“Bersamamu seperti ini… bahkan jika… kita pada akhirnya akan mati, aku tetap tidak akan menyesal…”

Penerjemah: Keiyuki17
Editor: Jeffery Liu


“Xing’er!” Xiang Shu mengambil langkah, berharap untuk mengejar, tapi api yang mengamuk dengan kejam membuat kedua pria itu terpisah.

Meskipun pupil matanya memantulkan api biru nila dari setiap sudut, tubuh Chen Xing entah bagaimana tidak terluka sedikit pun; tubuh jasmaninya tampaknya tidak rusak, membuatnya berada dalam keadaan hanya menyisakan jiwanya. Apakah ini karena kita sedang berada di dalam alam mimpi, atau karena waktu tidak dapat diulang, aku dalam versi lain dari kaskade ini sudah lama mati pada saat aku tiba di tempat ini?

“Aku …” Chen Xing melihat tubuhnya sendiri dengan heran, tapi pada saat itu, seluruh tubuhnya perlahan mulai menjadi transparan.

Dia duduk di tengah altar dan meletakkan Pedang Acala secara horizontal di atas lututnya. Pedang itu memancarkan cahaya yang bersinar terang di tengah-tengah api dan badai yang mengamuk, dan di bawah kecemerlangannya, suara para dewa bergema di cakrawala.

“Kau telah kembali, Cahaya Hati.” Kedua dewa terbang ke altar dan bergerak terpisah.

Chen Xing: “!!!”

“Tunggu!” Chen Xing, masih memegang gagang pedang, segera bangkit. Dia melihat ke atas, tidak tahu apa yang harus dia lakukan, terhadap aspek keilahian dua dewa yang berputar di sekitar pelataran peleburan: cahaya keemasan Acalanātha bersinar menjauh dan dekat, sementara Kilauan perak Dīpankara menyinari setiap kuartalnya.

Dīpankara menghela napas. “Benar saja, tidak ada pilihan lain. Apa pun yang terjadi, Cahaya Hati harus disuntikkan ke Pedang Acala.”

Chen Xing segera angkat bicara, “Acala! Ini hanya mimpi kami. Kenyataannya, kami telah kehilangan perunggu Gunung Shou, dan Pedang Acala telah disempurnakan oleh Chiyou! Tolong…”

Chen Xing meletakkan pedang itu dan berlutut di tanah. Dia melihat ke langit dan baru saja akan menjelaskan seluruh rangkaian peristiwa ketika dia mendengar desauan lain, kali ini dari Acala.

“Perunggu Gunung Shou tidak lain adalah ‘keyakinan’ yang ditinggalkan oleh Xuanyuan-shi untuk mengawasi dunia manusia.”

Dīpankara perlahan berkata, “Akhirnya akan ada hari ketika Gagak Emas1 dikaburkan oleh gerhana, malam ketika Kelinci Giok2 kembali ke persembunyiannya, suatu periode setelah matahari terbenam ketika bintang yang tak terhitung jumlahnya tidak terlihat, saat ketika api yang mengamuk berhenti menyala… “

“… malam yang gelap tanpa kilatan petir atau guntur, dan fase ketika kilau tulang3 menghilang.”

“Dalam periode di mana sihir dibungkam, sepanjang waktu tanpa batas,” kedua dewa itu menyimpulkan secara serempak, “hanya Cahaya Hati yang akan bersinar secemerlang siang hari untuk selamanya.”

Tak lama kemudian, Acala dan Dīpankara secara bersamaan membuat segel tangan yang menargetkan bagian tegah pelataran peleburan.

Suara gemuruh terdengar lagi, dan api biru berputar-putar di udara di sekitar jurang tiba-tiba berkumpul ke tengah, bergabung menjadi satu di altar.

Xiang Shu berjalan cepat ke altar dan berteriak, “Xing’er!”

Pedang Acala yang dibuat ulang melayang di udara di pelataran peleburan, bilahnya yang kuno mencerminkan kilau yang tidak biasa, tapi Chen Xing tidak terlihat di mana pun.

Xiang Shu mengulurkan tangannya dengan linglung, tapi saat dia menggenggam gagangnya, suara sekeras guntur terdengar menggelegar di benaknya. Pemandangan di sekelilingnya dengan cepat berubah, dengan kebencian meluncur melintasi dataran.


Chang’an di kejauhan diselimuti oleh kabut. Xiang Shu memegang Pedang Acala saat sinar dari Cahaya Hati mengusir kabut tebal. Di sisinya, dia telah mengumpulkan beberapa prajurit terakhir umat manusia yang tersisa; Lima Hu, orang-orang Chi Le Chuan, orang Han, bahkan orang-orang dari Dongying… penghuni terakhir dari Tanah Suci semuanya datang mengikuti bimbingan Pedang Acala.

Chen Xing, yang telah berubah menjadi jiwa yang melayang di udara, berteriak, “Xiang Shu!”

Namun, pihak lain tidak mendengarnya. Di mata Xiang Shu, hanya ada dataran luas yang penuh dengan pasukan iblis kekeringan dan kota yang diselimuti oleh kebencian. Dinding, bangunan, dan bahkan istana di Chang’an semuanya tertutup cairan lengket seperti aspal berwarna ungu kehitaman. Seberkas cahaya hitam melesat langsung menuju ke cakrawala dari istana kekaisaran.

“Ikuti aku ke dalam pertempuran,” kata Xiang Shu dengan suara serak sebelum melanjutkan untuk mengangkat pedang di tangannya.

Di bawah bimbingan sinar dari Cahaya Hati, ribuan pasukan bergegas ke kota Chang’an, cahaya bersinar terang setiap kali mereka mengangkat senjata di tangan mereka.

Ketika para prajurit mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi, Pedang Acala muncul untuk menghasilkan resonansi aneh dengan ratusan juta pedang di dunia manusia; melalui Dewa Bela Diri Pelindung, kekuatan Cahaya Hati disalurkan ke semua prajurit Tanah Suci yang berjuang dalam pertempuran berdarah ini. Tembok kota ditembus, dan lautan cahaya mengelilingi Fu Jian di tengah istana.

Wang Ziye, Xiao Shan, Feng Qianjun, iblis kekeringan dengan perawakan tinggi, Putri Qinghe, dan Serigala Abu-abu busuk… semuanya menunggu mereka di depan takhta.

Berdiri dari takhta sambil memegang tombak di tangannya, Fu Jian memulai pertempuran yang mengguncang dunia melawan Xiang Shu.

Chen Xing mengikuti Xiang Shu, terbang di belakangnya, tapi karena dia sudah menjadi hantu yang berkeliaran di antara langit dan bumi, dia tidak dapat mempengaruhi situasi tidak peduli berapa banyak dia berteriak dengan cemas. Sampai akhirnya, pedang Xiang Shu akhirnya menusuk dada Fu Jian.

Sebuah cahaya yang kuat meledak; istana runtuh, lapis demi lapis, seperti salju yang mencair di bawah terik matahari, dan Darah Dewa Iblis ungu kehitaman yang menutupi Tanah Suci dimurnikan oleh tujuh cahaya dunia. Xiang Shu duduk dengan lelah di takhta Fu Jian.

“Ini belum selesai.” Cahaya lain, berubah menjadi gambar Xiang Yuyan, muncul di tengah istana. “Nak, Dewa Perang masih akan datang kembali.”

“Xiang Yuyan?!” Chen Xing tercengang.

Di tengah mayat yang berserakan di Chang’an, Xiang Yuyan berkata, “Kau harus mengumpulkan dua hun lainnya dan menyebarkannya secara menyeluruh. Hanya dengan cara ini mayatnya akan benar-benar tersegel di bawah tanah.”

Xiang Shu, bagaimanapun, hanya menatap tanah yang berlumuran darah dengan linglung. Ingatan yang ditinggalkan oleh ibunya segera menghilang.

Xiang Shu tersenyum pahit. Kemudian, seolah menyadari Chen Xing ada di sana, dia mengangkat matanya dan melihat ke kehampaan di langit.

Setelah itu, kebencian dunia berkumpul di tubuh Xiang Shu, dan tawa gila Chiyou bergema saat kedua hun-nya ditahan oleh kekuatan Mutiara Dinghai yang luar biasa. Saat berikutnya, Xiang Shu memutar Pedang Acala dan, mencengkeramnya…

… dia mengubah bentuknya menjadi panah yang bersinar dan menusuk dadanya sendiri dengan itu.

Ditemani oleh tangisan kesedihan Chiyou, kekuatan spiritual di dalam Mutiara Dinghai benar-benar dimurnikan.

Di atas takhta, Xiang Shu dalam keadaan yang menyisakan jiwanya saja mengangkat tangannya ke arah langit —— pada saat ini, dia akhirnya melihat Chen Xing yang telah menemaninya. Chen Xing datang turun dari langit dan mengaitkan tangannya dengan tangan Xiang Shu, dan dia segera ditarik ke dalam pelukannya.

“Pada tahun yang telah hilang,” suara Yuan Kun terdengar, “ini adalah sebagian besar dari apa yang akan terjadi pada akhirnya.”

Xiang Shu memeluk Chen Xing. Bersama-sama, mereka berdua berbalik untuk melihat Yuan Kun.

Matahari bersinar terang di atas tanah suci. Waktu berhenti di penghujung mimpi. Yuan Kun, masih dengan kain hitam menutupi matanya, berbalik menghadap ke luar dari aula. Hati iblis dan darah iblis Chiyou —— hun langit dan bumi telah dimurnikan.

“Tapi dia masih akan kembali,” kata Chen Xing.

“Kutukan telah dibatalkan,” kata Yuan Kun perlahan. “Yang tersisa adalah reinkarnasi yang ditakdirkan setiap seribu tahun. Jelas betapa menantangnya itu jika kau ingin membuat kembali Pedang Acala.”

Ada kerutan yang dalam di wajah Xiang Shu. Memang, melihat apa yang akan terjadi di masa depan yang “mungkin” tidak membuat segalanya lebih mudah.

“Pertama-tama, kau harus menemukan ‘regalia’ baru yang mampu menanggung tujuh cahaya dunia, yang akan berfungsi sebagai inti senjata ilahi,” Yuan Kun secara acuh tak acuh menjelaskan. “Kemudian, setelah mengarungi ribuan li untuk mencapai Zoigê, kau harus memanggil altar kuno dan menyusun kembali enam cahaya menjadi regalia. Pada akhirnya, ambil nyawa Chen Xing dan sempurnakan regalia dengan Cahaya Hati di hun dan po-nya. Hanya dengan begitu kau akan memiliki kesempatan untuk melawan.”

“Apakah kau sadar apa yang harus kau lakukan sekarang?” Yuan Kun menutup pernyataannya. “Karena kau telah mendapatkan jawabannya, kau bisa melakukannya sendiri ba.

Yuan Kun berbalik setelah berkata demikian, menghilang ke udara yang tipis, dan dunia mimpi runtuh.

Chen Xing membuka matanya tiba-tiba, hanya untuk menemukan bahwa dia kembali ke kapal lagi.

Air pasang sedang surut; ada banyak hiruk pikuk yang datang dari luar kapal seolah-olah mereka telah tiba di pelabuhan di pesisir.

Melepaskan diri dari pelukan Xiang Shu, Chen Xing duduk dan menggosok matanya. Mereka berdua masih telanjang seperti sebelumnya, dan sinar matahari mengalir di dalam ruangan; semuanya tampak memberikan ilusi bahwa mereka hanya tertidur di kapal pada malam itu.

“Berapa lama kita tidur?” Chen Xing bingung. Dia melihat dirinya sendiri sebelumnya mengalihkan pandangannya ke dada telanjang Xiang Shu.

Xiang Shu kemudian duduk dan bersandar di satu sisi dipan, sedikit tenggelam ke dalam pikirannya. Chen Xing bertanya sekali lagi, membuat Xiang Shu kembali sadar. “Tidak lama, paling lama satu malam. Apa kau lapar?”

Chen Xing menyentuh Xiang Shu dan kemudian dirinya sendiri. Tak satu pun dari mereka tampaknya telah kehilangan berat badan, jadi mereka seharusnya sudah tidur selama tidak lebih dari tiga hari.

Xiang Shu masih merenungkan hal-hal yang terjadi di dalam alam mimpi. Mereka berdua saling berhadapan, dan Chen Xing melihat keraguan di dalam matanya. Mereka memiliki banyak hal untuk dikatakan, tapi untuk sesaat tidak ada yang tahu harus memulai dari mana.

“Jadi, kau pada akhirnya membawa Pedang Acala,” Chen Xing memulai, “pergi melawan Fu Jian, dan akhirnya melenyapkan Chiyou. Kau … kau benar-benar kuat ah. Kau benar-benar tidak takut pada apa pun.”

“Seberapa besar aku akan merindukan dunia tanpa adanya dirimu di dalamnya?” Xiang Shu meremehkan hal itu.

Chen Xing ingat bahwa semua yang dulunya pernah disayangi Xiang Shu telah direnggut satu demi satu oleh Chiyou saat itu. Kepergian Chen Xing pasti menjadi pukulan terakhir yang akhirnya menyebabkan dia pingsan —— dia tidak memiliki apa pun lagi, jadi sudah pasti dia tidak perlu takut lagi. Dia hanya melakukan apa yang dia lakukan pada saat itu untuk memusnahkan Chiyou dan memenuhi kesepakatan mereka.

Jika hari itu pada pertempuran di Sungai Fei, Chen Xing telah memperhatikan ketidaknormalan Xiang Shu dan mendesaknya untuk tinggal, Xiang Shu mungkin akan tetap tinggal. Dengan kata lain, mereka akan menyampaikan perasaan mereka satu sama lain sebelumnya, dan Chen Xing tentu akan memintanya untuk menghadapi masalah bersama dengannya terlepas dari apa yang mungkin akan terjadi. Bagaimanapun, tidak ada apa pun selain kematian di ujung jalan. Dengan mereka berdiri bergandengan tangan, apa lagi yang harus ditakuti?

Dan jika Xiang Shu tetap tinggal atau memilih untuk pergi bersama Chen Xing, itu akan sangat mungkin bahwa segala sesuatunya akan berjalan ke arah yang sama seperti di dalam mimpi mereka dan pada akhirnya akan memimpin mereka untuk melakukan pertempuran yang menentukan di Chang’an. Untungnya, Xiang Shu tidak pernah mengkonfirmasi perasaan timbal balik mereka sampai akhir dan telah memutuskan untuk meninggalkannya, semua dengan imbalan memberi Chen Xing kesempatan untuk memulai dari awal lagi.

Chen Xing, tidak dapat menahan perasaannya, tiba-tiba memeluk Xiang Shu dan bersandar di bahunya.

“Apa?” Xiang Shu kembali ke akal sehatnya dan bertanya.

Xiang Shu sedang duduk bersila di dipan hanya dengan selimut tipis di selangkangannya. Dia telah tenggelam dalam pikirannya, tapi dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan menatap Chen Xing.

Chen Xing menggelengkan kepalanya dan memfokuskan pandangannya pada Xiang Shu.

“Untuk beberapa alasan,” Chen Xing berbicara, “Aku terus merasa bahwa Yuan Kun menyembunyikan sesuatu.”

Menjawab dengan kata “hmm”, Xiang Shu kemudian menegaskan, “Dia memang menyembunyikan sesuatu. Dia menunjukkan kepada kita peristiwa pada tahun yang ‘hilang’ itu, tapi dia tidak pernah membiarkan kita melihat sebab-akibatnya seandainya tidak ada pengaruh Iuppiter atau kekuatan Chong Ming, yang seharusnya berarti bahwa kau sendiri yang akan kembali ke hari itu tiga tahun yang lalu.”

Chen Xing skeptis sejenak. “Tapi karena kau belum mati sekarang, masa depan itu ditakdirkan untuk tidak terjadi.”

“Bisa jadi,” kata Xiang Shu. “Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres, karena Iuppiter tidak mengatakan bahwa sebelum pergi harus ada beberapa metode untuk menyusun kembali Pedang Acala. Pikirkan tentang hal ini, karena Chiyou itu penting, mengapa mereka tidak menggunakan Cahaya Hati ke dalam Pedang Acala sejak awal?”

“Benar!” Chen Xing menyadari bahwa itulah poin yang dia rasa salah untuk waktu yang lama sekarang.

Tujuan dari kemunculan senjata ilahi adalah agar senjata itu diwarisi oleh seorang pengusir setan, yang kemudian akan menggunakannya untuk melindungi dunia manusia pada waktu yang tepat dan mengusir pengaruh Mara. Kekuatan Cahaya Hati juga akan terwujud dalam tubuh manusia dan mulai diturunkan setiap kali Mara akan lahir. Tapi jika tujuannya adalah untuk melenyapkan Mara, mengapa itu membutuhkan baik Pedang Acala dan Cahaya Hati? Bukankah memisahkan kedua kekuatan ini tampak berlebihan?

Karena ini adalah masalah yang sangat penting, mengapa mereka tidak terlebih dulu menyuntikkan Cahaya Hati ke dalam pedang sebelum memberikannya kepada umat manusia?

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Acala dan Dīpankara sengaja memisahkan kedua kekuatan ini, dan mereka pasti memiliki alasan untuk melakukannya.

“Aku mendengar percakapan mereka di altar,” kata Chen Xing. “Mungkin juga misi pengguna Cahaya Hati adalah untuk menemukan… orang yang mampu menguasai kekuatan yang diturunkan oleh pedang.”

Dengan cara ini, mungkin akan menjelaskan seluruh proses mengapa Cahaya Hati selalu membimbing Chen Xing dan membiarkannya menemukan Xiang Shu.

Chen Xing mengungkapkan secara rinci hal-hal yang dia lihat di altar dalam alam mimpi kepada Xiang Shu, yang kemudian dengan lembut menjawab, “Jadi kau menjadi hantu dan mengikutiku selama ini.”

“Itu benar.” Chen Xing tersenyum, merasa malu. “Aku tidak melewati siklus reinkarnasi. Aku enggan berpisah denganmu.”

Xiang Shu menggenggam tangan Chen Xing dan menatapnya sebentar. Chen Xing menambahkan, “Aku juga melihat ibumu. Apa kau juga melihatnya? Menurut mimpi itu, dia seharusnya meninggalkan kenangan untukmu di suatu tempat. Selama kita menemukannya …”

Xiang Shu, bagaimanapun, tidak menunggu Chen Xing selesai berbicara; dia menundukkan kepalanya dan menciumnya, dan segera, napas mereka berubah menjadi tidak teratur. Chen Xing memikirkan tentang dirinya dan Xiang Shu; selama masa lalu yang kelam dan suram itu, meskipun mereka saling memiliki pengertian yang sama, namun dia masih sangat sedih saat mereka akan mati bersama. Dia menganggap itu akan sama untuk Xiang Shu.

Wu …” Chen Xing, yang dipeluk dan dibaringkan di dipan oleh Xiang Shu, dengan lembut berkata, “Setiap kali, aku sebenarnya tidak bisa tidak berpikir …”

“Memikirkan apa?” Xiang Shu begitu dekat, sehingga napasnya membelai pangkal hidung Chen Xing.

“Untuk bersamamu seperti ini…” Alis Chen Xing berkerut. “Bahkan jika… kita akan mati pada akhirnya, aku tetap tidak akan menyesal… Ouch… sakit, pelan-pelan…”

Xiang Shu menyentuh pinggang Chen Xing dan dengan lembut bertanya, “Bagaimana kalau sekarang?”

“Ahhhh… jauh lebih baik.”

Xiang Shu berkata di telinga Chen Xing, “Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku, tidak peduli …”

Suara bising yang datang dari luar kamar semakin lama menjadi semakin keras. Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara yang sangat mereka kenal.

“Aku bisa memecahkan segel ini. Oke, oke, bebaskan saja bagian ini, dan aku masuk! Yang Mulia, lihat, ini adalah segel yaoguai, setelah itu…”

“Jangan masuk!” Chen Xing dan Xiang Shu berteriak hampir bersamaan.

Sayangnya, suara mereka datang terlambat. Chen Xing bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan bagaimana Xie An naik ke kapal mereka dan hanya mendengar suaranya, karena sepertinya ada mantra telah diletakkan di luar pintu, sebelum pintu itu terbuka. Berdiri di luar ruangan adalah Xie An dan Sima Yao.

Xiang Shu masih memeluk Chen Xing saat ini. Kedua pria itu, yang hanya ditutupi oleh selimut tipis, menoleh ke arah pintu secara bersamaan…

…sementara kaisar dan menteri Jin yang Agung di atas kapal melihat ke dalam.

Chen Xing: “……”

Xiang Shu: “……………………………………”

Xie An: “Ah? Kalian sudah bangun? Maaf, maaf. Yang Mulia, kita harus kembali nanti.”

Xie An buru-buru menutup pintu. Chen Xing dan Xiang Shu untuk sementara mengabaikan apa yang telah mereka lakukan. Untungnya, tidak banyak orang yang datang, karena hanya ada Sima Yao dan Xie An. Jika semua pejabat Jin yang Agung berada di sini, Xiang Shu kemungkinan besar akan melakukan pembunuhan untuk membungkam semua orang begitu mereka turun dari kapal.

Mereka berdua saling memandang, ekspresi Chen Xing menunjukkan rasa malu yang ekstrim.

“Mereka… bagaimana mereka bisa berada di laut?” Chen Xing bergumam.

“Ayo lanjutkan?” Xiang Shu menegakkan tubuhnya sedikit sebelum berkata, “Aku tidak tahu berapa lama kita tidur; kemungkinan besar kita sudah berlabuh di pelabuhan.”

“Tidak!” Chen Xing menjadi gila, “Di lain … lain hari… “

Xiang Shu melingkarkan tangannya di pinggang Chen Xing dan dengan hati-hati menggendongnya. Mempertahankan postur pelukan mereka, mereka bergerak lebih dekat ke jendela. Chen Xing melihat keluar, hanya agar pada akhirnya dia segera menjadi tegang.

Ini sudah di Jiankang! Matahari yang cerah menggantung di atas, bersinar terang ketika orang-orang datang dan pergi ke pantai. Pelabuhan tampak sangat ramai, dan ada juga tiga ribu daun willow berkibar, tertiup oleh angin sepoi-sepoi.

“Ah?!” Seru Chen Xing. “Bagaimana kita bisa tiba di Jiankang… dalam semalam? Pakailah pakaianmu dan ayo turun… aaah! Aaah!”

Xiang Shu, yang bergerak sekali lagi, menatap Chen Xing. Chen Xing praktis tidak punya cara untuk berurusan dengannya. Orang-orang baru saja masuk tanpa diundang, tapi dia benar-benar masih dapat melanjutkannya sekarang!

“Kalau begitu kau hanya perlu bekerja lebih keras,” kata Xiang Shu, dengan serius.

Tidak punya pilihan lain, Chen Xing dengan erat mengaitkan jari-jarinya dengan Xiang Shu dan menyuruh Xiang Shu berbaring telentang sebelum duduk di tubuhnya, mengangkanginya. Kerutan yang dalam muncul di wajahnya; dia menatap mata pihak lain dan tersentak perlahan.


Satu shichen kemudian.

“Ketika Yang Mulia mendengar kamu telah datang,” Xie An di kereta kerajaan berkata, “dia bersikeras datang untuk menjemputmu secara pribadi!”

“Ah …” Sima Yao memandang Chen Xing dan bertanya, “Kamu Chen-xiansheng? Jadi kita sudah bertemu lagi– huh?”

Xiang Shu duduk di belakang Chen Xing di kereta, ekspresinya kaku, sementara Chen Xing tidak bisa berhenti merasa malu mengingat akan adegan sebelumnya. Dia mengangguk dan berkata, “Ya… ya, Yang Mulia, suatu kehormatan bertemu dengan Anda. Saya merasa sangat terhomat dengan Anda sejak saya melihat Anda. Saya hanya pengusir setan biasa, dan tidak dapat mengobati rambut rontok… Katakan padaku, Xie-shixiong, kapan kita tiba di Jiankang?”

“Masalah ini rumit dan tidak mudah dijelaskan,” jawab Xie An. “Apakah kamu masih ingat hari ketika kamu berdua tidur?”

Xiang Shu tiba-tiba bertanya, “Hari ini hari apa?”

Xie An: “Hari ini musim gugur tahun keenam Periode Taiyuan. Sudah lebih dari setahun sejak kita berpisah di Chang’an.”

Chen Xing: “!!!”

“Kami memasuki alam mimpi dan tidur selama setahun di kapal,” kata Xiang Shu dengan suara berat.

Waktu benar-benar berlalu begitu cepat! Dan kebetulan saat waktu itu “dicuri”, yang disebutkan oleh Iuppiter, juga tidak kurang dari setahun!

“Tapi penampilanku tidak mirip dengan seseorang yang telah tidur selama setahun penuh ah?” Chen Xing melihat tubuhnya sendiri —— itu tidak sedikit pun tidak berbentuk.

Pada awalnya, setelah Xiang Shu dan Chen Xing tertidur entah dari mana pada suatu hari, Prajurit Dongying di kapal kerajaan menemukan bahwa keduanya tidak memesan makanan atau minum pada keesokan harinya. Kemudian lagi, mereka telah berada di dalam kamar mereka selama beberapa hari berturut-turut dan tidak ada yang aneh, jadi ini sama sekali tidak mengejutkan. Tidak sampai tiga hari kemudian orang-orang mulai menyadari ada sesuatu yang salah dan mengetuk pintu, ingin masuk, hanya untuk menemukan segel sihir yang aneh di pintu.

Chen Xing menduga bahwa segel itu pasti adalah buatan Yuan Kun.

Tidak berani mendobrak sembarangan, rombongan kapal hanya bisa berkeliaran di laut tanpa tujuan karena tidak hanya mereka tidak berani kembali ke Asuka, mereka juga tidak tahu harus melakukan apa. Tidak sampai angin timur laut bertiup di permukaan laut mereka meninggalkan laut sesuai dengan rencana awal mereka dan mengirim mereka berdua kembali ke Jiangnan Jin yang Agung. Jika Jiangnan juga tidak bisa melakukan apa-apa, mereka tidak punya pilihan selain kembali ke Dongying dan memohon pengampunan dari Raja Onobayashi.

Setelah mereka menambatkan kapal di pelabuhan Jiangkang, Xie An, yang secara pribadi datang untuk memeriksa, tidak merasa terlalu khawatir setelah menduga bahwa segel itu pasti ditempatkan oleh beberapa yaoguai hebat untuk melindungi orang-orang di dalamnya. Dia hanya tidak tahu apakah itu akan memicu efek samping jika dia dengan terburu-buru membuka segelnya, dan hanya bisa mengesampingkannya untuk saat ini tanpa pilihan yang lebih baik. Tapi ketika dia akhirnya menyelesaikan persiapannya dan naik ke kapal untuk membuka segel untuk melihat situasi di dalam, siapa yang mengira Chen Xing dan Xiang Shu telah bangun terlebih dulu?

“Jadi sudah setahun ah.” Sulit bagi Chen Xing untuk percaya bahwa mereka telah meninggalkan Asuka di kedalaman musim dingin. Mereka telah berlayar selama beberapa bulan sebelum memasuki alam mimpi Yuan Kun, dan sekarang telah tiba di Jiankang. Mereka telah melihat keseluruhan kota tengah memasuki musim panas, dan itu lebih dari setahun sejak mereka meninggalkan Chi Le Chuan selama Festival Penutupan Musim Gugur.

“Zhen mendengar bahwa Fu Jian benar-benar melawan arus di Chang’an,” kata Sima Yao. “Dia benar-benar gila. Jadi, Zhen datang untuk meminta bimbingan Chen-xiansheng. Zhen hanya ingin dapat melindungi setengah dari negara yang diturunkan oleh leluhur.”

Xie An di samping menjawab, “Penyebab besar pengusiran setan akhirnya dihidupkan kembali dengan Kebangkitan Semua Sihir. Yang Mulia tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja sekarang Xiao Shidi ada di sini. Pada hari-hari ini di Jiankang, banyak keluarga menyempurnakan sihir, dan orang-orang mempraktikkan dao mereka. Tunggu sampai kami melatih kelompok pengusir setan ini, dan kami dapat membiarkan mereka pergi bersama. Dengan kerumunan ini, kami dapat mengirim begitu banyak orang dan mengirim Mara itu ke kematian. Kekuatan dari banyak orang akan menjadi kuat, jika masing-masing dari mereka membawa bola api yang bergerak, ribuan bola secara bersama-sama akan membuat…”

“Apa?” Chen Xing tiba-tiba merasa ada yang tidak beres.

Xie An: “Ini juga rumit dan tidak mudah dijelaskan, aku akan memberi tahumu secara perlahan nanti.”

Sima Yao menghela napas lagi. “Bagus sekali, sangat bagus!”

“Apakah Feng Qianjun sudah kembali?” Xiang Shu tiba-tiba bertanya.

“Dia kembali!” Xie An menjawab. “Dia sudah kembali untuk waktu yang lama! Dia terluka sedikit, tapi dia berhasil menangkap sekelompok besar iblis kekeringan. Mereka semua dikurung ne, kami menunggumu kembali untuk menghadapi mereka!”

Chen Xing: “……”

Xie An menunjuk ke suatu tempat. “Dia tinggal di gubuk pengobatan Qing’er dan Daoyun.”

Xiang Shu melompat keluar dari kereta dan pergi ke arah Jalur Wuyi menuju gubuk pengobatan Gu Qing. Chen Xing berteriak “oi!” tapi Xiang Shu membuat isyarat agar Chen Xing mengikuti mereka, dan bahwa dia akan kembali sebentar lagi.

“Zhen harus menjadi tuan rumah untuk perjamuan makan hari ini,” kata Sima Yao, “untuk menghibur Chen-xiansheng yang telah datang jauh ke sini! Omong-omong apakah Chen-xiansheng sudah menikah?”

“Hehehe.” Chen Xing akhirnya mampu dengan berani dan percaya diri menolak perjodohan kaisar. Dia memasang senyum palsu dan dengan tidak tulus berkata, “Saya sudah bertunangan, tolong jangan khawatir tentang hal itu.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Matahari.
  2. Bulan.
  3. Bagi mereka yang mempertanyakan hal ini kata aslinya secara harfiah berarti “fosfor (dalam) tulang”, yang tampaknya akan bersinar setelah bersentuhan dengan oksigen.
Subscribe
Notify of
guest

2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Yuko256
Yuko256
8 months ago

HGHAHAHAHA WOII KOK DI SKIP BAGIAN ITUNYA AAAAANFNSJSGDBKIDSVBB

Justyuuta
Justyuuta
4 months ago

Adegan panasnya tidak frontal seperti di luanshi wkwkwk