Penerjemah: Keiyuki17
Editor: Jeffery Liu


Saat itu awal musim semi, dan jalan menuju Luoyang masih tertutup salju dan es. Ketika hawa dingin di musim semi tiba, mereka akan keluar di negara terbuka di mana itu jauh lebih dingin daripada Jiankang, dan hawa dingin akan jauh lebih sulit untuk ditahan. Memilih waktu ini untuk pergi ke utara bukanlah ide yang bagus, tapi Sima Yao sudah mengingatkan bahwa mereka tidak memiliki waktu lagi.

Di mana-mana salju mencair, dan dinginnya musim semi memperlambat rencana Jin. Mereka mulai bergerak dan berhenti, karena ada juga beberapa pejabat literari bersama mereka, dan Xiang Shu dan yang lainnya tidak bisa meninggalkan utusan diplomatik seperti pada waktu itu di Saiwai, dimana mereka sedang terburu-buru. Di antara para utusan, bahkan ada satu orang yang tidak bisa mengangkat satu jari pun untuk membantu, dan satu-satunya kemampuannya adalah menyelipkan obat tidur pada musuh-musuhnya: Xie An.

Tapi kenapa pendeta agung dari sebuah negara ingin pergi bersama para pengusir setan ke Luoyang?!

Xie An dan beberapa pejabat literati sedang duduk di tepi jalan, menghangatkan diri di dekat api, sementara Xiang Shu dan Feng Qianjun duduk diam di depannya, menatap ke angkasa. Ekspresi Feng Qianjun suram. Mengalami pukulan karena Putri Qinghe dan Gu Qing meninggal dalam kurun waktu dua tahun yang singkat sudah sangat mempengaruhi hidupnya. Nasib tampaknya dipenuhi dengan niat buruk terhadapnya, dan dia sudah dengan kejam dirampas bahkan dari harapan terakhir ini dalam keberadaannya yang menyedihkan.

“Seberapapun dinginnya suhu di Dataran Tengah, mereka tetap tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di Saiwai,” kata Xie An. “Bagi Chanyu yang Agung, ini pasti bukan apa-apa.”

Xiang Shu tidak mengoreksi bentuk dari cara bicara Xie An, tapi berkata dengan tenang, “Sebenarnya, musim dingin di Chi Le Chuan tidak lebih dingin dari musim dingin di Dataran Tengah. Pertama, karena Pegunungan Yin menghalangi angin, dan kedua, dimana ada banyak orang, ada banyak sapi dan domba juga, tidak seperti daerah di sebelah utara Sungai Yangtze.”

Sejauh mata memandang, wilayah antara Jiankang dan Luoyang dipenuhi dengan hamparan bentang alam yang terpencil hampir sejauh seratus li tanpa jejak tempat tinggal manusia, dipenuhi dengan hawa dingin yang sunyi.

Kelompok utusan diplomatik yang dikirim oleh Jin, selain Xie An, memiliki anggota kuat lainnya, seorang pejabat militer bernama Huan Yi. Dia adalah keponakan Jenderal Huan Xuan dari Zhennan, dan dia adalah Komandan Pengawal Jianwei Sima Zhao.

Huan Yi tidak berbicara atau tersenyum, memilih untuk hanya menatap Xiang Shu dengan tenang. Mereka seperti dua patung, dan hanya ada Xie An dalam perjalanan ini yang tidak memiliki masalah yang membebani dirinya, dan dia melakukan yang terbaik untuk menjaga suasana tetap hidup saat dia berkata pada Huan Yi, “Dalam beberapa hari mendatang, jika kita memiliki kesempatan, kamu harus pergi bersenang-senang di Saiwai.”

Huan Yi mengeluarkan suara “wu” yang acuh tak acuh. Xie An menambahkan, “Ketika Chanyu yang Agung bertemu Murong Chong, apakah kamu tahu bagaimana cara membujuknya?”

“Tidak,” jawab Xiang Shu dengan mudah. “Aku akan melakukan apa yang kalian semua lakukan: ketika ada kesempatan, aku akan bertindak.”

Kelompok utusan Jin pada kenyataannya sudah membuat persiapan lain. Atau akan lebih akurat untuk mengatakan bahwa Xie An dan Huan Yi sudah mengambil tanggung jawab terbesar dari rezim Han di selatan Yangtze – tujuan dari perjalanan kelompok utusan Jin ini sangat rumit. Di permukaan, tujuan mereka adalah untuk memulai pembicaraan damai dengan Qin yang Agung yang diwakili oleh Fu Jian dan menunda ancaman pasukan yang menyerang Kota Shou1, tapi secara rahasia mereka berharap untuk mencapai kesepakatan dengan Murong Chong, yang memicu konflik internal antara orang Xianbei dan orang Di di utara. Dan lapisan kedua di bawah itu adalah untuk memberikan dukungan pada Chen Xing sebagai pengusir setan untuk sepenuhnya menyingkirkan Wang Ziye.

Mereka juga membawa Sima Wei keluar, menguncinya di kereta kuda yang terbuat dari baja. Chen Xing tidak bisa menjelaskan kenapa dia mengambil keputusan ini, tapi dia selalu merasa bahwa ketika mereka tiba di Luoyang, mungkin Sima Wei akan berguna. Bagaimanapun, dia adalah satu-satunya “orang” yang sudah melihat hati Chiyou dengan kedua matanya sendiri.

Xie An duduk di depan api, menoleh untuk melihat tidak jauh dari kejauhan, berkata, “Dimana Tianchi- xiao shidi? Aku akan memeriksanya. Kalian teruslah berdiskusi dan jadilah lebih dekat satu sama lain.”

Xuang Shu: “…”

Feng Qianjun: “…”

Huan Yi: “…”

Di sepanjang jalan, selama waktu istirahat, Xie An akan mengambil alih ini sendiri dan pergi mencari Chen Xing, tapi Huan Yi, Feng Qianjun, dan Xiang Shu hanya akan duduk seperti ini, seolah-olah mereka adalah tiga bongkahan kayu, tidak satu pun dari mereka mengatakan apapun pada satu sama lain. Xiang Shu saat ini merasa suram, sementara Feng Qianjun baru saja kehilangan orang yang dicintainya, jadi dia tidak ingin mengatakan apa pun. Huan Yi sama sekali tidak ingin memiliki terlalu banyak hubungan dengan pengusir setan, sehingga area di dekat api dipenuhi dengan keheningan.

Chen Xing sudah menemukan kuburan massal tepat di sebelah utara desa yang tidak disebutkan namanya ini, dan lubang itu dipenuhi dengan tulang putih yang sudah digerogoti oleh binatang buas. Pada awalnya, prajurit Jin dan prajurit Qin sudah bertempur di sini, dan orang-orang Xianbei sudah menangkap lebih dari seratus orang di desa itu, dengan tujuan awal untuk menguburkan mereka hidup-hidup. Namun, mereka tidak menyangka prajurit Jin akan datang, jadi orang-orang Xianbei hanya bisa menggunakan pedang mereka dan membantai semua orang sebagai gantinya, sebelum mendorong mereka ke dalam lubang dan menyebutnya sudah selesai. Dan setelah itu prajurit Jin bergegas, tapi mereka tidak memiliki cara untuk menyelamatkannya; situasi perang sangat kritis, dan tidak ada waktu bagi mereka untuk melepaskan pedang mereka dan menangani korban yang tidak bersalah, jadi mereka pergi ke utara untuk menghadapi orang-orang Xianbei dalam jalan buntu yang panjang dan berlarut-larut.

Sampai saat-saat terakhir dari desa tanpa nama ini tiada, pertolongan yang mereka tunggu-tunggu tak kunjung tiba, jadi ketika mereka meninggal, hati mereka pasti dipenuhi dengan keputusasaan. Di dalam lubang itu terkumpul banyak kebencian. Chen Xing dan Xiao Shan datang untuk berdiri di depan lubang, menguji menggunakan kebencian untuk menggerakkan ujung tajam Cangqiong Yilie yang bisa menghancurkan segalanya untuk membuka Mutiara Dinghai di tangannya.

“Cobalah?” Chen Xing hanya merasa tubuhnya terjebak di tengah-tengah energi kebencian dan sangat tidak nyaman, tapi dalam keadaan yang tidak biasa ini, mereka hanya bisa
menggunakan metode semacam ini.

Xiao Shan membungkukkan tubuhnya, kedua tangan dengan cakar bersilang di depannya, mengumpulkan kebencian di dalam lubang. Chen Xing mengangkat tangan kanannya ke samping, Cahaya Hati bersinar dari telapak tangannya; jika Xiao Shan terjangkit oleh kebencian, dia bisa mengusirnya kapan saja.

Tepat setelah itu, mata Xiao Shan bersinar dengan cahaya merah darah.

Haiya–!”

Cangqiong Yilie terayun, tiba-tiba meledak ke luar. Xie An baru saja tiba, dan dia tampak sangat terkejut saat dia berteriak, “Berhati-hatilah ah!”

Dua rentetan cahaya dari cakar yang tak terkalahkan ditembakkan dengan menyilang, tapi dengan suara “dentang” mereka diblokir oleh Mutiara Dinghai. Di belakangnya, lebih dari setengah kuburan massal sudah runtuh dengan sendirinya, dan bebatuan acak berguling menuruni lereng.

Mutiara Dinghai yang sudah diletakkan di samping lubang sama sekali tidak terpengaruh. Percobaan Chen Xing sekali lagi gagal.

Beberapa saat kemudian, semua orang berkumpul di depan api, melihat mutiara naga ini.

“Cangqiong Yilie terbuat dari cakar naga,” kata Xiang Shu dengan sikap tidak peduli. “Mutiara Dinghai adalah mutiara naga, kau sendiri yang mengatakannya sebelumnya.”

Chen Xing mengerutkan kening. “Kalau begitu, sekarang, kita sudah berjalan ke jalan buntu. Kita sudah mendapatkan Mutiara Dinghai, namun tidak ada jalan bagi kita untuk bisa menghancurkannya.”

Huan Yi sudah mendengar rangkaian kejadian secara umum, dan dia mengambil Mutiara Dinghai, mempelajarinya dari segala arah untuk beberapa saat sebelum menyerahkannya pada Xie An, berkata, “Di dalam benda ini apakah benar-benar ada qi spiritual dari seluruh dunia?”

Mereka hanya melihat mutiara yang tampak polos dan tidak mencolok itu, terlihat lembut dan berwarna abu-abu, tidak tampak seperti artefak apa pun.

Xie An menjawab, “Pasti, kita sudah melewati begitu banyak kesulitan untuk menemukannya.”

Feng Qianjun akhirnya membuka mulutnya, bertanya, “Apakah ada yang merupakan musuh alami dari seekor naga? Sudahkah kalian memikirkannya dari sudut ini?”

Chen Xing menjawab, tanpa basa-basi, “Naga tidak memiliki musuh alami.”

Xiang Shu berpikir dalam-dalam sejenak, sebelum tiba-tiba berkata, “Apa ada metode lain?”

Chen Xing berkata, “Metode apa?”

Tapi seolah-olah Xiang Shu sendiri tidak memahaminya, dia menggelengkan kepalanya. Xie An duduk sedikit lebih lama, meminum tehnya, sebelum dia berkata, “Ayo lanjutkan perjalanan, jika kita bepergian dengan cepat hari ini, kita mungkin bisa sampai di kota Shou sebelum malam tiba.”

Kelompok utusan segera bangkit dan melanjutkan perjalanan, mengikuti jalan militer yang dipenuhi dengan sisa-sisa pertempuran. Ketika langit menjadi gelap gulita, mereka sudah sampai di sisi timur laut kota Shou. Awan hitam menutupi bulan, dan dalam kegelapan yang gelap gulita ini, jalan setapak berkelok di sekitar banyak gunung, dan sulit untuk dilintasi. Barisan orang-orang mengangkat obornya, hampir tersesat beberapa kali, sebelum akhirnya Xiang Shu berkata, “Ikuti aku, aku tahu ada desa yang tidak berpenghuni di sini.”

“Bagaimana kau tahu?” Tanya Chen Xing dengan curiga.

Xiang Shu tidak menanggapinya. Dia memimpin kelompok itu mengelilingi sebuah bukit kecil, dan seperti yang diharapkan, mereka tiba di sebuah desa yang sudah hancur. Tempat ini masih dalam wilayah negara Jin, tapi satu hari lagi menuju ke utara, dan mereka akan memasuki dunia orang Qin. Sudah seperti ini selama bertahun-tahun sekarang. Kedua negara, Qin dan Jin mengalami banyak konflik berskala kecil, sehingga penduduk di bagian utara kota Shou sudah lama meninggalkan daerah itu sepenuhnya.

Kelompok, yang dipimpin oleh Xie An, menetap sementara untuk istirahat. Setelah makan malam, Chen Xing pergi mencari kemana-mana, tapi dia tidak melihat Xiang Shu, jadi dia hanya bisa kembali ke kamar dan berbaring. Di kamar tidur yang gelap dan bobrok, suara Feng Qianjun terdengar dari tempat tidur.

“Kau berada di tempat tidur yang salah,” kata Feng Qianjun dalam kegelapan.

“Tidak,” kata Chen Xing dengan ramah. “Aku akan menemanimu tidur.” Dan setelah mengatakan ini, dia berbaring di tempat tidur dengan pakaian lengkap, dan Feng Qianjun bergeser sedikit ke bagian dalam, saat helaan napas ringan datang ke telinga Chen Xing.

Mereka berdua memahami masalah yang sedang mereka hadapi, tapi tidak mau mengungkapkannya dengan lantang. Chen Xing takut Feng Qianjun akan putus asa karena kematian Gu Qing, dan Feng Qianjun tampak sangat jelas bahwa di sepanjang perjalanan ini Chen Xing terus-menerus mengawasinya. Namun hanya saja di depan banyak orang, ada beberapa kata yang tidak mudah untuk diucapkan.

Cahaya Hati bersinar dari telapak tangan Chen Xing saat dia dengan lembut menekannya ke punggung tangan Feng Qianjun, berkata dengan pelan, “Feng-dage, apa kau baik-baik saja ba?”

Feng Qianjun terdiam lama, sebelum menarik tangannya, menjawab dengan suara kecil, “Jangan menggunakan mana-mu, kalau tidak Xiang-xiongdi akan marah padamu lagi.”

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Chen Xing. “Apa kau memikirkan tentang Gu Qing?”

Feng Qianjun menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Apa kau ingat saat kita pertama kali bertemu di Kota Mai dan menjadi teman dalam perjalanan ke Chang’an?”

En.” Chen Xing mengenangnya. Dua tahun lalu, dalam perjalanan itu mereka juga mencari ke semua tempat, ke desa-desa tak terpakai yang sudah dihancurkan oleh api perang untuk beristirahat, jadi hal ini terasa agak akrab bagi mereka. Waktu berlalu begitu cepat.

Dage mulai berlatih seni bela diri saat berusia delapan tahun,” jawab Feng Qianjun. “Aku menjadi murid di bawah instruksi Guru Liu Jing, belajar bagaimana cara menggunakan saber untuk melindungi Senluo Wanxiang, melindungi keluarga Feng, melindungi mereka… yang membutuhkanku untuk melindungi mereka.”

Chen Xing memikirkannya, sebelum berkata, “Liu Jing?”

Dia tidak begitu mengetahui berbagai nama seniman bela diri di Dataran Tengah. Feng Qianjun mengangguk dan berkata, “Seorang ahli pedang, tapi sekarang dia sudah pergi ke Dongying2. Sejujurnya, bakat bawaan Dage selalu rendah, dan aku butuh waktu empat belas tahun pelatihan bagiku untuk dianggap sudah menyelesaikan masa belajarku.”

Chen Xing mencela dirinya sendiri, “Keterampilan bela dirimu sekuat ini, dan kau masih dianggap kurang bakat bawaan?”

Feng Qianjun tersenyum pahit. “Dibandingkan dengan Xiang-xiongdi, aku harus akui, ada perbedaan besar di antara orang-orang. Ngomong-ngomong, itu tidak penting… Dua tahun lalu, sebelum aku bertemu denganmu, itu ketika dage menyelesaikan pelatihannya, dan aku dipenuhi dengan aspirasi saat aku pergi ke Chang’an.”

“Keterampilan bela diri Xiang Shu tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa; hanya ada satu dirinya di seluruh dunia ini,” kata Chen Xing. “Sekarang aku merasa, lebih dan lebih lagi, bahwa Cahaya Hati mengarahkanku untuk menemukannya karena suatu alasan.”

En, kalian berdua sangat cocok. Ketika aku memikirkan tentang periode waktu ketika kita melakukan perjalanan ke Chang’an bersama,” gumam Feng Qianjun. “Kita tidak takut pada langit atau bumi, itu adalah waktu yang bagus. Siapa yang tahu bahwa dalam sekejap mata, semuanya akan lenyap, dan itu berakhir begitu cepat, bahkan tidak meninggalkan sedikit pun untukku. Aku berpikir bahwa setelah kembali ke Jiangnan, semuanya akan bisa dimulai dari awal lagi, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa Qing’er akan pergi begitu saja.”

Di luar rumah yang bobrok, awan gelap menghilang, menampakkan langit malam yang cerah dan bulan sempurna yang terang, cahayanya yang keperakan menyinari daratan.

Chen Xing bergumam, “Kadang-kadang aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir, jika orang-orang yang meninggal itu bisa hidup kembali, betapa menyenangkannya itu? Ayah, Ibu, Shifu, Raja Akele… Xiang Shu juga berkata bahwa terkadang dia berharap perjamuan ini tidak akan pernah berakhir, tapi ini sudah berakhir, jadi apa yang bisa kita lakukan?”

Feng Qianjun menyelanya “Pikiranmu ini sangat berbahaya, Tianchi kecil. Mungkin justru karena pemikiran yang sama itulah Wang Ziye terinfeksi oleh kebencian.”

Chen Xing menarik napas. Kadang-kadang dia mau tidak mau harus mengakuinya, dia melihat kehidupan dan kematiannya sendiri sangat ringan, tapi kematian orang lain sangat membebani dirinya. Menyerahkan hidupnya sendiri dengan sukarela, itu adalah sesuatu dimana dia tidak memiliki pilihan lain, tapi pada akhirnya, dia hanya berharap bahwa semua orang akan baik-baik saja dan hidup bahagia. Jika dia meninggal dan yang lainnya juga tidak bisa lepas dari malapetaka ini, dia pasti memiliki penyesalan di dalam hatinya.

Jadi pada intinya, pada dasarnya, Chen Xing merasa bahwa dia sendiri bukanlah orang yang menganggap enteng masalah.

Feng Qianjun berkata, “luppiter3 sudah memasuki hidupmu, kan? Kau adalah satu-satunya cahaya di alam manusia, satu-satunya harapan mereka untuk mengubah nasib buruk menjadi keberuntungan, dan dage semakin merasakannya sekarang karena, sungguh, ada banyak hal yang hanya kau yang bisa melakukannya.”

Ketika Chen Xing baru akan menjelaskan, Feng Qianjun melanjutkan. “Tapi aku selalu merasa bahwa, mungkin ada juga beberapa bintang tunggal4 yang memasuki hidupku, dan mungkin itu juga menentukan nasibku bahwa sepanjang hidupku, aku akan sendirian di dunia ini. Qinghe, Gu Qing, saudaraku… jika aku tidak datang ke sisi mereka, bukankah mereka tidak akan mati?”

Chen Xing berkata, “Bagaimana bisa kau mengatakan ini? Feng-dage, semua ini bukan salahmu.”

Chen Xing duduk, memperhatikan Feng Qianjun saat dia berkata, “Awalnya aku juga menyalahkan kemalangan dari banyak orang pada diriku sendiri, tapi Xiang Shu mengatakan padaku bahwa hidup dan mati adalah hal yang tidak bisa dihindari. Kau harus memahami bahwa tidak peduli apakah kau berada di sana atau tidak…”

“Baiklah.” Feng Qianjun mulai tersenyum, dan dia mengulurkan tangan untuk mencubit wajah Chen Xing saat dia menghela napas, “Kau sudah berbaring di sini kurang dari satu ke, dan aku sudah mendengar kau membicarakan Xiang Shu beberapa kali. Pergilah, temui dia ba.”

Chen Xing berkata, “Kenapa aku peduli tentang dimana dia berada…” Saat dia hendak berbaring, Feng Qianjun menyenggolnya lagi, berkata, “Dage  baik-baik saja, aku bisa menemukan jalan keluar5. Kau pergilah, ayo, jangan membuatku menerima pukulan lagi besok.”

Chen Xing hanya bisa bangkit dan meninggalkan rumah bobrok itu, menuju ke samping sungai kecil. Dia melihat Xiang Shu sedang berdiri di depan air terjun di lereng, mencuci sesuatu.

“Ini adalah hari kelima belas pada bulan pertama.” Chen Xing berhenti di belakang Xiang Shu, mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah langit. Awan gelap sudah menghilang, dan bulan penuh tampak seperti piring batu giok, bersinar terang di atas tanah. Melihat ke bawah dari lereng, di dataran terpencil di utara Sungai Yangtze, kebencian sudah terlihat samar-samar, saat ini mengirimkan semburan energi hitam dari permukaan bumi ke langit.

“Semakin jauh ke utara kita pergi, semakin padat kebenciannya,” kata Chen Xing.

“Kau juga bisa melihatnya.” Xiang Shu menoleh untuk melihat tanah di kaki gunung, berkata, “Kupikir hanya diriku yang bisa melihatnya.”

Chen Xing berkata, “Di antara para manusia sekarang, hanya ada kita berdua yang memiliki mana yang bisa melihat perubahan di dalam pegunungan dan sungai.”

“Manusia, orang suci,” Xiang Shu berkata, “Bagian luar gunung dan sungai, bagian dalam gunung dan sungai.”

Xiang Shu tiba-tiba menghela napas, menyembunyikan benda yang sedang dicucinya di bawah air terjun. Chen Xing duduk di atas batu, bersampingan dengan Xiang Shu, mengamati air sungai sambil bertanya, “Apa yang ingin kau katakan di siang hari tadi?”

“Tidak ada,” kata Xiang Shu dengan mudah.

Chen Xing berkata, “Kau pasti memiliki banyak hal yang ingin kau katakan.”

Xiang Shu menjawab, “Bahkan jika aku mengatakannya, kau tidak akan memperhatikannya.”

Chen Xing berkata dengan sedikit tanpa daya, “Bagaimana mungkin aku tidak peduli? Selama itu terkait dengan Mutiara Dinghai, selama kau mengatakannya…”

Xiang Shu menjawab, “Lalu bagaimana jika itu tidak ada hubungannya?”

Chen Xing mau tidak mau berkata, “Aku ingat bahwa ada satu malam di mana bulan juga tampak seperti ini.”

“Hari kelima belas pada bulan kedua dua tahun yang lalu.” Xiang Shu memperhatikan kaki gunung saat dia berkata dengan linglung, “Saat itu kita berdua pertama kali bertemu. Kau ingin membuatku menjadi Pelindungmu, dan kau ditolak olehku.”

Chen Xing berkata, “Kenapa aku selalu merasa bahwa, meskipun kita sudah saling mengenal selama dua tahun, setelah sekian lama, kau masih sama seperti sebelumnya, kau tidak berubah sama sekali. Terkadang kau bahkan lebih buruk daripada saat pertama kali kita bertemu.”

Xiang Shu menjawab, “Aku sudah mengatakan banyak hal lebih dari sekali sekarang. Kau hanya tidak mengerti, atau itu lebih baik dikatakan, dan kau berpura-pura tidak mengerti.”

Chen Xing: “…”

Chen Xing menoleh untuk melihat Xiang Shu, tapi Xiang Shu tidak melihatnya, menghindari tatapannya.

“Apa yang pura-pura tidak aku mengerti?” Tanya Chen Xing, bingung.

“Tidak ada. Jika aku tahu bahwa kau akan menggunakan metode semacam ini untuk mengalahkan Shi Hai,” Xiang Shu berkata pada dirinya sendiri, “maka aku tidak akan meninggalkan Chi Le Chuan untuk mengejarmu ke selatan.”

Chen Xing membalas, “Maka aku hanya akan mati lebih cepat. Setelah dibawa kembali oleh Sima Wei, pada saat ini aku pasti sudah menjadi wadah Chiyou.”

Xiang Shu menjawab, “Kau memiliki perlindungan Iuppiter; keberuntunganmu selalu bagus.”

Chen Xing, “Kau jelas tidak berpikir seperti itu…”

Xiang Shu tiba-tiba berbicara. “Jika kau ingin menghancurkan Mutiara Dinghai, aku memiliki cara lain.”

Alur pikiran Chen Xing tergelincir oleh kalimat Xiang Shu, dan dia langsung berkata, “Cara apa? Aku tahu kau memiliki ide!”

“Kembalikan itu pada Wang Ziye,” kata Xiang Shu. “Biarkan kebencian mencemarinya.”

“Kau sudah gila!” Kata Chen Xing. “Kita akhirnya mendapatkannya setelah mengalami begitu banyak kesulitan, bagaimana kita bisa melakukannya!”

Xiang Shu: “Wang Ziye ingin mengukir Mutiara Dinghai menjadi wadah baru Chiyou, jadi dia pasti menggunakan kebencian untuk memperbaikinya. Saat kita bertarung dalam pertempuran terakhir, kita akan menyuntikkan Cahaya Hati ke Pedang Acala, membiarkanku menggunakan semua kekuatan, meminjam efek pengusiran dari Cahaya Hati untuk memberikan pukulan yang menghancurkan ke Mutiara Dinghai.”

Chen Xing: “!!!”

Kata-kata Xiang Shu memunculkan adegan lain di benak Chen Xing. Zhuyin adalah naga yang sudah ada ketika langit dan bumi terbelah, dan di bumi ini tidak ada lagi artefak yang bisa mengahancurkan mutiara naga yang ditinggalkannya. Tapi jika mereka menggunakan kebencian untuk memperbaikinya, begitu Mutiara Dinghai menjadi artefak yang penuh dengan kebencian, maka kekuatan gabungan dari Pedang Acala dan Cahaya Hati bisa memberikan pukulan tanpa ampun. Meminjam kekuatan penekan yang dimiliki Cahaya Hati terhadap “iblis”, adalah satu-satunya cara untuk menghancurkannya!

“Ini terlalu berisiko,” gumam Chen Xing. “Terlalu gila.”

Xiang Shu mengangkat alisnya dan membuat gerakan tangan, artinya, aku tahu kau tidak akan menerima rencana ini.

Chen Xing bangkit dan mondar-mandir beberapa langkah di samping, sebelum berkata, “Tapi ini sepenuhnya mungkin. Sebenarnya di sepanjang perjalanan aku terus-menerus mencurigai kenapa Wang Ziye sangat menginvestasikannya di “pintu” di Pegunungan Longmen itu.”

Xiang Shu, “En.”

Chen Xing berkata, “Mungkin di sana ada altar pengorbanan tempat dimana ibumu dan Zhang Liu ingin kembali, tiga ribu tahun sebelumnya, untuk mengucapkan mantra mereka.”

Xiang Shu, “Mungkin.”

Chen Xing: “Aku rasa Wang Ziye juga tidak tahu bagaimana menggunakan Mutiara Dinghai, dan mungkin dia tidak pernah benar-benar mengerti dan melihatnya dengan baik. Rencana ini terlalu liar, tapi itu bisa berhasil. Jika kita mengembalikan Mutiara Dinghai padanya, aku menebak bahwa dia akan menggunakan kebencian untuk memperbaikinya. Ini akan memakan waktu untuk melakukannya, dan pada saat itu, dia tidak akan bisa mengalihkan perhatiannya… dan itu memberi kita lebih banyak kesempatan, jadi waktu terbaik adalah saat Chiyou mulai memindahkan jiwanya ke Mutiara Dinghai…”

Xiang Shu: “Tapi untuk membiarkanku menggunakan Pedang Acala untuk menghancurkan Mutiara Dinghai sepenuhnya, kau pasti akan…”

“Jangan khawatir,” gumam Chen Xing. “Aku akan membakar Cahaya Hati sampai pada kekuatan maksimumnya untuk bekerja sama denganmu.”

Xiang Shu menoleh untuk menatap Chen Xing, berkata, “Pada saat itu, mungkin kau tidak akan bertahan untuk melewatinya”

Chen Xing mengangguk, dan berkata, “Ya.”

Chen Xing secara alami tahu apa arti di balik kata-kata Xiang Shu yang tersirat: setelah Wang Ziye menggunakan kebencian untuk memurnikan Mutiara Dinghai, pada kesempatan paling awal yang mereka temukan, mereka akan menggabungkan tiga hun dan tujuh po miliknya sendiri dan Pedang Acala, menghancurkan Mutiara Dinghai.

Chiyou masih berada di tengah-tengah pemindahan jiwa ketika dia akan dihancurkan oleh Xiang Shu, dan dengan ledakan Mutiara Dinghai, semua qi spiritual dari langit dan bumi akan dilepaskan, kembali ke alam manusia. Pada saat itu, kebencian menjadi kurang penting, karena qi spiritual yang melimpah di lingkungan secara alami akan mulai memurnikan kebencian, memasuki siklus yang sepenuhnya baru.

“Aku bisa melakukannya, hanya saja, bagaimana kita akan membiarkan Wang Ziye tidak waspada terhadap rencana kita dan mengembalikan Mutiara Dinghai ke tangannya?” Chen Xing mengerutkan alisnya. “Bahkan sedikit kecerobohan akan membangkitkan kecurigaannya..  Xiang Shu?”

Xiang Shu tidak menunggu Chen Xing selesai, dia bangkit dan pergi. Chen Xing menatap dengan bodoh ke profil punggung Xiang Shu, menghela napas lagi, sebelum dia tiba-tiba teringat pada kalimat Xiang Shu.

“Apa yang pura-pura tidak aku mengerti?” Tanya Chen Xing pada dirinya sendiri.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Sebuah kota nyata yang terletak di bagian utara Provinsi Anhui.
  2. Nama kuno untuk Jepang.
  3. Yang benar iuppiter ya, bukan Luppiter. Maafkan kesalahan kami di chapter-chapter sebelumnya.
  4. Dalam astrologi Cina, ada bintang yang disebut “Lone Star” (Bintang Tunggal) yang melambangkan kesialan, terus sendiri selama sisa hidupnya, membawa penyakit pada semua orang di sekitarnya – tapi ini bukan bintang itu, itu hanya salah satu dari banyak kemungkinan bintang tunggal.
  5. Seperti, cepat selesaikan ini.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments