• Post category:Embers
  • Reading time:17 mins read

Penerjemah : HooliganFei
Editor : _yunda


Xing Ye tidak bergerak maupun berbicara, meskipun begitu Sheng Renxing bisa merasakan tatapan pihak lain melubangi belakang kepalanya.

Sebagai tanggapan, dia berbalik untuk menghadapnya.

Xing Ye: “Kamu sedang membuat jian bing1 atau sesuatu?”

Pihak lain tidak bisa menahan rasa penasarannya dan bertanya dalam suara yang rendah, “Kamu bermain tinju di mana?”

“Kenapa kamu ingin tahu?” Xing Ye menghindari pertanyaan.

“Aku rasa aku ingin memeriksanya untuk memperluas pandanganku.” Sheng Renxing lanjut berbisik saat dia beringsut mendekat ke arah pihak lain, seakan-akan mereka sedang berbagi rahasia.

Xing Ye mengikuti perbuatannya dan menjawab dengan suara yang pelan, “Kamu sudah melihatnya.”

“Tidak, aku belum!” Sheng Renxing menaikkan suaranya sedikit dan menatapnya.

Xing Ye balas menatap. Insting awalnya adalah untuk menolak Sheng Renxing, tapi ujung-ujungnya dia menjawab tidak jelas: “Lain kali.”

Sehubungan dengan perubahan hatinya… itu karena dia dibawa pulang oleh Sheng Renxing malam ini, atau bagaimana dia memberikan Xing Ye kesempatan untuk berbicara mengenai hal-hal yang mengganggunya.

“Lain kali kapan?” Sheng Renxing langsung bertanya pokok masalah.

Pihak lain menjawab dengan jujur: “Aku tidak yakin.”

“Kamu main-main denganku?!”

“Aku benar-benar tidak tahu.” Xing Ye menjelaskan, “Itu akan diumumkan dua jam sebelum kompetisi.”

“Ah?” Sheng Renxing terkejut, dan mendesah, “Itu keren sekali. Kontestannya juga dipilih dengan cara itu?”

“Itu tidak keren.” Xing Ye mengernyitkan dahinya, dan ragu-ragu sebelum menjawab, “Mn.”

Sheng Renxing menyipitkan mata padanya, tapi wajah pihak lain masih tetap tidak berubah. Setelah beberapa saat, dia berkata, “Baiklah, aku mengerti.”

“Aku dengar bahwa dalam tarung bebas, pada setiap putaran, ada…” Sheng Renxing berpikir, “Korban parah?”

“…?”

“Itu loh, di akhir setiap pertandingan, petinju diangkat di atas brankar, dan hampir semua orang yang berpartisipasi adalah buronan? Apa kamu pernah memukul buronan?”

“…Tidak.” Xing Ye dengan paksa mengeluarkan satu kata ini sebagai tanggapan, “Siapa pula yang memberitahumu hal-hal itu?”

“Aku mencarinya di internet. Kamu mau lihat?”

“Jangan lihat itu.” Jawab Xing Ye sedikit tidak berdaya, “Itu semua palsu.”

“Itu…”

Begitu dia berbicara, Xing Ye dengan cepat menjulurkan tangan dan menutup mulutnya: “Sana tidur!”

“?”

“Ah, ahhhhhhh!” Sheng Renxing melongo padanya dan mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi pihak yang lain bahkan tidak bergerak seinci pun.

Leher Sheng Renxing menggeliat untuk menghindarinya, tapi Xing Ye mengganti tangan dan menahannya erat-erat.

Saat mereka mulai berteriak dan membuat semakin banyak pergerakan berbahaya, mereka sebenarnya mulai bertarung di atas tempat tidur.

Setelah membuat keributan besar, Sheng Renxing akhirnya terbebas sedikit: “Aku tidak bisa bernapas!”

Xing Ye melepaskan sedikit.

Dia terengah-engah: “Lepaskan aku!” dia mencengkeram tangan Xing Ye erat-erat, “Sial, kamu masih tertawa!”

Pihak lain mulai menyeringai, “Kalau kamu tidak bertanya lagi, akan kulepas.”

“Aku tidak akan bertanya lagi!” Sheng Renxing menggelengkan kepalanya dengan kuat.

Xing Ye memandangnya sesaat dan memperingatkan, “Kalau aku melepaskanmu, kamu tidak akan bergerak-gerak.”

Sheng Renxing mengangguk patuh.

Pihak lain baru saja berguling saat Sheng Renxing diam-diam menyerang dan dengan segera menekan beratnya ke atas Xing Ye lalu menutupnya dengan sebuah bantal: “Sialan kamu! Kamu hampir mencekikku!”

Akan tetapi, Xing Ye sudah lama bersiap akan ini, dia melengkungkan kakinya untuk mendorong pihak lain. Membungkus seluruh tubuh Sheng Renxing dengan selimut, dia menggunakan tekanan untuk menahannya agar tetap diam, “Kamu tidak menjaga kata-katamu!”

“Persetan!” setelah di masukkan ke dalam selimut, Sheng Renxing terpaksa untuk menahan serangannya tanpa kesempatan untuk menangkal, “Lepaskan aku!”

Dia melawan kekuatan Xing Ye yang luar biasa, tapi terlepas dari taktiknya, Sheng Renxing tidak bisa keluar.

Suara pihak lain melayang masuk dari luar saat dia menepuk selimut. “Apa kamu menerima kekalahanmu?”

Sheng Renxing menggunakan kekuatannya yang tersisa untuk berteriak: “Aku menerima, aku menerima kekalahan, ge!”

“Benarkah?” Xing Ye terdengar seperti dia sedang menahan senyum.

“Aku tidak berbohong padamu!” Sheng Renxing tidak bergerak selagi dia diam-diam mengumpulkan kekuatan.

Setelah beberapa saat, dia merasa pegangan Xing Ye melonggar, dan seketika memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas serangan.

“Bang! bang! bang!!!”

Tiba-tiba, ada suara yang merobek telinga di pintu.

Keduanya melompat di tempat karena terkejut saat seorang pria berteriak marah di luar, “Sial, apa kalian tidak bisa membiarkan orang tidur dengan tenang?!”

Dalam kegelapan, mereka berdua saling menatap.

Sheng Renxing bersumpah diam-diam, “Apa kedap suaranya seburuk itu?”

Xing Ye juga tidak bergerak. Mereka berdua tetap dalam posisi ini untuk waktu yang lama, dan tidak ada yang menjawab gedoran.

Pria di luar lanjut mengutuk, tapi melihat tidak ada yang keluar, dia menghantamkan telapak tangannya ke pintu lagi, “Kalau kalian membuat keributan lagi, laozi akan menangkap dan menghajar kalian!”

Tiba-tiba saja, suasana menjadi hening.

Dia pasti sudah pergi.

Saat itu Sheng Renxing baru bereaksi, apa dia baru saja kena omelan?

“Hah, apa-apaan?”

Dia hampir saja mengejar orang tersebut saat Xing Ye memegangnya, “Kamu mau pergi ke mana?”

“Aku akan membiarkannya bertarung denganku! Kita lihat saja siapa yang akan kena hajar!”

Pihak lain memberhentikannya, “Jangan pergi!” Xing Ye tidak pernah melihat Sheng Renxing sesemangat ini dan mau tidak mau tertawa. “Kita mengganggu tidur orang lain dan kamu masih bertingkah sebandel ini?”

“Bagaimana aku tahu kalau kedap suaranya begitu buruk, kenapa dia tidak bisa berbicara baik-baik pada kita?” Sheng Renxing duduk kembali dengan kesal dan mengacak rambutnya karena marah.

Untuk mencegahnya dari melakukan hal-hal impulsif, Xing Ye mengingatkannya, “Terlalu lelah, ayo tidur.”

Entah kenapa, amarah Sheng Renxing hilang secepat kedatangannya.

Mereka berdua kembali ke tempat tidur.

Setelah beberapa saat keheningan, Sheng Renxing berbicara: “Sepertinya kamu sudah menunggu kesempatan ini cukup lama untuk menghajarku!”

Pihak lain tertawa, “Tidak lama, dorongan itu dimulai pada pertemuan pertama kita.”

Sheng Renxing merenggangkan tangannya keluar dari bawah selimut dan memberikan jari tengah.

Dan segera memejamkan mata.

Tidak lama setelah dia menutup mata, alarm berbunyi.

Suara kegaduhan membuatnya bangun terkejut. Dengan terhuyung-huyung bangun dari tempat tidur dengan mata yang masih tertutup, dia tersandung menuju kamar mandi seperti orang buta.

Dia mendorong pintu terbuka dengan tangan dan jidatnya, tapi begitu Sheng Renxing melangkah masuk, dia dikejutkan oleh orang asing di kamar mandinya: setengah sisi menghadapnya, setengahnya berdiri di depan toilet.

Reaksi Sheng Renxing selama detik pertama: siapa orang ini?

Detik selanjutnya: Xing Ye?

Apa yang sedang dia lakukan?

Buang air kecil.

Oh…

Sheng Renxing sontak membelalak, melangkah mundur dan membanting pintu tertutup, sambil mendengar Xing Ye mengutuk surga.

“Kenapa kamu kencing begitu pelan!”

Suara pembilasan melayang ke luar.

Setelah beberapa saat, Xing Ye membuka pintu dan melihatnya dengan ekspresi yang rumit: “Apa kamu tidak pernah ke toilet laki-laki?”

Sheng Renxing menggosok wajahnya, dan menjawab dengan nada bersalah, “Aku belum sepenuhnya terbangun, jadi itu cukup mengejutkan.”

Insiden tersebut mengusir sisa-sisa kelelahan terakhir, dan Sheng Renxing dengan cepat selesai mandi.

Ketika dia keluar Xing Ye sedang duduk di sofa dalam keadaan linglung, sebatang rokok bergulir di antara jari-jarinya.

“Jangan merokok di dalam ruangan.”

“Jangan khawatir, aku tidak berencana.” Dia menyingkirkan rokok tersebut, dan melirik Sheng Renxing, “Bisakah kamu meminjamkanku mantel?”

Pihak lain membungkuk untuk mengambil sebuah jaket baseball dari tumpukan baju bagian atas, tapi dia ragu-ragu saat akan melemparkannya pada Xing Ye, “Apa kamu yakin hanya ingin sebuah jaket?”

Bagaimanapun juga, Xing Ye hanya mengenakan kaos dan celana pendek dari semalam; jika dia pergi ke sekolah seperti ini, dia akan membeku.

Sambil memikirkannya, Sheng Renxing menyimpan jaket baseball itu, dan sebagai gantinya dia mengeluarkan sweter hitam putih, celana olahraga berwarna hitam, sebuah topi baseball, dan jaket hoodie hitam.

Dia melemparnya pada Xing Ye, “Ini, gantilah.”

Saat pihak lain keluar dari kamar mandi, Sheng Renxing bersiul memuji, “Sangat tampan!”

Meraih ponselnya, dia mengambil gambar Xing Ye: “Sejujurnya kamu bisa bekerja sebagai model.”

Xing Ye mengatur jaket hoodienya dan berputar ke samping, sedikit tidak nyaman, “Ini sedikit pendek.”

“Memang begitulah gayanya.” Sheng Renxing mempelajari foto tersebut, dan rasanya ada sesuatu yang kurang.

“Ini, pakai sepatu itu.” Dia berjalan ke arah lemari sepatu di dekat pintu dan mengambil sepasang sneaker putih untuk Xing Ye, kemudian mengatur hoodie-nya.

Pihak lain menolak, “Tidak perlu.”

“Aku sedang melakukan photoshoot, cepatlah.” Sheng Renxing memegang ponselnya.

Xing Ye berjongkok dan memakai mereka, “Lagipula aku tidak membiarkanmu memotretku.”

“Hoodie.” Sheng Renxing mendesaknya, “Kalau kamu tidak membiarkanku, kamu bisa pergi ke sekolah telanjang.”

Xing Ye mengangkat tatapannya dan melirik Sheng Renxing dengan ekspresi berbahaya.

Duduk di sandaran tangan sofa, Sheng Renxing tersenyum ke arah ponselnya: “Tampannya! Kamu akan meledakkan forum sekolah kita lagi.”

Dalam hati, Xing Ye tidak setuju. Dia tidak merasa bahwa dia terlihat tampan, tidak peduli seberapa banyak orang lain — khususnya gadis-gadis, menggunakan kata itu untuk menggambarkannya.

Karena setiap kali dia melihat dirinya sendiri di cermin, dia merasa bahwa hanya ada wajah biasa yang sedang menatap kembali; yang tidak bisa lebih datar lagi.

Terutama kulit pucat dan pupil gelap Xing Ye, itu mengingatkannya pada hantu.

Atau seperti lumut yang tumbuh dengan suram di sudut dinding

Dia benar-benar tidak bisa menemukan satu pun dari wajahnya yang bisa diapresiasi.

Xing Ye memiringkan kepalanya untuk melihat ke arah Sheng Renxing. Dalam hal kata tampan, dia pikir pihak lain lebih masuk dalam jelmaan kata tersebut daripada dia.

Bahkan terkubur dalam kerumunan, wajah cerah Sheng Renxing dapat terlihat dalam sekali pandang.

Memancingnya, Xing Ye bertanya, “Lalu, bagaimana kalau dibandingkan denganmu? Siapa yang lebih tampan?”

“Ah…” Sheng Renxing mengernyit, dan menjawab dengan ekspresi yang serius, “Aku menang satu poin.”

“Poin yang mana?”

“Hoodie-nya.” Sheng Renxing tersenyum.

Xing Ye membalik hoodie-nya dan menatap pihak satunya dengan tatapan kosong.

Sheng Renxing mengacungkan jempolnya: “Oke, sempurna, kamu sama tampannya denganku sekarang.”

“Bagaimana dengan wajahmu?” Xing Ye tidak bisa menahan senyum.

Sheng Renxing menekan tombol di ponselnya sebelum menyimpannya dan menepuk wajahnya.

Xing Ye terlambat menyadari ada sesuatu yang salah: “Apa kamu baru saja merekam video?”

“Hah?” Pihak lain berpura-pura bodoh, “Tidak?”

Sebelum Xing Ye sadar, dia bergegas menuju pintu dan mengganti sepatunya: “Ayo pergi, kita akan terlambat.”

Setelah memanggil taksi, mereka berhasil memasuki sekolah tepat saat bel berbunyi.

Dikelilingi oleh siswa yang juga berjalan santai ke kelas, mereka tidak begitu mencolok lagi.

Mungkin.

Sheng Renxing menoleh pada Xing Ye: “Siswa kelima.”

“…” Suara Xing Ye tegang, “Jangan hitung.” Setelah berbicara, dia menoleh untuk memandang dengan dingin ke arah orang yang memfilmkannya.

Orang yang dimaksud terkejut karena ketahuan dan melarikan diri seperti yang dilakukan oleh paparazzi.

Orang lain yang bergerak ke arah mereka juga menyimpan ponsel mereka.

Sheng Renxing mengangkat bahu.

Dia berjalan menuju kelas, hanya untuk menemukan bahwa Xing Ye masih mengikutinya.

“Apa kamu akan bersikeras untuk bolos meskipun kita sudah jauh-jauh datang ke sini?”

Perilaku macam apa ini?

Xing Ye tampak sedikit gugup, dilihat dari bibirnya yang mengerucut dan ekspresinya yang serius.

“?” Sheng Renxing bertanya-tanya apakah tebakannya salah.

“Aku pergi ke kantor guru dulu.”

Pihak satunya segera mengerti, dan dengan cepat menurunkan suaranya, “Apa ibumu ada di sini?”

“Aku tidak tahu.” Xing Ye menunduk, menyembunyikan ekspresinya di bawah pinggiran topinya.

Mungkin ibunya tidak akan datang sama sekali, tapi siapa tahu?

Selagi mereka berjalan masuk ke dalam gedung, Xing Ye mendengar dengan penuh perhatian, “Dia tidak datang.”

“Hah?”

“Kalau dia datang, kamu bisa mendengar kutukannya sampai ke sini.”

“…Ah. Ibumu pasti sangat individual kalau begitu.”

Sheng Renxing mengamati wajah Xing Ye lagi: “Apa kamu ingin dia datang?”

Pihak lain berhenti, dan menoleh, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Setelah beberapa detik, Xing Ye berbalik untuk melambai padanya, “Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa!” Sheng Renxing mengangkat tangannya, dan meniru gerakan pihak lain sebelumnya, membuka dan menutup telapak tangannya.

Xing Ye melihat ke arahnya dan tersenyum.

Kelas Sembilan berisik seperti biasa, tapi begitu mereka melihat Xing Ye, keheningan menyebar seperti wabah sampai seluruh kelas kaku.

Xing Ye tidak terganggu oleh mereka dan menuju langsung ke tempat duduknya.

Dia melirik Huang Mao, yang secara mengejutkan menghadiri kelas.

“Apa kamu tadi ke kantor guru?” Dia melepaskan topinya, meletakkannya ke atas meja, dan menepuk rambutnya.

Wan Guanxi dan yang lain hanya memandanginya tanpa berbicara.

Setelah cukup lama, Jiang Jing melontarkan beberapa kata-kata kotor kepada keanehan suasana.

Huang Mao yang pertama kali memecahkan suasana aneh itu: “Xing-ge, apa kamu menghabiskan malam bersama sugar mommy?!”

“?” Xing Ye menoleh padanya dan mengangkat alisnya bertanya-tanya.

Dong Qiu melirik ke ponsel dan membaca dengan keras: “Sebuah topi dari BMW, bukannya itu merek mobil? Jaket AB… tamaknya. Bagaimana caranya aku mengucapkan kata-kata Inggris ini? Celana dari Adidas dan sepatu dari AJ?”

Pada akhirnya, dia mendesah lesu tidak percaya, “Kamu sedang memakai puluhan ribu yuan!”

Dong Qiu mengangkat kepalanya, wajah penuh keganasan, “AJ! Xing-ge, katakan padaku wanita kaya mana itu! Kalau kamu memperkenalkanku padanya, kamu akan segera menjadi ayah kandungku!”

“…” tanpa sadar Xing Ye melirik sepatunya, sambil bertanya-tanya, jadi seperti inikah bentuk AJ?

Ketika Dong Qiu membacakan daftar panjang merek barusan, satu pun dia tidak tahu.

Selain itu, ketika Sheng Renxing menyuruhnya memakainya, pihak lain tidak menyebutkan satu hal pun, mempertahankan sikap santai seolah-olah tidak ada yang luar biasa.

Xing Ye mengerutkan bibirnya.

Di sebelah mereka, Lu Zhaohua terus mengipasi api, “Aku bahkan tidak mampu membeli puluhan ribu!”

Huang Mao berlari dan berjongkok di dekat mejanya, menatap Xing Ye dengan ekspresi serius dan tulus: “Tuan muda, jangan lupakan ayah saat kamu kaya di masa depan!”

“…” Xing Ye menatapnya, “Siapa kamu?”

“?” Huang Mao berdiri dengan ngeri, “Siapa kamu! Kembalikan ayahku tercinta!”

Xing Ye terlalu lelah untuk mengikuti alur pemikirannya.

Setelah Huang Mao mengaduk kegaduhan besar, Jiang Jing akhirnya tersenyum dan berujar, “Jangan bodoh. Sepertinya Sheng Renxing meminjamkannya beberapa pakaian.”

Xing Ye menaikkan mata untuk melihatnya.

“Hah?” Huang Mao melirik Xing Ye, kemudian ke arah Jiang Jing dengan ekspresi serius, “Apa ayahku sudah berubah?!”

Dong Zhou menilik pakaian Xing Ye dan mendesah: “Sial, kamu meminjam puluhan ribu yuan begitu saja?”

Dia menyentuh dagunya, “Sepertinya benar, aku rasa itu tiga garis putih yang sama seperti yang dikenakan Sheng Renxing terakhir kali. Entah bagaimana tidak ada yang mau menyebutnya di dalam forum!”

Huang Mao berhasil untuk benar-benar mengatakan sesuatu yang cerdas, “Keluargaku mendonasikan sebuah bangunan, jadi pakaian ini bahkan tidak pantas untuk disebut!”

“…Itu benar.” Dong Zhou mengerang, “Lalu bagaimana denganku, mungkin aku bisa tanya dan meminjam sesuatu untuk dipakai?!”

“Jangan repot-repot mengkhayal!”

Xing Ye tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan dia melihat ke sekitar sebelum sadar bahwa Jiang Jing dari tadi sudah memandanginya sepanjang waktu.

“?”

“Kalian berdua bersama-sama semalam?”

“Ya.” Xing Ye mengangguk; tidak ada yang perlu disembunyikannya dalam hal ini.

Jiang Jing membuka mulut, tapi diinterupsi oleh Huang Mao, “Apa yang terjadi semalam? Kalian berdua bersama?”

Cui Xiaoxiao, yang sejak tadi menguping di depan mereka, berputar-putar dengan semangat, “Sejak kapan kalian bersama?!”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

HooliganFei

I need caffeine.

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Crepes gurih dari Cina, yang bisa dimakan dengan saus dan topping.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments