English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Me_524
Editor: _yunda


Buku 1, Chapter 6 Part 1

“Di seluruh penjuru dunia yang luas ini, benarkah tidak ada seorangpun yang mampu mengalahkan Li Jianhong?”

Mu Kuangda menghela napas sangat panjang, dengan Chang Liujun yang bertopeng berdiri di belakangnya.

Jenderal besar Zhao Kui berdiri di seberang Mu Kuangda. Zhao Kui kini berpakaian layaknya seorang sarjana sastra, dan dia berada di ruang belajar berlatih kaligrafi. Wu Du berdiri di sampingnya, tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Ini tidak seperti mereka tidak bisa membunuhnya,” Zhao Kui menjawab, “mereka tidak diijinkan untuk membunuhnya. Wu Du, Chang Liujun, Zheng Yan, serta si Tanpa Nama itu, mereka semua terikat oleh Zhenshanhe. Selama pedang itu ada di tangan Li Jianhong, maka mereka tidak dapat mengangkat tangan untuk melawannya.”

Kaligrafi Zhao Kui kuat dan tegas, setiap goresannya tumpah ke kertas seperti hujan badai yang membungkus bilah yang tidak terhitung jumlahnya.

“Semenjak Nayantuo meninggal,” Zhao Kui berkata dengan suara rendah, “cukup sulit untuk menemukan orang lain yang sanggup menjadi lawan Li Jianhong.”

“Tidak peduli seberapa kuatnya dia, dia tetaplah seorang manusia,” Mu Kuangda berdalih, “dan jika dia seorang manusia dia memiliki kelemahan. Jika dia memiliki rencana untuk segalanya dan percaya bahwa segalanya berjalan seperti rencananya, maka pasti ada beberapa variabel di dalam rencananya itu.”

“Mungkin si Tanpa Nama itu adalah salah satu variabelnya. Pria itu pertama mengkhianati gurunya, kemudian membantai seluruh sekolahnya – bahkan hingga sekarang tidak ada penjelasan mengapa. Aku telah melacak keberadaannya berdasarkan apa yang Wu Du katakan padaku. Dia berasal dari ujung pegunungan Xianbei, dan ketika Li Jianhong melarikan diri, dia tinggal di sana sebentar.”

Mu Kuangda mengangkat secangkir teh ke bibirnya, dan setelah menyesapnya sekali dia berbalik untuk melihat keluar ke serambi, “Aku sudah hampir putus asa jika itu menyangkut tentangnya – aku hanya bisa menyerahkannya ke tanganmu, Jenderal.”

“Selain itu, aku masih mengingat masih ada seorang,” Zhao Kui meletakkan kuasnya,”yang mungkin mampu untuk melawan Li Jianhong.”

Zhao Kui beralih ke Mu Kuangda, “Tetapi aku tidak dalam posisi yang mampu untuk memperkerjakannya, jadi aku hanya dapat menyerahkannya di tanganmu, Kanselir.”

Mu Kuangda tampak termenung, tetapi tidak mengatakan apapun.

“Ketika Master Wangbei tengah terluka parah karena Nayantuo, dia menyerahkan Duanchenyuan kepada Kongming.” Zhao Kui melanjutkan, “Master Wangbei memiliki murid junior Kongming lainnya yang belajar agama Budha tanpa mencukur kepalanya. Kemudian dia mengkhianati sekte dan membawa Duancheyuan bersamanya.”

“Yah, kita tidak dapat mengandalkan Wu Du ataupun Chang Liujun.” Zhao Kui menghela napas. “Bagi mereka, diperbolehkan membunuh siapapun di bawah matahari selain Li Jianhong, dia satu-satunya pengecualian.”

“Dan untuk si Tanpa Nama, dia pasti datang sendiri kemari untuk sebuah misi penting. Para orang Mongolia telah menyatakan perang terhadap Liao; jika semua berjalan seperti yang aku harapkan, dalam beberapa bulan setelah meletusnya perang di segala tempat, Li Jianhong pasti akan menunjukkan dirinya.”

Untuk waktu yang lama, Mu Kuangda tetap diam, tidak mengucapkan sepatah katapun.


Orang-orang Mongolia berbaris menuju ke selatan dan kelompok yang bergerak terlebih dahulu telah sampai di Huchang. Mulai dari pejabat birokrasi hingga warga sipil, penduduk Liao mulai khawatir. Pengungsi berkerumun menuju Shangjing. Pada tanggal kelima belas bulan keenam, sudah hampir tiga puluh ribu orang berkumpul di luar ibu kota Shangjing. Li Jianhong bersama Duan Ling menunggangi kudanya dan berpacu di jalan raya selama perjalanannya menuju ke gerbang kota.

“Siapa di sana?!” Tanya penjaga gerbang. “Tunjukkan surat-suratmu! Kami harus memeriksamu!”

Li Jianhong memutar kepala kudanya dan bersiul ke atas tembok kota. Cai Wen yang bertanggung jawab atas pertahanan kota melihat mereka, dan mengirimkan seseorang untuk membuka pintu samping dan membiarkan mereka masuk.

“Berterimakasihlah kepadanya,” Li Jianhong memberitahu Duan Ling. Dari atas kudanya Duan Ling menggenggam kedua tangannya dan mengacungkannya kepada Cai Wen, dan Cai Wen membalas salamnya. Agaknya, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya untuk datang dan bertanya kepada keduanya kapan mereka meninggalkan kota dan apa urusan yang mereka lakukan di luar.

Meskipun baru beberapa hari berlalu semenjak kepergian mereka, pada saat mereka sampai di rumah, Duan Ling merasa seolah-olah seumur hidup telah berlalu. Sejak saat dia melangkah keluar rumah untuk menyelamatkan Batu malam itu, dia tanpa sadar telah melangkah ke jalan yang epic dan penting — dalam satu malam dia telah menjadi bagian dari kekaisaran Chen Selatan, entah bagaimana ayahnya telah berubah menjadi prajurit terdepan perbatasan, seorang dewa perang Han.. dan sekarang dengan perubahan mendadak dalam situasi Chen Selatan, Li Jianhong tidak memiliki pilihan lain selain berkeliaran jauh dari rumah, dan keduanya hanya bisa bergantung satu sama lain.

Setelah mengalami sebuah perubahan yang radikal semacam itu dalam hidupnya, semua yang pernah terjadi sebelumnya kini terasa asing. Kerahasiaan Lang Junxia, kedatangan ayahnya — semuanya memiliki penjelasannya sekarang.

Ada banyak hal yang harus kau capai di masa depan.

Banyak hal yang tidak dia mengerti sebelumnya, kini secara sekaligus dapat dia mengerti sepenuhnya.

Di koridor dia duduk di bawah atap, menatap kosong ke halaman.

“Ayah.”

“Ya, Nak.” Di sisi lain, Li Jianhong bertindak sama seperti sebelumnya ketika dia menyirami tanaman Duan Ling dengan sebuah penyiram tanaman.

Duan Ling tidak mengatakan apapun. Setelah Li Jianhong selesai menyirami tanaman, dia menimba lebih banyak air dari sumur, mengukus nasi, dan memotong ikan di sebelah sumur dan memasaknya untuk Duan Ling.

Perubahan yang mengejutkan ini terjadi begitu cepat dan terlalu tiba-tiba; Duan Ling tidak tahu harus berbuat apa untuk dirinya sendiri. Dia menatap punggung Li Jianhong, merasa seolah-olah pria yang di kenal oleh Master Kongming, Lang Junxia, dan Nyonya dari Viburnum itu tidak sama dengan ayahnya. Ini seperti mimpi.

Sementara Li Jianhong sedang menyisik sisik ikan, dia bahkan meluangkan waktu untuk menengok ke Duan Ling. “Lapar? Makanan akan segera siap. Setengah jam.”

“Ayah.” Kata Duan Ling, “apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Li Jianghong menatapnya kosong sekejap, lalu dia mulai tersenyum. Dia membawa ikannya ke dapur, dan Duan Ling mengejarnya, menatap Li Jianhong dari belakang ketika dia mulai memanaskan minyak untuk memasak.

“Kau bisa melakukan apapun yang kau mau,” Li Jianhong menawarinya dengan santai, “semua keluhan lama itu adalah masalah ayahmu. Mereka sama sekali bukan belenggumu.”

“Masalahmu adalah masalahku. Apa yang harus di lakukan oleh seorang pangeran?”

Li Jianhong membuat Duan Ling mundur sedikit, dan berdiri di antara dia dan wajan sehingga minyak yang memercik tidak akan mengenainya. Dia memasukkan ikan ke minyak di tepi wajan, dan dengan sedikit percikan, aroma yang menggiurkan memenuhi udara.

“Paman keempatmu belum memiliki ahli waris,” kata Li Jianhong seenaknya, “bahkan jika dia memilikinya, tahta Chen Selatan di masa depan tetap akan menjadi milikmu. Kau bukan seorang pangeran, kau seorang kaisar.”

Duan Ling menatapnya tanpa berkata-kata.

Li Jianhong mengetuk tepi wajan dengan punggung tangannya, dan ikan yang di goreng berputar di wajan. Kemudian Li Jianhong menjentiknya dengan jarinya dan menguncangkannya hingga ikan itu terbalik. Sekarang sisinya yang berwarna keemasan menghadap ke atas saat mendesis dalam minyak.

“Saat kau belajar, kau belajar untuk menjadi seorang kaisar.” Li Jianhong berkata sambil tersenyum, “itu akan menyelamatkanmu dari berlarian kesana-kemari seperti ayam yang kepalanya terpotong ketika kau menaiki tahta. Apakah kau ingat apa yang di katakan oleh leluhur yang agung?”

Mengatur sebuah negara besar…” Duan Ling menatap ikan di dalam wajan, “ibarat menggoreng ikan kecil.1

“Persis,” Li Jianhong mengatakannya dengan kesungguhan yang mematikan, “sepertinya belajar itu berguna.”

“Tapi aku tidak tahu bagaimana melakukan apapun”

Li Jianhong menambahkan setengah sendok air, menambahkan daun bawang, jahe, bawang putih, dan menutupnya. “Jika Anda tidak tahu, pelajari, Yang Mulia, ambil mangkuk, saatnya makan!”

Li Jianhong mengangkat Duan Ling di samping dan menurunkannya di aula utama. Duan Ling pergi untuk menyiapkan meja.

“Ketika kau memiliki waktu luang, kau dapat memikirkan apa yang akan kau lakukan setelah menjadi seorang kaisar,” Li Jianhong mengatakan ini dengan serius ketika makan malam.

Duan Ling mengangguk, tercengang. Li Jianhong menawarinya, “Sebelum semuanya selesai dan dibereskan, pikirkan saja sendiri — tidak perlu memberi tahu siapapun agar mereka tidak cemburu. Lagi pula, dari kebanyakan orang, sembilan dari sepuluh dari mereka tidak bisa menjadi seorang kaisar.”

Duan Ling tertawa terbahak-bahak. Tentu itu benar, tetapi rasanya seperti hal yang jauh. Malam itu, Li Jianhong duduk di koridor di bawah atap, lengan melingkari lututnya saat dia melihat bintang-bintang, sementara Duan Ling membaca untuk persiapan ujian yang akan segera datang. Sedikit demi sedikit, dia tertidur dan terkapar di atas meja. Li Jianhong menjemputnya dan dengan hati-hati membawanya ke dalam, keduanya tertidur di ranjang yang sama.


Seorang terpelajar tidak boleh menjadi apa pun selain tegas dan gigih…”

Cuaca semakin panas secara bertahap. Duan Ling menghafalkan kata-kata Zengzi2 dan dia tidak bisa menahan diri untuk melirik Li Jianhong yang sedang membaca buku di sebelahnya.

Li Jianhong menyela dengan tenang, “…. karena tanggung jawabnya besar dan perjalanannya panjang.”

Karena tanggung jawabnya besar dan perjalanannya panjang.” Duan Ling membaca bersama.

Kepalanya penuh dengan pertanyaan, ayahnya hanya seorang diri, dan orang yang dapat dia perintahkan hanyalah Lang Junxia. Chen Selatan memiliki ratusan ribu prajurit dan kekuasaannya begitu luas. Dengan hanya identitasnya sebagai seorang keluarga kekaisaran, bagaimana dia bisa mengambil semuanya kembali?

“Ayah,” tanya Duan Ling, “apakah kau tahu Yelü Dashi?”

“Aku tahu dia, dia selau saja berpura-pura tidak mengenaliku.”

Duan Ling menatapnya dengan penuh tanya.

Li Jianhong mencemooh, “Itu untuk alasan yang sama mengapa ketika seseorang memukul orang lain, orang yang kena pukul akan mencoba untuk menghindarinya.”

Duan Ling menatapnya diam sesaat. “Lalu apakah dia akan datang menangkapmu?” Dia telah memikirkannya untuk sementara waktu, dan dia menyadari bahwa identitas ayahnya agak sensitif. Begitu dia sendirian, musuh-musuhnya mungkin akan datang mengejarnya.

“Dia tidak akan. Kita dulu adalah musuhnya tetapi kini tidak lagi. Yelü Dashi adalah pria yang luar biasa licik, dan layarnya selalu rapi karena angin. Dan selain itu dia tidak tahu kalau aku ada di sini.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan di selatan?”

“Aku telah mempertimbangkannya belakangan ini.” Li Jianhong berpikir dengan tenang untuk dirinya sendiri sejenak sebelum berkata, “Pada dasarnya aku hanya perlu meminjam pasukan, membentuk aliansi, bersahabat dengan Liao, dan melawan orang-orang Mongolia. Jika Yelü Dasi mau meminjamiku sepuluh ribu pasukan, akan sangat mudah untuk menjatuhkan Zhao Kui.”

“Akankah dia meminjamimu pasukan?”

“Kini itu adalah hal yang layak untuk dipikirkan, dan itu adalah yang sebenarnya sedang aku pikirkan. Bagaimana aku memberinya sebuah alasan kalau dia tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya. Aku sudah membicarakannya bersama ayah Batu mengenai masalah ini. Aku mengatakan agar mengerahkan pasukannya ke Yubiguan, dengan demikian pasukan Chen Selatan tidak dapat melakukannya di sini, dan Shangjing tidak memiliki pilihan lain selain meminta bala bantuan dari jalan barat daya.”

“Dan seperti halnya Batu, tinggalkan aku di sini sebagai sandera..”

“Tidak mungkin,” ekspresi Li Jianhong menggelap, dan nadanya berubah suram dan dingin “Kau tidak boleh mengatakan hal itu lagi. Di matamu apakah ayahmu seperti itu?”

Duan Ling hanya bisa mengangguk kemudian untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan mengatakannya lagi, dia melirik Li Jianhong segera setelah itu, dia menemukan bahwa ayahnya terlihat sedikit marah. Jadi dia pergi mencoba untuk meluruskan semuanya. Li Jianhong berbalik dan memeluk Duan Ling dengan satu tangan. Dia hanya berkata, “Yelü Dashi tidak boleh tahu siapa kau.”

Duan Ling bersenandung setuju. Li Jianhong berkata, “Jika ada yang berubah, ayah akan membicarakannya denganmu. Kau tidak perlu khawatir tentang hal-hal ini.”

Duan Ling mengangguk, dan bersandar di pangkuan Li Jianhong untuk membaca dan mempersiapkan ujiannya, sementara Li Jianhong menatap tajam ke peta tua yang menguning di atas meja. Di atas meja tergambar wilayah luas di utara, membentang sampai ke selatan melewati Yubiguan sampai Sungai Huai, dan memiliki karakter besar yang tertulis di atasnya — Liao.

Selama berhari-hari, Li Jianhong merenungkan semua ini, sementara hari ujian Duan Ling semakin dekat. Ngomong-ngomong, cukup anehnya, Duan Ling merasa dia sudah dewasa dalam semalam; dia tampaknnya tidak lagi peduli dengan semua hal yang sangat dia sukai sebelumnya, dan tidak lagi berteriak-teriak ingin bermain. Hidupnya sepertinya memiliki hal-hal yang lebih penting di dalamnya, yang sedang menunggunya.

Ini pasti takdir, bukan? Dia mulai mengembangkan sentiment baru dan intens lainnya terhadap ayahnya — penghormatannya kepada ayahnya telah berubah dari gagasan tak berbentuk menjadi perasaan bahwa meskipun ayahnya adalah miliknya, dia juga bertanggung jawab atas banyak orang lain, sebuah tanggung jawab yang tidak dapat di abaikan begitu saja. Mungkin inilah apa yang dimaksud Kepala Sekolahnya ketika dia berbicara mengenai pemerintahan yang baik hati, dan ‘Tata Aturan Kebijakan’ ini adalah milik Duan Ling dan ayahnya.

Sedikit demi sedikit, dia mulai menghindari mengganggu Li Jianhong, berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyela ketika Li Jianhong menghabiskan waktu yang lama untuk melamun. Musim panas telah tiba, dan nyanyian jangkrik adalah hal yang konstan; musim panas di Shangjing kering dan sejuk, dengan aroma segar yang bertahan lama.

Hari ini Duan Ling berjalan melalui koridor dengan bungkusan di atas bahunya, dan berbalik menuju ruang tempat Li Jianhong minum teh, dia berkata, “Ayah, aku akan berangkat untuk mengikuti ujian masuk.”

Li Jianhong mengawasinya dari ruang tamu, tatapannya sangat rumit tetapi di penuhi dengan rasa hangat. “Kau sudah tumbuh dewasa.” Kata Li Jianhong.

Berdiri di halaman yang terang benderang, Duan Ling mandi di bawah sinar matahari musim panas. Dia seharusnya senang, tetapi dia tidak tahu mengapa ketika dia mendengar ayahnya berkata demikian, itu membuatnya merasa sedikit sedih.

“Tetapi ayah sangat menyukai kau yang sekarang ini.” Li Jianhong bangkit sambil tersenyum. “Ayo berangkat.”

Duan Ling tidak akan membiarkan Li Jianhong menyia-nyiakan energinya, tetapi Li Jianhong tidak pernah lupa. Semuanya sudah dikemas, menunggu di dekatnya. Dia meletakkan cangkir tehnya sekarang dan mengambil bungkusannya, pergi ke Akademi Biyong bersama Duan Ling untuk mengikuti ujiannya.

Ini adalah pertama kalinya Duan Ling mengikuti ujian, dan yang terpenting dia merasa sedikit gugup. Tetapi Li Jianhong memberitahunya, “Jangan khawatir. Jika kau tidak masuk, maka yang harus ayah lakukan adalah mengeluarkan sejumlah uang agar kau bisa ikut bersenang-senang.”

Duan Ling mulai tertawa, dan kegugupan itu terasa lebih ringan. Akademi Biyong sudah dipenuhi dengan siswa yang datang untuk mengikuti ujian, dengan ribut berbicara satu sama lain. Li Jianhong menemukan tempat duduk dan mengajaknya duduk. Lalu dia berkata pelan, “Ayah akan menunggumu di luar di pohon itu.”

Keheningan berlalu sebelum Duan Ling berkata, “Kau harus pulang.” Dia merasa agak malu, meskipun bagian dalam Akademi Biyoung cukup ramai dan tidak ada yang memperhatikan mereka.

Li Jianhong menyiapkan meja untuknya lengkap bersama kertas dan kuasnya. “Kau akan memiliki kesempatan menangani banyak tugas besar. Tulis saja apapun yang kau suka. Kau tidak perlu membuktikan diri dengan selembar kertas ini. Ayah percaya padamu. Tidak perlu menganggap ini terlalu serius.”

Duan ling tiba-tiba mengerti apa yang di maksud Li Jianhong dan mengangguk kembali padanya ‘Menguasai keterampilan sastra dan bela diri demi keuntungan keluarga kekaisaran’, dan karena dia adalah bagian dari keluarga kekaisaran, apa yang perlu di khawatirkan? Apa yang mungkin dimaksud Li Jianhong adalah bawa dia tidak perlu terlalu banyak berusaha, jangan sampai dia menonjol dan menarik terlalu banyak perhatian pada dirinya sendiri.

Li Jianhong mengacungkan jempol pada Duan Ling, lalu berbalik, dan keluar.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Dari Laozi Tao Te Ching.
  2. Zengzi adalah salah satu murid Konfusius.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments