Penerjemah : Keiyuki17
Proofreader : Jeffery Liu


Sima Lun membungkuk dan mengambil setengah dari pedangnya yang patah di tanah, lalu berjalan perlahan menuju dua orang yang terikat bersama di pilar.

“Biarkan saja mereka lebih menderita,” Feng Qianyi berkata dengan pelan, “Mereka akan pergi terlalu mudah jika mereka mati hanya dengan satu tusukan.”

Chen Xing hampir tidak bisa bernapas. Xiang Shu berjuang untuk melawan dan melindungi Chen Xing dalam pelukannya; saat tanaman merambat mengiris kulitnya, darah akan mulai keluar dari luka-lukanya yang masih segar, satu demi satu, dan mulai diserap oleh tanaman merambat itu.

Chen Xing berteriak kesakitan. Darah itu bercampur dengan darah Xiang Shu, dan mereka berdua meneteskan darah yang berlumuran ke seluruh tanaman merambat. Tapi untuk beberapa alasan, saat darah di tubuh Xiang Shu dan darah Chen Xing bercampur, seolah-olah Cahaya Hati juga merasakannya sekaligus — Cahaya Hati itu mengeluarkan kekuatannya ratusan kali lebih kuat dari dadanya dan meledak!

Xiang Shu berteriak dengan keras, sementara Chen Xing hanya merasa seperti dia akan dihancurkan sampai mati, namun dia mendengar suara derak yang keras di samping telinganya!

Dua pilar hancur pada saat yang bersamaan, dan seluruh Istana Hanguang runtuh dengan suara gemuruh yang keras! Balok, pilar-pilar kayu, bersama dengan ubin yang ada di aula, dan semua dinding bata runtuh karena ditarik secara gila-gilaan oleh tanaman merambat itu!

Sesaat kemudian, dari dalam reruntuhan, pilar raksasa di Istana Hanguang terangkat. Sima Lun berjuang untuk keluar dari bawah tumpukan ubin, tapi seluruh tubuh Xiang Shu sudah diselimuti dengan kuat oleh cahaya dari Cahaya Hati. Pakaiannya yang tadinya hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki langsung berubah menjadi jubah bela diri seputih salju dan berlapis emas. Cahaya keemasan keluar dari pedang besinya yang berat – cahaya itu berputar di sekitar gagang pedangnya sampai ke ujungnya, dan mengubahnya menjadi pedang emas.

Xiang Shu membuka matanya.

“Enyahlah, bereinkarnasilah.” Kata Xiang Shu dengan dingin.

Dewa Bela Diri Pelindung muncul! Chen Xing benar-benar tercengang saat dia merangkak keluar dari tumpukan ubin yang hancur! Sebelumnya dia hanya melihatnya tercatat di buku, dan berpikir bahwa yang disebut dengan “Dewa Bela Diri Pelindung” hanyalah sebuah nama, tapi dia tidak menyangka bahwa itu menjadi sebuah gambaran nyata!

Kemudian Xiang Shu memegang pedangnya di kedua tangannya dan melancarkan gerakan yang menghancurkan langit!

Baju besi milik Sima Lun langsung hancur, dan dia mengeluarkan raungan gila – seluruh tubuhnya terbakar oleh nyala api yang keluar dari Pedang Emas Xiang Shu sampai hampir tidak ada lagi yang tersisa.

Suara yang rendah terucap saat mayat itu hancur menjadi abu dan berserakan di udara.

“Kau… kau…” Chen Xing sangat gembira dan bertanya, “Apa yang terjadi?! Apa yang baru saja terjadi??!”

“Aku tidak tahu!” Xiang Shu sudah kembali normal, dan dia berteriak dengan gila pada Chen Xing, “Selamatkan semua orang terlebih dulu!”

Efek menjadi Dewa Bela Diri Pelindung hanya berlangsung beberapa saat, setelah itu, tidak peduli bagaimana Chen Xing memacu Cahaya Hatinya, dia tidak bisa lagi memicu perubahan apa pun untuknya. Prajurit bayangan berbondong-bondong mengerumuni mereka dari semua sisi; Xiang Shu bergegas menuju pusat reruntuhan Istana Hanguang, tapi jutaan tanaman merambat dan duri menyembur keluar dari dalam reruntuhan batu bata.

Tanaman merambat milik Feng Qianjun mendorong atap istana, dan darah mengalir dari sudut mulutnya.

Pedang berat di tangan Xiang Shu bercahaya. Dia beberapa kali ingin bergegas untuk maju ke depan, tapi dia tidak pernah bisa menembus pertahanan Feng Qianjun.

Chen Xing menyeret Tuoba Yan keluar dari sisi lain reruntuhan. Untungnya, Tuoba Yan mengenakan baju besi jadi luka yang dideritanya tidak terlalu parah, dan duri-duri dari yang sebelumnya tidak meninggalkan terlalu banyak luka di tubuhnya.

“Bangunlah!” Chen Xing berteriak dengan cemas. Dia mengangkat satu tangannya yang mengeluarkan Cahaya Hati dan menekannya ke dahi Tuoba Yan.

Tuoba Yan tiba-tiba terbangun, dan hal pertama yang dia lakukan adalah memeluk Chen Xing dan berguling di tempat untuk menghindari prajurit bayangan yang bergegas menyerang dari belakang Chen Xing pada saat yang bersamaan.

“Kita harus menahannya!” Touba Yan melirik ke arah Feng Qianjun.

Tuoba Yan mengambil tombaknya. Chen Xing berkata, “Sementara Xiang Shu mengalihkan perhatiannya, bawalah aku!”

Touba Yan membawa Chen Xing bersamanya; dia memegang tombak di satu tangannya dan mulai menyerang melewati sekelompok prajurit dan mendekati pusat Istana Hanguang. Bidang penglihatan Xiang Shu hanya dipenuhi dengan tanaman merambat; dia takut akan terjerat oleh Feng Qianjun lagi, jadi dia hanya bisa mencari sebuah kesempatan dan membebaskan dirinya. Dia baru saja akan mundur saat Tuoba Yan bergegas menuju ke arahnya.

“Naiklah!” Xiang Shu berbalik di udara dan mendorong Chen Xing ke atas. Tuoba Yan mendekat, menghindari tanaman merambat, mundur setengah langkah, dan mengayunkan tombaknya secara horizontal untuk memberi dorongan pada Chen Xing. Chen Xing memanfaatkan momentum ini untuk naik lebih tinggi dalam beberapa langkah, memancarkan cahaya kuat dari telapak tangannya, mengangkat sikunya, dan menampar wajah Feng Qianjun.

“Keluarlah!” Suara Chen Xing terdengar seperti lonceng di pagi hari dan genderang di petang hari. Cahaya dari Cahaya Hati dengan cepat menyerbu tubuh Feng Qianjun, dan kebencian di dalamnya menghilang dengan suara ledakan. Feng Qianjun tersandung-sandung karena tamparan Chen Xing, dan kejernihan matanya menjadi pulih.

Seluruh tanaman merambat menghilang. Tuoba Yan dan Xiang Shu segera berbalik untuk melawan prajurit bayangan yang bergegas menyerbu mereka.

Puluhan ribu prajurit bayangan yang menjaga Istana Weiyang menyerbu mereka seperti tsunami. Feng Qianjun masih berdiri, terengah-engah.

“Dimana kakak laki-lakimu?!” Chen Xing berteriak, “Tangkap dia! Cepat! Kita sudah hampir menang!”

Rentetan tawa gila lainnya meledak dari dalam reruntuhan.

“Jauh, jauh dari itu–” Feng Qianyi berkata dengan suara jahatnya, “Susunan darah belum selesai, jadi hari ini aku tidak akan berharap lagi. Pengusir Setan, suatu hari nanti kau akan melihat Tuanku, dan ketika saatnya tiba seluruh Tanah Suci akan tunduk padanya–“

Feng Qianyi perlahan-lahan bangkit dari reruntuhan. Seolah-olah seluruh tubuhnya sudah mengalami metamorfosis — darah hitam keunguan mulai mengalir ke bawah dari matanya.

Feng Qianjun mendongak dan berteriak dalam kesedihan, “Berhentilah! Gege!”

Tuoba Yan berteriak, “Kami tidak bisa menahan mereka lagi! Pikirkanlah sesuatu!!”

Feng Qianjun mengayunkan Saber Senluo dengan sudut miring. Dengan teriakan yang penuh kesedihan, api hitam sekali lagi meledak dari seluruh tubuhnya, lalu semua pepohonan di Istana Weiyang, dan bahkan di Kota Chang’an, tercabut dari tanah dan berubah menjadi pohon layu hitam pekat dan bergegas menuju ke Istana Hanguang. Xiang Shu tercengang; dia baru saja berbalik untuk melihatnya saat Chen Xing berkata, “Dia sudah mendapatkan kembali rasionalitasnya!”

Feng Qianjun tampaknya bisa mengendalikan Senluo Wanxiang yang sudah dimurnikan dengan kebencian. Area di depan Istana Weiyang berubah menjadi medan perang bagi manusia pohon yang layu dan prajurit bayangan, dan tekanan bagi tiga orang lainnya sekejap berkurang.

“Kau pantas menjadi bagian dari keluarga Feng,” Feng Qianyi berdiri di tengah udara dan berkata dengan ringan, “Suatu hari akan tiba saatnya kau akan memberikan saber itu pada Tuanku…”

“Tolong berhentilah!” Teriak Feng Qianjun.

Kemarahan tampak terlihat di mata Feng Qianjun. Dia mengeluarkan raungan gila lagi; api hitam membumbung tinggi dengan cepat, dan tanaman merambat muncul dari bawah tanah yang kemudian terbang menuju ke arah kakak laki-lakinya yang ada di udara. Xiang Shu segera melompat ke tanaman merambat dan berlari di atas tanaman merambat itu. Chen Xing segera mengangkat Cahaya Hati-nya. Sementara Xiang Shu sudah terbang di udara, dia bersandar ke belakang, memegang pedangnya dengan kedua tangannya, dan tubuhnya melengkung menjadi lengkungan yang indah – pedang besar di tangannya memancarkan cahaya yang berkilauan.

“…… sebelum ini.” Feng Qianyi menutup matanya dan benar-benar menyerah untuk melawan mereka. Dia merentangkan kedua lengannya.

Xiang Shu mengayunkan pedangnya ke bawah, dan urat daging dan tulang di tubuh jasmani Feng Qianyi robek dan patah. Uap hitam yang melindungi tubuhnya hancur karena cahaya dari Cahaya Hati, dan dia tiba-tiba jatuh.

Semua prajurit bayangan di Istana Weiyang kehilangan dukungan dari kebencian mereka pada saat yang bersamaan dan bertarung sampai mati di tangan manusia pohon.

Feng Qianyi jatuh ke tanah seperti layang-layang yang talinya dipotong. Dia mengeluarkan suara teredam, matanya menatap ke atas langit.

Xiang Shu mendarat, Feng Qianjun menyimpan kembali sabernya, dan Tuoba Yan menarik tombaknya. Seluruh tubuh Chen Xing berdenyut-denyut karena rasa sakit yang luar biasa, dan dia sudah berada di ambang kehancuran.

Feng Qianyi mengumpulkan kekuatan terakhirnya yang tersisa untuk berkata, “Terlalu cepat… Aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri, karena terlalu khawatir…”

Kemudian semua kebencian yang ada di seluruh tubuh Feng Qianyi tersebar; matanya tetap terbuka lebar saat dia mati begitu saja.

Chen Xing bergegas maju untuk mengguncang tubuh Feng Qianyi dengan kuat dan berteriak, “Ai! Jangan mati! Bangunlah!!!”

Dia belum menanyakan apa pun yang ingin dia tanyakan. Tanpa bukti apapun di tangan mereka, bagaimana mereka bisa menjelaskan semuanya saat mereka kembali?!

Tuoba Yan dengan cepat menarik Chen Xing menjauh. Feng Qianjun masih ada di samping mereka. Setelah menyaksikan kematian kakak laki lakinya, mereka takut Feng Qianjun akan bertindak sembarangan dan lepas kendali.

Xiang Shu selalu waspada terhadap Feng Qianjun. Feng Qianjun segera kembali normal dan menyarungkan sabernya.

“Kakak laki-lakimu sudah tiada.” Kata Chen Xing pada Feng Qianjun. Dia memeriksa pupil mata Feng Qianyi –kedua pupil matanya membesar.

Feng Qianjun keluar dari Istana Hanguang. Fajar mulai menyingsing di cakrawala, menerangi Chang’an yang kosong. Mayat berserakan di seluruh Istana Weiyang yang besar. Setelah Feng Qianyi tiada, baju besi yang dikenakan oleh prajurit bayangan sudah hancur menjadi uap hitam dan lenyap, menampakkan penampilan asli mereka yaitu tulang putih dan daging busuk. Pohon  yao yang dipanggil oleh saber Senluo sudah membelit mayat hidup dan mengubah mereka menjadi potongan, jadi anggota tubuh yang sudah terpotong-potong berserakan di tanah, dan beberapa sisa mayat hidup yang sudah terbelah menjadi dua masih menggeliat.

Setelah melarikan diri dari Chang’an, satu malam lagi sudah berlalu. Saat fajar menyingsing, di dataran di luar Istana Ahfang, akhirnya pasukan mayat hidup datang secara besar-besaran. Tapi segera setelah matahari terbit, mereka kehilangan formasi pasukan mereka karena beberapa alasan dan mulai berkeliaran ke semua tempat tanpa tujuan saat mereka mencari makanan untuk digerogoti, seolah-olah mereka adalah binatang buas yang tidak berada di bawah kendali siapa pun.

Prajurit Qin yang Agung mengerumuni mereka dengan kekuatan penuh dan berhenti di depan Zaohe. Setelah menyalakan panah api mereka, mereka segera melepaskannya secara acak dan membakar para mayat hidup. Para prajurit kemudian dipisahkan menjadi dua kelompok, mengepung musuh di sisi kanan dan kiri untuk menjebak 300.000 mayat hidup di dalam pengepungan mereka, lalu menggiring mayat-mayat itu menuju ke area tengah tepi sungai.

Pada saat itu, kelompok terakhir dari orang-orang yang melarikan diri dari Kota Chang’an bercampur dengan kelompok mayat hidup. Mereka harus menghindari mayat hidup dan anak panah yang dilepaskan secara acak dari para prajurit, jadi mereka terus memohon dengan getir ke arah luar saat mereka memohon pada prajurit Qin untuk membiarkan mereka pergi.

“Lapor ——“

Fu Jian mengenakan baju besi kaisar dari ujung kepala sampai ujung kaki dan sudah menunggu dengan siaga tinggi. Dia tahu apa yang ingin dikatakan pengintai itu bahkan sebelum dia berbicara dan berkata dengan tajam, “Tidak seorang pun yang akan dilepaskan! Kejar siapa pun yang telah digigit atau dicakar untuk kembali ke dalam pengepungan!”

Wang Ziye dan para pejabat sipil lainnya menyaksikan pertempuran dari samping. Di tepi timur Zaohe, ratapan kesedihan mengguncang bumi, dan kebencian membumbung ke langit. Ada massa hitam pekat dari 300.000 mayat hidup, jumlah mereka bahkan lebih banyak daripada para prajurit, dan mereka masih mencoba untuk menerobos pengepungan tanpa sadar. Itu benar-benar pemandangan yang luar biasa. Beberapa prajurit bahkan digigit saat mereka melawan mayat hidup, dan saat mereka menoleh untuk melihat ke belakang di saat berikutnya, mereka sudah didorong ke dalam kelompok mayat hidup oleh rekan mereka sendiri di bawah komando tegas dari Murong Chui. Dalam sekejap, mayat hidup mengerumuni mereka, merobek mereka menjadi beberapa bagian saat mereka menggerogoti para prajurit.

Wang Ziye berkata, “Yang Mulia, ini hanyalah masalah waktu.”

Pengepungan secara bertahap semakin mendekat. Semua mayat hidup dalam jarak radius sepuluh mil didorong ke pusat lokasi yang sudah ditentukan. Di bawah Istana Ahfang di belakang Fu Jian, di seberang sungai, ketapel yang digunakan untuk mengepung kota yang disimpan di gudang sekarang sudah bekerja.

Fu Jian mengangkat pedang kaisarnya dan berteriak, “Tembak!”

Di tengah cahaya fajar, semua ketapel yang ada di sisi berlawanan dari sungai melancarkan serangannya! Tabung api menutupi langit saat mereka terbang menuju ke tengah pengepungan! Minyak tanah jatuh ke tanah, menghasilkan ledakan awan merah yang tidak terhitung jumlahnya dan berhasil membakar kelompok mayat hidup. Hembusan angin timur bertiup, dan api mulai menyebar dengan cepat. Sepanjang radius satu mil, mayat hidup yang dibakar menimbulkan masalah, dan mereka mulai mendorong keluar dengan penuh ketakutan!

“Pertahankan! Pertahankan!!” Semua jenderal dari Qin yang Agung menunggangi kuda mereka yang berlari dengan kencang. Para prajurit mengangkat perisai mereka dan menjaga pengepungan dengan dahsyat, dan barisan para parjurit mengepung mayat hidup untuk mencegah mereka menerobos keluar. Gelombang api bergejolak; sosok yang tidak terhitung jumlahnya dibakar di dalam api saat mereka dengan panik menabrak segala sesuatu yang ada di sekitar mereka. Teriakan kesakitan bisa terdengar, dan untuk sesaat, tidak ada yang tahu apakah yang dibakar itu adalah manusia atau para yao yang disebut dengan “iblis kekeringan”. Rasa dingin yang tidak diinginkan melapisi hati orang-orang.

Hembusan angin kencang bertiup semakin kuat. Lidah api mulai bergejolak keluar dari pengepungan. Asap tebal mengepul dan menutupi langit. Para prajurit yang berjaga meneteskan air mata karena asap, dan lapisan awan tebal muncul di langit.

Intuisi Fu Jian yang sudah terasah melewati ratusan pertempuran dan pengalamannya yang berani menembus api dan air memperingatkannya seperti sirine kebakaran.

“Kirim lebih banyak pria ke arah berlawan dari arah angin!” Fu Jian dengan tegas memerintahkan, “Segera!”

Tapi saat Fu Jian mengeluarkan perintah ini, ternyata masih saja terlambat – di sisi barat pengepungan, celah pertama muncul di arah berlawan dari arah angin. Api mulai menyebar dari mayat hidup ke prajurit yang berjaga.

“Penjaga Kekaisaran, dengarkan perintahku!” Fu Jian mengenakan baju besi pertempuran bewarna emas. Dia melompat ke atas kudanya dan berteriak, “Ikuti Zhen dan berangkat!”

Orang-orang yang berada di seberang tepi sungai yang menyaksikan pemandangan ini bergidik ngeri, dan kekacauan mulai terjadi. Pengepungan sudah diterobos; kesenjangan itu menjadi semakin besar dan semakin besar lagi. Mayat hidup, yang diselimuti api dan memiliki bau terbakar, menyeberang ke tepi sungai. Begitu mereka menyeberangi sungai, semua orang yang tersisa di Chang’an akan mati di sana!

Orang-orang mulai melarikan diri dengan panik, dan tindakan ini menyebabkan kekacauan yang lebih serius. Fu Jian tidak bisa lagi mengkhawtirkan rakyatnya; jika mereka kalah dalam pertempuran ini, maka dia hanya bisa meninggalkan rakyat dan ibu kotanya, dan melarikan diri bersama para prajurit! Martabatnya sebagai seorang kaisar akan menghilang dari muka bumi, dan dia pasti akan menjadi cemoohan di seluruh dunia!

Tapi tepat pada saat itu, semua orang sepertinya menyadari sesuatu.

Seseorang mulai berteriak, dan semua orang mengangkat kepala mereka dan mulai melihat ke sekeliling mereka!

“Chanyu yang Agung—–!”

“Chanyu yang Agung kembali.”

Di kejauhan, dari arah Kota Chang’an, suara peluit terdengar dengan jelas!

Lebih dari 2.000 orang berkumpul di depan jembatan kayu besar Zaoshui. Pada saat ini, mereka semua seolah-olah sudah menerima pesan pada saat yang bersamaan saat mereka menunggang kuda keluar.

Xiang Shu memimpin barisan depan dengan sebuah kuda dan disampingnya ada Chen Xing yang juga sedang menunggang kuda. Chen Xing memacu Cahaya Hati-nya, dan cahayanya yang kuat bersinar terang; kebencian yang menyelimuti dataran Zaoshui tercerai berai saat mereka bertemu dengan cahaya, dan sekali lagi mayat hidup didorong kembali ke dalam pengepungan.

“16 suku, dengarkan perintahku—-” Xiang Shu berteriak dengan bahasa Tiele, “Pertahankan Istana Ahfang!”

Mantan bawahan Hu yang terpaksa pindah ke selatan dan prajurit yang sudah diabaikan oleh Fu Jian, semua menyuarakan persetujuan mereka secara serempak. Mereka memutar kuda mereka dan mengikuti Xiang Shu. Bahkan di antara orang-orang Xianbei, ada banyak orang yang menjawab secara tidak sadar dan juga mengacungkan senjata mereka.

Murong Chui langsung sangat marah dan berteriak, “Tetap di posisimu!”

Tunggangan Feng Qianjun berderap dengan cepat; dia mengayunkan saber Senluo-nya, dan cahaya hitam meledak, dan tanaman merambat bewarna hitam pekat yang tidak terhitung jumlahnya muncul dari tanah. Mereka memperkuat pengepungan dan menjebak semua mayat hidup yang terbakar.

Xiang Shu membawa pedang besarnya di punggungnya dan menyerbu dengan kudanya. Hanya kurang dari seribu langkah, dia sudah mengumpulkan regu. Fu Jian melihat ke kejauhan dan melihat bahwa Tuoba Yan juga sudah kembali.

“Penjaga Kekaisaran!” Tuoba Yan memegang tombak di tangannya sambil mengendalikan tali kekang kudanya dengan tangannya yang lain. Dia berteriak, “Berdirilah denganku dalam pertempuran ini, jaga Yang Mulia! Lindungi Chang’an!”

Kedua pasukan bala bantuan bergabung dalam pertempuran. Pengepungan terbentuk lagi, tapi mayat hidup yang terbakar mulai melarikan diri ke barat. Mereka mendorong dengan keras ke arah pengepungan dan membuat celah sekali lagi! Tuoba Yan memimpin penjaga kekaisaran dan melakukan yang terbaik untuk melawan mereka; selama mereka menahannya untuk waktu yang singkat ini, mereka akan menang! Fu Jian meraung, “Mereka semua sudah terbakar! Mundur!”

“Tidak!” Xiang Shu membalikkan kudanya dan meraung marah, “Jika iblis kekeringan memasuki sungai, sungai Zao akan terkena racun! Siapa yang akan bertanggung jawab setelahnya?!”

Ketapel melontarkan gelombang terakhir dari minyak tanah mereka. Api yang mengamuk mulai menyebar lagi di bawah angin kencang. Sementara prajurit Qin menghadapi musuh, prajurit yang tidak terhitung banyaknya dibakar sampai mati dan dicakar oleh iblis kekeringan. Keluarga Murong menderita kerugian terbesar, dan mereka tampak terlihat di ambang kekalahan telak. Bumi berada dalam pergolakan. Kemudian, bala bantuan lain tiba.

“Lapor —- Gubernur Pingyang, Murong Chong telah tiba—-“

Dalam sekejap mata, ribuan pasukan menyerbu dari ufuk timur, diterangi oleh cahaya matahari. Ada 100.000 kavaleri mengenakan baju perang yang berkilauan di bawah sinar matahari; Jenderal bela diri muda yang memimpin mengenakan jubah semerah awan di saat matahari terbenam berkibar tertiup angin. Dia memimpin kavaleri lapis baja Pingyang dan menyerang ke barisan musuh tanpa sepatah kata apa pun!

“Fenghuang‘er! 1” Teriak Fujian.

Mayat hidup yang menerobos ke sisi barat sekali lagi didorong kembali ke dalam pengepungan. Pada saat itu, Xiang Shu mengangkat pedangnya yang berat dan berteriak, “Serang bersamaku!”

16 suku Hu mengeluarkan raungan yang mengguncang langit; mereka mengikuti Xiang Shu untuk melancarkan serangan pertama mereka dan menyerang medan perang yang berkobar. Mayat hidup yang terbakar langsung dihancurkan menjadi beberapa potongan, dan tindakan ini segera menyebabkan gelombang demi gelombang susunan pertempuran penyerangan besar yang dibentuk oleh Prajurit Qin. Prajurit keluarga Murong, Penjaga Kekaisaran di bawah Fu Jian, para penjaga yang dipimpin oleh Jenderal Qin yang Agung, dan bahkan Prajurit Pingyang dari Murong Chong yang bergantung pada kavaleri lapis baja mereka bergegas menuju ke arah mayat hidup dan menginjak-injak mereka dengan liar.

Bumi berguncang. Prajurit Qin seperti gelombang pasang yang menghancurkan mereka berulang kali, seolah-olah mereka melampiaskan rasa frustrasi mereka. Itu adalah Chen Xing yang pertama kali melihat pemandangan seperti itu. Matahari sudah terbit, dan awan-awan tercerai berai.

Pada saat ini, akhirnya 300.000 mayat hidup lenyap; mereka terbuat dari debu, dan kembali menjadi debu saat mereka hancur menjadi abu yang tersebar di seluruh dataran Zaohe. Mereka kembali ke bumi untuk memberi makan kehidupan baru di tanah ini, berkontribusi dalam kesuburan kehidupan di sana.

Tanah itu akhirnya hening. Hembusan angin bertiup di dataran yang dikelilingi oleh bara hitam yang tidak terhitung jumlahnya berputar-putar ke langit.

Xiang Shu mengumpulkan kembali regunya di ruang terbuka yang berada di samping tepi sungai. Chen Xing merasa sangat lelah sampai dia ingin berbaring di tanah saja, tapi saat dia akan melakukannya, Xiang Shu berkata, “Jangan turunkan kewaspadaanmu.”

Chen Xing merasakan akan ada bahaya.

Dan benar saja, masalah datang. Setelah semua mayat hidup dibersihkan, prajurit Pingyang dan klan Murong mulai berkumpul di sekitar mereka. Seorang jenderal bela diri berjalan dari kerumunan, melepas helm peraknya, dan melemparkannya ke tanah, memperlihatkan wajahnya yang tampan.

Namun 16 suku Hu di belakang Xiang Shu sama sekali tidak takut pada mereka. Kedua kelompok berdiri berhadapan dari jauh, dipisahkan oleh beting sungai 2.

Rambut hitam Murong Chong berkibar tertiup angin. Kulit Xianbei-nya seputih susu dari wajah sampai lehernya, dan matanya seperti amber yang terkena air. Pada pandangan pertama, Chen Xing hampir mengira bahwa dia adalah seorang Jenderal wanita yang cantik.

Kedua belah pihak terdiam.

Xiang Shu menyarungkan pedangnya dan membawanya di punggungnya. Jubah bela dirinya compang-camping, dan tubuhnya dipenuhi dengan luka. Prajurit dalam jumlah yang besar di belakang Murong Chong sangat tertib dan disiplin – bahkan ringkikan kuda mereka tidak bisa terdengar, dan mereka melihat ke sisi lain dengan tenang begitu saja.

Murong Chong berbicara, suaranya sangat lembut, namun terdengar dingin dan tegas.

“Saya sudah lama mendengar tentang keterampilan bela diri yang luar biasa dan tidak tertandingi di dunia dari Chanyu yang Agung,” Murong Chong berkata perlahan, “Anda dikenal sebagai ‘musuh semua prajurit’. Saya hanya ingin tahu bagaimana Anda akan melawan 100.000 kavaleri milik saya?”

Awalnya Chen Xing berpikir bahwa Xiang Shu tidak akan menjawabnya, tapi Xiang Shu memutar tali kekang kudanya sebanyak dua kali dan bahkan tidak melirik Murong Chong saat dia berkata dengan acuh tak acuh, “Sejak memasuki jalur, saya tidak pernah melawan lebih dari 10.000 prajurit pria tanpa senjata sebelumnya, jadi saya belum tahu. Apa Anda yakin ingin bertarung hari ini?”

Murong Chong menjawab, “Ini bukan pertanyaan apakah saya ingin bertarung atau tidak, sebaliknya saya yang harus bertanya pada Chanyu yang Agung apakah keluarga Murong pernah menyinggung Chanyu yang Agung sebelumnya. Entah itu upaya membunuh atau mengoyakkan, jadi tolong beri saya pencerahan.”

Xiang Shu menaikkan alisnya dan melirik Murong Chong, “Tidak pernah.”

Murong Chong berkata dengan marah, “Lalu kenapa kau membunuh Jie-ku?!”

Klan Murong mulai berteriak satu demi satu dengan penuh amarah. Murong Chui yang tampak menonjol dalam barisan, berkata dengan lantang, “Chanyu yang Agung, sejak Perjanjian Chi Le Kuno, klan Murong tidak pernah berani mengutuk perjanjian yang kami sudah janjikan kesetiaan kami dengan darah. Sekarang bencana sudah bisa dihindari, kau harus memberi kami penjelasan ba.”

Xiang Shu tidak menjawab dan hanya sedikit mengerutkan keningnya. Chen Xing ingin menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi, tapi mereka tidak memiliki bukti apa pun, dan mereka tidak memiliki petunjuk tentang siapa “Tuan” yang dibicarakan oleh Feng Qianyi itu. Pada saat ini, bahkan jika mereka bisa menyelamatkan nyawa Feng Qianyi untuk membuatnya berbicara dan membuatnya menghadap keluarga Murong, pihak mereka pasti tidak akan mengakui bahwa Putri Qinghe sudah ikut serta dalam konspirasi itu dan hanya akan menuduh Xiang Shu bahwa dia menjebak Putri Qinghe.

Jika tidak, klan Murong akan dianggap bersalah juga oleh persatuan. Bagaimana bisa Fu Jian mengabaikan keluarga yang merencanakan pemberontakan melawan dirinya?

“Murong Chong!” Fu Jian akhirnya maju ke depan dan memasuki tanah lapang. “Dengarkan aku.”

Murong Chong mengalihkan tatapannya dan sesaat tertuju pada Fu Jian tapi dengan sangat cepat kembali menatap ke arah Xiang Shu. Dia dipenuhi dengan keraguan saat dia mengamati Chen Xing, yang berada di samping Xiang Shu.

“Shulü Kong,” Fu Jian berkata pada Xiang Shu, “Dimana buktinya?”

Xiang Shu menjawab dengan dingin, “Tidak ada bukti. Kau seharusnya sangat tahu siapa yang benar dan salah.”

Fu Jian, “….”

Fu Jian menarik napas dalam-dalam dan menahan keinginan untuk maju ke depan dan menerjang Xiang Shu sampai mati. Wang Ziye bergegas menunggangi kuda dan berkata perlahan, “Gubernur Pingyang telah melakukan perjalanan yang jauh untuk sampai ke sini. Mengapa Anda tidak melapor kembali ke Istana Ahfang dulu, dan nanti…….”

“Pergilah!” Teriak Xiang Shu dengan tegas.

Semua orang mundur satu demi satu.

“Chanyu yang Agung, saya akan meminta nasihat Anda di sini hari ini 3.” Murong Chong jelas tidak ingin melepaskan Xiang Shu. Dengan perintahnya, 100.000 pasukan yang ada di belakangnya membuka formasi penyerangan mereka; mereka sebenarnya ingin mengandalkan keunggulan kekuatan militer mereka untuk membunuh Xiang Shu di tempat dan membalaskan dendam Putri Qinghe!

“Siapa yang berani untuk bergerak?!” Fu Jian meraung marah.

Xiang Shu tidak mengucapkan sepatah kata apa pun. Dia membalikkan kudanya dan keluar dari pengepungan. Seorang wakil jenderal memasang anak panah di busurnya, tapi kudanya dipukul oleh pedang Xiang Shu. Seluruh pasukan segera meledak dalam keributan. Murong Chong sangat marah, pasukan miliknya membentuk pengepungan besar-besaran saat mereka mengejar Xiang Shu!

Chen Xing memacu kudanya untuk mengikuti Xiang Shu. Dalam sekejap, tanah bergetar dengan hebat, dan pasukan Pingyang yang sangat besar mulai melaju dengan cepat melancarkan serangan dadakan mereka!

Namun, sekelompok kavaleri lain langsung menyerbu selama selang waktu ini. Semuanya turun satu demi satu dengan perisai dan tombak mereka yang terangkat saat menghadapi 100.000 kavaleri lapis baja Pingyang. Tuoba Yan memimpin dan menerobos dengan kudanya dan berteriak, “Penjaga Kekaisaran, patuhi perintahku! Bunuh siapa pun yang berani tidak mematuhi keputusan kekaisaran!”

Murong Chong meraung marah, “Touba Yan! Kau pengkhianat!”

Melihat bagaimana penjaga kekaisaran dan prajurit Pingyang memiliki batasan yang jelas di antara mereka, Murong Chong tidak mau menentang kekuasaan Fu Jian apapun yang terjadi, jadi dia hanya bisa melempar senjatanya ke tanah dengan penuh kebencian.

Xiang Shu sudah menjauh dari tepi barat Zaohe dan melewati jembatan kayu besar. Dengan suara peluit yang nyaring, orang-orang yang ada di bawah Istana Ahfang bangkit satu demi satu dan melihat ke arah dimana mantan bawahan 16 Hu itu pergi. Bahkan lebih banyak orang muda dari Chang’an berlari menuruni bukit, melompat ke kuda mereka, dan mengejar Xiang Shu.

Asap dan debu mengepul. Di bawah tatapan hampir 600.000 prajurit Chang’an, Xiang Shu memimpin ribuan prajurit dan warga sipil pergi begitu saja, meninggalkan jejak debu di belakang mereka.

“Jian Tou!”

“Kau harus menghadapi situasi ini sendiri, kita akan bertemu lagi suatu hari nanti!”

Pandangan Fu Jian tampak bertentangan saat dia melihat Xiang Shu membawa bawahannya untuk memacu kuda mereka ke Jalan Resmi dan meninggalkan Chang’an.

Tapak kaki kuda menghantam tanah di Jalan Resmi dengan keras, lalu mereka berbelok ke hutan belantara.

Di puncak musim panas, matahari bersinar cerah, rerumputan tumbuh tinggi dan burung oriole membumbung tinggi di langit. Setelah mereka meninggalkan Chang’an, langit cerah sejauh sepuluh ribu mil bisa dilihat dalam sekejap, seolah langit biru baru saja dimandikan.

Chen Xing menoleh untuk melihat pasukan besar yang ada di belakangnya, yang menimbulkan jejak debu yang mengepul di udara: yang pertama dilihatnya adalah 16 prajurit Hu tua, kemudian generasi yang lebih muda dari orang-orang Hu yang mengikuti Xiang Shu. Hampir 6.000 orang berkumpul di satu titik saat keluar dari Guanlong seperti ombak besar saat mereka pergi menuju ke utara.

“Apa yang akan kita lakukan?” Chen Xing memacu kudanya dan bertanya pada Xiang Shu yang sedang menunggang kuda di sampingnya.

Xiang Shu tidak menjawabnya. Dia melirik Chen Xing dan dengan sengaja memperlambat laju kudanya.

“Chang’an tidak menyambut kita, tidakkah kau mengerti?” Kata Xiang Shu dengan tenang.

Chen Xing bertanya sekali lagi, “Lalu kemana kita akan pergi sekarang?”

Xiang Shu menjawab, “Kita akan pulang ke rumah.”

“Pulang ke rumah?” Chen Xing kebingungan.

“Chi Le Chuan!” Seorang prajurit mengingatkan Chen Xing dalam bahasa Mandarin 4.

Suara jernih milik Xiang Shu terdengar. “Chi Le Chuan —- Di bawah pegunungan Yin —-“

Segera setelah lagu itu dimulai, lagu itu segera membawakan nada yang kuat dari pegunungan yang megah dan padang rumput yang luas.

“Langit menyerupai gubuk yang melengkung —-” Sekelompok orang Hu mengikuti di belakang Xiang Shu dan Chen Xing saat mereka bernyanyi dengan keras, “Menutupi seluruh daratan —-“

Chen Xing langsung terpesona oleh lagu ini. Dialek Xianbei aslinya jernih dan elegan, tapi cara bernyanyi Xiang Shu seperti paksaan yang terdengar seperti elang yang berteriak ke langit yang luas. Kerumunan itu bernyanyi secara serempak,

“Langit sangat luas dan biru, hutan belantara juga tidak terbatas —-“

“Saat angin bertiup, rumput meliuk rendah; sapi dan domba akan muncul —-“

Jia!” Xiang Shu memacu dan pergi dengan kudanya. Chen Xing bergegas mengejar dengan kudanya. Jalan Resmi benar-benar lurus karena mengarah ke jalur yang megah dan mengesankan di utara, dan itu mengarah ke Tembok Besar di bawah jalur yang mengagumkan.

Lautan rumput yang tidak terbatas dalam perjalanan mereka menuju ke Tembok Besar menyelimuti langit dan bumi. Pegunungan yang luas dan suci membentang di jalan keluar dari Tembok Besar. Kolam besar Hulunbuir berkilauan seperti permata, dan sungai yang berkilauan tampak seperti sabuk giok.

Di ujung Tanah Suci di mana gubuk melengkung menutupi kesedihan, di mana langit yang luas berwarna biru dan hutan belantara yang juga tidak terbatas, ada dunia yang luas di sana.


Volume Satu • Senluo Wanxiang • Berakhir

Ini adalah lagu di akhir ch 26/akhir dari vol 1


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Fenghuang = Phoenix.
  2. Beting adalah timbunan pasir atau endapan lumpur di muara sungai atau di laut.
  3. Cara yang ‘sopan’ seperti meminta sebuah pertandingan.
  4. Bahasa Han.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments