English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Buku 5, Bab 48 Bagian 4


“Kumpulkan para pejabat utama untuk pertemuan besok pagi,” suara Han Bin terdengar di sisi lain pintu sambil berkata, “suruh mereka menunggu di luar aula pada jaga malam keempat. Aku memiliki banyak hal untuk didiskusikan.”1Jaga malam keempat adalah antara pukul 1-3 pagi, tetapi para pejabat biasanya berbaris untuk kebaktian pagi sekitar pukul 3 pagi. 

“Tentu.” Sebuah suara keluar dari ruang belajar. Seorang letnan mendorong pintu terbuka dan berjalan keluar.

Orang yang ada di ruang belajar pastilah Han Bin, Duan Ling membuat keputusan. Tetapi antara sekarang dan ketika dia mengatur untuk bertemu dengan Wu Du, masih ada waktu. Satu-satunya yang ada di sini adalah Batu.

Haruskah dia terus menunggu Wu Du, atau haruskah dia langsung masuk? Duan Ling merenungkan ini sejenak. Ada suara-suara di ruang belajar kekaisaran, kemungkinan besar Han Bin ada di sana sendiri dan bersiap untuk pergi.

“Terima kasih, Batu,” kata Duan Ling pelan, “dan sekarang kau hanya perlu membiarkanku pergi sendiri.”

Batu ingin masuk ke dalam bersama Duan Ling, tetapi Duan Ling sudah keluar dari kegelapan, ke kolam cahaya di luar ruang belajar kekaisaran. Jadi Batu mundur sekali lagi ke dalam bayang-bayang untuk berdiri di malam yang gelap gulita. Dia mengeluarkan belati dari sepatu botnya, siap untuk bergegas masuk dan menyelamatkan Duan Ling jika diperlukan.


“Siapa disana?” Tanya seorang penjaga di pintu.

Di dalam ruang belajar kekaisaran, Han Bin mendongak, waspada.

“Aku. Wang Shan, kemari untuk menemui Jenderal Han.”

“Biarkan dia masuk,” kata Han Bin.

Duan Ling mendorong pintu hingga terbuka dan masuk ke dalam untuk menemukan Han Bin membolak-balik tugu peringatan dan laporan dari masa lalu di rak buku.

“Kau akhirnya di sini. Silakan duduk.  Mastermu telah menunggumu, membuat lubang di pintu dengan cara dia menatapnya. Aku pikir kau akan pergi ke istana permaisuri terlebih dulu untuk melihat dia dan janda permaisuri.”

Duan Ling berkata, “Apakah dia… “

Han Bin menoleh, menatapnya. “Wuluohou Mu menikamnya, dan dia belum mati, tapi tidak ada bedanya dia harus hidup daripada mati. Namun, aku bertaruh dengannya. Dia bilang kau adalah orang yang pintar, dan di saat seperti ini, kau pasti akan berjanji setia kepadaku, dan bahkan tidak akan memberinya pandangan kedua.”

Duan Ling terdiam.

Mu Kuangda memahaminya dengan sangat baik, sama seperti dia memahami Mu Kuangda.

Sekarang Han Bin berkuasa, dengan seluruh Jiangzhou dalam genggamannya, Mu Kuangda telah menawar dengan seekor harimau untuk kulitnya hanya untuk akhirnya menjadi orang yang dipaksa;  orang pintar mana pun akan tahu bahwa mereka harus segera pindah kedudukan ke Han Bin.

Mereka jelas berkomunikasi secara pribadi mengenai posisi Duan Ling, dan sekarang tiba-tiba Duan Ling sangat berhati-hati – karena Mu Kuangda masih hidup, apa lagi yang akan dia katakan pada Han Bin?

Dia berencana untuk memberikan bukti dan menyerahkannya kepada Han Bin sehingga dia dapat menggunakannya di pertemuan besok pagi, tetapi dia baru saja berubah pikiran.

“Apa yang kau cari, Jenderal Han?”

Han Bin membawa beberapa akordeon peringatan ke meja kaisar dan membukanya untuk membandingkan karakter yang tertulis di atasnya.

“Aku sedang mencari beberapa petunjuk,” kata Han Bin. “Tidak peduli seberapa baik rubah meniru manusia, suatu saat ia pasti akan menunjukkan ekornya.”

Kata-kata ini sekali lagi mengingatkan Duan Ling untuk tetap waspada. Seolah-olah dia menyindir hal-hal lain, pandangan Han Bin tertuju pada Duan Ling.

“Apa pendapatmu tentang seluruh kejadian ini?” Han Bin tidak bertanya mengapa Duan Ling ada di sini tetapi justru melontarkan pertanyaan ini padanya.

“Apakah kau berencana mengadakan pertemuan pagi untuk para pejabat besok sehingga kau dapat menginterogasi putra mahkota, Jenderal Han?”

“Tepat. Tapi identitas putra mahkota tetap menjadi teka-teki.”

“Seperti yang dikatakan Kanselir Mu,” kata Duan Ling. “Dia mungkin pernah dekat dengan putra mahkota, dan jika kau ingin mencari petunjuk, sebaiknya kau memulai dari sana.”

“Tapi ada satu hal yang tidak begitu kumengerti,” kata Han Bin. “Biasanya, jika ada penipu, maka pasti ada putra mahkota yang asli. Kalau begitu, di mana yang asli?”

Duan Ling tidak menjawab dan hanya menatap Han Bin.

Han Bin mengamati wajah Duan Ling dengan cermat. “Kau mengingatkanku pada seseorang, Wang Shan.”

Han Bin sudah tahu – itulah pemikiran pertama yang terlintas di benak Duan Ling. Sebelum dia dapat menentukan apakah Han Bin telah mengenalinya melalui kemiripannya dengan ibunya, atau jika dia menemukan cara lain, jantungnya sudah mulai berdetak kencang di dadanya. Tetapi dia juga tahu bahwa pergi saat ini bukanlah pilihan terbaik yang bisa dia buat.

“Aku mengingatkanmu pada siapa?” Duan Ling bertanya.

“Duan Xiaowan. Ketika permaisuri datang ke kamp kerajuritan, aku cukup beruntung untuk bertemu dengannya. Alis dan matamu sangat mirip dengannya.”

Senyum kecil menyebar di wajah Duan Ling. “Paman Han.”

Han Bin tersenyum. “Betapa teliti rencana yang telah membawamu jauh-jauh ke sini. Wuluohou Mu membantu penipu menjadi putra mahkota untuk menjaga kanselir, dan kemudian kau menggunakan Kanselir Mu untuk berurusan dengan putra mahkota. Akhirnya, kau akan menggunakanku untuk menggulingkan putra mahkota dan menyingkirkan Kanselir Mu, dan setelah kau berhasil merebut tahta, kau akan menggunakan Xie You untuk menyingkirkanku. Rencana ini saling terkait seperti mata rantai dalam sebuah rantai; itu benar-benar membuatku sulit untuk percaya bahwa itu semua keluar dari pikiran seorang pemuda yang bersumpah pada kediaman Mu sejak usia lima belas tahun.”

“Kau menyanjungku. Jika seseorang ingin memerintah suatu negara dan membawa perdamaian ke negeri itu, terlalu banyak berpikir tidak bisa dihindari.”

Duan Ling tahu bahwa karena Han Bin mengatakannya seperti itu, dia tidak memiliki rencana untuk membiarkannya keluar dari ruangan ini lagi. Tidak perlu banyak memperkirakan bahwa begitu dia menyingkirkan Cai Yan dan Mu Kuangda, Han Bin akan dapat mengendalikan janda permaisuri dan memerintah sebagai wali. Tidak mungkin dia membiarkan rencana ini dirusak oleh Duan Ling pada saat seperti itu.

“Tapi skema seperti yang kau pikirkan itu, sudah membuatmu melupakan satu hal. Aku berencana untuk memancingmu keluar ketika aku mengadakan pertemuan besok untuk menginterogasi orang itu, tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa kau sendiri yang akan masuk ke dalam perangkap sekarang.”

“Aku ingin mendengar detailnya.” Jantung Duan Ling mulai berdetak kencang di tulang rusuknya, tetapi dia tetap tidak tampak terganggu di permukaan.

Han Bin berkata, “Siapa ayahmu?”

Duan Ling menatapnya tanpa berkata-kata.

“Bukti apa yang kau miliki untuk membuktikan bahwa ayahmu adalah mendiang kaisar? Apakah kita harus memastikannya dengan konfrontasimu dengan Cai Yan ketika dia mengakui bahwa kau adalah ‘Duan Ling’ itu? Atau apakah kami harus percaya bahwa kau adalah ‘Duan Ling’ dari Shangjing berdasarkan kesaksian Wuluohou Mu?”

“Paman Han, kau terlalu banyak berpikir. Kau menjadi bingung.”

“Oh tidak, aku tidak bingung – kaulah yang bingung. Semua keluarga Duan telah mati, dan pada saat Duan Xiaowan meninggalkan utara dan kembali ke Runan, dia sudah mengandung. Ketika Wuluohou Mu pergi menjemputmu dan membawamu ke Shangjing… “

Ketika dia mendengar ini, Duan Ling merasa jantungnya jungkir balik. Sial.

“Kau benar bahwa Wuluohou Mu dapat membuktikan bahwa kau adalah putra Duan Xiaowan,” kata Han Bin, mengangkat alisnya, “tapi bagaimana dia bisa membuktikan bahwa ayahmu adalah mendiang kaisar?”

Duan Ling tidak bisa menahan tawa. “Jadi rencanamu adalah membalik meja permainan dan melemparkan semua potongannya ke lantai. Kalau begitu, menurutmu aku ini anak siapa? Jenderal Han, hanya dengan fakta bahwa kau telah mengucapkan kata-kata itu, aku dapat memusnahkan sembilan klanmu. Menurutmu orang seperti apa ibuku?”

“Aku percaya padamu. Tapi ketika sampai pada titik itu, kau tidak memiliki bukti, dan mendiang kaisar tidak tahu Duan Xiaowan hamil pada hari dia pergi. Sebenarnya, aku bisa menjadi saksi atas fakta itu. Bahkan ketika Wuluohou Mu melakukan perjalanan ke selatan ke Runan, ketika dia tiba di pintu kediaman Duan, sebelum dia melihatmu, dia bahkan tidak pernah tahu bahwa Duan Xiaowan telah lama meninggalkan dunia dan meninggalkanmu. Jadi Wuluohou Mu juga tidak tahu.”

“Aku lahir di Bulan Kedua Belas. Selama aku dikandung, ibuku menghabiskan segalanya dengan ayahku. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau buat begitu saja.”

“Oh? Kau lahir di Bulan Kedua Belas?  Bagaimana kami tahu itu?”

“Paman Han, kau tidak boleh bercanda di saat seperti ini. Dengan banyaknya pejabat besar, tidak mungkin tidak ada yang mempertanyakan hal ini saat Cai Yan tiba di Xichuan. Aku yakin jawaban atas pertanyaan itu sudah lama diberikan.”

“Kau salah. Inilah yang terjadi ketika kau menerima begitu saja. Berapa banyak orang yang berani mengangkat pembicaraan tentang permaisuri di depan Yang Mulia? Sekarang, para pejabat cukup mengetahui apakah putra mahkota adalah ‘Duan Ling’, tapi hanya sedikit orang yang mengemukakan apakah ‘Duan Ling’ adalah anak Yang Mulia. Itu karena ciri-ciri putra mahkota dirubah oleh Wuluohou Mu, membuatnya menyerupai Yang Mulia, jadi tidak ada yang mengajukan pertanyaan itu sama sekali.”

Pada titik ini, ekspresi Duan Ling masih tetap tenang. “Jadi?”

“Jadi, akhirnya hanya tiga orang yang mengajukan pertanyaan ini. Kanselir Mu, Xie You, dan mendiang Yang Mulia. Dan hanya tiga orang yang pernah melihat kertas ini.”

Dengan jentikan jarinya, Han Bin melayangkan surat kelahiran di atas nyala lilin.

“Hentikan!” Duan Ling melolong marah dan menyerangnya. Dalam sekejap mata, Han Bin, yang telah menunggu saat ini, menghunuskan pedang yang tergantung di pinggangnya, dan mengarah tepat ke dada Duan Ling!

Surat kelahiran ini sangat penting bagi Duan Ling; dia bahkan tidak memilikk waktu untuk memikirkan bagaimana itu berakhir di tangan Han Bin, untuk memulainya, tetapi itu satu-satunya hal yang dapat membuktikan identitasnya!

Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu Han Bin, dan dia menyerang tanpa ragu berharap untuk membunuh Duan Ling di tempat. Namun sayang, pedang itu terpantul dari dada Duan Ling dan meluncur ke samping begitu mengenainya. Yang mengejutkan, Duan Ling adalah orang yang membalik meja kekaisaran sehingga dia bisa mengambil surat kelahirannya!

Han Bin tidak pernah menyangka bahwa Duan Ling akan terbungkus dalam zirah kebal yang tidak dapat ditembus oleh senjata, dan pada saat Han Bin melancarkan gerakannya, Duan Ling menebas dengan belati di telapak tangannya. Han Bin tiba-tiba menyingkir, dan bawahannya bergegas melolong, “Sungguh kurang ajar!”

Saat dua pedang mengarah tepat ke belakang lehernya, Duan Ling berbalik dengan kaget dan melemparkan belatinya. Belati itu telah dicelupkan ke dalam racun, dan siapa pun yang tertusuk akan mati di tempat mereka berdiri!

Dengan jeda singkat ini, surat kelahiran sudah berubah menjadi abu di atas api. Segera setelah pintu ruang belajar kekaisaran dibuka, angin musim gugur mengalir ke dalam ruangan, dan abunya bertebaran di udara.

Duan Ling menatap tanpa kata di depannya.

Han Bin masih terengah-engah, sesak napas. Ketika Duan Ling mulai bertarung lebih awal, amarahnya seperti guntur;  meskipun usianya belum dua puluh tahun, sudah ada kesan samar dalam dirinya tentang aura mengesankan yang dulu dimiliki Li Jianhong.

Sementara Han Bin berdiri terkagum-kagum padanya, kemarahan terpancar dari Duan Ling saat dia memelototi Han Bin.

“Tunggu saja, Jenderal Han.” Meninggalkan kata-kata ini, Duan Ling tiba-tiba menarik diri dari ruang belajar kekaisaran. Para prajurit mengejarnya, tetapi Batu muncul dari dekat untuk membantu Duan Ling dan keduanya melarikan diri dari serambi yang tertutup.

“Kejar dia!” Teriak Han Bin, jantungnya masih berdebar karena ketakutan.

Tiba-tiba semua penjaga di istana bergegas menuju taman kekaisaran. Duan Ling dan Batu berlari secepat mungkin, satu demi satu, tanpa ada waktu tersisa untuk berbicara. Di belakang mereka, anak panah beterbangan ke segala arah. Batu mencoba menutupi punggung Duan Ling, tetapi Duan Ling berkata kepadanya, “Kau duluan!” Dan bukannya membiarkan Batu melindunginya, berdiri di belakang Batu untuk melindunginya dengan punggungnya.

Jalan di depan mereka mengarah ke jalan buntu. Duan Ling melihat ke atas. Tembok istana yang tinggi sulit untuk dinaiki, dan hampir seratus prajurit Komando Utara berada di belakang mereka, masing-masing memegang panah otomatis, menunjuk ke arah mereka berdua.

“Disini! Temukan mereka!”

Lebih banyak pengejar datang mendekat; mereka bersandar pada tembok tinggi, dan awan bergulung menutupi bulan.

Tiba-tiba, mereka tidak dapat mendengar apa-apa selain jeritan satu demi satu. Duan Ling merasakan getaran di hatinya dan melihat ke atas untuk melihat beberapa siluet ramping melintas, darah menyembur ke mana pun mereka lewat dan mengejar prajurit yang jatuh di tempat mereka berdiri. Panah terbang ke segala arah dan siluet itu saling silang dalam kegelapan; sebelum dia menyadarinya, hampir seratus prajurit yang mengejar mereka semuanya telah jatuh ke tanah.

Lingkungan mereka berangsur-angsur menjadi sunyi, hanya terganggu oleh kejang dan suara erangan kesakitan musuh mereka. Tiga pembunuh berpakaian hitam mundur dan menghadap ke luar gang dengan punggung menghadap Duan Ling.

Di atas, siul dibunyikan untuk menandakan sinyal aman. Saat itulah pembunuh utama akhirnya melepas topengnya. Itu Wu Du.

“Untungnya kami berhasil tepat waktu,” kata Wu Du.

Duan Ling dan Wu Du saling berpelukan.

“Han Bin sudah berubah,” kata Duan Ling. “Kita perlu perubahan rencana.”

“Kita akan membicarakannya setelah kita pergi dari sini,” jawab Wu Du.

Zheng Yan kembali dari pengintaian jauh di atas, dan dua pembunuh lainnya melepas topeng mereka. Mereka adalah Lang Junxia dan Chang Liujun.

“Ayo pergi,” kata Lang Junxia. “Kita akan menuju ke Aula Asal Mula Surgawi. Itu adalah lokasi yang paling tidak dijaga.”

Mereka mengikuti di koridor panjang, dan ketika mereka melewati aula tempat delegasi diplomatik diawasi, Duan Ling berkata kepada Batu, “Batu, kembalilah ke mereka dan bantu aku bersiap. Beri tahu delegasi diplomatik bahwa mereka harus bersaksi atas namaku. Di pagi hari, Han Bin akan memanggil para pejabat tinggi untuk pertemuan pagi.”

Tatapan Batu menyapu mereka, dan akhirnya, dia mengangguk dan pergi melalui serambi.


“Diatas sana.” Wu Du meraih Duan Ling dengan satu tangan dan melompat ke atap, di atap Aula Asal Mula Surgawi. Istana Timur berada tepat di bawah mereka, tetapi tidak ada lentera yang menyala hari ini. Agaknya Han Bin sudah memindahkan Cai Yan ke tempat lain agar lebih mudah mengawasinya.

Berdiri, atau duduk, masing-masing dari empat pembunuh hebat itu berdiri di atap, membentuk siluet hitam di malam yang diterangi cahaya bulan.

“Apa yang kita lakukan selanjutnya?” kata Chang Liujun.

“Aku akan menemui Han Bin,” kata Lang Junxia.

“Lukamu belum sembuh,” jawab Duan Ling. “Jangan mengambil risiko untuk mencoba membunuhnya.”

Wu Du berjongkok di atap terbang seperti kucing besar yang pendiam dan berbahaya. Dia berpikir sejenak sebelum berkata, “Xie You dan Yang Mulia masih menunggu sinyal kita.”

“Apakah gerbang dalam kota sudah dibuka?” Duan Ling bertanya.

“Belum,” jawab Zheng Yan. “Tapi semuanya sudah siap. Yang mereka tunggu hanyalah sinyal dari kita. Bahkan setelah gerbang itu dibuka, mereka masih harus melewati kota kekaisaran. Ketika Xie You memimpin orang-orangnya ke sini, bahkan jika pertempuran di jalanan segera berakhir, masuk ke istana setelah itu masih akan membutuhkan banyak pekerjaan.”

“Segera setelah pertemuan pagi dimulai,” kata Wu Du, “semua perhatian Han Bin akan tertuju pada pertemuan itu, dan itu akan menjadi kesempatan terbaik untuk maju ke Kota Kekaisaran. Kita dapat melanjutkan sesuai dengan rencana awal. Beri tahu Xie You dan Yang Mulia. Satu-satunya hal yang perlu kita ubah adalah waktu serangan.”

“Mari kita lanjutkan sesuai rencana awal,” kata Duan Ling.

“Apa yang akan kita lakukan dengan surat-surat dan bukti-bukti itu?” Lang Junxia bertanya.

Duan Ling menjawab, “Temukan orang lain untuk diberikan. Aku memiliki ide.  Sekarang tengah malam. Ayo, kita berpisah dan bergerak! Cepat!”

Ada hening sejenak sebelum mereka bubar; Zheng Yan di barat, Chang Liujun ke selatan, Lang Junxia menuju istana utama, dan satu demi satu mereka menghilang di malam hari.

Duan Ling mencari dua kertas ujian dan memeriksanya di bawah bulan.

Wu Du masih berdiri di sampingnya, ekspresinya sangat lembut, namun ada kesan samar tentang ketajaman yang tersembunyi di balik itu semua.

“Setelah malam ini berakhir, kau tidak akan menjadi Shan’er lagi,” kata Wu Du pelan

Duan Ling mendongak dari dua lembar kertas untuk menatap mata Wu Du.

“Antara kau dan aku, aku akan tetap menjadi Shan’er,” kata Duan Ling, “untuk waktu yang sangat lama.”

Duan Ling bersandar ke pelukan Wu Du, lengan mereka saling merangkul. Awan menggulung di atas mereka untuk menyembunyikan bulan sekali lagi. Ini tengah malam. Seluruh istana berkelap-kelip obor dari mereka yang mencarinya, seperti sejuta suar yang menyala mengalir dari aula istana ke aula istana.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

This Post Has One Comment

  1. Ariyati Hua

    Semakin seru..alur cerita yg sangat luar biasa..

Leave a Reply