“Waktu tak terbatas”

Penerjemah : Kueosmanthus
Editor : Keiyuki17


“Xiao Kun,” kata Lu Ying dengan hangat. “Keinginan apa yang kamu miliki dan belum terpenuhi?”

“Aku membawakanmu mangsa,” kata suara Xiao Kun yang penuh1 dan dalam. “Selama kamu memakannya, kamu bisa sama sepertiku… hidup selamanya, tidak pernah mati… mengapa kamu tidak menerima persembahan dari Dewa Iblis?”

Lu Ying menjawab dengan tenang, “Di bawah kekuatan Cahaya Hati, aku sudah pulih. Jika itu satu-satunya keinginanmu, maka kamu bisa beristirahat dengan tenang sekarang.”

“Jauh dari itu -” kata suara Xiao Kun yang penuh dan dalam. “Ikut denganku –“

Bekas luka di wajah Xiao Kun menarik pandangan seseorang dan mengejutkan hati. Matanya sudah keruh, dan wajahnya kurus kering, kulitnya pucat. Banyak helai rambut putih di pelipisnya melayang tertiup angin. Ketika dia membuka mulutnya, gigi taringnya masih meneteskan darah ungu-hitam, dan sebuah lubang telah terbuka di dada kirinya. Jantungnya yang seharusnya ada di sana sudah hilang, dan sekarang yang bisa dilihat hanyalah tulang rusuk putih pucat.

“Ke mana?” Lu Ying bertanya dengan tenang.

“Ke tempat yang kamu janjikan padaku,” kata Xiao Kun. “Di mana tidak ada mimpi buruk dan tidak ada beban, dan kita tidak perlu lagi; demi manusia; memikul tanggung jawab untuk menghilangkan penyebab dari mimpi buruk.”

Lu Ying menjawab, dengan jelas dan singkat, “Aku tidak akan pergi.”

Xiao Kun merendahkan suaranya, menekan raungan di tenggorokannya saat dia melangkah maju, berkata perlahan, “Ikutlah denganku.”

Lu Ying berjalan maju perlahan, mengulurkan satu jari dan dengan lembut mengangkat dagu Xiao Kun, membuatnya sedikit mengangkat kepalanya. Xiao Shan segera menjadi khawatir dan ingin mengikutinya, tetapi dengan satu gerakan, Lu Ying menghentikannya, membuatnya tetap di tempatnya.

“Ini adalah obsesimu,” kata Lu Ying lembut. “Serigala Abu-abu yang melindungi hari yang cerah. Xiao Kun-ku, kamu memberikan detak jantungmu pada manusia; menganugerahkan kekuatan yao terakhirmu pada Xiao Shan. Namun mulai hari ini, kamu telah mempersembahkan daging dan darahmu kepada Dewa Iblis. “

Api hitam tiba-tiba meledak di sekitar Xiao Kun, dan tubuhnya terus bertambah besar, berubah menjadi serigala iblis besar setinggi hampir lima zhang![efn_note]satu zhang ≈ 3,33 m, jadi xiao kun berubah sebesar 16,65 m[/efn_note]

Lu Ying menghadapi serigala iblis besar yang menjulang di depannya seperti gunung, membuat sosoknya tampak sangat kecil dibandingkan dengannya, seolah-olah dia adalah sehelai daun di tengah badai yang sangat deras. Namun, di bagian atas dahinya, sepasang tanduk baru tumbuh seperti tanaman merambat, dan tanduk itu bersinar dengan cahaya mimpi!

Lu Ying menjawab dengan tenang, “Bagiku, kamu adalah dewa terbesar di dunia ini. Untuk mencurimu kembali dari cengkeraman Dewa Senjata, dan mengirimmu ke tempat peristirahatan yang damai, adalah satu-satunya takdirku.”

“Lu Ying!” Xiao Shan berteriak.

Lu Ying menjawab dengan sungguh-sungguh, “Phoenix, bawa mereka pergi dari sini, serahkan tempat ini padaku.”

Bentuk Rusa Putih tumbuh besar, menahan tanah melawan Serigala Abu-abu yang menyerang ke arah mereka. Dua makhluk purba yang besar memulai pertempuran besar-besaran yang mengguncang bumi di dataran bersalju!

“Chen Xing!” Che Luofeng berbalik, tetapi mata Chen Xing masih tertutup saat dia mengirim Cahaya Hati ke seluruh tubuh Xiang Shu.

Serigala Abu-abu dan Rusa Putih setinggi lima zhang bertabrakan satu sama lain di salju, dan Rusa Putih menguatkan tanduknya ke perut Serigala Abu-abu, mendorongnya ke belakang.

“Bawa semua manusia pergi dari sini!” teriak Rusa Putih dengan suara Lu Ying. “Phoenix!”

Chong Ming mengangkat kepalanya untuk menyaksikan adegan yang terjadi, namun dia masih tidak bergerak. Sebaliknya, dia menundukkan kepalanya lagi, alisnya berkerut dalam, mengamati Chen Xing dan Xiang Shu.

Serigala besar itu menggigit tengkuk Rusa Putih, mengirimnya terbang keluar, sebelum melolong ke langit, berlari ke depan.

Youduo bergegas keluar dari salju, melemparkan rantai ke depan. Itu melilit leher Serigala Abu-abu, tetapi Serigala Abu-abu mengirim Youduo terbang dengan sekali lemparan kepalanya. Pertempuran binatang buas besar menginjak-injak seluruh tanah bersalju, dan semua serigala mundur, hampir menginjak Chen Xing dan Xiang Shu beberapa kali.

Sementara Che Luofeng mengelak, dia juga melepaskan panah, tetapi dia masih tidak bisa melakukan apa pun pada binatang kolosal ini. Dia meraung, “Apakah dia masih belum bangun ?!”

“Kamu tidak memiliki tempat untuk pergi!” teriak Serigala Abu-abu. “Kamu bersumpah atas nama Ayah bahwa kamu dan aku akan hidup dan mati bersama, sampai hari Tanah Suci itu sendiri runtuh –“

Serigala Abu-abu menggigit Rusa Putih, menekannya ke dalam salju. Darah cerah meledak dari Rusa Putih, menciptakan genangan darah di salju Carosha.

Mata Xiao Shan melebar, pupil matanya mengerut, sebelum akhirnya dia mengeluarkan teriakan terakhir!

Pada saat itu, embusan energi menyapu tubuh Xiao Shan, tabrakan melesat langsung menuju ke langit!

Xiao Shan melayang ke udara, seluruh tubuhnya bersinar dengan cahaya yang menyilaukan, seperti ketika Xiang Shu mengambil bentuk Dewa Bela Diri Pelindung. Dia memanggil petir liar yang memenuhi langit, berdiri di sana seperti dewa petir dari langit menjungkirbalikkan petir yang telah disimpan di lapisan awan selama ribuan, atau bahkan puluhan ribu tahun, membiarkan semuanya turun hujan sekaligus!

Yang membedakannya dari Xiang Shu adalah bahwa Xiao Shan tidak menggunakan kekuatan Cahaya Hati melainkan menggunakan tubuhnya sendiri untuk menarik petir kepadanya.

“Lu Ying–!” Xiao Shan meraung dari dalam petir liar. Siluet samar dewa benar-benar muncul di belakangnya.

Tubuh Serigala Abu-abu langsung hancur di bawah petir liar, yang melanda seluruh tanah luas Carosha.

Chong Ming meraung dengan marah, “Kamu akan menghancurkan tanah utara! Berhenti!”

Lu Ying: “Xiao Shan!”

Chong Ming akhirnya tidak bisa menahan diri lagi, dan api yang berkobar keluar dari tangannya. Cahaya berkumpul, dan dia bersiap untuk mengirimkannya ke langit untuk menembak jatuh Xiao Shan. Kalau tidak, jika dia terus seperti ini, di bawah serangannya yang membabi buta, Serigala Abu-abu, Rusa Putih, dan bahkan Chen Xing, Xiang Shu, dan manusia lainnya semuanya akan menjadi debu.

Tapi saat Chong Ming hendak mengirimkan semburan Api Suci itu, cahaya keemasan di tubuh Chen Xing dan Xiang Shu menghilang pada saat yang bersamaan. Xiang Shu membuka matanya, wajah Chen Xing terpantul di pupil matanya. Namun, saat Chen Xing kembali ke dirinya sendiri, dia segera mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah langit.

Xiang Shu dan Chen Xing tampaknya mencapai pemahaman yang diam-diam dan tak terucapkan. Dalam sekejap, keduanya meraih tangan yang lain.

Xiang Shu meminjam momentum itu dan melompat ke udara. Jubah bela diri putih emasnya menutupi langit. Dengan kedutan di tangan kanannya, perisai itu muncul, dan dia mendorongnya ke langit.

Ada ledakan besar, seolah-olah dunia baru saja diciptakan, dan serangan cahaya yang tak terhitung jumlahnya datang menyerang, hanya untuk diblokir oleh perisai. Xiang Shu melambaikan perisai dan terbang ke langit. Seperti dewa bela diri yang turun dari langit, cahaya terang keluar darinya, samar-samar berbentuk naga melingkar!

Chong Ming segera menarik Api Suci kembali, berbalik dan terbang menuju Rusa Putih yang tergeletak di salju. Tubuh Lu Ying menyusut saat ia mengambil bentuk manusia, dan Chong Ming menekan satu tangan ke tubuh Lu Ying, membuat luka di lehernya perlahan sembuh.

“Dia tidak bisa membunuhnya,” kata Lu Ying. “Hanya aku yang bisa membiarkan Xiao Kun beristirahat dengan tenang.”

“Kekuatan Zhuyin,” Chong Ming mengangkat kepalanya, menjawab singkat kepada Lu Ying. “Kalian semua telah membangunkannya sekali lagi, dan itu semua adalah kehendak surga yang membuatnya seperti itu.”

Mata Lu Ying dengan cepat melebar.

Di bawah guntur liar Xiao Shan, puncak Carosha tampaknya menanggapi, dan bumi terus bergetar. Di bawah punggung bukit yang melingkar, seolah-olah jiwa dewa naga yang tertidur telah terbangun dan mengeluarkan raungan marah.

Pada saat yang sama, Xiang Shu menggunakan perisai untuk menangkis sambaran petir liar Xiao Shan, bergegas ke arahnya. Dengan ayunan bersih dari perisainya, dia menyerang.

Dengan dang, Cangqiong Yilie milik Xiao Shan terlepas dari genggamannya.

Dari dalam pegunungan terdengar seruan naga.

Dengan teriakan naga itu, dari tubuh Serigala Abu-abu, Rusa Putih, dan Xiang Shu, tiga gelombang energi naga yang kuat melepaskan diri dan sekali lagi berkumpul. Cangqiong Yilie, yang mewakili tubuh fisik, mulai berubah, dan siluet besar naga besar muncul di langit.

Chen Xing menangkap Xiao Shan saat dia jatuh, hanya untuk membeku pada saat itu juga. Dia lupa semua tentang Cahaya Hati saat dia mengangkat kepalanya untuk menonton adegan ini.

Waktu terus mengalir, dan saat jiwa naga Zhuyin, salah satu dari dua dewa penciptaan terbesar di dunia, berkumpul dan mengambil bentuk, waktu seolah terhenti.

Serigala Abu-abu meletakkan satu kaki di tanah, bangkit dengan susah payah, hanya untuk jatuh lagi.

Xiang Shu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah langit.

“Anak-anakku –” Suara Zhuyin bergema di seluruh dunia.

Xiao Shan membuka matanya dengan bingung. “…”

“Ayah?” Lu Ying bertanya tidak percaya. Dia bangkit dan mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah langit.

“Ayah.” Xiao Kun kembali ke wujud manusianya, berjuang di salju.

“Ayah?” Xiang Shu bergumam. “Siapa kamu?”

Wujud Zhuyin sepertinya menutupi keseluruhan wilayah Carosha, melingkari tanah ini di ujung dunia. Itu membuka mulutnya di tanah yang luas, dan aliran kekuatan meledak, bergegas menuju Serigala Abu-abu di atas salju.

Dalam sekejap mata, Darah Dewa Iblis menghilang seperti asap, menghilang dengan semua kebencian. Dunia dipenuhi dengan titik-titik cahaya yang perlahan naik, seperti salju halus yang melayang dari bumi di bawah menuju langit di atas.

“Lupakan semua perjuangan yang telah membuatmu sakit dan menyesal,” suara keras Zhuyin bergema di seluruh dunia. “Dalam lautan waktu yang luas, itu tidak lebih dari gelombang kecil yang lenyap dalam sekejap.

“Waktu tidak terbatas.”

Sosok Zhuyin perlahan memudar.

Xiang Shu, jubah bela dirinya terbang di sekelilingnya, melayang ke bawah.

“Hanya ada… keabadian…”

Siluet Zhuyin benar-benar menghilang, sebelum sembilan tanda aneh muncul sebagai tato di lengan Xiang Shu, masing-masing berkedip saat terbentuk. Mereka melilit lengannya, dari pergelangan tangan hingga siku, seperti naga melingkar.

Xiang Shu: “…”

Xiang Shu mengangkat tangan kirinya dan membungkusnya di sekitar tato di lengan kirinya, dan jubah bela dirinya menghilang begitu saja.

“Xiang Shu!” Chen Xing berlari, memeluknya erat-erat.

Kue:bukankah Chen Xing menangkap Xiao Shan yang terjatuh? Apakah dia sudah meletakkannya atau langsung dilempar kembali kemudian berlari untuk memeluk Xiang Shu?

Che Luofeng menyingkirkan busur dan anak panahnya, menghela nafas lelah, tapi dia hanya berdiri di kejauhan, tidak mendekat.

Xiang Shu memeluk Chen Xing, berkata, “Kau … kau benar-benar datang mencariku jauh-jauh ke sini, kau benar-benar datang!”

“Kata-kata macam apa ini!” Chen Xing mendorongnya ke samping, marah. “Bahkan jika kau berlari ke ujung dunia, aku juga akan datang mencarimu!”

Xiang Shu bergegas menjelaskan. “Bukan itu maksudku… aku… aku hanya tahu kau akan datang!

Anda?” Dia menoleh dan bertanya, bahkan saat dia memegang tangan Chen Xing.

Che Luofeng sudah benar-benar terpana, dan dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke langit.

“Naga … naga,” kata Che Luofeng. “Itu naga?”

“Itu berasal dari tubuhku, Xiao Kun, Shulü Kong, dan Xiao Shan,” kata Lu Ying, “yang terakhir dari kekuatan naga. Ini adalah perlindungan yang ditinggalkan Zhuyin-daren di dunia.”

Lu Ying berjalan menuju Xiao Kun di salju, dalam kondisi yang sudah tenang. Chen Xing dan Xiang Shu berpisah juga, dan mereka berbalik dan berjalan ke arah Xiao Kun. Chong Ming juga datang, dan semua orang berkumpul di sekitar sisi Xiao Kun.

Wajah Xiao Kun pucat pasi, dan dia berbaring di sana di salju, rambutnya tidak terikat. Darah ungu-hitam merembes keluar dari bawah tubuhnya, mewarnai salju putih dengan sepetak hitam pekat.

“Xiao Shan, apakah kamu sedikit lebih baik? Ayo, lihatlah Xiao Kun,” kata Lu Ying. “Kamu belum melihat wujud manusianya.”

Mata Xiao Shan meneteskan air mata saat dia berlutut di samping Xiao Kun.

“Kamu sudah dewasa …” kata Xiao Kun lembut, matanya terpejam sambil memegang tangan Xiao Shan. “Aku memiliki mimpi yang sangat, sangat panjang. Dalam mimpi itu, aku juga melihatmu, kamu yang sedikit lebih tua dari kamu sekarang. Kamu masih muda, dan kita berada di Pegunungan Yique, bersatu kembali dalam mimpi… maaf, Xiao Shan…”

Xiao Shan menatap Xiao Kun lekat-lekat.

“Ketika kamu berumur satu tahun,” Xiao Kun berkata perlahan, “Aku membawamu kembali ke Carosha, dan aku membayangkan kamu akan memaafkanku untuk ini. Meskipun kamu bukan anakku, tapi, sekali saja, bisakah kamu memanggilku…”

“Ayah,” Xiao Shan merintih.

Sudut mulut Xiao Kun terangkat sedikit tersenyum.

“Maafkan aku, Lu Ying,” kata Xiao Kun. “Karena dalam hidup ini kita tidak akan bisa bersama dalam hidup dan mati, aku hanya bisa pergi dulu. Aku akan menunggumu dalam siklus reinkarnasi…”

Lu Ying memperhatikan Xiao Kun dengan tenang.

“Aku berjanji padamu,” kata Lu Ying dengan hangat, “seperti bagaimana kamu dan aku bersumpah di depan Ayah, mulai sekarang, sampai akhir zaman.”

Lu Ying menekan satu tangan di dahi Xiao Kun, dan Xiao Kun sekali lagi berubah menjadi Serigala Abu-abu, sebelum dia mengeluarkan cahaya redup dan larut menjadi titik cahaya yang tak terhitung jumlahnya. Mereka naik ke langit, kembali ke vena ilahi.

Satu ke kemudian, di tengah dataran bersalju.

Xiang Shu menunduk untuk melihat lengannya sendiri, dan Chen Xing mengulurkan tangan untuk menyentuh juga. Sembilan sigil2 itu sudah menghilang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Chong Ming berkata, “Pada saat terakhir itu, meskipun aku tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi, dugaanku adalah bahwa Serigala Abu-abu dan Rusa Putih sedikit banyak melepaskan kekuatan naga di tubuh mereka dan memberikan semuanya kepadamu, di mana ia menyatu dengan kekuatan naga di tubuhmu.”

“Kekuatan naga?” Xiang Shu bertanya, menemukan ini sangat tiba-tiba. “Dan mengapa tepatnya aku memiliki kekuatan naga?”

Sudut mulut Chen Xing berkedut saat dia melirik Chong Ming, lalu ke Xiang Shu.

Xiang Shu mengerutkan kening. “Apakah kalian tahu sesuatu?”

Xiang Shu akhirnya mulai mencurigai sesuatu. Kenyataannya, sejak dia bertemu Chen Xing, kecurigaan ini tidak pernah berhenti.

“Jelaskan padaku dengan jelas, sekarang juga,” kata Xiang Shu kepada Chen Xing, setelah melihat bahwa Chong Ming tidak menjawab. “Berapa banyak hal lagi yang belum kau katakan padaku? Mengapa kau menemukanku sebagai Pelindungmu, mengapa aku memiliki apa yang disebut ‘kekuatan naga’ ini?! Dan siapa sebenarnya orang ini?”

Che Luofeng: “Anda, kamu … seorang naga?”

Xiang Shu sendiri juga tersesat dalam kabut kebingungan. Ada terlalu banyak hal untuk diragukan dalam perjalanan ini, tetapi untuk semua itu, dia tidak bisa mendapatkan jawaban.

Chen Xing: “Orang yang mengenakan pakaian sangat sedikit ini adalah raja yao, tapi kami tidak memiliki hubungan lain. Dia berutang permintaan padaku, itulah sebabnya dia mengikuti kita selama ini. Jangan pedulikan dia sama sekali, anggap saja dia tidak ada.”

Chong Ming: “…”

Sama seperti Chen Xing yang berkonflik, berpikir tentang bagaimana menceritakan semuanya tanpa keberatan, Lu Ying dan Xiao Shan berjalan keluar dari Carosha, berdiri di depan mereka.

“Jangan tanya apa-apa, Shulü Kong,” kata Lu Ying. “Ketika waktunya tepat, aku akan menjelaskannya kepadamu.”

Ekspresi Xiang Shu adalah salah satu kebingungan. Lu Ying melanjutkan, “Kembalilah. Aku berjanji, akan ada penjelasan untuk semua ini pada akhirnya. Di periode mendatang, Youduo akan membantu melindungi Carosha; setidaknya, kita tidak perlu khawatir tentang Shi Hai yang meletakkan Array Sepuluh Ribu Roh di sini. Bagaimana dengan kalian semua?”

Xiang Shu: “Dan siapa kamu? Kenapa aku merasa seperti pernah melihatmu sebelumnya?”

Xiang Shu menilai Lu Ying, merasa seolah-olah dia pernah mengenalnya sebelumnya. Bahkan geografi tempat ini tampak sangat akrab, tetapi dia benar-benar tidak dapat mengingatnya.

Chen Xing berkata, “Bagaimana kalau kita bicara lebih banyak saat kita kembali? Apakah kita akan kembali ke Karakorum dulu? Itu masih beberapa hari lagi. Tunggu, Lu Ying! Aku tiba-tiba… memikirkan suatu tempat.”

Chen Xing ingat sesuatu yang selalu dia abaikan. Mungkin menggunakan metode semacam ini akan sedikit membantu mengurangi kecurigaan Xiang Shu!

“Xiang Shu, aku ingin pergi bersamamu ke suatu tempat. Mungkin di sana… kita bisa menyelesaikan beberapa kecurigaan ini… di antara kita?”

Kebetulan Lu Ying dan Chong Ming juga ada di sana. Tidak ada waktu yang lebih cocok daripada sekarang.

Xiang Shu bertemu tatapan Chen Xing sejenak, merenung, sebelum dia kemudian bertemu dengan tatapan Che Luofeng, yang menyimpan sedikit ketakutan.

Xiang Shu mengangguk, berkata, “Anda.” Dengan itu, dia berjalan menuju Che Luofeng, ingin menepuk bahunya, atau mungkin memeriksa apakah dia terluka.

Che Luofeng jelas takut pada Xiang Shu, dan dia tidak bisa menahan diri untuk mundur setengah langkah.

Xiang Shu merasakan gerakan kecil ini, jadi dia tidak bergerak untuk menyentuhnya, alih-alih memerintahkan, “Kau pergi lakukan perjalanan kembali dan meneruskan perintah ini pada Shi Mokun. Musuh telah ditangani, dan kau dapat kembali ke Chi Le Chuan sekarang.”

Che Luofeng mengangguk, menaiki kudanya, dan pergi.

“Aku percaya padamu,” kata Xiang Shu kepada Chen Xing. “Katakan padaku, kemana kita akan pergi?”

Chen Xing ragu-ragu sejenak, sebelum berkata, “Aku harus menjelaskan penyebabnya terlebih dulu padamu. Xiang Shu, di tubuhmu, ada kekuatan terakhir yang ditinggalkan oleh dewa naga Zhuyin. Dan setelah dewa naga kuno itu jatuh dari surga, dia berubah menjadi Pegunungan Carosha ini.”

Semua orang mengangkat kepala mereka, melihat ke arah Carosha yang sekali lagi diselimuti awan. Sinar matahari menyinari lapisan awan, menyebarkan sinar keemasan yang tak terhitung jumlahnya, mengubah gunung-gunung ini di ujung dunia menjadi alam peri yang sesungguhnya.

Lu Ying menjelaskan, “Aku dan Serigala Abu-abu, Yuan Kun, adalah yao dari tanah utara. Setelah Zhuyin-daren jatuh pada masa sebelum sejarah, dia menganugerahkan dua porsi energi naga yang dia tinggalkan kepada kami. Setelah itu, Serigala Abu-abu dan Rusa Putih menjadi pelindung makam Dewa Naga di Carosha. Ketika Zhuyin membuka matanya, itu adalah siang, dan ketika dia menutupnya, itu adalah malam, jadi Serigala Abu-abu melindungi hari yang cerah, dan Rusa Putih melindungi malam yang panjang.

“Kemudian, aku dan milikku menjadi mangsa korupsi darah Dewa Iblis Shi Hai,” lanjut Lu Ying. “Serigala Abu-abu tidak sepenuhnya disempurnakan. Mungkin sedikit energi naga itu membantunya menjaga hati terdalamnya, atau mungkin ia tidak bisa melepaskan obsesinya, berharap menemukan kekuatan naga untuk menyembuhkanku. Kamu memiliki jenis energi naga yang sama di tubuhmu seperti kami, jadi kamu menjadi mangsanya. Karena menyebabkan semua masalah yang kamu alami, aku sangat menyesal. “

“Baiklah, aku tahu ini sekarang, tapi ibuku adalah Xiang Yuyan,” kata Xiang Shu, “dan ayahku adalah Shulü Wen. Mereka berdua adalah manusia, jadi bagaimana kekuatan naga masuk ke tubuhku?”

Chong Ming tiba-tiba tersenyum, dan dia berjalan ke satu sisi, berpikir, aku ingin melihat bagaimana kau akan menjelaskan yang satu ini.

“Ibumu bukan manusia biasa,” kata Chen Xing. “Dia juga seorang Dewa Bela Diri Pelindung.”

Xiang Shu: “!!!”

Chen Xing berkata, “Dia tidak pernah memberitahumu sebelumnya, kan? Dugaanku, dia mungkin lupa, karena Kjera mencuri sebagian ingatannya. Dia kemudian melarikan diri ke tempat ini, menikahi ayahmu, dan melahirkanmu.”

Xiang Shu sudah sedikit bingung, dan dia bertanya, “Tapi apa hubungannya ini denganku dan kekuatan naga?”

Xiao Shan berkata, “Karena kau adalah Mutiara Dinghai.”

Xiang Shu: “Apa? Dan apakah Mutiara Dinghai itu? Aku apa?”

“Tidak, tidak,” kata Chen Xing segera. “Bukan itu, kau bukan lagi Mutiara Dinghai sekarang!”

Lu Ying: “Xiao Shan, jangan menambah kebingungan lagi.”

Chen Xing berjalan ke salah satu kuda, berpikir dalam-dalam sejenak, sebelum dia melepaskan tali kekangnya, berkata, “Adapun banyak detail mengenainya, aku juga tidak jelas, tapi mungkin itu bisa memberi kita beberapa jawaban. Mungkin akan lebih jelas menggunakan metode semacam ini untuk menjelaskannya padamu.”

Xiang Shu: “????”

Chen Xing menepuk kepala kuda itu, dan Xiang Shu memandangnya dengan aneh, berkata, “Itu?”

Chen Xing menjawab dengan “en” dan melepaskan kendali. Xiao Shan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Apakah kuda ini bisa berbicara?”

Chen Xing kehilangan itu. “Tentu saja dia tidak tahu caranya (berbicara)! Apakah itu terlihat seperti makhluk abadi? “

Setelah kendali kuda itu dilonggarkan, kuda itu ragu-ragu sejenak, sebelum berbalik dan berlari ke dataran bersalju ke arah yang berbeda.

“Ikuti, ayo pergi,” kata Chen Xing, sebelum dia menaiki kuda lain, mengulurkan tangan ke Xiang Shu.

Xiang Shu naik, duduk di belakang Chen Xing, melingkarkan lengannya di pinggangnya saat dia mengguncang kendali sekali.

Lu Ying mengambil bentuk Rusa Putih, dan Xiao Shan memanjat punggungnya, sementara Chong Ming berubah menjadi burung phoenix. Semua orang mengikuti kuda tua yang tahu jalan, berlari menuju ujung dataran bersalju.

Xiang Shu berkata kepada Chen Xing di depannya, “Ibuku adalah Dewa Bela Diri Pelindung, dan untuk bersembunyi dari Kjera, dia datang ke Saibei. Dan karena serangkaian kebetulan, aku mendapatkan kekuatan naga, apakah seperti ini?”

“Itu bisa dijelaskan seperti itu,” kata Chen Xing. “Tapi jangan pedulikan dari mana kekuatan nagamu berasal, karena ini adalah sesuatu yang sangat rumit untuk dihubungkan dengan yang lainnya. Adapun apa yang terjadi pada awalnya dengan ibumu, aku juga belum mengetahuinya sepenuhnya … meskipun … Xiang Shu, emosimu tampaknya sangat baik kali ini.

Xiang Shu: “?”

Chen Xing tersenyum ketika dia berkata, “Jika ini seperti biasa, maka kau akan meneriakiku dan bahkan memukuliku, membuatku menjelaskan semuanya dengan jelas lebih cepat. Kau bilang sebelumnya, apa yang paling kau benci adalah dibohongi.”

Xiang Shu: “Kapan aku pernah mengangkat tangan untukmu? Ya, aku benci dibohongi, tapi aku tahu bahwa beberapa kata yang kau pilih untuk tidak diucapkan adalah karena kau memperhatikanku.”

Chen Xing menjawab dengan sedih, “Ya, aku khawatir jika kau mempelajarinya sekaligus, kau akan sedikit tidak tahan …”

Xiang Shu: “Sama seperti perasaanku saat melihat Che Luofeng takut padaku.”

Chen Xing: “Kau terlalu kuat, dan itu terkadang membuat orang takut.”

“Kau tidak takut,” jawab Xiang Shu dengan sungguh-sungguh.

Chen Xing: “Berhentilah memikirkannya. Mungkin kita akan segera menemukan jawabannya, tapi apa pun hasilnya, kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan mempersulit dirimu sendiri.”

Salju sudah mulai turun lagi. Saat mereka berlari kencang, kuda itu telah membawa mereka lebih dari sepuluh li jauhnya dari Carosha, menuju ujung pegunungan di timur.

“Jadi,” Xiang Shu tiba-tiba bertanya, setelah lama terdiam. “Datang ke Xiangyang untuk mencariku juga karena aku memiliki kekuatan naga?”

“Tidak,” kata Chen Xing, segera meniadakan tebakan Xiang Shu. “Itu jelas bukan alasannya! Ketika aku melihatmu, aku sama sekali tidak tahu bahwa kau memiliki kekuatan naga ini. Aku bahkan tidak tahu siapa kau, aku juga tidak tahu bahwa kau adalah putra Xiang Yuyan, keturunan keluarga Xiang.”

Penjelasan ini adalah salah satu yang dapat diambil oleh Xiang Shu. Bagaimanapun, dalam ingatannya yang campur aduk, insting membuatnya mempercayai Chen Xing. Dia sekali lagi tenggelam dalam pemikiran yang dalam.

“Biarkan aku melihat tanganmu?” Chen Xing menoleh, mengangkat lengan Xiang Shu di sekitar lengan yang dia gunakan untuk memegang kendali, memperlihatkan lengan bawahnya yang kuat. Jari-jarinya menggosok dari pergelangan tangan Xiang Shu sampai ke lekukan sikunya. Garis tanda yang tampak seperti tato itu tampak sangat samar – itu adalah sembilan tanda yang sama persis di sepanjang Pedang Acala!

Chen Xing merasakan firasat. Mungkin dewa naga menggunakan metode semacam ini untuk menyerahkan Pedang Acala kepada mereka?

Tapi bagaimana sembilan sigil ini seharusnya digunakan?

Xiang Shu merasa sedikit gatal karena sentuhan Chen Xing, dan dia berkata, “Dan apa artinya ini?”

Chen Xing menjelaskan. Tombak iblis yang telah dicuri oleh Wang Ziye pada awalnya adalah pusaka keluarga dari keluarga Xiang. Ini adalah sesuatu yang sudah lama dipahami Xiang Shu, dan Chen Xing dan Xie An dan yang lainnya juga telah mendiskusikannya berkali-kali, tetapi mengenai Pedang Acala, tiba-tiba muncul pertanyaan lain –

“Karena kau tidak tahu ibuku adalah Xiang Yuyan,” kata Xiang Shu, “maka secara logis, kau seharusnya tidak menyerahkan Pedang Acala padaku, bukan begitu?”

Ketika Xiang Shu sampai pada titik ini dalam pikirannya, ekspresi curiga yang langka muncul di wajahnya, seolah-olah dia telah dibohongi. Tapi dia masih mempercayai moral Chen Xing dan menunggu dia menjelaskan.

Ketika Chen Xing mendengar kata-kata ini, jantungnya berdebar sekali, dan dia bergegas membela diri. “Bukan itu! Pada awalnya, aku tidak tahu bahwa kau berasal dari klan Xiang, dan aku tidak selalu berusaha menemukan putra Xiang Yuyan untuk mewarisi senjata ilahi ini. Ternyata Pelindung itu adalah kau, jadi aku ingin mencobanya… jika bukan kau, maka mungkin orang lain juga bisa menggunakan Pedang Acala … apa yang kukatakan?”

Bahkan Chen Xing sendiri sedikit bingung sekarang. Dia sangat merasakan beberapa emosi Xiang Shu – dia secara tidak sadar berharap bahwa Chen Xing datang untuk mencarinya karena itu adalah produk dari takdir mereka, bukan karena motif tersembunyi.

Tapi sekarang Xiang Shu bahkan lebih ragu, dan ingatannya tentang masa lalu tampaknya menjadi semakin tidak nyata. Beberapa tampaknya adalah hal-hal yang telah terjadi sebelumnya, tetapi ketika dia memikirkannya dengan cermat, dia tidak dapat mencocokkan garis waktu. Banyak hal ini terlalu sulit untuk dia atur dalam waktu sesingkat itu, tetapi kata-kata Chen Xing juga tampaknya sangat masuk akal.

Sepanjang perjalanan ini, Chen Xing masih membawa busur dan anak panahnya, dan ketika dia tidak sibuk dengan sesuatu atau lainnya, dia akan menembakkan beberapa panah ke beberapa benda bergerak. Jika phoenix terbang di sampingnya, dia akan menggunakan panah kayu dengan ujung terpotong dan menggunakannya sebagai latihan target. Phoenix secara alami tidak bisa ditembak olehnya. Setiap kali panah terbang ke arahnya, ia terbang lebih tinggi ke langit, dan setelah beberapa saat akan sedikit turun, hanya untuk Chen Xing menembakkan panah lain ke arahnya.

Phoenix kesal dengan tindakan Chen Xing, dan dia bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

Chen Xing menjawab, “Berlatih.”

Xiang Shu juga sedikit terganggu oleh Chen Xing. Sejak mereka meninggalkan Chang’an, tidak, bahkan ketika mereka masih di Chang’an, dia telah menyeret Xiang Shu untuk mengajarinya cara memanah dengan menunggang kuda. Setiap hari, dia membawa busur dan pergi ke mana-mana untuk menembakkan panah, dan dia bahkan lebih rajin daripada ketika Xiang Shu sendiri sedang belajar.

“Berhentilah bermain-main dengannya,” kata Xiang Shu.

Chen Xing menjawab, “Kalau begitu, kau ambil kendali, dan aku akan duduk di belakangmu. Xiao Shan, berlatihlah denganku sebentar.”

Xiao Shan menjawab dengan “wo” sekali, dengan posisi masih menunggangi Rusa Putih. Rusa Putih sangat ringan di kakinya, dan kecepatannya jauh lebih cepat daripada kuda yang berlari paling cepat sekalipun. Kukunya bahkan tidak menyentuh tanah saat ia bergerak seperti angin melintasi lapangan bersalju; itu benar-benar target terbaik untuk berlatih. Setelah Chen Xing mengosongkan tabungnya, Rusa Putih kemudian mengambil putaran lain, membawa panah kembali untuknya. Karena mereka tidak melakukan hal lain dalam perjalanan ini, memanah menjadi satu-satunya kesenangan Chen Xing.

Tidak sampai langit mulai menjadi gelap, phoenix terbang, berkata, “Kamu yakin itu bisa membawa kita ke tempat khusus?”

Kuda yang memimpin di depan berhenti, melihat ke kiri dan ke kanan di salju yang tipis.

Xiao Shan berkata, “Sepertinya hilang!”

Rusa Putih menambahkan, “Kemana tepatnya kalian semua mencoba pergi?”

Chen Xing mengangkat matanya untuk melihat ke kejauhan, hanya untuk melihat bahwa kuda itu juga tampak penuh keraguan saat berbalik dan mulai berlari ke arah yang berbeda.

Chen Xing: “Ikuti sebentar lagi dan lihat?”

Dia selalu menebak bahwa kuda ini ingin membawa mereka ke suatu tempat yang dulu pernah dikunjungi Xiang Yuyan, tetapi bagaimana jika bukan itu masalahnya? Jika tidak, maka itu akan sangat memalukan.

Dengan itu, Xiang Shu membalikkan kudanya. Kedua orang yang kebingungan, dengan seekor kuda bingung yang telah tersesat, menuju ke kedalaman padang bersalju.

“Aku perlu sedikit waktu untuk mengatur hal-hal di kepalaku,” kata Xiang Shu pada akhirnya. “Bagaimana kalau kita kembali ke Chi Le Chuan terlebih dulu, kenapa kita mengikutinya?”

Chen Xing berkata, “Ayo pergi sedikit lebih lama, dan jika tidak ada hasil pada saat matahari terbenam, kita akan kembali.”

Kuda itu telah sampai di ujung Carosha. Rasi bintang naik; bintang kutub bersinar dengan cahaya di langit malam, dan gagang gayung3 menunjuk ke suatu lokasi di tanah. Salju telah berhenti, dan kuda itu melambat di ujung dataran terpencil itu, di mana tidak ada kehidupan, tidak ada pohon, tidak ada gunung, tidak ada danau. Di dataran luas dan datar yang dilalui oleh seekor kuda, di dalam hutan belantara, berdiri sebuah menara batu yang aneh.

Chen Xing segera mulai berteriak keras, dan dia dan Xiang Shu turun, berlari ke menara batu.

Ini adalah satu set reruntuhan yang bahkan lebih kuno daripada yang ada di Karakorum dan di tepi Danau Hong, tempat artefak disimpan. Bagaimana itu muncul di tempat ini?

Tidak ada jejak tempat tinggal manusia di sekelilingnya, dan bahkan penampakan binatang pun sangat jarang. Menara batu telah melewati angin dan salju selama bertahun-tahun, dan berdiri dengan tenang di tanah yang membeku, seolah-olah sudah ada di sana selama ribuan tahun.


Komentar Penerjemah :

P.s From Kue:

Dear readers,

sorry for the late up due the prank i did towards our proofreader, and my seniors sorry for the prank. Hehehe. Stay safe, healthy and be happy guys. May god always be with us and see you next time. ❤(っ^▿^)

Best regards,

Kue.

Ky: Besok Kueosmanthus lagi ya yang ngetl🤣. Setuju kan kak Jeffery Liu, kak Rusmaxyz/joke


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

Footnotes

  1. Rich voice; penuh dan lembut dalam nada dan kualitas
  2. Simbol tertulis atau gambar tato yang dianggap memiliki kekuatan magis.
  3. Bintang Biduk.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments