English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Borjigin Batu – Saga Rambat1Ditulis oleh Feitian di Weibo pada Mei 2019 untuk merayakan pencetakan ulang 2013: Dawn of the World. Jika kalian bertanya-tanya apa itu Saga Rambat, kata dalam bahasa Mandarin untuk itu secara harfiah adalah “kacang merah”, tetapi ini bukan kacang merah yang sama yang kalian makan. Jenis bahan yang bisa digunakan untuk membuat gelang beracun. Judul lengkap ekstra ini adalah Saga Merah Tumbuh di Selatan.


“Ketika ibuku masih hidup, dia sering berkata bahwa tidak ada yang benar-benar milikmu …”

“… Pasangan, anak-anak, orang tua, saudara, elang yang terbang di langit, kuda-kuda yang berderap di padang rumput, hadiah dari Khan, wilayah dataran, mutiara di dalam tenda. Semuanya fana. Dan tidak ada sesuatu pun di bawah cakrawala yang dijanjikan kepadamu, atau seharusnya menjadi milikmu.”

“Kau adalah satu-satunya yang menjadi milikmu. Seperti serigala,” gumam Batu dalam hati.

Saat ini, dia mengenakan jubah Khan yang memperlihatkan bahu dan punggungnya, dan di usia dua puluhan, beberapa warna kulitnya telah memudar. Ada seuntai saga rambat yang melingkar di pergelangan tangannya. Ada sebuah puisi dari suku Han yang berbunyi seperti ini:

Saga rambat tumbuh di selatan;
berapa banyak cabang baru yang tumbuh di musim semi?
Aku harap kau membawa pulang segenggam;
karena tidak ada hal lain yang bisa membangkitkan kerinduan seseorang.

Duan Ling adalah orang yang mengajarinya puisi ini. Meskipun Borjigin Batu tidak tahu apa artinya pada saat itu, dia tetap menghafalnya.

Dua tahun yang lalu, dia melihat gelang saga rambat ini di antara barang dagangan pedagang dari selatan. Pedagang Han itu mengatakan kepadanya bahwa itu adalah barang dari negara selatan. Karena itu berasal dari selatan, itu berarti itu berasal dari rumah Duan Ling, dan ketika dia melihatnya, seolah-olah dia melihat Duan Ling; ketika tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan, dia akan meraihnya, seolah-olah dengan menyentuhnya dia menyentuh Duan Ling, yang tinggal di ujung bumi.

Pagi ini, matahari bersinar terang, menyinari segala sesuatu dengan warna emas. Sinarnya masuk melalui penutup tenda-tenda Khan, seperti yang terjadi pada malam itu di perpustakaan di Shangjing.

Cahaya lentera menyinari wajahnya dan wajah remaja Duan Ling serta menyinari rak-rak kuas dan cangkir-cangkir di atas meja. Lentera putar telah melemparkan bayangannya ke lukisan Seribu Kumpulan Sungai dan Gunung, membuat dunia fana tampak sangat terang dan keemasan.

Dia masih bisa mengingat hari dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya, bagaimana Duan Ling berdiri dengan cemas di serambi sekolah dengan jubah hijau bijak. Kulitnya sangat pucat sehingga dia tampak seperti diukir dari marmer putih, jari-jarinya kecil dan lembut, dengan kuku yang terawat rapi, bersih dan tembus cahaya, dan dia sangat gugup sehingga ujung jarinya bergetar seperti bulu matanya yang bergetar. Beberapa luka merah di punggung tangannya sepertinya menunjukkan bahwa dia telah dipukuli sejak lama, tetapi kulitnya sudah sembuh.

Ada mantel kulit serigala yang membungkus Batu hari itu, dan dorongan konstan di dalam tubuhnya yang tidak pernah dapat dia lampiaskan. Sebagai seorang remaja, dia selalu merasa darahnya jauh lebih panas daripada orang-orang di sekitarnya, memancarkan suhu tertentu kapan saja dan di mana saja. Yang dia inginkan hanyalah berkeliling berburu mangsa untuk digigit dan dicabik-cabik serta dimainkan.

Sejak Duan Ling dibawa ke sekolah, Batu selalu menoleh untuk memperhatikannya. Tetapi butuh waktu lama baginya untuk berdiri di sana sebelum berjalan ke arahnya. Maka dimulailah pertemuan pertama yang paling mengerikan – untungnya, Duan Ling tidak pernah menyimpan dendam.

Kesan Batu terhadap Duan Ling sebagian besar terdiri dari profilnya yang fokus dan terkonsentrasi ketika dia belajar. Setiap hari sejak hari pertama mereka bertemu, Batu selalu berbaring di atas mejanya, kepalanya menoleh agar bisa mengawasinya. Ocehan kepala sekolah yang tak henti-hentinya tentang hal-hal yang tidak dapat dimengerti Batu adalah dengungan konstan di telinganya, sementara di matanya ada bayangan Duan Ling, semua perhatiannya tertuju pada pembelajaran.

“Bumi hitam langit biru, alam semesta dalam kekacauan, matahari bulan silih berganti, pagi dan malam terus berlanjut, emas berasal dari lumpur sungai, giok berasal dari Kunlun…” Setiap kali dia mendengar putrinya melafalkan buku-buku di bawah bimbingan Mu Qing, yang paling sering dipikirkan Batu adalah hari-hari yang dihabiskannya di Shangjing.

“Ayah.” Putrinya meraih tangan besarnya, mengayunkannya bolak-balik, memanggilnya keluar dari lamunan masa lalu, dan kembali ke masa kini.

Batu mengerutkan kening sedikit dan menoleh ke arah putrinya.

“Di mana Master Mu?” Batu berkata kepada putrinya, “Panggil dia. Sudah hampir waktunya.”

Putrinya berlari keluar tenda, dan Batu bangkit setelah menghabiskan tehnya. Segala sesuatu di luar tenda Khan bermandikan cahaya keemasan, seperti malam-malam sebelumnya, ketika dia masih kecil, dia menunggu keluarganya bersama Duan Ling.

Duan Ling akan menunggu Lang Junxia dengan gigih, sementara apa yang dijaga oleh Batu adalah saat-saat bahagia terakhir yang bisa dia habiskan bersama Duan Ling.

Bagaimanapun, ketika semua orang mengucapkan selamat tinggal dan pulang ke rumah, dia justru pulang ke rumah yang gelap dan suram, diikuti dengan caci maki ayahnya yang sedang mabuk. Hal itu benar-benar membuatnya sama sekali tidak ingin pulang.

Setiap kali Lang Junxia datang terlambat, Batu akan mengajari Duan Ling bergulat atau membawanya ke halaman belakang sekolah untuk menangkap kumbang. Dia akan melilitkan seutas tali di sekitar kumbang kumbang itu beberapa kali dan mengikatnya untuk Duan Ling… terkadang Lang Junxia akan tiba sebelum Batu dapat menemukan sesuatu yang ingin dia berikan kepada Duan Ling. Kemudian, yang bisa dilakukan Batu hanyalah melambaikan tangan kepadanya sambil terlihat bosan, dan menyuruhnya pergi.

“Duan Ling, Duan Ling!” Batu memanggil dengan lembut sambil duduk di dinding rumah Duan Ling di bawah langit musim panas dengan sebuah botol di tangannya.

Ketika Duan Ling mendengar panggilannya, dia berlari keluar dari kamar tidur dengan hanya mengenakan pakaian dalam putihnya, menyuruh Batu untuk segera turun dari tembok dan masuk ke dalam kamar tidurnya.

Batu bersikeras untuk pergi, tetapi Duan Ling sudah meraih tangannya, menarik dan menyeretnya ke kamar tidur lalu ke tempat tidurnya. Mereka berbaring bersama, dan Duan Ling menarik selimut menutupi mereka.

“Ini untukmu,” kata Batu pelan di samping telinga Duan Ling.

Duan Ling menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Sambil berbaring berdampingan, Batu mencengkeram botol itu dan membuka sumbatnya.

Kunang-kunang yang dia kumpulkan selama dua malam terakhir terbang sekaligus, mengirimkan titik-titik cahaya yang menyilaukan ke seluruh kamar tidur Duan Ling, menerangi ruangan seperti Sungai Perak di langit malam musim panas.

“Ah?!” Duan Ling berseru gembira. Batu menoleh untuk melihat wajahnya dan mengulurkan tangan untuk mencubit pipinya. Pipi Duan Ling dicubit, tapi dia sepertinya tidak peduli, mengulurkan tangan untuk menangkap kunang-kunang sebagai gantinya. Karena tidak dapat menghentikan dirinya tepat waktu, jari-jari Batu meninggalkan noda berdebu di pipi Duan Ling. Dia segera melepaskannya, secara naluriah ingin membersihkan jari-jarinya, tetapi tidak tahu di mana dia bisa membersihkannya; pada akhirnya, dia hanya dapat mengusapnya pada dirinya sendiri.

“Ayah.” Putrinya kembali dengan Pedang Emas Khan di tangannya. Dia memberikan pedang itu kepada Batu, dan Batu mengambilnya dan menyarungkannya di punggungnya.

“Sekarang, apa lagi?” Batu berjalan keluar, mengendus-endus dirinya sendiri saat melakukannya, memastikan dirinya bersih.

Putrinya berkata, “Aku ngin menikah dengan Master Mu.”

Begitu mendengar hal ini, Batu meledak. “Apa yang kau tahu? Kau baru berusia tujuh tahun! Kau sudah ingin menikah? Tidak mungkin!”

Putrinya terdiam. Batu menggendongnya dan menaikkannya ke atas kuda.

Istrinya telah meninggalkan Khanate tiga tahun yang lalu, pulang ke klan Helulun. Untuk meredakan permusuhan mereka yang tak berkesudahan, dia telah dipanggil oleh orang-orang di klannya seolah-olah untuk mengunjungi keluarganya, tetapi maksud mereka sebenarnya adalah untuk menikahkannya kembali dengan pemimpin suku lain di utara yang baru saja berkuasa. Kekaisaran Yuan Agung, setelah bertahun-tahun bertikai karena perebutan kepemimpinan dan kekalahan beruntun, sudah berantakan.

Istrinya meninggalkan putrinya pada Batu; dia dijuluki Mutiara dari Padang Rumput, dan dia dijuluki Putri Pegunungan. Dan sekarang, dengan putri yang paling disayanginya di pelukannya, Batu berkuda perlahan-lahan menjauh dari Khanate dengan kuda Ferghana-nya.

Mu Qing dan Chang Liujun berada di atas kuda mereka, menunggu di jalan yang harus dilalui Batu.

“Khan yang Agung, kau bangun pagi-pagi sekali hari ini,” Mu Qing menyapanya sambil tersenyum.

Batu mengangguk padanya dengan linglung. “Di mana pasukan kita?”

Chang Liujun yang bertopeng memberi isyarat kepada Batu untuk melihat ke belakang. Pasukan kavaleri berpakaian besi dari Gerombolan Keemasan berkumpul di pagi hari; lima puluh ribu penunggang kuda lapis baja telah berkumpul, begitu banyak jumlahnya sehingga mereka melampaui penglihatannya pada pandangan pertama, baju besi mereka berkilauan di bawah sinar matahari.

Dengan Pedang Khan di punggungnya, Batu berbagi tunggangan dengan putrinya, dan memimpin ahli strateginya, Mu Qing dan Mayor Jenderal Chang Liujun, dia meninggalkan Dataran Agung di belakang dan memulai perjalanannya ke selatan.


Di selatan yang berkabut, di mana mereka merasa seolah-olah sedang mengendarai awan, derap kaki bergerak ke arahnya. Pasukan Jendral Chen Agung telah melintasi Tembok Besar dan tiba di tengah padang rumput. Perwakilan dari kedua kekaisaran saling berhadapan di bawah upacara pertemuan dua penguasa dalam sebuah operasi militer.

Matahari terbit, menyinari panji-panji perang Gerombolan Keemasan dan Chen Agung yang berkibar. Dunia sunyi, tanpa ringkikan kuda yang memecah kesunyian. Satu-satunya suara yang terdengar adalah angin kencang yang menggulung padang rumput.

Di sisi Chen Agung, seseorang berseru pelan karena terkejut. Segera, Pewaris keluar dari kerumunan di atas tunggangannya.

Dia adalah Duan Ling, diikuti oleh Wu Du, Zheng Yan, dan seorang anak berusia lima tahun. Anak itu sangat mirip dengan Duan Ling saat dia masih kecil, dan seperti sepotong batu giok, sudah ada aura agung yang mengelilinginya.

“Putramu?” Batu bertanya.

“Keponakan,” Duan Ling tersenyum. “Anak pamanku. Aku membawanya untuk memperluas wawasannya.”

“Duan Ling!” Mu Qing tersenyum, dan dia akan memacu kudanya, tetapi Batu menghalangi jalannya.

Dengan jarak sepuluh langkah di antara mereka, Duan Ling dan Batu saling memandang.

“Kenapa kau tidak kecokelatan seperti dulu?” Duan Ling berkata dengan curiga.

Batu menjawab dengan dingin, “Aku sudah tahu kau akan datang. Jadi aku sudah mandi terlebih dulu.”

Wu Du dan Chang Liujun saling menatap dari kejauhan, dan Chang Liujun tersenyum penuh teka-teki, mencoba mengatakan sesuatu kepada Wu Du dengan matanya, tetapi Wu Du hanya menatapnya dengan jijik.

“Dari mana kau mendapatkan gelang itu?” Duan Ling bertanya sambil tersenyum.

“Aku membelinya sendiri.” Batu mengibaskan lengan bajunya dengan hati-hati untuk menjatuhkannya, menutupi gelang itu. Dia berkata dengan santai, “Apakah sudah ada yang cocok untuk keponakanmu?”

Duan Ling berkata, “Oh, itu terserah pamanku dan dirinya sendiri. Aku tidak dalam posisi untuk membuat keputusan itu.”

Saat dia berbicara, Duan Ling menoleh ke arah keponakannya yang masih kecil. Anak laki-laki dan putri Batu tidak bisa tidak memperhatikan yang lain dengan rasa ingin tahu.

“Apakah kau membawa perjanjian itu?” Batu berkata. “Di mana penasihat militermu? Tapi kukira kau adalah penasihat militermu sendiri. Sudahlah.”

Duan Ling mengangguk. Batu mengangkat tangan, memberi isyarat, dan kedua pasukan meniupkan terompet sebagai tanda dan mundur untuk membuat tempat terbuka. Batu mengarahkan kudanya dan memimpin pasukan Duan Ling untuk menandatangani perjanjian damai. Hari ini, pertempuran bertahun-tahun antara Yuan dan Chen akhirnya berakhir, menandai zaman keemasan yang baru.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply