Penerjemah: Kueosmanthus
Editor: Jeffery Liu


Di Istana Huanmo.

Seorang terpelajar memegang mangkuk kaca di satu tangan, berisi darah kental. Darah itu tampak hidup, perlahan bergoyang-goyang.

Di pelataran di depannya terbaring tubuh Sima Wei yang terbakar.

Tidak jauh dari situ, ada tiga bola api hitam yang berkobar; di dalam api, Chang’an, Xiangyang, dan gunung yang hijau bisa dilihat.

“Bagaimana rencananya?” Dewa Iblis di tengah bertanya.

“Berjalan lancar,” jawab terpelajar.

Hati itu mencibir. “Berjalan lancar? Tiga senjata penting – Cermin Yin Yang, Genderang Zheng, dan Tongkat Tangisan Rusa — semuanya sudah jatuh ke tangan musuh. Zhou Zhen kehilangan nyawanya, sementara kebencian yang kita kumpulkan dengan begitu banyak usaha di Yaoguang, Kaiyang, dan Yuheng semuanya juga sudah menghilang. Tidak hanya pasukan iblis kekeringan tidak bertambah, jumlahnya bahkan semakin mengecil dari hari ke hari. Dua dari Delapan Pangeran yang seharusnya menjaga barisan itu sudah pergi. Wang Hai, apakah ini yang kau maksud dengan ‘lancar’?”

Terpelajar bernama Wang Hai menjawab dengan sungguh-sungguh, “Tuanku, Anda tidak perlu khawatir.”

Dia sedikit memiringkan mangkuk kaca di tangannya. Darah itu seperti pasta kental yang jatuh ke sisa-sisa Sima Wei, menggeliat saat meresap dan mulai memperbaiki tubuhnya.

“Setidaknya, mereka belum menemukan Array Sepuluh Ribu Roh sejauh ini,” jawab Wang Hai dengan percaya diri. “Meskipun jumlah pasukan iblis kekeringan kita telah berkurang drastis, kita dapat membuat sebanyak yang kita inginkan di masa depan. Ada manusia dimana-mana. Saat ini, kita harus menahan diri dan bersembunyi, hanya dengan begitu kewaspadaan mereka tidak akan mudah terangsang… Adapun tiga senjata iblis, kita bisa mengambilnya lagi lain kali. Tujuh Array Sepuluh Ribu Roh akan diaktifkan sesuai jadwal.”

Hati itu mendengus “hmph” dengan penuh penghinaan.

Wang Hai melihat tubuh Sima Wei yang sedang diperbaiki dan bergumam, “Para pengusir setan menganggap diri mereka pintar, menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa mereka dapat mengontrol harta sihir dunia dengan  Qi  pembantaian yang dibawa oleh senjata. Namun, yang tidak mereka ketahui adalah bahwa mereka pada akhirnya akan menjadi korban dari kecerdikan mereka sendiri. Kebencian pada akhirnya akan kembali menggigit mereka suatu hari nanti … Tuanku.”

Saat tubuh Sima Wei yang sudah terbakar menjadi kering karena petir sedang dipulihkan, Wang Hai berbalik dan berjalan menuju hati raksasa itu. “Perang di Utara memberi petunjuk kepadaku tentang hipotesis penting. Jika spekulasi ini terbukti benar, harta ajaib yang akan merekonstruksi tubuh Anda di mata array di Tanah Suci akan menjadi harta yang belum pernah terlihat sebelumnya, jadi Anda tidak perlu menggunakan Cahaya Hati lagi.”

Hati tidak menjawab, seolah ragu.

Wang Hai berkata, “Tuanku, tolong, lihat ini. Mutiara Dinghai yang telah Anda cari selama sebih dari 300 tahun mungkin telah muncul.”

Wang Hai mengguncang lengan bajunya, dan jam tembaga kecil seukuran telapak tangan muncul di tangannya. Bersamaan dengan bunyi dang yang berdering, api hitam muncul di sekujur tubuhnya, dan pemandangan fantastis muncul di depannya.

Di dunia es dan salju, di tepi Sungai Xarusgol beberapa bulan yang lalu, ada begitu banyak burung gagak yang mendarat dengan tenang di sekitar perkemahan suku Akele. Salah satunya berbalik menuju tenda.

“Anak laki-laki Xiang Yuyan… dimana? Dimana dia?”

Hati segera mulai berdetak lebih cepat, dan seluruh Istana Huanmo dipenuhi dengan cahaya magenta.

Api hitam lainnya meledak, di dalamnya muncul sosok Xiang Shu, Chen Xing, Raja Akele, dan Permaisuri di dalam tenda kerajaan.

“Kapan dia pergi ke Danau Barkol?”

“22 tahun yang lalu, itu terjadi sebelum kamu lahir,” kata permaisuri Raja Akele. “Pertama kali aku bertemu dengannya, dia menuju ke Utara, mengatakan bahwa dia ingin menemukan seseorang. Seorang pria.”

“Bawa wanita ini padaku,” kata Hati Dewa Iblis.

Wang Hai menjawab, “Dia adalah permaisuri suku Akele, tetapi dia telah meninggal. Dia dibunuh oleh Che Luofeng, dan mayatnya telah dibakar menjadi abu oleh pengusir setan.”

“Idiot!” Hati Dewa Iblis hampir meraung. “300 tahun! Seluruh 300 tahun! Kita akhirnya menemukan petunjuk!”

“Tuanku, yakinlah,” kata Wang Hai. “Xiang Yuyan adalah ibu Shulü Kong, dan jawabannya hampir terungkap. Selanjutnya, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari Mutiara Dinghai. Jika harapan saya yang sederhana terbukti benar, maka tubuh baru Anda akan memiliki kekuatan luar biasa yang bahkan tidak dapat ditandingi oleh dewa kuno sekali pun. Bahkan akhir dari Pertempuran Banquan dapat ditulis ulang.”

Tiba-tiba, Hati itu meledak menjadi tawa yang parau dan ramai.


Bulan Maret di Jiankang. Pohon Willow mekar berlimpah, teriakan burung musim semi terdengar. Angin sepoi-sepoi mulai bertiup. Ruangan di dalam istana bersinar cerah, dan keindahan halaman kekaisaran sangat indah.

Pikiran pertama Chen Xing ketika dia pergi ke darat adalah, aku akhirnya pulang.

Jiankang di depannya benar-benar memiliki keindahan yang dijelaskan dalam kutipan “Sanjungan dari Dua Ibukota” Ban Gu1.

“Petugas ritual memulai upacara,

Dan rombongan kekaisaran kemudian keluar.

Lalu

Mereka mengangkat ikan paus,

Dan memukul bel yang terukir.

Kaisar menaiki Kereta Giok,

Menyentak naga musiman,

Kanopi phoenix menggantung subur dan mewah;

Lonceng palang dan lonceng simurgh bergemerincing

Para pengawal kekaisaran mengikuti seperti bayangan,

Dalam tampilan yang luar biasa dari martabat dan kesopanan. “

Sudah hampir 70 tahun sejak Bencana Yongjia melanda Dataran Tengah. Orang-orang Han sudah bermigrasi ke selatan, membawa serta pemandangan dua ibukota yang berkembang – Chang’an dan Luoyang. Semua pejabat pemerintahan Jin tampak seperti menggenggam gulungan gambar yang indah di bawah lengan mereka ketika mereka datang, lalu tanpa tergesa-gesa menyebarkannya ke tepi Sungai Yangtze. Gulungan gambar ini langsung terbentang seolah-olah memiliki kehidupannya sendiri, sehingga warisan budaya yang indah selama ribuan tahun muncul kembali dengan segala kemuliaan.

Sejak era Wu, Jiankang telah menjadi tempat tinggal kaisar. Ketika Sima Yan, kaisar Jin, menyatukan dunia, Sun Hao, Kaisar Wu, menyerah dan menyerahkan kota. Jiankang tidak pernah mengalami perang, dan sekarang, ada jutaan keluarga yang tinggal di kota. Migrasi skala besar ke Selatan membawa buku, serta teknologi pertanian. Memperkenalkan puisi, buku, dan lukisan, dan juga teknik casting. Saat ini, Kota Jiankang, yang terletak di Sungai Huai dengan sisi timurnya menghadap Gunung Zhong, telah menjadi pusat Tanah Suci. Bersama dengan kota-kota di barat – Bancheng, Moling, dan Fushe, Kabupaten Danyang di Selatan, Kabupaten Langya, dan kota-kota serupa lainnya, kemudian berkembang ke Tanah Suci sepuluh ribu mil ke arah selatan dari Sungai Yangtze, mencakup semua garam, besi, batu bara, dan sutra di dunia. Kalian akan menemukan satu pasar setiap seratus langkah, dan satu kota setiap sepuluh mil. Perawatan medis, pengobatan, buku, lukisan, musik, dan hiburan, perdagangan, serta banyak pengrajin, semuanya sangat makmur.

Sejak Dinasti Qin dan Han, wilayah Jiangnan sudah menjadi tanah ikan dan beras2. Buku dan tinta mahal, sedangkan gabah dan beras murah. Pada saat itu, di bawah pemerintahan Fu Jian, satu dou3 beras di Utara berharga dua belas yuan, sementara satu rangkap beras di Jiankang berharga tiga yuan. Itu bahkan lebih padat dan makmur daripada provinsi Surgawi seperti Bashu. Tidak ada yang akan mati karena kelaparan, dan dedak serta biji-bijian digunakan untuk memberi makan ternak. Jika setiap daerah mendapatkan panen besar-besaran, akan ada begitu banyak biji-bijian yang dibiarkan membusuk di gudang dan memberi makan tikus. Harga beras yang serendah itu tentu saja dinikmati oleh begitu banyak keluarga dan pedagang. Pada tahun-tahun awal Dinasti Taiyuan, ada banyak orang berbakat di Selatan. Termasuk para terpelajar dari migrasi besar-besaran, di samping para terpelajar lokal, sekarang terdapat hampir total 100.000 terpelajar yang menganggur dari jutaan keluarga di kota. Pemerintahan Jin tidak lagi memiliki jabatan resmi yang bisa mereka tawarkan, sehingga para terpelajar hanya bisa mendiskusikan politik sepanjang hari hingga waktu
mereka habis.

Itu adalah pertama kalinya Xiang Shu secara resmi memasuki dunia suku Han, dan dia langsung terpana. Dia sudah mendengar tentang “Selatan” yang dibicarakan orang-orang Hu, tapi itu bahkan lebih mulia daripada di dalam cerita. Setelah Xie An menerima mereka berdua, dia dengan sengaja mengantar Chen Xing dan Xiang Shu menyusuri Sungai Qinhuai dengan gerbong terbuka untuk tur keliling kota saat mereka menuju ke penginapan mereka.

Ketika Chen Xing melihat tatapan Xiang Shu, dia tahu bahwa dia sudah diguncang oleh atmosfer Jiankang, jadi dia merasakan sedikit rasa bangga yang tak bisa dijelaskan. Ini adalah pertama kalinya Chen Xing datang ke sini, dan bahkan dia sedikit terkejut.

“Aku menerima suratmu dalam perjalanan dan menebak bahwa kamu akan datang hari ini, jadi aku datang untuk menyambutmu, meskipun itu mungkin sedikit lancang,” kata Xie An sambil tersenyum.

“Tidak! Itu sama sekali tidak lancang!” Chen Xing sangat puas, Xie An benar-benar tidak sombong sedikit pun, dan penyambutan yang dia atur cukup megah, sehingga dia bisa sedikit pamer ke Xiang Shu. Dia sangat senang. Tapi dia tiba-tiba menyadari bahwa terpelajar yang menyambut mereka sepertinya memandangnya dan Xiang Shu dengan dua tatapan berbeda? Tatapan yang mereka lihat pada Chen Xing dipenuhi dengan rasa ingin tahu dan penghargaan, sementara tatapan yang mereka lihat pada Xiang Shu penuh dengan ketakjuban dan kekaguman. Ketika mereka naik kereta, dia mendengar orang-orang berdiskusi dengan berbisik, “Pria cantik seperti itu benar-benar ada …”

“Kalian terlalu berisik!” Chen Xing berkata dengan kesal. “Aku bisa mendengar semuanya!”

Xiao Shidi4, bagaimana Jiankang dibandingkan dengan Chang’an?” Xie An mengubah topik saat dia bertanya dengan santai.

“Um …” Chen Xing sedikit bingung. Dia berkata, “Oh benar, aku ingin menanyakan ini ketika aku turun dari kapal. Tuan Xie, kapan kita menjadi sesama murid?”

Chen Xing terus mencoba mengingatnya. Xie An pernah belajar di bawah bimbingan terpelajar terkenal, Huan Yi, yang tampaknya tidak pernah belajar di bawah guru yang sama dengan ayah Chen Xing, Chen Zhe. Kalau tetap bersikeras, mungkin karena mereka sama-sama terpelajar?

“Baili yang sopan pernah berjanji untuk menerimaku sebagai murid.” Xie An berkata sambil tersenyum, “Kamu masih muda saat itu, jadi kamu mungkin lupa tentang itu.”

“Benarkah?” Keraguan Chen Xing muncul begitu saja. Dia memang memiliki Shixiong5 bernama Wang Meng, tapi dia tidak ingat Shifu6-nya menerima Xie An sebagai muridnya. Tapi karena Xie An bersikeras, biarkan dia memanggilnya seperti itu, dia tidak akan kehilangan apapun darinya.

Xiang Shu melirik Xie An. Chen Xing kemudian berkata sambil tersenyum santai, “Meskipun Fu Jian mengatur Chang’an dengan cukup baik, itu masih sedikit ada di bawah Jiankang.”

Bagaimana mungkin itu dianggap ‘sedikit’? Chang’an bahkan tidak akan bisa mengejar Jiankang bahkan jika dia menyuruh kudanya untuk berpacu dengan kecepatan penuh. Kerugian Fu Jian diakibatkan karena beberapa raja Utara sebelumnya. Liu Yuan, Ran Min, Shi Chong, dan yang lainnya telah membunuh terlalu banyak orang dan mengusir semua orang-orang Han. Akibatnya, Chang’an menjadi melarat saat dia mengambil alih, jadi dia hanya bisa membangunnya dari awal.

Chen Xing menjelaskan sedikit, mengatakan bahwa identitas Xie An bukanlah pengusir setan. Xiang Shu tidak menanggapi dan hanya mengalihkan pandangannya ke rumah-rumah di pinggir jalan. Salah satu deretan di sepanjang jalan memiliki ratusan rumah besar yang jauh lebih mengesankan daripada rumah Tuoba Yan di Chang’an.

Chen Xing merasa bangunan di Jiankang jauh lebih mewah daripada Chang’an, jadi dia bertanya, “Tempat apa ini?”

“Aku tidak tahu,” Xie An menjawab dengan santai. “Ini adalah rumah milik mereka yang kurang mampu, mohon jangan dipikirkan. Kami tinggal di Gang Wuyi.”

Chen Xing, “…”

Xiang Shu, “……”

Xie An berusia lebih dari empat puluh tahun, tapi dia sangat terawat. Beberapa helai jenggot tergantung di dagunya, dan dia membawa liontin giok kuno yang diikat di pinggangnya. Berbeda dengan orang-orang Hu yang berlebihan dan suka menggantungkan segala macam aksesoris di atas tubuh mereka, semua yang ada di dirinya sepertinya baik-baik saja. Dia akan selalu tersenyum saat melakukan percakapan. Biasanya, ketika laki-laki mencapai usianya dan masih memiliki temperamen seperti pria berusia dua puluh atau tiga puluh tahun, mereka hanya bisa mengandalkan dua hal jika mereka masih ingin menjadi muda dan tampan: belajar dan uang.

“Pemuda ini …”

“Aku bisu,” kata Xiang Shu dingin.

Tepat ketika Chen Xing merasa canggung, Xie An tiba-tiba tertawa. Dia tampak seperti ingin menepuk bahu Xiang Shu, tapi dia memberi perhatian khusus untuk tidak menyentuh tubuhnya, lalu berkata sambil tersenyum, “Musik yang bagus memiliki nada yang paling samar, dan orang yang sangat bijaksana sering kali tampak lamban. Ini adalah prinsip dunia.”

Chen Xing melihat gerakan Xie An dan tahu bahwa Xie An menyadari bahwa Xiang Shu adalah seorang Hu. Laki-laki Hu tidak suka disentuh di bahu mereka. Segera setelah itu, Xie An sepertinya tenggelam dalam pikirannya. Dia melirik Chen Xing, tatapannya dalam dan sulit dipahami.

“Xiang Shu adalah Pelindungku,” Chen Xing menjelaskan.

“Sepertinya perjalananmu sangat mulus,” kata Xie An menyetujui.

“Semacam itu, kurasa.” Chen Xing tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa dan berkata, “Ini sangat cocok dengan pepatah, ‘hidup ini terlalu singkat, ini cerita yang panjang’ …”

Xie An melanjutkan, “Shixiong  menebak bahwa kamu mungkin harus berlama-lama di Jiankang, jadi luangkan waktumu untuk menceritakan kisah tersebut, jangan khawatir. Ayo, kita sudah sampai, mari adakan penyambutan selamat datang untukmu dulu!”

Kereta itu sudah tiba di luar Gang Wuyi, yang ternyata memiliki pintu yang sangat kecil. Ambang pintunya terbuat dari batu giok setengah  zhang dari Gunung Kun. Di pintu vermillion itu ada dua karakter “xie”, yang ditulis dengan lurus dan elegan. Chen Xing tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru kagum. Xie An kemudian berbalik sambil tersenyum dan berkata, “Youjun? Shidi-ku memujimu karena tulisan tanganmu yang indah.”

Mengikuti di belakang Xie An adalah orang yang menulis kata-kata untuk Xie An, bernama Wang Xizhi. Dia segera mengatupkan kedua tangannya untuk dengan sopan menolak sanjungan, lalu berkata, “Aku akan pulang untuk ganti pakaian dulu. Aku akan datang nanti untuk minum teh.”

Kediaman Wang terletak tepat di seberang kediaman Xie. Chen Xing dengan riang memasuki kediaman Xie An. Xie An sudah mengambil posisi resmi di istana kekaisaran dan sudah membeli kediaman ini sendiri, jadi dia tidak tinggal bersama keluarga Xie lainnya. Para terpelajar yang menyambutnya memasuki kediaman Xie dengan tertib. Pintunya tidak besar, tapi setelah masuk, menjadi sangat luas. Itu memiliki segalanya, dari paviliun hingga kolam dan bebatuan. Bagian utama tempat tinggal menempati area seluas beberapa mu. Seseorang tidak akan bisa mengetahui bahwa ada begitu banyak ruang di balik pintu kecil.

Xie An pertama mengatur kamar untuk Chen Xing dan Xiang Shu untuk beristirahat, kemudian dia mengundangnya untuk minum teh di aula utama.

Xiang Shu mengamati sekelilingnya. Chen Xing datang dan mengetuk pintu.

“Kalian berdua sangat akrab satu sama lain?” Xiang Shu bertanya dengan cemberut.

“Tidak,” Chen Xing mengakui sambil tersenyum. Dia tahu apa yang dipikirkan Xiang Shu – agar dia menawarkan keramahan yang begitu hangat, dia pasti sedang merencanakan sesuatu dan setelah menghubungkannya dengan apa yang dialami Chen Xing di Chang’an Xiang Shu pasti sedikit waspada.

Chen Xing menjelaskan, “Ketika aku belajar di Gunung Hua, dia datang berkunjung sekali. Dia juga menyebutkan bahwa jika ada kebutuhan yang muncul, dia akan bersedia mendukung kita dengan cara apa pun yang dia bisa.”

Chen Xing suatu saat melihat Xie An berbicara dengan Shifu-nya. Setelah itu, dia mendengar dari Shifu-nya bahwa Xie An secara pribadi pergi ke depan pintu mereka untuk mencarinya. Pria ini selalu suka berkeliaran di pegunungan dan hutan serta mengunjungi sungai dan pegunungan terkenal. Dia juga dipenuhi dengan kerinduan akan legenda aneh seperti berkultivasi, terbang dengan pedang, dan menangkap para yao.

Sayangnya, Xie An bukan dari keluarga pengusir setan. Setelah Keheningan menyelimuti semua sihir, tidak ada lagi mana di dunia ini, dan banyak cerita pengusiran setan berubah menjadi legenda. Usaha besarnya untuk mencari kultivator di pengasingan sudah menjadi semakin tidak mungkin seiring bertambahnya usia, tapi untungnya suatu hari, dia menemukan Gunung Hua.

Awalnya, dengan antusiasme ingin menjadi pengusir setan, Xie An menyatakan kesediaannya untuk melakukan semua yang dia bisa untuk mendukung pemulihan Departemen Pengusiran Setan ke Shifu Chen Xing.

Sebelum Chen Xing turun gunung, Shifu nya menulis surat, yang mendapatkan dukungan Xie An dengan sangat cepat. Tidak hanya itu, ketika dia dan Shifu-nya berkultivasi di Gunung Hua, apa yang biasanya mereka makan atau gunakan dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan uang. Shifu Chen Xing disebut Baili Lun, dan dia berkata bahwa dia adalah seorang pembunuh yang merupakan penerima anugerah keluarga Chen. Tapi pembunuh ma, bagaimana mereka bisa bertani dan mengolah tanah? Mereka hanya bisa membunuh pejabat yang korup sesekali untuk rakyat biasa, yang tidak akan menghasilkan banyak bagi mereka, jadi dia malah menumpuk hutang yang cukup besar.

Xie An datang berkunjung sekali, dan setelah mengetahui bahwa Baili Lun dan Chen Xing sedang kesulitan uang, dia merogoh koceknya sendiri dan melunasi hutang mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan bahkan ada banyak yang tersisa. Setelah itu, Shifu bahkan banyak memuji Chen Xing, tapi juga menambahkan bahwa Iuppiter yang memasuki takdirnya benar-benar luar biasa, sehingga meninggalkan kesan yang sangat dalam pada Chen Xing, dan dia ingat bahwa Xie An sudah memberikan Shifu 3000 tael peraknya.

Xiang Shu, “Dia ingin menjadi pengusir setan?”

Chen Xing berkata, “Kurasa itu jenis pengharapan yang indah? Itu terjadi ketika mereka masih muda, seperti ingin menjadi ksatria, terbang dengan pedang, tidak terikat oleh dunia sekuler, menangkap dan mengusir para yao, dan melawan ketidakadilan.”

Setelah Chen Xing diingatkan oleh Xiang Shu tentang hal ini, dia berpikir bahwa Xie An juga sedikit terlalu antusias. Tapi dia tidak punya rencana berharga untuk Xie An. Jika Xie An adalah bagian dari kelompok Shi Hai, karena dia tahu siapa Shifu-nya dan di mana sekte mereka berada, dia bisa saja berkomplot melawannya sejak lama dan tidak perlu menunggu sampai sekarang.

“Ayo pergi ba.” Chen Xing sekarang juga merasa sedikit curiga setelah mendengar Xiang Shu, jadi dia hanya bisa berkata, “Kita hanya bisa melihat apa yang dia katakan.”

Para terpelajar di aula sudah menunggu Chen Xing sejak lama. Setelah mereka berdua duduk, Xie An pertama kali memperkenalkan keponakannya Xie Xuan, diikuti oleh Wang Xizhi serta putra dan keponakan di keluarga Wang. Dengan begitu banyak orang yang datang padanya secara tiba-tiba, Chen Xing tidak bisa mengingat siapa adalah siapa dan hanya bisa menyapa mereka satu per satu dengan sopan. Tuan rumah mengangkat cangkir tehnya, dan semua orang mulai minum teh. Teh disajikan dalam mangkuk besar, namun kamu bisa melihat dasar mangkuk. Di sampingnya ada camilan kecil yang disajikan dengan teh.

Chen Xing berpikir bahwa Xiang Shu mungkin mengutuk dalam hati bahwa orang Han menyajikan secangkir teh kecil yang bahkan tidak akan cukup untuk satu tegukan.

Setelah semua orang minum teh, mereka mulai bersosialisasi. Chen Xing pertama-tama berbicara tentang sekte dan Shifu-nya, kemudian semua orang fokus pada Xiang Shu lagi.

“Bolehkah aku tahu … siapa nama pria cantik ini?”

Semua orang di dunia selalu menilai orang lain dari penampilan mereka. Dari saat Chen Xing datang ke darat, orang orang sedah melirik Xiang Shu dari waktu ke waktu. Sepanjang jalan, tidak peduli apakah mereka pria, wanita, tua atau muda, semua orang tidak bisa menahan diri untuk tidak meliriknya lagi.

Generasi muda dari keluarga Wang dan Xie melihat betapa tampannya Xiang Shu dan pedang besar di punggungnya, yang membuatnya terlihat seperti pendekar pedang yang sopan, sehingga mereka secara alami membentuk kesan yang baik tentang dirinya dan ingin menjilatnya. Namun, Xiang Shu selalu duduk di samping Xie An, jadi tidak nyaman untuk melakukannya. Mereka terus mencoba mengirim sinyal melalui tatapan mereka, tapi Xiang Shu hanya memperlakukannya seolah-olah dia tidak melihatnya. Saat ini, sudah waktunya bagi Chen Xing untuk memperkenalkannya secara resmi, jadi semua orang duduk dengan tenang dan tersenyum pada Xiang Shu.

“Dia adalah …” Chen Xing melihat bahwa Xiang Shu tampaknya tidak memiliki niat sedikit pun untuk berbicara, jadi dia hanya bisa memperkenalkannya atas namanya. Dia ingin mengarang asal-usulnya, menjelaskan “Dia Pelindungku,?dari keluarga Xiang di Kuaiji”. Tapi ketika dia hendak mengatakannya, dia berhenti karena suatu alasan. Dia teringat bagaimana Xiang Shu menyebutkan kekhawatirannya tentang latar belakangnya, dan dalam hal ini, Chen Xing merasa seperti dia mengerti apa yang dipikirkan Xiang Shu. Karena itu, dia menghormati keinginannya dan mengubah kata-katanya, “Dia adalah teman Hu-ku, dengan nama keluarga ‘Shulü’, dan nama ‘Kong’. Dari suku Tiele Chi Le Chuan.”

Seluruh aula terdiam dalam sekejap. Xiang Shu sedikit terkejut dan melirik Chen Xing, tapi sepertinya ada sedikit senyum di matanya. Bibirnya bergerak sedikit, dan dia mengucapkan sesuatu. Chen Xing mengerti – dia mengucapkan kata “terima kasih”.

Ketika Xie An mendengar itu, dia tahu itu tidak baik dan dengan cepat melirik Chen Xing. Sampai sekarang, Hu dan Han masih memiliki permusuhan besar satu sama lain. Para terpelajar di Sungai Yangtze sangat membenci tahanan perang Hu di Utara sehingga mereka bisa memakan daging mereka dan tidur di kulit mereka, namun Chen Xing menusuk menembus sarang lebah begitu dia berada di sini? Bagaimana itu bisa menjadi sesuatu yang baik?

Benar saja, keheningan hanya berlangsung sekitar tiga napas sebelum aula pecah menjadi keributan.

“Apa?!”

“Orang Hu?”

“Bagaimana orang Hu bisa masuk? Dan dia juga dari Suku Tiele?”

“Laporkan dia! Laporkan dia ke petugas sekarang!!”

Xiang Shu sedikit mengernyit dan menatap Chen Xing. Dengan tangan kanannya di gagang pedangnya, dia melihat sekilas ke seluruh aula. Seseorang tampak seolah-olah sudah sangat dipermalukan dan bangkit, ingin pergi. Tapi ada juga orang yang hanya sedikit mengernyit karena mereka tidak terlalu mempermasalahkan pertarungan antara Hu dan Han, dan hanya ingin melihat bagaimana Chen Xing akan menyelesaikan krisis yang dia hadapi.

Chen Xing tidak menyangka bahwa reaksi semua orang akan jauh lebih intens daripada yang dia bayangkan. Dia segera membenturkan telapaktangannya ke atas meja dan berkata, “Tunggu! Semuanya, tolong hentikan!”

Para terpelajar sudah berdiri. Kebingungan melintas di benak Xie An, dan tepat ketika dia hendak masuk untuk membujuk, dia melihat Chen Xing mengambil inisiatif untuk berbicara, jadi dia berhenti.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Kutipan dari “Rhapsody of the Two Capital (Liangdu Fu) oleh Ban Gu. Dimana dalam kutipan tersebut menjelaskan tentang perburuan kekaisaran di Taman Shanglin yang megah di luar Chang’an selama dinasti Han.
  2. Tanah subur yang menghasilkan banyak ikan dan beras.
  3. 1 dou = 2kg.
  4. Xiao Shidi : adik seperguruan.
  5. Shixiong : kakak seperguruan
  6. Shifu: Guru.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments