English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 2 Part 4

“Lang Junxia!” Duan Ling dengan segera mengguncangnya, memanggil namanya dengan keras, tetapi Lang Junxia tidak bereaksi sama sekali. Di atasnya, gumpalan salju yang terkumpul di pohon pinus jatuh ke bawah, tersebar ke seluruh tubuh Duan Ling.

Dalam sekejap itu, Duan Ling bahkan tidak sempat memikirkan pergantian kejadian yang tak terduga ini secara rinci; hanya ada rasa takut yang muncul di benaknya sesaat sebelum ide yang jauh lebih mendesak mengambil alih pikirannya — Lang Junxia pasti pingsan karena dia terlalu kedinginan. Meskipun Duan Ling tidak dapat menjelaskan tentang noda darah di tubuh Lang Junxia, ​​dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, apapun yang terjadi dia harus membuat Lang Junxia jauh lebih baik.

Dengan susah payah, dia mencoba untuk menyeret Lang Junxia dan membawanya ke ruang tamu, tetapi setelah berhasil melalukannya, hal itu menghabiskan terlalu banyak tenaganya, namun Lang Junxia masih tidak menunjukkan tanda akan sadar. Duan Ling memanggilnya beberapa kali, mendekatkan wajahnya ke wajah Lang Junxia untuk merasakan napasnya, dan menemukan bahwa napasnya stabil dan teratur, hanya saja bibirnya pucat.

Dia perlu menyalakan api, pikir Duan Ling saat dia melihat ke seluruh penjuru rumah baru mereka mencari di setiap sudut, dan dia menemukan arang dan kompor gerabah yang sudah ditinggalkan di dapur. Dia mulai menyalakan api di ruang tamu.

Ada juga sprei di kamar, jadi Duan Ling menyelipkannya ke Lang Junxia seperti bantal. Pada saat itulah dia melihat darah merah cerah menetes dari Lang Junxia.

Darah itu terlihat dari ruang tamu, mewarnai ambang pintu dengan noda darah, meninggalkan jejak yang jelas dari pintu yang tertutup lalu ke tanah yang tertutup salju yang ada di dalam halaman depan. Tetesan darah melewati ambang gerbang depan di sepanjang gang yang mereka lewati, menuju ke ujung gang yang panjang, dan di ujung gang, sampai di belokan ke jalan utama.

Dia melakukan pencarian di seluruh tubuh Lang Junxia tetapi tidak menemukan salep trauma apapun. Yang dia temukan hanyalah paket yang dibungkus kain kecil dengan akta kelahiran Duan Ling yang ada di dalamnya. Apa yang harus dia lakukan? Pipi Lang Junxia pucat pasi, dia jelas sangat lemah, dan mulai demam. Pada saat itu tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Duan Ling selain mencari uang, lalu keluar, dan membawa kembali seorang tabib.

Jika kau sakit, kau harus pergi ke tabib untuk memeriksakan kondisi pasien dan mendapatkan resep. Dulu saat dia tinggal bersama Keluarga Duan, semua orang yang ada di sana menyuruhnya berkeliling untuk menjalankan tugas itu, dan dia sering disuruh pergi ke kedai obat.


Pada jam-jam paling tenang di Shangjing, energi misterius masih berkeliaran di jalanan; suatu saat di malam hari sosok tinggi yang ramping dari Wu Du muncul dari dalam kedinginan mengenakan mantel katun panjang yang compang-camping dan topi bambu berbentuk kerucut, tanpa sadar dia memainkan belati di antara jari-jarinya. Dia pergi dari rumah ke rumah, dan saat dia lewat dia akan menoleh sesekali untuk mendengarkan dengan penuh perhatian.

Seorang pria berpakaian hitam yang agak paranoid mengikutinya, melihat ke segala arah.

Wu Du berkata, “Setelah kami menemukan beberapa petunjuk, jangan lagi pergi sendirian.”

Pria berpakaian hitam, “Wu Du! Jangan lupa bahwa Jenderal mengirimmu untuk membantuku! Dia terluka — seberapa jauh dia bisa pergi?”

“Aku tidak akan pernah berebut reputasi denganmu, Zhuxiong1, tetapi jika kau khawatir aku akan mengacaukan pekerjaan ini, kau bisa langsung mencarinya sendiri,” kata Wu Du.

Pria berpakaian hitam itu melirik Wu Du, dan diikuti dengan tawa sarkastik. Dia berbalik untuk pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, menghilang ke arah banyak halaman rumah yang ada di Shangjing.

Wu Du berpikir dengan tenang, untuk sejenak melihat ke kejauhan, dan menuju ke jalanan utama pasar.


Duan Ling mengetuk pintu belakang Aula Kemahsyuran sampai pintu itu terbuka dan menyelinap ke dalam melewati badai salju.

“Dokter sedang melakukan panggilan rumah. Jenis penyakit macam apa itu?”

“Berdarah!” Duan Ling memohon, “Tidak bergerak! Kapan dokter itu akan kembali?”

“Luka macam apa?” Tanya penjaga toko dengan tidak sabar. “Pria atau wanita? Berapa umur pasien?”

Duan Ling berbicara sambil menggerakkan tangannya, dia sangat cemas tak terkira, tetapi di sisi lain pemilik toko itu sedang mabuk dan matanya berkaca-kaca. Yang dia katakan kepada Duan Ling adalah bahwa dokter itu tidak tinggal di sini — dia berada sekitar dua jalan jauhnya. Ketika dia datang untuk minum pada malam sebelumnya, sebuah keluarga di Jalan Dong mengalami sebuah persalinan yang sulit, jadi dia mengambil kotak obatnya dan pergi menemui mereka. Mengenai rumah mana yang dia datangi, pemilik toko tidak tahu persis di mana letaknya.

Di sini, Duan Ling membuat dirinya sendiri menggila karena panik sementara penjaga toko, dia tetap tenang. Dia dengan perlahan memberi tahu Duan Ling, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa, aku akan memberimu beberapa serbuk trauma tropis2 dan membuat resep yang membantu merawat daging yang terlihat dan mendorong sirkulasi darah. Minumlah rebusannya dan setelah demamnya hilang, dia akan sembuh.”

Penjaga toko tersandung-sandung di tangga saat dia akan mengambil resepnya. Duan Ling berdiri dengan gelisah di belakang meja kasir. Dia ingat seseorang pernah memberitahunya bahwa ginseng dijamin dapat menyembuhkan apa pun, jadi dia mendorong kursi ke arah lemari obat dan naik ke atasnya untuk mencari ginseng.

Dan sekarang ada suara ketukan lagi di pintu depan.

“Apa ada seseorang di sini?” Dia berkata dengan suaranya yang dalam dan berat.

Sebuah lentera di satu tangan dan sebatang ginseng tua di tangan lainnya, Duan Ling berdiri disana, dengan ragu-ragu dia berpikir tentang apa yang harus dia lakukan. Sesuatu yang ada di luar pintu mengeluarkan suara gertakan, dan pintunya jelas terkunci, tetapi entah bagaimana seorang tamu sudah masuk ke dalam. Duan Ling buru-buru turun, mencoba untuk tetap diam. Dia berlutut di kursi, dan meletakkan lentera dengan benar, dia melihat keluar dari balik meja.

Orang yang datang adalah seorang pemuda, yang tertutupi oleh salju. Tangan kirinya berada di kerahnya seolah-olah dia sedang memegang sesuatu, dan tangan kanannya yang terbuka menjadi merah karena kedinginan.

Pria itu memiliki jari-jari yang panjang dan ramping. Dia berbalik sedikit ke samping, meletakkan satu sikunya di meja dan menatap Duan Ling dengan hati-hati sambil berdiri menjulang di atasnya, dan menatap matanya dengan saksama. Duan Ling terlalu kecil, dan hanya setengah dari wajahnya yang terlihat di belakang meja kasir. Dia merasa terintimidasi.

Pria itu memiliki wajah yang ramping, mata yang cekung, dan tulang pipi yang tajam; kulitnya agak gelap, dengan alis hitam tebal seperti guratan yang naik dalam tulisan kursif3 kasar, sebuah tato yang terbuat dari tinta dengan tulisan glyph4 ada di lehernya, di bawah salah satu sisi rahangnya. Itu tampak terlihat seperti potongan kertas dari raut muka beberapa binatang aneh.

“Di mana dokternya?” Pemuda itu berkata dengan acuh tak acuh, lalu dua jarinya saling bersilangan dan memperlihatkan manik berwarna emas yang cemerlang. Perhatian Duan Ling segera tertuju pada manik-manik emas cantik itu, dia benar-benar terpesona akan hal itu, pandangannya beralih dari manik-manik emas ke pria itu. Pemuda itu memegang manik-maniknya di antara jari telunjuk dan tengah, memutarnya, dan manik itu mulai berputar-putar di atas meja.

“Dokter sedang pergi untuk membantu persalinan.” Manik emas itu sangat mempesona Duan Ling sehingga dia hampir tidak dapat membuka matanya, dan dia menjawab, “Jalan Dong… sebuah keluarga di sana sedang mengalami hal yang sulit.”

Dengan sedikit dorongan dari jari pemuda itu, manik emas itu berguling berhenti di depan Duan Ling.

Pria itu membuat isyarat bantu dirimu sendiri, dan berkata, “Selain dari keluarga yang melakukan persalinan, apa ada orang lain yang mencari dokter?”

“Tidak,” jawab Duan Ling tanpa berhenti untuk berpikir.

Dia dapat mencium aroma berbahaya pada pria ini, dan dia juga tidak berani untuk mengambil manik emasnya. Selalu ada jebakan di balik sebuah umpan — kesulitan yang dia derita saat masih kecil membuatnya sangat waspada.

“Apa dokter itu adalah ayahmu?”

“Bukan.” Duan Ling mundur sedikit, menatap pria itu dari atas ke bawah.

“Apa itu yang ada di tanganmu?” Pria itu mengalihkan perhatiannya ke bahan ramuan yang ada di tangan Duan Ling.

Secara alami dia tidak dapat mengatakan bahwa dia mencurinya, jadi Duan Ling menunjukkan padanya dan berbohong, “Ginseng untuk wanita yang sedang melahirkan.”

Pemuda itu terdiam sejenak. Khawatir bahwa pemilik toko akan kembali ke lantai bawah dan mengungkapkan kebohongannya, Duan Ling berkata, “Apa kau butuh yang lain?”

“Tidak ada lagi.” Sudut mulut pria itu menampakkan senyuman yang sedikit tidak menyenangkan, dan meletakkan tangannya di atas meja, dia memainkan jari-jarinya dengan irama yang stabil. Tiba-tiba manik emas itu terbuka dan menjadi kelabang dengan punggung emas mengkilap dan perut berwarna cerah!

Kelabang itu langsung menuju ke arah Duan Ling — Duan Ling sangat ketakutan sampai dia berteriak dengan keras, tetapi pria itu baru saja mulai tertawa. Dengan gerakan menyambar yang halus, dia membawa kelabang itu dan menghilang di malam bersalju di luar pintu.

Duan Ling bergegas ke atas untuk menemukan penjaga toko dan menemukannya pingsan di bawah lemari obat yang ada di loteng, dia pingsan karena minuman dengan paket obat yang berantakan berada di tangannya. Duan Ling merasa lega, dengan hati-hati dia mengambil bungkusan paket tanpa membangunkan pemilik toko, mencari label dengan nama serbuk trauma tropis, dan melangkah kembali ke rumah.

Salju telah mengaburkan darah yang dijatuhkan oleh Lang Junxia ke jalan. Di malam yang larut, jalan membentang terang dan lebar di hadapannya. Kuda mereka masih berada di luar gerbang, dan Duan Ling memperhatikan bahwa kuda itu menggigil karena kedinginan dan membawanya ke kandang di halaman belakang. Dia memberinya jerami dengan garpu rumput dan berkata, “Aku akan kembali sebentar lagi.”

Ketika dia berbalik, Duan Ling diangkat oleh sebuah tangan. Namun, saat dia akan membuka mulutnya untuk berteriak, sebuah tangan besar yang kasar membungkam mulutnya.

Duan Ling merengek dan membuat suara apapun yang bisa dia keluarkan, dan berjuang dengan sekuat tenaga. Tangan pria itu sangat kuat; dia menekan belati yang mengkilap ke leher Duan Ling dan memasukkan ujungnya, sedikit. Pupil Duan Ling membesar dan dia tidak berani untuk bergerak lagi.

Di belakangnya, pria itu berkata, “Di mana Lang Junxia?”

Melalui cahaya yang berkilauan dari es, dia menyadari bahwa dia sedang ditahan oleh pembunuh bertopeng dengan pakaian hitam seorang pengembara, tetapi kemudian dia membuat dirinya sendiri tenang – dia mengerutkan bibirnya erat-erat dan tidak mengucapkan sepatah kata apapun.

“Tunjukkan jalannya! Di mana dia?! Jika tidak, aku akan membunuhmu!” Pembunuh itu mengancamnya dengan suara rendah.

Duan Ling menunjuk ke belakang rumah, memikirkan bagaimana cara membuat pria ini pergi atau mungkin dia bisa berteriak dan memperingatkan Lang Junxia. Pria kuat itu melingkarkan satu tangannya di sekitar tubuh Duan Ling dan mengikuti arahannya ke halaman belakang. Es yang terkumpul di tanah yang ada di sini cukup licin, dan saat pria itu melompat melintasi lorong, Duan Ling tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit tangan si pembunuh.

Dan akhirnya jari tengahnya digigit tanpa peringatan apapun, pembunuh itu berteriak kesakitan, dan berbalik ke kanan untuk mengambil pedangnya dan refleks memotong Duan Ling. Tapi Duan Ling sudah jatuh ke tanah, menggerakkan tangan dan kakinya. Pembunuh itu mengikuti di belakangnya, dan mengetahui bahwa dia mungkin akan pergi mencari bantuan, dia tampaknya tidak terburu-buru untuk mengejar.

Tapi Duan Ling sangat cerdik; dia tidak berlari menuju tempat Lang Junxia berada, ​​dan sebaliknya dia malah berlari melewati lorong, membanting setiap pintu saat dia berlari, dan berteriak, “Pembunuh! Pembunuh!”, dan langsung menuju kandang, berusaha sekuat tenaga untuk pergi dari sini agar si pembunuh tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Lang Junxia disini.

Pembunuh itu akan menggunakan Duan Ling untuk menemukan Lang Junxia, ​​tetapi saat dia melihat Duan Ling berlari keluar, dia menyadari bahwa dia tidak akan berhasil dan dengan langkah panjangnya, dia tiba-tiba berlari ke depan, jarinya hampir meraih kerah Duan Ling —

Kilauan pedang yang menyilaukan datang dari belakang pilar yang ada di samping dan si pembunuh menarik belatinya untuk memblokir serangan itu; dengan logam yang tajam belati itu terpotong menjadi dua, dan pedang itu memotongnya ke atas secara diagonal setelahnya dengan cepat. Dengan wajah pucat dan napas yang pendek, Lang Junxia menghujamkan pedangnya ke arah pembunuh itu, dengan langkah yang terhuyung-huyung. Namun, langkahnya goyah, dan pada akhirnya dorongan itu meleset setengah inci.

Pembunuh itu lolos dari serangannya; Lang Junxia mengambil satu langkah ke samping, penglihatannya menjadi gelap, dan dia jatuh ke tanah. Duan Ling berteriak, berbalik dan bergegas ke arahnya, lalu melemparkan dirinya ke atas punggung Lang Junxia.

Pembunuh itu menarik rambut Lang Junxia, ​​dan membuatnya mendongak. Dia mengeluarkan belatinya yang lain dan menekan ujungnya ke tenggorokannya.

“Di mana Li Jianhong?” Tanya pembunuh itu dengan tenang.

“Jika kau tidak membunuh anak itu, aku akan memberitahumu…” Bibir Lang Junxia hampir tidak bergerak sama sekali saat dia membuka mulutnya dengan lemah.

Pembunuh itu benar-benar meremehkan kemampuan Duan Ling saat menerima pukulan. Betapa uletnya seseorang saat nyawanya terancam sebenarnya terkait erat dengan sesuatu yang pernah mereka alami. Sejak dia masih kecil, Duan Ling sudah mengalami yang namanya dilempar ke dinding, dipukuli dengan batu bata, ditampar dengan tangan, dan ditinju – sudah sejak lama dia mengalami hal itu dan itu membuatnya memiliki seni untuk mengetahui cara menerima pukulan. Dia tahu bahwa saat seseorang meninju wajahmu secara langsung, kau harus menghindari pukulan di hidung dan pelipis, dan sebagai gantinya gunakan rongga mata untuk menerima pukulannya.

Pembunuh itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, dan dari pupil Lang Junxia yang terlihat jelas, dia memperhatikan bahwa di belakangnya, Duan Ling mengambil pedang Lang Junxia dan dia menusuk ke arahnya…

Semuanya berakhir sebelum tintanya mengering — tepat saat si pembunuh akan berbalik, Duan Ling menusukkan pedang ke belakang lehernya. Pedang tajam itu membuat suara ringan dan memaku pembunuh itu tepat di tanah.

“Aku…”

Pupil si pembunuh mulai membesar, dia sepenuhnya tidak percaya bahwa dia sekarat di tangan seorang anak kecil yang lemah. Salah satu tangannya bergesekan di salju beberapa kali. Leher dan tenggorokannya sudah tertembus, dan seketika menyebabkan kematian.

Napas terakhir dari pembunuh itu menghilang, tidak menyisakan apa pun kecuali butiran salju yang tak terbatas dari langit. Ini pertama kalinya Duan Ling membunuh seseorang. Tangan dan wajahnya berlumuran dengan darah merah cerah, dan dengan sangat tidak percaya dia menatap pembunuh itu. Lalu dia dengan panik merangkak menuju ke arah Lang Junxia, ​​dan melemparkan dirinya ke dalam pelukannya.

Dengan mata yang tertutup, Lang Junxia melingkarkan lengannya di sekitar tubuh Duan Ling. Duan Ling melihat ke arah belakang dengan ketakutan dan menemukan mata si pembunuh bayaran itu terbuka lebar, memelototi mereka. Kemudian Lang Junxia mengangkat tangannya, dan menutupi mata Duan Ling, dan membuatnya agar tidak melihatnya lagi.


Satu jam kemudian.

“Siapa di sana?”

Seekor burung goshawk utara5 terbang mengelilingi langit kota dan akhirnya petugas patroli menemukan sosok pemuda itu, dan mereka berlari kencang untuk mengejarnya. Pemuda itu meletakkan jari-jarinya di bibir, bersiul berulang kali, tapi sayangnya tidak ada yang menjawab siulannya di tengah badai salju.

Semakin banyak petugas hukum datang dari segala arah untuk menangkapnya, mereka saling memberi isyarat dengan panggilan burung. Pemuda itu meninggalkan atap yang ada di belakang dan turun ke gang kecil, berbelok ke arah salju dan kehilangan orang-orang yang mengejarnya. Tetapi saat dia meninggalkan gang, dia menemukan lebih banyak pria mendekatinya.

Pemuda itu tidak berani bertahan di sana untuk berkelahi dan dia memilih mundur, langkahnya seringan rumput bebek yang ada di kolam, meninggalkan jejak dangkal di salju. Yang mengejutkan adalah, bahwa petugas patroli berhasil mengepungnya, membengkokkan busur dan memasang anak panah mereka. Namun sebelum mereka dapat menyempurnakan formasi mereka, pemuda itu sudah berbalik, dan dengan satu goyangan dari lengan bajunya, dia menembakkan panah kecil yang tak terhitung jumlahnya, yang masing-masing setipis rambut sapi.

Di hadapannya, para penunggang kuda yang berpatroli sudah tiba dengan cepat dan berteriak, “Siapa yang berani bertindak kurang ajar di jalanan Shangjing!”

Saat penunggang kuda yang berlari dan tampak seolah-olah akan menabrak pria itu, dia dengan cepat melepas topinya yang berbentuk kerucut dan dengan lambaian tangannya, dia melemparkannya. Dalam sekejap penjaga itu langsung jatuh dari kudanya; mereka saling bersilangan dan topi itu terbang ke belakang, lalu pemuda yang menangkapnya. Dia meletakkannya kembali ke kepalanya, dan tanpa sepatah kata apapun, dia melompat ke sebuah gang dan menghilang tanpa jejak.

Tepat setelah keributan itu, para penjaga berkuda pergi dari pintu ke pintu untuk mencari kaki tangannya.

Duan Ling menyalakan api di dalam kamar. Dia menyuruh Lang Junxia berbaring di tempat tidur agar dia bisa mengoleskan serbuk trauma pada lukanya, lalu dia memotong ginsengnya dan menaruhnya di panci air lalu memanaskannya.

“Dari mana kau mendapatkan ginseng itu?” Tanya Lang Junxia dengan mata yang tertutup.

“Mencurinya dari kedai obat,” kata Duan Ling. “Mengapa ada orang yang datang untuk membunuhmu? Apa mereka adalah orang jahat?”

“Dua belas hari yang lalu, aku berangkat ke Kota Huchang6 untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jejakku ditemukan oleh Wu Du si pembunuh dan aku tidak bisa menggoyahkannya. Aku mengambil kesempatan ini untuk membunuhnya, tetapi sayangnya dia jauh lebih licik dari yang kupikirkan — aku jatuh ke dalam serangkaian perangkapnya dan dalam pertarungan yang terburu-buru itu aku akhirnya terluka parah. Hanya dengan mengandalkan setiap trik yang kutahu, aku kehilangan dirinya di kaki Altyn-Tagh.7

“Apa dia adalah… pria berkulit hitam yang mati itu?” Tanya Duan Ling.

“Tidak.” Jawab Lang Junxia dengan matanya yang tertutup, “Pria berkulit hitam yang ada di luar bernama ‘Zhu’. Dia adalah anggota penjaga bayangan dari kekaisaran Chen. Para penjaga bayangan dan Wu Du tidak pernah akur; Aku kira Zhu membuntutiku ke Shangjing karena dia berencana mengambil pujian karena berhasil membunuhku. Dan karena serangkaian kejadian yang tak terduga ini, dia entah bagaimana pada akhirnya mati di tanganmu.”

Jadi, alasan mengaoa Lang Junxia tidak datang menjemputnya adalah karena dia pergi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dimana itu kota Huchang? Benak Duan Ling dipenuhi dengan pertanyaan. Tetapi saat dia akan bertanya, Lang Junxia berkata, “Sembunyikan mayat di kandang, tutupi dengan jerami, lalu sekop salju yang ada di halaman, tutupi noda darahnya, dan ganti pakaianmu.”

Duan Ling agak takut, tetapi dia melakukannya sama persis seperti yang diperintahkan oleh Lang Junxia. Tubuh itu masih menatap kosong dengan matanya kosong; dia bertanya-tanya apa mayat itu akan berubah menjadi hantu dan kembali di malam hari untuk menuntut nyawanya dikembalikan. Saat dia selesai melakukan ini, dia melepas gaun luarnya yang berlumuran darah dan berganti pakaian menjadi satu set pakaian polos, lalu suara tapak kaki kuda terdengar dari gerbang depan.

“Buka pintunya! Ini adalah urusan resmi dari penjaga kota!” Teriak seorang penjaga dari luar.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Terjemahan ini menggunakan konvensi nama pinyin standar, tapi penerjemah akan memberikan note jika membingungkan. Notasi standar yang menggabungkan nama, suffix, dan awalannya menjadi potongan kecuali jika pengucapannya dipertanyakan, dalam hal ini, disini dipisahkan oleh satu kutipan (‘). “Xiong” di sini secara harfiah berarti ‘kakak laki-laki’ dan merupakan suffix sederhana untuk menghormati pria yang lebih tua.
  2. Kata 金創藥 secara harfiah berarti pengobatan trauma logam (metal), dan sering ditemukan dalam novel wuxia, seefektif tuam ajaib di sebagian besar novel wuxia termasuk yang ini, bisa menghentikan pendarahan, mempercepat penyembuhan. Biasanya (seperti dalam kasus ini) serbuk dibawa-bawa dalam botol porselen kecil. Tuam sendiri adalah benda panas yang dipakai untuk menghangatkan bagian tubuh yang sakit, radang, atau nyeri. Contohnya abu hangat dibungkus dalam kain atau air panas dalam botol.
  3. Kursif adalah gaya tulisan tangan yang huruf-hurufnya ditulis bergabung bersama dengan cara yang mengalir, umumnya dimaksudkan agar menulis lebih cepat. Kursif berlawanan dengan penulisan huruf balok atau huruf cetak, misalnya jenis huruf sans-serif atau gothic.
  4. Dalam tipografi, sebuah glif merupakan unsur simbol dalam suatu set simbol yang telah disetujui, dimaksudkan untuk mewakili karakter yang dapat dibaca untuk keperluan menulis.
  5. Goshawk utara adalah raptor menengah-besar dari keluarga Accipitridae, yang juga mencakup raptor diurnal yang masih ada, seperti elang, elang, dan pelindung. Sebagai spesies dalam genus Accipiter, goshawk sering dianggap sebagai “elang sejati”.
  6. Penerjemah tidak bisa menemukannya di peta bersejarah mana pun, tapi mungkin tempat itu berada di suatu tempat di sebelah barat Xinjiang, barat daya pegunungan Altyn-Tagh. (Penerjemah benar-benar memikirkan hal ini berdasarkan fakta bahwa tidak mungkin mendaki gunung pada saat musim dingin. Penerjemah telah memetakannya berdasarkan tebakan.)
  7. Altyn-Tagh berada di tepi tenggara Xinjiang.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments