English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 2 Part 3

“Langit menghitam bumi menguning, alam semesta yang luas penuh dengan kekacauan; matahari dan bulan bertambah dan menyusut seiring waktu, konstelasi menyebar di langit; musim dingin datang, musim panas pergi, hasil panen di musim gugur disimpan pada musim dingin; tambahan hari akan membuat satu bulan, tambahkan dan kau akan menemukan titik balik matahari…”

Ketika dia bolak-balik sepanjang deklamasi pagi, memeriksa “Seribu Karakter Klasik” yang dikeluarkan oleh Aula Kemahsyuran, Duan Ling mempelajari karakter demi karakter selama dua minggu pertama sampai dia mengetahui sebagian besar dari karakter-karakter itu.

Guru menunjuk pada satu kalimat dengan penggaris hukuman, dan Duan Ling membacanya dengan keras; Guru menunjuk pada kalimat yang lain, Duan Ling membacanya sekali lagi dengan keras — lebih keras dan diulangi.

“Apa ini?” Tanya Guru.

“Tuan.” Duan Ling duduk dengan tegak dan menjawabnya.

“Dan ini,” guru menunjuk yang lain.

Dia tidak dapat menjawabnya, dan guru itu memukul telapak tangan Duan Ling dengan penggarisnya. Duan Ling menahannya, dia tidak berani untuk berteriak dengan keras, telapak tangannya terasa panas menyengat.

“Giok torus.” Guru itu melewati barisan murid-murid sekolah, berkata sambil berlalu, “Seperti Giok Torus dari He, atau ‘bi’ dalam Yubiguan1Pria yang anggun, seperti batu giok seperti giok torus2. Selanjutnya.”

Duan Ling terus menggosok tangannya, menekan tangan kirinya ke sisi porselen yang sedingin es dari cangkir sikatnya. Guru itu berkeliling mengajukan pertanyaan pada para murid satu per satu, dan juga memberikan pukulan menggunakan penggarisnya kepada mereka satu demi satu. Langit yang mendung semakin gelap, tetapi baru ketika bel berbunyi dari luar, barulah guru itu berkata, “Kelas dibubarkan.”

Anak-anak bersorak riuh dan langsung berdiri. Ini adalah hari pertama di setiap bulan, hari di mana mereka dapat berlibur. Gerbong-gerbong dan ringkikan kuda-kuda berkerumun di jalanan di luar Aula Kemahsyuran, membentuk massa yang tidak dapat ditembus; banyak anak menjulurkan kepala mereka untuk melihat sekeliling seolah-olah mereka sedang menantikan festival. Selama ini Duan Ling menunggu Lang Junxia datang menjemputnya. Beberapa hari pertama benar-benar penuh dengan siksaan, tetapi menjelang liburan entah bagaimana kegelisahannya sudah mereda.

Penjaga gerbang menyebutkan nama mereka satu demi satu, dan siapa pun yang namanya dipanggil berarti dia sudah dijemput; banyak dari mereka yang memanjat pagar untuk melihat-lihat, tetapi mereka dipaksa untuk turun, dipukuli, atau diancam oleh kepala sekolah mereka yang berkuasa.

Duan Ling berdiri di tangga, memandang ke jalan sambil berjinjit. Lang Junxia lebih tinggi dari yang lain, seperti burung bangau yang berdiri di antara kawanan ayam, jadi dia dapat langsung melihatnya, tetapi Lang Junxia tidak ada di sini.

Dia mungkin terjebak di belakang karena kerumunan yang ada di gang. Mungkin perlu beberapa waktu sebelum Lang Junxia dapat masuk ke dalam gang dengan menunggangi kudanya.

“Kediaman Yuan — Tuan Muda Yuan.”

“Keluarga Lin —“

Penjaga gerbang memanggil nama mereka dan anak-anak keluar satu demi satu, meninggalkan plakat nama yang tergantung di pinggang mereka di brankas yang ada di Aula. Semakin sedikit anak yang tersisa di halaman depan, dan Duan Ling mulai berpikir bahwa mungkin Lang Junxia terjebak karena sesuatu.

“Keluarga Cai — Tuan Muda Cai.”

Cai Yan keluar dan mengangguk kepada murid-murid lainnya. Duan Ling masih melihat ke sekeliling, jadi dia langsung melihat Cai Yan. Cai Yan balas melambai padanya. “Di mana ayahmu?”

“Dia akan segera datang.” Duan Ling tidak menjelaskan kepada Cai Yan bahwa yang akan datang menjemputnya bukanlah ayahnya. Cai Yan berjalan keluar dari gerbang depan, dan seorang pemuda di atas kuda besar membiarkan Cai Yan duduk di depannya dan membawanya pergi. Duan Ling menatap dengan iri pria muda di atas kuda; pria itu menatap Duan Ling dengan pandangan acuh tak acuh sebelum berbalik dan membuat kudanya berlari menjauh.

Setengah jam kemudian, hanya sekitar selusin murid yang tersisa di halaman, dan gang di luar Aula Kemasyhuran semakin sepi. Ketika penjaga gerbang selesai memanggil nama belakang para murid, satu-satunya yang masih berdiri di tempat mereka adalah Duan Ling dan pemuda yang membenturkannya ke bel. Bosan berdiri, Duan Ling sudah berpindah untuk duduk di tangga, dan pemuda itu mengalihkan kakinya yang lain saat dia bersandar di gerbang depan, melihat ke luar.

Kepala sekolah dan para guru telah mengganti pakaian mereka, dan mereka lewat di depan Duan Ling. Mereka saling menangkupkan tangan, dan membuka payung masing-masing, mereka pulang untuk liburan.

Penjaga gerbang menutup gerbang depan. Sinar matahari yang terakhir terbenam berubah menjadi ungu tua, menumpahkan bayang-bayang pohon pinus di dekat dinding.

Penjaga gerbang berkata, “Tinggalkan plakat namamu di sini. Jika ada yang datang belakangan, kami akan membiarkan mereka masuk untuk menjemputmu.”

Pemuda itu berjalan lebih dulu dan memegang plakat kayu yang tergantung di pinggangnya, tapi dia tidak pergi, dia hanya berdiri di sana sambil melihat-lihat. Duan Ling memperhatikan bahwa nama “Borjigin Batu” terukir di plakatnya.

“Lalu apa yang kita lakukan?” Tanya Duan Ling agak cemas. Dia mendongak mencoba mencari pemuda bernama Batu dan mengetahui bahwa dia sudah pergi.

Penjaga gerbang menjawab, “Pergilah ke ruang makan dan makan malamlah. Setelah selesai, teruslah untuk menunggu, lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Jika tidak ada yang datang menjemputmu, bawa tempat tidurmu ke perpustakaan di lantai dua di malam hari dan tidurlah di sana.”

Duan Ling sudah menunggu hampir dua minggu dan semua harapan yang memenuhi hatinya telah sirna. Dia tidak pernah merasa begitu sedih, namun dia tetap percaya bahwa Lang Junxia akan datang menjemputnya. Lagipula, Lang Junxia tidak pernah melewatkan janji yang dia buat sebelumnya, dan selalu baik seperti kata-katanya. Mungkin dia terjebak oleh sesuatu, sibuk sejenak dan tidak bisa pergi.

Duan Ling kembali ke kamarnya, merapikan barang-barangnya, lalu dia mendengar suara bel lagi dari halaman depan. Hal itu menarik hatinya dan dia bergegas untuk melihatnya. Dari jauh dia melihat sekilas punggung Batu saat dia pergi.

Duan Ling tiba-tiba mengerti. Batu memanggilnya untuk pergi makan malam.

Kebencian apapun di masa muda yang ada di antara mereka sudah lama terlupakan; kebencian datang dengan cepat, dan cepat pula dilupakan. Duan Ling tidak lagi merasa bermusuhan dengannya. Sebaliknya, dia merasakan timbal balik rasa simpati.

Selama dua hari libur ini, sekitar enam pekerja akan tetap tinggal untuk mengurus berbagai hal. Di dapur sudah ada rebusan di panci besar dan mereka berbaris untuk mengambil makanan mereka, termasuk penjaga gerbang. Dua lampu minyak menyala di ruang makan, dan hanya satu meja yang terpakai. Duan Ling berjalan dengan makanan di mangkuknya. Saat Batu melihat bahwa tidak ada tempat duduk untuknya, dia bergeser sedikit untuk memberinya ruang.

Sementara Duan Ling ragu-ragu, Batu terlihat sedikit kesal tapi akhirnya dia membuka mulutnya dan berkata, “Aku tidak akan memukulmu. Duduklah. Apa kau begitu takut padaku?”

Duan Ling berpikir, siapa yang takut padamu? Harga dirinya membuatnya agak sulit untuk duduk tetapi dia tidak bisa makan dari mangkuknya sambil berdiri, jadi dia tidak memiliki pilihan selain duduk di sebelah Batu.

Bagaimana jika Lang Junxia benar-benar tidak akan datang? Hati Duan Ling kacau, tetapi dia berbalik dan menghibur dirinya sendiri —Lang Junxia pasti akan datang. Kemungkinan besar Viburnum-lah yang membuatnya terlambat untuk makan malam dan minum-minum, dan dia tidak dapat pergi begitu saja.

Mungkin Lang Junxia sedang mabuk, dan begitu dia sadar dia akan menjemputnya.

Setelah makan malam, Duan Ling kembali ke kamarnya untuk menunggu lebih lama lagi. Di hari-hari libur, Aula Kemasyhuran menghemat arang mereka dengan membuat anglo tidak menyala, dan membuat ruangan sedingin gudang es. Duan Ling tidak bisa hanya duduk diam, dia mondar-mandir. Mengingat perkataan penjaga gerbang padanya, mereka bisa tidur di perpustakaan, dia pikir pasti ada api dan tempat di mana dia bisa menghangatkan diri, kemudian dia menggulung tempat tidurnya, mengambilnya dengan susah payah, dan mengambil semua itu lalu berjalan melalui halaman belakang ke perpustakaan.

Semua pelayan sudah ada di sana, tempat tidur mereka tersebar di lantai pertama. Ada kompor arang yang tidak pernah padam di luar di sudut gedung, berbagi cerobong dengan dapur, dan pipa-pipa pemanas yang terkubur dilengkapi dengan dehumdifier (Pengawa lembab) untuk paviliun buku, ruang gulungan bambu, dan ruangan tempat gulungan panjang disimpan, itu mungkin diperlukan untuk mencegah kelembaban atau suhu beku yang bisa merusak gulungan dan dokumen lama, dan mencegah tinta memadat dari retak.

Begitu Duan Ling masuk, seorang pekerja memberi tahu dia, “Tuan Muda, Anda adalah seorang terpelajar. Silakan pergilah ke lantai dua.”

Meskipun lantai dua gelap dan suram, namun tempat itu sangat hangat. Di luar panel jendela yang terukir, pemandangan salju tampak secerah di siang hari; kepingan salju yang menyebarkan bayangannya yang terpecah-pecah pada kertas jendela yang hampir transparan, menciptakan cahaya lembut yang berpendar. Rak buku yang menjulang sangat tinggi, baris demi baris terlihat di atas mereka dan satu lentera dinyalakan di atas meja kayu lebar, di bawahnya bayangan mereka yang saling bersilangan,

Di sekelilingnya ada rak yang berisi koleksi buku, gulungan panjang, dan potongan kayu yang diikat menjadi gulungan. Ketika Kaisar Liao menginvasi wilayah selatan selama ekspedisinya ke selatan, dia benar-benar menjarah ibukota Han. Karena dia sangat menyukai buku dan dokumen, dia mengirimkan semuanya, dan menyimpannya di Shangjing, Zhongjing, dan Xijing.3 Bahkan diantaranya ada kaligrafi otentik dari guru besar dari dinasti sebelumnya.

Sebelum pertempuran Sungai Huai4, semua buku ini dulunya tersimpan di perpustakaan Akademi Kekaisaran Kaisar Chen, dan orang biasa tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk melihatnya. Tetapi sekarang buku-buku itu tertutup debu, berdiam di bawah cahaya kuning redup dari sebuah lentera, sampul buku-buku itu tampak menyembunyikan entah berapa banyak jiwa orang bijak sejak zaman kuno.

Di bawah cahaya yang terang benderang, Batu membentangkan tempat tidurnya dan meletakkan bantalnya. Duan Ling tidak dapat memutuskan apa dia harus pergi ke sana atau tidak, tapi Batu bahkan tidak mau repot-repot untuk meliriknya sedikit pun sebelum menuju ke rak untuk mengambil buku. Seperti kata pepatah, musuh pasti akan bertemu di jalan yang sempit... Duan Ling berpikir bahwa meskipun dia tidak menganggap Batu sebagai musuh bebuyutannya, dia hanya merasa agak gelisah. Batu mungkin merasakan hal yang sama — tidak ada anak yang berpikir bahwa mereka perlu untuk mengabaikan orang lain, hanya saja tidak ada dari mereka yang ingin menjadi orang pertama yang menyarankan agar mereka berdamai.

Jadi Duan Ling menaruh alas tidurnya sendiri di sisi lain dari meja panjang itu, dengan lampu di antara mereka seperti garis tengah yang membelah papan catur — sebuah garis yang tidak akan dilintasi. Dia juga pergi mencari buku untuk menghabiskan waktu sambil menunggu Lang Junxia datang.

Duan Ling baru saja mulai belajar membaca, jadi membaca cukup melelahkan baginya. Dia hanya dapat membaca buku dengan banyak gambar di dalamnya. Tanpa sengaja dia menemukan salinan “Ensiklopedia Tumbuhan” yang berisi ilustrasi aneh dari berbagai bahan obat dan serangga, Duan Ling tidak bisa menahan tawanya ketika dia membaca buku itu. Saat dia mendongak, dia menyadari bahwa di seberang meja, Batu sedang menatapnya.

Batu tampaknya kurang berminat untuk membaca dibandingkan Duan Ling; dia menyentuh satu buku pada satu saat dan membalik buku lainnya pada saat berikutnya. Ada setumpuk buku di hadapannya, setiap buku dibuka tidak lebih dari beberapa halaman sebelum dibuang ke satu sisi yang lain. Batu mengubah cara duduknya, dia menggaruk lehernya, kemudian melepas atasannya dan mengikatkan pakaian luarnya ke pinggangnya dan duduk di sana sambil setengah telanjang, sampai tidak ada waktu lagi sebelum dia merasa kedinginan, dan dia menyelimuti setengah tubuhnya — tampak terlihat seperti penjahat yang tidak terawat.

Bahkan Duan Ling kehilangan motivasi untuk membaca saat mengawasinya. Dia menguap, setengah terkapar di atas meja, dan menatap ke ruang kosong. Dari gang yang jauh, terdengar suara penjaga yang melewati badai salju; sudah tiga jam sampai tengah malam dan Lang Junxia masih belum datang ke sini.

— Mungkin dia sama sekali tidak akan datang malam ini.

Tiba-tiba Duan Ling diliputi banyak pikiran. Dia berpikir, dan berpikir lagi; sudah lebih dari sebulan sejak Lang Junxia menggendongnya keluar dari rumah Keluarga Duan, dan Duan Ling memikirkannya setiap hari. Seiring berjalannya waktu dia belajar banyak hal, tetapi dia masih tidak tahu mengapa Lang Junxia membawanya keluar dari sana.

Namaku adalah Duan Ling, ayahku bernama Duan Sheng... Duan Ling mengulangi kata-kata itu berulang-ulang di kepalanya. Apa Lang Junxia membawanya ke Shangjing karena dia dipercaya oleh “Duan Sheng” untuk melakukannya? Jika itu masalahnya, mengapa tidak ayahnya sendiri yang datang menemuinya? Sebelum Lang Junxia pergi, dia berkata, “Aku masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan,” pekerjaan macam apa itu? Mungkin dia tidak terlalu penting di mata Lang Junxia — dia sama seperti anak kucing atau anak anjing, masalah akan selesai begitu dia sudah menyelesaikannya. Lang Junxia akan mengirim surat kepada ayah Duan Ling, dan apakah dia hidup atau mati, Lang Junxia sudah memenuhi seluruh tugasnya.

Duan Ling berbaring di tempat tidurnya, tidak tenang, dan pikirannya memberikan hasil yang nyaris tanpa harapan — mungkin Lang Junxia tidak akan pernah datang.

Alasan apa yang dimiliki Lang Junxia sehingga dia harus datang untuk menjemput Duan Ling? Mereka bukanlah keluarga atau teman lama; apakah dia harus datang menjemput Duan Ling hanya karena dia berjanji akan melakukannya?

Duan Ling meraih ke bawah kerah bajunya, jari-jarinya membelai lengkungan giok yang ada di dalam kantong kain, dan kesedihan yang tak terlukiskan muncul di dalam hatinya dan menolak untuk pergi, menyeretnya ke dalam keputusasaan yang semakin dalam. Mungkin selama ini Lang Junxia telah membohonginya; dengan cara yang sama saat ibunya meninggal, juru masak memberi tahunya bahwa mungkin ayahnya akan datang. Dan Duan Ling menunggunya dalam waktu yang sangat, sangat lama, tapi ayahnya juga tidak datang.

Mungkin Lang Junxia juga seperti itu. Mungkin kata-kata itu tidak lebih dari kata-kata untuk menghibur seorang anak. Dia mungkin tidak akan kembali padanya.

Duan Ling membenamkan wajahnya di dalam selimutnya saat pikirannya berputar-putar, dia mencoba membuat dirinya merasa lebih baik.

Batu mendengar suara bisik itu, dan mengamati Duan Ling dengan bingung melalui celah sempit yang ada di bawah meja pendek. Menyaksikan Duan Ling yang terus bergerak-gerak di bawah selimut, dia dengan gesit membuat tubuhnya berada di sisi lain meja dan bergerak ke ujung yang lain.

“Hei.” Kata Batu di samping telinga Duan Ling. “Kau menangis? Kenapa kau menangis?”

Duan Ling mengabaikannya. Batu berlutut di atas meja dengan satu lutut, mencengkeram tepinya, berusaha untuk membungkuk dan membuka selimut Duan Ling, tetapi Duan Ling mencengkeramnya dengan erat.

Batu menjulurkan kakinya yang telanjang dari atas meja dan menendang selimut Duan Ling, lalu dia bergerak dari meja, dan menarik selimut itu untuk menampakkan wajah Duan Ling. Duan Ling tidak menangis, dia hanya mengerutkan keningnya dengan kerutan di antara alisnya.

Batu duduk bersila dan mengawasi Duan Ling dengan hati-hati. Duan Ling membalas menatap Batu. Tatapan di kedua mata mereka tampaknya mengandung pengertian yang aneh. Akhirnya, Duan Ling memalingkan wajahnya.

“Jangan menangis.” Batu berkata, “Bersabar dan hadapilah.”

Kata-kata Batu adalah kata-kata yang tidak sabaran, tetapi itu sama sekali tidak terdengar seperti dia sedang merendahkan Duan Ling — dia mengatakannya seolah itu adalah cara dia mengatasi banyak hal.

Dia mengulurkan tangan, meletakkan tangannya di kepala Duan Ling, dan perlahan membelainya ke bawah. Lalu dia menepuk-nepuk lengan Duan Ling.

Segera, Duan Ling merasa lebih baik.

Hari itu, Batu berumur sepuluh tahun, dan Duan Ling delapan setengah tahun; cahaya lentera di perpustakaan berkelap-kelip, nyala api yang sekecil kacang menembus langit yang dipenuhi oleh salju, menerangi kenangan baru Duan Ling. Salju tampaknya menutupi masa lalunya yang kelam, dan pada saat itu juga masalahnya dengan jelas telah berubah.

Garis cahaya yang memisahkan Batu dan Duan Ling tampaknya membagi mereka ke dalam dua dunia berbeda. Anehnya, Duan Ling mendapati bahwa ingatan masa lalunya menjadi kabur; dia tidak lagi bergantung pada pukulan dan ejekan yang diberikan Keluarga Duan kepadanya, dan tanda-tanda kelaparan yang terukir di tulangnya, tampaknya berkurang.

“Namamu adalah Duan Ling. Dan ayahmu bernama Duan Sheng.”

Dengan satu sapuan kuas Lang Junxia, ​​noda yang mengotori kertas putih kehidupan Duan Ling lenyap satu demi satu, tetapi mungkin malah disembunyikan oleh warna tinta yang lebih dalam. Yang mengganggunya sekarang bukan lagi yang mengganggunya dulu.

“Dia tidak menginginkanmu lagi,” kata Batu lesu.

Duan Ling dan Batu bersandar di meja bersebelahan, duduk di lantai sambil memeluk selimut, menatap kosong ke lukisan yang tergantung di seberang paviliun buku.

“Dia berjanji kepadaku bahwa dia akan datang,” kata Duan Ling keras kepala.

“Ibuku berkata bahwa di dunia yang kita tinggali ini, tidak ada yang benar-benar menjadi milikmu.” Batu menatap lukisan, emas dan hijau yang terhubung satu sama lain dalam penggambaran Prefektur Cangzhou. Dia berkata tanpa tergesa-gesa, “Istri dan anak-anak, orang tua dan saudara laki-laki, burung elang terbang di langit, kuda-kuda yang berlari di tanah, hadiah yang diberikan oleh Khan sendiri …”

“… Dan juga tidak ada yang dijanjikan padamu. Satu-satunya hal yang bisa kau percayai adalah dirimu sendiri.” Batu melihat ke bawah, mematahkan buku-buku jarinya, dan mengatakan hal ini seolah-olah dia tidak peduli sama sekali.

Duan Ling menoleh untuk melihat ke arah Batu. Ada bau alami domba pada dirinya yang menyatu dengan gaun kulit binatangnya yang sudah lama tidak dicuci. Rambutnya juga berminyak.

“Apa dia adalah ayahmu?” Tanya Batu.

Duan Ling menggelengkan kepalanya.

Batu mencoba lagi. “Seorang pengawal?”

Duan Ling menggelengkan kepalanya. Batu terlihat bingung. “Jangan bilang dia benar-benar suami yang mengasuh anak5 yang sudah diatur keluargamu? Di mana ayahmu? Ibumu?”

Duan Ling masih tetap menggelengkan kepalanya; Batu berhenti menekannya dengan masalah itu.

Waktu yang lama telah berlalu.

“Aku tidak memiliki ayah,” kata Duan Ling pada Batu, “Aku adalah seorang bajingan.”

Sebenarnya, dia tahu saat Lang Junxia memberi tahunya bahwa ayahnya bernama Duan Sheng, dan itu tidak lebih dari alasan yang dibuat-buat. Kalau tidak, kenapa dia tidak pernah mengungkit “Duan Sheng” ini?

“Bagaimana denganmu?” Tanya Duan Ling.

Batu mengangguk. “Ayahku sudah meninggalkanku sejak lama. Dia mengatakan padaku bahwa dia akan membawaku pulang sebulan sekali, tetapi sekarang sudah lebih dari tiga bulan sejak aku terakhir melihatnya.”

“Mereka semua berbohong.” Duan Ling berkata pada Batu, “Jika kau tidak mempercayai mereka, kau tidak akan tertipu.”

Batu terdengar tidak tertarik. “Ya, tetapi sesekali aku masih mempercayainya.”

“Apa kau juga sudah terlalu banyak dibodohi?” Tanya Duan Ling.

“Tidak juga.” Batu berbalik; dia berbaring di lantai, menatap mata Duan Ling. “Dulu banyak… Tidak sebanyak sekarang. Tetapi jika kau tahu… kenapa kau masih mempercayainya?”

Duan Ling berhenti berbicara. Dia pernah mengira bahwa Lang Junxia tidak akan pernah berbohong padanya. Bagaimanapun juga, dia tidak seperti orang lain.

Malam semakin gelap, dan satu-satunya suara yang tersisa di dunia ini adalah kepingan salju yang berjatuhan. Mereka berbaring di sana, satu tengkurap dan yang satu telentang, selimutnya berbau Batu, bau badan seorang pemuda. Mereka bahkan tidak tahu kapan akhirnya mereka tertidur. Duan Ling tidak memiliki banyak harapan lagi; dia tahu bahwa Lang Junxia besok tidak akan datang, dan lusa dia juga tidak akan datang. Ini persis seperti cara orang dewasa sering menggunakan ‘ayahnya yang tidak ada’ untuk berbohong kepadanya saat dia masih bersama Keluarga Duan.

Hei, bajingan, ayahmu ada di sini untuk menjemputmu!

Mereka mengucapkan kata-kata itu berulang kali, dan pada awalnya Duan Ling selalu jatuh ke dalam perangkap mereka, tetapi dia menjadi lebih pandai dan berhenti mempercayai mereka. Tetapi orang dewasa juga menjadi lebih pintar, dan menemukan cara baru untuk membodohinya. Kadang-kadang mereka memberitahunya bahwa seorang tamu telah tiba dan Nyonya Duan memanggilnya untuk melihat tamu itu, dan Duan Ling akan berlari ke sana dengan sebuah harapan, tetapi yang terjadi adalah dia mengotori ruang tamu dengan sepatunya dan tentu saja akhirnya dia mendapatkan pukulan lagi.

Kadang mereka berpura-pura saling berbisik di depan Duan Ling, dan seolah-olah secara tidak sengaja membocorkan sedikit informasi. Pada akhirnya mereka hanya akan tertawa puas atas reaksinya dan menyebar dalam keriuhan — mereka semua senang melihatnya menangis.

Mulai sekarang, dia akan ditinggalkan di sini, tetapi sekolah adalah tempat yang jauh lebih baik daripada rumah Keluarga Duan. Sebagai perbandingan, setidaknya dalam hal ini, Duan Ling cukup puas. Seseorang harus puas dengan nasibnya; Itu adalah sesuatu yang dikatakan oleh seorang biksu Budha yang sedikit terluka saat dia datang meminta sedekah. Padahal pada akhirnya biksu itu meninggal di Shangzi…

Mimpi Duan Ling mengembara dan melantur, dipenuhi dengan suasana yang tenang dan damai. Tetapi saat dia mulai memimpikan sungai yang ada di Shangzi, hijaunya sungai di puncak musim semi berubah menjadi musim panas yang berkilauan dengan cahaya matahari keemasan, Batu membangunkannya.

“Hei,” kata Batu, “Seseorang datang untuk menjemputmu.”

Dengan mata yang setengah mengantuk, Duan Ling terlihat masih sangat mengantuk. Tangan lain akan jatuh ke atasnya tapi Batu dengan waspada memblokirnya.

“Apa itu dia?” Tanya Batu.

Lang Junxia berkata dengan lembut, “Duan Ling, aku datang untuk menjemputmu.”

Duan Ling terkejut dan membuka matanya. Dia menatap Lang Junxia dengan tidak percaya, lalu menatap Batu.

Batu memegang lentera dan menyinari wajah Lang Junxia dengan curiga. Lang Junxia terlihat tidak nyaman dengan cahaya yang menyorot di wajahnya, tapi Batu khawatir Duan Ling akan diculik oleh seseorang yang tidak ada hubungan dengannya, jadi dia terus bertanya, “Apakah dia orangnya atau bukan?”

Duan Ling menjawab, “Itu adalah dia.” Dan dia mengulurkan tangannya untuk memeluk leher Lang Junxia, ​​membuat Lang Junxia mengangkatnya.

“Terima kasih telah menjaganya,” kata Lang Junxia kepada Batu.

Batu jelas terlihat kesal dan mematikan lenteranya. Duan Ling sangat mengantuk sampai dia hampir tidak bisa membuka matanya; dia ingin mengatakan sesuatu pada Batu, tetapi Batu bersembunyi di bawah meja kembali ke tempat tidurnya sendiri, dan dengan menyibakkan selimutnya dia menyembunyikan wajahnya di belakangnya.

Melewati badai salju, semua orang di Shangjing telah tertidur saat mereka bertemu pada waktu terdingin di sepanjang tahun. Lang Junxia membungkus Duan Ling dengan selimut dan memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Dengan tiupan angin yang sangat dingin, Duan Ling sedikit terbangun, dan dia memperhatikan bahwa mereka tidak sedang menuju ke Viburnum jadi dia bertanya, “Kemana kita akan pergi?”

“Rumah baru,” jawab Lang Junxia dengan santai. Dia sepertinya memiliki banyak pikiran dalam benaknya.

Rumah baru! Duan Ling terbangun sepenuhnya. Dia berpikir, tidak heran Lang Junxia terlambat — dia sebenarnya sedang menyiapkan rumah baru mereka.

Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat Lang Junxia, ​​dan berpikir dia tampak terlihat sangat pucat. Dia pasti lelah.

“Apa kau mengantuk?” Duan Ling bisa merasakan Lang Junxia bersandar padanya, dan dia mengulurkan tangannya, Duan Ling mengusap kepalanya.

“Tidak.” Lang Junxia tampaknya sangat mengantuk. Setelah Duan Ling membangunkannya, dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga.

“Apa kau sudah makan?” Tanya Duan Ling.

“Ya,” jawab Lang Junxia, ​​dan dia memeluk Duan Ling. Tangannya sangat dingin, sama sekali tidak seperti biasanya.

“Di mana rumah barunya?”

Lang Junxia tidak mengatakan apapun. Di bawah mereka, kuda itu berbelok ke gang yang terpencil lalu melewati pasar yang sepi, dan dalam kegelapan malam mereka memasuki sebuah halaman. Dengan sangat gembira, Duan Ling bahkan tidak menunggu Lang Junxia mengikat kudanya sebelum dia berlari ke dalam rumah sambil bersorak.

Pintu rumah mereka yang baru tidak dikunci; bagian dalam tempat itu terlihat bobrok, sebuah halaman dikelilingi oleh enam kamar dan sebuah beranda yang menghubungkannya. Lentera yang digantungkan di luar pintu tidak menyala; lentera itu terletak di belakang gerbang. Duan Ling bertanya, “Apa mulai sekarang kita akan tinggal di sini?”

“Ya,” jawab Lang Junxia sederhana. Duan Ling menghadap ke arah halaman dan dia mulai tertawa; dia bisa mendengar Lang Junxia menutup dan menghalangi pintu yang ada di belakangnya.

Kemudian tiba-tiba, terdengar suara dan itu adalah Lang Junxia yang pingsan, menghancurkan teralis yang belum dipasang, dan jatuh ke tumpukan salju.

Duan Ling berbalik dengan terkejut, dan menemukan Lang Junxia yang tergeletak di tanah, tidak bergerak.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Yubiguan ditulis dengan karakter “giok, giok-torus, gerbang”.
  2. Dia melewatkan sebaris yang ada di tengah. “Seperti perunggu seperti timah.” Sebenarnya ada satu puisi utuh dalam Kitab Lagu yang menggambarkan seperti apa seharusnya seorang pria yang cantik itu.
  3. Shangjing, Zhongjing, dan Xijing masing-masing berarti ibu kota agung / atas, ibu kota pusat, dan ibu kota barat.
  4. Itu adalah sungai di perbatasan utara Chen Selatan yang tergambar di peta. (Di tepi timur.) Ini tidak ada hubungannya dengan Pertempuran Sungai Huai yang bersejarah.
  5. Suami yang mengasuh anak jelas bukanlah sebuah kata; biasanya istri yang mengasuh anak. Tongyangxi (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tongyangxi)
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments