English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Buku 5, Bab 46 Bagian 4


Duan Ling dan Mu Qing pergi ke sayap samping tempat Fei Hongde tinggal, dan menemukannya sedang menikmati pemandangan bulan purnama di halaman, makan malam Festival Pertengahan Musim Gugur sendirian. Duan Ling telah memperkenalkan Fei Hongde sebelumnya, tetapi Duan Ling tidak pantas berbicara terlalu banyak di depan Mu Kuangda. Jadi sekarang dia memberi tahu Mu Qing, “Dia Shishu Master Chang Pin.”

Jadi Mu Qing menyapa Fei Hongde dengan ritual yang dilakukan oleh seseorang dari generasinya. Fei Hongde hanya tersenyum padanya. “Kamu sedikit mirip ibumu.”

“Kamu sudah bertemu ibuku?” Mu Qing bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Ketika aku melakukan perjalanan melalui Xichuan pada saat itu,” kata Fei Hongde, “Aku pernah bertemu dengannya. Ayo, minum. Terima kasih, kalian berdua, telah memikirkanku.”

Duan Ling duduk. Mereka mungkin bersekongkol di taman sekarang, pikirnya, jadi dia menatap Fei Hongde dengan penuh arti. Fei Hongde mengangguk dan menuangkan anggur untuk Mu Qing. Mu Qing meminumnya.

“Master Fei, apakah kamu merasa nyaman tinggal di sini di Jiangzhou?” tanya Mu Qing.

“Ini musim gugur jadi udaranya dingin, dan ada sedikit kelembapan di udara. Selain radang sendiku yang muncul sesekali, yang lainnya bagus.”

Bertindak seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terjadi padanya, Duan Ling berkata, “Aku memiliki salep yang tepat untuk itu. Biarkan aku mengambilkannya untukmu, Master Fei.”

Fei Hongde mengangguk dan terus mengobrol dengan Mu Qing sambil minum. Sementara itu, setelah berhasil membebaskan dirinya dari kelompok mereka, Duan Ling meninggalkan sayap samping, memutar di sekitar serambi yang berkelok-kelok, dan menuju ke perpustakaan di tepi timur kediaman.

Penjagaan di kediaman Mu agak sedikit ketat malam ini, tetapi sebagian besar terpusat di taman tempat perjamuan diadakan. Di serambi panjang timur, bahkan tidak ada satu pelayan pun. Angin bertiup melalui serambi, menerpa lonceng angin, membuatnya berdenting, dan aroma osmanthus melayang ke arahnya; rasanya seperti berada di dunia lain.

Duan Ling tidak memiliki waktu untuk mengagumi pemandangan ini. Dia bergegas melewati serambi, dan ketika dia berbelok di tikungan, dia hampir menabrak seseorang, dan yang mengejutkannya, itu adalah Lang Junxia!

Mereka akan bertemu satu sama lain. Lang Junxia belum mengganti pakaiannya, jelas telah kembali setelah pergi dengan Cai Yan. Duan Ling tanpa sadar mundur selangkah. Jika Lang Junxia membunuhnya sekarang, maka semua yang dia lakukan sampai sekarang akan sia-sia.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Lang Junxia bertanya.

“Mencari sesuatu.”

Lang Junxia tidak mengetahui semua rencananya. Dia menatap Duan Ling dalam diam.

Duan Ling mengajukan pertanyaan padanya, “Apa yang kau lakukan?”

“Cai Yan sadar bahwa dia tersandung, dan setelah membicarakan banyak hal dengan Feng Duo di kereta, mereka mengirimku untuk melihat apakah aku dapat menemukan cara untuk menguping pembicaraan antara Kanselir Mu dan tamu lainnya. Apakah Wu Du masih ada di taman?”

“Ya.” Duan Ling terdiam sesaat ketika dia menyadari bahwa ini adalah kesempatan bagus untuk menyampaikan beberapa informasi palsu. “Aku akan memberitahumu apa yang harus dikatakan pada Cai Yan nanti.”

“Ya.” Mata Lang Junxia tersenyum saat dia melihat Duan Ling.

Mereka berdiri di sana saling berhadapan sebentar; Duan Ling memikirkan Qian Qi, memikirkan malam bersalju itu, memikirkan semangkuk wonton itu, memikirkan orang-orang dari kediaman Duan yang meninggal sesudahnya…

“Mengapa kau membunuh seluruh keluarga Duan?” Duan Ling bertanya.

“Aku tidak membunuh seluruh keluarga Duan. Kau masih hidup, bukan? Apakah kau membenci mereka?” Tidak hanya Lang Junxia tidak menjawab pertanyaan Duan Ling, tetapi sebaliknya, dia dengan sungguh-sungguh menanyakan pertanyaan ini kepadanya.

“Kau… ” Mungkin jika orang lain yang bertanya padanya, Duan Ling akan memberinya tanggapan yang sama tulusnya. Tetapi karena Lang Junxia yang menanyakan pertanyaan ini, dia tidak mau menjawabnya.

“Aku tahu kau tidak akan membenci mereka. Kau selalu seperti ini. Kau bahkan bisa memaafkanku, jadi kau tidak akan membenci orang lain.”

“Aku belum memaafkanmu.”

Lang Junxia menatap Duan Ling dengan tenang.

“Jika kau tidak mau memaafkanku, itu hanya membuktikan bahwa kau akan selalu mengingatku,” kata Lang Junxia. “Itu juga hal yang bagus.”

“Lupakan. Kau mengajariku semua yang kutahu. Aku tidak bisa mengalahkanmu.”

Pada saat itu, Duan Ling tiba-tiba merasakan kesedihan. Dia benar-benar berharap Lang Junxia dapat tetap berada di sisinya. Bukan seperti kerinduan atau gairah yang membara yang dia rasakan terhadap Wu Du, tetapi ketika berbicara tentang Lang Junxia, ​​dia mengaguminya – dia begitu luar biasa. Sekali, melihat Lang Junxia akan membuatnya nyaman, membuatnya merasa seolah-olah dia tidak lagi sendirian.

Tetapi kepercayaan itu sudah lenyap seperti asap ke udara tipis, dan tidak akan pernah dapat kembali seperti semula.

Sampai sekarang Duan Ling menyadari sedikit demi sedikit bahwa hal-hal tertentu adalah apriori; sifat bawaan yang dimiliki seseorang sejak lahir. Misalnya, dia belajar untuk menerima banyak hal dengan tenang sejak dia masih kecil, tetapi satu-satunya hal yang tidak pernah bisa dia hadapi dengan tenang adalah orang ini di hadapannya.

“Kupikir aku tidak pernah mengajarimu apa pun,” kata Lang Junxia. “Dan tampaknya kau juga tidak pernah belajar apa pun dariku.”

“Kau mengajariku ketidakpedulian,” jawab Duan Ling. “Tidak ada yang penting. Cinta atau benci, benar atau salah, tidak ada yang penting. Bahkan saat ini kau terlihat seperti tidak peduli tentang apapun.  Apakah tidak ada yang benar-benar kau pedulikan di dalam hatimu itu?”

“Bukankah kau datang untuk mencari sesuatu? Apakah kau tidak khawatir bahwa kau terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berbicara?”

Mengingat misinya, Duan Ling menghela nafas. “Pergilah menguping apa yang ingin kau dengar di sini.”

Duan Ling melewati Lang Junxia untuk menuju ke perpustakaan di tepi timur kediaman kanselir. Alih-alih pergi ke taman, Lang Junxia berbalik untuk mengikutinya sepanjang serambi.

“Apakah kau tidak akan mencari tahu apa yang mereka bicarakan?” Duan Ling menahan suaranya tetapi tidak melihat sekeliling, berjalan di depan Lang Junxia.

“Aku tidak tertarik.”

“Jangan ikuti aku.”

Lang Junxia tidak menjawabnya dan hanya tetap di belakangnya, dan Duan Ling juga tidak memaksanya pergi. Mereka tiba di perpustakaan dan menemukan pagar terkunci di depannya.

“Apa yang sedang kau cari?” Lang Junxia bertanya.

Duan Ling tidak memberinya jawaban dan melompati pagar. Lang Junxia menginjak pagar dan naik ke lantai dua dengan beberapa langkah. Mereka melihat ke barat dari perpustakaan; taman dirangkai dengan lentera dan terang benderang, membentuk segelintir bayangan. Mereka tidak dapat mendengar tawa atau percakapan apa pun.

“Mereka masih berbicara,” kata Duan Ling. “Aku akan mencari beberapa surat sebagai bukti.”


“Akhirnya Chang Liujun membawa Qian Qi dan melarikan diri dari salah satu gerbang Luoyang,” lanjut Wu Du, “sementara itu, Wang Shan dan aku mengawal kaisar Liao Yelü Zongzhen melalui gerbang kota lain. Chang Liujun kembali ke Jiangzhou, sementara Wang Shan dan Borjigin Batu bersumpah di tengah-tengah Xunshui di atas secangkir anggur untuk bertarung demi keagungan tiga tahun kemudian.”

Di taman, Wu Du dengan santai menceritakan bagaimana dia melakukan perjalanan ke utara dengan Duan Ling ke Lembah Heishan untuk penebangan, bagaimana mereka bertemu dengan Chang Pin, dan kemudian bagaimana mereka menemukan Qian Qi. Satu-satunya hal yang dia tinggalkan adalah bagaimana Duan Ling menemukan Qian Qi – dia mengubah ceritanya sehingga mereka bertanya-tanya sampai mereka menemukan di mana Qian Qi berada di tengah para pengungsi.

Seluruh kejadian agak terlalu mengejutkan, sedemikian rupa sehingga semua orang membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan reaksi mereka.

“Lalu bagaimana kau bisa salah mengira dia sebagai putra mahkota?” Xie You bertanya dengan tenang.

“Di bawah perintah Zhao Kui, aku pergi ke Shangjing untuk membunuh Wuluohou Mu dan mencari pewaris Pangeran Beiliang. Di Aula Kemahsyuran Shangjing, aku menemukan seorang anak dengan manisan Xianbei yang diberikan Wuluohou Mu kepadanya. Pada saat itu, Xianbei sudah tidak ada lagi, dan sangat sedikit anggota suku yang masih hidup yang tahu bagaimana manisan ini dibuat. Wuluohou Mu adalah salah satunya.”

“Jadi tentu saja aku mengira anak ini berada di bawah perlindungannya. Itu sebabnya aku menyerangnya untuk melihat apa yang akan dilakukan Wuluohou Mu, tapi Wuluohou Mu sama sekali tidak peduli apakah anak itu hidup atau mati dan bertukar pukulan denganku. Aku sering memikirkan pertemuan ini sesudahnya; satu-satunya penjelasanku adalah bahwa Wuluohou Mu dingin dan tidak berperasaan, dan bahkan akan mengorbankan ahli warisnya. Tapi sepertinya tidak seperti itu ketika aku memikirkannya seletelahnya- itu terlihat tidak konsisten… “

Mu Kuangda menjawab, “Dan justru karena inilah aku mendapat ide untuk memastikan bahwa dia adalah seorang penipu. Semua orang di sini dan juga mendiang Yang Mulia telah mendengar cerita ini dari Wu Du berkali-kali.”

Wu Du memang dengan sabar menceritakan setiap detail terakhir dari percobaan pembunuhannya terhadap “putra mahkota” berulang kali. Ini adalah cerita yang sering didengar semua orang sehingga mereka hampir bisa melafalkannya dari ingatan.

“Dan sekarang kita kembali ke titik awal,” kata Su Fa. “Jika yang ini adalah penipu, lalu di mana putra mahkota yang asli?”

Tidak ada yang mengatakan apa-apa; Wu Du melirik Yao Fu. Yao Fu menyipitkan matanya dan hampir tanpa terasa menggelengkan kepalanya – jangan katakan apa-apa, sekarang bukan waktu terbaik. Tidak disarankan untuk menambahkan yang lain.

Han Bin berkata, “Shangjing terlalu hancur setelah pertempuran. Kami mencoba beberapa kali untuk menyelamatkannya, tapi sudah tidak ada cara untuk mengetahui ke mana dia pergi.”

“Hanya ada satu kemungkinan yang tersisa,” kata Mu Kuangda. “Jika dia bisa menemukan yang asli, maka Wuluohou Mu tidak akan mengambil risiko melakukan kejahatan keji ini, dan membuat penipu ini menyamar sebagai dirinya.”

“Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan,” kata Su Fa. “Apakah kita begitu yakin bahwa dia adalah seorang penipu dari cerita sepihak orang tua ini?”

Mu Kuangda menjawab, “Dalam hatiku, pangeran ini tidak pernah menjadi yang asli. Aku hanya menekan keraguanku karena Yang Mulia memerintahkan kami untuk tidak membicarakannya lagi. Tapi karena yang memberi kami larangan ini sudah tiada… “

Xie You berkata, “Kanselir Mu, apa maksudmu dengan itu?”

Mu Kuangda menjawab, “Jenderal Xie, Chen Agung selalu menghargai kebebasan berbicara, dan tidak ada yang melarang apa yang bisa dikatakan. Dan ketika membahas diskusi para terpelajar tentang politik, belum pernah ada preseden yang menuduh siapa pun melakukan kejahatan hanya karena ucapan.”

Wu Du berkata, “Kita masih memiliki banyak metode yang tersisa. Kupikir pertama-tama kita harus menebak apa hubungan antara pangeran ini dan pangeran yang sebenarnya, mengapa dia mengikuti Wuluohou Mu ke Jiangzhou, dan bagaimana dia tahu banyak tentang mendiang kaisar. Lagi pula, menurut Wuluohou Mu sendiri, selama hampir dua tahun, dia tidak berada di sisi mendiang kaisar tapi telah kembali ke selatan. Ini adalah sesuatu yang telah dipastikan oleh semua orang di sini.”

Lang Junxia telah dikirim kembali ke Xichuan oleh Li Jianhong. Ketika Zhao Kui melakukan kudeta, hampir semua orang di sini tahu bahwa “putra mahkota” telah berada di sisi Li Jianhong selama dua tahun penuh ini, mempelajari Pedang Alam, dan “putra mahkota” juga tahu apa yang terjadi selama dua tahun ini seperti punggung tangannya sendiri. Ini juga menjadi bukti kunci dalam memastikan identitasnya.

Lagi pula, dari seluruh kekaisaran, hanya tiga orang yang mengetahui Pedang Alam – Li Jianhong, Li Yanqiu, dan Wu Du. Dan apa yang berhasil dipelajari Wu Du bahkan bukan gaya pedang, tetapi gaya telapak tangan.

“Mempelajari Pedang Alam hanya dengan menontonnya tidaklah bagus,” Yao Fu mulai berbicara. “Dengan mempelajari gerakan pedang tanpa mempelajari cara menggerakkan qi, kalian hanya belajar cara menggerakkan pedang.  Apakah putra mahkota ini penipu atau bukan, dia pasti diajari oleh mendiang kaisar sendiri. Itu karena hanya dengan mengajarkannya secara langsung metode qi dapat diajarkan bersamaan dengan gerakan. Karena dia belajar adu pedang dari mendiang kaisar, tidak aneh baginya untuk memahami cara bicara dan kepribadian mendiang kaisar.”

Meskipun Yao Fu belum menyatakan posisinya sendiri dan hanya menyuarakan keraguannya, kata-katanya jauh lebih menyindir – dia mengarahkan perhatian semua orang ke identitas putra mahkota, sudah menunjukkan bahwa dia memiliki kecurigaannya.

Wu Du mengangguk. “Justru itu. Kita juga dapat mengira bahwa putra mahkota yang asli memiliki seorang teman baik saat menghadiri Aula Kemahsyuran. Dia dan teman itu dulunya tidak dapat dipisahkan, sedemikian rupa sehingga dia mendapat bagian dari manisan yang dibuat oleh Wuluohou Mu. Kemudian, dia bahkan menjadi rekan tanding Yang Mulia Pangeran dan berlatih Pedang Alam bersama-sama. Oleh karena itu semuanya masuk akal.”

“Ini… ” Su Fa sejenak tidak yakin apa yang harus dia katakan sebagai jawaban, dan mengerutkan kening, dia berkata, “Ini terlalu tidak masuk akal! Jika pengurangan sudah ada selama ini, lalu mengapa kau tidak mengatakannya?”

Mu Kuangda menjawab, “Sebelum aku melihat Qian Qi, aku juga tidak memilik cara untuk membuktikan teori ini. Tapi aku yakin semua orang melihat bagaimana Yang Mulia Pangeran bereaksi malam ini – dia tidak bisa menjawab pertanyaan apa pun yang diajukan kepadanya. Agaknya, pangeran yang sebenarnya tidak berteman baik dengan ‘putra mahkota’ ini sampai-sampai berbagi segalanya dengannya.  Apakah kau masih ingat apa yang dikatakan Wuluohou Mu ketika kita bertanya tentang asuhan putra mahkota?”

Xie You menjawab, “Wuluohou Mu mengatakan bahwa ketika dia membawa Yang Mulia Pangeran dari Shangzi, ketika mereka melakukan perjalanan ke utara, dia mengajarinya untuk tidak pernah membicarakan apa pun yang terjadi dengan keluarga Duan, jangan sampai ada orang dengan motif tersembunyi yang mencoba mencari tahu siapa dia. Yang Mulia Pangeran juga menyebutkan bahwa dia terlalu muda saat itu dan tidak dapat mengingat banyak hal yang terjadi di sana lagi. Dia hanya tahu bahwa permaisuri telah meninggal karena melahirkan, dan sejak saat itu dia menunggu kedatangan ayahnya di kediaman Duan.”

“Tapi setelah Wuluohou Mu membawa Yang Mulia Pangeran, dia membunuh semua orang di kediaman Duan, dan dia juga membakarnya,” kata Mu Kuangda.  “Bagaimana kita menjelaskannya? Yang Mulia bahkan berpikir untuk mengirim orang ke Runan untuk menemukan salah satu keluarga Duan untuk mengidentifikasinya, tapi kaulah, Sekretaris Su, yang pada akhirnya menasihatinya untuk melakukan sebaliknya.”

Su Fa berkata dengan marah, “Kanselir Mu, Shangzi bukan lagi bagian dari Chen Agung. Kita bahkan tidak bisa memindahkan makam permaisuri. Ketika aku mengatakan itu, itu karena …”

“Aku punya ide,” kata sebuah suara muda. Ternyata suara itu milik Huang Jian yang selama ini duduk di sebelah Mu Kuangda.

Sebelumnya Sekretaris Agung, Jenderal Pembela, Komandan Komando Utara, Markuis Huaiyin, dan Kanselir Agung terkunci dalam percakapan, jadi tidak ada orang lain yang berani menyela. Anehnya, Huang Jian adalah orang yang angkat bicara.

“Bicaralah.” Mu Kuangda mengangguk.

“Dari apa yang kukumpulkan,” Huang Jian masih sedikit gugup, “Aku menyadari satu hal. Tapi jika ternyata salah, tolong beri tahu aku, Tuan Komandan.”

“Silakan,” Wu Du mengangguk.

Huang Jian berkata, “Ideku ini sederhana, dan dapat membuktikan identitas putra mahkota, tapi akan membutuhkan bantuan beberapa dari kalian.”


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply