Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Keiyuki17


Xie An berbicara, “Ini adalah senjata ilahi yang paling ingin aku temukan, pedang pengusir dan pembasmi setan, Budong Rushan!”

Chen Xing menyebarkan gulungan bambu di atas meja. Xiang Shu berbalik dan menatap gulungan bambu itu. Xie An berjalan mondar-mandir beberapa langkah di dalam ruangan, berkata, “Legenda mengatakan bahwa pedang ini adalah sesuatu yang dewa kuno, Budong Mingwang tempa menggunakan sinar matahari, sinar bulan, cahaya bintang, kilat, nyala api, dan fosfor tulang, enam jenis cahaya yang muncul sejak awal dunia, dan perunggu yang dikumpulkan dari Gunung Shou dulunya.”

Catatan yang tertera pada gulungan bambu di depan Chen Xing tidak berbeda dengan apa yang dikatakan Xie An. Tulisannya dalam gaya Lishu, dan dia tidak tahu kenapa, tapi dia merasa itu agak familiar. Dia melihat ke arah Xiang Shu.

Xie An melanjutkan, “Menurut apa yang tertulis di gulungan bambu itu, pedang ini bisa berubah menjadi enam bentuk berbeda. Setelah disuntik dengan mana, pedang ini bisa membunuh dewa iblis dan memurnikan sihir iblis di antara langit dan bumi …”

“Tunggu.” Chen Xing bertukar pandang dengan Xiang Shu. Xiang Shu mengangguk sedikit.

“Dari mana asalnya catatan itu?” Chen Xing bertanya pada Xie An.

Xie An berpikir sejenak dan berkata, “Dari sebuah rumah tangga di Huejia. Pada saat itu, aku menawarkan hadiah yang besar; bagi siapa pun yang dapat memberikannya kepadaku akan diberikan sepuluh liang perak. Seseorang kemudian mengirimkan ini kepadaku.”

Chen Xing mengerutkan alisnya, dan dia memegang gulungan bambu saat dia berbicara, “Tapi secara logis, ini pasti dari koleksi buku pengusir setan.”

Xie An menjawab tanpa basa-basi, “Tentu saja. Mengapa itu muncul di Jiangnan, aku juga tidak yakin tentang ini.”

Xiang Shu dengan hati-hati memeriksa gulungan bambu itu. Tidak seperti catatan dari Departeman Pengusiran Setan Chang’an di dunia cermin, kata-kata di gulungan bambu itu terukir. Sepertinya penulis sudah mengukir salinan lain dan mengeluarkannya dari Departemen Pengusiran Setan. Lalu entah bagaimana caranya, gulungan itu berakhir di Jiangnan .

“Kenapa kata-kata ini tampak sedikit familiar?” Chen Xing bertanya.

“Itu tulisan Zhang Liu.” Xiang Shu menjawab.

Chen Xing tiba-tiba menyadari bahwa dia sudah mendapatkan harta karun. Dia berulang kali membalik bambu di tangannya. Ini diberikan oleh Zhang Liu 300 tahun yang lalu! Kenapa dia menyalin buku ini? Mengingat pedang pengusir setan di dunia cermin, jawabannya menjadi jelas. Zhang Liu sudah membawa gulungan bambu ini padanya; mungkin di Jiangnan dia menemukan pedang itu dan kemudian menyembunyikannya di dunia cermin!

Xie An berbicara, “Setelah kembali dari Gunung Hua, Tuan Baili memberi tahuku bahwa ‘iblis’ akan dibangkitkan. Aku pikir mungkin aku bisa menemukan senjata ilahi yang bisa digunakan untuk melawan musuh. Seharusnya bisa membantu, jadi aku mengikuti petunjuk dan mencari kemana-mana, tapi aku tidak pernah menemukan pedang ….”

Xiang Shu mencabut pedang yang bertumpu pada punggungnya, meletakkannya di atas meja, dan menatap Xie An.

Xie An menatapnya dengan kaget; dia mengulurkan tangannya, tapi ternyata dia tidak bisa mengambilnya.

Chen Xing dengan tajam menemukan bahwa selain dia dan Xiang Shu, tidak ada orang lain yang bisa menggerakkan pedang itu. Bahkan Feng Qianjun tidak bisa mengambilnya pada awalnya, jadi apa artinya itu? Apakah pedang itu bahkan mengenali pemiliknya?

“Jaring kehidupan dan kematian terikat dengan kuat, menanti dipotong oleh pedang kebijaksanaan.” Xie An bergumam, “Ini mungkin benar, dari mana kamu mendapatkan pedang ini?”

Hati Chen Xing penuh dengan keraguan; mengenai tindakan Zhang Liu, kenapa pedang itu muncul di dunia cermin, di mana Mutiara Dinghai kemungkinan berada … dan seterusnya. Semuanya terhubung satu sama lain, dan ketika sesuatu muncul, yang lain akan mengikuti. Dia menjelaskan hanya pada Xie An bahwa mereka bertiga sudah lama terlibat dalam hal ini, tapi masih belum memiliki ide yang pasti.

Pada akhirnya, Xie An hanya bisa berkata, “Istirahatlah selama sepuluh hari, lalu kamu bisa pergi ke Kuaiji untuk melihatnya. Aku akan mengajak beberapa orang untuk menyelidiki pemilik gulungan bambu itu di masa lalu. Namun, yang terbaik adalah jangan terlalu berharap terlalu tinggi, karena ini adalah sesuatu yang sudah ada sejak 300 tahun yang lalu.”

Chen Xing kesulitan memutuskan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Setelah berpikir sejenak, dia teringat hal terpenting tentang perjalanan mereka. Jadi dia mengeluarkan dua peta sisa yang sudah direplikasi Xiang Shu dan menyebarkannya di depan Xie An.

“Kami menemukan beberapa petunjuk dari Departemen Pengusiran Setan di Chang’an.” Chen Xing berkata, “Salah satu peta yang kami temukan mengarah ke utara, menuju Carosha, tapi kami tidak tahu tempat di dua peta lainnya. Saudara Xie, apa kamu bisa melihatnya?”

Xie An mengambil kedua peta itu. Ketika mereka berada di Karakorum, Xiang Shu bertanya pada orang-orang klan, dan apa yang bisa mereka yakini adalah bahwa lokasi di peta tidak berada di luar Tembok Besar. Xie Yan sudah melakukan perjalanan ke semua tempat di bawah langit ketika dia masih muda, mengunjungi pegunungan terkenal untuk mencari negeri dongeng. Chen Xing percaya bahwa dia mungkin punya ide.

Ini adalah salah satu tujuan terpenting dia datang ke Jiankang.

Xie An melihatnya lama sekali dan akhirnya berkata, “Aku juga tidak bisa mengingat apa pun saat ini. Tapi tidak apa-apa, tunggu aku menemukan waktu untuk memanggil murid-murid dari kelompok etnis lain. Mereka juga pernah mengunjungi banyak tempat. Pasti akan ada hasilnya jika kita membicarakannya dengan mereka.”

Chen Xing merasa lega dan mengangguk. Xie An membiarkan keduanya beristirahat dulu. Chen Xing meminta nasihat lebih lanjut pada Xie An, lalu membawa gulungan bambu itu untuk meneliti lebih banyak dengan Xiang Shu. Ada banyak teknik untuk menggunakan senjata ilahi. Jika mereka bisa belajar bagaimana menggunakan pedang ini, mereka bisa berbuat lebih banyak saat pertempuran datang.

Xie An secara pribadi membawa Chen Xing dan Xiang Shu ke halaman lain dan membuat isyarat “silahkan”. Dia mengatur di mana Xiang Shu akan tinggal terlebih dahulu, lalu membawa Chen Xing ke koridor menuju sayap timur. Chen Xing berkata, “Ini terlalu jauh. Akan lebih baik jika kamu mengatur agar kami berdua tinggal bersama.”

“Tidak, tidak.” Xie An menjawab, “Pengusir Setan yang Agung dan Dewa Bela Diri Pelindung adalah tamuku, bagaimana aku bisa mengabaikanmu?”

Xie An mengatur dua kamar terbaik di bagian sayap untuk Chen Xing. Chen Xing tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis; dia hanya mengikuti Xie An ke kiri dan kanan, berjalan melewati separuh rumah tangga ke sisi lain kediaman Xie. Pada malam hari, matahari terbenam dengan meninggalkan rona emas, angin musim semi terasa begitu hangat, dan lonceng angin berdenting di koridor. Chen Xing merasa nyaman.


“Apa adik laki-laki punya rencana untuk menikah?” Xie An bertanya.

Chen Xing tersenyum dan menjawab, “Bisakah kakak senior tidak menyibukkan dirimu dengan hal-hal seperti itu?”

Xie An buru – buru menjawab, “Aku hanya bertanya. Ketika kamu melawan murid murid Jiangdong-ku hari ini, aku melihat bahwa ada tatapan memuja di tatapan Pelindungmu ketika dia melihatmu. Dan kamu bahkan mengatakan … bagaimana tentang aku mengatur agar kalian berdua tidur di satu kamar?”

“Tidak, tidak, tidak …” Chen Xing menutupi dahinya dengan satu tangan. Dia berkata, “Kamu bisa pergi sekarang! Huss!”

Chen Xing mendorong Xie An ke depan dan hanya bisa bergumam, “Tatapan memuja apa, itu konyol …”

Xie An menjawab, “Meskipun aku hanya beberapa tahun lebih tua, aku masih memiliki kemampuan untuk melihat kebenaran. Pelindungmu Shulü Kong sudah menatapmu tanpa berkedip sejak awal …”

“Kalau begitu matanya mungkin sakit,” kata Chen Xing serius, “Aku sudah mengatakan ini hampir satu shichen.”

Xie An membawanya ke sayap timur, tidak jauh dari kamar tidurnya sendiri, sambil berkata, “Kakak senior akan pergi mengurus beberapa urusan, aku akan berbicara denganmu lagi nanti malam.”

Chen Xing berkata, ” Tidak apa-apa. Aku ingin tidur lebih awal, kamu bisa datang lagi besok.”

Chen Xing mengirim Xie An pergi. Ini sudah malam. Dia segera menghela napas lega; dia merasa terlalu lelah hari ini. Dia tidak tahu apa yang dilakukan Xiang Shu; dia berencana untuk menemuinya tapi terlalu malas untuk bergerak. Seseorang mengirim makan malam tidak lama kemudian, dan setelah memakannya, Chen Xing tertidur.


Keesokan paginya, pengurus rumah tangga datang untuk mengundang Chen Xing sarapan. Xie An sudah menuju ke pengadilan. Chen Xing dan Xiang Shu duduk berseberangan di ruang makan. Begitu membuka wadah makanan, dia melihat semangkuk mie ikan dan beberapa piring kecil. Penuh dengan rasa Jiangnan.

“Apa kau tidur nyenyak tadi malam?” Chen Xing bertanya pada Xiang Shu.

“Tidak buruk.” Xiang Shu menjawab dengan santai. Tampaknya setelah debat kemarin, Xiang Shu mulai menjaga jarak dengan Chen Xing. Chen Xing berpikir, ketika aku berada di Chi Le Chuan, aku selalu didorong-dorong setiap hari, tapi aku tidak pernah melihatmu membelaku atau berbicara untukku… Lalu kemarin, kau menyinggung semua klanku, namun aku tidak melihatmu memiliki bahkan ekspresi penuh permintaan maaf. Baik, terserah.

“Bagaimana denganmu?” Xiang Shu bertanya balik.

Chen Xing dengan riang menjawab, “Sangat nyenyak, aku tidak perlu merapikan kamar sama sekali. Terasa cukup nyaman.”

Xiang Shu mengenali nada mengejek dalam ucapan Chen Xing, mengacu pada saat dia pertama kali memasuki Chi Le Chuan. Dia sudah diperlakukan seperti pelayan tanpa henti dan bahkan dipaksa untuk melayani Chanyu yang Agung setiap hari. Hari ini, fengshui sudah membalikkan keadaan, dan sebenarnya tibalah hari di mana Chanyu yang Agung menjadi tamunya.

“Kita cukup menganggur akhir-akhir ini,” kata Chen Xing, “Bagaimana kalau kita bermain-main di Kota Jiankang? Ayo, aku tunjukkan makanan lezat dan tempat menyenangkan bagi orang Han.”

“Tidak perlu, kau bisa pergi sendiri. Karena kau sudah kembali ke rumah, pergi saja dengan kakak seniormu. Orang yang bisa menulis kata-kata yang indah harus bergaul satu sama lain.” Xiang Shu dengan serius menjawab, “Aku sudah memutuskan untuk pergi mencari pekerjaan dan mendapatkan sedikit uang.”

Chen Xing berbicara, “Jangan bermain-main di Kota Jiankang. Kalau kau tertangkap oleh petugas, jumlah uang yang kau hasilkan tidak akan cukup untuk menebusmu.”

Xiang Shu menjawab, “Aku akan ingat untuk menyamar. Jangan khawatir.”

Chen Xing akhirnya meledak penuh perasaan frustasi, “Hei! Ketika aku mengunjungi rumahmu, kau tidak pernah membawaku ke mana pun. Sekarang kita sedang berada di rumahku, aku sudah memperlakukanmu dengan sopan seperti yang seharusnya dilakukan oleh tuan rumah pada tamunya. Xiang Shu, bukankah seharusnya kau mengatakan sesuatu yang sedikit lebih baik?”

Xiang Shu pura-pura bingung, “Kupikir kakak laki-lakimu yang seharusnya menghiburku?”

Chen Xing mengertakkan giginya, “Bagaimana aku sudah menyinggung perasaanmu sekarang?”

Laoye sudah kembali!”

Xie An baru saja kembali dari pengadilan. Dia melepas topi pejabatnya dan melemparkannya ke samping. Pelayan bergegas mengambilnya. Seolah-olah ruangan itu sudah dipeluk oleh angin musim semi saat kedatangannya. Dia dengan hangat bertanya pada Chen Xing, “Adik laki-laki, apa kamu sudah makan?”

Setelah Xie An tiba, Xiang Shu terdiam.

Xie An menoleh ke arah Xiang Shu, “Pelindung Shulü, jika ada sesuatu yang tidak memuaskan bagimu, silakan katakan.”

Jadi Xiang Shu berkata, “Kalian orang Han makan terlalu sedikit. Tidak mungkin merasa kenyang.”

Chen Xing berteriak, “Dia hanya bersikap sopan, tapi kau benar-benar menyebutkan sesuatu!”

Xie An segera menyela, “Tidak apa-apa. Aku akan segera meminta beberapa orang menyembelih dan membawa beberapa domba. Kamu bisa mendapatkan seluruh daging domba panggang!”

Chen Xing: ” ……”

Chen Xing baru saja berdiri ketika Xie An menariknya, berkata, “Adik laki-laki, ajari aku cara berkultivasi sehingga aku bisa menggunakan energi spiritual dari langit dan bumi.”

“Sudah, tidak, ada, energi spiritual dari langit dan bumi! Tidak ada jalan! Kakak, seberapa ingin kamu belajar sihir?” Chen Xing merasa Xie An benar-benar sudah tidak tertolong.

“Aku bisa belajar teori dulu, dengan begitu ketika ada kesempatan, aku bisa berkultivasi.”

Chen Xing diseret oleh Xie An ke ruang meditasinya. Siapa yang tahu bahwa menteri selatan sangat ingin menjadi pengusir setan. Setelah memikirkan hal-hal dengan jelas hari ini, dia merasa bahwa tuannya di masa lalu baru saja secara acak memberi Xie An beberapa poin, mengatakan dia akan menerimanya sebagai pegawai magang, menunjukkan apa yang disebut “jalan yang benar” kepadanya, dan membiarkannya pergi pulang dan membeli artefak sihir untuk dipraktikkan sendiri sehingga dia tidak lari ke Gunung Hua dan menempel padanya.

”Baik.” Melihat Xie An begitu antusias, Chen Xing berpikir untuk melepaskannya, “Aku akan mengajarimu. Kakak, aku akan mengajarimu tentang lima elemen dulu.”

Energi spiritual dari langit dan bumi mungkin sudah hilang, tapi trik untuk bermeditasi masih ada. Latihan untuk pengusir setan beragam, mirip dengan meridian internal seniman bela diri. Chen Xing dengan santai mengeluarkan beberapa hal mendasar dan membiarkannya bermeditasi. Dia berkata, “Kamu tidak bisa bangun atau bergerak selama dua shichen.” Untuk mencegah Xie An melekat padanya, dia pergi, memutuskan untuk berdebat dengan Xiang Shu.

Ketika dia tiba di halaman lain, dia melihat Xiang Shu menghadap ke matahari musim semi, dengan gulungan bambu terbentang di lututnya, dan menggunakan tangan kirinya untuk dengan hati-hati menekan meridian lengan kanannya. Dia jelas mempelajari bagaimana menggunakan pedang pengusir setan. Di bawah sinar matahari, seniman bela diri muda itu sangat tampan. Kemarahan Chen Xing mereda saat dia melihat ini.

“Tidak ada energi spiritual dari langit dan bumi.” Chen Xing berbicara, “Bahkan jika Budong Rushan adalah senjata ilahi yang tiada tara, itu tidak akan efektif.”

Ketika Xiang Shu melihat bahwa Chen Xing sudah datang, dia mengambil gulungan itu, ekspresinya agak tidak wajar. Dia bertanya, “Bagaimana cara kerjanya sebelumnya?”

“Karena Cahaya Hati.” Chen Xing menjawab dengan letih, “Mana yang kau gunakan berasal dari Cahaya Hatiku. Kau mengambil semua mana dari Cahaya Hatiku saat kau menjadi cemas terakhir kali, itulah sebabnya aku muntah darah.”

Xiang Shu segera mengerti. Bisa dikatakan, saat ini sang Pelindung tidak memiliki kemampuan untuk membunuh iblis. Ketika pengusir setan di sisinya menarik kekuatan dengan membakar kekuatan hidupnya, Xiang Shu bisa meminjam mana untuk menggunakan Budong Rushan .

“Apakah menggunakan kebencian bisa mengaktifkan senjata ilahi?” Xiang Shu tiba-tiba bertanya.

“Sebaiknya tidak,” Chen Xing segera menjawab, “Aku selalu merasa bahwa kebencian bisa dengan mudah menggigitmu. Jika penguasaan Shi Hai atas kebencian lebih kuat dari yang aku kira, tidak terpikirkan jika mereka pada gilirannya bisa memanfaatkan ini.”

Xiang Shu mengemasi gulungan itu. Chen Xing berkata, “Kau harus menunggu dan melihat, ketika saatnya tiba …”

“Lalu kau ingin aku melakukan apa?” Xiang Shu dengan sungguh-sungguh bertanya, “Apa kau bisa menjelaskannya padaku?”

Ini adalah masalah yang sangat kontradiktif. Jika Xiang Shu ingin melindungi Chen Xing, dia harus menggunakan hubungan antara Pelindung dan Pengusir Setan untuk mengeluarkan mana dari Cahaya Hati Chen Xing untuk menggunakan pedang. Jika dia menarik terlalu banyak, Chen Xing bisa terluka parah, atau bahkan mungkin mati.

“Apa lagi yang bisa aku lakukan?” Chen Xing berkata dengan putus asa, “Ketika saatnya tiba bagimu untuk menggunakannya, tentu saja kau harus menggunakannya. Aku hanya mengingatkanmu bahwa kau tidak perlu terlalu cemas saat berkelahi …”

Tiba-tiba, dia memiliki ide yang samar dan teringat bahwa dia hanya memiliki tiga tahun sisa hidup. Dia ditakdirkan untuk mati pada usia dua puluh, mungkinkah itu … mungkinkah itu kehendak surga bahwa ketika Xiang Shu dan Shi Hai bertarung dalam pertempuran terakhir yang menentukan, demi mendukung Xiang Shu, dia akan membakar habis hidupnya utuk menggunakan Cahaya Hati?

Mungkin memang seperti itu. Chen Xing menunjukkan ekspresi kehilangan yang langka, dan Xiang Shu menatapnya dengan aneh.

Dia hanya melihat ekspresi Chen Xing dengan cepat berubah beberapa kali untuk sesaat sebelum kembali normal.

“Ah,” gumam Chen Xing pada dirinya sendiri sambil berpikir, “benar, pasti seperti ini.”

“Seperti apa?” Xiang Shu menjadi bingung.

Selain itu, kecelakaan apa lagi yang bisa terjadi dalam hidupnya? Kebanyakan kecelakaan bisa dihindari. Semua makhluk fana ditakdirkan untuk mati suatu hari nanti; mati dengan cara yang berdampak seperti itu seharusnya tidak terlalu buruk.

Chen Xing tersenyum lagi dan berbalik untuk berbicara dengan Xiang Shu, “Aku mengerti sekarang, itu semua kehendak surga. Tidak apa-apa, gunakan saja sesukamu.”

“Apa kau gila?” Xiang Shu bertanya.

Tepat ketika Chen Xing hendak menemukan sesuatu untuk meyakinkan Xiang Shu, pelayan keluarga Xie berteriak, bergegas melewati koridor.

LaoyeLaoye!” Pengurus rumah tangga berteriak, “Berita buruk! Penagih utang datang lagi!”

Chen Xing: “ ……”

Xiang Shu : “ ……”

Laoye-mu sedang dalam pengasingan,” Chen Xing datang ke pintu, menjelaskan, “Jangan ganggu dia. Jika dia tidak berhasil nantinya, ayo kita lihat bagaimana kamu berencana menjelaskan semuanya sendiri.”

Pengurus rumah tangga terlihat muram. Menunjuk ke luar, Chen Xing berbicara, “Masih ada hampir dua shichen yang tersisa, bagaimana kalau kamu membiarkan tamunya… tunggu, keluarga Xie berhutang? Keluarga Xie sangat kaya, bagaimana mereka bisa berhutang?”

“Xie Anshi!” Sebuah suara bergema dari luar, “Keluar! Aku tahu kau ada di rumah! Kau harus pergi ke pengadilan hari ini!”

Xiang Shu dan Chen Xing sama-sama menoleh ke belakang pada saat yang sama dan terkejut.

Di sana berdiri Feng Qianjun yang mengenakan jubah brokat berwarna nila, mengenakan liontin giok yang menjuntai, dengan dua pedang panjang diikat ke pinggangnya, dan mengenakan sepasang sepatu bot bersulam awan. Berjalan dengan langkah keras ke dalam kediaman Xie, dia berteriak, “Tuan Xie Anshi! Kau setuju untuk mengembalikan uangnya kemarin! Kemarin malam kau bilang kalau kau punya tamu yang begitu baik, dan aku melepaskanmu, tapi hari ini…  Tianchi? Saudara Xiang?!”

Feng Qianjun menyapa keduanya yang masih terkejut, memasang ekspresi bodoh.

Chen Xing berteriak keras. Dia bergegas ke arahnya sambil berteriak, “Feng Dage-!”. Dia melompat dan melemparkan dirinya ke Feng Qianjun. Xiang Shu ingin menyapanya tapi setelah melihat adegan ini, dia sedikit mengerutkan kening. Menampilkan sedikit kejengkelan, dia tidak lagi repot-repot menyapa Feng Qianjun.

“Tianchi! Tianchi!” Feng Qianjun tertawa keras, “Kenapa kau ada di sini? Kapan kau sampai?”

Feng Qianjun menatapnya seperti dia hendak melahap Chen Xing ke perutnya, menyambar dan menggosok padanya. Chen Xing tidak bisa berhenti tertawa. Xiang Shu hanya mengangguk sedikit, jelas tidak bermaksud menghampiri Feng Qianjun, memutuskan berbalik dan pergi.

“Aye! Xiang Shu!” Chen Xing berteriak, “Apa kau tidak ingin mengobrol sebentar?”

Xiang Shu berbalik untuk pergi tapi Feng Qianjun berteriak keras di belakang siluet Xiang Shu : “Aku akan menikah dalam beberapa hari! Kau tidak perlu cemburu, Saudara Xiang!”

Chen Xing berbalik ke arah Feng Qianjun dan membuat isyarat “diam”, dengan putus asa berkata, “Apa yang kau bicarakan?! Tunggu, kenapa kau datang ke sini untuk menagih hutang?”

“Ceritanya panjang,” Feng Qianjun menjawab, “Kita bisa membicarakannya ketika kita pergi ke bank milikku.”

Chen Xing memberitahunya bahwa dia saat ini tinggal di sini. Dia meraih Feng Qianjun dan meminjam salah satu ruangan teh kediaman Xie An. Ketika pengurus rumah melihat bahwa penagih hutang dibawa pergi, dia buru-buru menyajikan teh ketika keduanya duduk dan saling memberi tahu tentang hal-hal yang terjadi ketika yang lain pergi.

“Jadi begitulah.”

Saat mendengar apa yang terjadi di Chi Le Chuan, Feng Qianjun hanya mendengar intinya. Dia menghela napas dan menganggukkan kepalanya.

Chen Xing merasa bersalah ketika dia menyebut mengenai Xiao Shan. Dia awalnya ingin mempercayakan Xiao Shan pada suku Xiongnu dan membiarkannya tinggal dan tumbuh di sana, tapi dia tidak pernah bertanya pada Xiao Shan apa yang dia inginkan. Setelah berbicara lama dengan Xiang Shu di kapal hari itu, Chen Xing secara bertahap menyadari bahwa setiap orang memiliki sesuatu yang ingin mereka lakukan dan tempat yang ingin mereka kunjungi.

Dia harus menulis surat pada Xiao Shan untuk memberitahunya bahwa mereka ada di Jiangnan, dan jika Xiao Shan mau, dia bisa meminta seseorang untuk menjemputnya lagi. Dia membiarkannya untuk membuat pilihannya sendiri. Tapi apa yang bisa dia lakukan saat dia akan mati? Suasana hati Chen Xing sedang kacau. Di satu sisi, dia sangat menyukai anak itu; dia rela merawatnya sampai dia tidak membutuhkannya lagi. Namun di sisi lain, secara tidak sadar ia tidak ingin memperdalam perasaan di antara mereka, dia takut ketika saatnya tiba baginya untuk pergi, Xiao Shan akan sangat sengsara.

“Apa kau bisa membantuku untuk mengirim surat ke Chi Le Chuan untuk Xiao Shan?” Chen Xing ingat bahwa Bank Xifeng juga merangkap dalam industri informasi. Feng Qianjun pasti sudah menyadari banyak hal jadi dia dengan santai berkata, “Kau pasti sudah mendengar beberapa hal yang terjadi.”

“Tidak,” Feng Qianjun menjawab, “Masih ada beberapa hal yang tidak aku mengerti. Tapi fakta bahwa Saudara Xiang Shu mengundurkan diri dari posisinya sebagai Chanyu yang Agung dan meninggalkan Chi Le Chuan bersamamu, aku sudah tahu sejak lama…”

“Apa?” Chen Xing hampir menjatuhkan mangkuk tehnya, terkejut, “Mengundurkan diri menjadi Chanyu yang Agung?”

“Ya,” Feng Qianjun juga terkejut, “Dia tidak memberitahumu? Baik di dalam maupun di luar Tembok Besar, Dataran Tengah, Jiangnan , dan tempat lain, semua orang sudah tahu segalanya dalam satu malam.”

Chen Xing bertanya dengan kosong, “Kapan ini terjadi?”

Feng Qianjun memberi tahu Chen Xing tanggalnya. Chen Xing ingat bahwa itu terjadi selama mereka berada di Karakorum. Apakah Xiang Shu sudah memutuskan untuk tidak lagi menjadi Chanyu yang Agung pada saat itu?

Dia hanya bisa mendengar Feng Qianjun berkata, “Informasi yang aku terima adalah bahwa Shulü Kong sudah menyerahkan Penghitungan Giok dari 16 Orang Hu pada Kepala Tiele, mencabut pedang, mengembalikan busur, menyegel senar, membuat pengorbanan ke surga, dan bahkan memainkan musik seruling kuno untuk mengekspresikan niatnya. Sekarang jabatan Chanyu yang Agung diserahkan pada Shi Mokun dari suku Tiele. Fu Jian sudah mengirim surat ke Karakorum meminta para tetua untuk menyelenggarakan upacara gulungan ungu dan mandat emas sesegera mungkin, bersiap untuk memobilisasi pasukan, dan menyerang Selatan.”

Pikiran Chen Xing menjadi kosong, dia kehilangan kata-kata untuk waktu yang lama.

“Kenapa dia mengundurkan diri dari menjadi Chanyu yang Agung?” Chen Xing mengalami kesulitan memproses informasi itu.

Feng Qianjun bahkan lebih tidak percaya, bertanya kembali, “Bukankah dia Pelindungmu? Bukan hal yang aneh jika dia mengundurkan diri dari menjadi Chanyu yang Agung.”

Chen Xing, “Tidak, tidak … Xiang Shu!”

Chen Xing secara naluriah berdiri dan baru saja akan kabur tepat saat Xiang Shu hendak masuk. Keduanya hampir menabrak satu sama lain. Xiang Shu memiliki ekspresi dingin di wajahnya, memelototi Feng Qianjun dengan ekspresi penuh celaan.

Orang macam apa Feng Qianjun itu? Secara alami, dia sudah lama menyadari bahwa Xiang Shu tidak ingin memberi tahu Chen Xing. Dia tersenyum pada dirinya sendiri.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments