang terbaik untuk menstabilkan ekspresinya dan dengan dingin berkata, “Kali ini tidak perlu.”

Ketika Sheng Renxing berbicara, dia menyambar pakaian itu dengan satu tangan dan dengan cepat menarik dirinya kembali untuk menutup pintu, menghalangi tawa Xing Ye.

Semenit kemudian, dia membuka pintu lagi.

“Xing Ye,” dia memanggil pihak lain yang sedang mengganti seprai dengan punggung menghadap dirinya, dan ketika Xing Ye menoleh, dia merendahkan suaranya, “Bagaimana cara menyalakan air panas?”

Xing Ye berjalan ke arahnya. Di dalam, pancuran telah dimatikan oleh Sheng Renxing, tapi lantainya masih basah.

“Aku sudah memutarnya ke kiri dan ke kanan, tapi airnya masih dingin.” Sheng Renxing mengerutkan kening karena hal ini.

Xing Ye hanya melihatnya dan tidak menyentuh tombolnya sama sekali.

Sebaliknya, dia melewati Sheng Renxing dan menyalakan pemanas air.

“…”

Sheng Renxing berbisik: “Ini terlalu tersembunyi, menyalakan air panas seperti mencari mata-mata!”

Xing Ye: “Yah.”

“…” Sheng Renxing meninjunya dengan ringan, “Jangan tertawa!”

Xing Ye mengusapnya dan menutup pintu kamar mandi untuknya.

Setelah beberapa detik, Xing Ye membuka pintu kamar mandi lagi, “Apa kamu tahu sampo yang mana?”

Sheng Renxing baru saja melepas pakaiannya saat pakaiannya masih tersangkut di lehernya. Dia menariknya dan melemparkannya ke keranjang cucian, “Aku tahu cara membaca!”

“…”

Xing Ye memberinya kaos lengan pendek. Ketika Sheng Renxing memakainya, lengan bajunya menyentuh bungkus plastik wrapnya, jadi dia menggulung salah satu lengan bajunya ke atas. Di cermin, dia tampak seperti akan bertarung.

Setelah keluar dari kamar mandi, Xing Ye sedang duduk di lantai sambil melihat ponselnya, dan ada sprei yang telah diganti di sebelahnya.

Ketika Xing Ye mendongak dan melihat penampilannya, dia tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arahnya: “Biarkan aku melihatnya.”

Sheng Renxing berjongkok di sampingnya dan menunjukkan lengannya, Xing Ye melepas bungkus plastik wrapnya: “Ini tidak basah.”

“Yah, aku mengangkat tanganku sepanjang waktu. Patung Liberty bahkan tidak bisa mengangkatnya selurus mungkin.” Setelah berjongkok beberapa saat, Sheng Renxing merasa lelah dan duduk bersila.

Dia mengenakan celana pendek longgar dan bertanya, “Milik siapa ini?” Pakaian itu tidak terlihat baru.

“Menurutmu, milik siapa ini?” Xing Ye berkata sambil membungkusnya dengan plastik wrap baru.

“Milikmu?”

“Selain milikku, pakaian di sini milik Liang-ge, dan yang sedang kamu pakai adalah milikku.” Dia berkata, “Tapi pakaian Liang-ge mungkin lebih nyaman. Apa kamu mau ganti?”

Sheng Renxing berkata, “Aku hanya bertanya, aku tidak memakai pakaian orang lain.”

Xing Ye selesai membungkusnya, mengusap rambutnya dan menciumnya, “Pergilah tidur, kamu akan masuk angin nanti. Aku akan mandi.”

Sheng Renxing memperhatikannya berjalan ke kamar mandi sebelum dia perlahan-lahan bangkit dan duduk di tempat tidur. Dia duduk di sana sebentar, sampai tangan dan kakinya menggigil, lalu dia bangun dan masuk ke balik selimut.

Bukannya mereka berdua belum pernah tidur di ranjang yang sama sebelumnya, tapi situasi hari ini berbeda!

Sheng Renxing bersandar di kepala tempat tidur, menatap langit-langit, pikirannya mengembara tanpa tujuan, memikirkan ciuman Xing Ye barusan, dan sentuhan di pinggangnya.

Tapi ini baru hari pertama mereka bersama.

Apakah ini terlalu cepat?

Sheng Renxing berkedip ke langit-langit, dan ketika suara pintu terbuka sampai ke telinganya, dia secara refleks menilik ke samping dan melihat Xing Ye keluar.

Xing Ye menatapnya dan berkata, “Apa kamu tidak kedinginan?”

“Apa?” Sheng Renxing tidak menanggapi.

Xing Ye melangkah maju, mengulurkan tangan dan menutupinya dengan selimut sampai ke pinggangnya. Kemudian dia menyentuh tangannya yang terbebas di luar selimut, yang terasa dingin.

“Ah,” Sheng Renxing menutupi dirinya sendiri, “Aku tidak menyadarinya.”

“Baiklah,” Xing Ye duduk di tepi tempat tidur, “Apa yang kamu pikirkan?”

Memikirkanmu.

Memikirkan hal-hal yang tidak bisa aku jelaskan.

Sheng Renxing mengerucutkan bibirnya dan menatap lengan Xing Ye yang terekspos, “Apa kamu ingin naik?”

Tempat tidur tunggal itu kecil, dan hanya ada satu bantal.

Xing Ye mengangguk, “Kamu tidur di bagian dalam.”

“Apa?” Sheng Renxing berkata saat dia bereser ke dalam, “Posisi tidurku cukup bagus, aku tidak akan terguling.”

“Aku takut aku akan menyentuh tatomu.” Xing Ye mengangkat selimut sedikit dan naik ke tempat tidur. Angin terasa berhembus ke dalam selimut, namun kemudian ada panas lagi. Suhu tubuh Xing Ye yang tinggi dari pancuran air panas ini dikirimkan kepadanya melalui kulitnya.

Separuh lengannya mati rasa, dan dia membeku. Setelah beberapa saat, Sheng Renxing menyadari apa yang dikatakan Xing Ye, dan dengan ragu-ragu berkata “Oh”.

Kemudian dia berbisik, “Tapi jika aku berada di dalam, bukankah aku akan menabrak dinding?” Itu akan lebih menyakitkan lagi.

“…” Xing Ye di sisi lain juga terdiam beberapa saat, “Kalau begitu mau bertukar tempat?”

“Tidak, hanya saja jangan menekanku.” Sheng Renxing berkata dengan datar.

“Mn.”

Dialog terbelakang macam apa ini?

Sheng Renxing menatap langit-langit kamar lagi untuk beberapa saat, “Apa kamu akan tidur?”

“Apa masih sakit?” Xing Ye bertanya pada saat yang sama.

“…”

“Tidak.”

Sheng Renxing: “Sudah tidak sakit lagi.”

Xing Ye: “Oke, kalau begitu ayo tidur.”

“…”

“Sial.”

Sheng Renxing mengutuk dengan suara pelan.

Tawa rendah Xing Ye datang dari samping.

“Kamu tertawa.” Sheng Renxing meliriknya, dia tidak percaya bahwa Xing Ye tidak merasakan apa-apa.

Di sisi lain, dia berkata pada dirinya sendiri, Kamu tidak gugup, ini hanya tidur, apa masalahnya. Kami juga tidur bersama saat dia bukan pacarmu, sekarang ini dia pacarmu, dan kamu bahkan mencium dan memeluknya, jadi lepaskan saja!

Dia menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Ini sudah larut, ayo tidur, selamat malam.”

Setelah mengatakan itu, dia memejamkan matanya.

Di sampingnya, Xing Ye menjawab dan mengangkat tangannya untuk mematikan lampu: “Selamat malam.”

Dalam kegelapan, tidak ada percakapan selama beberapa saat. Tidak tahu berapa lama, Sheng Renxing merasa separuh tubuhnya hampir mati rasa karena dia telah membeku di posisi yang sama, dan dia tidak dapat menahan diri dan ingin membalikkan badan.

Begitu dia bergerak, ada gerakan di sisi Xing Ye, dan dia memegang tangannya dalam kegelapan: “Ada apa?”

Suaranya terdengar jernih.

“Apa tanganmu tertekan? Di sini agak sempit.” Xing Ye berkata dan berguling, dari berbaring telentang menjadi menghadap ke samping, udara panas yang dia hembuskan sepertinya menjalar di telinganya, dengan sedikit rasa mint.

Mereka berdua berbagi bantal yang sama, dan meskipun Xing Ye mengatakan bahwa dia memberi ruang untuknya, itu bahkan tampak lebih dekat dengannya.

Sheng Renxing memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya, dan setelah beberapa detik dia ingat bahwa Xing Ye tidak dapat melihatnya: “Tidak, sangat tidak nyaman untuk berbaring seperti ini. Aku akan mengubah posisiku.”

Dua orang berbaring miring, satu menghadap ke dinding dan yang lainnya menghadap ke pihak lain, yang menghadap ke dinding akan menekan lengan bertatonya.

Sheng Renxing menutup mulutnya segera setelah dia mengucapkan kata-kata ini, mencoba menelan kalimat terakhirnya.

Ketika Sheng Renxing tidak bergerak untuk waktu yang lama, Xing Ye bertanya, “Apa kamu butuh bantuan?” dan dia segera meletakkan tangannya di pinggangnya.

“Hei!” Sheng Renxing berbalik menghadapnya dan dengan cepat menekan tangan Xing Ye di pinggangnya dengan satu tangan.

“…”

“Apa aku menyentuh kulitmu yang terasa gatal?” Xing Ye berkata dengan sedikit jengkel.

“Tidak.” Sheng Renxing membuka matanya, dan siluet Xing Ye muncul di depannya, matanya begitu jernih sehingga dia bahkan bisa merasakan napas pihak lain.

Xing Ye menatapnya dalam kegelapan dan tidak mengatakan apa-apa.

“Pfft.” Sheng Renxing tiba-tiba tertawa dan dengan kuat menekan tangannya, “Jangan bergerak!”

Xing Ye juga tertawa.

“Hei, kamu sudah keterlaluan!” Sheng Renxing melepaskan tangan Xing Ye dari pinggangnya dan memegangnya erat di antara mereka. Dia tidak bisa berhenti tertawa dan tubuhnya gemetar.

“Apa kamu tidak akan tidur? Kenapa masih begitu bersemangat.” Dia tanpa sadar menyembunyikan kata-kata umpatan dalam perkataannya.

“Baiklah,” tangan Xing Ye dipegang dalam genggamannya, jadi dia tidak meronta lagi. Dia juga menggenggam tangan Sheng Renxing dengan tangannya yang lain dan mengusap jarinya, “Aku tidak bisa tidur.”

“Aku sedikit bersemangat.”

Sheng Renxing tidak tahu apakah itu karena rangsangan dari gerakannya atau makna yang ada di dalam kata-katanya. Meskipun begitu, mati rasa keluar dari tulang ekornya, dan hatinya gatal karena kegembiraan.

Dia menarik napas dan berbisik, “Kita ada kelas besok.”

Gerakan Xing Ye berhenti, dan kemudian dia menjawabnya dengan gumaman lembut, sementara tangannya terus bergerak. Ibu jarinya menyentuh meridian dan sudut yang menonjol di bagian dalam pergelangan tangannya, terkadang dengan kasar dan terkadang dengan lembut.

Sheng Renxing tidak hanya mati rasa, dia juga merasa panas dan panik. Matanya tertuju Xing Ye, mereka berdua berbagi pandangan, dan dia menunduk lagi untuk menatap bibir Xing Ye.

Ini bukan tempat yang bagus. Mereka sedang berbaring di rumah orang lain. Mereka ada kelas pagi esok hari, dan mereka baru saja menghabiskan hari pertama bersama.

Sheng Renxing meremas kakinya sedikit dengan tangan yang lain dan tiba-tiba muncondongkan tubuhnya dan mencium bibir Xing Ye sebelum mundur sedikit, “Selamat malam, pacar.”

Dia merasa tidak bisa menakuti Xing Ye!

Butuh banyak usaha untuk menangkapnya!

Sambil menjilati bibirnya, Sheng Renxing tertawa getir di dalam hatinya. Hari pertama pacarku dan aku bersama, kami berbaring di tempat tidur yang sama di malam hari, ditutupi oleh selimut yang sama. Tapi setelah satu malam, aku tahu bahwa kami masihlah dua pemuda yang polos.

Sebelum Sheng Renxing selesai memikirkannya, dia merasa Xing Ye tiba-tiba mendekatinya dan menciumnya kembali.

Sheng Renxing terkejut, tapi dalam sedetik dia langsung menyukainya, melupakan semua yang baru saja dia pikirkan.

Posisi keduanya yang berbaring miring sangat tidak cocok untuk ciuman yang dalam. Xing Ye tanpa sadar meningkatkan kekuatannya dan Sheng Renxing sedikit kehabisan napas, tanpa sadar bersandar ke belakang, perlahan-lahan berbalik untuk berbaring. Xing Ye setengah menekannya, dan panas tubuh mereka saling menempel melalui pakaian tipis mereka. Begitu intim dan lengket hingga saling terjalin dalam nafas yang panas.

Sekeliling mereka terlalu sunyi, dan gemerisik pakaian serta selimut naik hingga puluhan kali. Sheng Renxing membenamkan dirinya di bantal, mendengar gema detak jantungnya sendiri di tubuh orang lain, seperti kereta menderu menuju tujuannya.


Setelah semuanya selesai, Sheng Renxing terengah-engah, pikirannya kembali jernih, dan dia berkata dengan marah, “Kamu merayuku!”

Xing Ye memeluknya erat dan setengah menekannya di tempat tidur, mengubur dirinya di antara leher Sheng Renxing. Udara panas yang dia hembuskan membuat bebatuan di antingnya memanas. Setelah beberapa saat, dia berkata: “Aku hanya ingin menyentuhmu.”

Sheng Renxing merasa sedikit tidak nyaman ketika ditekan. Dia mendorong Xing Ye dua kali namun sama sekali tidak bergerak. Xing Ye justru memeluknya lebih erat, yang membuatnya menyerah. Dia menelisikkan jari-jari ke rambutnya, dengan lembut menyentuhnya beberapa kali: “Apa kamu ingin aku menyentuhmu?”


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply