“Aku Sangat Menyukaimu~”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


“Li Jinglong, kau dan bawahanmu harus tinggal sebentar di Istana,” kata Li Longji. “Dan yang lain, kalian pergilah, ini sudah larut. Guozhong, kau dan Changqing akan pergi bersama ke ruang pemeriksaan besok.”

Mereka semua memberi hormat secara berturut-turut dan mundur. Li Longji dan Yang Yuhuan berbalik lalu memasuki aula belakang Istana Xingqing. Li Jinglong tahu bahwa masalah hari ini pasti sangat mengejutkannya. Kaisar tidak akan bisa memikirkan masalah sebanyak ini dengan jernih hanya dalam waktu singkat, jadi dia harus diberi waktu lebih banyak. Li Jinglong menghunuskan pedangnya dan membalikkan mayat rubah-rubah yao yang sudah terbakar.

“Kau mungkin harus merawat pedangmu dengan sedikit lebih baik,” kata Qiu Yongsi. “Itu bukan batang korek api.”

Li Jinglong memelototi Qiu Yongsi sementara Mo Rigen tertawa dan berkata, “Kita tidak perlu membayar kompensasi untuk Istana Daming, kan?”

A-Tai tersenyum dan bergabung bersama mereka, “Itu bagus sekali!”

Hong Jun menghela napas. Li Jinglong bertanya, “Kenapa? Semuanya sudah berjalan sesuai dengan keinginanmu, dan kami juga sudah memberi mereka yang bersalah sebuah jalan keluar, jadi kenapa kau masih merasa bersedih?”

Hong Jun memikirkan apa yang dikatakan Li Jinglong pada malam itu. Dia tidak tahu apakah yang dikatakan rubah kecil itu benar atau tidak, atau apakah dia sudah membunuh seseorang atau belum. Hong Jun tiba-tiba merasa bahwa Li Jinglong benar dan dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya.

“Terima kasih,” kata Hong Jun. “Tapi aku merasa seperti sudah ditipu. Kau mengatakan Du Hanqing…”

“Ketidaktahuan akan sesuatu justru membawa kebahagiaan,” Li Jinglong melambaikan tangannya dan berkata. “Jangan menganggap semuanya terlalu serius. Balik halamannya dan lupakan hal itu. Lain waktu berikan padanya beberapa Serbuk Lihun, lalu bawa dia ke suatu tempat dan lepaskan, dan kemudian selesai.”

“Jangan terlalu bersusah payah untuk hal-hal yang tidak penting,” kata Mo Rigen dan tersenyum.

“Baik.” Hong Jun juga tersenyum.

Pada saat ini, seorang kasim datang dan meminta Li Jinglong untuk menunggu di aula samping saat Yang Mulia menyiapkan sebuah hidangan. Setelah orang-orang datang untuk membersihkan kekacauan, mereka kemudian mengikuti kasim itu, melewati taman kekaisaran Istana Xingqing, dan menunggu di aula samping.

Li Longji menyiapkan hidangan untuk mereka. Ini jauh dari perlakuan yang biasanya mereka dapatkan. Yang Yuhuan bahkan secara khusus membiarkan orang-orang menyiapkan “Min Zhi Min Gao”1 untuk dikirim pada mereka. Hong Jun sangat senang saat dia memakannya. Namun, Li Jinglong rupanya masih memiliki beberapa kekhawatiran di dalam benaknya.

“Kasusnya sudah selesai, kan?” Qiu Yongsi mengingatkan.

“Itu benar,” dengan diingatkannya akan hal ini, Li Jinglong segera tersenyum dan berkata, “Kita semua sudah bekerja keras.”

Setelah selesai makan dan minum teh, Li Longji memanggil mereka lagi. Mereka kemudian mencuci tangan, membersihkan wajah, dan tiba di sebuah tempat bernama Bunga Emas Layu di depan Aula Anggun.

“Tegla dipanggil untuk bertemu dengan Kaisar,” kata kasim itu.

Li Longji pertama kali memanggil A-Tai, tapi untuk beberapa alasan, Li Jinglong hanya mengangguk pada A-Tai dan tersenyum dengan semangat. A-Tai menghela napas panjang, melepas sepatu botnya, dan memasuki aula. Yang Guifei mengirim surat keputusan lain agar mereka semua menunggu di luar Bunga Emas Layu untuk mengagumi bunga-bunga yang ada di sana.

Di malam musim gugur yang suram, dan mereka tidak tahu bunga apa yang harus mereka kagumi. Tetap saja, tidak ada yang bisa mereka lakukan, jadi Li Jinglong hanya bersandar di dinding di luar aula dan tertidur. Akhir-akhir ini, dia sangat lelah. Dari waktu ke waktu, kepalanya akan miring ke arah Hong Jun dan akhirnya kemudian separuh tubuhnya sudah jatuh ke dalam pelukan Hong Jun. Hong Jun hanya bisa melingkarkan lengannya dan berbicara dengan Mo Rigen dan Qiu Yongsi dengan suara yang rendah.

Satu jam kemudian, A-Tai keluar. Li Longji sekarang memanggil Qiu Yongsi dan Mo Rigen.

Li Jinglong bangun, dia menyeka air liur yang ada di wajahnya, dan dengan bingung bertanya, “Apa dia memanggil kita?”

“Belum.” Hong Jun juga merasa aneh bahwa mereka akan dipanggil sendiri atau berdua. Kali ini, Mo Rigen dan Qiu Yongsi masuk dan hanya mengucapkan beberapa kata sebelum mereka keluar lagi.

“Biarkan kami bertiga kembali terlebih dulu. Tidak ada apa pun untuk kita lakukan di sini,” kata Mo Rigen.

“Silahkan,” kata Li Jinglong. “Zhao Zilong pasti masih menunggu di Departemen Exorcism.”

Mereka bertiga akhirnya pergi. Tidur siang Li Jinglong membuatnya agak linglung, dan dia tidak bisa berhenti menggosok-gosok wajahnya. Setelah beberapa saat, dia dipanggil bersama dengan Hong Jun.

Di dalam Bunga Emas Layu, ada sebuah kolam yang jernih dan dipan di sampingnya. Di belakang dipan ada layar derek yang dikelilingi oleh delapan latar. Lentera berkedip-kedip, dan ada musik yang terdengar dari kejauhan, terkadang dengan satu atau dua nada. Ada pohon Ginkgo berumur hampir seratus tahun yang terletak di kolam. Seiring dengan dentingan senar, daun kuning keemasan jatuh dengan lembut, seperti hamparan bunga emas yang sangat luas, indah dan mewah.

Li Jinglong menyeka wajahnya, dan melihat Li Longji duduk tegak di dipan dengan Yang Yuhuan yang sedang meramu beberapa pil ramuan di sampingnya. Saat dia akan memberi hormat, Li Longji menyela, “Tidak perlu keformalitasan. Duduklah.”

Setelah Kaisar pindah ke dipan yang lebih rendah, Li Jinglong dan Hongjun kemudian duduk bersama dan sekali lagi meminum teh. Li Longji berkata, “Jinglong sudah membuat kebaikan yang besar kali ini. Aku ingin tahu bagaimana aku bisa menghadiahimu. Katakan saja.”

Li Jinglong dengan buru-buru berkata, “Ini adalah tugas hamba untuk mengabdi pada negara dan hamba tidak berani untuk menerima hadiah. Yang Mulia mengampuni hamba ini yang sudah menyebabkan kekacauan besar di Istana Daming, hamba ini sudah sangat berterimakasih.”

Meskipun kata-kata yang diucapkan terdengar rendah hati, dari mulut Li Jinglong, kata-kata yang diucapkan terdengar tidak rendah hati ataupun sombong. Meskipun Yang Yuhuan mengerutkan keningnya, dia tetap tersenyum dan berkata, “Lihat, tebakan Selir ini benar.”

Li Longji tertawa. Suasana yang serius itu kemudian memudar.

Li Jinglong melanjutkan, “Tapi untuk membasmi kejahatan, dalam beberapa hari, hamba ini masih harus membawa kelompoknya ke Pingkang Li, untuk menghindari para yao yang akan terlepas dari jerat jaring keadilan.”

Li Longji memberikan jawaban “hmm” dan berkata, “Untuk melaksanakan tugas resmi, pergilah sesukamu.”

Li Jinglong berkata, “Saya khawatir orang-orang di Chang’an kemudian akan…”

Zhen akan mengeluarkan dekrit kekaisaran untukmu?” Tanya Li Longji.

Mereka semua tertawa, dan kemudian Li Jinglong menjawab, “Hamba ini sangat kagum.”

Hongjun menggaruk lehernya saat dia berkata, “Yang Mulia, kami masih berhutang enam ribu empat ratus tael perak kepada keluarga yang menjual Serbuk Lihun kepada kami. Bisakah Anda membantu kami?”

Li Jinglong, “…..”

“Apa itu?” Tanya Yang Yuhuan. “Seberapa berharganya hal itu sampai menghabiskan begitu banyak perak?”

Hong Jun kemudian mulai menjelaskannya pada Yang Yuhuan, dan dia sangat terkejut dan bertanya, “Apa ada hal seperti itu di dunia ini?”

Li Longji menyatakan, “Semua keluhan dan kebencian bisa dilupakan dengan hal itu. Pengobatan spiritual seperti itu pasti merupakan hal yang langka di dunia ini. Bahkan bisa digunakan untuk meringankan kesedihan orang-orang. Sungguh luar biasa.”

Yang Yuhuan tersenyum dan berkata, “Tapi kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan, tidak peduli betapa merepotkannya mereka, selama kita masih hidup, bukankah itu yang membuat hidup menjadi menarik? Jika aku diminta untuk menghirup serbuk itu, aku pasti tidak akan bisa.”

Li Longji dengan gembira berkata, “Kau benar. Jika Zhen diminta untuk menghirupnya, Zhen juga tidak akan melakukannya. Aku khawatir akan ada beberapa hal yang tidak bisa dilupakan bahkan jika seseorang menghirupnya.”

Yang Yuhuan menjawab dengan marah, “Siapa yang tahu?”

Hong Jun dan Li Jinglong tidak bisa memahami implikasi mendalam dari Kaisar dan Guifei. Ini pasti ada hubungannya dengan beberapa masalah kecil. Hong Jun kemudian berkata, “Lain kali aku akan membelinya dan memberikanmu beberapa dari serbuk itu.”

“Kau bisa mencari Guozhong untuk menerima catatan pembelian itu.” Li Longji bahkan tidak memikirkannya karena dia dengan mudahnya berkata, “Karena Selir tersayangku sudah mengatakannya, Zhen akan mengabaikan tentang biayanya.”

Hong Jun mengangguk dan ingin meminta sesuatu untuk dimakan saat Li Jinglong langsung menyikutnya, mengisyaratkan agar dia berhenti meminta sesuatu lagi.

“Hari ini sungguh sebuah bukti untuk masa kecilku,” kata Yang Yuhuan lembut. “Kalian para exorcist sudah terbiasa untuk menghadapi hal-hal aneh ini, namun apakah ada hal-hal baru yang bisa kalian bicarakan denganku?”

Meskipun Li Jinglong sudah mengintip wawasan tentang exorcism, dia tetaplah manusia fana, dan tidak sebaik exorcist lainnya, yang sudah menangani masalah ini sejak mereka masih muda. Dia menoleh ke arah Hong Jun dan bertanya, “Apa kau ingin membicarakan tentang hal itu untuk Guifei?”

Hong Jun sangat menyukai Yang Yuhuan dan merasa bahwa setiap kali dia melihatnya, dia bisa digambarkan “seperti mandi di musim semi yang hangat.”2 Dia adalah wanita yang menyenangkan dan penuh perhatian, jadi tidak heran jika kaisar sangat menyukainya. Dia secara acak memilih beberapa cerita tentang yao untuk mereka dengarkan. Mendengar hal ini, Yang Yuhuan tidak bisa berhenti untuk terus menanyainya. Hong Jun kemudian mulai berbicara tanpa henti, dari dia menyebutkan nadi surgawi sampai membahas Laozi dari “Misteri Dao, Pintu dari Banyak Keajaiban”, serta teori bahwa dunia seluruhnya terlahir dari kekacauan primal.

Bahkan Li Jinglong tidak tahu bahwa Hong Jun mengetahui banyak hal. Di antara semua pengusir setan, Hong Jun adalah satu-satunya yang tidak memiliki niat untuk pamer, apalagi mengandalkan statusnya sendiri. Biasanya, dia hanya akan mengangguk atau berkata “oh” saat mendiskusikan Misteri Dao yang ada di dunia, tapi dia benar-benar mendengarkan dengan seksama.

“Apa kau seorang Taoist?” Tanya Li Longji.

“Eh…” Hongjun juga tidak tahu dia berasal dari sekte yang mana. Dia harus mengatakan bahwa Qing Xiong menganjurkan agama Buddha lebih dari dia menyebutkan Taoisme. “Apa aku menganggap diriku seorang Buddha?” Hong Jun memikirkannya dan berkata, “Qiu Yongsi lebih tampak seperti seorang Taoist.”

“Bagaimana dengan temanmu yang dari Shiwei?” Tanya Yang Yuhuan.

“Dia dianggap sebagai cenayang?” Kata Hong Jun dengan ragu-ragu.

“Tegla adalah Putra Suci dari Zoroastrianisme.” Li Longji tersenyum. “Jika dalam kehidupan sehari-hari kalian semua saling bertarung, bukankah kalian semua akan memanggil dewa kalian masing-masing? Ini sebenarnya cukup ajaib.”

Hong Jun menjawab, “Dunia ini memiliki jalur yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Ayahku berkata hal itu tidak perlu dibatasi, tapi untuk mencari kemuliaan dari niat sejati seseorang.”

Semua orang perlahan mengangguk.

Li Jinglong awalnya mengira bahwa kaisar akan menanyakan tentang kasus ini karena dia merasa ada yang aneh tentang kasus ini dan ingin bertanya tentang rencana selanjutnya. Tapi tidak diduga, dia tidak memperhatikan detail dari kasus ini melainkan berbicara tentang para gui dan dewa hampir di sepanjang malam. Mereka berputar-putar dan pada akhirnya itu semua untuk mencari keabadian?!

Ini hanya buang-buang waktu. Lebih baik dia pulang dan tidur.

Yang Yuhuan bertanya lagi, “Jadi Hong Jun, pria kecil, ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”

“Katakanlah.” Hong Jun terlalu sembrono dan ceroboh, dia memegang semangkuk teh di satu tangan dan meletakkan kakinya di atas lutut Li Jinglong, menjadikan Istana Xingqing sebagai rumahnya.

“Di antara langit dan bumi, mana yang abadi?” Tanya Yang Yuhuan.

Mendengar pertanyaan ini, Li Jinglong menjadi penasaran dan menurunkan kaki Hong Jun saat dia melirik ke arahnya.

Menyadari bahwa dia sangat sulit untuk diatur, Hong Jun dengan buru-buru duduk tegak sambil berpikir sejenak dan berkata, “Tidak ada.”

“Tidak ada?” Tanya Yang Yuhuan.

“Benar. Tidak ada.” Hong Jun dengan sungguh-sungguh berkata, “Jika Anda harus mengatakan ada sesuatu, maka yang ada di atasmu hanya langit.”

Dengan semangkuk teh yang ada di tangannya, Hong Jun memberi isyarat pada Yang Yuhuan dan Li Longji untuk menatap pada malam musim gugur yang berbintang di luar aula dan menjelaskan, sambil tersenyum, “Surga itu kekal, dan bumi langgeng; alasan kenapa mereka bisa bertahan adalah karena mereka tidak hidup untuk diri mereka sendiri, jadi itulah kenapa mereka bisa hidup dengan lama. Ini berarti bahwa hanya mereka yang tidak dilahirkan untuk diri mereka sendiri yang bisa hidup selamanya. Untuk semua makhluk, bagaimanapun juga, “mencari keabadian” sudah berarti itu untuk diri mereka sendiri. Oleh karena itu, tidak ada yang abadi di mana saja di antara langit dan bumi.”

Pada saat itu, Li Jinglong tampaknya memiliki ilusi saat Hong Jun memegang mangkuk teh dan menghadap ke arah Kaisar dan Guifei, bahwa bahkan di hadapan para dewa langit dan bumi, dia mungkin akan menghadapi mereka tanpa rasa takut. Ekspresinya sangat jernih, dan menyebabkan gelombang kegembiraan.

Hong Jun menatap kembali Yang Yuhuan dan Li Longji lalu tersenyum. “Tapi menurutku terkadang reinkarnasi adalah sejenis keabadian; terkadang nirwana juga termasuk keabadian. Mereka yang meninggalkan kehidupan ini tidak akan pernah bertemu lagi di kemudian hari. Tidak ada yang kekal di dunia ini, dan itu hanyalah takdir.”

“Kalau begitu, ramuan apa yang bisa membuat orang hidup lebih lama?” Tanya Yang Yuhuan dengan suaranya yang lembut.

Li Longji meraih tangan Yang Yuhuan. Saat Yang Yuhuan bertanya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Li Longji.

Hong Jun menjawab, “Semakin sederhana Anda hidup dan semakin dekat Anda dengan langit dan bumi, maka semakin lama pula Anda hidup.”

Li Longji tertawa dan berkata, “Lupakan saja. Kong Hong Jun, kau adalah anak yang cerdas.”

Yang Yuhuan menghela napas dan berkata, “Jika aku bisa memperpanjang hidup Yang Mulia selama seribu tahun lebih lama, berkultivasi menjadi yao, dan menyelamatkan hidup Yang Mulia, Selir ini akan bersedia untuk melakukannya.”

“Siapapun yang terlahir sebagai manusia jauh lebih baik daripada menjadi yaoguai yang bodoh dan tidak tercerahkan,” jawab Hong Jun. “Burung bangau hidup selama satu milenium, kura-kura hidup selama sepuluh ribu tahun. Setiap makhluk di dunia, masing-masing memiliki nasibnya sendiri dan tidak bisa dipaksakan.”

Li Jinglong bergabung dengan pembicaraan mereka dan berkata, “Jika para manusia berpindah tempat dengan kura-kura, merangkak sepanjang hari di dalam lumpur, saya pikir kebanyakan dari para manusia tidak akan bersedia untuk melakukannya.”

Yang Yuhuan dan Li Longji, mereka berdua tertawa. Li Longji bergumam, “Itu benar.”

Hong Jun tiba-tiba teringat akan sesuatu dan berkata, “Tapi sepertinya ada sebuah cara untuk memperpanjang umur seseorang.”

“Apa?” Ketiga orang itu tercengang pada saat yang bersamaan.

“Menjadi Buddha.” Kata Hong Jun.

“Baiklah baiklah.” Kata Li Jinglong. “Jangan terlalu senang.”

Li Longji dan Yang Guifei memegangi dahi mereka. Hong Jun berkata, “Semua makhluk sadar akan sifat Buddha. Melewati makhluk hidup berarti melewati diri sendiri.”

“Kau adalah anak yang sangat cerdas.” Yang Guifei tersenyum. “Saat kau berkata ‘menjadi Buddha’, aku tiba-tiba memikirkan seseorang.”

Hong Jun tersenyum, “Siapa?”

Yang Guifei memandang Hong Jun sambil tersenyum. Tiba-tiba, ekspresinya berubah saat dia sedikit mengerutkan alisnya, sepertinya dia berusaha keras untuk mengingat sesuatu dan berkata, “Aku selalu berpikir bahwa aku sepertinya pernah melihatmu sebelumnya.”

“Apa kita dipersatukan oleh takdir?” Kata Hong Jun.

“Hmm… Saat pertama kali aku melihatmu pada hari itu,” Yang Guifei mengusap-usap alisnya. “Aku merasa senyumanmu tampak begitu akrab, tapi aku tidak ingat di mana aku pernah melihatnya sebelumnya.”

“Baiklah,” kata Li Longji. “Biarkan semuanya berjalan sesuai takdir. Cukup untuk hari ini, kembali dan istirahatlah. Pejabat Li, jika ada waktu, ajak adik kecilmu untuk membicarakan tentang misteri dunia lagi.”

Mengetahui bahwa mereka akan pergi untuk beristirahat, Li Jinglong kemudian bergegas membawa Hong Jun pergi meninggalkan tempat itu. Yang Yuhuan melambai lagi dan berkata, “Hong Jun, kemarilah.”

“Apa kau masih ingin menerima anak angkat yang lain?” Li Longji tersenyum.

Yang Yuhuan sambil tersenyum mengambil beberapa camilan dan memberikannya pada Hong Jun. Hong Jun berterima kasih padanya, dan Yang Yuhuan berkata, “Anak ini terlalu cantik. Kakakku memiliki beberapa anak, tapi tidak ada yang bersemangat seperti dia.”

Di tengah malam, Li Jinglong dan Hong Jun meninggalkan Istana. Li Jinglong berjalan secara perlahan, membawa kandang kecil dengan rubah di dalamnya.

Hong Jun menggambil daun yang ada di pinggir jalan, berbalik dan bertanya, “Apa hari ini aku sudah mengatakan sesuatu yang salah?”

“Tidak.” Sudut mulut Li Jinglong sedikit miring. “Kau sudah melakukannya dengan baik. Kau tumbuh semakin pintar.”

Dia merasa bahwa Hong Jun belajar dengan sangat cepat dan sekarang dia bisa lebih beradaptasi dengan kehidupan di Chang’an, dibandingkan dengan penampilannya yang memperihatinkan saat dia pertama kali memasuki Departemen Exorcism.

“Aku sangat bodoh,” kata Hong Jun dengan malu. “Aku tidak pernah tahu apa maksud dari kata-kata kalian.”

Faktanya, Hong Jun sangat tidak memahami dengan jelas kasus ini sampai akhirnya dia memahami liku-liku dari apa yang sedang terjadi. Li Jinglong, Qiu Yongsi, Mo Rigen, dan A-Tai, semuanya tampaknya diam-diam memahaminya, sementara hanya dia yang bodoh, dia hanya bisa mengikuti mereka sepanjang waktu.

“Mereka semua bijaksana dalam urusan duniawi,” kata Li Jinglong sambil tersenyum. “Itu hal yang normal jika kau bingung.”

Hong Jun mengamati Li Jinglong, yang tiba-tiba berhenti tersenyum.

“Tetaplah tersenyum ah,” kata Hong Jun. “Kau terlihat bagus kalau tersenyum. Berikan senyumanmu pada si kecil ini3. Ayolah!”

Pembuluh darah di kening Li Jinglong pecah, “Darimana kau mempelajarinya!”

Hong Jun berpikir bahwa Li Jinglong benar-benar terlihat bagus saat dia tersenyum. Dia biasanya kaku, serius, dan bijaksana, seperti seorang Jenderal, tapi saat dia tersenyum, itu seperti memberikan perasaan baik yang tulus.

“Aku akan mengujimu. Coba tebak kemana kita pergi sekarang?” Tanya Li Jinglong dengan tegas.

Hong Jun menoleh untuk melihat bahwa ini bukanlah jalan menuju ke Departemen Excorsism. Dia menggaruk kepalanya dan berkata, “Kemana kau akan pergi selarut ini?”

Saat mereka mencapai gang belakang, Li Jinglong menyerahkan kandang itu pada Hong Jun, berbalik ke dinding belakang, dan melompat masuk.

“Apa ada kasus lain?” Tanya Hong Jun heran.

Tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam, dan Li Jinglong membuka pintu belakang dan menggiring seekor kuda.

“Kau mencuri kuda dari seseorang…”

“Aku meminjamnya. Ayo pergi!”

Itu adalah pintu belakang dari Keprajuritan Longwu. Li Jinglong naik dan mengulurkan tangannya untuk menarik Hongjun dan menyuruhnya duduk di belakangnya. Kemudian, dengan suara bising, dia melewati jalan panjang menuju ke arah Gerbang Barat. Suara tapak kaki kuda tampak sangat berbeda di jalan panjang yang sepi, dan mereka berhenti di puncak bukit saat mencapai gerbang kota.

“Kemarilah.” Li Jinglong kembali menyerahkan kandang itu pada Hong Jun dan melepas jimat yang ada di atasnya.

“Kita akan membiarkannya berada di sini?” Tanya Hong Jun.

“Atau apa?” Tanya Li Jinglong. “Membawanya kembali?”

Hong Jun berpikir bahwa membawanya ke sini juga sudah bagus dan dia mengeluarkan rubah kecil itu dari kandang. Li Jinglong mengulurkan jari-jarinya dan mengusap dagu rubah kecil itu berulang kali.

Bintang pagi muncul dari cakrawala dan warna marmer putih muncul saat fajar menyingsing. Saat langit berubah dari malam ke pagi di seluruh Tanah Suci, Hong Jun melihat ke langit biru yang bergantian antara fajar dan senja. Pembuluh darah yang ada di langit memancarkan warna-warna indah yang terhubung dengan bumi, seperti kapal raksasa yang sudah melewati keabadian dan tidak pernah berhenti.

“Hai. Bangunlah.”

Suara Li Jinglong jauh lebih lembut saat dia berulang kali mengusap-usap dagu rubah kecil itu.

Hong Jun terkekeh dan berkata, “Dosis kedua tampaknya tidak terlalu banyak.”

Rubah kecil terbangun dengan diikui suara “oh” dan menatap Li Jinglong dengan waspada. Li Jinglong menekuk jarinya dan menepuk kepalanya, sambil berkata, “Kau belum menyelesaikan perhitungan karena sudah menggigit Hong Jun.”

Hong Jun dengan buru-buru berkata untuk melupakan masalah itu. Rubah kecil dengan gugup melihat ke arah Hong Jun dan kemudian ke Li Jinglong. Saat dia menyadari apa yang sudah terjadi, Li Jinglong segera menjentikkan jarinya ke depan hidungnya.

Dengan suara jentikannya, tangan Li Jinglong mengeluarkan Serbuk Lihun dan menyebabkan rubah kecil itu bersin, matanya dipenuhi dengan kebingungan. Hong Jun melepaskannya, dan dia jatuh ke tanah lalu bergegas menuju ke semak belukar.

“Jangan kembali lagi ke Chang’an,” kata Li Jinglong. “Jika kau ditemukan lagi, aku tidak akan bisa menyelamatkanmu.”

Rubah kecil itu bersembunyi di semak-semak dan melihat keluar. Sarat dengan kesedihan, Hong Jun mengucapkan selamat tinggal dan turun dari bukit bersama dengan Li Jinglong.

Matahari terbit ditemani dengan ratusan burung yang berkicau di hutan pegunungan yang membangunkan delapan ratus mil dari Qinchuan4.

Zhangshi,” kata Hong Jun.

“Hmm?” Li Jinglong memimpin kudanya ke depan. Tanpa diduga Hong Jun melompat ke arahnya dan naik ke punggungnya.

“Aku sangat menyukaimu~”

“Turun, cepat… Menurutmu seperti apa dirimu ini?”

“Tidak ada orang di sini.”

Li Jinglong melepaskan kukungan Hong Jun darinya dan bertanya, “Apa yang membuatmu tergila-gila?”

“Kau tidak benar-benar membenci yaoguai,” kata Hong Jun dengan senang. “Benarkan?”

“Aku tidak membenci yaoguai yang tidak melakukan kejahatan,” jawab Li Jinglong dengan tegas.

“Kalau begitu kau suka dengan rubah kecil itu.”

“Siapa yang tidak menyukai wajah yang menawan?” Kata Li Jinglong. “Tapi mengandalkan kecantikan seseorang, namun tidak terkendali dan melanggar hukum tentu saja itu tidak diperbolehkan.” Dia menjulurkan jarinya ke kepala Hong Jun lalu menaiki kudanya, memberi isyarat agar dia bergegas.

Hong Jun merasa bahwa dia sudah disindir tapi dia tidak memikirkannya. Saat dia menaiki kudanya, dia bertanya, “Zhangshi, kapan kau akan membawaku ke Pingkang Li?

Li Jinglong, “…..”

Saat jejak kaki kudanya berangsur-angsur menghilang, bunyi lonceng pagi di Chang’an menyebar ke segala penjuru, saat mereka melewati jalan cerah jauh dari debu.

Matahari bersinar cerah di pagi musim gugur saat Hong Jun tertidur di perjalanan. Saat mereka tiba di Departemen Exorcism, Li Jinglong menggendongnya sampai ke kamar dan membaringkannya di dipan sambil menghela napas dan berkata, “Tidurlah!”

Setelah itu, dia keluar untuk mengembalikan kudanya. Begitu dia kembali ke Departemen Exorcism, hadiah yang diberikan oleh Yang Mulia juga sudah datang. Li Jinglong kemudian membungkuk sendiri untuk menerima dekrit kekaisaran tanpa membangunkan bawahannya. Kali ini, mereka dihadiahi total sembilan puluh tael perak dan beberapa minuman, serta catatan yang dikeluarkan oleh Departemen Keuangan Nasional, yang bisa diserahkan pada pedagang Serbuk Lihun dengan imbalan perak.

Setelah semua kejadian ini, Li Jinglong akhirnya berbaring dan tidur sampai senja.


“Keturunan Isai, Shiwei, pewaris Qiu, dan tambahan seorang makhluk fana tanpa mana…”

“Menurutku identitas dari pemuda itu adalah yang paling misterius dan yang sangat mencurigakan.”

“Aku tidak peduli siapa dia! Kau hanya melihat semua ini terjadi, tepat di bawah hidungmu!”

“Jadi? Apa yang kau ingin aku lakukan?”

Pria berjubah hijau itu mengulurkan tangannya dan menambahkan, “Keturunan rubahmu sudah memilih jalan ini. Jika kau bersedia untuk berjudi, maka kau juga harus bersedia untuk mengaku kalah, bukankah begitu kata pepatah?”

Wanita bangsawan itu terengah-engah, matanya bersinar merah sampai hampir menumpahkan darah saat dia tersentak, “Aku akan membalas dendam…”

Pria dan wanita bangsawan itu berdiri dalam bayang-bayang di kedalaman Istana Xingqing. Saat matahari terbenam di Barat, dua siluet yang muncul dan tampak makhluk guai yang menyeramkan dengan taring dan cakar yang teracung.

“Cukup mudah untuk menyingkirkannya,” pria itu berbisik di telinga wanita itu. “Tapi Kaisar duniawi sedang waspada. Jika kau membiarkan Mara diperlihatkan secepat ini…”

“Mara tidak akan bisa bertahan lebih dari beberapa tahun.” Wanita itu dengan saksama menatap wajah pria itu dan mengatakan setiap kata di telinganya, “Nasibnya dan Tang yang Agung akan segera berakhir.”

“Tapi kau masih belum bisa menghadapinya,” kata pria itu dengan dingin. “Sebaiknya kau pikirkan baik-baik bahwa tidak ada faktor tidak tetap yang tersisa. Reinkarnasi Mara, tidak peduli seberapa berani para exorcist ini, mereka tetap tidak akan bisa menghentikannya. Jangan salahkan aku karena tidak memperingatkanmu bahwa mencoba mendapatkan beberapa keuntungan kecil hanya akan menyebabkan kekacauan besar.”

Wanita itu tiba-tiba gemetar dan berkata dengan nada jahat dalam suaranya, “Apa kau sudah tahu sejak lama?”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Kau terlalu curiga.”

“Kau tahu tentang rencana mereka!” Wanita itu gemetar. “Agar kau tidak terlibat, kau harus… meninggalkan semua keturunanku!”

Pria itu tidak mengatakan apapun lagi saat dia berbalik dan pergi. Wanita yang ada di belakangnya berteriak sekencang-kencangnya, “Kalau tidak, kenapa kau tidak pergi ke ruang pemeriksaan?! Kau ingat apa yang terjadi hari ini padaku!”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Menggunakan frasa suap yang sudah dikeluhkan oleh Li Jinglong di chapter-chapter sebelumnya, yang berarti pajak dari orang-orang yang susah, tapi mungkin itu adalah kue-kue lezat yang disukai HJ sebelumnya.
  2. Secara metaforis bergaul dan dipengaruhi oleh orang-orang yang memiliki karakter moral dan pengetahuan yang berbudi mulia; Atau seseorang yang berbicara dengan tenang, hangat, dan ramah, yang membuat pendengarnya merasa nyaman.
  3. Cara yang lucu untuk menggoda seseorang. Kalimat ini juga bisa digunakan saat pihak lain ingin menggoda seseorang; bisa juga berarti ‘say cheeseeee’.
  4. Cekungan Guanzhong. Nama Guanzhong berarti ‘di dalam celah,’ mengacu pada empat benteng di jalur gunung utama yang secara historis mempertahankan wilayah tersebut, yang merupakan jantung tradisional Negara Qin selama Dinasti Zhou dan oleh karena itu sering dijuluki ‘delapan ratus mil dari Qingchuan’.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments