“Li Jinglong tidak bisa berhenti menangis, air matanya jatuh di wajah Hongjun.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Li Jinglong secara pribadi menuangkan anggur untuk semua orang, berkata, “Untuk semua orang yang berkumpul di sini entah bagaimana caranya, yang juga mungkin merupakan kehendak surga. Dan juga dua rekan baru yang datang…”

Hongjun menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, membiarkan Li Jinglong menuangkan anggur untuknya. Lu Xu menyaksikannya tanpa ekspresi dari samping saat anggur mengalir ke dalam mangkuk, dengan jelas berarti, siapa yang kau panggil rekanmu?

“Mari kita rayakan pesta akhir tahun yang baik1,” kata Li Jinglong, mengangkat mangkuknya sendiri setelah dia selesai menuangkan anggur. “Semuanya, kalian sudah bekerja keras tahun ini, bersulang!”

Ikan mas yao segera menarik “ikan mas yang melompat keluar dari air” dan bangkit. Sambil mengibaskan daun bawang, jahe, dan bawang putih yang menghiasi tubuhnya saat mengangkat mangkuk kecil, ia berkata, “Bersulang!”

Li Jinglong kemudian menunggu sebentar, jadi ikan mas yao meminum mangkuknya terlebih dulu2, sebelum mereka semua mengangkat mangkuk mereka dan mengeringkannya sekaligus.

“Apakah membiarkan ikan mas yao yang minum terlebih dulu ini adalah kebiasaan kalian?” Tanya Ashina Qiong.

“Dia adalah kakak tertua semua orang,” A-Tai menjelaskan.

Ikan mas yao berkata, “Semuanya, makan ba, makan ba.”

Li Jinglong: “…”

Setelah itu, semua orang mengangkat sumpit mereka dan terjun ke dalamnya. Hongjun sudah sangat lapar sekarang sehingga dia tidak peduli jika tiga dan tujuh menghasilkan dua puluh satu3, dan sumpitnya segera mengambil ayam yang direbus dengan kastanye. Li Jinglong bahkan tidak menunggunya untuk menyelam sebelum dia mengambil drumstick dengan sumpitnya dan memberikannya pada Hongjun.

“Aku tidak menyangka bahwa banyak hal akan terjadi tahun ini,” kata Qiu Yongsi sambil tersenyum. “Saat kita berpisah di Gunung Li, kupikir aku tidak akan pernah melihat kalian semua lagi.”

A-Tai tertawa kecil. “Kau bocah, kau yang datang paling akhir, dan kau masih berani mengatakan itu?”

Mo Rigen bertanya, geli, “Kapan kita akan pergi ke Burung Bulbul di Fajar Musim Semi*
lagi?”

Semua orang mulai tertawa. Ashina Qiong bertanya pada A-Tai apa itu Burung Bulbul di Fajar Musim Semi ini, sementara Lu Xu bertanya pada Hongjun. Mulut Hongjun dipenuhi makanan, jadi dia menunjukkan bahwa dia akan menjelaskan pada Lu Xu sebentar lagi.

Setelah makan sedikit, Li Jinglong menghela napas dan berkata, “Setelah minum anggur ini, semua orang akan pergi lagi, kan?”

Qiu Yongsi buru-buru berkata, “Tidak pergi, tidak pergi! Ayo kembali bersama-sama!”

Li Jinglong: “…”

Qiu Yongsi menjelaskan, “Kita semua tahu tentang Xie Yu sekarang, jadi aku akan bergerak bersama dengan kelompok.”

A-Tai menjawab, “Kali ini aku membawa Qiong ke sini, justru karena kami berencana untuk kembali ke Departemen Eksorsisme.”

Karena Hongjun sudah makan sedikit, dia akhirnya merasa hidup kembali, lalu dia bertanya, “Kenapa begitu?”

Ashina Qiong berkata, “Kami tidak memiliki uang lagi, semuanya dihabiskan oleh A-Tai, si anak hilang4 ini. Kami berencana pergi ke Chang’an kalian untuk menghemat uang, jika tidak, kami tidak akan dapat menghidupkan kembali negara kami, atau semuanya akan dihabiskan oleh anak yang hilang ini terlebih dulu.”

Semua orang: “…”

Li Jinglong tidak tahu harus tertawa atau menangis. “Kami dari Departemen Eksorsisme belum menabung sebanyak itu selama setahun penuh. Setiap kali kami dengan santai menggunakan keterampilan kami, kami selalu menghabiskan beberapa ribu tael dalam satu waktu.”

Ashina Qiong berkata, “Itu, kau tidak perlu khawatir, kami memiliki cara kami sendiri untuk mencari penghasilan.”

Wajah A-Tai menunjukkan ekspresi sedih. “Mereka menyuruhku kembali ke Departemen Eksorsisme, sehingga mudah untuk berpegang erat pada Zhangshi dan membuat beberapa hubungan untuk melakukan beberapa bisnis kecil.”

Semua orang mulai tertawa lagi.

“Bagaimana dengan dirimu?” Li Jinglong bertanya pada Lu Xu.

Lu Xu melirik Hongjun, dan Hongjun menatap Mo Rigen. Dia tahu bahwa bagi Mo Rigen, hal terpenting dalam hidupnya adalah menemukan Lu Xu.

“Kembalilah ke Departemen Eksorsisme dengan semua orang ba,” jawab Hongjun.

Lu Xu mengangguk saat mendengarnya. Mo Rigen menghela napas, mengangguk dan tersenyum penuh terima kasih pada Hongjun.

Ikan mas yao kemudian berkata, “Bersulang, bersulang!”

Dage, toleransi alkoholmu tidak terlalu baik,” Li Jinglong buru-buru berkata. “Biarkan aku minum untukmu.”

Tapi ikan mas yao bersikeras, jadi Li Jinglong hanya bisa menghabiskan mangkuk lain bersama yang lain. Saat anggur sudah ada di perut mereka, selain Lu Xu, mereka semua mulai berbicara dan tertawa di antara mereka sendiri. Selama makan malam ini, mereka berbicara tentang bagian yang baik di tahun lalu, saat mereka bertarung untuk satu sama lain. Menghancurkan Pingkang Li di malam hari, bertempur di Istana Daming, merencanakan ujian kekaisaran, dan juga dijebak oleh Rubah Surgawi Berekor Sembilan di gua gunung, dan saat akhirnya kekuatan Cahaya Hati Li Jinglong meledak, lalu semua orang berhasil melarikan diri…

Saat Hongjun mendengarkan cerita tentang masa lalu mereka, dia memikirkan hari itu, di genangan darah, saat Li Jinglong melihat telinganya yang sudah teriris. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat matanya untuk menatapnya. Secara kebetulan, wajah tampan Li Jinglong, yang terlihat sedikit mabuk, juga memperhatikannya. Saat tatapan mereka bertemu, Li Jinglong tersenyum lembut.

Li Jinglong menekankan tangan kirinya ke lengan kanannya, melatih lengannya, berkata, “Kalian pergi segera setelah kalian mengatakan akan pergi, dan saat aku membawa Hongjun jauh ke arah barat laut, aku hampir menyerahkan kepalaku sendiri ke Geshu Han.”

Saat Hongjun memikirkan waktu ketika mereka berdua sedang dalam perjalanan ke sini, dia tidak bisa menahan tawanya. Mo Rigen berkata, “Kalian hanya liburan dalam perjalanan itu ba!”

“Liburan?” Li Jinglong berkata. “Tuan muda ini tidak terbiasa menunggang kuda, jadi dia benar-benar memberiku banyak masalah.”

Hongjun tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan saat Li Jinglong mengoleskan obat untuknya. Dia hanya bisa duduk di sana, wajahnya menjadi merah padam, namun tetap saja dia tidak menindaklanjuti kalimatnya.

Li Jinglong sudah bertanya pada semua orang apakah mereka akan kembali ke Departemen Eksorsisme, tapi satu-satunya orang yang tidak dia tanyai adalah Hongjun. Mungkin, di matanya, dia adalah orang yang tidak akan pernah pergi.

Ikan mas yao sudah minum terlalu banyak, ia terhuyung-huyung dan jatuh di atas meja. Saat mereka semua minum tiga putaran5, Li Jinglong berkata, “Setelah minum mangkuk ini, jangan minum lagi.”

Semua orang sekali lagi mengangkat cangkir mereka. Setelah melihat bahwa Lu Xu tidak benar-benar ingin minum, Hongjun berkata, “Aku akan minum untukmu.”

Tapi sebaliknya, Mo Rigen justru mengambil mangkuk itu, berkata, “Aku yang akan meminumnya.”

Lu Xu menatap Mo Rigen. Setelah mendengar semua orang berbicara tentang berbagai hal yang sudah membangun persahabatan mereka, dia mulai mendambakannya, dan dia bertanya pada Hongjun, “Itu semua nyata?”

Hongjun membeku sejenak dan berpikir, sebelum dia mengatakan en.

“Apakah Chang’an menyenangkan?” Lu Xu bertanya.

“Hanya turun salju di musim dingin,” Hongjun menjelaskan.

“Itu adalah tempat yang bagus.” Mo Rigen berkata, “Chang’an sangat indah. Saat kami membawamu kembali ke Departemen Eksorsisme, kau akan menyukainya.”

Mo Rigen terus menjawab pertanyaan Lu Xu sesekali, tanpa makna yang lebih dalam. Lu Xu sudah tidak lagi menarik diri seperti sebelumnya, dan setelah mendengar kata-kata itu, dia sedikit mengangguk.

“Datang ke Hexi kali ini,” kata Li Jinglong, meletakkan mangkuk anggurnya dan berpikir. Dia tiba-tiba berkata, “Hal yang paling membuatku khawatir adalah benih iblis di tubuh Hongjun.”

Dengan kata-kata ini, keheningan menyelimuti seluruh perjamuan. Hongjun pada dasarnya sudah selesai makan, dia meletakkan sumpitnya, dan menatap Li Jinglong.

“Hongjun,” Li Jinglong melanjutkan, “tidak ada seorang pun di sini yang pernah bersikap dingin padamu, dan kami semua mempertaruhkan hidup kami untuk hal yang sama sebelumnya.”

Hongjun memandang kelompok yang sedang berkumpul. Qiu Yongsi tersenyum. “Di kolam darah, kau dan Zhangshi yang menyelamatkanku.”

Mo Rigen menjawab, “Jika bukan karena kalian berdua, semua orang pasti sudah lama berakhir dan terpisah.”

A-Tai menambahkan, “Ingat saat kita harus pergi mencari kelompok idiot ini bersama-sama?”

Hongjun tersenyum. “Aku ingat.”

Li Jinglong berkata, “Kau memberiku Cahaya Hati, jadi jika bukan karena dirimu, aku hanya akan menjadi manusia biasa hari ini.”

Saat Hongjun mendengar kata-kata ini, dia menghindari tatapan Li Jinglong.

Lu Xu tiba-tiba berkata, “Banyak hal, yang tidak terlihat dan tidak bisa dipahami, semua sudah terjadi karena kehendak surga.”

“Kehendak surga,” kata Li Jinglong. “Tidak buruk. Hongjun, mungkin Cahaya Hati berakhir di tubuhku juga karena ini. ”

Seperti sebelumnya, Hongjun tidak menanggapinya.

Li Jinglong melanjutkan, “Bagaimanapun, kau harus tahu bahwa tidak ada seorang pun di sini yang akan bersikap dingin padamu, dan tidak ada seorang pun di sini yang khawatir bahwa kau membawa benih iblis di dalam tubuhmu. Di masa depan, apa pun yang seharusnya kau lakukan, kau harus terus melakukannya. Semua orang perlahan akan membuat rencana denganmu, untuk menarik benih iblis ini.”

Qiu Yongsi berkata, “Aku membayangkan bahwa ini benar-benar kehendak surga, Hongjun. Dan justru karena ini, kami memiliki harapan untuk menang melawan Mara.”

Hongjun mengangguk. Mendengar itu, Li Jinglong tersenyum dan berkata, “Hongjun, jika ada sesuatu yang ingin kau katakan, katakan saja, jangan simpan di dalam.”

“Baiklah,” kata Hongjun, juga tersenyum. “Aku mengerti.”

“Mangkuk terakhir!” Li Jinglong sekali lagi mengangkat mangkuknya.

Lu Xu minum bersama mereka, sementara A-Tai berkata, “Ini benar-benar mangkuk terakhir. Biarkan aku memainkan barbatku ba!”

Qiu Yongsi berkata, “Sepupuku6 membuat puisi, dan itu sangat bagus. Ayo, ayo, biarkan aku menyanyikannya untuk kalian semua.”

Tentu saja, semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian. A-Tai dengan lembut memetik barbatnya beberapa kali, dan Qiu Yongsi bernyanyi, “Pendekar pedang ksatria wilayah Yanzhao — memikul rumbai prajurit di rambut mereka, pedang tajam mereka — seterang salju yang membekukan.”

“Mereka menunggangi kuda putih dengan kendali perak, dan mereka berpacu melintasi jalan seperti meteor di langit!”

Saat dia mendengar puisi ini, Hongjun sekali lagi melupakan semua yang dia pikirkan, manusia benar-benar mampu menulis puisi ini?

“Mampu membunuh seseorang dalam sepuluh langkah, dan tidak ada yang bisa menghentikan perjalanan seribu li mereka. Setelah menyelesaikan tugas mereka, mereka bahkan menyembunyikan nama mereka, jadi tidak ada yang akan tahu siapa mereka.”

Semua orang bersorak pada saat bersamaan. “Hebat!”

“Ini adalah puisi Li Bai ba!” kata Hongjun.

Semua orang meraung marah, menyuruh Hongjun untuk tidak menyelanya. Hanya Qiu Yongsi yang terus bernyanyi, menyeringai seperti yang dia lakukan. Puisi itu sangat membangkitkan semangat, dan para pendengar di meja itu semua terpesona. Saat sampai pada, “Untuk menjadi manusia, seseorang harus seperti mereka, nama mereka dikenang selamanya, dipuji oleh semua yang akan datang. Siapa yang ingin menjadi terpelajar seperti Yang Xiong, menulis seratus jilid, namun sekarat karena usia tua di bawah jendela?”, kecapi berhenti, dan suara jarum yang jatuh ke lantai bisa terdengar.

“Penyair itu tepatnya adalah Li Bai,” kata Qiu Yongsi.

“Li Bai adalah sepupumu?” Li Jinglong bertanya dengan aneh.

Saat Hongjun mendengar kata-kata ini, dia langsung terdiam.

Qiu Yongsi menjawab, “Itu benar.”

Seluruh meja tercengang, tapi yang lebih mengejutkan Hongjun adalah kata-kata Li Jinglong selanjutnya. “Kenapa aku tidak pernah mendengar dia membicarakannya?”

Li Jinglong bertanya, seolah pada dirinya sendiri. “Lain kali jika aku bertemu dengannya, aku harus bertanya, kau sebaiknya tidak secara acak mengklaim kerabat.”

“Tanyakanlah,” Qiu Yongsi tersenyum.

“Kau mengenalnya?” Hongjun bertanya pada Li Jinglong, terkejut.

Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa hari ini Hongjun berbicara atas kemauannya sendiri pada Li Jinglong. Li Jinglong tersenyum mabuk, mengamati Hongjun, mengangguk sambil berpikir.

“Lain kali saat dia datang ke Chang’an, aku akan mengatur waktu agar dia bisa menemuimu dan mengobrol sebentar denganmu?” Li Jinglong bertanya.

Hongjun: “…”

Li Jinglong benar-benar mengenal Li Bai?! Dan dia tidak pernah menyebutkannya?

“Saudara Taibai suka minum anggur, dan kami bertemu satu sama lain saat minum sebelumnya, dan kami tahu bahwa kami adalah kerabat klan jauh,” jawab Li Jinglong, tertawa. “Sayang sekali aku tidak belajar banyak puisi darinya, karena kami menghabiskan semua uang kami untuk menggambar, anggur, teh, dan makanan sebagai gantinya.”

Li Jinglong memang dibangun sebagai seseorang yang tahu bagaimana cara makan, bermain, dan menikmati sesuatu. Meskipun Qiu Yongsi lahir dari keluarga Han yang terkenal, namun dia masih gagal7. Dia memegang sumpitnya dan mencelupkannya dengan ringan ke dalam tehnya, berkata, “Sepupuku sangat bersikeras pada afinitas8, tapi untuk Hongjun, yah, kurasa dia akan setuju untuk bertemu denganmu.”

Hongjun berkata, “Jika ada kesempatan, biarkan aku pergi menemuinya!”

“Tentu saja,” jawab Li Jinglong. “Aku akan berjanji padamu sekarang, aku akan pergi memohon padanya untuk melakukannya, dan jika dia tidak setuju, maka aku akan berlutut dan melakukan kowtow. Jika itu tidak berhasil, aku akan bertanya pada Yang Mulia, dan jika tidak ada yang berhasil, maka aku akan mengikatnya dan membawanya. Aku akan memastikan bahwa kau akan berhasil melihatnya, dan aku tidak akan memakan kata-kataku9!”

Semua orang menertawakan hal itu. Hongjun menjadi sangat malu dengan kata-kata itu, dan dia ingat bagaimana Li Jinglong selalu memperlakukannya dengan sangat baik, menyetujui permintaannya terlepas dari kondisi apa pun. Selama Li Jinglong bisa melakukannya, dia tidak pernah menolak Hongjun.

“Aku juga memiliki paman yang pernah menghilang,” lanjut Qiu Yongsi. “Ingin mendengarkan tentangnya?”

Hongjun bertanya, “Ada lagi?”

“Meninggalkan rumah saat aku masih muda dan kembali saat aku sudah tua, meskipun aksen kampung halamanku tidak berubah, rambutku sudah memutih… Anak-anak melihatku tapi tidak tahu siapa aku, dan mereka tersenyum dan bertanya dari mana pelancong ini datang…”

“Bukankah itu He Zhizhang10?”

“Berhenti menempelkan lebih banyak emas ke wajahmu!”

“Kau terus saja membual ba!”

Yang tersisa terus mengejek Qiu Yongsi, yang memprotes, “Dia benar-benar pamanku!” Hongjun hampir menertawakan dirinya sendiri sampai mati. Qiu Yongsi melanjutkan, wajahnya dengan ekspresi tidak bersalah, berkata, “Kerabatku adalah penyair, memangnya kenapa!”

A-Tai bermain sebentar, sebelum Li Jinglong berkata, “Mainkan “Malam Musim Semi di Sungai yang Dipenuhi Bunga dan Cahaya Bulan” ba. Setelah beberapa hari, kita akan kembali ke Chang’an, dan aku, pertama-tama, sudah cukup bosan dengan tempat ini.”

Saat itu, A-Tai berkata, “oke oke oke”. Li Jinglong menuangkan sisa anggur untuk dirinya sendiri dan bergeser, duduk di samping Hongjun. Dia bersandar padanya dan mengulurkan tangan, meletakkannya di bahu Hongjun.

Semua orang kemudian, dengan musik kecapi, menyanyikan “Malam Musim Semi di Sungai yang Dipenuhi Bunga dan Cahaya Bulan”. Hongjun tidak bisa tidak memikirkan pertama kali Li Jinglong membawa mereka ke Burung Bulbul di Fajar Musim Semi. Hari itu, mereka duduk bersebelahan di samping layar, diam-diam bersandar satu sama lain, menyanyikan lagu ini.

“Saat kita kembali, ke mana kau ingin bermain?” Li Jinglong mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat ke Hongjun, menanyakan pertanyaan itu dengan tenang di telinganya. Kata-katanya sedikit terbata-bata.

Hongjun menjawab, “Aku belum memutuskan.”

Dia sedikit mabuk, dan dia berkata pada Li Jinglong, “Kau adalah… bajingan.”

Li Jinglong tersenyum. “Bagaimana bisa aku adalah seorang bajingan? Beritahu aku tentang itu?”

Hongjun tidak mengatakan apa pun; sebagai gantinya, dia mulai masuk ke pelukan Li Jinglong, seolah-olah massa cahaya yang sangat panas di dadanya mengubah Hongjun menjadi ngengat yang terbang menuju ke nyala api. Dia bersandar di dada Li Jinglong, di bawah bahunya. Untuk sesaat, kesedihan memenuhi seluruh dadanya, tapi kesadarannya perlahan menjadi kabur, dan dia akhirnya tertidur.

Musik dari kecapi perlahan berakhir, dan A-Tai menyimpannya. Li Jinglong mengangguk ke arah mereka, menunjukkan bahwa mereka bisa terus melanjutkan, sebelum dia menggendong Hongjun dan menaiki tangga untuk menenangkannya di tempat tidur.

Lu Xu memperhatikan siluet punggung Li Jinglong saat dia duduk di sana, dalam keadaan linglung. Setengah dari tubuh Mo Rigen merosot di atas meja, dan kepalanya menoleh ke samping sehingga dia bisa melihat Lu Xu.

“Biarkan aku memberitahumu sesuatu,” kata Mo Rigen pelan.

Lu Xu menatap Mo Rigen sekilas. Selain Hongjun, dia pada dasarnya tidak berbicara dengan orang lain.

Zhangshi menyukainya,” kata Mo Rigen. Dia juga sedikit mabuk, dan dia menggerakkan alisnya pada Lu Xu. “Tapi Zhangshi tidak mau mengakuinya. Semua orang sudah bisa melihatnya.”

Lu Xu menilai Mo Rigen, dan dengan tenang, dia menjawab, “Apa hubungannya ini denganmu?”

Lengan Mo Rigen di atas meja sedikit berkedut, dan telapak tangannya sedikit terbuka lebar saat dia menjawab, “Itu tidak ada hubungannya denganku. Terkadang, saat aku melihat mereka berdua, hatiku merasa senang; terkadang, saat aku melihat mereka berdua, hatiku merasa sedih.” Saat dia berbicara, suaranya menjadi semakin lebih lembut, dan dia bertanya, “Apakah kau mengerti perasaan itu? Memiliki seseorang seperti Hongjun yang mengikutinya setiap hari, dan saat dia menatapnya, matanya penuh dengan… senyum, begitu saja… kau tahu…”

Mo Rigen mulai tersenyum, matanya bersinar penuh dengan kasih sayang. “Dengan tatapan itu, kau tahu bahwa aku ada di hatimu, dan kau ada di hatiku. Betapa indahnya hidup itu.”

Ikan mas yao tiba-tiba melompat, menakuti Lu Xu sampai dia hampir membalikkan mangkuknya. Mo Rigen terbagi antara tawa dan air mata, dan dia mengusap ikan mas yao, berkata, “Oh, baiklah, dage dan aku akan tidur sekarang. Selamat tahun baru, Lu Xu.”

“Saudaraku!” kata Mo Rigen. “Selamat Tahun Baru!”

Setelah mengatakan ini, Mo Rigen memegang ikan mas yao di tangannya saat dia membungkuk ke A-Tai, lalu ke Qiu Yongsi. Sisanya juga berdiri dan membungkuk satu sama lain, dan saat A-Tai datang untuk membungkuk, dia juga mengulurkan tangannya, mencolekkan jarinya di bawah dagu Lu Xu. Mo Rigen bergegas mengejar A-Tai di seluruh aula, menendangnya saat dia pergi, tapi Lu Xu, wajahnya kaku, naik ke atas untuk tidur.

Di kamar, Li Jinglong membaringkan Hongjun sehingga dia tidur dengan nyenyak, sebelum dia menyelipkan selimut di sekelilingnya, dengan tenang berkata, “Malam ini, aku tidak akan menemanimu saat kau tidur. Aku perlu menulis surat pada putra mahkota.” Setelah mengatakan ini, dia meletakkan amplop merah di bawah bantal Hongjun, menutup pintu saat dia pergi.

Hongjun membuka matanya. Kepalanya sedikit sakit, dan dia mendengar Ashina Qiong dan A-Tai di luar, berkata “hey-yo” saat mereka bergantian menyanyikan baris berikutnya dari sebuah lagu. Dia mengulurkan tangannya dan meraba di bawah bantalnya, menarik keluar amplop merah. Saat dia membukanya dan melihat ke dalamnya, ada uang kertas seratus liang perak.

Hongjun diam-diam bangkit, menyelipkan amplop merah ke bagian depan jubahnya. Dia mengenakan jubahnya dan diam-diam berjingkat keluar pintu.

Salju tebal menari-nari di udara, masing-masing dari kepingan salju membentuk massa yang menyelimuti daratan. Setiap gua di Gua Mogao diterangi dengan lentera altar, yang bersinar terang. Kecemerlangan mereka bersinar melalui malam bersalju, seperti alam surgawi.

“Selamat tahun baru, saudaraku,” kata Hongjun dengan pelan, menuntun kudanya, mengenakan jubah yang jatuh ke lututnya. Dia kemudian menaiki kudanya, berputar-putar di belakang menara sembilan tingkat, dan meninggalkan Gua Mogao di sepanjang jalan menuju ke tenggara.

“Turun salju!” Mo Rigen berteriak ke arah lantai atas dan bawah, saat dia bersandar di pagar. “Yaoguai datang!”

Ashina Qiong yang mabuk berkeliaran di luar untuk buang air kecil. Saat dia berdiri di salju, dia tiba-tiba melihat jejak kaki yang mengarah ke kejauhan.

“Siapa yang datang?” Ashina Qiong berteriak sambil buang air.

Mereka semua kembali ke kamar untuk tidur, hanya Li Jinglong dan Qiu Yongsi yang begadang sesuai tradisi untuk menjaga tahun. Saat mereka mendengar teriakan, mereka juga keluar untuk melihat. Li Jinglong tiba-tiba teringat apa yang dikatakan Hongjun pada siang hari, dan dia langsung berlari kembali ke kamar Hongjun. Tapi saat dia mendorong pintu hingga terbuka, ruangan itu benar-benar kosong!


Di atas medan bersalju, kuda Hongjun berlari dengan kencang. Dia sudah berkuda di sepanjang Tembok Besar selama lima li, sebuah teriakan datang padanya tertiup angin.

“Hongjun—!” Li Jinglong berteriak keras.

Hongjun berbalik dan melirik ke belakang. Setelah melihat Li Jinglong mengejarnya, dia bergegas memacu kudanya maju, meningkatkan kecepatannya.

“Hongjun!” Li Jinglong meraung.

Li Jinglong mengenakan satu lapis jubah bagian dalam di bawahnya, dan dengan sembarangan membungkus jubah bulu di atasnya. Dia memiliki Pedang Kebijaksanaan yang diikatkan ke pinggangnya saat dia memasukkan kakinya ke dalam sepatu bot dan mengejarnya. Hongjun menyembunyikan dirinya di sepetak hutan, dan dia memegang kendali kudanya saat dia mengintip dari dalam pepohonan.

“Hongjun! Kau ada di mana?!” Li Jinglong bergegas kembali, dan dia turun, membaca jejak yang ada di tanah.

Tubuh Hongjun tertutup oleh salju, dan dia menyatu dengan pepohonan. Dalam gelapnya malam, Li Jinglong tidak bisa melihatnya, dan suara sha sha dari salju tebal meredam napasnya. Setelah lama mencarinya, Li Jinglong kembali ke atas kudanya dan terus berlari ke depan.

Hongjun kemudian menaiki kudanya di hutan dan mengubah arah perjalannya, menuju ke timur.

Salju tebal perlahan berhenti turun, dan matahari terbit. Saat Hongjun tertiup angin, dia sudah lama terbangun dari pingsannya akibat alkohol. Dia terus berlari dengan kencang, tidak terbebani oleh apa pun, pikirannya benar-benar kosong. Dalam ruang yang luas antara langit dan bumi, dia bisa melihat ada lembaran putih di mana-mana.

Dia melewati sebuah lembah dan teringat apa yang dikatakan teman-temannya tadi malam. Hatinya tiba-tiba dipenuhi dengan kesepian dan keputusasaan, dan gagasan lain datang padanya: haruskah dia berbalik dan kembali pada mereka?

Dia melambat, tapi dia tidak menyangka seseorang akan benar-benar muncul dari sudut.

“Hongjun! Ke mana kau akan pergi?!” Li Jinglong jelas sudah berada di posisi ini di sini sebelum dia tiba.

Hongjun paling tidak ingin melihatnya, dan dengan “Jia!”, Dia bergegas pergi lagi.

“Jangan pergi!” Li Jinglong berteriak.

“Kembalilah ba!” Hongjun menoleh dan meneriakinya kembali.

Li Jinglong menaiki kudanya, mengejar Hongjun melewati lembah. Hongjun terus berjalan, semakin cepat, dan Li Jinglong berteriak dari belakang, “Pelan-pelan! Aku tidak akan memaksamu untuk kembali! Bicaralah padaku!”

Tapi Hongjun tidak melambat. Matahari terbit, dan Li Jinglong terus mengejarnya bahkan saat matahari naik ke ketinggian tiga tiang bambu, dan sisi-sisi jalan diselimuti warna perak dan putih dari pemandangan bersalju.

“Aku akan berhenti mengejarmu!” Li Jinglong berteriak dari belakang. “Jangan terburu-buru! Pelan-pelanlah sedikit! Jika kau terus berlari seperti ini, kudamu mungkin bisa bertahan, tapi kau tidak akan bisa!”

Hongjun sudah terguncang sepanjang waktu, dan sekarang dia sangat lelah. Dari tadi malam sampai sekarang, dia sudah berlari hampir enam shichen penuh, dan tubuhnya sedikit tidak bisa menahannya.

Kudanya melambat, bahkan saat dia membuat jarak antara dirinya dan Li Jinglong. Li Jinglong juga tidak berbicara, justru mengikuti jauh di belakang Hongjun. Saat Hongjun mempercepat lajunya, dia juga akan melakukannya; saat Hongjun melambat, dia juga melakukannya. Saat Hongjun berhenti, dia juga berhenti, tapi dia tidak mendekatinya.

Matahari terbenam, dan Hongjun menoleh, berteriak, “Kembalilah ba!”

Tapi Li Jinglong tidak menjawab. Dia terus mengikutinya seperti ini, dan Hongjun ingat bahwa dia sendiri memiliki bulu phoenix, dan tidak takut dengan dinginnya dunia es ini, tapi Li Jinglong tidak memilikinya. Karena dia mengejarnya selama ini, sampai senja, mungkin dia akan jatuh sakit lagi.

Otak Hongjun terasa seperti diisi dengan lem. Dia ingin kembali ke Pegunungan Taihang dan mendapatkan jawaban dari Qing Xiong dan Chong Ming. Hari itu, Qing Xiong yang membawanya pergi, jadi dia pasti memberitahu Chong Ming apa yang sudah terjadi. Tapi dia juga takut, takut bahwa masalah ini sama seperti yang dikatakan oleh raja hantu — semua ini adalah sesuatu yang sudah digerakkan oleh Chong Ming, dan dia tidak lebih dari sebuah persembahan yang dimaksudkan untuk menggantikan ayahnya.

Dia juga dipenuhi dengan kengerian. Jika pada hari itu, saat Qing Xiong membawanya pergi, Li Jinglong juga ada di sana…

Bagaimana dia harus menanggungnya?

Semua hal yang dia percayai, semuanya akan hancur saat kebenaran tanpa ampun terungkap.

Hongjun melambat. Matahari terbenam di bawah cakrawala, dan seluruh langit dipenuhi dengan bintang-bintang saat tirai malam turun.

Dia sudah berlari selama sehari semalam, dan Li Jinglong mengikutinya selama siang dan malam.

Saat Hongjun berbalik untuk melihat, dia menemukan bahwa siluet Li Jinglong tidak lagi di belakangnya.

Dia sudah kembali?, pikirnya, tapi tiba-tiba dia merasakan ada yang tidak beres. Dia bergegas memutar kudanya, berlari ke arah asalnya.

Di tengah jalan, kuda itu berlari ke satu sisi, gemetar. Li Jinglong sudah jatuh ke tanah di sisinya, tampak seperti mayat.

Zhangshi!” Hongjun berteriak dengan cemas, melompat dari kudanya saat itu sekitar sepuluh langkah atau lebih jauh, berlari dengan cepat.

Tubuh Li Jinglong tertutup oleh salju, dan telapak tangannya sedingin es saat dia berbaring meringkuk seperti bola. Hongjun segera membalikkannya dan berkata, “Zhangshi!”

Tapi dia tidak menyangka Li Jinglong tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengaitkannya di bahu Hongjun. Tepat saat Hongjun hendak membebaskan diri, Li Jinglong menariknya ke bawah dan menggunakan momentum itu untuk bangkit!

“Berhenti!”

“Kau, berhenti, untukku!”

“Kau berhenti—!”

Hongjun tidak berhenti berjuang saat dia dan Li Jinglong saling bergulat di salju. Li Jinglong mengerahkan semua energi di tubuhnya, menarik Hongjun ke tanah, sebelum dia jatuh di atasnya dengan seluruh berat badannya. Dia meraih pergelangan tangan Hongjun, dengan paksa memutarnya di belakang punggungnya, sebelum duduk di atas perutnya, menjepitnya dengan kuat di tempatnya.

“Kenapa kau tidak menungguku?!” Li Jinglong menjadi marah, dan dia meraung pada Hongjun. “Kali ini apa salahku!”

Itu adalah pertama kalinya Li Jinglong menampakkan kekuatan amarahnya yang sebenarnya padanya. Hongjun tanpa sadar menarik tangannya dan mengeluarkan pisau lempar, tapi pergelangan tangannya sekali lagi dicengkeram dengan kuat oleh Li Jinglong.

“Kau membenciku, bukan?” Li Jinglong berkata, suaranya bergetar. “Caraku memperlakukanmu, aku tidak menyesal tentangnya! Namun kau sangat membenciku, kenapa?!”

Tangan yang sudah meraih pergelangan tangan Hongjun terus gemetar, sebelum Li Jinglong melepaskannya dan berkata, “Kau ingin mengambil nyawaku? Apakah karena kau adalah yao, dan aku adalah manusia? Karena aku membunuh kerabatmu?”

“Tidak… tidak…” Hongjun terengah-engah.

“Ayo!” Li Jinglong meraung pada Hongjun, seolah-olah dia sudah kehilangan semua alasan. “Lakukanlah! Tusukkan pisaumu di sini! Aku akan mengembalikan Cahaya Hati padamu! Kau ambil ini—”

Hongjun memperhatikan Li Jinglong dengan diam. Mata Li Jinglong merah cerah, air mata mengalir di dalamnya. Tanpa memberi Hongjun waktu untuk bereaksi, tangan kirinya terus menarik jubah luarnya dan pakaian di bawahnya, memperlihatkan dadanya yang telanjang. Dia meraih pergelangan tangan Hongjun, bersama dengan pisau lempar di tangan itu, menekannya ke dadanya sendiri.

Langit dan bumi, hutan belantara yang sunyi, dataran bersalju, sungai berbintang, semua yang ada di dunia menjadi sunyi. Hanya ada suara napas mereka yang berbaur menjadi satu, seperti pasang surut yang lembut dari dahulu kala.

Hongjun melihat bahwa di sisi kiri dada Li Jinglong, ada tato burung merak yang anggun, bulunya terbentang di sana.

Li Jinglong tidak bisa berhenti terisak, air matanya jatuh di wajah Hongjun.

Pada saat itu, kesedihan di hati Hongjun tidak bisa lagi ditahan. Dia melepaskan pisau lemparnya, yang mendarat dengan suara ringan di salju.

Li Jinglong melepaskan cengkeramannya dan melepaskan Hongjun, yang memeluk Li Jinglong dari samping, membenamkan wajahnya di bahunya, mulai terisak dengan keras.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Ini adalah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan makan malam akhir tahun yang diberikan oleh pemilik toko pada karyawannya.
  2. Tanda hormat pada yang lebih tua.
  3. Dia tidak peduli dengan semua kebiasaan yang rumit ini.
  4. Prodigal son: orang yang menghabiskan uang dengan cara yang boros secara sembrono. Seseorang yang meninggalkan rumah dan berperilaku sembrono, tapi kemudian kembali dengan penyesalan.
  5. Secara metafora. Biasanya berarti bahwa mereka sudah minum dalam jumlah yang signifikan, dan segalanya dalam berbagai tahap mabuk.
  6. Secara khusus, sepupu laki-laki yang lebih tua.
  7. Feel just short : gagal untuk memenuhi sesuatu atau meraih tujuan, standar, ekspektasi, dll
  8. Pada dasarnya mudah bergaul pada pandangan pertama.
  9. Menarik kembali kata-katanya.
  10. Seorang penyair, kaligrafer, dan pejabat Tiongkok dari dinasti Tang, yang benar-benar masuk ke dalam pelayanan pemerintahan pada masa pemerintahan dinasti Zhou yang berumur pendek.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments