English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Lang Junxia – Bunga Poppy1* Ini ditulis pada tahun 2018 oleh Feitian saat pengundian di Weibo untuk merayakan penayangan drama audio Breaking Through the Clouds oleh Huai Shang serta ulang tahun Huai Shang; yang ini, dan bagian Wu Du adalah bagian dari permintaan tersebut.


Matahari terbenam di Jiangzhou berwarna merah seperti darah. Menyinari kota yang tampak letih, ke Sungai Yangtze dan Sungai Kuning, serta menyinari pegunungan yang tampak tak berujung. Di langit di atas, di setiap sungai, di setiap sumur, matahari merah itu ada di mana-mana.

Di sayap samping rumah resminya, Lang Junxia menyelipkan sepucuk surat ke dalam sarung Qingfengjian dan dengan sabar mengemasi barang-barang yang telah menemaninya selama bertahun-tahun – seruling kayunya, token batu giok yang melambangkan keluarga kerajaan Wuluohou, dan seekor kupu-kupu ekor layang-layang yang telah lama mengering dan tersangkut di antara daun-daun buku.

Di antara barang-barangnya ada bungkusan kertas kuning tua dengan beberapa biji di dalamnya. Ketika dia memegangnya di samping telinganya dan mengocoknya, dia bisa mendengar suara gemerisik. Itu adalah biji poppy yang dibelikan Duan Ling sehari sebelum dia meninggalkan Shangjing. Lang Junxia masih ingat hari itu, hari itu adalah hari musim semi yang cerah, dan seperti biasa dia pergi berbelanja ke pasar. Setiap pohon persik bermekaran di akhir musim semi di Shangjing, dan para pedagang yang datang ke utara membawa barang dagangan dari selatan, dan bungkusan biji poppy ini telah menjadi bagian dari barang dagangan mereka.

Dia telah meletakkannya dengan hati-hati di antara halaman-halaman buku, berencana untuk membawanya pulang ke rumah Duan Ling dengan imbalan Duan Ling yang terkesiap kaget serta senyuman yang cemerlang. Setiap kali dia melihat senyuman itu, dia tidak bisa tidak ingin tersenyum juga. Tetapi bunga persik itu tumbuh dengan sangat baik sehingga memberikan firasat buruk baginya, karena dalam hidupnya, dari semua pemandangan indah bunga yang mekar yang pernah dilihatnya, tidak ada yang pernah mekar untuknya. Karena mekarnya semak belukar daun mawar secara diam-diam meramalkan hari-hari kesepian yang akan datang, dan tidak peduli seberapa cemerlang pohon persik yang mekar, mereka tidak mekar untuknya, dan juga tidak ada tanah yang tertutupi oleh daun mawar untuknya. Angin yang berhembus melalui halaman yang sunyi, itu, dan hanya itu, adalah miliknya.

Ketika dia tiba di rumah pada sore hari dan melihat sosok tinggi yang menunggu di halaman2Di buku 1, Lang Junxia sebenarnya begadang semalaman sebelum Li Jianhong datang, dia hanya duduk di luar kamar Duan Ling. Jelas sekali bahwa kedatangan Li Jianhong bukanlah suatu kejutan., dia menyadari bahwa firasat yang dia miliki selama ini ternyata benar. Tuan rumah ini akhirnya kembali untuk meminta sesuatu yang telah dicuri oleh Lang Junxia selama bertahun-tahun, tidak memberinya ruang untuk melawan atau menolak. Itu semua adalah milik pria itu, dan dia sendiri tidak lebih dari seorang pencuri, memegang harta yang nilainya tak terbayangkan, seorang pencuri yang mau tak mau selalu berharap bisa menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Dia tahu itu, dan master yang sebenarnya juga tahu itu. Saat pemahaman bersama ini muncul, dia terus berpikir bahwa dia seharusnya merasa agak malu, tetapi rasa malu ini hanya berlangsung sesaat. Dan dengan bijaksana, dia juga menyadari bahwa sudah waktu bagi dirinya untuk pergi.

Lang Junxia mengikatkan Qingfengjian di punggungnya dan menutup kotak kayu kecil yang selalu dibawanya. Dalam senja ingatannya, ketika dia menutup pintu di belakangnya, dia mendengar suara Duan Ling yang mendesak memanggilnya.

Sama seperti hari ini, malam yang gelisah ini, hari terakhir dalam kehidupan ini, dia telah menutup kotak kayunya dan mengikatkan Qingfengjian ke punggungnya, dan berjalan keluar pintu. Tetapi kali ini, dia tahu bahwa tidak ada yang akan berada di belakangnya, memanggilnya –

Lang Junxia! Kau mau kemana?

Seseorang telah meletakkan sebuah kotak batu giok kecil di halaman. Tutupnya terbuka, dan sebuah pil berada di dalamnya.

Lang Junxia menatapnya dalam diam untuk beberapa saat sebelum dia mengambil pil itu dan memasukkannya ke dalam saku bagian dalam. Dengan satu lompatan dia sudah berada di atas tembok, ekor jubahnya berkibar tertiup angin saat dia berangkat ke istana di senja hari.

Pada malam hari, lentera langit terbit; dia mencubit pil itu di antara jari-jarinya yang sedikit gemetar, tetapi akhirnya tidak meminumnya.


Lang Junxia – 

Suara Duan Ling bergema tanpa henti di telinganya. Lang Junxia berdiri di atas genteng Aula Harmoni Tertinggi dan melihat ke kejauhan ke arah sungai bintang. Wu Du, sebagai kepala pasukan, sedang berjuang menuju kota kekaisaran.

Dia menunggu di atas atap untuk waktu yang sangat lama, sampai Helian Bo dan Batu bergegas melewati taman kekaisaran, dengan Duan Ling yang memimpin mereka.

Para pemuda itu sudah dewasa, dan bahkan Duan Ling sudah cukup umur3Duan Ling berusia 17 tahun di plot utama saat ini, jadi itu berarti dia sudah cukup umur selama 3 tahun. Adegan ini juga tidak terjadi seperti ini — Lang Junxia melindungi Duan Ling sebagai pengawal sementara Wu Du berjuang untuk memasuki kota.. Langkah kakinya mantap dan tidak sedikit pun menampakkan kegelisahan, hanya saja sesekali dia akan melirik ke belakang, ada sedikit kebingungan di matanya.

Di tengah teriakan perang, dentingan senjata, dan cipratan darah, malam terpanjang dalam hidupnya akhirnya berakhir, dan tirai malam yang selama ini memberikan perlindungan juga perlahan-lahan disibakan.


Ruang singgasana menjadi sunyi senyap.

“Wuluohou Mu.”

Lang Junxia akhirnya meminum pil tersebut; dia melangkah keluar dengan tenang dari para pejabat lainnya. Matahari pagi menyinari wajah Duan Ling, sama seperti cahaya yang menyinarinya di malam bersalju itu, bertahun-tahun yang lalu, ketika dia membuka pintu gudang kayu dan menyorotkan lentera ke wajahnya yang lembut dan masih remaja.

Mata Lang Junxia masih samar-samar tersenyum saat dia berlutut dan menatap Duan Ling, tetapi mata Duan Ling dipenuhi air mata.

Dia tahu Duan Ling ingin mengampuninya.

“Aku mencoba membunuh putra mahkota…” Lang Junxia berkata dengan keras.

Dia berpikir tentang cara Duan Ling memohon padanya setelah meminum pil yang sama. Lang Junxia, perutku sakit.

Maafkan aku, Duan Ling, maafkan aku telah membuatmu mengalami begitu banyak kesulitan, batin Lang Junxia di dalam hatinya. Ketika kesadarannya mulai menurun, dia tahu bahwa Duan Ling akan mencoba untuk bergegas turun dari singgasana, dan Wu Du pasti akan menahannya. Ketika para pejabat dan Li Yanqiu memandang dengan jijik, Duan Ling akan menangis, dan dia akan berteriak – seperti anak yang dia kenal dulu.

Jadi dia menutup matanya, dan suara-suara itu perlahan-lahan menghilang ke kejauhan sampai kata-kata terakhir yang terngiang-ngiang di kepalanya adalah – “Cepat selamatkan dia!”


Tutup peti mati disingkirkan. Seorang penjaga Zirah Hitam memegang sebuah lentera. Dikelilingi oleh kegelapan, Lang Junxia terbangun di bawah cahaya yang keras ini.

Pada saat terbangun, dia bahkan menghibur dirinya dengan sedikit fantasi yang tidak realistis, berpikir bahwa orang yang berdiri di aula pemakaman dengan lentera untuk membangunkannya adalah Duan Ling.

Namun, suara dingin Li Yanqiu-lah yang mengatakan kepadanya, “Keluar dari sini. Jangan sampai aku melihatmu lagi.”

Lang Junxia berjuang untuk berdiri. Li Yanqiu menambahkan, “Tinggalkan Qingfengjian di sini. Catatan antara kau dan Chen Agung telah dihapus. Ini adalah perpisahan.”

Lang Junxia menghembuskan nafas panas dan membungkuk untuk meletakkan Qingfengjian di dalam peti mati. Ketika dia menegakkan tubuhnya lagi, dia melirik Li Yanqiu, tetapi yang dilakukan Li Yanqiu hanyalah menunggunya dengan tenang.

Lang Junxia berjalan melewati Li Yanqiu tanpa henti, dan setelah meninggalkan aula pemakaman, langkahnya melambat saat dia melewati taman kekaisaran di belakang aula istana belakang. Dari sini, dia hanya berjarak satu tembok dari ruang tidur Duan Ling saat ini.

“Di mana Yang Mulia Pangeran?”

“Dia baru saja di sini sebelumnya, tapi sepertinya dia pergi dalam sekejap mata…”

Lang Junxia mendengar percakapan panik di antara para penjaga.

Lang Junxia berhenti sejenak untuk menunggu dengan sabar di belakang Tembok Roh. Segera, Duan Ling berjalan melewati serambi tertutup hanya dengan mengenakan pakaian dalam putihnya, dan di tengah keharuman osmanthus, di bawah hujan kelopak bunga yang berserakan, bermandikan cahaya bulan selembut air, dia meninggalkan kamar tidurnya menuju aula pemakaman.

Li Yanqiu sedang menunggu di tikungan, dan Duan Ling hampir saja menghampiri pamannya.

“Kembalilah ke kamar kalian dan beristirahatlah.”

“Aku bermimpi,” gumam Duan Ling. “Aku bermimpi bahwa Lang Junxia terbangun…”

“Dia sudah tiada,” kata Li Yanqiu pelan. “Kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah, Ruo’er.”

Dalam keadaan linglung, Duan Ling berbalik untuk menatap ke taman kekaisaran. Di balik tembok rendah, Lang Junxia mengangkat seruling kayu ke bibirnya, membiarkannya berada di sana untuk waktu yang sangat lama sebelum dia meletakkannya lagi. Tidak ada yang tahu berapa lama waktu berlalu, tapi ketika Lang Junxia keluar dari balik tembok lagi, tidak ada seorang pun yang berada di serambi tertutup itu lagi.


Ini adalah hari pertama musim dingin, dan matahari bersinar cerah serta hangat.

“Dia sudah tahu.”

“Apa yang dia temukan?”

“Dia tahu bahwa kau masih hidup. Wu Du memberitahunya.”

Di lantai dua sebuah restoran di Jiangzhou, Yao Zheng berkata kepada Lang Junxia, “Cepatlah pergi. Jika pamanku menemukanmu lagi, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu.”

Lang Junxia meninggalkan sebuah catatan, dan menoleh ke arah Yao Zheng, dia mengepalkan tangannya dan memberi hormat.

“Semoga kita bisa bertemu lagi.”

Yao Zheng mengikuti Lang Junxia yang mundur dengan matanya, dan dari lantai dua, dia berteriak ke bawah. “Hei!”

Lang Junxia mendongak.

Yao Zheng berkata, “Kupikir kau telah berubah!”

Lang Junxia tidak menjawabnya; menghadapi hari pertama matahari musim dingin, sudut mulutnya sedikit terangkat. Dia mengambil tali kekang kuda yang ditinggalkan Yao Zheng untuknya, dan meninggalkan Jiangzhou di belakang, berlari kencang ke jalan raya ke utara. Dia menunggu di pos sampai Batu, Helian Bo, dan delegasi diplomatik Tenzin lewat. Dia tidak menghampiri mereka untuk menyapa, hanya melihat dari kejauhan.

“Bukankah itu Wuluohou Mu?” Helian Bo menyenggol Batu. Keduanya berhenti untuk menatap tepian di seberang, namun Lang Junxia sudah mengarahkan kudanya menjauh.

Semua tanaman hijau telah layu karena musim dingin, dan Lang Junxia menuntun kudanya ke sebuah perahu yang melaju di Sungai Kuning sebelum jalanan tertutup salju, menuju ke utara begitu dia keluar dari Ruyang. Sejak Chen Agung membentuk aliansi dengan suku-suku di utara, Hebei berkembang pesat, dan banyak orang pindah ke utara untuk bermukim kembali di tanah air mereka. Banyak yang memilih untuk mengarungi sungai hari ini; angin dingin berembus di tepi pantai yang dipenuhi oleh rakyat jelata yang bepergian bersama keluarga mereka. Setelah Lang Junxia menaiki perahu, dia bertemu dengan seorang anak yang kebingungan duduk di dekat pagar. Anak itu sendirian, pipinya memerah karena kedinginan, memegang buah pir yang membeku dan menatap Lang Junxia. Lang Junxia telah membeli dua kati baijiu dan dia meminumnya di dekat pagar. Dia menoleh ke arah anak itu.

“Siapa namamu?” Lang Junxia bertanya.

Angin menderu di dekat pagar kapal, dan suara Duan Ling terdengar di tengah kebisingan – namaku Duan Ling, dan nama ayahku Duan Sheng …

Anak itu menjawabnya dengan sesuatu, tetapi Lang Junxia tidak begitu menangkapnya. Dia terlihat seperti sedang mengembara jauh dari keluarganya, tersesat, jadi Lang Junxia bergerak sedikit untuk memberi ruang dan berkata kepadanya, “Kalau begitu, kemarilah.”

Anak itu berjalan mendekat. Lang Junxia melepas mantelnya yang tebal dan membungkusnya di sekitar anak itu. Anak itu mengawasinya saat dia minum, dan Lang Junxia menambahkan, “Kau masih kecil jadi kau belum bisa minum. Kau baru boleh minum kalau sudah besar nanti.”

“Aku tidak akan minum. Aku hanya melihat-lihat saja.”

Lang Junxia melihat ke arah pantai di kejauhan. “Di mana orang tuamu?”

Anak itu sebenarnya sudah agak dewasa. “Aku tersesat, tidak tahu di mana ayahku. Kemana kau akan pergi?”

“Pegunungan Xianbei. Apa kau mau ikut denganku?”

Anak itu berkata tanpa ragu, “Apakah di sana menyenangkan?”

Lang Junxia berkata dengan dingin, “Itu tidak menyenangkan, dan di sana juga sangat dingin.” Dia menatap anak itu dan menambahkan, “Aku hanya bercanda. Kau memiliki orang tua yang menunggumu, jadi ingatlah untuk tidak setuju untuk pergi dengan orang lain seperti yang baru saja kau lakukan. Jika kau melakukan itu, maka dalam kehidupan ini, tidak ada cara untuk mengetahui di mana kau akan berakhir.”

“Aku tersesat sejak lama. Semua orang mengatakan bahwa aku tidak akan bisa menemukannya lagi.”

“Siapa nama ayahmu?” Lang Junxia berkata dengan santai, “Aku akan menemukannya untukmu.”

Setelah turun, Lang Junxia membawa anak itu untuk menunggu keluarganya di dermaga. Dia membelikan semangkuk bubur Laba, lalu anak itu mengambil mangkuk tersebut dan meminumnya. Lang Junxia berlutut dan menyeka wajah dan tangan anak itu dengan handuk panas. Dia membayar beberapa pekerja dermaga untuk membantunya mencari orang tua anak tersebut, dan menginap di sebuah penginapan di dekatnya selama beberapa hari; pekerja dermaga memiliki jaringan informasi terbaik, dan dalam waktu dua hari mereka berhasil mengetahui bahwa ayah anak tersebut sedang dalam perjalanan dari Ruyang.

Beberapa hari berlalu, dan ayah anak itu tiba. Lang Junxia menegurnya sedikit sebelum naik ke kudanya. Anak itu berlari mengejarnya.

Anak itu bertanya kepada Lang Junxia, “Kau sudah mau pergi? Siapa kau sebenarnya?”

“Aku tidak punya nama,” kata Lang Junxia kepada anak itu, “ingatlah untuk melupakanku. Hup!”

Suara-suara dari beberapa tahun yang lalu melayang ke arahnya tertiup angin, dan perlahan-lahan menghilang. Puncak gunung di kedua sisi lembah melintas seperti gambar-gambar di atas kanvas permainan bayangan.

Lang Junxia, kau mau ke mana?

Pegunungan Xianbei. Apa kau mau ikut denganku?

Untuk melihat ayahku?

Aku hanya bercanda. Kita tidak akan pergi ke Pegunungan Xianbei, jangan percaya kata-kataku. Aku akan membawamu ke Shangjing sekarang… sebelum ayahmu datang, aku akan melindungimu…

Butiran salju seukuran bulu angsa berjatuhan menyelimuti daratan, dan puncak gunung tampak hitam pekat di langit. Dengan sekali sapuan kuas, kuda akan berlari kencang, meninggalkan lanskap yang penuh dengan tinta dalam debunya.


Saat itu adalah musim semi di Pegunungan Xianbei; burung-burung terbang di atas pegunungan saat salju mencair.

Lang Junxia telah merombak kuil di gunung itu dari atas ke bawah. Dengan lengan jubah bela dirinya yang digulung, dia berdiri di atas tangga dengan piring keramik di tangan kirinya dan kuas di tangan kanannya, memadukan pigmen yang dibawa ke sini oleh para pedagang dari Xiyu. Dia memberi titik-titik pada mata dengan cinnabar dan menggambar pola harimau dengan lapis lazuli; Tuan Harimau Putih terlihat begitu hidup sehingga seolah-olah akan melompat dari mural.

Di punggung Harimau Putih duduk seorang pejabat rasi bintang; ditutupi dengan jubah bersulam, wajahnya tampan dan cerah, dengan senyuman selembut air yang meluap. Dia bertelanjang dada, duduk santai dengan satu tangan bertumpu pada lututnya, sementara tangan lainnya terulur, telapak tangan menghadap ke atas, dengan lengkungan giok yang diletakkan di telapak tangannya.4Li Jianhong, versi dewa. Dia sebenarnya membuat penampilan singkat di ekstra festival pertengahan musim gugur pada tahun 2015 sebagai pratinjau dari ekstra mimpi kupu-kupu.

Lang Junxia sangat sabar, menambahkan lebih banyak lagi pada mural tersebut setiap harinya. Orang-orang Xianbei datang untuk memeriksanya sesekali, membawakan makanan, dan melihat-lihat saat dia menambahkan garis-garis rumit dan kelopak bunga warna-warni yang melayang di langit mural.

“Apa ada kabar dari selatan?” Lang Junxia fokus pada gambarnya saat dia mengajukan pertanyaan ini tanpa repot-repot menengok ke belakang.

Para pedagang yang lewat akan membawakannya kabar dari Jiangzhou – semuanya baik-baik saja, dan dunia berkembang.

Suatu malam, setelah dia menyelesaikan pekerjaan mural hari itu, dia mencuci tangannya dan pergi ke tanah di belakang kuil, di mana dia mengambil cangkul dan membalikkan tanah yang lembut. Musim semi telah tiba, dan matahari bersinar cerah; dia berlutut di depan petak bunga dan mengubur kupu-kupu layang-layang di dalam tanah.

Pada suatu hari di Shangjing, dia pernah menyerahkan kupu-kupu ekor layang-layang kepada Duan Ling, dengan sayap yang terjepit di antara jari-jarinya.

Duan Ling tampak sedikit tertekan, dan saat dia mengambil kupu-kupu itu dari Lang Junxia, ekspresinya jelas menjadi gelap, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa.

“Ada apa?” Lang Junxia telah mengetahui perubahan ini.

Duan Ling tersenyum dan mengambil kupu-kupu itu darinya, tetapi Lang Junxia dengan tajam merasakan bahwa kesedihan Duan Ling berasal dari hilangnya nyawa kupu-kupu itu. Sebagai seorang pembunuh, dia sudah terbiasa dengan hilangnya nyawa, tetapi pada hari musim semi itu, tanpa peringatan sama sekali, Duan Ling telah mengadilinya.

Sejak saat itu, dia menjadi lebih berhati-hati. Dia juga menjadi sadar akan banyak bekas luka lain yang melekat pada dirinya, yang terukir dalam takdirnya.

“Begitulah seharusnya,” gumam Lang Junxia dalam hati.

Setelah meletakkan kupu-kupu ekor layang-layang untuk beristirahat, Lang Junxia menanam benih bunga yang pertama.

Tiga tahun kemudian, bunga-bunga poppy tumbuh subur di petak bunga, menyambut sinar pertama matahari musim semi di Pegunungan Xianbei yang suci.5Sebenarnya hanya ada jarak dua tahun antara Lang Junxia meninggalkan Jiangzhou dan peperangan.

Berita datang dari selatan tentang pasukan Borjigin yang menuju ke selatan, sementara Chen Agung telah mengumpulkan dua ratus ribu orang, dan mereka menuju ke utara untuk bertemu dengan ekspedisi Yuan ke selatan.

Namun, lukisan Lang Junxia belum selesai.

Harimau putih sudah selesai, sementara sang pejabat bintang, bermandikan cahaya matahari dengan senyumnya yang anggun dan lembut, mengawasinya dengan sorot mata penuh harap. Satu-satunya bagian dari dirinya yang belum dilukis adalah sudut jubahnya yang berkibar dan ikat pinggangnya. Rune tato yang digambar di sudut jubahnya, bergaris-garis namun tidak diwarnai.

Lang Junxia berlutut di depan mural dan membuka kotak kayu. Kupu-kupu ekor layang-layang yang dulu disimpan di dalam kotak itu telah kembali menjadi debu, dan biji poppy juga telah ditaburkan di tanah yang sama. Satu-satunya yang tersisa di dalam kotak itu adalah seruling kayu.

Dia mengeluarkan seruling kayu itu. Kotak itu akhirnya kosong.

Berlutut di depan mural itu, dia dengan tenang memainkan lagu itu lagi – Reuni Kebahagiaan.

Lagu berakhir. Lang Junxia mendongak, menatap pejabat abadi bintang-bintang.

“Aku pergi,” kata Lang Junxia sambil tersenyum, lalu tak lama kemudian dia menambahkan, “Aku datang.”

Karena itu, dia menyimpan seruling kayu itu, dan di dalam kotaknya, dia meletakkan bunga poppy yang dia simpan dan keringkan selama tiga tahun terakhir. Kemudian, dia meletakkan kotak kayu tersebut di depan mural sebagai persembahan, sebelum bangkit untuk berangkat.


Bunga-bunga hutan telah layu, warna merah musim semi telah hilang terlalu cepat.
Sayangnya mereka tidak tahan menghadapi hujan dingin di pagi hari maupun angin kencang di malam hari.6Reuni Kebahagiaan, oleh Li Yu.

Pada musim semi berikutnya, sinar matahari yang cemerlang menyinari pegunungan, dan di dalam kuil, mural tersebut pada akhirnya tetap belum selesai; dari empat rune pada jubah itu, hanya satu yang hilang, dan tidak peduli berapa lama menunggunya, tidak akan ada yang kembali untuk mengisi garis-garis yang anggun dengan pigmen yang cerah.

Angin musim semi yang berhembus membawa kelopak bunga ke udara, menghembuskan kehidupan ke langit tak berawan, menghembuskan kehidupan ke tanah yang luas itu, menyapu bunga-bunga yang layu di dalam peti kayu. Tiba-tiba saja, jutaan kelopak bunga menjadi hidup; merah, ungu, kuning, memenuhi penglihatan seseorang, melayang-layang di atas mural, dan di dunia fana yang gelisah itu menjadi –

-satu mimpi yang panjang dan lembut.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply