English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 2 Part 5

Duan Ling sejenak ragu, dia tidak yakin apakah dia harus membukakan pintunya — Lang Junxia masih berbaring di dalam kamar. Gerbang itu ditutupi oleh kayu; di luar, seseorang mendobraknya beberapa kali, dan Duan Ling menerjang salju untuk membukanya.

“Aiyoh,” Penjaga yang berkuda tampak agak terkejut. “Mengapa kau begitu kecil? Dimana para orang dewasa? Di mana ayah dan ibumu?”

Duan Ling menjawab, “Mereka sakit.”

“Bukankah ini adalah anak yang pergi ke Aula yang Kemahsyuran?” Di belakang mereka, seseorang yang tampaknya merupakan kapten dari penjaga berkuda membungkuk untuk mengamati Duan Ling. Duan Ling mengenakan gaun bagian dalam, begitu dingin sampai bibirnya terlihat agak ungu, dan dia terus menerus menggigil di balik gerbang. Pemuda itu turun dari kudanya dan memandang Duan Ling dari atas ke bawah. Duan Ling sudah lupa di mana dia melihatnya.

“Di mana ayahmu? Apa kau mengingatku? Aku adalah kakak laki-laki Cai Yan, Cai Wen.”

Duan Ling berpikir sejenak dan berkata, “Dia sakit. Aku tidak ingat denganmu.”

Dia ingat dengan Cai Yan, tetapi dia tidak ingat siapa pria ini.

“Bisakah orang dewasa di rumahmu datang untuk menemui kami?” Cai Wen mengerutkan keningnya, mengamati memar yang ada di tepi mata Duan Ling. Dia dipukul dengan cukup keras sebelumnya, dan sekarang menjadi bengkak. Cai Wen mencoba menyentuhnya tetapi Duan Ling mundur dengan ketakutan.

“Tidur.” Duan Ling tidak ingin Cai Wen masuk supaya dia tidak menemukan mayat si pembunuh.

Melihat bagaimana Duan Ling meringkuk, seorang anak kecil berdiri di gerbang tanpa sepatu di tengah musim dingin dan hanya mengenakan gaun tipis, Cai Wen tidak tega untuk mempersulitnya. “Tidak masalah. Masuklah ke dalam dan beristirahatlah.”

“Rumah yang selanjutnya!” Cai Wen memerintahkan prajurit lain, dia naik ke pelananya, dan pergi. Baru setelah dia membalikkan kudanya dan Duan Ling melihat punggungnya, dia ingat pria yang datang lebih awal untuk menjemput Cai Yan adalah pemuda yang sama.

Prajurit patroli sudah pergi. Duan Ling menghela napas lega, menutup pintu, dan kembali ke kamar tidur. Teh ginseng yang ada di dalam panci sudah memenuhi ruangan dengan aromanya yang pahit.

Duan Ling mengangkat panci dari api supaya teh gingsengnya menjadi hangat. Dia dapat mendengar Lang Junxia yang ada di dipan, terbatuk.

“Siapa itu?” Kening Lang Junxia dipenuhi dengan keringat.

“Kakak dari Cai Yan, Cai Wen,” kata Duan Ling dengan jujur.

Mata Lang Junxia tertutup. “Cai Wen? Dia pergi begitu saja? Dan siapa Cai Yan? Kau tahu adik laki-lakinya?”

“Ya,” kata Duan Ling. Dia mengambil ketel yang sudah hangat, mengarahkan ceratnya ke bibir Lang Junxia, ​​dan menuangkan teh ginseng ke mulutnya. Pada awalnya, Lang Junxia tersedak beberapa kali, tetapi kemudian dia tampak santai dan meminum seluruh teh ginseng yang ada di ketel saat Duan Ling membantunya minum.

“Ginseng gunung tua…” Lang Junxia berkata dengan suara tenang dan stabil, “Membuat seseorang tetap bernapas dan memperpanjang hidupnya. Langit tampaknya belum selesai berurusan denganku. Apa masih ada lagi? Beri aku sedikit lagi.”

“Hanya itu saja yang ada. Aku akan pergi mencuri… membelinya lagi.”

“Jangan. Itu terlalu berbahaya.”

“Kalau begitu aku akan menambahkan air dan memanaskannya untukmu lagi.”

Lang Junxia terdiam dan tidak mengatakan apapun lagi. Untuk beberapa alasan, malam ini tampaknya akan berlangsung selamanya. Duan Ling meringkuk di bawah dipan, terkantuk-kantuk sementara ketel yang berisi teh ginseng mendidih di atas kompor.

“Lang Junxia?”

Lang Junxia tidak membuat suara apapun.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Duan Ling dengan penuh ketakutan.

“Hei,” jawab Lang Junxia, ​​setengah bangun. “Aku belum mati.”

Baru pada saat itulah Duan Ling merasa beban besar dari pikirannya sudah ditarik keluar. Di luar semakin gelap, tetapi nyala api di dalam kompor terasa seperti cahaya matahari hangat yang menyinari keduanya.

“Lang Junxia?” Tanya Duan Ling lagi.

“Masih hidup.” Suara Lang Junxia terdengar seperti sepasang hembusan, seolah-olah suara itu tidak keluar melalui tenggorokannya tapi keluar dari paru-parunya.

Duan Ling jatuh tertidur lagi, kepalanya bersandar di dipan.

Keesokan harinya, pada saat dia membuka matanya, salju sudah berhenti turun. Duan Ling menyadari bahwa dia sudah tidur di dipan, dan Lang Junxia berbaring di sampingnya. Sudah ada sedikit warna di pipinya.

Seperti anak anjing, Duan Ling mendekati Lang Junxia dan mengendus-endus seluruh wajahnya untuk memeriksa napasnya, ada kerutan yang dalam di antara alisnya. Lang Junxia menarik napas dalam – dia mengalami sakit kepala yang hebat. “Jam berapa sekarang?”

Terima kasih kepada langit dan bumi. Duan Ling memperhatikannya dengan prihatin. “Apa kau masih merasa sakit?”

“Aku tidak merasa kesakitan lagi.”

Suasana hati Duan Ling berubah menjadi lebih baik. “Aku akan pergi mencarikanmu sesuatu untuk dimakan.”

Ketika dia bangun, dia melihat ke luar dan menemukan bahwa semuanya tertutup oleh salju yang putih cerah; dengan sorak-sorai dia langsung ingin keluar dan bermain di dalamnya.

“Kenakan pakaianmu” Lang Junxia berkata, “Jangan sampai kau masuk angin, apakah kau mendengarkanku?”

Duan Ling membungkus tubuhnya dengan mantel bulu, dan mengetuk es yang menggantung di beranda dengan tiang bambu, sambil tertawa di sepanjang waktu. Ketika dia berbalik, dia melihat Lang Junxia duduk di kamar, melepaskan ikatan gaun luarnya, menyingkirkan gaun bagian dalamnya yang polos dan mengganti tuam miliknya sendiri.

Duan Ling menjatuhkan tiang bambu itu dan berlari kembali ke dalam. “Apa kau sudah lebih baik?”

Lang Junxia mengangguk. Duan Ling melihat bahwa luka di perut tempat dia membuka perbannya sudah berwarna ungu tua, ada tiga luka dengan kedalaman yang berbeda-beda, tapi sudah berkeropeng. Jadi Duan Ling memanaskan air untuknya, memastikan dia menyekanya sampai bersih dan menaburkan serbuk trauma.

Ada juga tato hieroglif yang aneh yang ada di lengan Lang Junxia yang pucat dan juga kuat, seperti harimau yang terukir di lonceng biara1. Itu membuat Duan Ling mengingat apa yang sudah terjadi pada malam sebelumnya.

“Kenapa mereka mencoba untuk membunuhmu?”

“Mereka ingin mengetahui informasi tentang keberadaan seseorang dariku.”

“Siapa?”

Lang Junxia menatap Duan Ling. Tiba-tiba sudut mulutnya sedikit melengkung dan matanya menyipit.

“Jangan tanya.” Lang Junxia berkata, “Jangan menanyakan apapun. Kau akan mengetahuinya di masa depan.”

Duan Ling sangat cemas tetapi semua kesedihannya sudah menghilang karena Lang Junxia masih hidup, sehingga membuatnya senang. Dia duduk di samping Lang Junxia, ​​dan dia menatap tato kepala harimau yang ada di lengannya. “Dan apa itu?”

“Seekor harimau putih.” Lang Junxia menjelaskan, “Harimau putih dari barat. Langit barat menampung energi vital dari perang. Itulah kenapa dia adalah dewa pendekar pedang.”

Duan Ling tidak mengerti. “Kau dapat menggunakan pedang, kan? Aku melihat pedangmu. Dan itu sangat tajam.”

Duan Ling pergi untuk mencari pedang milik Lang Junxia, ​​tetapi pedang itu sudah hilang. Saat dia sampai di halaman belakang, dia tiba-tiba ketakutan dan teringat bahwa tubuh mayat itu masih di dalam kandang, tetapi saat dia mendekat untuk melihatnya, jeraminya sudah dipindahkan dan tubuh mayat itu sudah hilang – dan Duan Ling langsung ketakutan.

“Aku yang sudah mengurusnya. Kau tidak perlu takut. Dia bersama dengan penjaga bayangan Chen, dan mereka tidak pernah akur dengan Wu Du. Untungnya, orang yang semalam ada di sini adalah dia dan bukanlah Wu Du. Kalau tidak, tak seorang pun dari kita akan duduk di sini sekarang.”

Duan Ling tidak bertanya bagaimana cara Lang Junxia “mengurus” hal itu. Dia menyadari bahwa dia juga tidak tahu ke mana perginya pakaian yang berlumuran darah itu.

“Pergilah untuk membeli beberapa makanan.” Lang Junxia memberi Duan Ling sejumlah uang. “Jangan katakan apapun, dan jangan menanyakan apapun.”

Di pagi hari, Duan Ling pergi ke pasar untuk membeli bakpao kukus dan gulungan polos, lalu dia juga mendapat nasi dan daging, dia kembali dengan membawa setumpuk paket. Lang Junxia sudah bisa berjalan di sekeliling. Dia membagi roti isi dengan Duan Ling. “Untuk sekarang, kita akan melakukannya seperti ini. Setelah kau kembali ke sekolah, aku akan meluangkan waktu untuk menyiapkan tempat ini.”

“Apa kau akan pergi lagi?” Tanya Duan Ling.

“Aku tidak akan pergi lagi.”

“Apa kau akan menjemputku pada hari pertama bulan depan?”

“Aku jamin aku tidak akan terlambat lagi. Kemarin, itu adalah salahku.”

Duan Ling tiba-tiba bertanya, “Kalau begitu, bisakah kau menjadi ayahku?”

Lang Junxia terkejut, dia tidak tahu apa dia harus tertawa atau menangis. “Tolong jangan pernah mengatakan hal itu di depan siapa pun.”

Duan Ling mengerutkan keningnya.

“Ayahmu akan datang menemuimu.”

Duan Ling tercengang. Kata-kata Lang Junxia seperti petir yang mengalir dari ujung kepala sampai ujung kaki Duan Ling.

“Ayahku… masih hidup?”

“Ya, dia masih hidup.”

Duan Ling bertanya dengan sangat, “Dia ada di mana? Dia masih hidup? Lalu kenapa dia tidak datang untuk menjemputku?”

Duan Ling sudah berkali-kali dibohongi akan hal ini, tetapi dia tahu bahwa, kali ini, Lang Junxia tidak akan membohonginya. Dia tidak memiliki bukti bahwa Lang Junxia tidak akan membohonginya, dia hanya mengetahui secara naluriah bahwa Lang Junxia tidak akan berbohong.

“Simpan kata-kata itu dan tanyakan padanya nanti. Suatu hari, dia akan datang. Mungkin selama tiga tahun atau paling cepat mungkin dalam beberapa bulan. Percayalah padaku.”

Duan Ling hanya duduk di sana dengan mulutnya yang terbuka, sebuah mangkuk ada di tangannya, tampak seperti bahwa dia tidak tahu harus berbuat apa — menemukan hal semacam ini secara tiba-tiba membuatnya bahagia seperti saat dia ketakutan. Maka Lang Junxia memanggilnya; dia menyandarkan kepala Duan Ling ke bahunya, menepuk-nepuk kepalanya, dan memeluknya dengan hangat.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Ini adalah referensi untuk esai Li Bai “Pahatan pada lonceng yang agung di Biara Huacheng”.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments