“Berapa banyak hubungan yang dibangun di atas pengalaman hidup dan mati yang kau dan Rusa Putih miliki?”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Tidak jauh di belakangnya, raja hantu diam-diam selesai mendengarkan cerita Li Jinglong. Dia menghela napas panjang, perlahan berdiri.

“… Semuanya terjadi seperti itu.” Setelah Li Jinglong menyelesaikan kalimat terakhirnya, dia menunggu jawaban raja hantu.

Hongjun menundukkan kepalanya, memperhatikan kerangka Liu Fei, ketika tiba-tiba, dia mendengar bunyi “dong, dong“, dua bunyi dentuman gendang yang nyaring dan jelas.

Raja hantu memegang genderang di tangannya, perlahan berjalan menuju pusat di mana hantu mayat sudah runtuh di medan perang. Sisanya bangkit, perlahan mengikuti di belakangnya.

Dia dengan sungguh-sungguh memakai helmnya. Dengan bunyi gedebuk tanpa henti, “dong dong“, seolah-olah bumi itu sendiri mengalami transformasi misterius!

Dong.”

Hantu mayat yang sudah berserakan secara sembarangan di tanah semuanya bangkit.

Hongjun mundur beberapa langkah, menyaksikan raja hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran dengan terkejut, hanya untuk melihat bahwa meskipun raja hantu berdiri di sebidang tanah yang bersih, mereka yang berada di dekat dua ratus ribu pasukan hantu mayat semuanya hidup kembali di bawah panggilan genderang!

Mereka mengambil senjata dengan tangan mereka, berdiri dengan formasi dua dan tiga orang. Li Jinglong dan yang lainnya segera menjadi cemas, dan mereka melirik Hongjun, mencoba membuatnya kembali ke tempat mereka berada. Lagi pula, tidak ada dari mereka yang ingin diserang oleh kelompok hantu mayat ini untuk kedua kalinya. Tapi kali ini, semua pasukan hantu mayat tampaknya sangat terlatih, dan tidak ada dari mereka yang menyerang secara acak. Mereka hanya mundur seperti air pasang setelah mengambil senjata mereka, membentuk formasi persegi di kaki lembah, di mana mereka menyelipkan senjata berkarat mereka kembali ke sarungnya.

Dong, dong—”

Suara genderang bergema di dataran bersalju, terdengar lebih sunyi dan jauh. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti daratan, dan bahkan angin sepoi-sepoi pun berhenti. Hanya raja hantu yang terus memutar-mutar genderang di tangannya, lagi dan lagi, berirama, seolah-olah dia mengetuk langit itu sendiri, memukul tanah yang luas …

Dua puluh komandan kavaleri muncul di depan formasi persegi, masing-masing mengkomandani sepuluh ribu prajurit. Kemudian datang pemimpin dengan seribu orang, memacu kuda mereka ke depan, lalu pemimpin dengan seratus orang, sepuluh, dan pemimpin pasukan1. Keseluruhan dari dua ratus ribu prajurit hantu mayat dengan cepat membentuk barisan terorganisir dengan bunyi dari genderang ini.

Para anggota Departemen Eksorsisme saling bertukar pandang, keheranan tertulis di mata mereka. Li Jinglong menghela napas lega karena pelarian mereka yang sempit; sebelum ini, prajurit tidak terorganisir sama sekali dan tidak ada taktik militer saat mereka bertempur dalam pertempuran kacau itu. Jika Xuannü benar-benar mengendalikan raja hantu sepenuhnya, maka mungkin saja pertempuran tadi malam tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah.

Genderang itu berhenti, dan dataran ditutupi dengan massa hitam. Pegunungan dan dataran penuh dengan hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran.

Raja hantu melepas helmnya, dan salah satu dari sepuluh ribu komandan maju ke depan, membuka ikatan tas anggur yang dibawanya, dan menuangkan anggur yang kuat ke dalam helm.

“Apa yang sedang dia lakukan?” tanya ikan mas yao.

Ssst,” Li Jinglong memberi isyarat, sebelum Hongjun datang ke sisinya. Kelompok itu kemudian berdiri di sana, berdampingan, memandangi raja hantu di tengah, dua puluh ribu prajurit hantu mayatnya, serta tulang-tulang Liu Fei yang terbaring diam di kaki batu.

Pada saat itu, Hongjun samar-samar berharap bahwa raja hantu akan mengetahui beberapa sihir untuk menghidupkan kembali Liu Fei.

Tapi dia mendengar suara raja hantu bergema melalui dataran bersalju saat dia mengucapkan,

“Pada awal dari segalanya, siapa yang menyebarkan dao di dunia ini? Langit dan bumi belum terbentuk, jadi siapa yang ada di sana untuk melihat penyebar dao?

“Mengetahui alam semesta tanpa batas dan permulaannya yang bahkan lebih tanpa batas, siapa yang dapat menemukan sudut pandang eksternal?”

Dan mengatakan ini, dia mengangkat helmnya, mengangkatnya ke langit seperti dia mengangkat cangkir untuk memberi hormat. “Hidup dan mati terjalin selamanya, terus berlanjut tanpa akhir, dan hanya dalam mimpi mereka akan berakhir!”

Pada saat itu, semua hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran berlutut pada saat yang sama! Seperti pedang yang meninggalkan sarungnya, suara itu seperti raungan sekelompok naga, bergema di lembah tanpa henti!

Semua orang menahan napas dan bertukar pandang, memperhatikan raja hantu mayat, yang masih memunggungi mereka. Hongjun bisa merasakan dengan tajam, sama seperti malam itu di mana Liu Fei sudah menghilangkan racun mayat, energi kuat yang bahkan bisa melampaui hidup dan mati sudah kembali sekali lagi!

Tepat setelah itu, raja hantu mayat memegang helm di tangan kirinya, mencelupkan jari-jari kanannya ke dalam mangkuk, dan menjentikannya ke langit.

“Aku memberi penghormatan kepada langit yang luas ini, semoga semua hal di dunia kembali ke bentuk aslinya.”

Kemudian dia menjentikkan mereka ke arah bumi yang besar.

“Aku memberi penghormatan pada tanah subur di tanah suci ini, semoga semua makhluk hidup kembali dalam diam ke tujuan akhir mereka.”

Pada saat berikutnya, dengan merentangkan tangannya, dia mengirim seluruh helm berisi anggur yang memercik keluar, dengan suara huala, menuju ke tulang Liu Fei. Dia melantunkan, “Aku memberi hormat kepada Raja Jiangdu-ku, karena akhirnya terbebas—”

Dua ratus ribu prajurit hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran semuanya menundukkan kepala mereka, dan pada saat terakhir, semua mengangkat kepalanya lagi. Angin bertiup, dan kerangka itu seketika berubah menjadi titik-titik cahaya yang tak terhitung jumlahnya, naik menuju hamparan biru langit bersama angin liar itu.

Titik-titik cahaya yang halus seperti sungai perak di atas, perlahan naik ke udara, tapi juga seperti gumpalan asap abu-abu, di bawah perhatian semua orang yang hadir, berubah menjadi jalan menuju surga, sebelum akhirnya menghilang ditiup angin.

Setelah manusia mati, bisakah mereka berubah menjadi hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran dan terus hidup? Hongjun mau tidak mau memikirkan anggota keluarganya sendiri yang telah mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini.

“Kapan pertama kali kau mengalami kematian?” Li Jinglong tiba-tiba bertanya padanya.

Mereka berjalan ke depan berdampingan, mengikuti di belakang raja hantu mayat. Dua ratus ribu prajurit yang kuat sudah dikirim kembali, dan hanya dua belas penjaga yang tersisa bersama raja hantu. Mo Rigen memeluk Lu Xu saat dia berjalan di belakang A-Tai dan Ashina Qiong, mengikuti raja hantu, berlari menuju ujung dataran.

Mereka tidak bertanya ke mana raja hantu itu akan pergi. Bertentangan dengan bagaimana keadaannya yang biasanya, semua orang tetap diam, terutama Mo Rigen dan yang lainnya. Seolah-olah ini adalah pertama kalinya mereka melihat sihir yang melintasi batas hidup dan mati, dan itu menyebabkan mereka memikirkan banyak pertanyaan, masing-masing lebih mistis daripada yang terakhir.

Hongjun memperlambat kudanya. Jika dia tidak menghitung adegan dalam mimpinya, ketika dia menyaksikan orang tuanya meninggal, pertama kali dia menghadapi kematian adalah di Istana Yaojin.

“… Waktu itu, aku membawa seekor burung kembali dari pegunungan,” kata Hongjun. “Itu sudah sangat, sangat lama. Aku memohon pada Chong Ming untuk menyelamatkannya, tapi Chong Ming berkata, ‘Setiap yang hidup pasti akan mati. Aku bisa menyembuhkan penyakit, tapi aku tidak bisa menyelamatkan nyawanya.’ Itu pertama kalinya bahwa aku tahu akan kematian.”

“Menurutmu apa itu kematian?” Li Jinglong lalu bertanya.

Dengan pertanyaan itu, Hongjun tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan orang tuanya, dan ekspresinya menjadi suram.

Li Jinglong buru-buru menambahkan, “Aku mengungkitnya tanpa berpikir, tak ada yang lain.”

Saat Hongjun mendongak, dia melihat ekspresi Li Jinglong yang sedikit gelisah, seolah-olah setelah Hongjun terbangun dari mimpinya, dia bisa merasakan jarak yang secara tidak sadar dipertahankan Hongjun di antara mereka. Ini menyebabkan Li Jinglong, di sepanjang perjalanan ini, merasakan rasa terkekang yang tidak dapat dengan mudah dia ungkapkan dengan kata-kata. Seolah-olah dia ingin menemukan beberapa kata untuk diucapkan, tapi dia takut menyentuh hal-hal yang tidak ingin dibicarakan Hongjun.

“Kematian adalah ulat yang meninggalkan kepompongnya dan menjadi kupu-kupu, kembali ke langit yang luas,” raja hantu tiba-tiba berkata. Dia memperlambat kecepatan kudanya, melanjutkan dari depan, “Ini adalah salju yang mencair menjadi air, kembali ke bumi yang besar; itu adalah satu tetes air, tenggelam ke sungai, danau, dan laut. Sejak saat itu, kau tidak lagi dapat membedakan antara dirimu dan seluruh dunia.”


Hamparan tebing batu yang panjang dan tak terputus muncul di kejauhan. Saat itu hampir senja, dan itu adalah wajah gunung batu, yang tingginya lebih dari sepuluh zhang. Di tengah dinding batu ada menara besar yang dicat hijau dengan pagar berukir dari pernis merah, dan tingginya sembilan lantai.

“Wow, Gua Mogao!” Ikan mas yao menjawab pertanyaan yang bahkan belum keluar dari mulut Hongjun.

Raja hantu dan pengawal pribadinya, semuanya turun. Di luar menara sembilan lantai, hanya ada beberapa prajurit yang berjaga. Setelah melihat kelompok itu, mereka semua berdiri tegak, senjata di tangan, dan berteriak, “Siapa kalian?!”

Li Jinglong segera menarik token pinggangnya untuk mengidentifikasi dirinya, tapi raja hantu sudah melangkah maju, jubahnya berkibar di belakangnya saat dia berjalan ke menara sembilan lantai.

“Kalian semua, masuklah ba,” perintah raja hantu, nada itu tidak meninggalkan ruang untuk keraguan.

Di dalam menara sembilan lantai ada Buddha yang duduk agung dan menjulang — salah satu tangan Maitreya diletakkan rata di atas lututnya, sementara yang lain melengkung ke bawah melewati lutut. Raja hantu tampaknya lebih akrab dengan tempat ini daripada tempat tinggalnya sendiri, dia memegang tali di tangannya, liontin batu giok diikatkan ke tali itu. Dia memutarnya dalam beberapa putaran, dan liontin batu giok itu terlepas dari tangannya, melengkung melewati udara, berkedip dengan cahaya yang dipantulkan saat terbang menuju telapak Maitreya yang datar dan memanjang. Mendarat dengan bunyi ding di tengah telapak tangan itu.

“Raja hantu.” Li Jinglong baru saja akan menanyainya, tapi raja hantu mengangkat tangan, menghentikan siapa pun untuk berbicara. Dia kemudian menaiki tangga kayu di samping, sementara para penjaga menyebar untuk berjaga-jaga di sekitarnya. Kelompok itu hanya bisa mengikuti di belakang raja hantu, masing-masing mengikuti yang berikutnya dalam satu baris, naik ke lantai lima. Ketika mereka muncul, mereka sebenarnya berada di atas Gua Mogao. Angin sedingin es seolah menusuk saat raja hantu memimpin kelompok yang berkumpul ke aula yang terang. Aula itu tidak memiliki patung atau gambaran apa pun, dan hanya ada lukisan dinding berwarna cerah yang indah di dinding, dan alas-alas duduk yang berserakan di lantai.

“Bagaimana kami harus memanggilmu?” Li Jinglong bertanya.

“Aku sudah lama lupa akan namaku,” jawab raja hantu. “Terus panggil saja aku Raja Hantu seperti yang kau lakukan sebelumnya. Duduklah ba, di mana saja kau inginkan, ini adalah tanah suci umatku, orang mati yang masih hidup.”

Mo Rigen masih memeluk tubuh Lu Xu yang tidak sadarkan diri, dan raja hantu berkata, “Tempatkan dia di sini.”

Mengatakan ini, dia menunjuk ke ruang di bawah lukisan dinding di aula, dan Mo Rigen menempatkan Lu Xu secara horizontal di lantai di depan. Raja hantu melepas jubahnya dan menutupi tubuh Lu Xu.

Li Jinglong mempelajari lukisan dinding itu dan mengingat kata-kata yang diucapkan ular pasir itu. Dia bertanya, “Di mana lukisan dinding yang digunakan Xuannü dan Dewa Wabah untuk berhubungan dengan raja yao?”

“Cacing itu tidak akan berani datang lagi,” jawab raja hantu muram. “Segera setelah aku terbangun dari mimpi, aku mendapatkan kendali penuh atas area ini. Selama kalian semua berada di Gua Mogao, keamanan kalian terjamin.”

Li Jinglong menghela napas panjang, tiba-tiba merasa lelah luar biasa.

A-Tai bertanya, “Karena kau sangat kuat, bagaimana kau bisa dikendalikan oleh yaoguai di bawah komando raja yao?”

Raja hantu menoleh, melihat ke arah Lu Xu yang berbaring di depan lukisan dinding, dan pandangan itu memperjelas maksudnya.

“Delapan belas tahun yang lalu, Rusa Putih seharusnya terlahir kembali di tubuh manusia, untuk menjaga malam alam manusia,” kata raja hantu perlahan. “Tapi tidak ada yang mengira itu akan terjerat oleh jebakan yang dipasang oleh jiao hitam ‘Xie Yu’, dan karena dua hun dan enam po dicuri, jadi ia terlahir kembali hanya dengan satu hun dan po…”

Begitu dia mengucapkan kata-kata itu, semua orang sangat terkejut. Ini secara kebetulan sejalan dengan hipotesis Li Jinglong sebelumnya. Mo Rigen segera menjadi cemas, tapi Li Jinglong menunjukkan bahwa dia harus tetap tenang.

“Duduklah,” perintah raja hantu setelah melihat bahwa Hongjun masih mempelajari lukisan di dinding.

Hongjun melirik raja hantu, sebelum dia mengangguk dan menyeret alas duduk dengan terburu-buru. Namun, alih-alih menuju ke sisi Li Jinglong, dia duduk di sebelah Ashina Qiong, yang paling jauh.

“Kemarilah.” Raja hantu, seringan angin, menunjuk ke tempat di sebelah Mo Rigen

Hongjun terdiam sejenak, dan raja hantu menambahkan, “Chong Ming dan aku adalah kenalan lama, dan jika kau memanggilku ‘paman’, itu bisa diterima. Di rumah, apa kau juga senakal ini?”

Kali ini, giliran Hongjun yang terkejut, dia berseru, “Kau…”

“Jika kau ingin menanyakan sesuatu, tentu saja aku akan memberi tahumu jawabannya.” Suara raja hantu menahan kerasnya seorang tetua. Saat Hongjun mendengar kata-kata ini, dia tidak bisa tidak mengikutinya, jadi dia duduk di dekat Mo Rigen.

Tatapan raja hantu mengikuti Hongjun di sepanjang jalan, sampai saat dia duduk.

“Kapan Lu Xu akan sembuh?” Tanya Mo Rigen.

“Mungkin akan sangat cepat,” jawab raja hantu dengan datar. “Mungkin, dia tidak akan pernah menjadi lebih baik. Ini semua tergantung pada keputusan apa yang kau buat.”

Mo Rigen adalah orang pertama yang mengerti, dan dia bertanya sebagai jawaban, “Apa yang harus aku lakukan?”

Raja hantu tidak menanggapi; sebaliknya, Li Jinglong-lah yang secara akurat menyentuh titik kunci dari masalah ini.

Li Jinglong: “Apa yang terjadi dengan dua hun dan enam po lainnya?”

Dahi raja hantu berkerut dengan lembut, dia menekan satu tangannya ke lututnya, menyilangkan kakinya dan duduk. Dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Dua hun dan enam po yang tersisa sudah dirusak oleh qi iblis. Hal ini harus diceritakan sejak Xie Yu mulai terobsesi untuk menghidupkan kembali Mara. Sudah hampir empat ratus tahun sejak dia melarikan diri dari penjara, dan dalam empat ratus tahun ini, belum ada raja sejati…”

Hongjun memiliki firasat bahwa apa yang akan dikatakan raja hantu akan sangat terkait dengan kelahiran dan latar belakang Hongjun sendiri, dia segera menahan napas, mendengarkan dengan saksama.

Suku yao di Tanah Suci tidak memiliki raja pada awalnya, atau mungkin akan lebih akurat untuk mengatakan bahwa banyak yao kecil akan mendewakan beberapa eksistensi sebagai penguasa. Misalnya, yaoguai yang agung seperti hantu mayat yang mati dalam pertempuran, Rubah Ilahi Berekor Sembilan, Kun, Peng Raksasa Bersayap Emas, dan sebagainya, yaoguai yang memiliki kekuatan dan latar belakang yang sangat kuat, dengan sihir yang kuat.

Empat yaoguai besar sering disebut “raja yao“, tapi gelar raja ini tidak sama dengan “raja”. Raja hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran tidak pernah mempertimbangkan untuk menyatukan semua suku yao di Tanah Suci, atau membangun semacam tatanan baru. Dengan itu, hampir seribu tahun datang dan pergi, namun suku yao tetap dalam keadaan itu, layaknya tumpukan pasir lepas.

“Itu cukup bagus,” kata A-Tai. “Karena tidak ada konflik, tidak ada pemusnahan.”

Ashina Qiong menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit.

“Suku yao tidak sama dengan kalian manusia,” kata raja hantu perlahan. “Proses kultivasi selama puluhan atau bahkan ratusan tahun untuk mencapai kecerdasan sangat sulit, dan karena ini, yaoguai sangat menghargai kehidupan dan tidak mau melepaskan kultivasi mereka tanpa alasan yang bagus. Tapi di atas suku yao, ada orang yang memegang kekuasaan penuh yang tak terbantahkan… Mara.”

Saat kelompok itu mendengar kata-kata ini, hati mereka berdebar.

“Mara terbentuk dari kebencian di dunia,” kata Li Jinglong seringan angin sepoi-sepoi. “Itu bereinkarnasi sekali setiap seribu tahun. Apa yang aku tidak mengerti, bagaimanapun juga, adalah kenapa suku yao harus mengindahkan perintah Mara? Bukankah bagus untuk terus menjalani hidup mereka sendiri dan terus berkultivasi?”

“Karena suku yao berbeda dari kalian manusia,” jawab raja hantu. “Selain dari Rubah Ilahi Ekor Sembilan, suku yao tidak bisa menangkal korosi Mara. Bukannya kami tidak mau, tapi kami tidak memiliki pilihan selain menyerah padanya.”

Hongjun: “Kenapa?!”

“Jika pertanyaan ini dibahas secara mendalam,” kata raja hantu, setelah berpikir dalam-dalam, “maka itu akan memakan waktu yang lama. Apakah kau yakin ingin mendengarkannya?”

Hongjun ragu-ragu sejenak, sementara Li Jinglong menjawab, “Itu bisa didiskusikan nanti ba.”

Raja hantu berpikir sejenak, sebelum melanjutkan, “Suku yao menyimpan kebencian yang mendalam. Meskipun dikatakan bahwa mereka berkultivasi menjadi bentuk manusia, pada akhirnya sulit bagi mereka untuk meninggalkan haus darah dan kerakusan di dalam hati mereka; manusia, bagaimanapun juga, berbeda. Banyak manusia, saat mereka menemukan diri mereka dalam situasi tanpa harapan, masih berpegang pada kegigihan mereka sendiri.”

“Tapi selama hati mereka condong ke arah yang baik, mereka akan selalu bisa berkultivasi menjadi…” Kata-kata Mo Rigen adalah kata-kata yang menghibur.

“Berkultivasi menjadi apa?” raja hantu bertanya sebagai balasannya. “Berkultivasi menjadi makhluk abadi? Berkultivasi menjadi seorang Buddha?”

Hongjun mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah lukisan dinding. Semua orang mengerti kecurigaan raja hantu; meskipun dikatakan bahwa semua makhluk hidup memiliki kemampuan untuk menjadi seorang buddha, saat yaoguai berkultivasi ke tahap itu, mereka tidak akan lagi menjadi yao.

“Seribu tahun membentuk satu siklus,” lanjut raja hantu. “Kelahiran kembali Mara juga menjelaskan malapetaka yang tak terhindarkan bagi semua makhluk hidup. Saat itu terjadi, kita semua tidak memiliki pilihan lain; meskipun kami tidak mau menyerah pada Mara, kami tidak memiliki kekuatan untuk menentangnya. Tapi dua ratus tahun yang lalu, saat Xie Yu datang mengunjungiku, dia mengusulkan rencana yang dia buat sendiri. Dia ingin menyatukan suku yao, dengan dia sebagai pemimpin mereka dan empat raja lainnya untuk membantunya, dan sebelum Mara terlahir kembali, semua yaoguai di seluruh Tanah Suci akan berada di bawah perintahnya.”

Saat dia mengatakan ini, ikan mas yao tiba-tiba menyeruak. “Kemudian, dia dikirim pergi oleh Chong Ming.”

“Tepat,” raja hantu berkata dengan gampang. “Untuk membuktikan bahwa dia memiliki kualifikasi untuk menjadi raja yao, Xie Yu menantang pemimpin Istana Yaojin. Pertempuran itu membawa kekalahan bagi kedua belah pihak: burung phoenix menjadi mangsa racun apinya, dan kemudian bersumpah bahwa dia tidak akan pernah melibatkan dirinya dalam urusan alam manusia lagi. Dan sementara Xie Yu menjadi raja suku yao di Tanah Suci, dia juga terluka parah, dan dalam dua ratus tahun terakhir, tidak menyebabkan banyak gelombang.”

Li Jinglong bergumam, “Sampai dua puluh tahun yang lalu…”

“Tepat.” Raja hantu mengangguk. “Secara teknis, masih ada lebih dari seratus tahun sampai Mara bangkit kembali, tapi Xie Yu sudah menemukan wadah untuk Mara terlebih dulu…”

Saat dia berbicara pada titik ini, Mo Rigen tanpa sadar melirik ke arah Hongjun, dan jantung Hongjun berdebar kencang.

“Siapa?” Tanya Li Jinglong.

“Aku tidak tahu,” jawab raja hantu. “Tapi yang bisa aku konfirmasi adalah bahwa wadah ini saat ini berada dalam genggamannya.”

Saat dia mendengar kata-kata itu, Hongjun akhirnya menghela napas. Mo Rigen tersenyum sedikit padanya dan mengangguk, menunjukkan bahwa itu baik-baik saja.

Li Jinglong menyaksikan semua ini terjadi, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Sesaat kemudian, dia bertanya, “Kenapa kau mengatakan ini?”

Raja hantu menjawab, “Untuk kedua kalinya Xie Yu muncul di hadapanku, dia sudah bisa mengendalikan qi iblis. Dia secara metodis merusak suku yao lainnya, dan Rubah Ilahi Ekor Sembilan dengan sukarela menyerah padanya. Banyak suku yao di Tanah Suci juga sudah menjadi pengikutnya.”

“Tapi dia tidak berhasil merekrutmu,” kata Ashina Qiong, mempelajari raja hantu.

“Di dalam suku yao di Tanah Suci, jika kita menghitung berdasarkan usia, tidak termasuk Tiga Orang Suci dari Istana Yaojin dan Dewa Kun Laut Utara, akulah yang tertua,” kata raja hantu itu dengan nada mencemooh. “Xie Yu tidak lebih dari seekor ular yang sudah melatih keahliannya selama kurang dari lima ratus tahun, apa yang bisa dia lakukan padaku?”

Li Jinglong langsung teringat “dewa kun” yang matanya ditutupi kain hitam, dan sebuah pikiran melintas di benaknya. Dia sendiri dan Hongjun sudah ditarik ke dalam perebutan kekuasaan yang rumit antara suku yao ini. Meskipun segala sesuatu tampaknya terjadi begitu saja di permukaan, jauh di bawah, dalam arus yang tak terlihat itu, berapa banyak dari situasi ini yang sebenarnya merupakan skema yang dibuat dengan baik oleh yaoguai besar ini?

Untuk Peng Raksasa Bersayap Emas muncul tepat saat Rubah Ilahi Berekor Sembilan berada di ambang kematian, dan bagi dewa kun untuk meminta “satu tubuh” dan “satu hunpo” darinya, ini adalah hal-hal yang bahkan hari ini, tidak peduli seberapa keras dia memeras otaknya, dia tidak bisa menjelaskannya. Jika dia bertemu mereka lain kali, dia harus mendapatkan jawaban saat itu.

Apa yang terjadi selanjutnya cukup jelas. Xie Yu tidak memiliki cara untuk menaklukkan raja hantu mayat, jadi dia mengalihkan perhatiannya untuk mencuri jiwa Rusa Putih, dan dalam sepuluh tahun lebih, sudah berulang kali menyempurnakan dua hun dan enam po Rusa Putih dengan qi iblis. Itu perlahan-lahan merusak mereka. Secara tidak langsung, dia berhasil menyelinap ke alam mimpi raja hantu dan Liu Fei, sehingga mencapai apa yang sudah dia rencanakan sejak awal.

“Kalian semua harus melawan Xie Yu suatu hari nanti,” kata raja hantu dengan jelas, setelah merenung sejenak. “Tidak peduli kapan pertempuran ini terjadi, atau di mana, aku akan memimpin pasukanku ke Dataran Tengah untuk membalas dendam Liu Fei. Saat itu terjadi, kuharap kalian para exorcist bisa memaafkanku.”

Meskipun dia mengatakan “maaf”, kata-kata raja hantu tidak meninggalkan ruang untuk protes. Li Jinglong tersenyum pahit pada dirinya sendiri, berpikir, bahkan jika aku tidak memaafkanmu atas kesalahan itu, apakah aku bisa menghentikanmu?

Mo Rigen akhirnya bertanya, “Lalu, apa yang seharusnya aku lakukan untuk membuat Lu Xu memulihkan kekuatannya sebagai Rusa Putih?”

Dia mengambil tanduk rusa yang dia tempatkan di sampingnya. Meskipun mereka sudah dipotong oleh Hongjun, tanduk itu masih gelap gulita.

“Karena tanduknya sudah dipotong, sihirnya sudah hilang. Setelah dia bangun, kau harus mengeluarkan sihir untuk mengusir qi iblis di tubuhnya,” jawab raja hantu. “Menurut apa yang aku tahu, hanya ada dua cara untuk melakukan ini: satu adalah dengan menggunakan kekuatan Cahaya Hati dan menyinarinya melalui jiwanya; yang lainnya adalah menggabungkan enam senjata Acala menjadi satu, dan menyuntikkan kekuatannya ke dalam hatinya.”

Semua orang mengalihkan pandangan mereka untuk melihat Li Jinglong, yang merasa sedikit kewalahan oleh perhatian yang tiba-tiba ini. Dia bertanya, “Menggunakan Cahaya Hati? Selama itu adalah sesuatu yang bisa aku capai, maka aku tidak akan melalaikan tugasku. Hanya saja, apa yang harus aku lakukan?”

Raja hantu menjawab dengan blak-blakan, “Seberapa banyak hubungan yang dibangun di atas pengalaman hidup dan mati yang kau dan Rusa Putih miliki?”

Ekspresi Li Jinglong adalah salah satu dari kebingungan, dan tanpa mengerti kenapa, dia tanpa sadar melirik Mo Rigen, lalu ke Hongjun.

“Hubungan?” Tanya Mo Rigen.

“Untuk menggunakan Cahaya Hati untuk menerangi jiwanya mengharuskanmu mempercayainya selama bertahun-tahun yang akan datang, dan agar dia merasakan hal yang sama tentangmu,” jawab raja hantu. “Satu-satunya celah yang dimiliki qi iblis untuk merusaknya adalah keinginan. Dan bagi manusia, cinta melahirkan keinginan, dan dari keinginan, harapan muncul. Semuanya dimulai dari satu keinginan, dan dunia bergerak karena satu keinginan….

“Memiliki keinginan berarti mencari, dan untuk mencari tapi tidak memperolehnya adalah akar kebencian. Saat kebencian tumbuh cukup kuat, saat itulah ia berkembang menjadi roh iblis2.”

“Jika kau ingin memurnikan roh iblis, maka kau harus mempersembahkan tujuh emosi dan enam keinginan, lalu gunakan Cahaya Hatimu untuk menyingkirkan kebencian dalam tujuh emosi dan enam keinginannya.”

Mo Rigen: “…”

Li Jinglong: “…”

A-Tai dan Ashina Qiong bertukar pandang, dan A-Tai berkata, “Ini agak sulit dilakukan.”

Hongjun bertanya, “Aku tidak begitu mengerti, apa artinya ini?”

“Kegembiraan, kemarahan, kekhawatiran, ketakutan, cinta, kebencian, dan keinginan,” raja hantu menjelaskan, “adalah tujuh emosi. Keinginan akan nafsu, keinginan akan penampilan, keinginan akan sikap yang megah, keinginan akan suara dan ucapan, keinginan akan kelezatan, dan keinginan akan ditemani adalah enam keinginan. Jika kau hanya berpikir untuk menyelamatkannya sambil menjaga jarak, itu tidak akan berhasil; jika kau tidak akan bisa menemukan semua ini, dari mana kau akan memulainya? Itu hanya akan berhasil jika dia bangun dan kau mencampurkan tujuh emosi dan enam keinginanmu dengannya. Kau kemudian bisa menggunakan kekuatan Cahaya Hati untuk membersihkannya.”

Untuk sementara, ekspresi semua orang menjadi sangat aneh. Li Jinglong dan Mo Rigen bertukar pandang, seutas kebingungan muncul di mata mereka.

Hongjun: “Oh, itu, kita perlu menemukan tempat-tempat ini di mana dia terinfeksi?”

Ikan mas yao berkata ke satu sisi, “Jadi Zhangshi harus menunggu sampai dia bangun, dan dia harus menyukainya, tapi juga marah padanya, tapi juga mengkhawatirkannya, dan dia juga harus takut padanya, mencintainya, dan membencinya, ditambah dia harus…”

“Berhenti, berhenti, berhenti!” Li Jinglong dan Mo Rigen berteriak bersamaan.

Hongjun: “…”

Tapi ikan mas yao melesat seperti meriam yang menembakkan tembakan berturut-turut. “Dia harus jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, dan terlebih lagi, dia harus terpikat dengan penampilannya, setiap tindakannya, suka mendengar suaranya, membelai tubuhnya yang lembut dan lentur, dan akhirnya melakukan ‘itu’ untuknya.”

“Diam!” Li Jinglong meraung, marah.

A-Tai dan Ashina Qiong langsung tertawa terbahak-bahak. Mo Rigen sudah kehilangan akal sehatnya, dan A-Tai terus tertawa sambil berkata, “Maaf, Mo Rigen, aku seharusnya mengkhawatirkanmu, tapi ini terlalu lucu…”

Li Jinglong memprotes, “Tidak mungkin! Raja Hantu, aku sudah berurusan dengan banyak … banyak yao, dan bahkan saat aku menggunakan Pedang Kebijaksanaan untuk membangunkanmu, tujuh emosi dan enam keinginanku tidak tergerak…”

Raja hantu menjawab, “Exorcist, mulai hari ini, qi iblis tidak hanya tinggal di tubuhnya, melainkan dalam hunpo-nya. Situasi ini tidak sama.”

Hongjun bingung harus berkata apa; ini benar-benar terlalu mustahil bagi otaknya bahkan untuk memikirkannya.

“Tapi jika dia ingin menyingkirkan Mara…” Hongjun bertanya, “bukankah dia perlu mencintainya, dan menyentuhnya, dan juga melakukan itu?”

Li Jinglong mengerang, “Jangan katakan itu lagi…”

Raja hantu menjawab, “Kau juga bisa menggunakan enam senjata Acala dan menembakkan anak panah untuk mengakhiri benih iblis itu, menyebabkannya menghilang di vena langit dan bumi. Tapi dengan keadaan hari ini, hun Rusa Putih sudah gelap gulita, dan jika kau bersedia membunuhnya, maka semua kesengsaraan kita akan berakhir dengan itu.”

Setelah mendengar ini, semua orang melihat ke arah Lu Xu lagi. Pada saat ini, Lu Xu terbaring sendirian di bawah lukisan dinding, terlihat sangat menyedihkan.

“Aku sudah mengatakan bagianku,” kata raja hantu. “Kalian semua lakukan apa yang menurut kalian tepat ba.” Setelah mengatakan ini, dia benar-benar bangkit dan pergi.

A-Tai menekankan satu tangan ke dahinya, berkata, “Raja hantu benar-benar menakjubkan, membagi dua pasang di Departemen Eksorsisme kita segera setelah dia muncul, dan menggantinya juga. Hongjun, kenapa kau tidak menganggap pangeran tertua3 kita keluarga?”

Hongjun: “Apa yang kau katakan, A-Tai?!”

“Aku setuju!” jawab ikan mas yao, mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara.

Li Jinglong: “…”

Mo Rigen melirik Li Jinglong, sudah benar-benar bingung. Sesaat kemudian, dia berkata, “Itu tidak mungkin.”

“Bisakah aku memberimu Cahaya Hatiku untuk sementara?” Li Jinglong membalas.

Ashina Qiong sudah tertawa terbahak-bahak sehingga dia tidak bisa duduk tegak. Hongjun memperhatikan Lu Xu, merasakan sakit hati dan ketidakberdayaan. Tanpa mengetahui alasannya, dia memikirkan apa yang dikatakan ikan mas yao sebelumnya, dan dia bahkan merasa sedikit tidak nyaman. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Li Jinglong, tapi saat dia memikirkan Lu Xu yang akan tumbuh sepanjang hidupnya dengan kehilangan dua hun dan enam po, hidungnya sedikit perih.

“Itu tidak bisa diberikan,” kata Hongjun. “Aku pernah berpikir untuk mengambilnya juga.”

Mo Rigen berkata, “Beri aku waktu, pasti ada cara lain … pasti ada.”

Mo Rigen menghela napas panjang dan bangkit, meninggalkan aula. Lalu sisanya menemukan alasan untuk bubar, meninggalkan Hongjun dan Li Jinglong duduk berseberangan.

Li Jinglong berkata, “Ini… Hongjun?”

Saat Li Jinglong melihat bahwa Hongjun sedang duduk di sana dalam kesedihan, semua emosinya bercampur, ekspresinya berubah. Saat dia mengamatinya, dia membungkuk dan mendekat, menarik alas duduk dengan terburu-buru, duduk di depannya. Dia akan membuka mulutnya dan memberikan penjelasan, tapi pikiran Hongjun masih berada di tempat lain, masih memikirkan masalah raja hantu, yaoguai ini yang sudah hidup selama lebih dari seribu tahun dan belajar terlalu banyak rahasia alam manusia.

“Aku juga akan keluar untuk berjalan-jalan,” kata Hongjun. “Kau … pikirkan baik-baik ba.”

Setelah mengatakan ini, Hongjun juga berbalik dan pergi, meninggalkan Li Jinglong, terdiam. Ikan mas yao menahan pintu, menggunakan salah satu matanya untuk menatap Li Jinglong dengan diam-diam, berkata, “Aku juga … akan keluar untuk mencari udara segar.”

“Tidak ada yang peduli padamu!”

Akhirnya, Li Jinglong membentaknya.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Regu dengan lima orang pria.
  2. Ungkapan yang digunakan di sini secara teknis diterjemahkan menjadi “iblis” atau “setan”, tapi ada juga implikasi bahwa itu tidak berwujud, maka menggunakan roh di sini.
  3. A-Tai.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments