English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Me_524
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 2 Part 2

“Hentikan! Hentikan sekarang juga!”

Keributan itu akhirnya menyadarkan Lang Junxia. Dia bergegas keluar ruangan layaknya hembusan angin, dengan sang guru yang mengikuti di belakangnya, berteriak, “Hentikan!”

Seketika itu juga anak-anak mundur kembali ke tembok. Pemuda itu lari dan sang guru mengejarnya dengan marah, kemudian mencengkeramnya. Dengan wajah pucat pasi, Lang Junxia bergegas berlari ke arah Duan Ling untuk melihat seberapa parah dia terluka.

“Kenapa kau tidak meminta bantuan?!” Lang Junxia marah sekarang; dia pikir dirinya benar-benar harus menyerahkan kesabarannya kepada Duan Ling. Jika Duan Ling meminta bantuan, secara alami, Lang Junxia akan mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi di luar, tapi Duan Ling memilih untuk tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Ketika dia mendengar suara anak-anak bermain-main, dia mengira mereka hanya sedang menendang bola, hanya bermain.

Mata kiri Duan Ling bengkak dan kondisinya cukup parah, tapi dia masih tersenyum kepada Lang Junxia.


Satu jam kemudian.

Lang Junxia telah membersihkan wajah Duan Ling dan menyeka lumpur yang ada di tubuh dan tangannya.

“Sajikan teh kepada Kepala Sekolah,” perintah Lang Junxia, “Lakukan.”

Duan Ling baru saja dipukuli, tangannya terus gemetaran, dan cangkir teh yang dipegangnya membuat suara dentang saat bergetar.

“Jika kamu ingin bergabung dengan Aula Kemahsyuran, maka kamu harus menahan temperamenmu yang buruk ini.” Kata Kepala Sekolah dengan terus terang. “Jika kamu tidak bisa meninggalkan perilaku anti-sosial ini begitu saja, aku akan menunjukkanmu cara yang lain — teruslah lanjutkan langkahmu ke Administrasi Utara1. Mereka akan mencarikan tempat untukmu.”

Kepala Sekolah melihat ke arah Duan Ling, tetapi tidak menerima tehnya. Duan Ling menggenggam cangkir teh itu untuk waktu yang lama, tetapi dia tidak tahu harus berkata apa. Karena Kepala Sekolah tidak mengambilnya, Duan Ling meletakkan cangkir teh itu di atas meja, dan sebagian teh itu terciprat ke jubah Kepala Sekolah. Kepala Sekolah langsung marah dan berteriak “Tidak tahu sopan santun!”

“Kepala Sekolah,” Lang Junxia buru-buru berlutut dengan satu kakinya, memohon atas nama Duan Ling. “Dia tidak tahu etiket. Ini salahku karena aku tidak mengajarinya dengan baik.”

“Kau bangun,” Duan Ling telah menerima penghinaan seperti ini sebelumnya, dan menarik Lang Junxia untuk membuatnya berdiri. Kata-kata yang digunakan pemuda sebelumnya untuk menjatuhkannya masih bergema di telinganya.

Tapi dalam ekspresi marahnya yang tidak biasa, Lang Junxia berteriak padanya, “Berlutut! Aku bilang berlutut!”

Duan Ling tidak memiliki pilihan lain selain ikut berlutut, dan akhirnya, hal itu sepertinya telah sedikit menenangkan Kepala Sekolah. Dia berkata dengan dingin, “Jika dia tidak tahu etika, maka ajari dulu sebelum membawanya kembali. Para anak-anak pejabat militer, para pangeran asing yang menjadi sandera rumah – siapa dari mereka yang pernah datang kemari dan berani mengatakan bahwa mereka tidak tahu etika?!”

Lang Junxia tidak mengatakan apa-apa, dan Duan Ling mengikutinya yang juga tidak mengatakan apa-apa. Mulut Kepala Sekolah kering karena semua yang dia katakan dan menyesap teh yang disajikan Duan Ling kepadanya. “Begitu kamu mulai bersekolah di sini, peraturannya akan sama untuk semua orang. Jika kamu berkelahi lagi, kamu akan dikeluarkan. “

“Terima kasih, Kepala Sekolah.” Sebuah beban berat telah terangkat dari pikiran Lang Junxia, dan ia menyuruh Duan Ling untuk memberikan Gurunya tiga kowtow2. Duan Ling dengan terpaksa melakukannya, kemudian Lang Junxia membawanya pergi.

Mereka melewati pemuda yang berkelahi dengan Duan Ling sebelumnya, berlutut di depan tembok untuk merenungkan tindakannya, saat mereka keluar melalui halaman depan. Duan Ling melirik kembali ke arah pemuda itu dan pemuda itu kembali menatapnya — mata mereka dipenuhi dengan kebencian.

“Bagaimana bisa kau diam saja ketika dipukuli?” Ada kerutan yang dalam di antara alis Lang Junxia.

Kembali ke Viburnum, dia membasuh wajah Duan Ling dan mengoleskan salep pada lukanya.

Duan Ling berkata, “Dia yang memulainya.”

Lang Junxia berkata dengan ringan sembari memeras handuk, “Aku tidak menyalahkanmu. Tapi jika kau tidak bisa mengalahkannya kenapa kau tidak lari?”

“Oh.” Duan Ling menjawab.

Lang Junxia berbicara dengan sabar, “Kalau ada yang mencoba mengganggumu lagi, maka kau harus menimbang situasinya. Kalau kau dapat mengalahkannya, maka bertarunglah. Kalau kau tidak dapat mengalahkannya, maka larilah, dan aku akan membereskannya untukmu. Tetapi kau jangan pernah mempertaruhkan hidupmu dalam sebuah perkelahian, mengerti?!”

“Baik.” Kata Duan Ling.

Ruangan itu jatuh dalam keheningan. Duan Ling tiba-tiba bertanya. “Kau bisa bertarung? Ajari aku.”

Lang Junxia meletakkan handuknya, menatap Duan Ling dalam diam. Akhirnya, dia berkata, “Akan ada banyak orang yang akan mengejek atau membunuhmu. Meskipun kau belajar bagaimana membunuh, ada begitu banyak orang di dunia ini, bagaimana kau akan membunuh mereka semua jika kau membunuh mereka semua satu per satu?”

Duan Ling menatap Lang Junxia dengan bingung, dia tidak benar-benar mengerti, Lang Junxia berkata, “Apa yang akan kau pelajari adalah pendidikan. Alasannya adalah, kedepannya, orang-orang yang ingin kau bunuh akan berjumlah jutaan. Menurutmu berapa lama waktu yang kau butuhkan dengan mengepalkan tanganmu? Kalau kau ingin balas dendam, maka menurutlah dan pergi ke sekolah.”

“Kau mengerti sekarang?” Lang Junxia bertanya lagi.

Duan Ling tidak mengerti, tapi dia tetap mengangguk. Lang Junxia menepuk punggung tangan Duan Ling dengan jarinya. “Jangan pernah bertingkah seperti yang kau lakukan hari ini lagi.”

“Oh.” Jawab Duan Ling.

“Kau akan pindah ke sekolah hari ini,” Lang Junxia berkata, “Aku akan mengantarkanmu sore ini, kita akan membeli apa yang kita butuhkan dan meminjam sisanya.”

Jantung Duan Ling tiba-tiba berada di tenggorokannya dan bertahan di sana, tidak berpindah ke mana-mana. Sejujurnya, selama ini, Lang Junxia telah menjadi satu-satunya keluarganya. Sejauh ingatannya di mulai, tak ada seorangpun yang pernah begitu baik padanya. Dan kini ketika dia seakan telah menemukan tempat untuk kembali pulang, dia berkata mereka harus berpisah sekarang?

“Bagaimana denganmu?” Tanya Duan Ling.

“Aku masih memiliki pekerjaan untuk dilakukan. Aku telah menyusun beberapa rencana bersama Kepala Sekolah. Setiap bulan, pada tanggal satu dan lima belas, aku akan datang menemuimu, dan kau akan mendapat dua hari di tiap waktunya. Aku akan memeriksa pekerjaan rumahmu, dan kalau kau melakukannya dengan baik aku akan mengajakmu pergi bermain.”

“Aku tidak mau pergi!”

Lang Junxia menghentikan apa yang sedang dia lakukan dan memperhatikan Duan Ling dengan tatapan suram di matanya. Dia belum mulai berbicara, tetapi Duan Ling sudah dapat merasakan auranya yang mengesankan — aura yang tidak mentolerir ketidakpatuhan.

Duan Ling tidak bisa apa-apa selain menyerah, menahan kembali air matanya. Lang Junxia berkata kepadanya dengan tenang, “Kau anak yang baik. Di masa depan kau akan mencapai hal-hal yang besar.”

“Setelah keluar dari Runan dan jauh dari Shangzi, dunia tidak akan memberimu duka lagi. Meskipun akan ada kesulitan, itu tidak layak dibandingkan dengan apa yang sudah kau alami. Kau hanya pergi ke sekolah sendiri. Apa yang perlu ditangisi?”

Lang Junxia menatap Duan Ling dengan bingung, seolah-olah dia tidak dapat memahami ketakutan dan kesedihan Duan Ling. Selama perjalanan mereka, dia sering memikirkan seperti apakah Duan Ling, namun Duan Ling selalu bertentangan dengan harapannya.

Dia nakal, tetapi dia tidak pernah bertingkah tidak baik di depan Lang Junxia; dia menghabiskan waktu bertahun-tahun di dunia gelap tanpa sinar matahari dari sebuah gudang kayu di Runan ketika dia tinggal bersama Keluarga Duan, jadi di mana pun selain tempat itu, baginya pasti sangat nyaman —

— Itu hanya sebuah sekolah, jadi mengapa dia terlihat seperti akan masuk ke sarang serigala? Lang Junxia tidak tahu bagaimana lagi memikirkan pembangkangan Duan Ling selain hanya memperlakukannya sebagai sifat alami anak-anak: ketika tidak ada orang di sana yang memanjakan mereka, mereka lesu seperti tanaman setengah layu, dan begitu seseorang memperhatikannya mereka mulai bertingkah manja.

“Hanya mereka yang dapat bertahan di situasi tersulit yang akan menjadi pria terhebat.”

Lang Junxia merenung untuk waktu yang lama, dan pada akhirnya hanya itu pepatah yang terpikirkan untuk diberi tahu pada Duan Ling.


Sore itu salju kembali turun. Duan Ling tidak ingin kembali ke tempat itu lagi, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain. Semenjak dia lahir, tidak ada seorang pun yang pernah menanyakan apa yang dia inginkan. Dan Lang Junxia hanya lembut di luar, dia jarang berbicara, tetapi jika ada yang menentang keputusannya dia akan menjadi serigala yang membelalakkan matanya di malam yang sunyi, memancarkan aura yang berbahaya.

Setiap kali Duan Ling tidak melakukan apa yang dikatakan Lang Junxia, ​​aura ini akan menyebar dan secara tak kasat mata menahan jiwa Duan Ling hingga dia menyerah. Seakan apapun yang terjadi dalam hidupnya, Lang Junxia tidak akan pernah menarik kata-katanya.


Hari berikutnya, Lang Junxia membeli semua kebutuhan sehari-hari yang mungkin dibutuhkan Duan Ling dan membayar uang sekolahnya di Aula Kemasyhuran, mendaftarkanya ke kamar di sayap timur yang terpencil.

“Aku meminta Ding Zhi untuk meminta temannya agar menjagamu.” Lang Junxia memberitahunya, “Bangsawan dan pejabat sering minum di Viburnum. Dia juga meminta seseorang untuk memberi peringatan pada anak Yua3 itu. Dia mungkin tidak akan datang mencari masalah denganmu lagi.”

Setiap hari, para pelayan akan merapihkan kamar dan menyalakan api, dan tungku berada tepat di dinding. Meskipun tidak sebaik Viburnum, setidaknya ini cukup hangat. Duan Ling melihat-lihat aula makan, yang menyajikan makan dua kali sehari, dan para siswa berkumpul bersamaan dengan bunyi bel. Dia mengambil mangkuk dan sumpit yang dibelikan Lan Junxia dan kembali ke kamarnya.

Duan Ling duduk di sana dan Lang Junxia membungkuk merapihkan tempat tidur untuk Duan Ling.

“Pastikan kalau kau tetap menyimpan lengkungan giok dengan aman bersamamu.” Lang Junxia terus mengingatkannya lagi dan lagi. “Simpan itu di bawah bantalmu ketika kau tidur. Kau tidak boleh menghilangkannya. Pakai itu di tubuhmu ketika kau bangun.”

Duan Ling tidak mengucapkan sepatah katapun. Matanya merah, Lang Junxia hanya pura-pura tidak melihatnya.

Keempat Harta dalam Belajar miliknya telah dikirimkan, dan diberikan kepada pihak sekolah untuk disimpan.

Akhirnya, Lang Junxia selesai merapihkan tempat tidur dan duduk di seberang Duan Ling. Kamar Duan adalah satu-satunya yang terisi di sayap itu. Hari mulai gelap, dan seorang pelayan datang untuk menyalakan lentera. Lang Junxia duduk dengan diam diterangi cahaya lentera layaknya patung yang tampan. Duan Ling duduk sendirian di dipan, menatap kosong.

Lang Junxia tidak berajak hingga bel berbunyi tiga kali. “Ayo pergi, ini waktunya makan. Bawa mangkuk dan sumpitmu.”

Duan Ling mengambil mangkuk dan sumpitnya, kemudian mengikuti Lang Junxia menuju aula makan, Lang Junxia berkata, “Aku akan pergi sekarang. Aku akan menemuimu di hari pertama bulan depan.”

Duan Ling berdiri diam menatap dengan kosong kepadanya. Lang Junxia berkata, “Pergilah makan sendiri. Ingat semua yang kukatakan padamu, kau tidak boleh hanya berguling di kasur. Seseorang akan datang untuk membantumu selama beberapa hari pertama.”

Lang Junxia berdiri di sana mengisyaratkan bahwa Duan Ling harus masuk ke dalam ruang makan, tetapi Duan Ling tidak dapat menggerakkan kakinya sama sekali.

Keduanya saling berhadapan dalam diam untuk waktu yang lama. Dengan mangkuk dan sumpit di lengannya, Duan Ling membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak dapat mengucapkan kata-kata itu.

Pada akhirnya Lang Junxia menguatkan dirinya dan berjalan pergi, tetapi saat dia berbalik, Duan Ling menyusulnya.

Lang Junxia melihat ke belakang, dan tidak ingin tinggal lebih lama lagi, dia cepat-cepat pergi. Duan Ling mengejarnya dengan cepatnya sampai ke pintu gerbang sekolah, di mana penjaga gerbang menghalangi jalannya, tidak membiarkannya keluar. Maka Duan Ling berdiri di dalam pintu mengawasi Lang Junxia, ​​air mata telah hampir jatuh mengalir di pipinya.

Lang Junxia tidak tahu harus berbuat apa; dia berbalik untuk berkata sambil berjalan pergi, “Kembali! Kalau tidak, aku tidak akan kembali di hari pertama bulan depan!”

Duan Ling tidak dapat berbuat apa-apa selain berdiri di dalam pintu. Lang Junxia juga merasa sedih melihatnya, tetapi dia tahu bahwa dia tidak dapat tinggal lebih lama lagi, kemudian dia menghilang di balik pintu.

“Sekolah, belajar, dan kau dapat menjadi seorang pejabat di masa depan,” kata lelaki tua yang mengawasi pintu dengan lembut. “Kembalilah ke dalam. Hm?”

Duan Ling berbalik, menyeka air matanya saat dia berjalan. Saat itu gelap, dan sekolah diterangi dengan lentera kuning; belum sampai setengah jalan untuk kembali, dia sudah tersesat. Untungnya, Kepala Sekolah lewat di depan serambi bersama dengan sekelompok guru saat Duan Ling duduk di koridor di hari musim dingin yang dingin ini, di mana air yang menetes dapat berubah menjadi es, menyeka air matanya.

“Apa yang sedang kamu lakukan?!” Kepala Sekolah belum mengenali Duan Ling, dan dia berkata dengan marah, “Bertingkah seperti anak kecil yang lemah, sangat sentimental! Bagaimana dia dapat bertingkah seperti ini?!”

Duan Ling buru-buru bangun tidak berani menentang Kepala Sekolah — dan membuat Lang Junxia marah lagi.

“Anak siapa ini?” Salah satu guru bertanya.

Kepala Sekolah mengamati Duan Ling dengan cermat untuk waktu yang lama sebelum akhirnya mengingatnya. “Benar, kamu yang berkelahi di hari pertama kunjunganmu. Bagaimana dapat kamu tidak terlihat selemah itu ketika berkelahi, hm? Ayo, ikut gurumu.”

Guru itu membawa Duan Ling ke aula makan. Para murid sekolah sebagian besar telah selesai makan malam. Pelayan menyendokkan makanan ke mangkuk Duan Ling untuknya, dan Duan ling menghabiskan semua yang ada di mangkuknya. Dia meletakkan peralatannya di atas meja; baik mangkuk kayu dan kotak untuk menyimpan sumpitnya memiliki ukiran namanya di atasnya, jadi seseorang akan datang mengambilnya untuk dicuci. Duan Ling kembali ke kamarnya sendirian untuk tidur.

Seseorang, di suatu tempat mulai memainkan sebuah seruling bambu.

Nada-nada itu melayang di udara, terdengar jauh dan dekat; dimulai dan berhenti seperti lagu perpisahan di Runan saat matahari terbenam – dan semuanya terasa seperti mimpi. Selama sebulan terakhir dan beberapa hari yang mereka habiskan selama perjalanannya ke utara, Duan Ling mengira dia sudah melupakan tahun-tahun yang dihabiskannya bersama Keluarga Duan. Lang Junxia di sisinya adalah bukti bahwa kehidupan barunya telah dimulai.

Namun begitu semuanya berubah hening dan sunyi, di dalam ruangan yang gelap dengan suara kresek dan desisan api yang menyala di bawah jendela, dengan hanya dirinya sendiri di tempat tidur, Duan Ling menyadari bahwa dia takut untuk tidur – dia takut ketika dirinya bangun, dia akan kembali lagi ke dalam gudang kayu yang suram, penuh luka dan memar. Dia cemas, panik, seolah-olah ada mimpi buruk di dalam kamar yang menunggunya untuk tertidur, dan begitu dia terlelap, dia akan diseret sepanjang perjalanan kembali ke Runan, yang ribuan mil jauhnya.

Untungnya, lagu yang merdu, mendayu dan bermakna, menenun permadani adegan yang dipenuhi dengan kelopak bunga persik yang melayang, dan itu tetap bersamanya hingga dia tertidur.

Lang Junxia berdiri di bawah atap, jubahnya tertutup dengan tumpukan salju.

Dia diam untuk waktu yang lama. Dengan kerutan yang dalam dia mengeluarkan surat yang tidak pernah dia kirim.

_Xiaowan

Anggap untuk melihat surat ini seperti melihatku. Aku mengirim orang yang membawa surat ini; dia memiliki token yang tidak kau terima bertahun-tahun yang lalu. Anggap itu juga sebagai buktinya.

Seseorang di Chen Selatan telah mengkhianatiku. Beberapa hal mengerikan. Untuk mencegah penculikanmu oleh seorang pembunuh suruhan pengadilan kekaisaran, tolong ikut si pengirim pesan ke utara. Sebelum hari ketiga di awal bulan aku akan menuju ke Shangjing untuk bertemu denganmu.

Hong_


Sudah tengah malam, hari ke-empat di awal bulan. Li Jianhong tidak datang.

Lang Junxia kembali ke Viburnum, mengemasi barang-barangnya, berganti pakaian hitam untuk bepergian di malam hari, dan mengenakan sebuah jubah.

“Ke mana kau akan pergi sekarang?” Ding Zhi muncul di luar pintu.

“Kerja,” jawab Lang Junxia dengan linglung.

“Aku telah mempercayakan seseorang tentang apa yang kau minta.” Ding Zhi berkata, “Adik kapten penjaga akan menjaganya.”

“Bantu aku membeli sebuah rumah. Tidak perlu khawatir tentang membersihkannya.” Lang Junxia mengeluarkan selembar uang kertas dan meletakkannya di bawah pemberat kertas.

“Kapan kau akan kembali?” Tanya Ding Zhi.

Lang Junxia menjawab “Lima belas.”

Ding Zhi melangkah masuk ke dalam ruangan, dan setelah hening lama dia bertanya, “Dari mana anak yang kau asuh itu berasal?”

Dengan mengenakan pakaian serba hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki, jubah Lang Junxia menyembunyikan bagian atas wajahnya, dan dengan sosoknya yang ramping dan tinggi berdiri di depan pintu bersama dengan topengnya. Matanya tampak jernih dan cerah saat mereka menatap Ding Zhi.

Pangkal dari bilah pedangnya mendorong dengan ringan ke depan, dan bilahnya berkilau dengan cahaya dingin.

“Ada kabar dari selatan. Kaisar Chen mencabut hak Li Jianhong untuk mengerahkan pasukan. Wu Du bergerak ke utara sepanjang malam dengan delapan belas pembunuh bayaran dari penjaga bayangan, jadi mereka haruslah pergi untuk melacak Li Jianhong. Karena kau tidak bersama Li Jianhong tapi justru entah bagaimana melindungi anak seperti itu di sini…”

Lang Junxia perlahan mengangkat tangan kirinya, Ding Zhi berhenti bicara.

“Siapa lagi yang tahu tentang ini?” Suara Lang Junxia datang dari balik topeng, dan pedangnya ada di leher Ding Zhi, sarungnya dan semuanya, bilah tajamnya tepat di tenggorokannya.

“Aku satu-satunya.” Ding Zhi mengangkat alis, dan mengangkat kepalanya untuk menatap Lang Junxia. “Jika kau membunuhku sekarang, kau dapat menyimpan rahasia ini selamanya.”

Lang Junxia terdiam, seolah-olah sedang mempertimbangkan. Dan kemudian tanpa membiarkan pedangnya meninggalkan sarungnya lagi, dia menarik diri, berjalan melewati Ding Zhi, menoleh untuk meliriknya saat dia melakukannya.

“Hati-hati dengan Wu Du,” kata Ding Zhi pelan.

Tidak ada jawaban lebih lanjut dari Lang Junxia. Sesampainya di halaman belakang, dia menaiki kudanya dan melaju dengan jubahnya berkibar di belakangnya.

Duan Ling tidak mengalami mimpi buruk, dan dia juga tidak terbangun di Runan; kesedihan tadi malam sudah lama terlupakan. Dia ingat apa yang dikatakan Lang Junxia kepadanya, dan bergegas bangun dan mencuci wajahnya, bergabung di kelas kajian pagi bersama anak-anak lainnya.

“Langit hitam bumi kuning, alam semesta yang luas semua kekacauan …”

“Emas di Sungai Li, giok di Gunung Kunlun…”

“Fondasi kerajaan adalah bertani, bekerja keras menabur dan menuai …”

Duan Ling duduk di kursi terakhir yang tersisa, dan mengangguk bersama dengan anak-anak lainnya, berusaha keras untuk mencocokkan bibir mereka, tapi dia sama sekali tidak mengerti – dia tidak memiliki pandangan apapun tentang isi bacaannya. Untungnya, dengan menguping di luar sekolah swasta di masa lalu dia mendengar semuanya sebelumnya, dan kata-katanya terasa halus dan mengalir dengan lancar dari lidahnya, jadi tidak lama kemudian dia mengingat kata-kata itu dan secara bertahap jatuh ke dalam ritme.

Setelah kelas kajian pagi selesai, guru memberi mereka lembar-lembar karakter dengan gambar di atas kertas bambu kuning, sehingga mereka dapat mulai mempelajari karakter tersebut. Duan Ling terlambat masuk sekolah sehingga dia memiliki tumpukan tebal di depannya. Mempelajari mereka membuat pikirannya berat, dan dia berhasil melewati setengah dari mereka sebelum pikirannya mulai berkelana; dia bertanya-tanya di mana pemuda yang bertengkar dengannya kemarin.

Aula Kemasyhuran dibangun oleh orang Han yang membelot ke Kerajaan Liao setelah ekspedisi hukuman Khitan ke selatan. Sekolah ini dipisahkan menjadi tiga area: Sekolah Dasar, Ruang Tinta, dan Paviliun Literatur. Anak-anak yang baru mulai sekolah pergi ke Sekolah Dasar terlebih dahulu untuk belajar karakter mereka (Liao Yang Agung), dan begitu mereka mempelajari semuanya dan lulus ujian, mereka maju ke Ruang Tinta, untuk mempelajari teks yang lebih sulit. Paviliun Literatur di sisi lain akan mengajarkan bahasa Khitan, Han, dan Xiqiang4 selain cara menulis esai dan studi tentang enam seni Konfusianisme5.

Pada saat Paviliun Literatur tidak dapat mengajarimu lagi, maka inilah waktunya untuk meninggalkan Aula Kemasyhuran dan masuk Akademi Biyong6, di bawah Administrasi Biro Urusan Militer Selatan. Di sana, seseorang akan mempelajari Lima Klasik dan mempersiapkan untuk ujian kekaisaran dengan harapan menjadi pejabat.

Kecepatan belajar siswa di Aula Kemasyhuran bervariasi. Pemuda yang dilihatnya kemarin sedang belajar di Ruang Tinta. Duan Ling hanya berhasil melihatnya pada waktu makan siang; dia duduk dengan satu kaki di atas bangku, tanpa ada yang berani duduk di dekatnya, menatap Duan Ling sambil makan dari mangkuk besi.

Pemuda Han lainnya datang untuk duduk di samping Duan Ling dan berkata kepadanya, “Namamu Duan Ling, bukan?”

Duan Ling memandang pemuda Han, bukan tanpa kehati-hatian. Dia sedikit lebih tua dari Duan Ling sendiri, tetapi tampak cukup dewasa; dia mengenakan pakaian mewah dengan sulaman gagak emas di kerahnya dan kancing di kerah kanannya terbuat dari lapis lazuli, alisnya sehitam tinta dan wajahnya cantik seperti seseorang dari keluarga bangsawan.

“Bagaimana…kau tahu itu?”

Pemuda bangsawan berbisik kepada Duan Ling, “Kakak laki-lakiku diminta untuk membuatku menjagamu dan memastikan kalau kau tidak diganggu.”

“Siapa kakakmu?”

Pemuda bangsawan itu tidak menjawab pertanyaannya. Dia menunjuk pada pemuda yang bertengkar dengan Duan Ling kemarin, jauh sekali. “Dia bagian dari Keluarga Borjigin. Bahkan ayahnya harus menjadi anjing untuk kediaman Keluarga Han. Jika dia memberimu masalah lagi, ceritakan tentangnya pada orang itu.”

Saat mereka berbicara, pemuda bangsawan itu menunjuk ke seseorang yang lebih dekat. Yang dia tunjuk adalah anak setengah dewasa yang dikelilingi oleh anak-anak lain; gemuk, dengan mata yang baik. Dia terlihat agak menyenangkan — meskipun wajahnya agak biasa, banyak anak-anak berkerumun mengikutinya.

“Katakan saja padanya, Tuan Han,” pemuda bangsawan itu menginstruksikan, “bocah Borjigin itu selalu membuat masalah untukmu, dan minta dia untuk membantumu.”

Duan Ling tidak benar-benar mengerti, tetapi dia mengerti bahwa pemuda itu bermaksud baik. Pemuda bangsawan bertanya kepadanya, “Apakah keluargamu dengan administrasi utara atau selatan?”

Duan Ling tidak punya pilihan selain menjawab, “Aku tidak tahu.”

“Han Atau Liao”

“Han. Ayahku bernama Duan Sheng. Dia memiliki usaha di Shangzi.”

Pemuda bangsawan itu mengangguk. “Oh, dia seorang pengusaha. Aku Cai Yan. Kakak laki-lakiku adalah Kapten Penjaga Patroli Shangjing. Namanya Cai Wen. Aku Han, dan begitu juga Tuan Han. Jika seseorang mengganggumu, datanglah berbicara dengan kami. Itu saja untuk saat ini.”

Setelah dia selesai berbicara, Cai Yan pergi dengan mangkuknya tanpa repot-repot menjelaskan hal lain pada Duan Ling. Dia tidak menganggap Duan Ling sebagai orang penting — dia hanya datang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kakak laki-lakinya.


Duan Ling menghabiskan makanannya, kemudian tidur siang setelah makan siang, dan bel berbunyi lagi. Hari-hari musim dingin terasa lesu. Anak-anak sekolah mengambil tempat duduk masing-masing, dan pada sore hari mereka diajari menulis, tapi dengan anglo di ruangan semua orang merasa agak mengantuk. Salah seorang anak hanya meletakkan kepalanya di atas tumpukan kertas tulis dan tertidur begitu dalam hingga dia mulai mengeluarkan air liur.

“Bentangkan karaktermu!” Kepala sekolah memberitahu mereka dengan sengaja, “Jangan mencoba menghemat kertas-“

Ini hari pertama sekolah, dan banyak kekhawatirannya untuk sementara terlupakan. Duan Ling sangat menghargai kesempatan yang diperoleh dengan susah payah ini, dan memfokuskan semua perhatiannya pada penulisan karakternya. Kepala Sekolah berjalan di dekatnya, lalu mengayunkan penggaris hukuman ke wajah anak yang tidur di sampingnya.

Pipi anak itu langsung membengkak, dan dia mulai melolong seperti bendungan terbuka. Kepala Sekolah menyeretnya keluar dengan menarik kerahnya, dan membuatnya berdiri di koridor. Duan Ling gemetar, memperhatikan anak itu dengan takut; setelah itu dia tidak berani sedikitpun untuk merasa lelah lagi.

Hari demi hari berlalu dan apa yang diharapkan Duan Ling tidak pernah terjadi. Pemuda itu tidak datang untuk membalas dendam; Cai Yan dan anak-anak lainnya juga tidak memperlakukannya dengan khusus. Semuanya mengikuti rutinitas yang ditetapkan, rapi dan teratur. Tidak ada yang bertanya tentang latar belakang keluarganya, dan tidak ada yang bertanya mengapa dia datang. Kehadiran Duan Ling terlihat biasa-biasa saja, seolah-olah dia tidak lebih dari sebatang pohon pinus di halaman yang selalu ada di sana.

Saat sekolah usai dan Duan Ling sendirian di kamarnya, bolak-balik, dia selalu ingat permainan seruling yang dia dengar pada malam pertama di sini.

Permainan itu hanya terjadi pada satu malam; melodinya berputar-putar di udara seperti bunga layu di selatan, jatuh layu tertiup angin, membawa secercah harapan dan kesedihan. Setiap dia memikirkannya, Duan Ling teringat sebuah puisi yang diajarkan7 Kepala Sekolah.

Seharusnya sekarang sudah musim semi di Runan, bukan?

Reuni Kebahagiaan (Joyful Reunion)
Karya Li Yu.8

Bunga-bunga hutan telah layu, merahnya musim semi telah hilang.
Terlalu terburu-buru.
Sayangnya mereka tidak mampu menahan dinginnya hujan di pagi hari ataupun angin di malam hari.

Pipi yang kemerahan karena air mata, ketertarikan yang berbalas.
Kapan kita akan bertemu lagi?
Ah, tapi kehidupan melahirkan penyesalan sebanyak air sungai mengalir ke timur.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Kekaisaran Liao dibagi menjadi Administrasi Utara dan Selatan, dan Administrasi Utara mengatur urusan Kemiliteran.
  2. Kowtow, 叩头, tanda hormat tertinggi dalam budaya China. Dengan cara berlutut dan membungkuk begitu rendah hingga kepala menyentuh tanah. Wiki-Dunia Web Novel.
  3. Dinasti Yuan adalah Dinasti Mongolia di Tiongkok, tetapi Dinasti Yuan, Liao, dan Chen (Song) yang semuanya merupakan dinasti pada saat yang sama adalah6 fiksi. Tatanan dinasti dalam sejarah setelah Tang adalah Song (Han)> Song Selatan + Liao (Khitan)> Song Selatan + Jin (Jurchen)> Yuan (Mongolian)> Ming (Han lagi)> Qing (Manchuria)> era modern pasca-dinasti.
  4. Xiqiang, sejarahnya masih diperdebatkan, tapi mungkin salah satu Suku Xirong.
  5. Konfusianisme, Ritus (filsafat), musik, panahan, kusir (berkuda, menggunakan kereta kuda), kaligrafi, dan matematika.
  6. Akademi Biyong adalah bagian dari Perguruan Tinggi Kekaisaran, tetapi dalam hal ini hanya meminjam nama, karena yang asli tidak ada di Shangjing.
  7. Mungkin “Joyfull Reunion” karya Li Yu.
  8. Puisi ini ditulis ketika Li Yu, Kaisar terakhir kekaisaran Tang, sedang dalam kurungan rumah.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments