Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Awal musim panas tiba, dan Kota Jiangbei menyambut datangnya ujian tengah semester.
Qiu Ci menunjukkan performa yang stabil seperti biasanya, sedangkan Mu Yu, yang sebelumnya selalu berada di peringkat pertama kelas reguler, kali ini turun ke peringkat lima.
Ketika Chu Qing melihat hasil ujian tersebut, hatinya sedikit diliputi kekhawatiran. Saat Mu Yu sedang berada di ruang belajar, Chu Qing diam-diam memanggil Qiu Ci untuk berbicara secara pribadi.
“Mu Yu… apakah dia sedang jatuh cinta?” tanyanya, penuh kehati-hatian.
Qiu Ci bersandar santai di sofa, menaikkan alisnya. “Tidak.”
Meskipun dia tahu bahwa Mu Yu memang memiliki seseorang yang disukainya, tapi dia bukanlah tipe orang yang akan mengkhianati saudaranya.
“Kalau begitu, apakah ada hal yang sedang mengganggu pikirannya? Kamu yang paling sering bersamanya. Apa kamu melihat sesuatu yang tidak biasa?”
Qiu Ci mencoba mengingat dengan saksama. Si bodok kecil itu setiap hari selalu berangkat dan pulang sekolah bersamanya, akhir pekan pun dihabiskan bersama. Hampir seluruh waktu Mu Yu dihabiskan dengannya. Tidak mungkin ada ruang untuk merasa terganggu.
Kecuali…
Dialah sumber masalah si bodoh kecil itu.
Mungkinkah? Qiu Ci menggeleng dalam hati, merasa itu terlalu mustahil, lalu menjawab dengan tenang, “Tidak ada. Kalau Ibu begitu peduli pada nilainya, kenapa Ibu tidak peduli padaku, anak kandung Ibu sendiri?”
Chu Qing mendengus kesal. “Tentu saja Ibu ingin peduli pada putra kesayangan Ibu, tapi apa gunanya? Peduli pun tak ada hasilnya.”
Nilai Qiu Ci memang tidak pernah bagus, dan itu murni karena dia sendiri tidak ingin mencurahkan perhatian pada pelajaran.
Qiu Ci mengangguk setuju. “Memang tidak ada gunanya.”
Chu Qing merenung, mencoba menebak-nebak. “Jangan-jangan karena dia tidak ikut kelas malam, jadi dia tertinggal pelajaran.” Tidak mengikuti kelas malam memang keinginan Mu Yu sendiri, dan Chu Qing menghormati keputusan itu.
Qiu Ci mengaku, “Mungkin juga karena aku sering mengajaknya keluar bermain, jadi dia kehilangan semangat belajar.”
Asalkan Chu Qing tidak mengaitkannya dengan urusan percintaan, itu sudah cukup baginya.
Sebenarnya Chu Qing sempat ingin meminta Qiu Ci untuk lebih jarang mengajak Mu Yu keluar, tapi setelah dipikirkan kembali, hidup ini butuh keseimbangan antara kerja keras dan hiburan. Jika Qiu Ci tidak mengajaknya bermain, kemungkinan besar Mu Yu hanya akan mengurung diri di rumah sambil terus belajar.
“Aku akan membujuknya untuk kembali ikut kelas malam. Dan juga akan lebih jarang mengajaknya keluar.” Qiu Ci menggigit apel di tangannya sambil memberikan solusi.
Dia juga sudah memikirkan bahwa orang yang disukai si bodoh kecil itu kemungkinan besar berasal dari Kelas Delapan. Jadi, mengikuti kelas malam di sekolah jelas akan memberi keuntungan tersendiri.
Sementara Chu Qing merasa lega melihat hubungan kedua anak itu begitu akrab, Qiu Ci telah selesai dengan apelnya dan melangkah naik ke lantai atas.
Dia lebih dulu menuju kamar Mu Yu. Namun, ketika mendapati bahwa Mu Yu sedang mandi, dia pun berbalik dan masuk ke kamarnya sendiri.
Sambil menunggu, Qiu Ci berbaring di tempat tidur dan tanpa sadar mulai memikirkan hidupnya. Kenangan-kenangan masa lalu satu per satu bermunculan, terlebih lagi kenangan bersama Yu Shan.
Kalau dipikir-pikir, sejak kapan gadis itu berhenti memanggilnya “Ci Ge” dengan suara manja seperti dulu?
Dan sejak kapan gadis yang dulu kesulitan menjawab soal aritmetika sederhana itu berubah menjadi seorang juara kelas?
Qiu Ci tidak bisa mengingat dengan pasti. Semua perubahan itu terjadi begitu halus, tanpa disadari. Ketika dia tersadar, si gadis cengeng yang dulu selalu menangis di pelukannya, kini telah menjadi seorang remaja perempuan yang mandiri dan tak lagi bergantung padanya.
Apakah semakin besar perbedaan di antara mereka, maka semakin jauh pula hubungan yang ada?
Qiu Ci tiba-tiba duduk tegak dan membuat satu keputusan.
Bahkan dia tidak sempat mengenakan sendal, langsung berjalan ke pintu seberang dan masuk tanpa mengetuk. “Aku ada urusan ingin dibicarakan.”
Namun, ucapannya terhenti seketika, sebab suasana di dalam kamar tidaklah sunyi. Dari laptop yang terbuka di atas meja, terdengar suara yang tidak senonoh. Dari sudut pandangnya, dia bahkan bisa melihat sepotong adegan pada layar.
Laptop itu buru-buru ditutup. Wajah orang di ruangan itu memerah seketika, dan Qiu Ci mundur beberapa langkah. “Aku yang salah karena tidak mengetuk. Silakan lanjutkan.”
Begitu pintu tertutup, segala pikiran kotor yang tadinya berputar di kepala Mu Yu langsung sirna. Dia hanya ingin menghilang dari dunia.
Membenamkan wajahnya di atas meja, penuh penyesalan. Dia tidak seharusnya menuruti rasa ingin tahunya…
Mu Yu menenangkan diri, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Di mengangkat tangannya yang agak kaku dan menggertakkan gigi untuk membuka pintu.
Sementara itu, di kamarnya sendiri, Qiu Ci sedang memikirkan bagaimana cara memulai pembicaraan supaya tidak membuat suasana semakin canggung.
Anak itu sepertinya agak sensitif. Apa dia bisa mati karena malu dan marah? Haruskah aku bersikap seperti kakak yang penyayang dan memberinya nasihat?
Ketukan di pintu menyadarkan Qiu Ci. Ia tidak menutup pintu saat masuk tadi, dan ia bisa melihat anak laki-laki itu berdiri di pintu ketika ia mendongak.
Qiu Ci memperhatikan rona merah yang masih tersisa di wajahnya, lalu berpikir, Ternyata benar-benar memalukan baginya. Sudah selama ini masih saja memerah. Bahkan lehernya pun tampak berwarna merah muda.
Sebagai seorang pria, bukankah kulitmu terlalu pucat? Apa kalau dia malu, seluruh tubuhnya akan jadi merah muda begitu?
Apakah gadis yang disukai si bodoh kecil menyukai tipe seperti ini? Haruskah aku mengajaknya berolahraga lebih banyak di bawah sinar matahari?
Semakin dipikirkan, dia semakin bingung. Qiu Ci menatap Mu Yu cukup lama hingga membuat pemuda itu merasa semakin tidak nyaman. Tapi, pada akhirnya tetap harus ada seseorang yang memecah keheningan itu.
Dia menatap jari kakinya dan bertanya, “Apa yang kamu inginkan dariku tadi?”
Ucapan itu menyadarkan Qiu Ci pada tujuannya. Dia pun masuk ke pokok pembicaraan. “Aku ingin mengajukan permohonan ikut kelas malam. Kamu mau ikut?”
Nada bicaranya begitu wajar. Mu Yu tidak tahan untuk tidak meliriknya. Melihat tatapan Qiu Ci yang jujur dan tenang, dia pun merasa sedikit lega.
Ketika Qiu Ci masuk, layar laptop hanya menangkap bagian belakang salah satu orang, tanpa suara. Qiu Ci mungkin tidak akan mengira mereka berjenis kelamin sama.
Melihat ketidaknyamanan di wajah Mu Yu, Qiu Ci pun menjaga nada santainya. “Sebagai saudara, bukankah kita harus saling membantu?”
Tak tahu apa maksud dari semua ini, Mu Yu tetap mengangguk.
Qiu Ci berdiri, menghampiri Mu Yu dengan wajah serius, menepuk bahunya, dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Kalau begitu, tugas penting membimbingku akan kuserahkan kepadamu. Mulai sekarang, kita akan bekerja keras bersama, belajar dengan giat, dan terus maju setiap hari.”
Setelah berkata demikian, wajahnya menyunggingkan senyum.“Sudah, tidak ada hal lain, kamu boleh kembali. Oh, dan lain kali aku akan ingat untuk mengetuk pintu.”
Andai kalimat terakhir itu tidak diucapkan, Mu Yu mungkin sudah merasa baikan. Namun karena itu, wajahnya kembali memerah, dan dia segera berbalik, berjalan cepat dan keluar dari kamar.
Sudah larut malam dan semua orang sudah tidur.
Tirai tipis setinggi lantai bergoyang lembut diterpa angin malam. Di dalam kamar yang sunyi, seorang anak laki-laki yang tadinya tertidur perlahan membuka mata. Beberapa detik kemudian, suara pun terdengar dari dalam ruangan.
“Sialan…!”
Qiu Ci membalikkan tubuh dan duduk. Dia menunggu hingga dinginnya angin malam menghapus panas yang masih melekat di tubuhnya, kemudian menopang dahinya sambil terus mengumpat, “Sial… sial… sial…”
Semua itu karena dia baru saja bermimpi. Sebuah mimpi yang tak senonoh dan yang membuatnya semakin gila adalah, orang yang bersamanya dalam mimpi itu memiliki kulit putih pucat, diselimuti semburat merah muda yang… sungguh tak pantas.
Dia memang tidak melihat wajahnya dengan jelas, namun dia sangat yakin satu hal: orang itu adalah laki-laki.
Itu semua gara-gara si bodoh kecil yang menonton video-video tidak senonoh itu, dia jadi bermimpi seperti ini untuk pertama kali dalam hidupnya.
Kalau hanya bermimpi, tentu tidak apa. Tapi kenapa harus laki-laki?!
Qiu Ci mulai menjambak rambutnya sendiri. Sepanjang hidupnya, itu adalah mimpi pertama yang tidak suci, dan… objeknya justru sesama jenis dengan wajah yang tak terlihat?!
Sungguh keterlaluan. Dia ini pria sejati, pria normal yang bahkan sudah memiliki orang yang disukainya!
Namun malam itu, Qiu Ci seolah membuka pintu menuju dunia yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Dan hasilnya, dia tidak bisa tidur semalaman.
Dia terus meyakinkan diri sendiri bahwa semua itu hanyalah kecelakaan. Semua karna dia tidak sengaja melihat si bodoh kecil menonton video dewasa, jadi pikirannya tercemar dan terbawa ke alam mimpi. Dunia nyata selalu berkebalikan dengan dunia mimpi.
Setelah selesai membersihkan diri, Qiu Ci berusaha menenangkan hatinya yang masih terguncang sambil membuka pintu kamar.
Pada saat yang bersamaan, pintu di seberang juga terbuka. Mereka berdua saling berpandangan dan secara refleks Qiu Ci langsung menutup pintunya dengan suara plak.
Namun setelah menutup pintu, dia merasa aneh. Kenapa dia panik seperti itu?
Ketika Qiu Ci membukanya lagi, Mu Yu belum pergi, tapi berdiri di pintu menunggunya.
“Ada apa?” tanya Qiu Ci, berusaha terdengar biasa.
Bukan hanya Qiu Ci yang tidak bisa tidur semalam, Mu Yu pun sama. Dia diliputi rasa khawatir bahwa cepat atau lambat Qiu Ci akan menyadari sesuatu.
Tindakan Qiu Ci yang langsung menutup pintu setelah melihatnya tadi justru membuat hati Mu Yu semakin tidak tenang.
“Ada barang yang ketinggalan,” kata Qiu Ci dengan wajah datar.
Itu hanya mimpi, pikirnya dalam hati. Tidak seorang pun tahu isinya, hanya aku sendiri.
Mu Yu tidak menemukan keanehan apa pun dalam ekspresi Qiu Ci. Jantungnya yang sempat berdebar pun sedikit mereda.
Saat sarapan pagi, Mu Yu duduk di samping Qiu Ci seperti biasa.
Qiu Ci selesai makan lebih cepat. Tanpa sengaja, matanya melirik ke arah kulit Mu Yu yang terlalu pucat. Dia teringat bagaimana rona merah muda itu muncul di pipi dan leher anak laki-laki itu saat merasa malu…
Qiu Ci menahan dahinya dengan satu tangan. Hatinya bergemuruh. Sial! Aku gila!
Untungnya, efek mimpi itu tidak berlangsung lama. Qiu Ci butuh waktu satu hari penuh untuk menenangkan dirinya dan menata kembali pikirannya.
“Itu hanya mimpi,” katanya meyakinkan diri. Dia bahkan pernah bermimpi orang tuanya bercerai, dan dia menjadi anak yatim piatu yang tidak diinginkan siapa pun.
Dia juga pernah bermimpi menikahi Bao Shan, kemudian berselingkuh dengan berbagai cara, hingga akhirnya dikejar-kejar oleh Yu Shan yang memegang pisau.
Jika dilihat dari jenis-jenis mimpinya selama ini, semuanya memang tidak bisa dijadikan acuan. Lagipula, katanya mimpi itu kebalikan dari kenyataan, tak perlu dipikirkan terlalu dalam.
Dan lagi, siapa tahu orang dalam mimpinya tadi adalah seorang gadis dengan tubuh datar, tapi memiliki jakun yang agak menonjol?
Setelah berhasil menemukan logika yang bisa diterima, dia kembali bersemangat dan langsung menyelesaikan formulir permohonan untuk mengikuti kelas malam dan menyerahkannya kepada wali kelas.
Kelas Delapan.
Begitu bel kelas malam berbunyi, dua anak laki-laki masuk ke ruang kelas dari pintu belakang, menarik perhatian banyak orang.
Qiu Ci, yang terkenal karena tidak pernah ikut kelas malam untuk pertama kalinya hadir di kelas malam. Dan Mu Yu, yang sejak pindah sekolah belum pernah ikut sekalipun, juga muncul malam itu.
Mengingat keduanya sempat mengambil izin bersama, selalu terlihat bersama, dan sekarang juga mengikuti kelas malam bersama, para siswa lain tentu saja mulai berspekulasi.
Pasti ada hubungan khusus di antara mereka yang belum kita tahu!
Kalau bukan saudara, bisa jadi mereka adalah…
Murid-murid yang memiliki referensi luas dan wawasan yang agak “liar” hanya bisa memandangi dua remaja rupawan dengan kepribadian berbeda itu, lalu diam-diam tersenyum nakal. Dalam hati mereka, sudah terbentuk sepasang calon pasangan yang belum resmi diakui.
Pada malam itu, guru kelas dua SMA harus menghadiri rapat mendadak, sehingga hanya ketua kelas yang menjaga ketertiban.
Karena beberapa siswa yang biasanya paling ribut sedang tidak hadir, suasana belajar di Kelas Delapan malam itu relatif tenang. Beberapa kelompok bahkan mulai mendiskusikan soal pelajaran.
Saat Qiu Ci masih kebingungan harus mengerjakan apa, sebuah buku catatan terbuka tiba-tiba disodorkan ke arahnya. Di dalamnya terdapat tabel lengkap berisi catatan padat.
“Rencana belajar,” ujar Mu Yu singkat.
Itulah jadwal bimbingan belajar yang disusun Mu Yu untuk Qiu Ci.
Qiu Ci menatap sekilas, lalu bertanya, “Menurutmu, apakah perempuan lebih menyukai laki-laki yang suka belajar?”
Dulu saat nilainya masih sangat baik, si Bao Shan selalu membawa buku latihan dan mengejarnya untuk bertanya tentang soal.
Qiu Ci menyentuh dagunya: “Jika aku mulai belajar, apakah gadis itu akan berhenti menyukai orang lain?”
Bagi Qiu Ci, dia dan Yu Shan tumbuh besar bersama, saling mengenal luar dan dalam, hubungan mereka juga selalu harmonis. Semua orang pun beranggapan mereka adalah pasangan yang sudah ditakdirkan.
Dengan atmosfer seperti itu, dia sendiri juga merasa bahwa jika suatu hari nanti dia menikah atau menjalin hubungan serius, maka orangnya tak lain adalah Yu Shan.
Sekarang, ketika mengetahui Yu Shan mungkin sudah menyukai orang lain, dia merasa harus melakukan sesuatu. Kalau tidak, calon istrinya bisa saja dibawa kabur oleh pria asing entah dari mana, hal itu sungguh mencoreng harga dirinya sebagai Tuan Kecil Qiu.
Di sudut bibir Mu Yu tersungging senyum getir.
Jadi… itu tujuanmu sebenarnya?
Yah… demi orang yang disukai, berusaha lebih giat bukanlah hal yang aneh.
“Mungkin saja,” jawabnya pelan.
