Penerjemah: Keiyuki17
Proofreader: Jeffery Liu


Raja Akele membantu menenangkan Chen Xing di rumah batu terlebih dulu, memberi makan kudanya, lalu keluar lagi dalam sekejap mata.

Chen Xing terbiasa berkomunikasi dengannya melalui gerakan karena mereka tidak bisa memahami satu sama lain, jadi dia juga tidak bertanya apa yang akan dia lakukan. Dia hanya berkata, “Aku akan pergi berkeliling kota.”

Dia selalu suka berjalan-jalan setiap kali dia mengunjungi tempat baru. Sekarang menjelang Tahun Baru, dia hanya memiliki tiga tahun lagi untuk hidup, jadi apa lagi yang bisa dia lakukan? Sekarang, yang bisa dia lakukan hanyalah menjelajah dan memperluas cakrawala melalui pengalaman baru. Raja Akele membantunya memakai kalung yang terbuat dari gigi serigala yang dihiasi oleh permata warna-warni; dia melakukannya untuk membedakan identitasnya dari orang lain, jangan sampai dia ditangkap oleh orang-orang Xiongnu.

Empat ratus tahun, sudah empat ratus tahun berlalu. Jejak-jejak perang yang ditinggalkan selama Dinasti Han sudah diperhalus oleh waktu; satu-satunya monumen yang tertinggal adalah Istana tua kekaisaran Xiongnu, terletak di tengah kota yang dibangun dari batu hitam. Orang Xiongnu, Rouran, dan bahkan Tiele pernah menduduki tempat ini. Chen Xing berjalan menuju istana batu, merasa seolah-olah dia masih bisa melihat keagungan yang pernah dimilikinya.

Sekelompok Xiongnu sedang menghangatkan diri dengan api di istana kekaisaran. Saat mereka melihat seorang Han datang, selama beberapa saat mereka mengamatinya karena penasaran, dan akhirnya seseorang mengundangnya untuk minum. Chen Xing menyapa mereka dengan sederhana, lalu kembali untuk mengambil beberapa ransum dan membagikannya dengan mereka.

“Tempat macam apa ini?” Chen Xing menoleh sekali dan tiba-tiba melihat bahwa di kedalaman taman istana kekaisaran berdiri sebuah menara persegi.

Xiongnu juga tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Chen Xing, jadi kedua belah pihak hanya bisa mengandalkan gerakan untuk berkomunikasi. Chen Xing berdiri di depan menara dan memperhatikan pola yang terbentuk dengan ubin batu di tanah….

Ini adalah sebuah array! Itu adalah Dinding Pertahanan!

Chen Xing segera melangkah dengan tergesa-gesa. Dia tidak menyangka bahwa dia melihat reruntuhan yang ditinggalkan oleh para pengusir setan sebelum keheningan menyelimuti semua sihir di tempat yang sangat jauh dari Dataran Tengah!

Digunakan untuk apa Dinding Pertahanan ini?

Selain di dunia cermin, ini adalah pertama kalinya dia melihat array seperti itu di dunia nyata.

Ada gerbang batu di depan menara persegi yang beratnya sekitar 10.000 jin. Chen Xing beberapa kali mencoba mendorongnya agar terbuka, tapi gerbang batu itu bahkan tidak bergerak sedikit pun. Selain itu, seluruh menara yang terletak di tengah-tengah array itu disegel kedap udara; menara itu bahkan tidak memiliki satu jendela pun.

Pasti ada harta karun di dalamnya, dan Chen Xing berpikir, lupakan saja, aku seharusnya tidak menyentuhnya.

Ada kunci spiritual kecil di gerbang batu yang dicat dengan emas cair, dan Chen Xing menyadari bahwa itu berguna untuk membuka gerbang. Orang yang merancang menara ini cukup pandai. Sebelum keheningan menimpa semua sihir, para pengusir setan dengan kekuatan sihir yang kuat hanya perlu mengumpulkan Qi spiritual langit dan bumi dan menyuntikkannya ke dalam gerbang melalui kunci spiritual sebelum gerbangnya bisa dibuka.

Saat Qi spiritual di langit dan bumi dipulihkan, dia bisa kembali untuk melihatnya. Chen Xing yakin dia bisa membuka kunci ini.

Raja Akele kembali dengan seekor rusa yang diburunya di bahunya. Beberapa Xiongnu yang sudah menghangatkan diri di dekat api di istana kekaisaran membantunya memanggang daging. Raja Akele jelas bertambah tua karena dia sekarang mengalami sesak napas. Setelah lama mengejar rusa itu, dia benar-benar kelelahan dan harus duduk di depan api unggun untuk menenangkan diri. Kemudian dia menyadari tatapan cemas Chen Xing dan tersenyum padanya.

Chen Xing mau tidak mau berpikir, jika Ayahku masih hidup, dia pasti juga seperti ini ba.

Suatu saat di Jinyang, ayahnya hanya memilikinya sebagai putranya saat dia berusia empat puluh tahun, jadi dia sangat memanjakan Chen Xing. Namun, dia tidak memanjakan Chen Xing menjadi bantal bersulam 1. Sebaliknya, dia sering memperingatkannya bahwa dunia berada dalam kekacauan dan belum tenang, betapa sulitnya jalan di dunia ini, naik turunnya dinasti, perang dahsyat yang berlangsung selama bertahun-tahun, bagaimana Hu dan Han membunuh satu sama lain, namun selalu orang biasa yang menderita. Saat seorang pria masih hidup, dia harus memiliki semangat yang gigih dan hanya fokus pada empat hal: menumbuhkan karakter moralnya, mengatur rumah tangganya, mengatur negara, dan mendamaikan negara. Bagaimanapun juga, seseorang harus ingat untuk tidak tenggelam ke dalam lumpur kebencian dan memicu perselisihan antara Hu dan Han karena dendam pribadi seseorang.

Selain itu, dia juga harus jujur, bermartabat, dan menjadi seseorang yang memiliki integritas yang tidak tergoyahkan, sehingga bisa membawa kehormatan bagi keluarga Chen di masa depan.

Inilah yang membuat Chen Xing memperkuat temperamen yang sangat baik setelah membaca buku-buku orang bijak. Kecuali jika benar-benar diperlukan, dia akan mencoba yang terbaik untuk tidak berselisih dengan orang lain. Secara teori, seseorang harus mengembangkan dirinya sendiri terlebih dulu sebelum mendirikan sebuah keluarga, kemudian mengatur negara dan mendamaikan tanah. Saat tanggung jawab “mendamaikan tanah” dibebankan padanya, Chen Xing hampir tidak ragu-ragu sebelum menerimanya seperti itu sebagai hal yang wajar.

Raja Akele terengah-engah selama beberapa saat dan akhirnya merasa lebih baik.

“Anda sudah tua, jadi jangan menyiksa diri Anda seperti itu lagi,” Chen Xing berkata, “Itu sama saja bahkan jika kita makan ransum.”

Raja Akele tidak bisa memahaminya, namun dia tersenyum untuk memberi isyarat pada Chen Xing bahwa dia baik-baik saja. Chen Xing merasa hatinya sedikit sakit. Dia membuka peta untuk memastikan berapa banyak waktu yang mereka butuhkan.

“Youduo, anakku,” Raja Akele tiba-tiba berkata dalam bahasa Han yang terpatah-patah, “Aku ingin datang, melindungimu, kau, akan baik-baik saja.”

Chen Xing, “…..”

Raja Akele melanjutkan, “Aku, tidak bisa untuk tidak peduli, terima kasih, terima kasih banyak.”

Chen Xing langsung sedikit menitikkan air mata. Beberapa kalimat dalam bahasa Han ini pasti dipelajari dari Permaisuri.

“Terima kasih, Chen Xing.” Raja Akele mengambil kaki rusa panggang dan membaginya dengan Chen Xing.

Chen Xing mengangguk dan tersenyum dengan enggan.

Malam itu, lolongan serigala terdengar di luar Longcheng. Chen Xing khawatir; dia takut mereka akan bertemu dengan sekawanan serigala liar saat mereka melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya. Faktanya, mereka sudah bertemu dengan serigala liar dalam perjalanan mereka ke sini, dan beberapa bahkan sering mengikuti mereka. Untungnya, Raja Akele adalah seorang ahli panah dan akan selalu bisa mengeluarkan mereka dari bahaya sebelum kuda mereka ketakutan.

Tapi setelah mendengar suara itu, orang-orang bisa merasakan bahwa mereka dikelilingi oleh serigala di semua sisi. Saat itu musim dingin di bulan lunar kedua belas; sulit untuk menemukan makanan di padang salju, jadi serigala membentuk kelompok dan bertarung dengan orang-orang Hu di kota untuk memperebutkan makanan.

Keesokan paginya, para serigala berhenti melolong. Raja Akele tidak mengatakan apa pun dan melanjutkan perjalanan mereka, namun dia sangat waspada di sepanjang jalan. Setelah meninggalkan Longcheng, mereka memasuki area dengan danau besar di Barkol. Setelah melintasi danau beku, mereka melanjutkan perjalanan ke utara. Ada lebih banyak pohon sekarang. Terkadang, gunung dan semua ladang akan tertutup dengan embun beku. Keduanya bergerak melalui hutan dengan jalan yang berliku-liku. Mereka bermalam di sebuah gua, dan tidak lama kemudian, mereka secara bertahap mencapai akhir dari perjalanan mereka yang sudah mencapai 800 li.

Dan Carosha, tempat yang hanya ada di dalam legenda, belum terlihat. Kabut memenuhi penglihatan mereka. Raja Akele sudah membawa Chen Xing ke sebuah tempat yang hampir tidak memiliki tanda-tanda tempat tinggal manusia. Selain salju, hanya ada lebih banyak salju. Di sini, hanya akan ada tiga bulan yang singkat pada saat musim semi dan musim panas di setiap tahunnya, dan di sepanjang hari, mereka berdua sering tidak saling mengucapkan sepatah kata pun.

Sampai suatu malam saat mereka menghabiskan malam di bawah pohon, dan salju sudah berhenti, dan dunia menjadi sangat tenang. Sungai berbintang di langit malam berkelap-kelip. Chen Xing mengamati peta itu dengan teliti, berpikir bahwa mereka seharusnya tidak salah jalan. Mereka selalu bergerak menuju ke arah Bintang Utara.

Janggut Raja Akele yang beruban tampak semakin panjang setelah disisir. Sepasang mata birunya yang dalam terus-menerus melihat ke api unggun. Chen Xing menyimpan petanya, dan tepat saat dia akan tidur, dia tiba-tiba mendengar lolongan serigala yang dalam di ujung punggung bukit di kejauhan. Segera setelah itu, lolongan serigala terdengar satu demi satu di segala arah.

“Ada banyak serigala,” kata Chen Xing.

Raja Akele mengipasi api unggun agar menjadi lebih terang, memberi isyarat padanya bahwa dia tidak perlu takut dan bisa pergi tidur.

“Akele,” kata Chen Xing, “Apa kalian sudah pernah ke sini sebelumnya?”

Raja Akele tidak bisa memahaminya. Dia menggelengkan kepalanya dan membuatkan tempat tidur untuk Chen Xing, mengisyaratkan padanya untuk tidur saja.

“Terima kasih,” kata Chen Xing.

“Terima kasih.” Raja Akele tidak tahu banyak akan bahasa Han dan hanya bisa mengatakan ini.

Chen Xing berbaring di tempatnya. Lolongan serigala terus berlanjut, yang membuatnya sangat kesal, dan dia tidak bisa tidur untuk waktu yang lama.

“Berhentilah melolong!” Chen Xin bangun dengan frustrasi dan berteriak.

Raja Akele mengeluarkan suara ‘sst‘ dan memberi isyarat padanya bahwa ada sebuah gunung di kejauhan, jadi dia tidak boleh memicu longsoran salju.

Jadi Chen Xing hanya bisa berbaring. Tiba-tiba, dia mendengar suara aneh datang dari tanah – ini adalah cara bagaimana Xiang Shu mendengar suara invasi dari para prajurit mayat hidup. Itu adalah suara yang sangat lemah, namun membuatnya waspada.

Raja Akele sedang duduk sambil terus berjaga. Chen Xing segera memberi isyarat padanya untuk mendengar ke arah tanah. Saat Raja Akele berjongkok, Chen Xing melihat cahaya hijau berkilauan muncul di sekitar mereka, berkelap-kelip seperti kunang-kunang yang berkeliaran ke sana ke mari.

“Apa itu?” Chen Xing berkata, “Saat ini adalah musim dingin, bagaimana mungkin ada api di sana…” Kemudian dia segera menyadari bahwa itu adalah mata serigala! Kawanan serigala sudah datang!

Raja Akele perlahan bangkit dan mengamati sekeliling mereka. Dia melemparkan semua kayu bakar mereka ke dalam tumpukan api unggun sekaligus, menambahkan sedikit minyak, dan api langsung membumbung tinggi ke langit. Ribuan serigala liar mengelilingi mereka tapi tidak bisa untuk mundur. Chen Xing menjadi gelisah, namun Raja Akele mengatakan sesuatu.

“Apa?” Chen Xing, “Aku tidak mengerti!”

Raja Akele memasang anak panah di busurnya. Kawanan serigala berkeliaran di sekitar tepi api unggun, namun mereka takut akan nyala api dan tidak berani untuk mendekat.

Raja Akele menggelengkan kepalanya, memberi isyarat pada Chen Xing bahwa dia tidak perlu khawatir. Chen Xing juga tahu bahwa selama mereka memiliki api, serigala tidak akan mendekati mereka. Beginilah cara mereka melakukan perjalanan jauh ke sini.

Namun, sesosok bayangan melintas di atas mereka, lalu tumpukan besar salju tiba-tiba jatuh dari pepohonan tinggi di atas yang menghancurkan api unggun.

Kemudian suara “wuu–” yang lainnya terdengar, seolah-olah serigala mendorong kawanan mereka yang tersisa. Raja Akele segera mengarahkan ke tempat darimana suara itu berasal dan melepaskan panahnya!

Panah itu melesat ke kegelapan. Tanpa menunggunya untuk melepaskan anak panah lagi, kawanan serigala itu mengambil keuntungan dari api unggun yang padam dan menerjang mereka!

Raja Akele segera mundur dan meraung ke arah Chen Xing. Chen Xing bahkan tidak perlu menebak bahwa dia menyuruhnya lari. Dia langsung mengambil busur dan menembak ke arah hutan!

Kawanan serigala itu menyerbu dan segera menerjang keduanya, namun target mereka adalah Raja Akele!

Sekeliling mereka gelap gulita. Raja Akele meraung marah dan berjuang keras.

“Akele!” Teriak Chen Xing. Dia segera mengangkat tangannya dan mengeluarkan cahaya dari Cahaya Hati.

Kawanan serigala itu tampak terkejut dan mulai mundur satu demi satu. Chen Xing berbalik untuk mencari kudanya, namun kudanya sudah menghilang. Ada serigala dimana-mana. Dia terus menghindari mereka, dan ingin mencari Raja Akele.

Sosok hitam turun dari langit. Saat Chen Xing mendengarnya, dia langsung mendongak — cakar logam yang berkedip-kedip dengan kilatan dingin sudah berada di tenggorokannya.

Tepat pada saat itu, sebuah suara yang akrab di telinganya berteriak, “Menyingkir!”

Chen Xing tanpa sadar melengkungkan lehernya, dan cakar logam itu menyentuh wajahnya. Cahaya aneh di cakar itu berkedip-kedip, lalu sebilah pedang terbang keluar dari belakangnya yang memblokir serangan dari cakar logam itu. Dengan satu ayunan, pedang itu melemparkan si pembunuh dengan brutal ke pohon. Diikuti dengan raungan amarah, seluruh pohon hancur menjadi dua tepat di tengahnya dan meruntuhkan semua salju yang ada di atasnya!

“Xiang Shu?!” Chen Xing berkata, “Xiang Shu! Kenapa kau ada di sini?!”

“Idiot!” Xiang Shu sangat marah. “Aku sudah mengejar kalian berdua selama tujuh hari! Naiklah ke pohon!”

Chen Xing naik, meluncur turun, naik, meluncur turun, naik meluncur turun naik meluncur turun naik meluncur turun… Xiang Shu akhirnya kehilangan kesabarannya. Dia mengangkat kakinya dan menendang pinggang Chen Xing untuk mengirimnya terbang ke atas pohon. Chen Xing memeluk pohon itu dengan erat dan melanjutkan memanjatnya, lalu berteriak ke bawah, “Temukan Akele!”

Xiang Shu mengayunkan pedang besarnya – semua pepohonan yang ada di sekitarnya ditebang satu demi satu dan runtuh dengan suara gemuruh yang mengguncang. Kawanan serigala melarikan diri ke segala arah, meninggalkan Chen Xing di belakang yang berpegangan pada pohon pinus yang tingginya hampir tiga kaki saat dia bergoyang dari sisi ke sisi di puncak pohon.

“Di belakangmu!” Chen Xing melihatnya, tapi apakah itu manusia atau yao?!

Si pembunuh ternyata sangat kecil dan bahkan tidak mencapai setengah dari tinggi Xiang Shu. Dengan kedua tangan dan kaki, si pembunuh melesat dari padang salju dan berada di belakang Xiang Shu dalam sekejap. Xiang Shu segera berbalik dan mengarahkan pedangnya secara horizontal untuk memblokir serangannya. Dengan suara “dentang“, kedua senjata logam itu bertabrakan, dan dalam sekejap, bayangan itu menyapu bagian belakang Xiang Shu dan menjulurkan cakarnya untuk mencakar lehernya!

Dia terlalu cepat! Chen Xing mengira bahwa tidak ada yang bisa menyaingi Xiang Shu dalam hal kecepatan, tapi dia tidak menyangka bahwa bayangan hitam ini akan tampak seolah-olah terbang di padang salju. Xiang Shu berbalik, lalu berbalik lagi, namun bayangan hitam mengikutinya tanpa henti. Dia melemparkan dirinya ke punggungnya dan dengan kuat menempel di punggung Xiang Shu!

Dengan kedua kaki yang melingkar di pohon, Chen Xing mengumpulkan bola salju di tangannya dan melemparkannya ke bawah.

Bola salju terbang dan mengenai bayangan hitam itu tepat di wajahnya. Xiang Shu meraung marah, meraih bayangan hitam itu, dan melemparkannya!

“Itu adalah seekor yao!” Chen Xing berkata, “Tunggu aku, aku akan turun dan membantumu!”

Xiang Shu akhirnya melihat dengan jelas bayangan hitam itu – hanya untuk melihat makhluk terkutuk yang merupakan setengah serigala dan setengah manusia. Wajah manusia muncul di dalam mulut serigala, dan dia melolong parau beberapa kali ke Xiang Shu, lalu melihat ke atas untuk melihat Chen Xing, yang ada di pohon. Dia menerjang, cakar logamnya mengait ke pohon, dan dia sudah melompat setinggi beberapa zhang 2 dalam sekejap. Xiang Shu segera mengejarnya, namun Chen Xing tidak berani melompat dan tiba-tiba melihat musuh tepat di depannya.

“Kau adalah…” Dalam kepanikannya, Chen Xing menerangi sekelilingnya dengan Cahaya Hati dan langsung melihat secara penuh tampilan dari orang ini.

Itu bukan serigala yao, dan juga bukan monster – itu manusia!

Itu adalah seorang anak kecil!

Pertama kali, anak itu terpesona oleh cahaya putih, kemudian dia menggunakan lengannya untuk menutupi matanya dan mengayunkan cakar logamnya. Tepi cakarnya menunjukkan tanda aneh di bawah cahaya dari Cahaya Hati.

Cakar itu berkedip-kedip dengan cahaya yang berpendar, dan itu berbentuk cakar naga. Tapi hanya ada sangat sedikit senjata cakar di dunia yang berbentuk cakar naga, dan tulisan emas pada cakar naga ini… untuk beberapa alasan, Chen Xing tiba-tiba teringat akan catatan yang dia lihat dalam teks kuno.

Di zaman kuno, Dewa Naga turun ke suatu tempat yang jauh di utara Tanah Suci. Cakarnya didapatkan oleh Gongshu Ban dan disempurnakan menjadi senjata suci di dunia manusia. Itu disebut…

Cangqiong Yilie!

“Tahan!” Chen Xing berkata, “Kenapa kau memiliki…”

“Tunggu!”

Roar!”

“Dengarkan aku!” Chen Xing menjadi panik. “Dengarkan apa yang aku katakan! Dasar anak nakal!”

Dengan kulit serigala abu-abu yang menutupi tubuhnya, anak itu mengenakan topi yang terbuat dari kepala serigala dan sedang melingkarkan kedua kakinya di batang pohon. Dia dengan cepat mencakar tenggorokan Chen Xing untuk menggoroknya.

Di bawah pohon, Xiang Shu melepaskan beberapa anak panah secara berurutan. Anak itu menyerah pada Chen Xing, dan bahkan tanpa melihat ke belakang, dia berbalik dan mengayunkan cakar logamnya. Dengan tiga suara “ding“, dia benar-benar berhasil memblokir anak panah dan mengirimnya terbang menjauh.

“Aku bilang! Dengarkan aku!!” Chen Xing meledak. Dia meraih segenggam salju dan dengan kasar melemparkannya pada wajah anak itu.

Mungkin itu karena Chen Xing tampak terlalu tidak berguna, jadi anak itu tidak melindunginya dirinya sama sekali. Tanpa diduga, dia kehilangan keseimbangan dan dalam sekejap setelah terkena lemparan dan jatuh dari pohon, dia menyebabkan daun-daun bergemerisik saat terjatuh. Xiang Shu mengejarnya sampai dia berada di bawah pohon, namun anak itu menerjang di udara, berguling, melompat beberapa zhang, dan mendarat dengan mantap di padang salju. Dia sedikit mengangkat kepalanya.

Aowu–” Anak itu melihat ke langit dan melolong.

Kawanan serigala mundur satu demi satu. Xiang Shu baru saja akan mengambilnya busur dan anak panah, saat dalam sekejap, anak itu sudah memimpin kawanan serigala mundur sepenuhnya dan menghilang ke dalam hutan.

Chen Xing, “…..”

Xiang Shu terengah-engah. Baru saja, di luar hutan, kudanya sudah melarikan diri karena ketakutan. Dia sudah bergegas di sepanjang jalan saat dia mendengar serigala melolong, dan dia sudah berlari hampir tiga mil ke sini.

Chen Xing, “Itu adalah manusia! Itu adalah seorang anak kecil!”

Xiang Shu berkata dengan tidak sabar, “Aku melihatnya! Aku tidak buta!”

Chen Xing berlari ke sisi Xiang Shu dan melihat ke arah mana kawanan serigala itu pergi. Dia berkata, “Juga, dia tidak mengenakan pakaian! Dan dia sepertinya tidak mengerti apa yang kita katakan.”

Xiang Shu hampir tidak tahu lagi harus berbuat apa dengannya. Dia menyimpan senjatanya di punggungnya, mencengkeram kerah Chen Xing, dan mendorongnya ke satu sisi. Dia berteriak dengan marah, “Kenapa kau pergi dari Chi Le Chuan tanpa mengucapkan sepatah kata pun?! Apa aku pernah terlintas di dalam pikiranmu?!”

“Uh…” Baru saat itulah Chen Xing menyadari masalah serius ini. Dia menjawab, “Jangan… jangan marah, aku hanya tidak ingin kau…”

Dalam beberapa hari terakhir, Xiang Shu sudah berangkat dari Chi Le Chuan, tapi dia tidak bisa mengejar Raja Akele dan Chen Xing tidak peduli apa pun yang dia lakukan. Hujan salju lebat menutupi jejak kaki kuda mereka, dan juga Raja Akele merupakan seorang pemburu tua yang berpengalaman. Xiang Shu mengejar mereka sampai ke danau Barkol, namun dia selalu berada sedikit di belakang mereka berdua.

Di sepanjang perjalanan, semakin dia mengejarnya, semakin tumbuh amarah Xiang Shu. Pada awalnya, dia ingin memberi Chen Xing omelan yang baik setelah dia mengejarnya, tapi omelan itu berubah menjadi memberinya tamparan, kemudian karena kesabarannya sudah memudar, sekarang dia hanya ingin menggantung Chen Xing dan memberinya beberapa tamparan yang bagus.

Chen Xing tiba-tiba tertawa dan berkata, “Ini sangat hebat! Aku sangat bahagia!”

Kemudian Chen Xing melangkah maju dan memeluk pinggang Xiang Shu dan membenamkan kepalanya di dadanya, berkata, “Ini sangat hebat!!”

“Enyahlah!” Xiang Shu akan menjadi gila karena marah. Dia meraih Chen Xing dan menyeretnya menjauh.

Chen Xing menjelaskan sambil tersenyum, “Raja Akele berkata bahwa dia bisa menunjukkan jalannya padaku. Aku tidak ingin merepotkanmu… tunggu! Dimana Raja Akele?”

Mereka berdua tiba-tiba teringat, lalu segera pergi mencari Raja Akele di sepanjang arah dimana kawanan serigala itu pergi. Xiang Shu melihat ke bawah untuk melihat jejak kaki di atas salju, tapi tanahnya sudah kacau berantakan. Chen Xing berlari ke depan api unggun yang padam dan berkata dengan serius, “Di sini! Di sinilah aku terakhir kali mendengar suaranya…”

Yang paling ditakuti Chen Xing adalah melihat mayat Raja Akele, tapi untungnya tidak. Di malam yang gelap, Xiang Shu berkata, “Jika dia mati, itu akan menjadi tanggung jawabmu!”

Untuk sesaat Chen Xing kebingungan dan hanya berdiri di atas salju. Xiang Shu sangat marah pada Chen Xing karena meninggalkan Chi Le Chuan semaunya, jadi dia berbicara dengan marah tanpa memperdulikan kata-katanya. Saat dia membentaknya, dia pikir dia sudah melewati batas. Raja Akele menemani Chen Xing jauh-jauh ke utara karena dia sendiri ingin mengungkap kebenarannya, jadi bagaimana mungkin Chen Xing bisa disalahkan?

Xiang Shu melihat bahwa Chen Xing tampak seperti akan menangis dan dia tiba-tiba merasa sangat bersalah.

“Dia tidak akan mati.” Tapi Chen Xing memulihkan ketenangannya dengan sangat cepat dan menenangkan dirinya. Dia berkata, “Sekawanan serigala tidak menyerang kami karena mereka ingin memakan kami, sebaliknya, mereka mengikuti kami di sepanjang perjalanan ke sini. Aku merasa itu pasti ada hubungannya dengan anak itu. Mereka tidak akan membunuh orang tanpa pandang bulu. Akele! Apa kau disana?!”

Xiang Shu menghela napas lega dan mengikuti Chen Xing. Chen Xing berjuang untuk berjalan melewati hutan saat dia berteriak ke segala arah. Mereka tidak bisa menemukan Raja Akele, namun mereka sudah menemukan kuda mereka yang hilang.

Xiang Shu bersiul, dan kudanya kembali.

Mereka berada di batas hutan, dan jejak kaki serigala sudah pergi jauh. Langit berangsur-angsur menjadi cerah, dan hamparan salju yang luas menyala.

Chen Xing memandang Xiang Shu. Xiang Shu tidak bisa mengambil keputusan selama beberapa saat dan berkata, “Ayo kita kejar dan lihat ba.” Jadi keduanya menaiki kuda mereka dan berkuda sejauh setengah mil di hutan belantara. Sekarang langit sudah cerah, saat Xiang Shu tiba-tiba berkata, “Tunggu!”

Chen Xing melihat kalung taring serigala milik Raja Akele tergeletak di atas salju dan akhirnya dia merasa lega. Dari kelihatannya, dia sudah ditangkap oleh kawanan serigala.

“Akele!” Chen Xing melihat ke sekelilingnya dan berteriak.

“Dia tidak dipanggil Akele!” Xiang Shu membenarkannya. “Akele itu nama suku.”

Chen Xing, “Oh… lalu siapa namanya?”

Chen Xing memegang kalung itu dan berpikir bahwa dia harus menyelamatkan Raja Akele apa pun yang terjadi. Sepanjang perjalanan mereka ke sini, mereka sudah menjalin persahabatan yang aneh. Pria paruh baya ini mendapatkan seorang putra di masa tuanya setelah mengalami rasa sakit karena kehilangan putranya sendiri, dan dia bahkan sudah merawat anak muda ini, Chen Xing, sebagai seorang anak. Tidak peduli apa pun yang terjadi, Chen Xing harus menemukannya kembali hidup-hidup.

Xiang Shu juga tidak tahu apa panggilan Raja Akele yang sebenarnya, dan setelah memikirkannya sejenak, dia hanya bisa mengubah topik pembicaraan dan berkata, “Ayo pergi.”

“Kau jelas juga tidak tahu.” Kata Chen Xing, lalu menaiki kudanya dan mengikuti rute mundurnya sekawanan serigala.

Xiang Shu, “Ai!”

Chen Xing, “?”

Chen Xing berada di atas kudanya saat dia melirik Xiang Shu.

Xiang Shu, “Apa kau tidak percaya padaku?”

Chen Xing, “Aku hanya tidak ingin membuatmu dalam kesulitan! Kau adalah Chanyu yang Agung dari Perjanjian Chi Le, dan juga sekarang ada iblis kekeringan yang menyebabkan malapetaka. Kau memiliki begitu banyak orang di bawahmu, bagaimana bisa kau membuang mereka dan pergi begitu saja?”

Xiang Shu, “Siapa orang yang mengatakan bahwa dia menginginkan seorang Pelindung untuk melindunginya?”

Chen Xing, “Tapi apa kau memiliki niat untuk menjadi Pelindungku? Aku tidak bisa memilikimu! Chanyu yang Agung!”

Xiang Shu berkata dengan tidak percaya, “Aku mengejarmu sejauh delapan ratus mil! Tidak bisakah kau mengatakan sesuatu yang bagus? Baiklah! Aku akan kembali sekarang!”

Chen Xing masih memiliki kecemasan di dalam hatinya – siapa sebenarnya anak itu? Kenapa dia memiliki senjata suci yang begitu kuat di tangannya? Dan dia bahkan memiliki lebih sedikit petunjuk untuk jawaban yang terakhir. Saat dia mendengar Xiang Shu, dia melihat Xiang Shu dan tiba-tiba dia tersadar. Dia samar-samar bisa merasakan maksud di balik kata-kata Xiang Shu.

Xiang Shu meminta maaf padanya.

“Kalau begitu, terima kasih ah.” Chen Xing berkata dengan senyum yang tidak mencapai matanya3.

Xiang Shu, “….”

Xiang Shu mempercepat kudanya dan ingin mengangkat Chen Xing dari kudanya untuk memberinya pelajaran, namun Chen Xing mempercepat kudanya sendiri untuk maju dan berlari menjauh. Xiang Shu tercengang. “Sekarang, kau sangat seimbang di atas kuda?”

“Akele yang mengajariku!” Chen Xing berkata, “Tembak aku sampai mati dengan panah milikmu ah!”

Xiang Shu mempercepat kudanya dan segera menyusul Chen Xing. Mereka berdua menunggangi kuda mereka secara berdampingan di salju, namun kuda mereka tidak terlalu patuh. Terutama kuda tua berwarna coklat – kuda itu berpikir untuk melepaskan diri dari tali kekang yang diikatkan padanya dari waktu ke waktu, dan semakin jauh kuda itu berlari. Kuda itu terus menyimpang ke arah timur laut bersama dengan Xiang Shu, yang menungganginya.

“Kuda ini sudah gila!” Xiang Shu meledak, “Kembali!”

“Kenapa kau melampiaskan rasa frustrasimu pada seekor kuda?” Chen Xing berbalik untuk melihat Xiang Shu, hanya untuk melihat kuda tua itu terus-menerus berlari menuju ke timur. Di sisi lain, Xiang Shu menarik tali kekangnya dengan kuat dan dalam satu tarikan napas, dia sudah menyeret kembali kuda tua itu.

Xiang Shu, “Aku akan melepaskannya! Kuda keras kepala ini!”

Xiang Shu sedang memarahi kudanya, tapi Chen Xing secara alami memahami sindiran di baliknya. Xiang Shu sedang menarik keluar pisaunya untuk memotong kendali saat Chen Xing berkata, “Itu kuda milik ibumu, kau bisa melepaskannya jika kau mau, apa hubungannya denganku?”

“Apa?” Xiang Shu tertegun dan berkata, “Tidak mungkin! Di mana kau menemukannya?”

Chen Xing menyampaikan kata-kata dari Permaisuri. Keraguan Xiang Shu bahkan semakin tumbuh dan berkata, “Ini adalah kuda yang dia tunggangi saat pertama kali datang ke utara?”

“Mungkin.” Chen Xing melihat kuda tua itu perlahan-lahan menjadi tenang dan berlari bersama di sisinya.

Xiang Shu berkata, “Kemana dia ingin pergi?”

Chen Xing secara alami tidak mengetahuinya. Matahari terbit, dan dunia bersinar. Salju putih bersinar terang dan membutakan mata mereka, tapi untungnya, tidak turun salju lagi pada malam itu. Jejak kaki kawanan serigala itu jelas dan mudah untuk dikenali. Setelah melintasi dataran yang luas, mereka terus menuju ke kejauhan sampai ujungnya terlihat.

Dan di tempat itu, gunung legendaris yang disebutkan dalam legenda orang Xiongnu akhirnya muncul dalam kabut.

Pegunungan yang panjang dan sempit yang menjulang tinggi terbentang puluhan mil. Awan putih melingkari puncak mereka yang tertutup salju, dan seluruh pegunungan tampaknya sudah terbelah menjadi tiga karena petir, dengan tebing sempit di tengahnya.

Di depan tebing ada danau yang menempati seribu qing 4, dan memantulkan cahaya matahari yang terik seperti cermin.

Di kedua sisi tebing, hamparan salju putih dihiasi dengan titik-titik hitam yang berdiri dalam jumlah besar, dan lebih dari sepuluh ribu serigala hitam —

–berjongkok di atasnya.

Kuda-kuda mereka mulai panik dan mundur satu demi satu.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Seseorang yang terlihat cantik di luar tapi tidak memiliki substansi seperti pengetahuan/bakat di dalamnya.
  2. 3.3m
  3. Senyuman palsu
  4. ~6.67 hektar
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments