“Sejak hari di mana kita meninggalkan Kota Liangzhou, selama aku melakukan satu kesalahan, maka aku akan mendapatkan seluruh rangkaian kesalahan.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Menara sembilan tingkat itu tampak sunyi, karena semua pelukisnya sudah meninggalkan Gua Mogao. Saat itu akhir tahun, dan mereka semua naik karavan, menuju Hexi, di mana perbatasan berada, untuk kembali ke rumah demi merayakan tahun baru.

Di malam hari, Li Jinglong adalah yang pertama bangun. Hongjun masih tidur sangat nyenyak, tanpa sadar memeluk Li Jinglong. Di luar, langkah kaki terdengar, dan Mo Rigen bergegas masuk, memberi isyarat pada Li Jinglong. Li Jinglong menyipitkan matanya, dan, memahami bahwa ada masalah yang mendesak, dia kemudian bangkit dengan tenang.

“Bagaimana keadaannya?” Mo Rigen bertanya dengan suara rendah.

“Saat dia bangun, aku akan berbicara dengannya lagi,” jawab Li Jinglong. “Apa yang sedang terjadi?”

“Raja hantu akan pergi,” jawab Mo Rigen.

Li Jinglong dengan cepat berjalan keluar dari menara sembilan tingkat. Raja hantu dan pengawal pribadinya sedang menunggu di luar pintu, dan sekarang mereka mengucapkan selamat tinggal padanya.

“Masih ada hal-hal yang belum aku rundingkan denganmu, jika aku bisa menyusahkanmu untuk tinggal beberapa hari lagi,” kata Li Jinglong buru-buru.

Tapi raja hantu sepertinya sudah menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Li Jinglong, dan dia menjawab, “Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh phoenix di Istana Yaojin itu, tapi aku membayangkan bahwa Cahaya Hati berada di tubuhmu bukanlah suatu kebetulan.”

Li Jinglong: “!!!”

Raja hantu menekankan satu tangan di bahu Li Jinglong, berkata, “Xie Yu belum mati, dan aku belum membalaskan dendam Liu Fei, tapi apakah Mara akan dilahirkan kembali, itu tidak diketahui.”

Li Jinglong sepertinya merasakan seutas harapan, dan dia bertanya, “Benih iblis di tubuh Hongjun itu, apakah bisa ditekan?”

Raja hantu mengangkat bahunya dan menjawab, “Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab untukmu.”

Li Jinglong terdiam sejenak. Raja hantu melanjutkan, “Manusia dan yao pada akhirnya harus mengambil jalan yang terpisah, dan dengan statusku, aku tidak memiliki cara untuk memberimu banyak bantuan. Tapi kau dan aku bisa melakukan pertukaran sementara.”

Mengangkat pandangannya, Li Jinglong menatap raja hantu, yang menjawab, “Kali ini, mayat hantu yang jatuh dalam pertempuran membawa penderitaan di alam manusia, dan meskipun bisa dikatakan bahwa mereka dikendalikan oleh iblis hati Rusa Putih. Liu Fei dan aku tidak bisa lepas dari kesalahan itu.”

Li Jinglong menjawab, “Kesalahannya ada pada Xie Yu, bukan pada kalian berdua.”

“Tapi saat kau kembali ke istana kekaisaran para manusia, bagaimana kau akan menjelaskannya?” Raja hantu berkata. “Akankah para komandan perbatasan, yang bertugas melindungi alam manusia, hanya akan mengabaikan dua ratus ribu hantu mayat yang tertidur di Yadan?”

Li Jinglong berpikir sejenak, sebelum menjawab, “Liu Fei telah meninggal, dia sudah menebus kejahatannya.”

Raja hantu mengangguk, dan Li Jinglong melanjutkan. “Mengenai Yadan, aku memiliki caraku sendiri. Aku bisa berjanji bahwa tidak akan ada lagi manusia yang akan datang mengganggu tidurmu. Yang Mulia pernah berjanji bahwa dia akan memberiku sebuah wilayah kekuasaan, dan aku akan memilih Yadan. Aku akan meminta paman Hongjun untuk tetap menjadi komandan Jalur Yumen, jadi tentu saja, tidak ada manusia yang akan datang lagi.”

“Dengan itu,” raja hantu berkata, “kau harus menyimpan ini.”

Raja Hantu itu memberikan Li Jinglong sepotong zirah berkarat dan berkata, “Mengenai perseteruan dengan Xie Yu ini, aku akan mendukungmu dengan sekuat tenaga. Selain itu, kau juga bisa meminta bantuan seluruh pasukanku sekali, untuk membantumu berperang.”

Li Jinglong mengambil zirah itu dan bergegas untuk menangkupkan tinjunya dan berterima kasih padanya. Raja hantu tidak mengatakan apa pun lagi, dia justru menaiki kudanya dan pergi, menghilang bersama pengawal pribadinya menuju matahari terbenam.

Li Jinglong kembali ke menara sembilan tingkat. Semua orang terbangun dengan sendirinya, dan sekarang masing-masing dari mereka menguap.

Dia menyapu pandangannya ke orang-orang yang berkumpul, berkata, “Kelompok ini sebenarnya sudah berkumpul saat ini, seperti ini.”

Bahkan dia sendiri sedikit terkejut. Qiu Yongsi bersandar dengan malas ke dipan tempat dia duduk, berkata, “Ini tahun baru, dan di sinilah aku, bergegas untuk membantu kalian bertarung, apa menurutmu itu mudah bagiku?”

Li Jinglong teringat bahwa hari ini sudah akhir tahun, dan dia berkata, “Baiklah, jangan khawatir tentang hal-hal lain untuk saat ini. Ayo mulai memasak dan merayakan tahun baru!”

A-Tai mulai tertawa kecil dan berkata, “Terakhir kali aku merayakan tahun barumu adalah lima tahun yang lalu. Apakah ada anggur?”

Li Jinglong sudah lama membuat rencana, dan sekarang dia mulai membagikan tugas untuk masing-masing dari mereka.

Saat itu, Lu Xu tiba, dan semua orang menoleh untuk melihatnya. Lu Xu menatap Li Jinglong dengan cemas. Mo Rigen menepuk ruang di sisinya, memberi isyarat agar dia duduk di sana.

“Dia baik-baik saja,” jawab Lu Xu, karena dia tahu bahwa setelah melihat Li Jinglong, dia ingin bertanya tentang Hongjun. “Jika kau memiliki sesuatu untuk dikatakan, kau sebaiknya bertanya langsung padanya, itu lebih baik daripada bertanya padaku.”

Mendengar itu, Li Jinglong mengangguk dan berkata, “Aku akan memotong ayam. Bangunkan Hongjun nanti, biarkan dia tidur sedikit lebih lama lagi.”

Untuk sementara waktu, para anggota Departemen Eksorsisme menyibukkan diri. A-Tai pergi mencari Ashina Qiong dan tepung, bersiap untuk membuat makanan untuk Perayaan Malam Tahun Baru sehingga mereka bisa memiliki beberapa makanan di piring mereka dan mengisi diri mereka sendiri. Mo Rigen duduk bersama Lu Xu di halaman, mengupas kastanye, bersiap untuk membuat ayam rebus dengan kastanye. Li Jinglong pergi untuk memotong seekor ayam, sementara Qiu Yongsi dan ikan mas yao bertugas mengumpulkan beberapa mangkuk dan sumpit.

“Ay, kenapa sekelompok orang-orang kuat yang besar seperti kita berlari ke tempat terpencil1 ini untuk merayakan tahun baru,” kata Qiu Yongsi pada ikan mas yao, terbagi antara tawa dan air mata. “Aku benar-benar tidak bisa memahaminya.”

Ikan mas yao menjawab, “Itu benar, bahkan tidak ada seekor ikan pun.”

Dengan pengingat ini, Qiu Yongsi memikirkan sesuatu, dan dia bertanya, “Itu benar! Lalu apa yang harus kita lakukan agar ‘semoga setiap tahun selalu berlimpah’2?”

Ikan mas yao: “…”

Mo Rigen dan Lu Xu duduk berseberangan, tak satu pun dari mereka mengucapkan sepatah kata pun. Cengkeraman Mo Rigen begitu kuat, dan begitu jari-jarinya meremas kastanye, cangkangnya langsung retak. Dia kemudian melemparkannya pada Lu Xu, agar dia bisa mengupasnya dengan mudah.

“Lu Xu,” kata Mo Rigen, “apa kau masih marah padaku?”

Di dalam lukisan dinding, setelah mendengar Hongjun membicarakannya, Mo Rigen menyadari bahwa alasan Lu Xu mengikutinya di sepanjang jalan sebenarnya adalah untuk memohon padanya agar datang ke sini untuk menyelamatkan dirinya. Dan Serigala Abu-abu, pada satu titik waktu, juga menjadi harapan terakhir Lu Xu yang terperangkap di lukisan dinding.

“Aku pernah membuat sebuah permintaan sebelumnya,” kata Lu Xu dengan acuh tak acuh. “Sementara mereka tidak memperhatikan, aku pergi ke tanah suci Amitabha untuk membuat permintaan.”

“Apa yang kamu minta?” Mo Rigen mengangkat pandangannya untuk melihatnya.

“Apa yang aku minta, adalah bahwa siapa pun yang datang untuk menyelamatkanku, aku akan pergi bersamanya selama sisa hidupku.” Lu Xu menunduk, melihat kastanye putih3 di tangannya, sebelum dengan santai melemparkannya ke keranjang.

Mo Rigen: “…”

Lu Xu mengangkat pandangannya, melihatnya tanpa mengatakan apa pun.

“Saat itu, aku tidak tahu,” kata Mo Rigen.

“Sekarang kau tahu,” jawab Lu Xu.

Mo Rigen berkata dengan pelan, “Lu Xu, tujuan hidupku adalah untuk menemukanmu.”

Lu Xu berkata, “Aku tidak peduli dengan tujuan apa pun, bagaimanapun juga, pada akhirnya kau tidak datang.”

Mo Rigen menjawab, “Menempatkannya seperti itu tidak adil! Aku tidak tahu kalau itu adalah kau!”

“Lalu bagaimana Hongjun bisa tahu?” Lu Xu membalas.

Mo Rigen meremas kastanye begitu keras hingga membuat suara retakan saat dia mengerutkan keningnya. “Ini tidak adil!”

Lu Xu melanjutkan, “Kau hanya datang untuk menemukanku karena aku adalah reinkarnasi dari Rusa Putih, bukankah begitu? Apakah aku Rusa Putih, atau orang lain, semuanya sama bagimu.”

Mo Rigen berkata, “Itu tidak sama, itu tidak sama, Lu Xu!”

Dia menatap Lu Xu, merasa seolah-olah dia dipenuhi dengan kata-kata yang ingin dia katakan, tapi tanpa mengetahui kenapa, saat kata-kata itu sampai ke mulutnya, dia tidak bisa mengeluarkannya.

Mo Rigen: “Aku pikir Rusa Putih adalah seorang gadis yang cantik.”

“Aku tidak cantik, aku juga bukan seorang gadis,” jawab Lu Xu.

Mo Rigen berkata, “Aku membayangkan bahwa mungkin dia tidak tahu bahwa dirinya adalah Rusa Putih, dan setelah aku datang, aku akan sangat mencintainya dan melindunginya…”

Lu Xu mengangkat alisnya, memberi isyarat agar Mo Rigen bergegas dan membuka kastanye di tangannya, dia sudah berasa menunggu selama setengah hari sekarang. Mo Rigen hanya bisa melemparkan kastanye padanya, sebelum melanjutkan, “… Tapi dalam perjalanan ini, semuanya terjadi begitu cepat sehingga aku tidak bisa memikirkannya dengan jelas. Aku tidak pernah membayangkan kemungkinan bahwa kita berdua akan… kita berdua akan menjadi laki-laki, dan aku tidak pernah membayangkan bahwa kau adalah Rusa Putih.”

“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?” Tanya Lu Xu.

“Kita berdua, kita ditakdirkan untuk bersama!” Mo Rigen akhirnya menambahkan kalimat itu.

“Kenapa aku tidak tahu itu?” Tanya Lu Xu, menatapnya dengan curiga. “Siapa juga yang ingin ditakdirkan bersamamu!”

Mo Rigen berkata, “Kalau tidak, kenapa kau pergi ke Yulin untuk mencariku?”

“Saat itu otakku sedang kebingungan!” kata Lu Xu. “Sekarang aku berpikiran jernih, mengerti?”

Mo Rigen akhirnya tidak tahan lagi. “Apa maksudmu? Aku juga mempertaruhkan nyawaku untuk datang menyelamatkanmu, dan kau tidak bisa, hanya karena orang yang membawamu keluar pada akhirnya adalah Hongjun, kau…”

“Yo, kalian berdua mengupas begitu banyak kastanye, berapa banyak hidangan yang akan kalian buat?” Tangan Ashina Qiong ditutupi dengan tepung saat dia mengamati seluruh ember kayu penuh kastanye di depan mereka berdua.

“Diamlah!” Lu Xu dan Mo Rigen berkata bersamaan, sebelum Lu Xu bangkit dan pergi.


Hongjun sedang tidur saat dia dibangunkan oleh suara ayam yang sedang berjuang mati-matian di luar, tepat sebelum dia akan menemui ajalnya. Li Jinglong belum pernah membunuh seekor ayam sebelumnya, dan sekarang dia memegang ayam itu, mengiris lehernya untuk mengeluarkan darahnya. Tapi dia tidak memotongnya di bagian yang tepat, dan itu justru menyebabkan ayam itu memekik liar, mengepakkan sayapnya, kepalanya menggantung setengah saat berlarian, meneteskan darahnya ke mana-mana.

Kesal, Hongjun meraung, “Bisakah kau sedikit lebih tenang?!”

Dia membuka matanya, dengan muram berjalan ke pagar, hanya untuk melihat Li Jinglong mengejar ayam itu. Seketika, dia mengirim pisau lemparnya terbang ke arah itu, dan dengan suara “gu“, ayam itu terguling ke tanah, dan akhirnya kedamaian kembali ke dunia.

Kedua tangan Li Jinglong berlumuran darah, dan dia segera mengangkat kepalanya. “Hongjun!”

Hongjun menghilang di tingkat tiga, dan Li Jinglong berlari ke atas, lalu Hongjun turun ke tingkat dua untuk mengambil ayam itu, jadi Li Jinglong mengikutinya turun lagi. Tatapan mereka bertemu sejenak, dan Li Jinglong merasa sedikit tidak nyaman karenanya.

“Apa yang kau inginkan?” Hongjun mengerutkan kening.

“Ini tahun baru,” jawab Li Jinglong.

Hongjun mengangguk pada saat itu, tapi tidak membuat satu suara pun setelahnya. Li Jinglong merebus air, dan di salah satu halaman samping menara sembilan tingkat, dia mulai mencabuti bulu ayam.

Tangan kanan Li Jinglong, dari awal hingga akhir, sedikit bergetar, seolah-olah dia sudah terluka oleh gigitan Xie Yu tadi malam, walaupun letak luka sebenarnya ada di meridiannya. Hongjun memperdebatkannya lagi dan lagi, tapi pada akhirnya dia tidak melontarkan pertanyaan yang dia miliki.

Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengamati Li Jinglong. Akhir-akhir ini, Li Jinglong sepertinya merasakan bahwa Hongjun menjaga jarak dengannya, dan sekarang, Li Jinglong menjadi sedikit lebih berhati-hati, seolah-olah dia takut apa pun yang dia katakan akan membuat Hongjun marah.

Rongga matanya masih terlihat memar akibat pukulan Hongjun, dan tiba-tiba Hongjun merasa agak menyesal di dalam hatinya.

“Masih marah padaku?” Li Jinglong bertanya, menundukkan kepalanya sambil terus mencabuti bulu-bulu ayam.

Saat Hongjun mendengar ini, dia tiba-tiba merasa hatinya sedikit sakit.

Li Jinglong melanjutkan, “Akulah yang tidak berguna. Apa kau masih merasa tidak enak badan?”

Dia mengangkat kepalanya untuk melihat Hongjun, dan Hongjun menjawab, “Aku merasa lebih baik sekarang, kenapa kau begitu mengkhawatirkanku? Akan lebih baik untuk mengkhawatirkan dirimu sendiri sebagai gantinya.”

Li Jinglong membalikkan ayam itu, terus mencabuti bulunya. “Apa aku bahkan tidak bisa peduli padamu?”

Hongjun menjawab, “Aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Li Jinglong tiba-tiba berkata, “Aku khawatir kau merasa tidak enak badan, tapi kau tidak akan mengatakan apapun padaku. Bahkan jika itu Mo Rigen, Tegla, atau, jika aku menebak dengan benar, Qiu Yongsi, kau akan memiliki lebih banyak hal untuk dikatakan pada mereka sekarang.” Setelah mengatakan ini, dia mengangkat kepalanya untuk melihat Hongjun lagi, berkata, “Bahkan jika itu Lu Xu, kau bersedia berbicara dengannya. Aku tidak mengerti, apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

Hongjun memperhatikan Li Jinglong dengan kaku. Sekejap, dia memiliki keinginan untuk memberitahunya. Namun bahkan jika dia mengatakannya, apa gunanya itu? Li Jinglong sudah melupakan masa lalu, dan setelah mengetahuinya, apakah dia akan merasa bersalah? Apa yang harus dia katakan?

“Sebenarnya, Lu Xu dan aku sudah bertemu satu sama lain sejak lama,” jawab Hongjun.

“Dia memberitahuku,” kata Li Jinglong dengan lembut. “Itu cukup bagus.” Sambil mengatakan ini, dia membalik ayam ke sisi lain. Keduanya menyaksikan ayam itu dicabut bulu-bulunya di tangan Li Jinglong.

“Sejak kau bangun waktu itu,” kata Li Jinglong, “kau marah padaku, karena aku menyembunyikan sesuatu darimu, bukankah begitu?”

“Bukan begitu,” jawab Hongjun.

Li Jinglong menunjuk ke matanya sendiri yang memar dan menoleh, berkata, “Aku akan membiarkanmu meninjuku lagi di sini? Gege hanya ingin kau tidak takut, bukan agar kau merasa bahwa kau menyebabkan masalah untuk semua orang.”

“Benar-benar bukan begitu,” tegas Hongjun.

Li Jinglong bertanya dengan sungguh-sungguh, “Lalu apa sebenarnya alasannya?”

Hongjun berhenti berbicara lagi, dan Li Jinglong terus mencabuti bulu ayam sambil menunduk, berkata, “Hongjun, apa menurutmu aku pintar?”

“Sangat pintar,” balas Hongjun. “Kau adalah orang terpintar yang pernah aku lihat.”

“Tapi aku tidak bisa menebak kenapa kau marah padaku.” Li Jinglong mengangkat matanya, melihat ke arah Hongjun, tatapan itu dipenuhi dengan kebingungan yang menyebabkan sakit hati bagi yang melihatnya.

“Aku tidak marah padamu,” jawab Hongjun.

“Kau marah,” kata Li Jinglong. “Sejak kau bangun, kau menjadi berbeda. Aku akui, aku tidak berguna. Sejak hari di mana kita meninggalkan Kota Liangzhou, selama aku melakukan satu kesalahan, maka aku akan mendapatkan seluruh rangkaian kesalahan. Aku berharap waktu bisa berputar ke belakang dan kembali ke malam itu, aku seharusnya tidak keluar saat itu.”

Hongjun diam-diam berpikir sejenak, sebelum dia berkata, “Aku akan pergi.”

“Ke mana?” Li Jinglong bertanya sebagai tanggapan.

Hongjun menjawab, “Pulang.”

Li Jinglong: “Aku berjanji padamu sebelumnya bahwa aku akan pergi bersamamu ke Istana Yaojin.”

Hongjun ingin menolaknya; dia benar-benar tidak memiliki cara untuk melepaskan adegan yang dia lihat di dalam mimpinya. Tapi dia juga tidak bisa mengucapkan kata-kata itu, jadi dia hanya bisa diam.

“Yo,” kata Ashina Qiong, melihat ke bawah dari tingkat kedua. “Yang bermarga Li, berapa lama lagi kau perlu mencabut bulu ayam itu? Itu bahkan dicabuti dengan lebih bersih daripada wajah Permaisuri Kekaisaran kalian.”

Li Jinglong: “…”

Hongjun berdiri dan berjalan pergi. Saat itu, Li Jinglong tidak ingin apa pun selain berkelahi dengan Ashina Qiong.


Qiu Yongsi dan ikan mas yao duduk bersampingan di depan sungai yang membeku. Sebuah lubang sudah diukir di lapisan es, dan mereka masing-masing memegang pancingan, mencoba menangkap ikan dari lubang es itu.

Ikan mas yao bertanya, “Kenapa aku, yang seekor ikan, juga harus pergi menangkap ikan?”

Qiu Yongsi menjawab, “Jika tidak, lalu apa? Jika kita tidak makan ikan untuk makan malam di Perayaan Malam Tahun Baru, itu pada dasarnya akan membawa nasib buruk bagi kita. Kita tidak bisa hanya merebusmu, kan?”

Ikan mas yao hanya bisa diam.


Malam itu, Li Jinglong mengatur meja. Mereka takut menyinggung para Buddha jika mereka berpesta di Gua Mogao, jadi mereka pindah ke tempat terjauh, tempat para pelukis biasanya berkumpul, untuk memulai pesta Malam Tahun Baru mereka.

“Bagaimana keadaannya?” Mo Rigen bertanya pada Li Jinglong saat dia datang sebagai sepasang tangan tambahan, membantunya untuk memindahkan meja ke atas. Tangan kanan Li Jinglong masih sedikit gemetar.

“Dia masih marah,” kata Li Jinglong. “Aku tidak bisa mendapatkan alasan darinya, bagaimana denganmu?”

Mo Rigen menjawab, “Aku sendiri bahkan belum mengetahuinya.”

Saat mereka berbicara, Lu Xu masuk dan melirik mereka berdua, yang segera berhenti bicara.

Saat Hongjun mencium aroma makanan, dia yang sudah tidak makan apa pun sepanjang hari dan malam, merasa sangat lapar sehingga jantungnya hampir menempel di punggungnya. Benih iblis apa, mimpi buruk apa, yao apa, iblis apa, dia melemparkan semuanya ke belakang kepalanya, dan dia buru-buru duduk. Pada saat itu, Qiu Yongsi tertawa keras dan melemparkan dirinya ke bahu Hongjun, Hongjun berteriak keras, menahannya dan mencoba memukulinya.

“Kau sangat merindukanku!” Qiu Yongsi tertawa.

Hongjun berkata, “Kau juga berhasil melakukannya!”

Qiu Yongsi menepuk punggung Hongjun, memeluknya dengan hangat, berkata, “Untungnya aku datang tepat waktu.” Dia kemudian bergeser sehingga mulutnya menempel di telinga Hongjun, dan dia diam-diam mengucapkan sebuah kalimat.

“Jangan takut. Apapun yang terjadi, semua orang akan bersamamu.”

Hongjun: “…”

Dia mengangkat kepalanya untuk melihat Qiu Yongsi, yang memberinya senyum hangat dan ringan, sebelum dia berbalik dan duduk di depan meja4 lain. A-Tai dan Ashina Qiong juga masuk, A-Tai mengirim tatapan ambigu pada Hongjun, yang membuat Hongjun tertawa kecil.

Semua orang melangkah dengan hati-hati dan tidak mengangkat pembicaraan apa pun yang berkaitan dengan benih iblis. Lu Xu duduk tepat di sebelah Hongjun, dan Li Jinglong berkata, “Hari ini, kita sudah memasak beberapa hidangan dan tidak ada cara untuk membaginya, jadi mari kita dorong meja bersama-sama, dan semua orang bisa mengambil apa yang mereka inginkan ba.”

“Di mana Zhao Zilong?” tanya Hongjun.

“Di sini,” jawab ikan mas yao dari piring di atas meja.

Semua orang: “…”

Ikan mas yao berbaring di atas piring dan melambaikan ekornya. Bahkan ada beberapa daun bawang, jahe, dan bawang putih yang diletakkan di atasnya, yang kurang hanyalah mengukusnya sampai matang.

“Semoga setiap tahun selalu berlimpah, aku harus melakukan sesuatu untuk perayaan ini.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Idiom tersebut mengacu pada tempat yang sangat terpencil sehingga bahkan burung saja tidak akan bertelur di sini.
  2. Ini adalah Chengyu dalam bahasa China, dan dibaca sebagai nian2 nian2 you3 yu2. Yu berarti memiliki jumlah yang banyak, tapi bisa juga dibaca yu untuk ikan; oleh karena itu, secara tradisional ada hidangan ikan untuk makan malam tahun baru, untuk memastikan bahwa tahun yang akan datang berlimpah.
  3. Lebih terlihat berwarna kuning pucat daripada putih salju saat masih mentah.
  4. Itu adalah meja perjamuan, tidak terlalu rumit, tapi konsepnya mirip dengan ini:Semua orang melangkah dengan hati-hati dan tidak mengangkat pembicaraan apa pun yang berkaitan dengan benih iblis
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments