English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Me_524
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 6 Part 2

Semua siswa berada di halaman, mengikuti ujian mereka. Akademi Biyong diliputi dengan suasana syahdu, sebuah kutub yang mengejutkan yang berlawanan dengan hiruk pikuk yang biasanya memenuhi Aula Kemasyhuran seolah-olah begitu mereka melewati ambang pintu ini, semua orang secara tidak sadar menjadi lebih tenang dan kehilangan keberanian untuk menjadi liar.

Di dalam halaman, bunga-bunga bermekaran penuh, dan diletakkan menghadap ke langit yang sebiru laut, tampak seperti gulungan lukisan yang sangat indah. Guru membagikan kertas ujian. Ujian masuk hanya berlangsung satu hari, dan pada awalnya Duan Ling telah melihat sekilas ke pepohonan di luar, bertanya-tanya pohon mana yang Li Jianhong duduki untuk mengawasinya, tetapi setelah mencari ke seluruh penjuru tanpa memperhatikan tanda-tandanya, dia berbalik memfokuskan perhatiannya untuk menjawab pertanyaan.

Setelah dua jam, Duan Ling selesai menjawab hampir setengahnya. Dia menggosok kedua tangannya dan melihat ke atas lagi. Kali ini dia menemukan Li Jianhong di pohon yang paling dekat dengannya tepat di luar tembok, bersandar di dahan, terlihat sembrono dengan satu kaki terayun-ayun dengan santai saat dia makan tanghulu.

Duan Ling menatapnya tanpa berkata-kata. Li Jianhong menunjukkan tanghulu lainnya untuk memberi tahu dia bahwa dia juga membelikan satu untuknya — sekarang fokuslah pada ujian.

Duan Ling hampir saja tertawa. Tiba-tiba dia menyadari bahwa Li Jianhong mungkin baru saja sampai di sini, dia bertanya-tanya ke mana dia pergi tadi. Apakah dia sudah berada di atas pohon selama dua jam?

Empat jam kemudian, di bawah terik matahari:

“Serahkan kertas kalian,” kata penguji.

Seperti sepanci air yang akan mendidih, semua peserta ujian mulai berbicara sekaligus. Penguji batuk, dan semua orang terdiam lagi. Kemudian peserta ujian berdiri untuk memberikan penghormatan kepada penguji sebelum mengucapkan dengan bersamaan, “Terima kasih, tuan penguji,” dan berbaris sesuai urutan, kemudian mereka pergi.

Begitu Duan Ling berada di luar, dia berlari ke arah pohon di sisi lain halaman, tetapi ketika dia mencari ayahnya, ayahnya tidak bisa ditemukan. Sementara dia berdiri di sana bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, melihat ke sekelilingnya, dia terlempar ke bahu Li Jianhong. Dia tertawa terbahak-bahak, dan Li Jianhong membawanya pulang.

“Ayo mandi. Aku akan membawamu ke tempat yang menyenangkan malam ini.”

Duan Ling mengingatkannya, “Mereka akan mengumumkan hasilnya besok!”

“Oh tidak apa-apa, kita akan pulang untuk tidur.”

Begitu mereka sampai di rumah setelah makan siang dan mandi, Li Jianhong menggunakan bangun terlalu pagi sebagai alasan untuk membuat Duan Ling agar bisa tidur siang. Pada saat dia bangun, matahari sudah terbenam, dan Li Jianhong juga telah membawa baju baru untuk dikenakan oleh Duan Ling.

Duan Ling menatapnya dengan rasa ingin tahu. Baju baru ini dibuat dengan bahan brokat sutra hitam premium, disulam dengan motif harimau putih. Baik sepatu maupun ikat pinggangnya baru.

“Di mana kau mendapatkan ini?”

“Itu sudah siap sejak lama. Aku pergi dan mengambilnya hari ini tepat ketika kau mengikuti ujian.”

“Apa maksudmu?” Duan Ling selesai berganti ke gaun barunya, dan hampir tidak mengenali dirinya sendiri ketika dia melihat ke cermin. Baju baru tersebut secara jelas disesuaikan dengan ukuran baju lamanya. Itu adalah gaun brokat hitam yang indah, pola harimau perak berulir tampak sangat hidup.

“Baju apakah ini?”

“Ini adalah pakaian pangeran. Jubah kaisar adalah jubah naga, sedangkan jubah pangeran mengambil lambang harimau putih dari barat.1 Harimau putih adalah dewa militer; itu mewakili kendali atas prajurit dan itu adalah lambang penjaga negara. Itulah mengapa tanda pengenal di kemiliteran juga disebut dengan token harimau.”

Li Jianhong berganti mengenakan jubah panjang, mirip dengan jubah Duan Ling. Duan Ling tampak cerah saat melihat bayangan ayahnya di cermin.

“Bagaimana?” Li Jianhong bertanya dengan linglung.

“Ini benar-benar… sungguh….” Duan Ling merasa ayahnya hampir tidak bisa dikenali.

Sejak hari mereka bertemu kembali, Li Jianhong telah mendandani dirinya dengan kain biasa, rambutnya diikat ke belakang dengan sederhana, dan dia juga tidak menghabiskan banyak waktu untuk penampilannya. Sekarang ketika mengenakan gaun pangeran, bahkan ketika hanya berdiri dengan tenang pun, dia memancarkan aura yang mengesankan, tenang dan anggun, dan di atas semua itu dia memiliki aura yang bermartabat, seperti seorang penguasa yang sedang mengamati negerinya.

“Ke mana kita akan pergi dengan pakaian semacam ini?”

“Ke tempat yang tidak benar-benar kau inginkan,” kata Li Jianhong, “Viburnum.”

Wajah Duan Ling berkedut, ekspresinya dengan jelas mengatakan ‘aku tidak percaya kita memakai pakaian resmi ini untuk pergi ke rumah bordil‘. Dibandingkan beberapa tahun lalu, Duan Ling telah mendengar lebih banyak hal yang tidak seharusnya dia ketahui.

“Aku tahu kau akan membuat wajah semacam itu.” Li Jianhong tampak senang. “Kita akan bertemu dengan seorang teman lama, bukan untuk melakukan hal lain.”

Duan Ling tampak cukup ragu, “Benarkah?”

“Kau bisa terus mengawasiku. Jika apa yang aku lakukan membuatmu kesal, kau bisa memborgolku kapan pun kau mau,” Li Jianhong memberitahunya sambil tersenyum.

“Kaulah yang mengatakan itu.” Duan Ling melirik Li Jianhong, tidak bisa mengalihkan pandangannya; ayahnya benar-benar terlalu tampan.

“Tapi kita tidak bisa pergi begitu saja.” Li Jianhong mengambil dua topeng dari meja dan memasangnya di wajah Duan Ling, memastikan dia mengenakannya dengan benar.

Duan Ling menyentuhnya, penasaran; topengnya terbuat dari kulit dan terpasang di atas pelipis, menutupi lebih dari separuh wajah, memperlihatkan batang hidung tinggi Li Jianhong dan bibirnya yang lentur, menambahkan estetika misterius yang memukau pada dirinya.

Duan Ling mengamankan topengnya, dan Li Jianhong membuatnya mengeluarkan lengkungan giok Duan Ling, mengikatnya ke jepitan ornamen di ikat pinggangnya. Kemudian Li Jianhong memberikan Duan Ling lengkungan gioknya sendiri dengan bujukan di matanya.

Duan Ling mengantungkan lengkungan giok lainnya ke sabuk ayahnya.

“Ayo pergi.” Li Jianhong meraih tangan Duan Ling, dan mereka pergi menuju cahaya senja.

Ada sebuah kereta menunggu di luar. Pengemudi membuka tirai dan membiarkan mereka masuk.

“Apakah ada yang melihat kereta ini datang ke sini?” Begitu masuk, Li Jianhong bertanya.

“Tidak perlu khawatir, Tuan,” Kata si pengemudi.

Kereta itu tidak melewati rute biasa dan berjalan melalui gang-gang yang berputar-putar, melewati dua jalan utama sebelum menuju ke gang lagi, memasuki bagian barat kota di mana banyak kediaman pejabat berada sebelum kembali keluar menuju ke jalan utama, lalu dengan langkah santai menuju Viburnum, akhirnya berhenti di pintu belakangnya.

Malam musim panas terasa gerah dan menindas, dan malam ini langit mendung dengan awan gelap, dengan bulan yang tidak terlihat. Ketegangan di garis depan menciptakan suasana gelisah yang tidak biasa di seluruh kota layaknya kain kafan. Tidak ada tawa yang merembes melalui dinding Viburnum, hanya lentera warna-warni yang tersisa, diam-diam tergantung di sana.

“Salam, Yang Mulia.”

Sambil memegang tangan Duan Ling, Li Jianhong melangkah melalui halaman belakang menuju koridor yang tertutup. Ding Zhi membawa lentera, dengan hati-hati mengarahkan jalan kepada mereka berdua. Ketika Duan Ling dan Li Jianhong lewat, para pelayan yang berdiri di kedua sisi koridor bersujud di lantai.

“Salam, Yang Mulia.”

“Salam, Yang Mulia.”

Duan Ling tetap diam.

Li Jianhong bahkan tidak mengangguk pada mereka. Dia berkata kepada Duan Ling, “Apakah kau lapar?”

Duan Ling segera menggelengkan kepalanya. Li Jianhong berkata, “Kau pasti lapar. Setelah kita duduk sebentar, makanlah sesuatu.”

“Salam, Yang Mulia.”

Dengan pakaian yang indah, lima wanita dari Viburnum keluar dari ruang tamu satu demi satu untuk bersujud di depan Li Jianhong. Di tengah-tengahnya, Nyonya Viburnum mengenakan gaun upacara seperti api luan2, dan ketika dia melihat Li Jianhong masuk, dia membuka lengan bajunya dan melangkah maju.

“Salam, Yang Mulia. Dan salam, untuk Tuan Muda.” Nyonya berkata kepada mereka dengan nada serius.

“Kamu bisa melupakan formalitas,” barulah Li Jianhong berbicara dengan sangat anggun.

Enam wanita itu menyingkir. Li Jianhong membiarkan Duan Ling berjalan di depannya dan mendudukkannya di kepala meja, sementara dia sendiri duduk di sampingnya. Xu Lan membawa nampan teh, Qiu Jin menawarkan teh kepada nyonya, lalu nyonya mengambil teh ini dan meletakkannya di sebelah tangan Li Jianhong. Li Jianhong menyesapnya terlebih dahulu sebelum dengan santai menyerahkannya kepada Duan Ling. Baru kemudian nyonya menyajikan teh untuk Li Jianhong.

“Xunchun,” Kata Li Jianhong.

“Siap melayani Anda,” jawab nyonya.

Duan Ling merasa dia pernah mendengar nama ini di suatu tempat sebelumnya, tetapi dia tidak bisa benar-benar menemukannya. Tetapi segera perhatiannya ditarik ke tempat lain oleh sesuatu yang dikatakan Li Jianhong.

“Apakah kamu sudah memanggilnya ke sini?” Kata Li Jianhong.

“Qiu Jin telah mengundangnya.” Kepala Xunchun menunduk dan pandangannya terus terfokus ke lantai. Dia dengan tenang menjawab, “Kemungkinan besar dia akan berada di sini malam ini.”

“Siapa lagi yang ada di halaman ini?” Li Jianhong bertanya.

“Seseorang bernama Cai Yan bersama dengan beberapa anak lain dari administrasi selatan berada di sayap samping, mendengarkan musik dan minum anggur. Saya memiliki orang-orang yang mengawasi mereka sehingga mereka tidak akan mengganggu.”

“Bawakan makanan,” Li Jianhong mengakhiri. “Yang Mulia lapar.”

Xunchun dan enam wanita itu semua membungkuk bersama memberi hormat, dan meninggalkan ruangan.

Duan Ling merasa agak tidak nyaman, tetapi hanya karena acaranya terlalu formal. Li Jianhong juga tidak mengatakan apa-apa, jadi untuk sementara mereka berdua hanya duduk di sana, membiarkan pikiran mereka berkelana. Ruang tamu harum dengan kayu cendana, asap dupa berputar-putar.

Waktu yang tidak dapat ditentukan berlalu. Di tengah keheningan ini, Li Jianhong tiba-tiba mulai berbicara.

“Suatu hari nanti, jika aku tidak di sisimu, apakah kau akan merindukanku?”

Duan Ling menoleh untuk melihat Li Jianhong, tidak mengerti apa yang dia maksud. Li Jianhong juga balas menatap Duan Ling seolah-olah sedang kesurupan.

“Aku akan merindukanmu. Apakah kau akan pergi? Kapan?”

Akhir-akhir ini, Duan Ling memiliki firasat yang kuat — firasat dan deduksi — bahwa jika Li Jianhong ingin merebut kembali selatan dengan paksa, dia pasti tidak akan bisa membawanya dalam perjalanan saat dia pergi berperang, dan dia benar-benar tidak akan punya waktu untuk dihabiskan dengannya.

Sudut bibir Li Jianhong melengkung sedikit. “Yah, itu belum cukup. Tetapi begitu kau berada di Akademi Biyong, kau akan tinggal di sana. Kau hanya akan pulang sesekali. Aku tidak tahan berpisah darimu.”

Li Jianhong mengulurkan tangan, dan menggenggam tepi topeng Duan Ling dengan jari-jarinya, dia mendorongnya perlahan ke atas kepalanya, dan menatap wajahnya. Duan Ling juga mengulurkan tangan, mendorong topeng ayahnya ke atas kepalanya. Dia telah memikirkan hal ini sepanjang waktu; jika dia pergi ke sekolah dia harus tinggal di Akademi Biyong, dan dia sering memikirkan betapa dia benci kalau mereka harus berpisah.

Li Jianhong meletakkan satu tangan di pipi Duan Ling. “Jika aku melihatmu sebanyak yang aku bisa selagi aku memiliki kesempatan sekarang, lalu saat aku pergi bertarung, saat aku berbaring di tenda, kau akan selalu ada di pikiranku.”

Duan Ling tidak mengatakan apa-apa, tetapi matanya menjadi merah; Akademi Biyong akan mengumumkan hasil ujian besok pagi, dan jika dia lulus dia harus pindah pada sore hari. Akademi Biyong lebih ketat dengan siswanya daripada Aula Kemasyhuran, dan dia hanya mendapat libur sebulan sekali. Ayahnya hanya berada di sisinya selama beberapa bulan, tetapi beberapa bulan terakhir ini telah menghapus semua penderitaan yang pernah dialaminya, semua air mata yang telah dia tumpahkan, seolah-olah untuk saat ini, itu semua tidak sia-sia.

Di luar, di suatu tempat, seseorang sedang memainkan seruling. Suaranya lembut dan merdu, seperti kelopak bunga yang turun di dekat cakrawala pada malam yang sunyi ini, berkibar tertiup angin.

“Aku pernah mendengar lagu ini sebelumnya,” kata Duan Ling kagum.

Itu adalah lagu yang persis dia dengar dimainkan di luar Aula Kemasyhuran, tetapi kali ini dimainkan dengan nada yang jauh lebih pelan dan lebih lembut.

“Reuni Kebahagiaan”, Li Jianhong bergumam, menatap mata Duan Ling yang cerah, “Bunga hutan telah layu, kemerahan musim semi hilang… terlalu cepat. Liriknya ditulis oleh kaisar terakhir Tang Selatan setelah jatuhnya kekaisaran. Sifat kehidupan yang fana sering membuat kita menyesal.”3

Dalam pelukan Li Jianhong, Duan Ling bersandar; dia tahu bahwa malam ini bukan malam biasa, dan Li Jianhong tidak membawanya ke sini hanya untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Dilihat dari apa yang dia bicarakan dengan Xunchun sebelumnya, dia tahu mereka masih punya janji dengan seseorang.

Li Jianhong membelai kepala Duan Ling dan membungkuk untuk menghirup aroma bersih rambutnya. Di luar, musik seruling telah berakhir, seseorang dengan tenang mengatakan Nyonya, kemudian terdengar suara langkah kaki.

“Yang mulia.” Itu suara Xunchun.

“Masuklah,” kata Li Jianhong.

Pintu ruangan terbuka, dan Ding Zhi membawa nampan minuman, mengatur meja. Ini adalah makanan yang sama yang disiapkan Ding Zhi untuknya pada hari pertama Duan Ling datang ke Shangjing, tetapi kali ini dibuat dengan lebih indah.

“Dia ada di sini,” kata Xunchun.

“Bawa dia ke sini sebentar lagi,” kata Li Jianhong krpadanya.

Xunchun membungkuk. Li Jianhong berbicara lagi saat dia akan pergi. “Di antara Perkumpulan Delapan Dewa, ada Lan, Shao, Jin, Zhi, Mo, Zhi, Tang, dan Juan. Mengapa aku hanya melihat enam dari mereka?”

“Yang Mulia,” Xunchun menjawab, “Qin Tang dan Su Juan sudah meninggal.”

Ada sedikit perubahan pada ekspresi Li Jianhong. “Kapan? Dimana?”

“Hari di mana Liao menerobos ibu kota. Tanggal tujuh belas bulan depan adalah hari peringatan kematian mereka.”

Li Jianhong memberinya sedikit anggukkan. “Apakah kamu yang memainkan seruling tadi?”

“Itu saya.” Xunchun terus menunduk; Li Jianhong tidak mengatakan apa-apa. Lama berlalu sebelum Xunchun diam-diam meninggalkan ruangan.

Setelah makan sedikit, Duan Ling kenyang, jadi Li Jianhong membantunya mengenakan topengnya lagi dan membuatnya duduk di belakang layar. Segera, mereka bisa mendengar langkah kaki di luar.

“Yang mulia.” Itu adalah suara wanita.

“Aku seharusnya tidak berada di sini malam ini.” Itu suara Yelü Dashi, berbicara di luar. “Memilih waktu seperti ini untuk minum, Nyonya, apakah kau mungkin memiliki sesuatu yang sangat penting yang ingin kau diskusikan denganku?”

Duan Ling menjadi tegang begitu mendengar suara Yelü Dashi, dan menjulurkan kepalanya dari balik layar untuk melihat. Tetapi Li Jianhong tersenyum tipis, meletakkan tangannya di kepala Duan Ling dan memasukkannya ke belakang layar. Dia menoleh ke Duan Ling, meletakkan jarinya di depan mulutnya untuk memberi isyarat.


Di ruang luar:

Suara lembut Xunchun menjawab, “Bagaimana mungkin seseorang seperti saya bisa mengomentari masalah negara? Sejujurnya, alasan saya mengundang Yang Mulia ke sini hari ini adalah karena saya memiliki tamu yang ingin bertemu dengan Anda.”

“Oh?” Yelü Dashi hanya membuat suara ingin tahu. Sosoknya membuat bayangan tinggi di kertas jendela kertas. “Siapa itu?”

“Beliau ada di dalam. Yang Mulia akan mengetahuinya begitu Anda melihatnya.”

Yelü Dashi sangat curiga; Xunchun melangkah maju sendiri dan membukakan pintu untuknya, tetapi dia tidak melangkah masuk. Yelü Dashi hanya berdiri di halaman, dengan rona kemerahan karena anggur di pipinya, melihat melalui pintu dengan mata setengah mabuk.

Li Jianhong bersandar di sofa rendah di depan layar, satu kaki menginjak meja teh, sikunya bertumpu pada lutut yang terangkat, wajahnya tertutup. Dia bahkan tidak repot-repot melirik Yelü Dashi sama sekali. Sambil menyesap teh dia berkata dengan dingin, “Lama tidak bertemu, Yelüxiong.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Dua Puluh Delapan Mansions (China: 二十八宿; pinyin: Èrshíbā Xiù), hsiu, xiu [1] atau sieu [2] adalah bagian dari sistem konstelasi China. Mereka dapat dianggap setara dengan konstelasi zodiak dalam astronomi Barat, meskipun Twenty-eight Mansions mencerminkan pergerakan Bulan melalui bulan sideris daripada Matahari di tahun tropis. Ada empat mansions yaitu naga biru dari utara, kura-kura hitam dari utara, harimau putih dari barat, dan burung vermilion dari selatan.
  2. Luan adalah adalah burung mitos yang menyerupai burung merak merah dengan kaki yang panjang yang sedang terbang tinggi.
  3. Puisi Joyful Reunion.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments