Penerjemah: rusmaxyz
Editor: Keiyuki17


“Adik kecil ini ingin bertanya kepada semua saudara yang hadir disini,” kata Chen Xing sambil tersenyum, “Siapa yang berseteru dengan suku Tiele? Jika ada yang ingin melakukannya, kalian mungkin bisa menghunuskan pedang dan datang ke sini. Aku akan membayar hutang dengan hidupku atas nama temanku.”

Ketika semua orang ditanya seperti ini, mereka sama sekali tidak bisa menjawab. Suku Tiele milik Xiang Shu tidak pernah membantai Han. Selama beberapa kali mereka memasuki jalur, yang mereka lakukan hanyalah membantu Fu Jian dalam menyelesaikan perselisihan internal antara orang-orang Hu.

Seorang terpelajar mencibir, “Hu memiliki kepala sekecil dan setajam kijang jantan, dan mata sekecil dan bulat seperti tikus.1 Juga, semua hama bekerja bersama satu sama lain. Tidak masalah apakah dia seorang Tiele, Xiongnu, Di, atau Xianbei. Mereka yang sudah membantai kerabat Han kita semuanya adalah musuh bebuyutan Jin yang Agung kita, jadi apa bedanya? Bukankah Tiele itu Hu? Karena dia seorang Hu, apa yang salah dengan kami yang membalas dendam?”

Chen Xing berpikir, barusan aku mendengar dengan jelas kalian memuji Xiang Shu karena sudah menjadi pria yang secantik giok, dan sekarang dia adalah kijang jantan dan tikus? Para terpelajar benar-benar suka berubah-ubah. Jadi dia berkata dengan tulus, “Menurut apa yang dikatakan oleh kakak laki-laki yang berharga ini, Hu adalah manusia, dan Han juga manusia. Jika seseorang ingin membalaskan dendam, maka mereka bisa langsung membunuhnya. Kenapa harus mengalami begitu banyak masalah seperti ini?”

Begitu dia berbicara, beberapa orang yang tetap di kursi mereka tidak bisa menahan tawa. Terpelajar itu langsung marah dan membantah, “Kau sangat menyushkan! Bagaimana keduanya sama?”

“Tentu saja tidak sama.” Chen Xing memikirkannya, lalu menjawab, “Menurutku, jika Hu dan Han bukanlah manusia, apakah semua orang akan tetap duduk untuk berdiskusi?”

Xie Xuan tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata, “Apa yang kamu maksud dengan itu?”

“’Manusia’, adalah bagaimana bentuk itu dinamai,” kata Cheng Xing dengan tenang. “Hu dan Han adalah bagaimana etnis tersebut dinamai. ‘Kuda putih’ bukanlah ‘kuda’, dan ‘manusia Hu’ bukanlah ‘manusia’, itu prinsip yang sama.”

Xiang Shu, “???”

Seluruh ruangan tertawa terbahak-bahak. Xie An menyipitkan matanya sedikit, memahami bahwa Chen Xing berniat untuk mengikuti teladan mereka dan mengambil inisiatif untuk mengadakan diskusi. Makna di balik perkataan Chen Xing adalah bahwa ‘Hu’ dan ‘Han’ adalah etnisitas, yang merupakan istilah umum yang merujuk pada kelompok kolektif, sehingga mereka tidak bisa secara konkret mendefinisikan istilah ‘manusia’. Ini adalah kemampuan untuk menggunakan umpatan sintaksis, dan seni sofisme, yang berevolusi dari “Seekor Kuda Putih Bukanlah Seekor Kuda” dari Gongsun Long pada periode Negara Berperang. Jiangdong adalah wilayah yang menghormati percakapan intelektual ringan, dan semua orang di sini sudah akrab dengan proposisi ini sejak lama. Langkah Chen Xing tidak berbeda dengan mengirim dirinya ke depan pintu rumah mereka untuk membiarkan mereka menggantung dan memukulnya.

“Orang Hu, adalah salah satu jenis manusia,” kata terpelajar lainnya, “Seperti bagaimana orang Han adalah jenis manusia, sama halnya dengan bagaimana sungai adalah bagian dari sungai. Percakapan intelektual ringan bukanlah untuk menyesatkan. Adik laki-laki, ini adalah sesuatu yang kita semua pernah mainkan sejak dulu.”

Tapi tanpa diduga, Chen Xing mengalihkan dan bertanya, “Kalau begitu aku ingin bertanya kepada semua orang, apakah ‘manusia’ itu? Setidaknya kita harus mendefinisikan apa itu ‘manusia’ sebelum kita dapat berdebat apakah orang Tiele atau Hu adalah manusia atau bukan, dan apakah mereka berselisih dengan semua orang yang hadir disini.”

Begitu dia mengatakan itu, semua orang terdiam. “Apakah manusia Hu adalah manusia?” bukanlah pertanyaan yang sulit untuk dijelaskan, tetapi yang mendefinisikan ‘Manusia’ adalah masalah yang dipertimbangkan oleh sangat sedikit orang sebelumnya.

Awalnya, Xiang Shu menebak bahwa situasinya tidak memiliki kesempatan untuk diselesaikan dengan damai, jadi dia hanya menunggu seseorang untuk melaporkannya pada pejabat, dan kemudian dia akan bergegas keluar bersama Chen Xing. Meskipun ada banyak orang di aula, mereka semua adalah terpelajar dan bahkan tidak akan mampu menahan satu pukulan darinya. Sebagai pertimbangan untuk Xie An, dia tidak akan menjatuhkan mereka terlalu keras. Tapi siapa yang tahu bahwa Chen Xing akan menjadi seorang pria yang menggunakan mulutnya dan bukan tinjunya, dan berhasil mengejutkan semua orang yang hadir hanya dengan beberapa kalimat. Dari kelihatannya, situasinya tidak terlalu buruk, tapi sesi tanya jawab ini membuat Xiang Shu juga sedikit bingung.

Wang Xizhi berkata sambil tersenyum, “Semua yang hadir adalah manusia, apakah itu pertanyaan yang masih perlu ditanyakan?”

Chen Xing berpikir sejenak, lalu berkata, “Dari apa yang aku lihat, itu belum tentu benar. Untuk mengetahui siapa dirimu, kamu harus terlebih dahulu menentukan apa definisi dari ‘hal’ ini, jika tidak, bagaimana kamu bisa menggunakannya untuk mendefinisikan diri sendiri? ”

“Kamu benar.” Xie Xuan juga ditipu ke dalam parit oleh Chen Xing. Manusia adalah yang paling bijaksana dari semua makhluk, ini adalah pepatah yang bertahan sejak zaman kuno. Tapi bagaimana seseorang dapat memberikan definisi yang jelas dan akurat tentang ‘manusia’? Bahkan orang bijak yang terdahulu pun tidak akan mampu untuk melakukannya.

Dan dengan demikian, aula tetap sunyi untuk beberapa saat sebelum seseorang berkata, “Tubuh dengan panjang tujuh chi, tangan dan kaki yang berbeda satu sama lain, rambut di kepala, gigi di mulut, dapat berdiri dan berjalan dengan cepat – itulah definisi menjadi ‘manusia’.” — Demikian kutipan dari “Liezi Huangdi”.

Chen Xing membalas tanpa berpikir, “Lalu bagaimana dengan mereka yang memiliki tubuh sepanjang delapan chi? Bagaimana dengan mereka yang memiliki tiga tubuh chi? Bukankah orang kecil itu juga ‘manusia’? ”

“Mereka yang lahir dengan dua tangan, dua kaki, dan kepala adalah manusia,” terpelajar yang pertama kali berteriak tentang “melaporkan” Xiang Shu berbicara.

“Lalu bagaimana dengan mereka yang terlahir kehilangan anggota tubuh?” Chen Xing berkata sambil tersenyum. “Jika ada yang mengatakan bahwa prajurit yang kehilangan anggota tubuh di medan perang bukan manusia lagi, aku akan menjadi orang pertama yang mengatakan ‘tidak’.”

Xie An berkata, “Mereka yang terlahir dengan tiga jiwa Yang dan tujuh jiwa Yin, tidak peduli bentuknya, adalah manusia.”

Xie An bisa dikatakan sudah menunjukkan esensi menjadi ‘manusia’ dalam metafisika. Semua orang yang duduk langsung tercerahkan dan mendesah kagum. Namun Chen Xing berkata, “Kalau begitu untuk manusia, jika tiga jiwa Yang dan tujuh jiwa yin mereka tidak ada lagi, mereka tidak akan menjadi ‘manusia’ lagi.”

Xiang Shu berpikir, bukankah itu sudah pasti?

Xie An berkata, “Kalau begitu mereka hanya akan menjadi lapisan kulit.”

“Kita bisa membalas dendam sekarang,” kata seseorang.

“Tunggu, tunggu, tunggu,” kata Chen Xing. “Manusia yang telah kehilangan tiga jiwa Yang dan tujuh jiwa Yin mereka, jika aku ingat dengan benar, itu disebut dengab ‘manusia mati’, bukan? Lalu apakah manusia mati, ‘manusia’? “

Semua orang mulai memarahi Chen Xing, tapi Chen Xing menjelaskan, “‘Mati’, adalah istilah yang ditentukan. ‘Manusia’ adalah nama dari bentuknya. Jika ‘manusia mati’ bukanlah ‘manusia’, maka ‘manusia Hu’ juga tidak boleh dianggap sebagai ‘manusia’. “

Semua orang, “…………”

Xiang Shu: “…”

“Bagaimana orang mati bisa sama dengan Hu?” Orang Han tidak cukup puas dengan Chen Xing.

“Apakah kau hanya mencoba untuk memarahiku secara tidak langsung?” Xiang Shu juga cukup tidak puas dengan Chen Xing.

Chen Xing dengan cepat berkata, “Kalau begitu, mari kita katakan dengan cara lain. Apakah kucing dan anjing memiliki tiga jiwa Yang dan tujuh jiwa Yin? ”

Xie An, “…”

Chen Xing berkata dengan ragu, “Jika kucing dan anjing memiliki jiwa, apakah mereka bisa dianggap ‘manusia’? Jika tidak, lalu siapa yang bisa membuktikan bahwa semua makhluk selain manusia tidak memiliki jiwa? “

Kali ini, Xie An praktis mengambil batu dan menghancurkannya di kakinya sendiri. Awalnya, jika dia dengan paksa mengatakan bahwa semua makhluk selain manusia tidak memiliki jiwa yang lengkap, itu bisa berfungsi sebagai penjelasan yang masuk akal. Tapi bagaimana membuktikannya? Untuk membuktikan bahwa satu-satunya makhluk yang memiliki jiwa di dunia ini adalah manusia? Untuk melakukannya, pertama-tama orang harus membuktikan bahwa tidak ada hewan selain manusia yang memiliki jiwa. Teori jiwa masih merupakan teori yang tidak berdasar. Jika seseorang mencoba untuk secara paksa membuktikan bahwa tidak ada, tidak hanya itu tidak akan mendapat dukungan teori, tapi Chen Xing juga akan bisa menyarankan banyak contoh tandingan – misalnya, ‘Enam Alam Kelahiran Kembali’, ‘ Yin dan Yang’, ‘Reinkarnasi’. Setelah manusia mati dalam kehidupan ini, mereka mungkin bereinkarnasi sebagai hewan di kehidupan selanjutnya. Artinya, hewan sama dengan manusia – mereka juga memiliki jiwa.

Chen Xing menambahkan, “Ada orang yang terlahir dengan kekurangan satu atau dua jiwa, tapi kita tidak bisa tidak memperlakukan mereka sebagai manusia, bukan? Mari kita simpan terlebih dulu. Legenda mengatakan bahwa ada rubah yao di dunia yang berkultivasi menjadi manusia dan tidak berbeda dengan manusia, kecuali sebagian dari sifat keji mereka yang tidak dapat mereka singkirkan. Dalam hal ini, apakah yao yang berubah menjadi manusia yang dianggap ‘manusia’? Mengapa orang-orang di dunia tidak menganggap yao sebagai manusia?”

Xie An dengan tegas berkata, “Itu berbeda. Tak satu pun dari kita pernah melihat yao rubah, kita tidak bisa memeriksanya.”

“Kalau begitu, tidak ada yang pernah melihat jiwa sebelumnya,” Chen Xing langsung setuju. Jadi pembicaraan tentang jiwa tidak bisa dimasukkan dalam diskusi.

“Ya, ya.” Semua orang menyeka keringat mereka.

Tapi setelah itu, keheningan memenuhi aula lagi. Setelah topik diputar mundur, mereka bahkan kurang mampu menjawab pertanyaan Chen Xing tentang definisi ‘manusia’.

“‘Manusia’ hanyalah referensi konvensional,” Xie An merenung lama sebelum berkata. “Bagaimana mereka bertinglah laku tergantung pada diri mereka sendiri. Tidak ada artinya terlalu bersusah payah dengan bentuk tingkah laku.”

Chen Xing berkata, “Tapi tidak ada seorang pun yang pernah memberi tahu kita bagaimana bentuk tingkah laku ini muncul. Mengekspresikan rasa ingin tahu seseorang terhadapnya, dan bagi adik kecil disini yang ingin berdiskusi dengan baik dan jelas dengan para Gege di sini dapat dimaklumi.”

Taktik penundaan Xie An tidak berhasil. Dia menggaruk punggungnya beberapa kali dan berpikir, apa yang harus aku lakukan sekarang?

Xie Xuan berkata, “Lalu, Saudara Tianchi, bagaimana menurutmu?”

Chen Xing terkejut, “Giliranku lagi?”

Chen Xing berurusan dengan orang-orang terpelajar dengan cara yang sama seperti Xiang Shu berurusan dengan seniman bela diri, dan dia melakukannya dengan lebih bersih daripada Xiang Shu. Bagaimanapun, kekuatan Xiang Shu bisa menyaingi seribu pasukan, tapi dia harus melawan mereka satu per satu. Chen Xing terlibat dalam duel kata-kata dengan para terpelajar dan berhasil menyingkirkan banyak dari mereka setiap saat – serangan kelompok klasik. Awalnya, Chen Xing bahkan sudah menyiapkan sekelompok pertanyaan “apakah manusia abadi dianggap manusia?”, “Jika ‘yang abadi’ bukan ‘manusia’, lalu mengapa mereka disebut ‘manusia abadi’?” Setelah menyelesaikan masalah ‘manusia abadi’, masih ada ‘leluhur’, ‘dewa’, orangutan dan monyet yang memiliki bahasa isyarat sendiri dan dapat berkomunikasi melalui tangisan, burung beo yang dapat berbicara, dan sebagainya.

Tapi tak terduga, kelompok orang ini tampaknya tidak terlalu kuat, karena mereka siap untuk mengaku kalah begitu cepat.

Xie An memberi isyarat, yang maksudnya membiarkan Chen Xing berbicara. Jika Chen Xing ingin membuktikan sudut pandangnya, dia perlu memberikan argumen yang kuat untuk meyakinkan massa.

“Menurut pendapatku,” Setelah Chen Xing menghabiskan sedikit teh terakhir di depannya, dia berkata dengan serius, “Mereka yang memiliki Hati adalah manusia.”

Semua terpelajar mendesis mencemooh, tapi setelah melakukannya, mereka tiba-tiba terdiam lagi. Tidak ada yang bisa membantahnya.

Karena kata “Hati” adalah konsep yang agak rumit untuk dijelaskan. Mencius pernah berkata,

“Ikan adalah sesuatu yang aku inginkan. Cakar beruang juga merupakan sesuatu yang aku inginkan”, dan mengutip kesediaan untuk “mengorbankan hidup seseorang di atas prinsip” sebagai contoh Hati. Namun, menurut apa yang dikatakan Chen Xing, terbukti bahwa rentang frasa yang dicakup lebih luas daripada yang dapat ditemukan dalam Konfusianisme.

“Bagaimana kau menjelaskan istilah ‘Hati’?” kata orang lain. “Apakah kita akan mulai membahasnya sekarang? Roda telah menjadi lingkaran penuh, kami hanya berputar-putar, bagaimana …”

“Tidak,” kata Chen Xing. “Hati yang membedakan yang benar dari yang salah, ketetapan hati yang teguh dihadapan tekanan dari luar, hati nurani yang bersih yang tidak tersembunyi dibalik keinginan yang egois, kebebasan yang tidak terkekang, pernyataan yang tidak bersalah yang tetap tak tergoyahkan saat berjalan sendirian …”

Setelah berbicara sampai titik ini, Chen Xing secara tidak sengaja melirik Xiang Shu dan menyadari bahwa Xiang Shu sudah memfokuskan perhatiannya padanya sejak awal. Ketika tatapan mereka bertemu sesaat, keduanya membuang muka dengan canggung. Chen Xing hampir lupa apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“… En, jadi, hal-hal seperti ini yang tidak dapat aku sebutkan secara detail sekarang. Semua orang telah membacanya di buku, jadi aku tidak akan mengatakan lebih dari yang diperlukan. Sangat sulit untuk menjelaskan dengan jelas apa arti ‘Hati’, tapi aku yakin semua orang mengerti di dalam hati kalian, apa ‘Hati’ itu, yaitu apa yang didiktekan oleh Hati seseorang.”

“Dan dengan demikian, masalah muncul,” kata Xie Xuan. “Jadi mereka yang sudah kehilangan hatinya tidak bisa dianggap manusia?”

“Tentu saja.” Chen Xing tersenyum. Dari sudut matanya, dia menyadari bahwa Xiang Shu masih menatapnya, jadi dia hanya bisa berpura-pura tidak melihatnya. “Saat kita menghukum orang lain karena ‘tidak berbeda dari binatang’ atau ‘kau tidak manusiawi’, kita seharusnya tidak mengatakan itu dengan bercanda, kan? ”

Seorang anak muda dari keluarga Wang angkat bicara, “Jadi anak-anak yang belum mulai sekolah tidak bisa dianggap manusia? Jika demikian, aku tidak setuju.”

Chen Xing membalas dengan pertanyaan, “Siapa bilang anak-anak tidak punya Hati? Bagaimana kau menjelaskan pepatah ‘sederhana dan naif’? Hati seseorang seperti cahaya terang di hatinya; apa yang seharusnya ada, akan ada.”

“Ketika dunia jatuh ke dalam kekacauan,” orang lain menimpali, “seringkali akan ada orang tua yang menukar anak-anak mereka dengan makanan, dan akan ada yang mengakui bandit sebagai ayah mereka2, dapatkah kamu mengatakan mereka bukan manusia? Dari apa yang dapat aku lihat, hanya ada beberapa yang pada dasarnya baik, sementara ada yang pada dasarnya jahat.”

Chen Xing melanjutkan, “Mereka yang terlahir jahat, aku pikir, bahkan jika aku tidak menyebutkannya, semua orang sudah tidak menganggap mereka manusia, kan?”

“Bagaimana jika, setelah seseorang kehilangan hatinya, mereka menyerah pada kejahatan dan kembali menjadi baik” Anggota Xie muda lainnya bertanya.

Chen Xing, “Jika kalian bisa memaafkan orang ini, tentu saja, lautan kepahitan tidak terbatas, namun orang yang menyesal masih bisa mencapai pantai di dekatnya, sehingga mereka bisa dianggap manusia lagi. Itu yang disebut ‘kebiasaan adat’, bukan? Itulah cara mendefinisikan ‘manusia’ melalui ‘Hati’.”

“Jadi, dengan Hati sebagai bukti manusia, seseorang akan bisa mengenali manusia dari kejauhan. Saudaraku di sini, Shulü Kong, selalu dapat dengan jelas membedakan yang benar dari yang salah dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang benar. Dia tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah, apalagi memiliki rasa permusuhan terhadap Han. Di antara Hu, ada orang yang dengan ceroboh membunuh orang yang tidak bersalah untuk memuaskan keinginan kejam mereka, tetapi ada juga orang yang baik hati, yang akan menyelamatkan negara dan rakyatnya. Jika tidak, mengapa dia mengikutiku sampai ke Jiankang, hanya untuk menderita ironi dingin dan sindiran yang membara?”

Setelah membuat putaran yang besar, akhirnya Chen Xing kembali ke masalah utama yang dihadapi. Dia tersenyum saat melihat Xiang Shu. Pada saat ini, Xiang Shu akhirnya berhenti menghindarinya, namun ekspresinya sekarang tampak sedikit rumit.

Permusuhan semua orang terhadap Xiang Shu sudah sedikit terhapus. Ditambah lagi, setelah ditarik kesana kemari oleh Chen Xing, mereka semua merasa sedikit pusing sekarang dan tidak tahu harus berkata apa. Setelah kecanggungan yang lama, tuan rumah, Xie An, yang memecah keheningan dengan terbatuk.

“Ini sudah sangat larut sekarang,” kata Xie An. “Mengapa kita tidak … melanjutkan diskusi ini di lain waktu?”

“Baiklah baiklah.” Semua orang menyeka keringat mereka. Melihat betapa tenang dan tersusunnya Chen Xing saat berbicara, jika mereka memberinya meja dan kipas lipat, mereka mungkin bisa terus berbicara hingga fajar keesokan harinya, jadi mereka segera turun dari keledai mereka dengan bantuan lereng3 dan pergi satu demi satu saat tuan rumah berterima kasih kepada tamunya.

Chen Xing dengan cepat melirik Xie An, menandakan bahwa dia bisa menyelesaikan semuanya. Jika tidak, setelah para tamu pergi, mereka bisa keluar dari linglung dan kembali untuk melanjutkan debat mereka. Dia tidak akan bisa menangkisnya saat itu.

Xie An melirik Chen Xing, memberi isyarat agar dia mengikutinya ke ruang kerja. Chen Xing melirik Xiang Shu. Xiang Shu terlihat seperti biasa. Chen Xing mengharapkan dia untuk memujinya, tapi Xiang Shu hanya terlihat acuh tak acuh seperti biasanya, jadi dia bertanya dengan kebencian, “Bagaimana?”

“Aku mengantuk karena semua pembicaraanmu,” jawab Xiang Shu.

Chen Xing, “…”

Di ruang kerja.

Kata-kata ‘untunglah’ terlihat jelas di wajah Xie An. Tatapannya tertuju pada Chen Xing, lalu dia mulai melonggarkan jubahnya dan menanggalkan pakaiannya. Dia melepas liontin gioknya dan menyingkirkannya. Dengan hanya mengenakan pakaian polos, dia melepas sepatu dan kaus kaki sebelum duduk di dipan di ruang kerja, lalu mengambil panci dan meminumnya langsung.

“Percakapan intelektual ringan,” Xie An dengan santai mengucapkan. “Satu-satunya hal yang mereka lakukan sepanjang hari adalah terlibat dalam percakapan intelektual ringan, sekelompok yang tidak berguna!”

Chen Xing: “….”

“Untuk apa kamu linglung?” Xie An melihat bahwa Chen Xing dan Xiang Shu masih berdiri di ruang kerja, jadi dia berkata, “Duduklah ah! Apa yang ingin kamu makan untuk makan malam? Aku akan minta mereka memanggang babi dan mengirimkannya ke sini?”

Chen Xing, “Uh … um … apakah aku membuatmu kesulitan? Sekretariat Xie?”

“Seharusnya menjadi Supervisor  Sekretariat sekarang.” Xie An menangis getir, “Xiao Shidi, kamu benar-benar tidak mudah untuk dihadapi. Tidak apa-apa, jangan sebutkan itu. Bagaimana situasinya? Kami punya waktu untuk membicarakannya dengan benar sekarang. ”

Chen Xing memegang dahinya dengan satu tangan. “Tuan Xie, uh, aku memikirkannya dengan sangat keras, tapi kita berdua sepertinya bukan rekan murid.”

Xie An bangkit dan berkata, “Terakhir kali aku pergi ke gunung Hua dan mengakui Chivalrous Baili sebagai guruku, aku membuat persiapan yang cukup setelah kepulanganku. Lihat, selama bertahun- tahun ini, aku berkeliling untuk bertanya dan akhirnya dihargai oleh Surga– ”

Kemudian Xie An berbalik dan mendorong rak di ruang kerja ke satu sisi. Dengan deru, rak di kotak gelap muncul. Rak-rak itu penuh dengan saber dan pedang berharga, botol, toples, liontin giok, cincin, dan semua 18 jenis senjata bisa ditemukan di sana. Chen Xing hampir pingsan saat melihatnya.

Xiang Shu mengerutkan kening. “Apa ini?”

Dengan sangat serius, Xie An menjawab, “Setelah Baili Shifu  menasihatiku, ini adalah artefak sihir yang menghabiskan semua kekuatanku dalam hidup ini untuk menemukan usaha besar Pengusir setan.”

Chen Xing, “……………………”

Xie An menunjuk ke Chen Xing. “Shidi, kenapa kamu tidak datang memeriksanya”

Chen Xing, “B … biarkan aku tenang sebentar.”

Xiang Shu berjalan ke rak persegi yang gelap dan mengambil tombak, mengamatinya.

Chen Xing berkata, “Kamu seharusnya mengatakan ini lebih awal! Kenapa mengundang semua cendekiawan itu untuk minum teh dan ‘diskusi intelektual ringan’? Yang dilakukannya hanyalah membuatku lelah, tidak bisakah kamu membawa kami ke ruang kerja untuk pembicaraan yang benar?”

Xie An menjawab tanpa daya, “Kamu tidak tahu ini, tapi keturunan dari kelas atas di Kota Jiankang sekarang hanya bermain dengan mereka yang berkuasa. Jika aku tidak mengadakan sambutan untukmu, siapa yang akan tahu namamu? Sekarang lihat, setelah semua yang terjadi hari ini, Kaisar pasti akan memanggilmu dalam beberapa hari. Tidakkah namamu kemudian akan tersebar luas dengan sendirinya?”

“Tuan Xie!” Seseorang di luar memberitahu, “Tuan Wang ada di sini.”

Xie An dengan cepat mengenakan jubahnya, menutup lemari, dan setelah merapikan dirinya, dia terlihat seperti sebelumnya. “Silahkan masuk.”

Itu Wang Xizhi yang datang, jadi Xie An tersenyum sopan dan mengangguk. “Aku mengobrol dengan Xiao Shidi-ku di sini.”

Wang Xizhi memegang dokumen di tangan saat dia tersenyum. “Festival Qingming akan diadakan dalam beberapa hari. Aku ingin mengundang adik laki-lakiTianchi  dan saudara Xie ke Pegunungan Nanping untuk pendakian musim semi. Setelah menulis undangan ini, aku pikir mengirim seseorang untuk menyampaikannya akan terlalu tidak sopan, jadi aku pikir akan lebih baik jika aku datang sendiri untuk mengungkapkan ketulusan.”

“Bagus, bagus,” kata Xie An sambil tersenyum.

Chen Xing segera melihat Wang Xizhi pergi dan menutup pintu ruang kerja. Xie An melepas jubahnya lagi dan duduk kembali di dipan, bertanya, “Sampai di mana kita?”

Xiang Shu, “Menjadi begitu berbeda di depan umum, apa kau tidak merasa lelah?”

“Aku!” Xie An berkata dengan sungguh-sungguh. “Tapi aku tidak bisa menahannya. Pengadilan kekaisaran dipenuhi oleh pejabat sipil dan militer yang hanya tahu bahasa yang tidak sopan tanpa substansi dan bagaimana terlihat cantik, jadi apa lagi yang bisa aku lakukan?”

Chen Xing, “Seharusnya tidak seburuk itu?!”

Xie An menunjuk ke utara. “Fu Jian akan menyeberangi Sungai Yangtze. Semua orang dalam bahaya sekarang, bagaimana menurutmu?”

“Itu tidak akan terjadi secepat itu,” kata Chen Xing. “Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri … tapi Xie Shixiong, kamu …”

Chen Xing melihat Xie An dari atas ke bawah sebelum duduk di sampingnya juga. Dia menjelaskan, “Jadi seperti ini …”

Chen Xing menceritakan jalannya peristiwa di Chang’an dan Chi Le Chuan. Xie An mendengarkan dengan tenang, lalu mengangguk setelah selesai dan menghela napas. “Aku sebenarnya tidak bisa menyaksikan pemandangan seperti itu!”

“Kamu beruntung tidak harus menyaksikannya, oke?!” Chen Xing menjadi panik. “Jika hal seperti itu terjadi di Jiankang, semuanya akan berakhir!”

Xie An merenungkannya, lalu tampaknya mengambil keputusan pada akhirnya. “Tinggal di Jiankang bukanlah strategi darurat yang bagus. Pada hari aku menerima surat darimu, Xiao Shidi, aku sedang mempertimbangkan apakah akan langsung memotong simpul rami dan menyelesaikannya. Aku akan mengundurkan diri sekarang dan mengikutimu ke … “

“Berhenti!” Chen Xing menyela. “Jangan pernah berpikir tentang itu! Shixiong, kamu sudah lebih dari empat puluh tahun! Aku tidak tahu apa yang Shifu katakan padamu. Aku akan mengesampingkan masalah apakah tubuhmu ini bisa melawan  yao, kuncinya sekarang adalah keheningan sudah jatuh pada semua sihir, jadi tidak mungkin untuk berlatih sebagai pengusir setan!”

Xie An berkata dengan tegas, “Bisakah kamu membiarkan  Shixiong melihat Cahaya Hatimu?”

Xiang Shu tidak bisa berkata-kata saat dia menghadapi Xie An. Chen Xing hanya bisa menyalakan Cahaya Hati nya. Xie An langsung bingung saat dia menatap tangan Chen Xing dan memegang pergelangan tangannya.

“Tuan Xie!” Pengurus rumah di luar menginformasikan lagi, “Ada tamu lain yang ingin berkunjung …”

Chen Xing menyimpan Cahaya Hati. Xie An segera merapikan diri dan membuka pintu. “Siapa ini?”

Pengurus rumah melirik Chen Xing, lalu merendahkan suaranya untuk berbisik pada Xie An.

Xie An dengan ramah berkata, “Aku tidak punya uang, tolong minta dia kembali.”

“Biarkan aku melihat lagi?” Setelah pengurus rumah pergi, Xie An kembali ke Chen Xing dan bertanya dengan sungguh sungguh.

Chen Xing, tanpa ekspresi di wajahnya, menyalakan Cahaya Hati lagi untuk membiarkan Xie An mempelajarinya sesuka hatinya.

“Jadi ini sihir,” seru Xie An. “Ini adalah sihir yang bisa memindahkan gunung, mengisi lautan, dan mengubah hari secara rahasia!”

“Aku juga ingin memindahkan gunung, mengisi lautan, dan mengubah hari secara rahasia,” kata Chen Xing. “Kenapa kamu tidak memberitahuku, Shixiong, selain menemukan air untuk diminum di tengah malam, apa kegunaan lain dari Cahaya Hati ini?”

“Pasti ada,” kata Xie An. “Ini benar-benar keajaiban di bumi!”

“Cukup!” Chen Xing berkata, “Kenapa kamu tidak datang menyelamatkan dunia dari kehancurannya dan melenyapkan Chiyou! Aku bahkan tidak ingin menjadi pengusir setan! Kenapa kamu ingin menjadi orang yang begitu sungguh-sungguh … “

Xie An menarik Chen Xing untuk melihat rak yang penuh dengan koleksinya. “Perlahan-lahan lihat ini dulu, lihat apakah yang aku temukan berguna. Di waktu yang akan datang, kita berdua bisa mempelajarinya perlahan.”

Chen Xing menghadap ke rak yang penuh dengan buku dan ornamen. Kebanyakan dari mereka adalah barang antik yang tidak berguna, tapi ada satu atau dua yang tampak seperti artefak sihir, tapi hanya saja Chen Xing tidak tahu dari zaman mana mereka berasal.

Tiba-tiba, dia melihat gulungan bambu. Itu adalah gulungan yang hilang dari Departemen Pengusiran Setan di dunia cermin Chang’an – bahkan cara mengikatnya sama.

Chen Xing membuka gulungannya, dan melihat kata-kata dari kolom pertama yang tertulis di sebelah kiri: Usir dan bunuh yao, Budong Rushan.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Sebuah pepatah yang digunakan untuk menggambarkan betapa jeleknya seseorang itu.
  2. Untuk menjual diri kepada musuh.
  3. pepatah berarti ketika kau berada dalam situasi yang canggung dan diberi jalan keluar.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments