“Anak muda itu menyukaimu. Dan itu cukup jelas. Untungnya, Li-Zhangshi tidak ada di sini.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Li Jinglong tiba-tiba mengingat sesuatu dan bergegas ke aula depan, menatap Pedang Kebijaksanaan Acala. Dharma Khidmat Acala tampaknya menjaga seluruh dunia. Tampilan pedang itu sama persis dengan pedang hitam berkarat yang ada di tangan Li Jinglong.

“Ini adalah Pedang Kebijaksanaan Agung yang menundukkan yao dan mengalahkan mo,” Jelas Qiu Yongsi. “Ada rumor bahwa pedang itu bisa menghancurkan semua roh jahat yang ada di dunia.”

Hong Jun mengerutkan keningnya saat dia menatap Acala dan kemudian menatap ke arah pedang yang ada di tangan Li Jinglong. Pada saat itu, hanya ada satu hal yang membingungkan di dalam hatinya: bagaimana bisa Pedang Kebijaksanaan menghancurkan Cahaya Suci Lima Warnanya? Chong Ming berkata bahwa Cahaya Sucinya itu adalah perisai terkuat di dunia bahkan cahaya itu bisa menahan jatuhnya Gunung Tai.

“Jadi selama senjata sihir ini digunakan dengan baik,” Qiu Yongsi mencoba menghiburnya, “Zhangshi, maka itu bukanlah mimpi belaka, jika kau ingin menjadi Exorcist tanpa pembuluh darah spiritual bawaan. Kita akan melihat apa lagi yang bisa dilakukan pedang ini.”

Li Jinglong mengangguk dan menjawab bahwa dia mengerti saat dia menyimpan pedangnya. Semua orang saling bertukar pandangan yang penuh arti; mereka semua merasa bahwa semalam Li Jinglong mengalami keterpurukan. Dia tidak mengatakan apapun dan juga tak seorang pun yang bertanya. Berdasarkan wajah dan kata-katanya, sekarang Li Jinglong sudah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya.

“Hari ini kita akan melanjutkan kembali penyelidikan kasus ini,” kata Li Jinglong. “Apapun rumor yang tersebar di luar, perlu diingat bahwa kita melakukan apa yang harus kita lakukan dan itu tidak ada hubungannya dengan orang lain.”

Semua orang setuju. Li Jinglong membiarkan Qiu Yongsi dan Hong Jun membentuk kelompok, A-Tai dan Mo Rigen menjadi kelompok yang lain, sementara dia akan bergerak sendiri. Qiu Yongsi dan Hong Jun akan pergi untuk menanyakan di mana para kandidat ujian1 Chang’an tinggal. A-Tai dan Mo Rigen akan pergi ke Pingkang Li untuk menanyakan beberapa kandidat yang baru saja pergi ke sana untuk berpesta.

“Apa ini diperlukan?” Tanya A-Tai. “Zhangshi, bagaimana jika pertama-tama kita menemukan cara untuk…”

“Istana Daming tidak masalah,” kata Li Jinglong. “Jika kita mengatakan bahwa masalah ini sudah selesai, Aku tidak mempercayainya.”

Semua orang menatap Li Jinglong, yang berbalik kemudian berkata, “Bukan maksudku untuk membuat kalian bingung, tapi tidakkah kalian semua juga berpikir bahwa hal ini mencurigakan. Mayat kering, tanpa nama, dan tidak diklaim, tiba-tiba muncul?”

“Benar,” akhirnya Qiu Yongsi setuju. “Kami akan mendengarkanmu dan menyelidikinya.”

“Bagaimana denganmu?” Tanya Hong Jun. “Ikutlah dengan kami.”

“Ada yang harus aku lakukan,” jawab Li Jinglong acuh tak acuh sambil mengerutkan kening.

“Ayo pergi bersama.” Hong Jun mengulurkan tangannya dan menarik lengan baju Li Jinglong. Li Jinglong dengan segera berkata, “Jangan tarik! Ini adalah kantor pemerintahan! Itu sangat tidak pantas!” Setelah mengatakan itu, dia keluar dan pergi dengan tergesa-gesa.

Pagi menjelang siang. Hong Jun masih diselimuti kabut dan hanya mengikuti Qiu Yongsi untuk menyelidiki kasus. Ini adalah pertama kalinya dia bertindak dan tidak berpasangan dengan Li Jinglong. Kenapa dia ditempatkan di satu kelompok dengan Qiu Yongsi?

Qiu Yongsi sangat tinggi, dia memegang kipas lipat di tangannya dan berjalan seperti angin2. Dia akan berjalan lalu berhenti, dan sesekali berdiri untuk menunggu Hong Jun.

“Ayo pergi ke Akademi Kekaisaran3,” kata Qiu Yongsi. “Apa kau lapar? Ayo kita minum dan istirahat dulu?”

Hong Jun melambaikan tangannya, “Aku bukan pemakan yang rakus. Bagaimana bisa aku secepat itu lapar.”

Qiu Yongsi berpikir dan bergumam sambil tersenyum, “Zhangshi pasti menyatukan kita berdua agar kita tidak bisa mencumbui ikan4.”

Hong Jun bertanya dengan serius, “Kapan kalian akan melihat kemampuan Zhangshi?”

Qiu Yongsi tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Zhangshi adalah pria yang baik, hanya saja, pada awalnya dia tidak seperti yang kami harapkan. Itu adalah kesalahan kami. Tapi…” Qiu Yongsi berpikir dan menyimpan kipas lipatnya. Dia melirik ke arah Hong Jun, dan bertanya, “Kau, Hong Jun, apa yang membuatmu percaya padanya?”

Hong Jun berpikir sejenak dan berkata, “Mungkin karena Cahaya Hati ada di dalam dirinya.”

“Cahaya Hati?” Qiu Yongsi tercengang.

Karena semua orang datang untuk menaklukan raja yao, Hong Jun tidak akan menyembunyikan masalah itu. Dia memberitahu Qiu Yongsi bahwa Cahaya Hati sudah memasuki tubuh Li Jinglong karena sebuah kesalahan. Qiu Yongsi bergumam kemudian berkata, “Jadi karena itu… tidak mengherankan kalau kau sudah mengikuti Li Jinglong sejak kau memasuki Departemen Exorcism. Kami bertanya-tanya apa yang salah dari kami.”

Hong Jun dengan cepat berkata bahwa itu bukanlah hal yang seperti itu. Qiu Yongsi bergumam pada dirinya sendiri, “Jika Cahaya Hati ada di dalam dirinya, maka orang ini mungkin akan mendapatkan apa yang benar-benar diinginkannya.”

Hong Jun tidak tahu seberapa hebatnya Cahaya Hati itu, tapi Qiu Yongsi tahu banyak tentang senjata sihir, jadi mungkin dia tahu bagaimana caranya untuk mengeluarkannya… Dia baru akan menanyakannya saat mereka tiba di Akademi Kekaisaran. Qiu Yongsi memberi isyarat pada Hong Jun, mengisyaratkan padanya untuk menanganinya terlebih dulu.

Orang-orang keluar dan masuk dari pintu Akademi Kekaisaran. Hari ke lima pada bulan depan akan menjadi hari dari ujian kekaisaran, dan lebih dari enam ribu orang berkumpul disini dari berbagai penjuru. Saat periode ujian semakin dekat, untuk menghindari adanya pertanyaan yang bocor atau pergantian peserta, semua yang masuk atau keluar dari Akademi Kekaisaran diminta untuk menjalani pemeriksaan tubuh menyeluruh; tidak ada buku dari luar yang dibawa masuk, dan semua orang harus membawa token kekaisaran. Berdiri di luar di jalanan, Qiu Yongsi dan Hong Jun memperhatikan orang yang datang dan pergi. Qiu Yongsi menunggu dengan terengah-engah. Ketika kerumunan orang-orang berkumpul di pintu masuk, Qiu Yongsi menarik Hong Jun.

“Ai! Wang-xiongWang-xiong, tunggu aku!” Melihat seorang pria lewat dia buru-buru menarik Hong Jun dan berkata, “Cepat, aku lupa membawa tokenku…”

Di pintu masuk, dengan banyak terpelajar disana, Qiu Yongsi diperiksa dengan cepat. Salah satu penjaga bertanya, “Dimana tokenmu?”

Qiu Yongsi, “Aku lupa membawanya! Aku akan kembali dan mengambilnya sekarang!”

Orang-orang di belakang mereka mendesak para penjaga untuk bergegas. Penjaga itu mulai tidak sabar, tapi tidak ada yang bisa ditemukan, jadi mereka harus membiarkan orang itu masuk. Selanjutnya, Hong Jun-lah yang diperiksa dan juga tidak ada apapun yang mereka temukan. Saat dia akan pergi, pihak yang lain bertanya, “Di mana tokenmu?”

“Tunggu! Tak satupun dari mereka memiliki token? Kalian yang di depan, berhenti! Dari pengadilan mana kalian berdua?”

Hong Jun terbatuk, dia tidak tahu harus melakukan apa. Qiu Yongsi datang dan berkata pada para penjaga, “Dia adalah orang Hu! Dia tidak memahami maksud kalian, dan tokennya ada di kamarku. Ai! Tokenku!”

Hong Jun tersadar kembali dan langsung tertawa, “Hai Mei Hou Bi! Teman Tang Agung-ku tersayang!”

Hong Jun ingin melangkah maju dan memeluknya, tapi pada saat yang bersamaan para murid yang ada di belakang juga akan meledak. Kedua penjaga itu terjebak di pintu masuk dan tidak punya pilihan lain selain membiarkan kedua pria itu masuk.

Qiu Yongsi memimpin Hong Jun melewati lorong samping, sambil sesekali melihat ke belakang, dan berkata, “Untungnya, kita berhasil masuk. Ayo kita mencari pengawas disini.”

“Kenapa kita tidak masuk dengan memanjat tembok?” Tanya Hong Jun.

Di mata Hong Jun, mau itu memasuki Istana Kekaisaran, Istana Daming, ataupun Akademi Kekaisaran, seolah-olah semuanya menginjak tanah yang datar; satu-satunya perbedaan adalah warna dinding yang ada di depannya. Qiu Yongsi merasa bodoh karena pertanyaan itu. Kenapa mereka tidak memanjat tembok?

“Kami tidak selalu menggunakan kekuatan untuk memecahkan masalah.”

Saat mereka sampai di ruangan pengawas, Qiu Yongsi hanya mengatakan bahwa dia sedang mencari tiga orang sesama penduduk desa dan memberi isyarat pada Hong Jun untuk menuliskan nama ketiganya. Pengawas memberi tahu mereka bahwa orang-orang itu ada di bangunan berbentuk T dengan pohon plum di halaman. Mereka berdua kemudian kembali ke lorong yang panjang, melewati aula samping, dan akan memasuki halaman dengan pohon plum.

Bangunan aula samping sangat luas, cukup bagi para terpelajar untuk berbincang dan minum teh. Hong Jun dan Qiu Yongsi bergegas melewatinya saat Hong Jun tiba-tiba berhenti dan tanpa sadar melirik ke arah aula.

“Apa?” Tanya Qiu Yongsi.

“Tidak apa-apa,” jawab Hong Jun.

“Percayalah pada intuisimu,” kata Qiu Yongsi. “Kita sedang menyelidiki sebuah kasus.”

“Ada rasa keakraban yang aneh,” kata Hong Jun.

“Bisakah kau menjelaskannya?” Qiu Yongsi melirik Hong Jun.

Kenapa dia merasa seperti sedang berada di rumah? Ada hampir empat puluh orang, tua dan muda, berkumpul di aula samping, semuanya sedang berbisik dan tertawa.

Tepat pada saat itu, seorang pemuda yang menundukkan kepalanya berjalan ke depan dan secara tidak sengaja menabrak Hong Jun, dan menyebabkan Hong Jun terhuyung. Pemuda itu dengan tergesa-gesa meminta maaf, menundukkan kepalanya dengan tangan di depan sebelum menatap ke arah Hong Jun.

Pemuda itu kurus dan luwes, tampaknya lebih muda dari Hong Jun. Dengan tatapan gelisah pemuda itu, Hong Jun tertawa dan melambaikan tangannya untuk menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa. Pemuda itu melangkah ke aula samping lagi dengan senyuman di wajahnya, jelas dia tampak senang.

Dengan tindakan seperti itu, Hong Jun tiba-tiba mengingat perasaannya saat berada di Istana Yaojin. Para pemuda disana, semuanya adalah inkarnasi burung. Di Istana Yaojin, ada atmosfer yao seperti ini, tapi karena watak Chong Ming yang angkuh dan tak ternoda, atmosfer yao menjadi seperti udara yang abadi karena tidak memakan hal-hal seperti itu5.

Yaoguai,” kata Hong Jun.

Tidak mengatakan apapun lagi, Qiu Yongsi berbalik dan berjalan dengan Hong Jun.

Hong Jun berbisik, “Kau juga merasakannya?”

Qiu Yongsi berkata, “Seorang yaoguai baru saja berlari langsung ke arahmu, dan kau masih tidak bisa merasakannya?”

Meskipun tidak ada senjata sihir seperti cermin sihir6. Hong Jun masih bisa merasakan roh seorang yao dari jarak yang dekat. Kemudian keduanya duduk di aula.

“Jangan hanya terus melihat-lihat sekeliling,” kata Qiu Yongsi dengan sopan pada Hong Jun sambil tersenyum. “Pria kecil, ada nasi kering7 di sini. Kemarilah, apa kalian juga ingin secangkir teh?”

“Ya, ya!” Hong Jun sangat suka dengan teh yang dibuat oleh Qiu Yongsi. Aroma daun teh yang segar dan mengental, ditambah dengan beberapa bubuk biji wijen dan butiran milet ditaburkan di atasnya, dan akan meleleh di mulut dengan rasa manis yang lembut. Itu hanyalah salah satu makanan ringan paling enak di dunia.

“Berpura-puralah menjadi tidak berbahaya seperti biasanya.” Qiu Yongsi tersenyum lagi dan berkata, “Lihatlah sekeliling. Siapapun yang terus melihat kita adalah yaoguai. Beri tahu aku jika kau melihatnya.”

Hong Jun, “….”

Hong Jun melihat ke sekelilingnya, matanya dipenuhi dengan keingintahuan seperti orang asing akan Chang’an. Ada beberapa baris meja yang tertata rapi di aula samping, di bawahnya ada pot dan tungku. Di luar, musim gugur terbentang luas, dimurnikan dengan langit biru dan awan putih besar yang mengambang setiap saat. Matahari bersinar, menjadikannya tempat yang nyaman untuk beristirahat.

Para terpelajar sedang melakukan pembicaraan mereka sendiri. Jarak beberapa meja jauhnya, seseorang tampak sedang memperhatikan mereka, sekilas melirik.

“Seseorang sedang mengawasi kita,” Hong Jun tersenyum ke arah Qiu Yongsi. “Bukankah ada banyak yaoguai berdasarkan perkataanmu.”

“Ini memang sarang yaoguai.” Qiu Yongsi tersenyum dengan tidak tulus dan berkata, “Kita tidak bisa bergerak sekarang, atau kita akan menghancurkan Akademi Kekaisaran. Dan Zhangshi akan mulai menangis.”

Hong Jun memperhatikan bahwa ada tiga pemuda yang sedang mengobrol dengan riang dan dengan jenaka di belakang meja yang lain, sedangkan seorang pemuda yang lain merebus air untuk mereka. Tidak ada yang berbicara atau memperhatikan yang terakhir. Dia tampak sangat bosan, menoleh dan melihat halaman yang ada di luar aula. Tidak lama kemudian, tatapannya bergeser, dan bertemu dengan tatapan Hong Jun, dan kemudian tersenyum padanya.

Senyum itu tampak memiliki sedikit aura feminim. Jantung Hong Jun tiba-tiba berdebar kencang saat wajahnya yang tampan memerah sampai telinganya.

Hong Jun tersenyum dengan canggung. Qiu Yongsi bertanya, “Jenis yao apa itu?”

“Itu bisa jadi rubah,” Hong Jun menoleh dan berkata pada Qiu Yongsi.

Senyuman yang barusan itu, Hong Jun merasakan teknik daya tarik yang sangat jelas.

Pemuda itu benar-benar bangkit dan berjalan menuju ke arah mereka berdua. Duduk di depan meja, dia tersenyum dan berkata, “Aroma teh ini sangat harum.”

Hong Jun, “! ! !”

Sebaliknya, Qiu Yongsi tidak menunjukkan bahwa dia akan merubah perilakunya, dan berkata, “Teh ini harus direbus lebih lama sebelum siap disajikan, jangan terburu-buru. Siapa nama adik kecil ini?”

“Du Hanqing.” Pemuda itu memiliki alis yang panjang dan indah, matanya tampak seperti tertutupi oleh air, dan perawakannya lemah. Saat dia menekan tangannya di atas meja, matanya tampak menatap ke arah wajah dan dada Hong Jun. Dia mendekat dan bertanya, “Bagaimana dengan kalian berdua?”

Uh… Jangan terlalu dekat, batin Hong Jun. Kemudian, Qiu Yongsi memperkenalkan mereka berdua. “Qiu Yongsi, dari Hangzhou. Ini adalah sepupu pertamaku, Xiao Hong Jun. Hong Jun, kalian berdua seharusnya seumuran. Kalian harusnya dekat satu sama lain.”

“Kau baru saja memasuki ibukota?” Du Hanqing tidak pernah memalingkan pandangannya dari Hong Jun saat dia berkata, “Ujian akan diadakan pada hari kelima bulan depan.”

Hong Jun merasa sangat gelisah, mengetahui bahwa dia adalah rubah yao. Sebelum dia bisa berpikir lebih jauh,  Qiu Yongsi merenggangkan kakinya di bawah meja dan menendangnya, bahkan tanpa berkedip sedikitpun.

Hong Jun tidak tahu harus berbuat apa. Dia menatap ke arah mata Du Hanqing dan mulai tertawa.

Du Hanqing tidak bisa menahan tawanya dan bertanya, “Berapa umurmu?”

Keduanya mengatakan usia mereka. Hong Jun lebih tua dua bulan dibanding Du Hanqing, sehingga Du Hanqing mengubah caranya memanggil Hong Jun dan sekarang memanggilnya ‘gege‘. Ketika mereka ditanya di mana mereka tinggal, Qiu Yongsi mengatakan bahwa mereka tinggal bersama kerabat mereka di kota dan datang ke Akademi Kekaisaran untuk melangkah ke jalan8 dan mengenal para terpelajar yang lain.

“Kau masih sangat muda, dan kau sudah datang untuk mengikuti ujian kekaisaran?” Kata Hong Jun. “Itu sangat sulit.”

Du Hanqing tertawa dan berkata, “Karena keluargaku miskin, mereka semua berharap bahwa aku bisa mencapai posisi yang terhormat dalam ujian.” Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk bermain dengan bulu merak giok yang ada di sekitar pinggang Hong Jun. Hong Jun takut jika dia akan terkena serangan Cahaya Suci Lima Warnanya dan dengan cepat menariknya. Qiu Yongsi berkata dengan santai, “Itu adalah Kaiguo guang9

Du Hanqing mengangguk. Tidak jauh dari tempat itu, seseorang memanggilnya. Du Hanqing pergi membuat teh untuk mereka saat air mendidihnya sudah siap.

Hong Jun mengamati Du Hanqing dan hanya bisa memikirkan apakah dia sudah membunuh orang atau berapa orang yang sudah dia bunuh. Dia mendengar dari Qing Xiong di Istana Yaojin bahwa rubah yao sangat bagus saat memainkan perasaan dan menyihir orang-orang. Dalam ras yao, rubah yao adalah yang paling mirip dengan manusia dalam hal emosi; kebahagian, kemarahan, kegembiraan, dan kesedihan. Mereka juga yang paling mudah tersinggung; mereka tahu seperti apa manusia itu dan menghargai berbagai macam perasaan, tapi mereka tetap tidak bisa menyingkirkan tubuh yao mereka.

“Dia akan kembali nanti.” Qiu Yongsi menyerahkan giok marmer putih dan berkata, “Berikan ini padanya.”

“Dia tidak akan datang,” kata Hong Jun.

“Dia akan datang,” kata Qiu Yongsi. “Anak muda itu menyukaimu. Dan itu terlihat cukup jelas. Untungnya, Li-Zhangshi tidak ada disini.”

Hong Jun, “?”

Benar saja, beberapa saat kemudian, Du Hanqing kembali setelah membuat teh. Tampaknya beberapa temannya hanya memerintahnya dan tidak benar-benar ingin mengakuinya.

Hong Jun menatap Du Hanqing. Wajahnya memerah saat dia tersenyum, “Kenapa kau terus menatapku?”

“Kau benar-benar sangat tampan,” kata Hong Jun. Dia merasa bahwa penampilan Du Hanqing yang selemah willow10 memang memiliki pesona yang tidak bisa dijelaskan.

“Apa kau membaca puisi?” Tanya Du Hanqing pada Hong Jun.

Hong Jun segera berkata, “Iya.”

“Siapa yang kau sukai?” Tanya Du Hanqing lagi.

“Li Bai!” Kata Hong Jun. “Dia favoritku.”

Du Hanqing berkata, “Aku lebih suka Wang Changling11.”

Alhasil, Hong Jun dengan gembira mulai berbicara tentang puisi. Dia harus mengatakan bahwa meskipun Du Hanqing adalah seorang yaoguai, ketajaman puitisnya tidak buruk. Semakin banyak Hong Jun berbicara, semakin antusias dia. Melupakan bahwa pemuda ini adalah rubah yao, Hong Jun mencoba untuk membuatnya menerima puisi Li Bai, tapi dia malah membuat Du Hanqing terengah-engah karena kegilaannya.

Melihat ke arah barat, Qiu Yongsi tersenyum dan berkata, “Haruskah kita pergi?”

Du Hanqing berkata, “Aku tidak berbicara denganmu.”

Hong Jun tertawa dan berkata, “Apa kau menyukai ini?”

Hong Jun meletakkan giok Budha di atas meja, mendorongnya ke arah Du Hanqing dan berkata, “Kau suka giok, kan? Aku lihat kau menyukai liontin yang ada di pinggangku, tapi liontin ini diberikan padaku dari ayahku, jadi aku tidak bisa memberikan itu untukmu. Ini, ambil ini sebagai gantinya.”

Hong Jun selalu terlihat cuek sebelum berkenalan dengan orang lain. Begitu dia mulai mengobrol, dia akan bersemangat dan penuh energi. Dia tidak bisa untuk tidak berteman dengan Du Hanqing. Du Hanqing langsung sangat tersentuh saat dia mengambil giok Buddha dan melihat ke arah Hong Jun.

“Aku akan datang untuk mengunjungimu besok,” kata Du Hanqing.

“Ah?” Hong Jun menjadi bisu, dia berpikir; kau tidak perlu datang. Itu akan sangat berbahaya jika kau pergi ke Departemen Exorcism.

Qiu Yongsi berkata, “Kami memiliki banyak kerabat di rumah. Bagaimana kalau kalian berdua membuat janji untuk bertemu di tempat lain?”

Hong Jun mengangguk dan membuat janji dengan Du Hanqing besok siang di bawah Jembatan Lishui.

Saat senja, Li Jinglong keluar dari Kediaman Feng.

Feng Changqing berdiri di depan pintu, dan bersandar pada kruknya saat dia berkata, “Akhirnya ada beberapa perkembangan. Sebelumnya, kau tidak akan pernah menanyakan hal itu.”

Li Jinglong diam. Feng Changqing menambahkan, “Aku memahami ambisimu. Hanya saja menjadi pejabat di pengadilan bukanlah hal yang kau pikirkan. Pejabat tapi ‘menipu orang-orang yang di atas’12. Saat kau tidak bisa lagi untuk menyembunyikannya, saat itulah kau memiliki kesempatan.”

“Aku khawatir akan terlambat jika saatnya telah tiba,” kata Li Jinglong.

“Untuk mereka,” kata Feng Changqing. “Tidak ada kata terlambat. Pergi dan buatlah rencana yang bagus.”

Li Jinglong sudah mengerutkan keningnya selama ini. Mendengarkan kata-kata Feng Changqing, dia menjadi lebih cemas.

Hari sudah senja saat Hong Jun meninggalkan Akademi Kekaisaran. Kemudian, Hong Jun ingat bahwa mereka belum memeriksa ketiga pria itu.

“Di aula,” kata Qiu Yongsi. “Mereka semua adalah rubah yao yang berubah.”

Rahang Hong Jun ternganga.

Saat Hong Jun sedang mengobrol dengan Du Hanqing, Qiu Yongsi dengan serius mendengarkan semua percakapan yang tercampur aduk di aula. Saat nama-nama orang itu masuk ke telinganya, Qiu Yongsi kemudian mengamatinya lagi.

“Rubah yao yang berubah?”

“Ada apa lagi? Rubah apa yang menghabiskan waktu sepuluh tahun dengan susah payah demi belajar untuk ujian di istana?” Kata Qiu Yongsi. “Pasti setelah memasuki Chang’an, semua terpelajar sudah digantikan oleh para rubah. Sekarang mereka semua memiliki dagu yang runcing dan mata persik, jadi tidak sulit untuk mengidentifikasinya, hanya saja aku belum pernah memikirkan hal ini sebelumnya.”

Hong Jun, “Bagaimana dengan orang aslinya?”

Qiu Yongsi melirik ke arah Hong Jun. Keduanya memikirkan mayat yang sudah kering yang disembunyikan di bawah tempat tidur Jin Yun dan  merinding.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Siswa yang namanya sudah diajukan untuk mengikuti ujian.
  2. Maksudnya berjalan dengan penuh energi, kegembiraan atau semangat. Ada beberapa idiom seperti: berdiri seperti pinus, duduk seperti jam, angin datang dan pergi tanpa jejak, yang menggambarkan semangat orang-orang.
  3. Pendidikan administrasi tertinggi di Kekaisaran Tiongkok.
  4. Idiom, secara harfiah berarti menangkap ikan di sungai yang berlumpur. Secara kiasan digunakan untuk merujuk pada situasi dimana seseorang tidak melakukan pekerjaan dengan baik atau bermalas-malasan.
  5. Kalimat itu berarti atmosfer tempat itu meskipun sebagian besar dipenuhi oleh para yao, dan lebih mengarah ke udara yang abadi. Tidak memakan hal-hal seperti itu secara kiasan berarti seseorang yang hidup abadi dalam sesuatu yang bersih dan murni seperti awan dan embun, tidak terkontaminasi oleh benda-benda fana.
  6. Cermin sihir untuk mengungkapkan yao mo gui guai.
  7. Parched Rice. Kemarilah, apa kalian juga ingin secangkir teh?"
  8. Mengenal kota, melihat situasi terlebih dulu.
  9. 开过光 (Kāiguò Guāng) – Sebuah istilah buddhist yang berarti suatu benda/ornamen yang telah ditempatkan di alam suci untuk menjamin kedamaian dan kemakmuran.
  10. Seperti ranting pohon willow yang bergoyang tertiup angin. Menggambarkan postur tubuh dan gerakan lembut yang membuat orang merasa kasihan.
  11. Nama kehormatan Shaobo. Dia adalah penyair Dinasti Tang Yang Agung seperti Li Bai. Setelah lulus ujian bergengsi dia menjadi pejabat kesekretariatan dan kemudian memegang posisi kekaisaran lainnya. Dia terkenal karena puisinya yang mengambarkan tentang pertempuran di perbatasan. Wang Changling dan Li Bai adalah dua penyair yang terpilih dalam kompilasi 300 puisi Tang.
  12. Kalimat idiom di atas lebih pada ‘menipu dunia dan mendapatkan kepercayaan’; untuk menyembunyikan kebenaran yang terbuka.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments