Penerjemah: Keiyuki17
Editor: Jeffery Liu


Satu jam kemudian, Xiang Shu dan Chen Xing seperti dua orang baru yang keluar dari air. Kapten itu menggerakkan tangannya sambil banyak berbicara, dan Chen Xing hanya bisa terus menerus mengangguk. Xiang Shu duduk di tanah di samping kamar kapten, bersandar di dinding kayu saat dia mendengarkan dengan mata tertutup.

Ini adalah kapal dagang yang menuju ke selatan dari Goguryeo menuju Sungai Yangtze. Di sepanjang perjalanan, mereka akan berhenti di Shangyu terlebih dulu, kemudian melanjutkan ke utara, melewati Jiankang dan Jiaozhou, kemudian berputar sekali sebelum kembali ke Pyongyang. Setelah keberangkatan, kapal itu akan diisi dengan ginseng, barang-barang dari kulit, dan barang sejenis lainnya. Saat kembali, kapal itu akan membawa kembali teh, sutra, dan porselen dari Selatan ke Pyongyang. Kaptennya adalah seorang Han. Setelah hidup sekian lama, ini pertama kalinya dia melihat monster seperti Sima Wei. Setelah lama bertanya, Chen Xing mengoceh tidak jelas tentang beberapa legenda rakyat, hanya mengatakan bahwa dia adalah seorang pengusir setan sementara Xiang Shu adalah Pelindungnya, dan bahwa mereka berdua adalah rekan yang berkeliling untuk menangkap yao, lalu setelah bertemu yao itu di Gunung Paektu, mereka dikejar sampai ke sini, dll. Untungnya, pada akhirnya, mereka menyentuh langit selama situasi kritis dan memanggil petir illahi dari atas…

“Simpan tenagamu.” Xiang Shu akhirnya tidak tahan untuk mendengarkan lebih jauh dan berkata dengan tidak sabar, “Apa kau tidak lelah?!”

Sementara Chen Xing berbicara, dia mengeluarkan uang yang dia terima setelah menggadaikan helm Sima Wei dan menyerahkannya pada kapten. “Itulah yang terjadi. Ini ada sedikit uang untuk perahu ini sebagai ungkapan rendah hati dari niat baik kami, tolong ijinkan kami mengambil perahumu…”

“Kamu membasmi kejahatan atas nama orang-orang, aku tidak akan menerimanya! Aku tidak bisa menerimanya!” Kapten dengan cepat menolak dan berkata, “Jika kamu tidak keberatan, silakan tetap berada di kapalku selama beberapa hari.”

Orang-orang di laut paling takut pada badai dan para yao dalam legenda. Dengan pengusir setan yang bisa memanggil petir illahi, perjalanan mereka kali ini akan sangat mulus. Kapten tidak bisa lebih bahagia. Dia dengan cepat mengatur kamar bersih untuk mereka berdua beristirahat.

Kapal itu membawa banyak barang, dan juga beberapa pelajar Pyongyang yang menuju ke selatan untuk belajar. Kapten memberikan Xiang Shu dan Chen Xing kamar terbaik yang dia miliki; kamar itu memiliki jendela dan hanya ada satu tempat tidur.

Chen Xing sudah sangat puas.

Kapten melanjutkan penjelasannya: ini adalah pelayaran pertama mereka ke selatan tahun ini, yang sangat berarti bagi kapten. Bahkan jika cuaca sedang badai, mereka harus tetap berlayar apapun yang terjadi. Hari ini, badai itu lebih besar, tapi akan baik-baik saja setelah sampai ke laut lepas dan meninggalkan area hujan badai. Dia bahkan meminta orang untuk menyiapkan kompor untuk mereka berdua menghangatkan diri.

Chen Xing sudah basah kuyup karena hujan selama setengah hari, jadi jubah luar dan pakaian dalamnya benar-benar basah kuyup. Saat dia memasuki kabin, dia tidak bisa menahan bersinnya.

Chen Xing bertanya pada Xiang Shu dengan penuh harap, “Bagaimana kau tahu bahwa aku ditangkap?”

Xiang Shu dengan santai berkata, “Aku tidak tahu jika kau ditangkap.”

Chen Xing, “Lalu kenapa kau…”

Xiang Shu, “Aku pikir kau melarikan diri lagi, jadi aku mengejar untuk memukulmu!”

Chen Xing, “…”

Xiang Shu memasang gerendel pintu ke kusennya, menguncinya, dan mulai melepas pakaiannya sambil menunjuk ke arah Chen Xing.

“Lepaskan ah.” Xiang Shu menatap Chen Xing seolah-olah dia tidak mengenalnya. “Kenapa kau hanya berdiri di sana?”

Chen Xing tiba-tiba merasa sedikit malu. Dia melepas pakaiannya dan melemparkannya ke Xiang Shu, lalu melompat ke tempat tidur, telanjang bulat sambil menutupi dirinya dengan selimut. Xiang Shu tidak berusaha untuk menghindarinya. Dia melepas semua pakaiannya sampai dia benar-benar telanjang, lalu membungkus handuk pinggangnya. Dia menggulung pakaiannya, meletakkannya di keranjang, lalu mendorong pintunya ke luar dan meletakkannya di pintu masuk. Dia menaruh sejumlah uang di dalamnya dan menginstruksikan awak kapal untuk mencuci dan memberi bubuk pencuci, kemudian mengirimkannya kembali besok setelah dikeringkan.

Dengan demikian, mereka tidak memiliki pakaian tersisa dan hanya bisa saling berhadapan secara terbuka di kamar sepanjang hari.

“Xiang Shu?” Tanya Chen Xing lagi.

Xiang Shu sedang mandi di kompartemen sebelah. Dia memberi isyarat pada Chen Xing untuk pergi mandi. Di dalam kompartemen, Chen Xing bersorak, “Ada air panas?! Ini hebat!”

Saat Chen Xing keluar, dia menyadari bahwa beberapa makanan panas sudah dikirim: ikan dan udang direbus dalam mangkuk dengan sedikit kecap dan daging, dan juga ada satu tong anggur panas. Tampaknya, kapten sudah memesan orang-orang di ruang makan untuk mengirimkannya. Selangkangan Xiang Shu ditutupi dengan kain, dan dia duduk di sana seperti itu saat dia mulai menuangkan minuman untuk dirinya sendiri.

Setelah mereka kenyang dengan makanan dan minuman, akhirnya Chen Xing merasa sedikit lebih baik. Dia menyusut ke sisi dalam dari tempat tidur, dan jantungnya benar-benar mulai berdebar kencang. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Xiang Shu yang telanjang, dan ini bukan pertama kalinya dia tidur di ranjang yang sama dengan Xiang Shu, tapi untuk beberapa alasan, kali ini dia terus merasa sedikit malu.

Xiang Shu melirik Chen Xing, seolah-olah dia juga sedikit ragu-ragu.

“Tidur?” Chen Xing bergerak ke dalam lagi dan berkata, “Istirahatlah sebentar ba.”

Bahkan jika semuanya berjalan dengan lancar, dibutuhkan setidaknya setengah bulan bagi kapal yang berlayar di Sungai Yangtze untuk tiba di Shangyu. Selama perjalanan mereka, dia dan Xiang Shu hanya bisa hidup bersama dalam satu kamar, tidak… saat mereka tinggal di Chi Le Chuan, mereka juga makan dan tinggal di tempat yang sama, jadi kalau begitu seharusnya tidak ada masalah? Apa karena mereka harus tidur di ranjang yang sama?

Untuk beberapa alasan, suasana di dalam kamar tiba-tiba berubah menjadi sedikit ambigu.

Xiang Shu melepas handuk kainnya, lalu pergi tidur seperti itu dan tidur dengan Chen Xing di bawah selimut yang sama.

Chen Xing tidak sengaja menyentuh kulit panas Xiang Shu, dan kulit mereka saling sedikit bergesekan satu sama lain. Jantung Chen Xing mulai berdetak kencang, lalu tanpa sadar dia mundur sedikit. Xiang Shu sepertinya merasakan kecanggungan ini, jadi dia mencoba yang terbaik untuk tidak membiarkan mereka berdua saling bersentuhan saat dia berbaring secara perlahan.

Di tengah badai, kapal sedikit bergoyang. Tempat tidur ini sangat sempit dan kecil. Di bawah selimut, Xiang Shu menginjak pijakan kaki dengan satu kakinya untuk menstabilkan dirinya agar tidak menekan Chen Xing ke dinding. Di sisi lain, Chen Xing mencoba yang terbaik untuk bersandar ke dinding.

“Aku…” Chen Xing ingin memulai percakapan untuk mengalihkan perhatiannya, jadi dia diam-diam mengubah postur tubuhnya karena dia takut Xiang Shu akan melihat reaksi tubuhnya. Di sini, saat ini, suhu panas tubuh di bawah selimut, sensasi singkat barusan saat tubuh mereka saling bersentuhan tanpa ada penghalang di antara mereka, sekejap membuat imajinasi Chen Xing menjadi liar tidak terkendali.

Suara Xiang Shu jelas terdengar sedikit canggung. “Apa?”

“Kau pasti lelah.” Chen Xing menoleh dan menatap Xiang Shu.

“Tidak masalah.” Mata Xiang Shu tetap terbuka saat dia menatap langit-langit dengan linglung.

Kapal itu bergoyang dengan lembut di tengah badai. Jendelanya tidak ditutup rapat, jadi angin dingin masuk ke kabin. Di awal musim semi ini, saat gumpalan es baru mulai mencair, cuaca sangat dingin. Chen Xing mundur ke bawah selimut dan menggigil.

“Kapan kau akan kembali?” Chen Xing ingat sekarang; setelah pertemuan kembali mereka, segala sesuatunya tampak begitu alami baginya sehingga dia bahkan lupa bertanya pada Xiang Shu tentang Karakorum dan Chi Le Chuan.

Xiang Shu tidak menjawab. Chen Xing berpikir, ini adalah salahku lagi, aku membuatmu tergesa-gesa sejauh ribuan mil ke sini hanya untuk menyelamatkanku. Setelah kapal menuju ke selatan, kau tidak akan tahu kapan kau bisa kembali lagi.

“Apa kau… memberi tahu sukumu?” Tanya Chen Xing.

“Apa?” Xiang Shu hanya menjawab dengan acuh tak acuh.

“Tentang datang untuk menyelamatkanku.”

“Tidak,” jawab Xiang Shu santai.

“Bagaimana dengan Xiao Shan?” Tanya Chen Xing lagi.

“Mengirimnya kembali,” kata Xiang Shu. “Tapi aku tidak tahu apa Xiongnu bisa menanganinya.”

Chen Xing, “Kalau begitu, kau akan pergi ke Selatan denganku?”

Xiang Shu membalikkan tubuhnya sedikit dan mengubah postur tubuhnya, menjawab, “Tergantung.”

Chen Xing terdiam selama sesaat sebelum berkata, “Tadi, aku hanya mengatakan itu dengan santai di depan kapten, jangan terlalu mempermasalahkannya.”

Xiang Shu, “?”

Xiang Shu melirik Chen Xing, bingung. Dia mengerti apa maksud Chen Xing; bahwa dia sudah memperkenalkan Xiang Shu sebagai “Pelindung” tanpa meminta pendapatnya, jadi Chen Xing takut bahwa dia akan marah lagi.

“Terima kasih.” Chen Xing berkata sambil tersenyum, “Meskipun aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku, aku pikir kau tidak akan datang untuk mencariku lagi.”

“Kenapa?” Xiang Shu justru bertanya. “Begitukah caramu melihatku?”

Chen Xing buru-buru menjelaskan, “Kau adalah Chanyu yang Agung, kau memiliki tanggung jawabmu, jadi kau tidak bisa disalahkan karena kembali… Xiang Shu, yang ingin aku katakan adalah, jika kau tidak keberatan…”

Xiang Shu sedikit mengerutkan keningnya dan menatap Chen Xing. Chen Xing mengumpulkan keberaniannya dan akhirnya mengatakan apa yang ada di pikirannya. Meskipun Xiang Shu sudah pernah menolaknya sekali, kali ini, mereka mungkin lebih akrab satu sama lain daripada sebelumnya, dan untuk Xiang Shu, mereka memiliki tujuan yang sama, jadi…

“… Aku janji, itu tidak akan memakan waktu yang lama,” kata Chen Xing dengan sedikit ketakutan. “Bisakah kau, menemaniku seperti ini selama beberapa waktu? Aku tidak akan mengatakan apa pun tentang menjadi Pelindung atau yang lainnya, tapi aku tahu bahwa hanya dengan mengandalkan diriku sendiri, aku mungkin tidak akan bisa untuk…”

“Sejak aku masih kecil,” Xiang Shu tiba-tiba menoleh dan tidak melihat Chen Xing lagi. Dia perlahan berkata, “Aku tahu bahwa suatu hari nanti, aku akan menjadi Chanyu yang Agung Hu yang ke-16.”

Chen Xing, “?”

Chen Xing menatap Xiang Shu dengan bingung. Pangkal hidung, bibir, dan profil sampingnya, semuanya sangat sempurna, namun tampaknya itu sama sekali bukan hasil dari riasan. Sebaliknya, dia memiliki semacam kemaskulinan.

Alis Xiang Shu sedikit mengkerut sebelum melanjutkan. “Setelah ayahku meninggal, aku secara alami memikul beban menjadi Chanyu yang Agung. Urusan sukuku adalah urusanku, dan malapetaka yang mereka hadapi adalah malapetakaku juga.”

Chen Xing berkata, “Ya, jadi aku pikir bahwa kau harus kembali suatu hari nanti. Bahkan jika kau menginginkannya, aku tidak bisa…”

“Lalu suatu hari,” lanjut Xiang Shu. “Kau datang untuk mencariku, dan memberitahuku bahwa kau membutuhkan Pelindung, dan aku adalah ‘Pelindung’ itu. Jadi tanggung jawab ini berkembang dari bertanggung jawab atas Chi Le Chuan menjadi bertanggung jawab atas seluruh dunia.”

Chen Xing berkata tanpa daya, “Aku juga tidak menginginkannya, tapi…”

Xiang Shu, “Tapi selama seluruh proses ini, tidak ada yang pernah bertanya apa yang ingin aku lakukan.”

Chen Xing, “…”

“Tidak pernah,” kata Xiang Shu dengan serius. “Mereka tidak pernah bertanya padaku, ‘Shulü Kong, apakah Anda bersedia menjadi Chanyu yang Agung?’ Dan kau tidak pernah bertanya apa aku bersedia untuk menjadi Pelindungmu.”

Setelah dia berbicara, Xiang Shu mengerutkan keningnya lagi, lalu menoleh ke samping untuk melihat Chen Xing, seolah-olah dia ingin menemukan jawaban dengan mengamati ekspresi Chen Xing.

Alisnya yang berkerut mengendur, lalu dia mengangkat alisnya ke arah Chen Xing.

Chen Xing, “Aku mengerti sekarang, Xiang Shu.” Berbicara tentang hal itu, Chen Xing tiba-tiba tersenyum dan berkata, “Jadi memang begitu, kau pikir aku tidak menghargaimu. Itu salahku, saat itu… aku benar-benar tidak terlalu memikirkannya.”

Xiang Shu, “Aku berbeda darimu, kau ingin menjadi pengusir setan…”

“Tentu saja tidak.” Kali ini, Chen Xing yang menyelanya. “Jika aku bisa memilih, aku pikir… aku tidak akan menjadi seseorang yang dengan sukarela melakukannya ba. Aku akui, pada awalnya, aku tidak pernah berpikir untuk menghargai keinginanmu, tapi aku juga ingin menjelaskan diriku sendiri: Aku juga sama, dan ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku tidak memiliki pilihan lain.”

“Lalu kenapa kau ingin menjadi pengusir setan?” Tanya Xiang Shu, sedikit bingung. “Tidak bisakah kau menjadi dirimu sendiri?”

“Aku ingin melakukannya, aku juga ingin menjadi diriku sendiri, dan aku sering bertanya, ‘Kenapa aku?'” Chen Xing teringat saat pertama kali dia mencoba untuk mengendalikan Cermin Yin Yang, suara yang dia dengar di dalam hatinya.

“Tapi ayahku sering mengatakannya saat dia masih hidup, ‘Bagaimana mungkin ada begitu banyak orang di dunia ini yang bisa melakukan apapun yang mereka inginkan?’ Dalam kehidupan ini, yang bisa hidup seperti dengan keinginannya sendiri adalah yang diberkati. Ada lebih banyak orang yang hanya hidup sambil memenuhi Mandat Surga dengan beban yang harus mereka tanggung. Memang, ini sangat tidak adil, tapi jika dilihat dari sudut pandang lain, bukankah ini harapan yang diberikan surga pada masing-masing dari kita?”

“Harapan?” Kata Xiang Shu tidak setuju. “Itu hanya kepasrahan.”

Chen Xing sekarang mengerti kenapa sejak awal Xiang Shu menolak menjadi Pelindung. Dia berkata, dengan lega, “Bisa dikatakan, kita hanya bisa pasrah pada apa yang disebut dengan ‘Kehendak Surga’.”

Kapal itu bergoyang mengikuti ombak. Hujan tampaknya sudah berhenti, dan hanya suara ombak yang berhamburan satu sama lain yang bisa terdengar. Chen Xing dan Xiang Shu berbaring berdampingan dengan tenang. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” Chen Xing merasa pemahamannya tentang Xiang Shu sedang diperbarui. Sekarang, dia tiba-tiba merasa percakapan mereka sangat damai; itu adalah kedamaian yang datang dari lubuk hati mereka. Setelah meninggalkan semua yang ada di dunia luar, mereka memandang satu sama lain secara setara untuk memahami sisi paling tulus dari pihak lain.

“Terkadang,” kata Xiang Shu. “Aku ingin ibuku hidup kembali, dan ayahku hidup kembali juga, lalu hidup bersama di luar Tembok Besar seperti sebelumnya.”

Chen Xing melirik Xiang Shu, tapi mata Xiang Shu terpejam.

“Tapi banyak hal ternyata tidak seperti yang kau inginkan. Mereka semua sudah mati.” Xiang Shu bergumam, “Anda-ku juga mati, semua orang pergi… seperti perjamuan yang diadakan selama Festival Penutupan Musim Gugur. Setelah semua orang selesai minum, mereka semua mengucapkan selamat tinggal dan pergi ke tempat yang seharusnya. Dan yang aku inginkan mudah untuk dikatakan, namun juga sangat sulit…”

“… Yang aku inginkan hanyalah perjamuan ini tidak akan pernah berakhir.”

Xiang Shu linglung untuk sesaat. Dia ingat pada hari saat dia mengucapkan selamat tinggal pada anggota sukunya yang tinggal di Karakorum, tapi dia tidak memberi tahu Chen Xing secara lebih detail.

Percakapan ini tampak tidak berarti, tapi bagi Chen Xing, percakapan itu tampaknya menandai awal dari tahap lain dalam hidupnya yang tidak memiliki banyak waktu tersisa. Sama seperti kapal yang meninggalkan badai, pada akhirnya kapal berlayar menuju laut yang tenang dan hening.

“… Mereka yang mengenalku,

Mengatakan aku merasa sedih di hati.

Mereka yang tidak mengenalku,

Mengatakan bahwa aku sedang mencari sesuatu.”

Langit yang biru dan jauh, Oleh siapa ini diciptakan?1” Chen Xing bernyanyi dengan lembut saat kapal bergoyang.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Xiang Shu.

Chen Xing berkata dengan ragu-ragu, “Mungkin… Aku ingin berkeliling Tanah Suci? Pergi ke tempat-tempat dimana aku bisa membaca buku, tapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengunjunginya.” Setelah dia berbicara, masa depan yang dibayangkan Chen Xing tampak menjadi lebih jelas. “Setelah mengunjungi semua gunung, sungai, dan laut, aku akan pergi ke Sungai Yangtze dan menemukan tempat yang indah untuk kutinggali. Aku akan menanam bunga wisteria di halamanku, dan saat bunganya mekar…”

Chen Xing tersenyum sedih saat berkata, “Aku akan bisa membaca buku di bawah untaian bunga, apa kau menyukainya? Jika ada kesempatan, kau bisa datang untuk mengunjungi rumahku. Tidak apa-apa jika kau ingin tinggal dan juga menetap, jika ada kesempatan, en, selama ada kesempatan.”

Chen Xing mengangkat tangannya, cahaya redup dari Cahaya Hati terpancar dari telapak tangannya. Dia dengan lembut menekannya ke dada Xiang Shu yang telanjang di bawah selimut, dan pada saat itu, kekuatan Cahaya Hati terhubung dengan detak jantung Xiang Shu yang kuat, dan cahaya terang menembus selimut.

Chen Xing berkata, “Xiang Shu, aku ingin menanyakan hal ini sekali lagi, dengan benar.”

Xiang Shu terus menatap Chen Xing.

“Sebelum masa depan datang,” kata Chen Xing. “Bisakah kau menemaniku sebentar? Tidak peduli apa pun itu, aku membutuhkanmu. Aku tahu sekarang bahwa kau tidak mau diperintah oleh tanggung jawab. Aku hanya ingin bertanya, jika kau sekali lagi diberikan pilihan, bisakah kau…”

“Aku akan mempertimbangkannya,” jawab Xiang Shu.

Chen Xing tersenyum. Dia tahu bahwa dengan mengatakan itu, berarti Xiang Shu setuju.

Badai surut. Kapal itu berlayar di sepanjang lautan. Bulan yang cerah menerangi dunia. Angin bertiup kencang, membuat kapal berlayar secara penuh menuju laut putih yang keperakan.

Chen Xing berbisik dalam ketenangan, “Kadang-kadang, aku merasa apa yang disebut ‘tanggung jawab’ ini berarti ada seseorang di luar sana yang membutuhkanmu. Baik itu Tanah Suci, bumi, orang biasa, atau semua makhluk hidup… ‘kebutuhan’ semacam ini tidak akan pernah menawarkan pembayaran kembali, tapi kita akan selalu rela melakukan yang terbaik untuk memenuhi harapan tersebut, seperti yang dilakukan orang lain saat mereka dibutuhkan oleh orang lain. Bukankah perasaan seperti itu cukup bagus?”

Xiang Shu tidak menjawab. Chen Xing meringkuk di bawah selimut. Setelah sekian lama berlalu, dia berpikir bahwa Xiang Shu seharusnya sudah tertidur.

“Apa kau kedinginan?” Tanya Xiang Shu.

“Tidak.”

Selimut di sisi Chen Xing sedikit lembab, yang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman, jadi dia terus menggigil.

Xiang Shu berkata, “Mendekatlah.”

Jadi Chen Xing mencondongkan tubuhnya ke sisi Xiang Shu dan langsung merasa lebih hangat. Kemudian, gelombang menghantam, dan kapal sedikit miring. Xiang Shu menarik kembali kakinya dan memeluk Chen Xing, mendorongnya ke dalam pelukannya.

Seluruh tubuh Chen Xing bersandar pada pelukan Xiang Shu, dan napasnya tiba-tiba sangat cepat. Tubuh bagian bawahnya ditarik sedikit ke belakang agar tidak membuat keadaan mereka berdua terlalu canggung.

Gelombang menerjang satu demi satu, mendorongnya berulang kali ke arah Xiang Shu. Chen Xing ingin menstabilkan tubuhnya, jadi dia mengangkat tangannya, tapi dia tidak memiliki tempat untuk meletakkan tangannya. Setelah beberapa saat, dia hanya meletakkan tangannya di bahu Xiang Shu dan memeluk lehernya, dan mereka berdua sekarang saling menempel.

“Oke,” kata Xiang Shu pada akhirnya.

Chen Xing tidak mendengarnya. Dia tertidur dengan sangat cepat. Tubuh Xiang Shu cukup hangat, jadi dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mendekat padanya. Namun, dia bisa merasakan bahwa Xiang Shu selalu menggeliat gelisah, seolah-olah dia gelisah karena disiksa oleh Chen Xing. Dia akan terus terbangun sesekali, dan setelah beberapa saat, dia tidak peduli lagi dan hanya melepaskan pengekangannya dan memeluk Chen Xing.

Keesokan paginya, saat Chen Xing bangun, dia melihat pakaiannya terlipat dengan rapi di samping bantal sementara dia tertutupi dengan selimut baru.

Chen Xing, “???”

Chen Xing sangat yakin bahwa selimutnya sudah diganti. Tempat tidur hari ini jelas berbeda dari kemarin.

“Xiang Shu?” Kata Chen Xing. “Xiang Shu? Dimana dia?”

Setelah sarapan, Chen Xing menemukan Xiang Shu di geladak. Xiang Shu sudah berganti pakaian dan duduk sambil minum teh dengan kapten. Angin laut bertiup, dan matahari bersinar cerah.

“Kenapa selimutnya…”

“Aku tidak tahu!” Kata Xiang Shu dengan tidak sabar.

“Wow!” Chen Xing berdiri di depan tiang saat dia menghadap ke laut yang luas. Xiang Shu mengangguk pada kapten sebelum kembali ke kabin bersama Chen Xing, lalu melempar sebuah bungkusan pada Chen Xing untuk dilihat olehnya.

Di dalamnya ada dua harta ajaib yang dibawa Xiang Shu dari Karakorum: Cermin Yin Yang dan Genderang Zheng, serta persediaan medis yang diberikan Raja Akele pada mereka – empat Segel Penguasa. Setelah melihat benda-benda itu, Chen Xing mulai merindukan pemiliknya dan merasa sedikit kesal. Setelah sekali pemeriksaan, dia dengan hati-hati menyimpannya, lalu melihat bungkusan yang sudah dikemas Xiang Shu dengan tergesa-gesa. Ada seruling Qiang dan kotak panjang yang tidak terkunci di dalamnya. Dia membuka kotak itu. Di dalamnya ada dua lembar gulungan kulit domba yang digulung menjadi satu; sepertinya diikat dengan tali wol, dan kertasnya tampak cukup tua, diselimuti dengan warna ungu muda.

Apakah ini Penganugerahan Emas dari Gulungan Ungu Chanyu yang Agung yang selalu didambakan oleh Fu Jian? Chen Xing berpikir tentang pepatah “Penganugerahan Emas dari Gulungan Ungu”, tapi setelah melihatnya, dia pikir itu tidak terlihat seperti itu. Tidak ada darah pada kulit domba ini. Namun, dia menahan rasa ingin tahunya dan tidak mengacak-acak barang milik Xiang Shu. Setelah menutup kotak itu, dia mengembalikannya, dan dia baru saja melakukannya saat Xiang Shu kembali.

“Apa yang kita lakukan setelah mencapai Shangyu?” Tanya Xiang Shu.

Chen Xing berkata, “Pergi ke Jiankang dan mencari teman dari Shifu-ku. Apa kau ingat dua gambar lain di dalam buku Zhang Liu?”

Xiang Shu menunjukkan Chen Xing; saat dia berada di Chi Le Chuan, dia secara kasar sudah mengembalikan ketiga gambar itu.

Ada banyak orang yang mampu di Selatan. Setelah migrasi besar-besaran ke Selatan, sejumlah besar teks kuno sudah diawetkan. Meskipun banyak keluarga pengusir setan yang meninggalkan profesinya setelah Keheningan Semua Sihir dan menjadi pelajar atau petani, mereka masih mengetahui sedikit tentang masa lalu. Chen Xing harus memperingatkan Xie An terlebih dulu, kemudian mengumpulkan mantan pengusir setan untuk membahas tindakan balasan dan mencari keberadaan Mutiara Dinghai.

“Apa yang kau tulis?” Xiang Shu melihat bahwa Chen Xing sudah menulis surat selama beberapa hari terakhir di kabin.

Chen Xing berkata, “Kartu kunjungan. Aku akan meminta orang untuk mengantarkannya ke pos yang akan mengirimkannya ke Jiankang. Ayahku memiliki banyak murid di masa lalu, dan mereka semua adalah seniorku. Setelah migrasi besar-besaran ke Selatan, mereka tunduk pada Jin yang Agung satu demi satu. Untuk saat ini, kita mungkin bisa mencari perlindungan dengan mereka. Setidaknya kita akan memiliki tempat tinggal di kota.”

Xiang Shu dengan santai berkata, “En, aku lupa, ayahmu adalah seorang terpelajar yang hebat. Setelah kembali ke Selatan, kau secara alami adalah keturunan dari keluarga yang bermartabat.”

Chen Xing mendengar ejekan dalam nadanya dan membalas, “Kau memujiku; dibandingkan dengan Chanyu yang Agung, bagaimana bisa ini menjadi sesuatu yang berharga? Apa lagi yang bisa kita lakukan? Kita sudah menghabiskan semua uang yang kita miliki, jadi apakah kita akan kedinginan dan kelaparan setelah turun dari kapal?”

Xiang Shu berkata, “Pasti ada beberapa Yuwen Xin menunggu di Jiankang.”

“Kau…” Chen Xing benar-benar ingin melempar penanya.

Chen Xing awalnya memiliki gagasan untuk mencoba keberuntungannya, tapi setelah Xiang Shu mengatakan itu, dia tidak ingin melanjutkan untuk menulis lagi. Tapi pada akhirnya, dia masih memaksakan diri untuk menulis rencana perjalanannya, kemudian menyegel kartu-kartunya, dan membayar dengan sedikit uang yang dia miliki agar seseorang mengirimkannya ke darat dan membawanya ke Kementerian Personalia di Jiankang. Biasanya, jika surat sudah diterima, maka disana harus ada petugas pos, tapi di sepanjang perjalanannya tidak ada yang datang menemuinya. Dia berpikir bahwa hati orang mudah berubah sehingga dia hanya bisa pasrah. Dia akan memikirkan cara untuk mendapatkan uang setelah tiba di Jiankang ba.

Saat kapal berlayar ke selatan, cuaca berangsur-angsur menghangat. Saat itu cerah, dan langit jernih di musim semi. Orang menjadi lebih malas saat sampai di wilayah Sungai Yangtze. Chen Xing hanya tidur di kabin sepanjang hari, berputar-putar di tempat tidur. Kadang-kadang Xiang Shu bermain catur dengan kapten di dek, sementara di lain waktu, dia akan membeli buku setelah turun dari kapal dan membacanya di perjalanan atau di atas kapal untuk menghabiskan waktu.

Hampir sepuluh hari kemudian, kapal dengan lancar berlayar ke Sungai Yangtze dan menuju Jiankang di sepanjang kanal. Setengah hari kemudian, di pagi hari, mereka tiba di Kota Jiankang sebelum waktunya. Chen Xing masih tidur. Suara musik yang samar terdengar dari luar, diikuti oleh teriakan para tukang perahu.

“Datang, datang–” kata tukang perahu.

Chen Xing berbalik. Bukankah kita akan tiba di malam hari? Kita mencapai Jiankang begitu cepat?

Xiang Shu membuka pintu dan memasuki kamar, setelah mengemasi barang-barangnya. Dia mengamati Chen Xing dengan ekspresi tidak sabar. Chen Xing duduk, rambutnya berantakan, lalu menggaruk kepalanya saat melihat Xiang Shu.

“Seseorang menjemputmu di dermaga,” kata Xiang Shu.

Chen Xing bangkit, lalu berlari keluar sambil berkata, “Siapa? Siapa yang datang untuk menjemputku?”

Kapal sudah sampai di dermaga. Yang menyambut mereka adalah bunga persik dan pohon willow; seluruh kota itu rimbun dengan bunga-bunga yang indah. Ribuan atap dan ubin berwarna merah bersinar terang dengan kilauan.

Zhongshan memiliki keagungan naga melingkar yang mengesankan dan berdiri sekuat harimau yang berjongkok.[2]

[2] Pepatah untuk mengatakan bahwa suatu tempat memiliki lokasi yang sangat strategis.

Gerimis yang berkabut turun di atas Sungai Huai sepanjang sepuluh mil. Di kejauhan, Istana Taichu dan Zhaoming tampak seperti pantulan di cermin yang dipantulkan oleh Danau Xuanwu, seperti istana surgawi yang diselimuti kabut.

Ibukota nomor satu di dunia: setelah mengalami banyak kesengsaraan dan kesulitan, sudah ada jutaan orang yang tinggal di Kota Jiankang. Ini adalah tempat di mana budaya Han berkembang paling pesat, dan tempat ini juga merupakan pusat peradaban Tanah Suci.

Hampir 50 terpelajar memegang payung dalam barisan. Di suatu tempat yang jauh di atas, seorang pria mengenakan jubah dengan lengan lebar berjalan di tengah nyanyian seolah-olah dia sedang mengendarai angin.

“Saat aku pergi, menangisi pohon willow,” seseorang bernyanyi di tepi sungai, “Saat aku kembali, menyapu hujan dan salju–“

Kedua sisi pelipis pria itu berwarna putih beku, dan dia tampak berusia sekitar empat puluh tahun. Dia mengenakan muslin resmi hitam dengan jubah terpelajar putih salju di dalamnya, wajahnya yang cantik seperti giok, dan senyumnya membuat orang merasa seolah-olah mereka sedang dimandikan oleh angin musim semi. Dengan sikap yang sopan, dia memakai plakat giok yang digantung di pinggangnya, gigi rubah di lehernya, bakiak kayu, dan seruling giok di tangannya. Sabuknya berkibar tertiup angin saat dia berjalan dengan percaya diri.

“Seorang teman datang dari jauh,” kata Xie An dengan suara keras. “Apa kamu ingin makan? Shidi kecil, silakan lewat sini.”

——  Volume 2 · Cangqiong Yilie · Tamat ——


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Terjemahan bahasa inggris dari https://cti.lib.virginia.edu/shijing/AnoShih.html
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments