English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Proofreader: Keiyuki17


Buku 5, Bab 45 Bagian 2


Di dalam halaman, Wu Du berbalik untuk memperhatikan para penjaga Zirah Hitam yang sedang bertugas jaga. Orang-orang ini berpakaian seperti ini di musim dingin adalah suatu hal, tapi apakah mereka juga berpakaian seperti ini di musim panas? Bukankah itu panas? Zirah hitam tetap menyerap panas, dan di tengah musim panas, cangkang kura-kura ini bisa menjadi sangat panas sehingga kau bahkan bisa menggoreng telur di atasnya, jadi jika kau berada di dalamnya, kau akan terpanggang hingga matang.

“Kau, kemarilah.” Mengenali salah satu penjaga sebagai seseorang yang telah berusaha keras untuk membuat hidupnya sulit, Wu Du memberi isyarat kepadanya, berkata, “Biar kutunjukkan sesuatu padamu.”

Pria itu berdiri diam seperti patung, jadi Wu Du bangkit dan berjalan menghampirinya.  Pria itu segera membuka mulutnya dan berteriak, “Jenderal Xie! Jenderal Xie!”

Xie You mungkin memberi tahu mereka  jika Wu Du melakukan sesuatu pada kalian lagi, panggil saja aku atau sejenisnya, karena ketika dia mendengar teriakan panik penjaga di luar, Xie You membuka pintu dan keluar dari aula.

“Wu Du,” kata Xie You. “Pada banyak kesempatan sebelumnya di mana aku telah menyinggung perasaan atau bersikap tidak pengertian, aku harap kau mau memaafkanku.”

Dengan demikian, Xie You mengepalkan tangannya dan memberi hormat. Wu Du tampak agak terkejut dengan hal ini, dan setelah mempelajarinya dengan seksama, Wu Du berkata, “Oh, lupakan saja. Aku akan membiarkan anak-anak ini pergi atas tanggung jawabmu.”

“Kau telah memenangkan rasa hormatku dengan perbuatanmu,” kata Xie You dengan sungguh-sungguh. “Setelah urusan ini selesai, aku harus latih tanding denganmu.”

“Kapan saja, lakukanlah,” jawab Wu Du.

Duan Ling mengangguk pada Xie You. Mereka sudah selesai bertukar informasi, dan Xie You ingin menahannya lebih lama lagi, tetapi Duan Ling khawatir jika dia tinggal terlalu lama akan membuat Mu Kuangda curiga. Bagaimanapun, hari ini panjang, mereka tidak terburu-buru untuk mengejar ketinggalan sekaligus, jadi dia mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke kediaman Kanselir.

“Apa yang kau bicarakan?” Wu Du berbisik.

“Aku mengatakan kepadanya semua yang diperintahkan kepadaku untuk diberitahukan kepadanya. Dia mengenal ibuku.”

Wu Du berkata dengan santai, “Setiap orang dari mereka sama-sama menyesal, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang pernah mencarimu.”

“Tidak seperti itu. Xie You bukan ayahku atau apa pun, jadi pada akhirnya tidak pantas baginya untuk ikut campur dalam urusan keluarga Duan. Belum lagi dia baru mengetahui keberadaanku ketika ayahku kembali ke Xichuan.”

Xie You pasti mencintai ibunya saat itu; itu adalah jenis kasih sayang yang tertekan dan terkubur dalam-dalam, tetapi Duan Ling tetap bisa merasakannya. Justru karena dia mencintainya, dia tidak membicarakannya, dan mereka berdua dengan hati-hati menghindari masa lalunya. Namun dari hal-hal yang diungkapkan ayahnya serta Xie You, Duan Ling masih bisa mendapatkan gambaran kasarnya – ibunya tidak kenal kompromi dan lembut.

Dia bisa mengetahui hal ini dari fakta bahwa dia menyelamatkan nyawa Lang Junxia dengan mendesak Ayahnya untuk tidak membunuhnya. Terlebih lagi, dia tidak ingin pembantaian yang tidak perlu; dia ingin orang-orang di dataran tengah menjalani kehidupan yang bahagia dan damai.

Masa lalu itu seperti samsara, dan terlalu banyak orang yang terjatuh ke dalam siklus besarnya; Li Jianhong, Li Yanqiu, Mu Kuangda, Xie You, Duan Xiaowan, Lang Junxia… akhirnya tiba saatnya semua kisah dendam dan kebaikan yang tak terbalas ini terungkap.

“Ketika pemandangan menakjubkan memenuhi pandanganmu, kamu memimpikan teman jauh dengan sia-sia; pemandangan yang paling memilukan adalah menyaksikan bunga-bunga layu di tengah hujan; sebaliknya, mengapa tidak menghargai orang tersebut di depan matamu,” kata Wu Du.1Sebuah puisi karya Yan Shu, dinasti Song. Berikut terjemahan yang telah di terjemahkan oleh Fox https://foxghost.tumblr.com/post/693964999076593664/%E6%B5%A3%E6%BA%AA%E6%B2%99-%E4%B8%80%E5%90%91%E5%B9%B4%E5%85%89%E6%9C%89%E9%99%90%E8%BA%AB-river-sand-life-is-limited-and

“Kenapa kau tiba-tiba mengucapkannya?”  Duan Ling tersenyum, memeluk Wu Du dan bersandar di bahunya.

“Istri tuanku pernah menyalin puisi itu. Dia menyegelnya ke dalam surat dan meletakkannya di mejanya. Tapi dia tidak pernah punya waktu untuk membacanya.  Dia sibuk menyempurnakan ramuan kehidupan atau mengkhawatirkan keadaan kekaisaran.”

Kereta sedang melewati Mie Terbaik di Dunia. Duan Ling sangat ingin pergi menemui Li Yanqiu namun pada akhirnya berhasil menahan diri. Wu Du berkata, “Ayo turun dan ambil semangkuk mie. Sudah lama sekali sejak kita datang ke sini.”

Duan Ling khawatir Mu Kuangda mungkin memperhatikan sesuatu, tetapi jika mereka tidak mengatakan apa-apa, dan hanya mengambil semangkuk mie, itu tidak masalah.

“Tentu,” kata Duan Ling pada akhirnya.  “Aku ingin pangsit.”

Ketika Wu Du membawa Duan Ling ke dalam, Duan Zifeng sedang berada di meja kasir untuk mengelapnya. Saat itu baru saja lewat tengah hari di antara waktu makan, jadi untuk kali ini, tidak banyak orang di kedai mie.

“Ada kursi tersisa di lantai dua?” Duan Ling bertanya.

Duan Zifeng segera menunjuk ke atas untuk memberi tahu mereka bahwa mereka boleh melanjutkan, lalu dia mengetuk pintu dapur dengan tabung bambu. Wu Du kemudian menyuruhnya membuat semangkuk pangsit serta semangkuk mie dan membawanya ke atas. Dia menuju ke atas bersama Duan Ling, dan mereka duduk berhadapan.

Duan Ling masih ingat hari pertama kali mereka datang ke sini. Wajah Wu Du memerah dan bingung saat membicarakan sesuatu yang tidak masuk akal. Dia tidak menyadarinya pada saat itu, tetapi sekarang setelah dia memikirkannya, Wu Du benar-benar dipenuhi dengan kasih sayang padanya saat itu.

Duan Ling menyentuh Wu Du dengan kakinya di bawah meja. Wu Du bertanya dengan bingung, “Apa?”

Angin musim gugur bertiup kencang.  Jiangzhou dipenuhi bunga persik di musim semi dan daun maple di musim gugur;  sejauh mata memandang warnanya merah menyala.

“Tidak ada apa-apa.” Duan Ling tersenyum lagi. “Aku baru saja memikirkan kenapa kau membawaku ke sini pada musim dingin yang lalu.”

“Terkadang kau benar-benar bodoh.”

“Apa maksudmu bodoh? Aku hanya tidak tahu apa-apa saat itu.”

Wu Du melambaikan tangannya dengan acuh; bukan berarti dia bisa berdebat dengannya. Duan Ling kembali mengamati Wu Du dengan cermat, lalu dia berkata, “Hei.”

Wu Du menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Kapan kau jatuh cinta padaku?” Duan Ling bertanya.

Wu Du terlihat malu. Pipinya mulai memerah. “Berhentilah main-main. Ayo kembali segera setelah kita selesai makan.”

Setiap kali Duan Ling menanyakan perasaannya, Wu Du selalu malu-malu, sering mengganti topik pembicaraan. Ini hanya membuat Duan Ling semakin ingin menggodanya.

“Jika kau tidak memberitahuku sekarang,” kata Duan Ling, “kau tidak akan mendapat kesempatan lagi.”

“Katakan padaku terlebih dulu. Menurutku kau hanya menyukaiku karena penisku besar, aku pandai berhubungan seks, dan aku menjagamu dengan baik di tempat tidur. Saat aku tua dan kehilangan penampilan, kau mungkin akan mengejar orang lain.”

Sekarang giliran wajah Duan Ling yang memerah.

“Aku… ugh,” kata Duan Ling, “jika kau tidak mengajariku, aku tidak akan tahu apa-apa, oke? Biarkan aku berpikir…”

Yang mengejutkan Wu Du, Duan Ling sebenarnya sedang memikirkannya dengan serius. Setelah beberapa saat, dia berkata kepada WU Du, “Hari itu di tembok kota Tongguan, aku… ya, mungkin saat itu.”

Wu Du benar-benar bingung, tetapi kemudian dia ingat bagaimana dia bergegas kembali untuk menyelamatkannya, mengenakan zirah dan penuh luka; itu adalah sesuatu yang dia benar-benar tidak ingin mengungkitnya lagi.

“Giliranmu,” kata Duan Ling. “Kapan itu?”

Wu Du memikirkan hal ini, dan saat dia hendak menjawab, seseorang membawakan pangsit untuk mereka.

“Selamat menikmati,” kata Lang Junxia.

Agak terkejut, Duan Ling tanpa sadar meletakkan tangannya di depannya, berjaga-jaga, tetapi Lang Junxia adalah dirinya yang biasanya selalu diam, meletakkan nampan kayu di atas meja mereka.

Ada semangkuk mie, semangkuk pangsit, dan surat di atas nampan kayu.

Duan Ling tidak lagi tegang saat melihat Lang Junxia lagi. Dia bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku pergi,” kata Lang Junxia, ​​suaranya tidak terdengar sedikit pun. Wu Du mengambil surat itu dan menatapnya dengan sikap agak bermusuhan, lalu Lang Junxia turun ke bawah. Segera, mereka mendengar suara derap kaki kuda – dia benar-benar telah pergi.

Wu Du membuka surat itu. Saat dia membaca, kerutan muncul di antara alisnya.

“Apa itu?” Duan Ling bertanya, merasa sedikit tidak nyaman.

“Beberapa hari lagi akan menjadi Festival Pertengahan Musim Gugur, dan malam itu, Mu Kuangda akan mengadakan jamuan makan. Dia ingin putra mahkota dan pejabat istana hadir. Aku ingin tahu apa yang dia coba lakukan.”

Surat dari Lang Junxia ini akan dikirimkan kepada pemilik Mie Terbaik di Dunia, yang pada gilirannya akan meneruskannya kepada Li Yanqiu. Lang Junxia tidak tahu bahwa Duan Ling dan Wu Du telah kembali ke kediaman Mu.

Mendengar berita ini, sebuah adegan dari buku sejarah tentang seorang kaisar tua yang membakar pejabatnya di perjamuan Festival Pertengahan Musim Gugur muncul di kepala Duan Ling2Referensi ke adegan awal dalam novel Yingnu.. Dia diam-diam berpikir pada dirinya sendiri bahwa ada baiknya dia kembali ke sisi Mu Kuangda, jika tidak, dia tidak akan bisa mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Mari kita kembali dan bertanya, lihat apa yang terjadi.” Duan Ling sangat curiga Mu Kuangda dan Han Bin sedang merencanakan sesuatu, tetapi pertama-tama dia harus mencari tahu siapa yang akan menghadiri jamuan makan ini.


Di Istana Timur, Cai Yan baru saja bangun dari tidur siangnya, dan dia terlihat sedikit terganggu. Undangan Mu Kuangda ada di mejanya.

“Ini tidak lazim.” Cai Yan selesai membaca undangan Mu Kuangda dan berkata, “Mendiang Kaisar belum dikebumikan, jadi semua perayaan di istana dibatalkan.  Betapa kurang ajarnya dia.”

“Ini sebenarnya ortodoks,” jawab Feng Duo dengan sungguh-sungguh. “Ketika Kaisar Wu meninggal, mendiang kaisar menggunakan ‘untuk menghibur para pejabat dan menenangkan kesedihan mereka’ sebagai alasan untuk mengadakan jamuan makan. Sebelum Yang Mulia Pangeran naik takhta, Anda juga harus ‘bangun’ dengan pejabat istana dan juga perwira militer utama.”

“Kanselir Mu telah mengeluarkan dekrit kekaisaran ini atas nama janda permaisuri. Karena ini adalah malam Festival Pertengahan Musim Gugur, dan istana masih berduka, dia ingin menikmati waktu tenang sendirian. Perjamuan Pertengahan Musim Gugur akan dipindahkan ke Kediaman Mu, dengan putra mahkota melakukan perjalanan untuk menghadirinya, dan Kanselir Mu sebagai tuan rumah. Dalam situasi seperti ini, hal itu dapat diterima.”

“Siapa yang akan berada di sana?” Cai Yan bertanya.

“Saya meminta Wuluohou Mu untuk mencari tahu. Xie You pasti akan muncul, dan Han Bin kemungkinan besar akan hadir. Adapun tiga badut dari sekretariat… Su Fa mungkin saja ada di sana, tapi sisanya mungkin adalah Huang Jian dan sejenisnya.”

“Wang Shan belum ditemukan.” Cai Yan mondar-mandir. “Itu membuatku benar-benar tidak nyaman.”

“Jangan khawatir, Yang Mulia Pangeran. Bahkan jika Wang Shan muncul, Kanselir Mu tidak mungkin bisa melakukan apa pun. Tapi jika Wang Shan benar-benar muncul, itu akan memberi kita kesempatan untuk mengambil inisiatif.”

“Menurutmu di mana dia berada?”

“Dugaanku adalah Wu Du terluka parah pada malam para pembunuh itu menyergap mereka. Itu sebabnya mereka tidak berani bertindak tanpa pertimbangan matang. Dalam pertarungan satu lawan seratus, bahkan jika dia terbungkus dalam zirah kaisar, dia tidak mungkin lolos tanpa cedera. Dalam skenario terbaik, kemungkinan besar Wu Du sudah tiada karena luka-lukanya.”

“Apa yang akan dikatakan Mu Kuangda?”  Cai Yan cukup mengenal Mu Kuangda untuk mengetahui bahwa dia tidak akan melakukan apa pun yang sia-sia. Dia kemungkinan besar mengadakan perjamuan Pertengahan Musim Gugur karena dia ingin menenangkan Cai Yan dengan berpura-pura berjanji setia.

Melihat situasi saat ini, Cai Yan masih optimis. Sejak Feng Duo mengetahui siapa dirinya sebenarnya, dia sedikit berubah dari sebelumnya. Semuanya direncanakan terlebih dahulu dan ditindaklanjuti kemudian; mungkin dia seharusnya tidak menyembunyikan ini dari Feng Duo sejak awal.

Meskipun Feng Duo masih belum bisa menyingkirkan Duan Ling dan Wu Du, setidaknya dia telah memberi mereka waktu.

Feng Duo merenungkan hal ini untuk waktu yang lama. “Ada tujuh dari sepuluh kemungkinan dia mencoba berjanji setia kepada Yang Mulia Pangeran.”

“Bagaimana dengan tiga dari sepuluh lainnya?”

“Tiga dari sepuluh lainnya adalah dia memiliki beberapa bukti yang tidak kita ketahui,” jawab Feng Duo sambil mengerutkan kening. “Tapi kemungkinannya sangat kecil kecuali dia berencana untuk langsung menyerang Anda. Kalau tidak, tidak bijaksana baginya untuk menunjukkan tangan terakhirnya sekarang. Yang Mulia Pangeran, jika saya berani bertanya, tapi apakah Anda sudah meluruskan cerita Anda dengan Wuluohou Mu?”

“Sudah,” kata Cai Yan. Ketika menghadapi pertanyaan ini, dia masih merasa sedikit tidak nyaman, dan dia menghindari tatapan Feng Duo. Meskipun dia tahu bahwa memberi tahu Feng Duo adalah satu-satunya jalan keluarnya, satu orang lagi yang mengetahuinya akan membuat situasinya semakin berbahaya.

Yang paling menantang dari semuanya, setelah Feng Duo mengetahui rahasianya, Cai Yan memiliki firasat tidak aman, seolah-olah kelemahannya dapat digunakan untuk melawannya kapan saja.

“Saat itu, kakekku, ayahku, ibuku…” Cai Yan berkata pelan, “Seratus tujuh belas anggota keluarga Cai, beberapa diasingkan, yang lain dieksekusi…”

Feng Duo tercengang mendengar kata-kata ini.

“Anda seorang Cai dari Guanzhong?” Feng Duo berbisik.

“Ya. Kerabat jauh kakak perempuanmu, klan Cai. Kaisar Liao terlibat dalam rencana yang menargetkan kami, dan atas saran Han Weiyong dari pemerintahan selatan, dia mengeksekusi seluruh keluargaku. Ketika aku dan kakak laki-lakiku melarikan diri ke Zhongjing untuk mencari suaka bersama Yelü Dashi, aku sangat takut. Prajurit mengejar kami sepanjang jalan…”

Cai Yan terperangkap dalam ingatannya, sementara Feng Duo berdiri di sampingnya dalam diam. Waktu yang lama berlalu.  Terdengar langkah kaki. Lang Junxia telah kembali.

“Jadi?” Cai Yan menatap Lang Junxia.

“Komandan Zirah Hitam, Xie You, Kantor Sekretaris Besar Sekretariat Su Fa, Sekretaris Cheng Yuan, Mayor Jenderal Komando Utara, Han Bin, Markuis Huaiyin, Yao Fu, Gubernur Shandong, Zheng Qin.”

Dengan begitu banyak orang di sekitarnya, Mu Kuangda mungkin tidak akan bisa melakukan trik apa pun.

“Bagaimana dengan Zheng Yan?” Cai Yan mengingat seseorang yang telah diabaikan. Sejak kematian Li Yanqiu, Zheng Yan menjadi sedikit tidak tenang.  Meskipun dia menghabiskan sebagian besar waktunya di Istana Timur, dia jarang berbicara. Belakangan, saat Cai Yan menyadari bahwa dia belum bisa melupakan kesedihannya, dia memberi tahu Zheng Yan bahwa dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan; akan lebih baik baginya untuk mengalihkan perhatiannya di kota, dan yang diminta Cai Yan hanyalah agar Zheng Yan tidak meninggalkan Jiangzhou.

“Akhir-akhir ini, dia sering minum di Mie Terbaik di Dunia,” jawab Lang Junxia.

Itu bisa dimengerti. Cai Yan sama sekali tidak curiga bahwa Zheng Yan akan melakukan apa pun; paling-paling, Cai Yan mengira dia dikirim oleh Markuis Huaiyin, Yao Fu, dan mungkin dia akan memihak mereka. Namun selama beberapa waktu terakhir, Yao Fu belum benar-benar bertemu dengan Zheng Yan, sehingga kekhawatirannya telah hilang.

“Dengan siapa aku harus bertemu selanjutnya?” Cai Yan memaksa dirinya untuk fokus.

“Yao Fu,” jawab Feng Duo. “Kita sekarang mendapat dukungan Xie You dan Han Bin, jadi selanjutnya adalah Yao Fu.”


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply