“Xiang Shu, kau sangat pintar, kau sudah memikirkan begitu banyak!”

Penerjemah: Keiyuki17
Proofreader: Jeffery Liu


Di seberang hutan belantara yang luas, angin menyapu Youzhou. Saat itu awal musim dingin, dan seluruh Youzhou diselimuti oleh kabut putih yang tebal. Di tepi selatan Sungai Liao yang Agung, sudah ada orang-orang yang tinggal di desa yang dulu telah jatuh ke dalam keruntuhan.

Ini adalah desa di mana orang Xianbei tinggal bersama dengan orang Han dan Dongying. Chen Xing dan Xiang Shu sedang lewat, jadi mereka untuk sementara menyewa penginapan di sini.

Tidak ada yang tahu siapa itu Xiang Shu, tetapi tidak peduli apakah mereka Hu atau Han, mereka sangat sopan, memperlakukan mereka sebagai pengelana yang lewat. Dalam bahasa Han penduduk desa bertanya pada Chen Xing, “Untuk apa kalian berdua datang ke sini?”, yang ditanggapi oleh Chen Xing, “Kami adalah saudara, dia adalah Ge-ku. Dia lahir dari istri yang sah, jadi dia tinggi, tampan, dan tahu bagaimana cara bertarung, sementara aku lahir dari wanita simpanan, jadi aku tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Itu sebabnya aku sangat lemah.”

Tapi Xiang Shu menjawab, “Jangan dengarkan omong kosongnya. Aku adalah pelayannya, dia adalah seorang tuan muda, seorang terpelajar.”

Chen Xing memberi isyarat agar Xiang Shu berhenti menyebabkan keributan, tetapi Xiang Shu menjawab dengan bahasa Tiele, “Saudara tidak bisa menikah, kau mengerti?”

Chen Xing tidak tahu apakah harus menangis atau menertawakannya. Desa itu saat ini sedang mempersiapkan tempat tinggal untuk mereka, dan ada beberapa kamar di desa yang telah dikosongkan. Ruangan mereka telah disapu dan dibersihkan dengan baik, dan ada kayu bakar yang baru ditebang, ditumpuk ke dinding. Di dalam ruangan, Chen Xing menggunakan kayu pinus untuk menyalakan api di kompor. Xiang Shu, sementara itu, pergi keluar dan berburu beberapa kelinci liar untuk makan malam. Ada daging yang mendidih di dalam panci, dan ruangan itu nyaman dan hangat. Xiang Shu berganti pakaian dengan pakaian yang biasa dia kenakan di rumah dan duduk di satu sisi meminum teh, sementara Chen Xing, hanya dengan jubah dalamnya, mulai menyiapkan makan malam.

Itu adalah dunia kecil mereka sendiri, dan dipenuhi dengan pesona yang hangat dan lembut.

Adegan dan kegiatan ini sama seperti keluarga normal Tiele, Dongying, Xianbei, atau Han.

Terkadang, Chen Xing berpikir bahwa jika hal-hal menjadi seperti ini, itu akan cukup bagus. Selama dia bersama Xiang Shu, di mana pun tempatnya adalah keindahan tanah dunia lain.

“Apa yang kau pikirkan?” Chen Xing bertanya padanya sambil tersenyum, percaya bahwa dia masih memikirkan Xiao Shan.

Tapi begitu Xiang Shu melirik Chen Xing, wajahnya benar-benar memerah.

“Tidak banyak. Aku sedang memikirkan penduduk di sini,” kata Xiang Shu dengan kaku.

“Penduduk?” Chen Xing bertanya dengan rasa ingin tahu. “Ada apa dengan para penduduk?”

Xiang Shu menjawab, “Kau tidak menyadarinya? Ada orang-orang dari semua ras di sini, dan mereka semua melakukan pernikahan campuran.”

“Oh ya,” kata Chen Xing. “Di sinilah tiga negara, Han, Hu, dan Dongying berpotongan di Youzhou. Aku bahkan mendengar orang berbicara dalam bahasa Tiele. Kapan mereka datang ke sini?”

“Orang-orang yang pindah ke selatan mungkin telah melakukannya beberapa dekade yang lalu. Ketika orang Tiele berusia enam belas tahun,” kata Xiang Shu, pertama-tama fokus pada kompor, lalu beralih ke Chen Xing, “mereka harus bersiap untuk menikah.”

Chen Xing tertawa. “Untungnya kau menungguku selama empat tahun.”

Xiang Shu menjawab, “Tidak peduli apakah aku adalah Chanyu yang Agung atau bukan, aku akan tetap pergi ke selatan untuk mencarimu. Hanya saja kau bersembunyi terlalu jauh, dan menemukanmu menjadi tugas yang sangat sulit.”

Chen Xing menjawab dengan gembira, “Akankah artefak magis selalu ingin mencari sesuatu yang lain yang sepertinya? Meskipun pada awalnya, aku tidak tahu siapa kau, dan kau tidak tahu di mana aku berada, tapi karena sudah ditakdirkan, bagaimanapun juga kau akan menemukanku.”

Xiang Shu menghabiskan teh di cangkirnya, dengan mudah menyerahkannya kepada Chen Xing, yang mengisinya lagi. Jari mereka bersentuhan. Padahal mereka sudah saling berpelukan dan tidur bersama, Xiang Shu masih tampak sedikit gugup, dan dia menambahkan, “Kebanyakan pemuda Tiele tidak suka menikahi orang-orang dari suku yang sama dengan mereka. Terkadang, mereka akan pergi ke selatan dan menyeberangi Tembok Besar untuk mengembara, tetapi mereka tidak akan menculik orang.”

Chen Xing menjawab, “Jadi sudah menjadi tradisi, bagi kalian semua untuk menemukan orang dari suku lain untuk dinikahi.” Dan ketika dia mengatakan itu, dia ingat bahwa sebagian besar istri dan anak yang dia lihat di suku Tiele tidak berasal dari dalam suku. Banyak suku di Saiwai tidak memiliki jumlah yang besar, seperti Akele, yang hanya berjumlah ribuan saja. Bagi mereka yang menikah dalam satu lingkup suku yang sama untuk waktu yang lama, itu berarti mudah untuk masalah darah dan suksesi muncul.”

Selain itu, para nabi dari orang Tiele juga telah belajar banyak dari mengamati kuda. Banyak dari keturunan yang kuat dari kuda mereka sendiri dengan kuda liar Pegunungan Yin, sedangkan anak kuda yang dibesarkan dari kuda dipelihara di dekat penangkaran seringkali merupakan kelompok campuran.

Ratusan tahun yang lalu, orang Tiele-lah yang pertama kali memiliki pemikiran seperti itu, dan mereka mendorong orang-orang mereka untuk menikah dengan orang dari suku lain. Mereka berharap melalui pernikahan dengan orang Han, mereka akan dapat mewarisi kecerdasan dan pembelajaran mereka, dan melalui pernikahan dengan orang Xianbei, untuk mewarisi kulit putih mereka… dan seterusnya. Pencampuran darah berbagai macam suku Hu, dan ketika darah Hu dan Han mengalir melalui tubuh yang sama, menyebabkan orang Tiele dengan cepat tumbuh hanya dalam beberapa ratus tahun, menjadi suku terkuat di utara Tembok Besar.

En.” Xiang Shu memperhatikan Chen Xing dengan linglung melalui api, mengambil teh susu yang dia berikan kepadanya. “Sesekali, mereka berkumpul dalam kelompok dan menuju ke selatan, pergi ke tanah orang-orangmu. Ketika mereka melihat seseorang yang mereka sukai, mereka akan kembali untuk mengambil mahar. Jika orang itu mau, maka mereka berdua akan kembali ke qinglu di Chi Le Chuan dan bertukar sumpah di sana. Jika mereka tidak mau, maka orang Tiele yang tinggal di selatan juga tidak masalah.”

Migrasi internal semacam ini sangat lambat, tetapi juga merupakan salah satu difusi 1. Dibandingkan dengan bagaimana Liu Yuan, Yao Chang, Fu Jian, Murong Huang 2, dan yang lainnya telah menaklukkan wilayah orang Han, membakar rumah mereka, dan mengubahnya mereka menjadi budak, ini adalah metode yang lebih lembut dan lebih efektif.

Chen Xing berkata, “Dalam kebiasaan orang Han kami, kami jarang menikah dengan orang luar. Bagi mereka yang berada di luar suku kami, hati mereka pasti akan berbeda; bahkan di dalam diri kami orang Han, ada aturan yang harus diikuti dalam hal pernikahan, apalagi dengan orang Hu.”

“Kekuatan dan pengaruh klan bangsawan memiliki perbedaan,” kata Xiang Shu tanpa basa-basi, “tetapi setiap keluarga memiliki asal usul mereka sendiri. Kau orang Han selalu memandang rendah orang asing, itulah sebabnya pada akhirnya, kalian semua berakhir di tempat di mana kalian hari ini berada di bawah tangan Liu Yuan.”

Ketika Chen Xing mendengar kata-kata ini, dia menjadi tidak senang. Mengkritiknya tidak masalah, tapi mengkritik rakyatnya tidak, jadi dia berkata, “Kami tidak seperti itu.”

Xiang Shu tidak ingin berdebat lebih jauh. Sebagai gantinya, dia mengangkat alis dengan pertanyaan diam-diam, apakah makan malam sudah siap?

Chen Xing kemudian menyendok beberapa untuk dia makan, sebelum tiba-tiba berpikir tentang bagaimana orang-orang yang tinggal di desa, Han, Hu, dan bahkan orang Dongying, semua hidup bersama. Mereka, seperti halnya Chen Xing dan Xiang Shu, apakah ada juga beberapa petunjuk takdir yang membentang ribuan tahun di tanah suci ini? Bahkan jika mereka memiliki perseteruan darah di antara mereka yang begitu dalam sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk hidup di bawah langit yang sama, akan selalu ada hari ketika semua ini akan menjadi masa lalu. Sama seperti tanah yang luas yang ditutupi dengan reruntuhan setelah api perang berkobar di atasnya, di dalam sisa-sisa ini, kehidupan baru akan berkembang, kembali ke kekuatan yang sebelumnya.

Mungkin, akan datang suatu hari ketika Hu dan Han akan berlipat ganda, generasi demi generasi, di tanah ini, menikah satu sama lain dan melahirkan generasi yang berikutnya. Ribuan tahun kemudian, penduduk Tanah Suci, setelah perpaduan garis keturunan, tidak akan dapat dibedakan satu sama lain.

Saat malam tiba, mereka berdua meninggalkan sisa-sisa api unggun yang hangus, berbaring untuk tidur di rumah. Tempat tidur di lantai sangat kecil, dan bagi mereka berdua untuk berada di bawah selimut, mereka harus saling berpelukan erat. Setelah tubuh mereka bergesekan sebentar, tubuh Chen Xing dan Xiang Shu menjadi panas lagi.

“Aku… aku tidak bisa menahan diri lagi,” kata Xiang Shu, dengan tenang dan tergesa-gesa. “Berikan dirimu padaku, Chen Xing… aku pasti akan menikahimu. Selain dirimu, aku tidak akan bersama dengan orang lain dalam hidupku, aku juga tidak akan membiarkanmu meninggalkanku, tidak pernah, jadi serahkanlah padaku.”

Chen Xing merasa salah satu tangan Xiang Shu membelainya, jadi dia menoleh dan menciumnya, menghentikan kata-katanya. Dia kemudian mengangguk dengan gugup, dan untuk sementara, kegugupannya tak tertandingi. Dia berbalik. Perasaan itu asing, tapi juga menggairahkan, memenuhi dirinya dengan antisipasi.

Tapi Xiang Shu bahkan lebih gugup daripada Chen Xing. Ketika mereka saling menekan, Chen Xing merasa jantungnya berdetak sangat cepat, sangat cepat sehingga hampir melompat keluar dari dadanya.

“Oke… oke,” kata Chen Xing dengan suara kecil.

Sesaat kemudian, Chen Xing melolong sedih. “AAAAH–! ITU MENYAKITKAN!”

Xiang Shu sedikit bingung atas kesalahannya. “Apa? Itu menyakitkan?”

“Sangat menyakitkan sampai aku akan mati!!!” Volume suara Chen Xing meningkat menjadi teriakan liar, dan Xiang Shu segera berkata, “Jangan… jangan bergerak terlebih dulu! Ini akan terpelintir! Baiklah, baiklah, aku akan keluar sekarang!”

Chen Xing: “…”

Xiang Shu: “…”

“Sakit… sangat sakit.” Chen Xing berada di ambang badai air mata, jadi Xiang Shu hanya bisa berhenti.

“Aku bahkan belum masuk,” kata Xiang Shu dengan sedih. “Itu sangat menyakitkan?”

Chen Xing mengangguk dengan penuh semangat, seluruh wajahnya merah padam. Itu sangat menyakitkan, jadi dia berkata, “Ini tidak akan berhasil ba!”

Setelah melihat bahwa Chen Xing berteriak seolah-olah dia telah ditikam oleh beberapa senjata ilahi, Xiang Shu melepaskan keinginan itu. Dia mengubah nada suaranya dan berkata, “Baiklah, ayo bicarakan nanti ba.”

“Tidak, tidak,” jawab Chen Xing, “Aku sudah pulih, mari kita lanjutkan, aku akan… menahannya untuk sebentar.”

“Lupakan.” Xiang Shu tidak berani untuk mencoba lagi; dia takut jika dia melakukannya dengan kekerasan, dia akan menyakiti Chen Xing. Meskipun dia benar-benar sangat menginginkannya di dalam hatinya, pada akhirnya dia masih terlalu peduli padanya. Dia justru meminta Chen Xing berbalik, menarik dia ke dalam pelukannya seperti biasanya, tubuh mereka saling menempel. Dia menarik celananya untuknya.

Chen Xing masih merasakan sedikit ketakutan yang tersisa terhadap gerakan itu sekarang, karena itu bahkan lebih menyakitkan lebih dari saat dia terkena panah terakhir kali. Lagi pula, cedera yang paling serius dan penderitaan terbesar yang dia alami dalam hidupnya adalah panah nyasar di Xiangyang yang telah dilapisi dengan obat bius, tetapi dia tidak berpikir bahwa ini akan sangat menyakitkan! Apa yang baik tentang ini! Mengapa mereka semua harus melakukan ini ketika mereka menikah?! Seratus hari setelah mereka bertukar sumpah di qinglu, apakah itu untuk menyiksa mereka?

“Kau dan Huleishan benar-benar mirip,” Chen Xing terengah-engah. “Terlalu besar dan juga keras!”

“Apa?!” Xiang Shu berkata dengan tidak percaya. “Siapa Huleishan?! Kau… sebelumnya, kau telah … “

Chen Xing menjawab, “Kuda dari suku Raja Akele itu. Apakah kau belum pernah melihatnya sebelumnya?”

Xiang Shu: “….”

Huleishan adalah raja kuda yang dibesarkan oleh suku Akele, yang dikenal dengan memelihara kuda, dan itu adalah kuda jantan yang agung, lebih besar dari yang lainnya. Dia adalah kuda yang ganas, dan ia dapat berlari secepat angin. Ia tidak pernah membiarkan siapa pun mengendarainya, dan jika mereka ingin membiakkannya, itu akan tergantung pada suasana hatinya. Chen Xing secara tidak sengaja telah melihat senjata ilahinya sekali, dan seluruh tubuhnya telah terguncang sampai ke intinya pada saat itu.

Xiang Shu: “…”

Tepat ketika Chen Xing hendak menggambarkan perasaannya pada saat itu, Xiang Shu mengungkapkan ekspresi yang diwarnai dengan kekalahan, dan dia berkata, “Tidur ba.”

“Bagaimana kalau kita coba… ” Chen Xing terus merasa kasihan pada Xiang Shu, jadi dia berkata, “Aku akan menggertakkan gigiku dan menahannya ba. Proses mem… membuat keturunan ini, biasanya berapa lama?”

Xiang Shu: “Kau pikir aku kuda? Tidur! Berhenti bicara omong kosong!”

Chen Xing: “Apakah kau marah?”

“Tidak,” jawab Xiang Shu. “Mari kita bicarakan ini nanti, aku benar-benar tidak marah.”

Meskipun dia mengatakan tidak, Chen Xing terus merasa bahwa Xiang Shu telah sedikit memasukkan itu ke dalam hatinya. Ketika mereka bangun keesokan paginya, saat Chen Xing sedang membasuh diri di dekat sumur, dia melihat Xiang Shu sedikit kesal; dia jelas tidak tidur nyenyak tadi malam.

“Apa nama tempat ini?” Chen Xing mengamati sekeliling mereka, hanya untuk melihat bahwa meskipun sedang musim dingin, airnya biru dan pegunungannya hijau. Pada siang hari, itu adalah jenis pemandangan indah lainnya.

“Walunnu,” jawab Xiang Shu. Setelah membasuh wajahnya, dia menjadi sedikit lebih bersemangat.

“Walunnu!” Chen Xing tiba-tiba teringat. Bukankah ini tempat terakhir kali dimana Xiang Shu menyelidiki keberadaan Wang Ziye dan telah saling bersilang pedang dengannya untuk pertama kali?

“Itu benar,” jawab Xiang Shu. “Dahulu kala, semua penduduk desa di desa ini telah berubah menjadi iblis kekeringan, dan aku membakar mereka semua sampai mati.”

Terakhir kali Xiang Shu datang ke sini, Wang Ziye telah mengubah mayat di desa. Setelah itu, Xiang Shu membakar semua iblis kekeringan dan mengejar jejak Wang Ziye, sampai ke selatan. Youzhou berada di luar jalan dan tidak banyak orang tinggal di sana, sejak Xianbei memerintah daerah tersebut. Ketika Fu Jian mengalahkan dinasti Yan yang Agung dari klan Murong, raja Jin Sima Yao telah mengeluarkan biaya besar untuk membantu beberapa kota di Youzhou menjadi mandiri, mereka berniat untuk mengalahkan Qin dan menghidupkan kembali Dinasti Jin. Dia juga menggunakan kapal untuk membawa banyak pasukan Jin, mendukung Youzhou dalam mengalahkan Qin.

Meskipun kekuatan Fu Jian membentang jauh, gelombang pemberontakan tidak besar. Dan karena ini adalah persimpangan dari empat kekuatan — Perjanjian Chi Le kuno, Dongying, Qin, dan Han — segalanya menjadi sangat sensitif, dan tempat ini tidak akan mudah ditaklukkan dengan paksa. Karena itu, dia mendengarkan usul Wang Meng dan mengesampingkannya, membiarkannya menjadi wilayah di mana tidak ada yang mengendalikannya. Dia akan menunggu sampai setelah dinasti Jin dimusnahkan untuk mengambil alih.

Pada saat ini, pasukan Jin mengambil tindakan dalam skala kecil, dan setelah mengetahui bahwa desa telah dihancurkan, mereka mengepung Xiang Shu. Setelah Xiang Shu menerobos lingkaran itu, dia menuju ke selatan di sepanjang jalan Youzhou kuno, memasuki wilayah Shandong, hanya untuk ditangkap ketika energinya habis di sepanjang Sungai Si…

“Sungai Si!” Kata Chen Xing. “Tempat di mana Xin Yuanping mengalahkan jiao hitam!”

En.” Xiang Shu naik ke atas kudanya dan meninggalkan desa. Dia menoleh ke belakang dan berkata, “Ikutlah denganku.”

Xiang Shu tidak terburu-buru untuk menuju Dongying, justru berputar-putar di sekitar Walunnu, menuju ke timur di sepanjang tepi Sungai Liao.

“Kemana kita akan pergi?” Chen Xing tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Xiang Shu berkata, “Ketika kita meninggalkan Chi Le Chuan, aku memikirkan suatu masalah. Saat itu, mengapa Wang Ziye ingin datang ke wilayah Walunnu?”

Chen Xing menjawab, “Mungkin dia membutuhkan iblis kekeringan?”

Pada saat itu, Wang Ziye yang telah berubah menjadi Kjera telah menghidupkan kembali mantan Chanyu yang Agung, Shulü Wen, dengan darah Dewa Iblis, tetapi dia justru diberi penguburan langit oleh Xiang Shu.

Kemana dia pergi setelah itu? Ketika Xiang Shu mengingatkannya, Chen Xing tiba-tiba juga menyadari pertanyaan itu.

“Tidak lama setelah shixiong-ku, Wang Meng meninggal,” kata Chen Xing, ragu, “Wang Ziye datang ke sisi Fu Jian. Jadi, dia pergi ke Chang’an untuk menjadi pejabat pemerintahan?”

“En,” jawab Xiang Shu. “Tapi setelah beberapa saat, dia sekali lagi muncul di utara.”

Bertahun-tahun sejak kematian Shulü Wen, Xiang Shu belum bisa melupakannya, dan dia telah mengirim pengintai untuk mencari keberadaan Kjera. Setelah mengejar jejaknya, dia mendatanginya sendiri, hanya untuk menemukan targetnya.

“Tidakkah menurutmu itu aneh?” Xiang Shu bertanya, memandang dengan dingin dan tenang ke seberang hutan belantara terdekat. “Kenapa dia datang sejauh ini ke tempat seperti ini? Hanya untuk mengubah seribu orang yang hidup menjadi iblis kekeringan?”

“Dia selalu bisa menggunakan lebih banyak. Mungkin dia bosan, jadi dia pergi berkeliaran?” Chen Xing menebak. “Atau dia menghidupkan kembali para pangeran dari keluarga Sima? Apakah ada kuburan Sima Yue atau Sima yang lain?”

“Kalau begitu dia akan menyuruh bawahannya datang,” kata Xiang Shu. “Lihat tempat ini, apakah ini adalah persimpangan vena bumi?”

“Tidak,” kata Chen Xing. Dia juga merasa ini agak aneh. “Tempat ini tidak ada hubungannya dengan vena bumi.”

Xiang Shu: “Untuk mengalahkan musuhmu, kau harus memahami musuhmu. Dalam beberapa hari terakhir ini, aku terus bertanya-tanya, apa sebenarnya Wang Ziye itu? Sudah berapa lama dia tinggal di bumi ini? Kenapa dia menjadi bawahan Chiyou?”

Ini semua adalah hal yang tidak pernah dipikirkan oleh Chen Xing, tetapi sedikit demi sedikit, melalui persilangan pedang dengan Wang Ziye dan melalui kata-kata Xiang Shu, mereka tampaknya telah mengembangkan pemahaman dasar tentang Wang Ziye — dia pernah hidup untuk waktu yang lama, seolah-olah dia memiliki penyesalan di dalam hatinya. Seperti yang dikatakan Gu Qing: dia pernah menjadi manusia, tetapi telah dibantai dan dipotong-potong, sebelum dikubur di bawah tanah, menderita rasa sakit yang tak ada habisnya selama ratusan ribu tahun.

Ketika dia masih hidup, dia bahkan memiliki seorang gadis yang dia sukai.

“Apakah tempat ini adalah kampung halamannya?” Chen Xing tiba-tiba memiliki gagasan. “Xiang Shu, kau sangat pintar, kau sudah memikirkan begitu banyak!”

Xiang Shu membawa Chen Xing ke atas kudanya di sekitar puncak. Di lereng gunung di tepi Sungai Liao, muncul sebuah rumah unik yang pernah dibangun oleh fangshi 3 — itu adalah kuil yang tidak digunakan lagi.

Di belakang kuil, ada dua pohon besar yang telah ditanam, dan cabangnya mencapai ke langit. Tapi daunnya sudah menyerah pada musim dingin, dan di bawahnya ada monumen batu.

Kuil ini tidak seperti bangunan dari negara mana pun di Tanah Suci ini. Sepertinya telah berdiri di sini untuk waktu yang sangat lama

“Ketika aku pertama kali menemukannya,” kata Xiang Shu, “dia ada di sini.”

Chen Xing ingat bahwa mereka telah bertemu Wang Ziye di Canglangyu tanpa melakukan persiapan apa pun. Dia tidak akan muncul di sini hari ini, kan?

“Apa yang dia lakukan?” Chen Xing bertanya.

“Dia sepertinya sedang membuat persembahan,” kata Xiang Shu. “Kau lebih akrab dengan masalah sejarah daripada diriku, tempat apa ini sebelumnya?”

Chen Xing menjawab, “Selama periode Tiga Kerajaan, itu berada di bawah kekuasaan Yuan Shu.” 4

Xiang Shu: “Bahkan lebih awal dari itu.”

Chen Xing berpikir sejenak, sebelum melanjutkan, “Provinsi Youzhou dari dinasti Han? Atau Youzhou dari periode Negara-Negara Berperang. Mereka juga menyebutnya demikian selama dinasti Zhou.”

Xiang Shu: “Bagaimana jika lebih awal?”

Bahkan lebih awal dari Pertempuran Muye, selama periode di mana sejarah itu sendiri kabur dan tidak jelas, dalam Teks Klasik Pegunungan dan Lautan kuno 5, Chen Xing memikirkan sebuah nama yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Itu adalah nama yang dia lihat di Teks Klasik sebelumnya.

“Negara Youyi,” kata Chen Xing.

Xiang Shu berhenti di bawah pohon dan menggunakan tangannya untuk menyeka monumen batu. Dua huruf besar segel skrip muncul di kanan monumen, dan Xiang Shu melirik Chen Xing. Chen Xing mengenali huruf itu dan berkata, “Jiang Yao”

“Bagaimana dengan sisi yang ini?” Xiang Shu membersihkan kata-kata di sebelah kiri Monumen.

“Wang Hai,” gumam Chen Xing. Dia tiba-tiba berpikir, mungkin Xiang Shu telah menemukan poin kunci dari pertanyaan tertentu.

“Ini adalah makam kekasihnya,” kata Chen Xing. “Haruskah kita menggali dan melihatnya?”

Menggali kuburan dan menodainya seperti itu adalah tindakan yang akan menjatuhkan guntur surgawi pada mereka, tetapi untuk mengalahkan Wang Ziye, Chen Xing bersedia untuk mengorbankan bahkan takdirnya sendiri. Bagaimanapun, menggali kuburan Jiang Yao adalah untuk mencegah Wang Ziye menggali kuburan orang lain di sekitarnya.

“Tidak ada gunanya menggali kuburan.” Xiang Shu menolak usulan Chen Xing, dan dia memperhatikannya sebentar.

Chen Xing: “?”

Xiang Shu menoleh, mengerutkan kening. “Ayo pergi. Aku hanya tidak mengerti, karena dia memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali mereka yang telah mati, mengapa dia tidak menghidupkan kembali kekasihnya juga?”

Tanpa mengetahui alasannya, Chen Xing memandang Xiang Shu, terus-menerus merasa seperti dia menyembunyikan sesuatu darinya. Dia bisa merasakan bahwa Xiang Shu sangat mencintainya, tetapi kadang-kadang, tatapannya akan mengingatkan Chen Xing pada saat itu, ketika mereka belum mengaku satu sama lain, tetapi Xiang Shu sudah mengetahui tentang keberadaan Iuppiter.

Itu seperti mereka akan berpisah kapan saja. Ketidakpastian semacam ini terhadap masa depan menyebabkan tatapan Xiang Shu menunjukkan sedikit kegigihan, seolah-olah dia marah dan melakukan yang terbaik untuk menentang takdir.

Saat itu, ketika Xiang Shu menekankan bahwa “Aku tidak akan pernah membiarkanmu meninggalkanku”, Chen Xing sangat memperhatikannya. Jika dia dipenuhi dengan harapan untuk masa depan, maka dia tidak akan keluar dari jalannya untuk mengatakan ini, yang artinya, seolah-olah dia sendiri tidak dapat melarikan diri dari takdirnya untuk mati dengan cara apa pun. Tetapi dengan keadaan sekarang, bukankah mereka sudah menjadi lebih baik? Mereka benar-benar bersama, dan masa depan tampak cerah. Bahkan jika mereka tidak bisa membunuh Chiyou, mereka memiliki dasar bagaimana cara untuk melawannya.

Apa yang dia pikirkan? Chen Xing sangat ingin mengetahuinya, namun dia tidak bertanya. Dia berulang kali mengatakan ini pada dirinya sendiri bahwa ini tidak lebih dari dia yang terlalu memikirkannya, dan dia tidak bisa sampai pada kesimpulan hanya berdasarkan instingnya saja.

Ketika Chen Xing dan Xiang Shu turun gunung, Chen Xing berpikir sejenak sebelum berkata, “Bukan seperti itu. Jika dia menghidupkan kembali Jiang Yao dan membangunkannya, dia tidak akan lagi menjadi orang yang dicintai Wang Ziye.”

Kenyataannya, Xiang Shu tidak pernah mengerti apa sebenarnya kelompok iblis kekeringan yang telah dihidupkan kembali oleh Wang Ziye itu. Untuk mengatakan bahwa mereka sendiri tidak cukup baik. Tetapi untuk mengatakan bahwa mereka tidak benar juga tidak benar, karena masing-masing dari mereka berlarian dengan nama mereka sebelumnya. Sama seperti Sima Wei — mengapa ketika dia dihidupkan kembali, dia berkata, ‘Aku juga tidak tahu siapa aku’?


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Pembauran.
  2. Liu Yuan adalah anggota Xiongnu yang mendirikan kerajaan Han Zhao dari Enam Belas Kerajaan. Yao Chang, seorang anggota suku Qiang, mendirikan Dinasti Qin Akhir, dan kemudian menjadi jenderal di bawah komando Fu Jian. Murong Huang mantan pendiri Yan, dan merupakan kakek dari Murong Chong.
  3. Sulit untuk mengatakan apa sebenarnya mereka dalam bahasa inggris; pada dasarnya mereka menguasai bidang tertentu, seringkali misterius.
  4. Ada seluruh bagian dari Roman Tiga Kerajaan yang didedikasikan untuk bagaimana Yuan Shu, seorang panglima perang, menguasai Youzhou dengan mendapatkan Gongsun Zan, seorang jendral yang terkenal karena pertempuran haus darah dan cengkeram besinya di perbatasan, di sisinya.
  5. Ini adalah teks yang dianggap sebagai kompilasi dari tanah mitos dan binatang buas. Nam menunjukkan bahwa selama dinasti Jin Timur, itu mungkin dianggap ensiklopedia yang berguna, karena penulis (Guo Pu) adalah dirinya sendiri dari Jin Timur, dan nada tulisannya adalah untuk memberitahukan.
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Yuko256
Yuko256
1 year ago

Yaah gagal papapa wkwk