“Saat itu, dia masih tidak menyadari apa arti hidup abadi atau kematian abadi yang digenggamnya.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Suara tapak kaki kuda besi yang menghantam tanah sudah menenggelamkan semua suara lain di dunia. Gumpalan salju terus berjatuhan dari pegunungan bersalju saat dua ratus ribu hantu mayat, berbaris masuk, bergegas ke lembah di dalam Pegunungan Qilian!

Lembah ini hanya satu li panjangnya. Li Jinglong menahan napas; barisan depan sudah bergegas keluar. Tapi saat prajurit jangkung itu dan Lu Xu menyerang pada saat yang sama, Li Jinglong berteriak, “Lompat!”

Kelompok itu secara bersamaan bergegas pergi dari tebing. Dengan merentangkan tangan, mereka melompat turun.

Di udara, Hongjun menyiapkan glaive-nya. Dengan sebuah putaran, dia mengumpulkan semua mana di tubuhnya dan menyalurkannya ke glaive — sebelum dia menebas ke kiri, mengirimkan lengkungan energi bilah!

Saat energi bilah meninggalkan pedang, itu menciptakan riak transparan yang berdesing ke luar, menguburnya ke puncak gunung bersalju. Li Jinglong meraih pergelangan tangan kirinya, dan saat mereka jatuh, dia melemparkannya. Hongjun meminjam momentum itu dan berteriak keras, mengirimkan tebasan kedua! Segera setelah tebasan kedua meninggalkan bilah, itu terbang menuju lereng bersalju di sisi lain!

“Gunakan momentum itu!” Li Jinglong meraung.

Kelompok itu terpisah dengan dua dan tiga orang ke lereng bersalju di sisi lain, dan tepat pada saat itu, puncak Pegunungan Qilian bertukar posisi menjadi di atas kepala. Sebagian besar gunung es dan salju yang halus meluncur turun dengan suara gemuruh. Semua orang melompat ke udara lagi, meninggalkan lereng bersalju di belakang, dan melompat ke banyak tali yang menyilangi lembah!

Hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran memperhatikan apa yang terjadi di atas mereka. Lu Xu dengan cepat melihat ke atas, hanya untuk melihat longsoran salju menimpa kepala mereka. Namun, di langit, Xuannü yang berjubah hitam terbang memdatangi mereka dengan kecepatan tinggi, dan dia berteriak, “Lewati secepat yang kalian bisa—!”

Tepat setelah itu, dengan lambaian lengan panjangnya, badai salju sekali lagi tumbuh dari tanah, menyebarkan salju di udara.

Li Jinglong menarik busurnya, mengarahkannya ke raja hantu mayat saat dia berteriak, “A-Tai—!”

“Baiklah!” A-Tai membuka Kipas Dewa Angin-nya dan merentangkan tangannya. Dengan tubuhnya yang berada di udara dan kekuatan Api Suci mengalir ke kipas-nya, dia dengan cepat melambaikannya ke arah badai salju Xuannü.

Api yang menyala-nyala dan angin yang kencang meraung saat mereka meledak di seluruh lembah; badai salju Xuannü langsung menyebar, dan dia terlempar ke belakang. Air terjun salju sekali lagi mulai menggetarkan bumi! Potongan es besar pertama datang menabrak pasukan hantu mayat, saat es dan salju di kedua sisi lembah melaju ke tengah, itu langsung mengubur kekuatan utama seluruh pasukan di bawah salju.

Longsor dengan cepat mulai menyebar ke arah pintu masuk lembah, bertambah semakin lebih cepat. Raja hantu mayat memimpin bawahannya dengan cepat, tapi pada saat itu juga, Li Jinglong, berdiri di atas tali, mengirim anak panahnya terbang.

Di malam yang redup dan gelap, anak panah yang sudah diisi dengan kekuatan Cahaya Hati menerangi seluruh lembah seperti meteor. Itu melewati longsoran salju yang menderu saat membanjiri lembah, mengejar raja hantu mayat!

Segera setelah anak panah meninggalkan busurnya, pasukan yang bersembunyi menerima sinyal mereka, dan mereka secara bersamaan melepaskan pengait besi di atas raja hantu mayat. Dan Serigala Abu-abu, dengan lolongannya, bergegas keluar, melompat di antara beberapa batu di gunung dan berlari menuju pintu masuk lembah!

Pengait besi yang menutupi langit seperti jaring kusut di sekitar raja hantu mayat dan kudanya, menjatuhkannya ke tanah.

Pada saat yang sama, anak panah yang bersinar itu baru saja akan mengubur dirinya ke dalam dada raja hantu mayat, saat dengan sebuah dorongan, raja hantu mayat itu memanggil perisai hitam besar di depannya. Itu memblokir poros anak panah dengan bunyi dang.

Saat anak panah itu mengenai perisai, tabrakan itu menciptakan gelombang energi liar, mengirimkan Lu Xu dan kudanya yang berada didekatnya terbang keluar! Raja hantu mayat menyebarkan perisai-nya dan mengeluarkan raungan yang mengguncang bumi!

Raungan itu membuat gendang telinga mereka sangat kesakitan, dan hampir menyebabkan longsoran kedua! Tepat setelah itu, raja hantu mayat sekali lagi mendorong keluar dengan kedua tangan, dan sebuah polearm1 panjang muncul di genggamannya. Dengan sebuah putaran, dia menyapu dengan polearm-nya dan membuat sebuah lingkaran, memanggil energinya dan menyebarkan longsoran salju yang jatuh di sekelilingnya seperti air terjun!

Raja hantu mayat mundur setengah langkah, dan semua bawahannya berkumpul di sekelilingnya. Raja hantu mayat kemudian mengulurkan tangannya seolah-olah dia merasakan sesuatu. Sejumlah besar qi hitam dimuntahkan dari tangannya, bergegas keluar, melingkari salju dan es disekitarnya yang terus runtuh menimpa mereka.

Para bawahan hantu mayatnya memancarkan qi hitam dari seluruh tubuh mereka, seperti aliran yang tidak terputus, karena mereka semua berdiri di posisinya, seolah-olah mereka sedang membentuk barisan! Dan dengan raungan lain, raja hantu mayat mendorong tangannya keluar, menangkap momentum dari seluruh massa salju dan es yang menumpuk dengan sendirinya! Qi hitam itu menyapu bebatuan yang longgar dan bongkahan es, dan dengan paksa membersihkan lembah menjadi area kosong yang luas!

“Tebasan lain?” Tanya Hongjun, terengah-engah, dengan glaive masih ada di tangannya.

Tapi Li Jinglong meraung, “Gunakan panahku sebagai sinyal! Hancurkan sihirnya!”

Li Jinglong menarik busur panjangnya, dan anak panah itu bersinar dengan cahaya terang benderang. Tapi pada saat dia akan menembakkannya, dia tiba-tiba mendengar siulan di udara.

Jubah Liu Fei menggelombang di belakangnya saat dia melompat ke udara dari puncak pegunungan es. Dengan pedang angin di tangannya, lengannya terentang, dia menjatuhkan diri menuju lembah yang ada di bawah! Angin liar berhembus melewati lubang-lubang di pedang angin-nya, dan dengan suara weng, seperti beberapa binatang aneh yang terbangun, para prajurit di sisi raja hantu mayat semuanya terpencar. Sebelum ada yang bisa bereaksi, Liu Fei sudah berada tepat di atas kepala raja hantu mayat itu.

Raja hantu mayat segera mengubah strategi, menggunakan polearm panjangnya untuk memblokir pedang angin di tangan Liu Fei. Begitu kedua senjata itu bertabrakan, benturan panjang dari bilah itu bergema di lembah!

Pedang baja di tangan Liu Fei bergetar saat itu berdering, dan dengan sebuah tebasan, dia meraung dengan marah, “Rajaku!”

Raja hantu mayat itu melompat ke udara, dengan segera meninggalkan lembah di belakangnya.

“Kejar!” Li Jinglong meraung, dia menyimpan busur dan anak panahnya saat bergegas menuruni jalan gunung bersama dengan kelompok itu. Semua prajurit berteriak keras, dan dengan pedang dan bilah di tangan, mereka bergegas turun dari kedua sisi lembah.

Datarannya tampak kacau balau, dan di mana-mana ada hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran. Suara pedang angin bergema ke cakrawala, dan saat mereka berlari ke dataran, Hongjun hanya bisa berlari ke arah suara itu. Tiba-tiba, suara A-Tai terdengar di telinganya, berteriak, “Awas!”

Seekor naga api meledak, menghasilkan gelombang kehangatan yang menyebar ke luar saat menerangi medan perang. Di sekelilingnya ada hantu mayat yang terhuyung-huyung, membawa pedang dan menembus api yang menerangi malam, dan Serigala Abu-abu meraung, “Aku melihat Lu Xu! Aku akan menyelamatkannya!”

Li Jinglong balas berteriak, “Berpencar dan bertindak secara terpisah!”

Hongjun melompat ke punggung Serigala Abu-abu, dibawa olehnya, saat mereka bergegas di sepanjang garis depan tempat hantu mayat dan pasukan Tang bertarung.

Ekspresi Li Jinglong berubah. “Hongjun tidak bisa pergi!”

Tapi Serigala Abu-abu berlari terlalu cepat, dan Li Jinglong tidak bisa lagi mengejar mereka. Dia kemudian mendengar ledakan besar dari pedang angin, dan hanya bisa berbalik dan bergegas menuju ke pusat pertempuran!


Di mana-mana di medan perang tersebar hantu mayat yang terbakar, sebelum sekali lagi badai salju muncul, disertai dengan kemarahan surgawi Xuannü. Dia meraung, “Siapa yang berani datang—!”

“Yo,” kata A-Tai, tersenyum sambil memegang kipasnya. “Cantik, tidak baik memiliki temperamen yang meledak-ledak seperti ini.”

Dengan itu, A-Tai mengayunkan kipasnya lagi, api yang panas menyembur keluar, bertabrakan dengan badai salju yang memenuhi langit.

Adegan itu tampak sangat luar biasa, saat sebuah garis nyala api naik dari bumi mencapai ke langit. Dari cakrawala, semburan salju dan es berdesing, sebanyak bintang di langit. Langit malam diterangi oleh sinar yang terang dan cahaya salju, dan ribuan pasukan yang bertarung di bawahnya secara mengesankan berada di dalam keajaiban alam!

Xuannü menarik napas dalam dan mengendalikan amarahnya, tapi tepat saat dia hendak terbang menuju medan pertempuran, A-Tai dilempar ke langit oleh hembusan angin yang kuat. Dia tersenyum. “Lawanmu adalah aku.”

Dengan lambaian lengan bajunya yang mengalir, Xuannü memperlihatkan wajahnya yang hitam pekat, sangat mengejutkan A-Tai. Kedua belah pihak mengeluarkan sihir mereka sendiri, dan pada saat itu, api dan es tampak seperti ribuan meteorit, bertabrakan dengan liar di udara!


Dengan Pedang Kebijaksanaan di tangan, Li Jinglong bergegas menuju tempat pedang angin memekik tanpa henti, hanya untuk melihat bahwa Liu Fei dan raja hantu mayat sudah berubah menjadi dua bayangan yang bergerak cepat, bertarung. Liu Fei berteriak, “Bangun!”

Tepat setelah itu, Liu Fei menekan raja hantu mayat itu ke tanah dan mengirim satu tinju cepat ke wajahnya. Raja hantu mayat mengeluarkan raungan marah, menendangnya dengan satu kaki. Liu Fei kembali jatuh, terbanting keras ke batu besar, dan raja hantu mayat bergegas lagi, menekannya ke tanah bersalju. Pada saat itulah Li Jinglong bergegas dari belakang, menikamkan pedangnya ke punggung raja hantu mayat, raja hantu merasakannya dan berbalik, menyapu kakinya. Li Jinglong tidak bisa mengelak tepat waktu dan terpukul di sisi pinggangnya, langsung jatuh ke salju!

Raja hantu mengangkat tangannya, memanggil polearm panjang itu kepadanya, tapi tepat saat dia akan menikamkannya ke dada Li Jinglong, dua pisau lempar terbang, menuju tepat ke wajahnya. Raja hantu dengan ganas bersandar ke belakang, helmnya terlepas, rambut hitamnya berayun tertiup angin saat dia berbalik dan melirik musuh baru ini.

“Hongjun?!” Li Jinglong berteriak.

“Ini aku.” Ashina Qiong mengeluarkan dua pisau lempar lainnya, mengangkat leher dan bahunya, sampai terdengar bunyi kretek tajam. Dia berdiri di lapangan bersalju, memperhatikan setiap gerakan raja hantu.

“Jangan serang dia secara langsung!” Li Jinglong menyeret Pedang Kebijaksanaan, tapi saat dia akan bergegas maju untuk menyerang, Ashina Qiong sudah bergegas maju seperti angin kencang. Pisau lemparnya dijepit di antara jari-jarinya yang membentuk kepalan tangan, melesat tepat ke tenggorokan raja hantu!

Nasihat Li Jinglong sudah terlambat. Ashina Qiong menghantamnya, tapi raja hantu itu hanya menahannya dengan satu tangan dan mengangkat satu kakinya. Mereka berdua bertukar pukulan dengan kaki mereka, sebelum kepalan tangan kiri raja hantu itu melesat, mengenai dada Ashina Qiong. Ashina Qiong hanya merasa bahwa kekuatan besar itu seolah-olah seperti sebuah gunung yang menghantamnya secara langsung, dia memuntahkan seteguk darah dari mulutnya saat dia jatuh ke belakang!

“Monster… apa ini…” Ashina Qiong berkata dengan putus asa sambil berdiri dengan terhuyung-huyung. “Aku tidak akan bertarung lagi! Aku pergi!” Dan setelah mengatakan ini, dia benar-benar berbalik dan berlari, pergi untuk mendukung kelompok Mo Rigen.

Li Jinglong: “…”

Liu Fei: “…”

Liu Fei berjuang untuk bangkit. Dia dan Li Jinglong yang memegang Pedang Kebijaksanaan, berdiri satu di depan dan satu di belakang, menghadap ke raja hantu. Raja hantu juga tidak mengejar Ashina Qiong, melainkan berbalik menghadapi Li Jinglong.

Hantu mayat di sekitarnya membanjiri mereka, seperti yang dipikirkan Li Jinglong pada dirinya sendiri, sial, Liu Fei segera memutar pedang anginnya dan menyalurkan mananya.

Dengan bunyi weng, pedang angin mulai bergetar. Gerakan hantu mayat di sekitarnya melambat, seolah-olah mereka takut, dan mereka menghindari Liu Fei serta Li Jinglong.

Raja hantu mayat itu menoleh, menggunakan matanya yang kabur untuk melihat ke arah Liu Fei. Li Jinglong membuat Pedang Kebijaksanaan bersinar dengan cahaya yang terang, menahan napas saat dia mengamati gerakan lawannya; dia harus mengalahkannya dalam satu pukulan! Kalau tidak, jika dia terkena bahkan oleh salah satu pukulan itu, dia mungkin tidak akan pernah bisa bangun lagi!

Semua hantu mayat di sekitar mereka mundur saat Liu Fei memusatkan perhatiannya pada raja hantu mayat. Raja hantu mayat itu terdiam, sebelum secara perlahan membuka telapak tangannya. Cahaya merah menyala di tengah, memperlihatkan sebuah gendering2. Raja hantu kemudian mencengkeram genderang dan memutarnya.

Dengan dua bunyi du du, semua hantu mayat di medan perang berhenti di jalur mereka, berbalik dan berlari menuju ke pusat pertempuran!

Liu Fei meraung, “Raja!”

Hantu mayat yang baru saja terpencar sekali lagi mengangkat busur mereka, mengarahkan busur mereka ke Liu Fei dan Li Jinglong. Raja hantu mayat memutar genderangnya lagi. Pedang angin Liu Fei terlepas dari genggamannya, terbang menuju raja hantu, yang mengangkat tangan dan menangkapnya, sebelum berbalik dan berjalan menuju Li Jinglong.

Li Jinglong tidak memiliki cara untuk melarikan diri lagi. Dia hanya bisa menggenggam Pedang Kebijaksanaan-nya lebih erat, menggertakkan giginya dan bersiap untuk menghadapinya secara langsung!


“Apa yang terjadi di sana?!” Hongjun berbalik dan melihat ke kejauhan. Semua hantu mayat sudah menyerah sepenuhnya untuk bertarung, bergegas dengan liar menuju pusat medan pertempuran. Bahkan hantu mayat di lembah yang sudah terkubur oleh salju dan es sebelumnya berjuang tanpa henti, berjuang untuk berdiri ke posisi tegak.

Serigala Abu-abu melaju dengan keempat kakinya, bahkan saat ia menoleh untuk melihat ke belakang, sebelum meraung, “Kita tidak akan berhasil tepat waktu! Ayo temukan Lu Xu terlebih dulu! Hanya setelah menemukan Lu Xu, kita bisa membangunkan raja hantu mayat itu!”

Lu Xu dengan jubah hitamnya saat ini sedang berdiri tegak mengamati pertempuran, tapi setelah melihat Serigala Abu-abu dengan Hongjun di punggungnya bergegas mendekat, dia terkejut, sebelum turun dari kudanya. Dengan langkah cepat, dia mulai berlari menuruni lereng gunung. Serigala Abu-abu tiba-tiba berputar dan mengejarnya, tapi meskipun kecepatan Lu Xu secepat kilat, Serigala Abu-abu terus mengejarnya tanpa henti.

Hongjun berteriak, “Kau tidak bisa mengejarnya jika kau membawaku!”

Serigala Abu-abu menggertakkan giginya. “Aku akan melakukan yang terbaik!”

Hongjun berteriak, “Bawa dia kepadaku!” Dan dengan itu, dengan sebuah putaran, dia melompat dari punggung Serigala Abu-abu, berguling saat dia mendarat di salju, sebelum berlari menuju batu besar terdekat. Serigala Abu-abu menyusutkan ukurannya dan mulai mengejar Lu Xu dengan liar.

Tanpa beban, kecepatan Serigala Abu-abu sebenarnya sedikit lebih cepat daripada Lu Xu. Bahkan saat Lu Xu berlari, Serigala Abu-abu terus mengikis jarak di antara mereka. Tepat saat Serigala Abu-abu hendak menerkam dan menahannya, Lu Xu benar-benar meledakkan qi hitam saat dia berlari, berubah menjadi rusa yang benar-benar sehitam tinta, berlari ke langit!

Serigala Abu-abu menerkam udara kosong, dan dengan meminjam momentum itu, seluruh tubuh Rusa Hitam meledak dengan qi saat ia menundukkan kepalanya dan menabrakkan tanduknya ke Serigala Abu-abu. Serigala Abu-abu dikirim terbang ke udara, tapi karena itu gagal, ia menangkap salah satu tanduk Rusa Hitam dengan cakarnya. Seketika, dua binatang besar itu jatuh ke tanah. Meskipun Rusa Hitam berjuang, Serigala Abu-abu dengan tegas menolak untuk melepaskannya. Satu serigala dan satu rusa berguling-guling dengan liar di salju.

Pisau lempar di tangan Hongjun berputar saat dia ingin pergi membantu Serigala Abu-abu, tapi serigala dan rusa mengirim badai salju ke udara, membuatnya sulit untuk membidiknya. Serigala Abu-abu menekan Rusa Hitam ke tanah, dan raungan keluar dari mulutnya. Tiba-tiba, lolongan serigala bergema di seluruh negeri, dan seluruh tubuh Rusa Hitam memancarkan qi hitam, seolah-olah ada sesuatu yang dikeluarkan dari tubuhnya!

Ia menoleh, suara Lu Xu keluar dari mulutnya. “Serigala… Abu-abu…” kata Rusa Hitam dengan suara rendah. “Menyerahlah ba, Rusa Putih sudah lama mati…”

Seluruh tubuh Serigala Abu-abu tampak menyala dengan nyala api biru, dan cahaya putih keluar dari matanya saat dia meraung, “Siapa sebenarnya dirimu?! Kau sudah mengambil alih tubuh Rusa Putih?!”

Rusa Hitam menjawab dengan tenang, “Hal yang paling menyakitkan di dunia ini bukanlah kehilangan seseorang, atau menjadi orang lain… melainkan bahwa, dalam perjalanan di setiap siang dan malam saat kau masih hidup, kau harus melihat banyak sekali makhluk di dunia ini menderita di bawah siksaan dunia, meninggalkan penderitaan yang tak terbatas…”

Dari tanduk Rusa Hitam yang indah, qi hitam dimuntahkan, menyebar melintasi dataran bersalju dalam ribuan sulur sutra tipis. Mereka terjalin menjadi jaring besar yang melilit seluruh tubuh Serigala Abu-abu.


Di dalam massa pasukan hantu mayat, Li Jinglong dan Liu Fei mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Namun bagi raja hantu mayat, saat dia mengayunkan polearm-nya, bertarung satu lawan dua, dengan mudah berhasil menekan mereka berdua. Meskipun Li Jinglong sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melawan, dia masih memegang Pedang Kebijaksanaan di tangannya dan memiliki Cahaya Hati di dadanya, yang tampaknya masih ditakuti oleh raja hantu. Namun, Liu Fei adalah yang paling dikalahkan dari mereka; zirah di seluruh tubuhnya sudah benar-benar retak. Dengan itu, raja hantu mayat bergegas, menyerang dengan serangkaian pukulan, benar-benar memotong lengannya!

Li Jinglong berteriak: “Liu Fei!”

Raja hantu itu berbalik, dengan polearm di tangannya saat dia berjalan menuju Li Jinglong. Sebagian besar tulang di tubuh Liu Fei sudah patah, tapi dia masih berdiri dengan gemetar, rambutnya tergerai dan tidak terikat. Dia tersenyum pahit, melirik Li Jinglong.

Pada saat itu, Li Jinglong mengerti bahwa Liu Fei sedang mencari kematiannya sendiri, dan jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang.

Tepat setelah itu, Liu Fei menguatkan dirinya dan berlari ke depan, berteriak, “Serang!”

Li Jinglong memegang Pedang Kebijaksanaan, mengulurkannya ke arah raja hantu!

Raja hantu itu menghindarinya dan hendak menikam Li Jinglong sampai mati di tempat, tapi Pedang Kebijaksanaan Li Jinglong sudah mencapai bagian depan dadanya. Liu Fei, bagaimanapun, mengeluarkan raungan liar. Dengan tangannya yang tergenggam, dia melompat ke udara, mendarat di punggung raja hantu, menggunakan postur itu untuk meraih kepalanya. Li Jinglong mengambil kesempatan ini, mengirim sebuah tusukan langsung ke dadanya!

“Jangan… membahayakan neidan-nya…” Dengan susah payah, Liu Fei mengunci leher raja hantu itu.

Kekuatan Cahaya Hati menjalar dari dada Li Jinglong ke lengannya, lalu ke Pedang Kebijaksanaan. Itu mengalir menuju ke raja hantu, yang segera mengeluarkan raungan marah saat dia hangus tanpa henti oleh cahaya putih itu, tangannya dengan marah meraih Pedang Kebijaksanaan!

Li Jinglong merasa bahwa kekuatan Cahaya Hati-nya sendiri saat ini mengalir deras ke tubuh raja hantu, melawan kabut hitam di tubuhnya.

Tapi pada saat berikutnya, raja hantu mengeluarkan raungan liar dan mendorong Li Jinglong ke samping. Sama seperti Li Jinglong yang mencurahkan seluruh energinya di tempat lain, dia mendapat pukulan di bahu, dan dia segera merasakan tulangnya yang ada di sana patah saat dia jatuh ke tanah. Begitu Cahaya Hati menghilang, raja hantu dengan marah meraih Liu Fei yang menempel di punggungnya, dan dengan sebuah lemparan, dia mengirimnya terbang jauh!

Pada saat itu, polearm muncul di tangan raja hantu saat dia berlari. Liu Fei berjuang untuk bangkit, tapi dia tertusuk tepat di dadanya dalam satu pukulan! Dalam sekejap dadanya tertusuk, disertai bunyi ding ringan. Neidan raja hantu mayat di tubuh Liu Fei dengan tanpa ampun ditusuk oleh polearm itu. Itu retak, hancur, dan meledak menjadi awan kabut hijau. Penghancuran polearm belum berakhir, menjatuhkan Liu Fei ke tanah bersalju!

Mata Liu Fei melebar. Awan hijau di depan dadanya menyebar ke udara, melingkar di sekitar pegangan polearm.

“Liu Fei—!” Li Jinglong meraung liar, berjuang untuk berdiri.

“Aku… akhirnya…” gumam Liu Fei, “sudah membebaskan Raja, mulai sekarang… itu hanya akan… ada kau yang tersisa… sendirian…”

Mata Liu Fei masih terbuka, bahkan saat daging di sekujur tubuhnya mulai membusuk, dapat terlihat bahkan dengan mata telanjang. Hanya dalam beberapa saat, dia berubah menjadi tulang putih, sementara kabut hijau itu menyelimuti seluruh tubuh raja hantu, seperti roh tanpa tubuh, menahan gerakannya.

Li Jinglong sekali lagi menyiapkan pedangnya dan bergegas, dan dengan teriakan yang menyedihkan, dia menikamkan Pedang Kebijaksanaan ke punggung raja hantu!

Cahaya putih melesat keluar, dan raja hantu melepaskan polearm-nya, lututnya menjadi lemah, dan ambruk ke salju. Li Jinglong dengan liar menyalurkan cahaya Cahaya Hati ke tubuhnya. Raja hantu itu memalingkan wajahnya ke langit dan mengeluarkan raungan kesakitan. Dari telinga, mata, mulut, dan hidungnya, asap hitam yang sudah dimurnikan oleh kekuatan Cahaya Hati keluar.


Di langit, A-Tai mengejar Xuannü, dan mereka terbang menuju puncak pegunungan bersalju.

Dari jauh terdengar raungan raja hantu, A-Tai tersenyum. “Cantik, giliranmu dalam permainan catur ini sudah berakhir, bukan? Sudah waktunya untuk mundur.”

Xuannü menarik jubah luarnya ke sekelilingnya, dan dia berkata dengan nada yang kelam, “Terlalu cepat untuk mengatakannya!”

Dalam sekejap, Xuannü mengungkapkan wujud telanjangnya yang seputih salju. Hanya wajahnya saja yang hitam pekat. Bersamaan dengan itu, ada kilatan cahaya es yang dingin, A-Tai terkejut, takut bahwa Xuannü berencana untuk mengakhiri dirinya sendiri dan dia pada saat yang sama. A-Tai segera memindahkan dirinya dan memanggil angin kencang, terbang tinggi ke langit, sebelum membungkuk dan dengan kuat mengipasinya sekali dengan Kipas Dewa Angin. Es yang berkilau, api yang menyala-nyala, kilat yang berderak, dan pasir yang berterbangan tercurah dalam jumlah yang besar!

Xuannü sudah berubah menjadi kristal es, dan sekarang dia membuka mulutnya dan meraung. Di atas gunung dan tanah yang terhubung dengannya, lapisan es dengan cepat berkembang, dan dalam sekejap, seluruh tanah ditutupi dengan lapisan es itu! Dengan lambaian tangan Xuannü, lapisan itu hancur, berubah menjadi bilah tajam yang melesat ke arah A-Tai!

A-Tai hanya bisa naik lebih tinggi, menarik lengannya kembali, di mana mereka menjadi penghalang di depannya. Api berkobar mengelilingi seluruh tubuhnya, dan suara peng peng terus berlanjut sampai semua bilah es di depan dinding angin meleleh.

Tapi dengan tawa dingin, Xuannü berbalik, dan dengan shua, dia berubah menjadi kepingan salju yang menutupi langit dan menghilang.


Pada saat yang sama, di tanah bersalju, Serigala Abu-abu dan Rusa Hitam berguling-guling, saling bertarung satu sama lain. Setelah Rusa Hitam menggunakan qi hitam yang memancar dari tanduknya untuk menjebak Serigala Abu-abu, ia melompat ke udara, berubah menjadi wujud Lu Xu saat mendarat. Dia mencoba melarikan diri saat tiba-tiba, Ashina Qiong muncul di depannya.

“Hancurkan!” Pisau lempar Ashina Qiong meninggalkan tangannya pada saat yang sama, ditembakkan ke arah Lu Xu. Lu Xu mencondongkan tubuhnya ke belakang untuk menghindarinya, dan pada saat itu, Ashina Qiong berubah menjadi bayangan, melesat ke arahnya!

Di udara, Ashina Qiong dan Lu Xu saling bertabrakan. Lu Xu berhasil menangkap pisau lempar Ashina Qiong, dan mereka dengan cepat melesat ke dalam genggamannya.

Kepingan salju jatuh dari langit, melayang begitu lambat seolah-olah membeku di udara di antara mereka berdua. Pada saat itu, Lu Xu dan Ashina Qiong masing-masing menyerang dengan satu pisau, mereka saling bertabrakan diikuti dengan bunyi denting ringan. Kepingan salju terbang menuju bilahnya, dan saat bilahnya akhirnya berpisah, mereka sudah bertukar lebih dari dua puluh pukulan dalam waktu yang sekejap itu!

“Bagaimana bisa dia secepat ini?!” Ashina Qiong tidak memiliki waktu untuk terheran-heran; dia bertukar pukulan dengan Lu Xu hanya berdasarkan keterampilannya. Kepingan salju terpotong di bawah kekuatan itu, berubah menjadi kristal es. Tinju dan tendangan terbang bolak-balik, dan kilatan cahaya yang memantul dari bilah memenuhi langit. Setelah lima pukulan lagi, sebuah bayangan tiba-tiba melesat melintasi lapangan bersalju.

“Serbuk Lihun sudah tiba!”

Lu Xu: “…”

Sebelum dia bisa bertahan melawannya, Lu Xu disembur dengan Serbuk Lihun yang disemprotkan oleh ikan mas yao yang bersembunyi di salju. Dia bersin sekali, dan seutas kebingungan muncul di matanya. Ashina Qiong mengeluarkan raungan marah.

“Terima ini—!”

Ashina Qiong akhirnya melihat celah di pertahanannya, dan dengan gerakan cepat, dia menggunakan kaki kirinya untuk menendang dada Lu Xu.

Lu Xu sudah kehilangan satu tukaran pukulan. Tapi pukulan ini mematikan, dan dia segera terbang mundur seperti anak panah yang meninggalkan busurnya. Saat itu, Serigala Abu-abu sudah berhasil melawan qi hitam, dia melompat ke udara, rahangnya berada dekat di sekitar Lu Xu!

Lu Xu sekali lagi mengambil bentuk rusa di udara. Dengan lompatan yang anggun, ia hampir berlari menjauh, keempat kuku kakinya menginjak udara yang tipis, tapi Serigala Abu-abu menggigit kaki Rusa Hitam dari samping. Dengan raungan keras, serigala menyeretnya dengan kuat ke tanah, melemparkannya ke arah batu besar!

“Hongjun!” Serigala Abu-abu meraung, setelah membanting Rusa Hitam ke arah batu besar, “Potong tanduknya!”

Hongjun akhirnya menemukan sebuah kesempatan, dia mengangkat glaive-nya, melompat ke udara dari batu besar. Rusa Hitam mengangkat kepalanya, qi hitam tiba-tiba muncul dari tanduknya, tapi ditekan ke tanah oleh Serigala Abu-abu. Dalam sekejap, glaive Hongjun datang menebasnya!

Dengan jentikan yang rapuh dari batu permata yang pecah, glaive itu meledak dengan cahaya yang terang; sepotong bilah benar-benar terbang!

Hongjun mencengkeram glaive-nya lebih erat lagi, dan dengan suara dentuman yang keras, qi dibilahnya meledak. Tanpa ragu sedikit pun, dia menebas lurus ke bawah!

Tangan yang digunakan Hongjun untuk memegang bilahnya terus bergetar. Gelombang kejut tadi benar-benar sudah menghabiskan semua sihir di tubuhnya.

Rusa Hitam berbaring di tanah, kejang-kejang tanpa henti. Dua tanduk yang sudah dipotong mengeluarkan asap hitam tebal, yang membumbung ke langit.

“Bagaimana… bagaimana kau tahu bahwa kau harus memotong tanduknya?” Hongjun tidak bisa menahan tangannya, dan dia bahkan tidak bisa memegang glaive-nya, yang telah jatuh ke tanah.

Serigala Abu-abu kembali menjadi Mo Rigen, berkata, “Zhangshi… menebak sebanyak itu. Lu Xu?! Lu Xu!”

Tubuh Rusa Hitam terus menyusut, berubah menjadi Lu Xu yang mengenakan pakaian hitam tergeletak di tanah bersalju. Luka gigitan di bahu kiri Lu Xu yang ditinggalkan oleh Mo Rigen terus merembeskan darah tanpa henti, bahkan saat jubah hitamnya berubah menjadi putih.

“Lu Xu?” Hongjun terhuyung-huyung saat maju, setengah mengangkatnya. Mo Rigen dan Ashina Qiong juga bergegas maju.

Pada saat yang sama, raungan raja hantu terdengar di telinga mereka. Pasukan hantu mayat di seberang medan perang semuanya terpencar, dan dengan serangkaian pedang yang saling berbenturan, semua hantu mayat itu tumbang.

Li Jinglong merasa hatinya sangat sakit. Dia mundur setengah langkah, melepaskan Pedang Kebijaksanaan.

Tubuh raja hantu mayat yang seperti gunung itu jatuh ke depan, menghantam tanah dengan keras, ambruk di depan Liu Fei, yang sudah berubah menjadi kerangka.

Bintang-bintang bersinar terang di atas kepala, dan tanah dipenuhi dengan kerangka yang mengenakan zirah. Cahaya menyinari tulang putih Liu Fei, bersandar dalam diam ke batu besar di tengah medan perang. Angin sepoi-sepoi mengangkat kerangka kunci panjang, yang membumbung bersama dengan angin.

Di depannya masih ada sosok heroik raja hantu mayat yang ambruk, bersama dengan Li Jinglong, yang berjuang untuk berdiri dengan dukungan pedangnya. Tatapan Li Jinglong dipenuhi dengan kebingungan, dan di medan perang ada pasukan Tang, yang sama-sama kebingungan.

Matahari terbit, menerangi Tembok Besar yang membentang sejauh ribuan li.

Di bawah bayangan pegunungan, Mo Rigen menekankan tangannya ke dahi raja hantu mayat, menggumamkan mantra. Tapi di tubuhnya, sudah tidak ada lagi qi hitam untuk dimurnikan.

Hongjun, A-Tai, Li Jinglong, dan Ashina Qiong, mereka berempat dengan tenang mengamati ekspresi raja hantu.

Tubuhnya sangat kuat, dia bahkan lebih tinggi setengah kepala dari Li Jinglong, dan set zirah Qin-nya tidak bisa dihancurkan seperti gunung.

Matanya tertutup rapat, dan Mo Rigen berkata, “Aku tidak tahu apakah aku bisa membangunkannya.”

“Aku bermimpi sangat panjang…” kata raja hantu dengan suara rendah.

Nada suaranya serak seperti Liu Fei, dan saat dia berbicara, dia perlahan membuka matanya.

Kelompok yang berkumpul mundur selangkah, melihat raja hantu mayat dengan waspada.

“Dalam mimpiku, aku membunuh saudara terdekatku,” lanjut raja hantu mayat itu.

Matanya tidak lagi berkabut, dan seperti mata Liu Fei saat pertama kali dia terbangun, garis samar pupil menyatu di dalamnya. Warna kulitnya tidak berbeda dengan kulit manusia hidup, dan dia tidak memiliki bintik lebam mayat3, juga tidak tampak kering. Satu-satunya hal yang menunjukkan identitasnya adalah warna putih keabu-abuan itu.

“Sekarang, siapa yang akan memberitahuku, apakah itu nyata atau tidak?” Tanya raja hantu mayat.

Tidak ada yang merespon. Mereka semua hanya memperhatikannya dengan tenang. Dia duduk di dekat Tembok Besar, punggungnya menempel ke dinding, menatap ke langit pagi yang luas dan berwarna biru giok. Tiba-tiba, dia berbicara. “Aku sudah lama tidak melihat pagi…”

Angin sepoi-sepoi mulai bertiup. Hongjun berbalik, berjalan perlahan menuju pusat medan perang, melangkah di atas tanah yang dipenuhi tubuh hantu mayat, sebelum berhenti di depan kerangka itu.

Zirah berkarat yang sudah retak sampai berkeping-keping, dan hanya menyisakan rangka kepala Liu Fei, lubang di mana matanya menatap kosong ke awan putih di langit. Polearm panjang itu masih tersangkut di tulang rusuknya yang hancur dan cekung.

Hongjun berkata dengan pelan, “Sebenarnya, kau juga tidak berada di bawah pengaruh kutukan abadi, Liu Fei.”

Saat itu, dia masih tidak menyadari apa arti hidup abadi atau kematian abadi yang digenggamnya.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Berikut adalah gambar kepalanya yang akan terlihat (tubuh kayunya akan dilampirkan di sebelah kiri).* Berikut adalah gambar kepalanya yang akan terlihat (tubuh kayunya akan dilampirkan di sebelah kiri)
  2. Genderangnya kek gini kali ye. Dan sepertinya sama kek yang ada di Dinghai.Dengan dua bunyi du du, semua hantu mayat di medan perang berhenti di jalur mereka, berbalik dan berlari menuju ke pusat pertempuran!
  3. Lebam mayat (livor mortis) terjadi setelah kematian klinis. Eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi, mengisi vena dan venula, membentuk bercak warna merah ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments