Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Qiu Ci mengatakan akan berusaha, tapi keesokan paginya saat pelajaran pagi dimulai, dia justru tertidur nyenyak di meja tanpa beban sedikit pun.
Saat pelajaran pertama hampir berakhir, dia masih belum menunjukkan niat untuk bangun.
Pelajaran pertama hari itu adalah bahasa Inggris, yang kebetulan juga diajar oleh wali kelas delapan. Tepat setelah guru mengucapkan, “kelas selesai,” terdengar suara dari luar pintu, “Permisi!”
Melihat anak laki-laki yang berdiri di pintu, si wali kelas langsung teringat bahwa hari ini akan ada murid pindahan baru ke kelasnya. Dia pun mengangguk memberi isyarat agar anak laki-laki itu masuk.
Anak laki-laki itu tidak mengenakan seragam sekolah. Rambutnya sedikit panjang, sebagaian kecil diikat dibelakang. Dia mengenakan anting hitam di telinga kirinya, sekilas saja sudah tampak bahwa dia adalah tipe anak orang kaya yang sembrono dan tak peduli aturan.
Sejak dia masuk, mata semua orang tak bisa berhenti mengikutinya. Orang seperti ini memang ditakdirkan menjadi pusat perhatian di atas panggung.
Mu Yu adalah satu-satunya yang hanya melirik sebentar lalu mengalihkan pandangannya.
Dia samar-samar mendengar guru memperkenalkan murid baru itu, tapi tidak lama kemudian, suara si anak laki-laki terdengar jelas di telinganya.
“Teman, boleh kita tukar tempat duduk?”
Mu Yu mendongak dan melihat anak laki-laki di atas panggung telah berdiri di samping mejanya tanpa dia sadari. Tatapan anak laki-laki itu tertuju padanya sejenak, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Qiu Ci yang sedang tidur.
Begitu melihat wajah tidur Qiu Ci yang setengah terlihat, pemuda itu menyeringai. Saat dia tersenyum, tampak lesung pipi dangkal di pipi kanannya, menambah kesan manis dalam sosoknya yang keren.
Perasaan gentar mulai muncul dalam diri Mu Yu. Seolah menangkap sesuatu, anak laki-laki yang sedang tidur di sampingnya mengerutkan kening dan membuka matanya perlahan.
Melihat Qiu Ci terbangun, murid baru itu langsung melambai dengan senyum cerah, “Sayang, apakah kamu merindukanku?”
Seluruh kelas langsung menahan napas. Apa tadi dia memanggil Qiu Ci “sayang”? Sayang yang itu?
Qiu Ci yang baru bangun tampak linglung. Begitu melihat jelas wajah pemuda di depannya, keterkejutan di matanya berubah jadi kegembiraan. Dia langsung berdiri dan memeluknya.
“Qiao Norak1骚包 sāo bāo! Kenapa kamu tiba-tiba kembali? Dan kamu jadi semakin mencolok.”
Melihat itu, para siswa lain baru menyadari: oh, ternyata mereka teman.
Qiao Yi tertawa, “Di luar negeri membosankan tanpa kalian. Lebih baik pulang saja. Kita akan menjadi teman sebangku mulai sekarang. Tuan Qiu, tolong jaga saya baik-baik, teman sebangku baru Anda.
”Teman sebangku?” Qiu Ci melepaskannya, lalu menoleh ke Mu Yu yang masih duduk di tempatnya. Dia baru tidur satu pelajaran, dan si bodoh kecil itu sudah bukan teman sebangkunya lagi?
Qiao Yi menatap Mu Yu dan menjelaskan kepada Qiu Ci: “Aku ingin bertukar tempat duduk dengannya, agar kita bisa duduk di meja yang sama.”
Mendengar itu, Mu Yu menggenggam erat pulpen di tangannya. Menahan rasa tidak senang, dia menjawab dengan tegas, “Tidak.”
Qiao Yi sedikit terkejut, tapi tidak merasa canggung karena ditolak di depan umum. Dia malah tersenyum dan berkata pada Qiu Ci, “Kalau dia tidak mau, tak apa-apa. Kamu aja yang pindah ke mejaku.”
Meja mereka adalah tipe satu orang satu meja, jadi mudah dipindah dan digabungkan.
Qiu Ci tampak sedikit ragu. Mu Yu mengatupkan bibirnya, ingin melihat pilihan apa yang akan diambilnya. Meski tahu peluangnya kecil, dia tetap ingin tahu hasilnya.
”Sudahlah, aku punya ide yang lebih baik,” kata Qiao Yi, mungkin karena melihat keraguan sahabatnya.
Di bawah tatapan semua orang, Qiao Yi mendorong mejanya sendiri ke belakang tempat duduk Qiu Ci.
”A-Ci, geser sedikit.”
Tak lama, tiga meja disusun berdampingan. Karena barisan paling belakang awalnya hanya diisi empat orang, dua orang lainnya pun bergeser, dan tiga meja itu tidak tampak sesak sama sekali.
Dengan begitulah, Qiu Ci yang duduk di tengah kini memiliki dua orang teman sebangku.
“Bagaimana kabarmu dan Yu Shan akhir-akhir ini? Jangan bilang belum ada perkembangan?”
“Kudengar Qi Meng telah banyak berubah akhir-akhir ini dan telah membuka lembaran baru. Benarkah itu?”
“Gu Qingning, eh bukan, sekarang jadi Xu Qingning. Dia sebenarnya saudara kandung Xu Qinghe. Aku membutuhkan waktu untuk mencerma informasi ini… dan terlalu banyak drama!.”
“Ngomong-ngomong soal keluarga Xu, kamu tidak tahu betapa menyedihkannya kehidupan Xu Qingfeng di luar negeri. Anak haram yang menantang Xu Qinghe sama saja dengan mencari kematian.”
Mu Yu yang duduk di samping mereka, hanya bisa mendengar percakapan antara Qiao Yi dan Qiu Ci.
Isi percakapan mereka membuatnya menyadari dengan jelas bahwa dia adalah orang luar. Setiap kali hal ini terjadi, dia hanya bisa menerima jurang pemisah antara dia dan Qiu Ci yang tidak pernah bisa diubah.
Baik itu Qiao Yi, Yu Shan, atau orang lain, orang-orang ini telah terlibat dalam kehidupan Qiu Ci selama lebih dari sepuluh tahun dan menempati posisi penting dalam kehidupan Qiu Ci.
Dibanding waktu yang dia habiskan dengan Qiu Ci, waktu milik Mu Yu terasa terlalu remeh.
Seolah-olah, dia takkan pernah bisa benar-benar masuk ke dalam lingkaran Qiu Ci. Tidak pernah benar-benar mendekatinya.
Sambil berbincang dengan Qiu Ci, Qiao Yi menatap penuh arti ke arah anak laki-laki yang tengah mengerjakan pekerjaan rumah dengan kepala tertunduk, dengan tatapan jijik.
Oh… dia? Serius?
Kepulangan Qiao Yi untuk sekolah di dalam negeri bukan hanya mengejutkan Qiu Ci, tapi juga membuat teman-teman lama mereka sangat senang.
Akhir pekan ini, mereka mengatur pesta penyambutan untuk Qiao Yi. Karena Chu Qing dan Qiu Wei baru pulang besok, Qiu Ci memutuskan mengadakan pesta di loteng rumahnya.
Pesta dijadwalkan pukul lima sore, tapi Qiao Yi sudah datang lebih awal dan menekan bel rumah Qiu Ci.
Dia datang lebih cepat untuk memasak makan siang untuk Qiu Ci. Qiao Yi memang pandai memasak. Dulu, dia sering memasakkan untuk Qiu Ci. Saat mereka membicarakannya kemarin, dia memutuskan untuk membuat makan siang khusus hari ini.
“Kamu sudah beberapa tahun di luar negeri, dan kemampuan memasakmu sudah jauh lebih baik.” Puji Qiu Ci sambil berdiri di samping, memperhatikan Qiao Yi memasak dengan cekatan. “Siapa pun yang menikahimu nanti pasti akan hidup enak.”
Qiao Yi mengangkat alisnya. “Kalau kamu suka makan, nikahi saja aku. Kamu akan menjadi istriku dan aku akan memasak apa pun yang kamu mau setiap hari.”
Bagi yang lain, mungkin terdengar seperti candaan antarteman, tapi Qiao Yi menatap anak laki-laki di depannya dengan serius, tersenyum tipis: “Bagaimana, maukah kamu menikah denganku? Aku pasti akan memanjakanmu.”
Begitu turun ke lantai bawah, Mu Yu langsung mendengar kalimat yang cukup membuatnya menggertakkan gigi.
Qiao Yi jelas melihatnya dan terus berkata kepada Qiu Ci: “Kalau kamu tidak mau, aku bisa menikah denganmu. Aku tidak peduli dengan hal semacam ini.”
Qiu Ci tertawa dan memarahi: “Ayolah, jika kamu seorang wanita, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”
Qiao Yi tidak kaget dengan jawaban Qiu Ci, dan dengan nada bercanda menambahkan, “Kalau aku operasi ganti kelamin untukmu, lalu menikahimu, bagaimana?”
Qiu Ci meninju bahunya: “Keluar!”
Dari sudut mata, dia melihat Mu Yu yang hendak berbalik dan pergi. Segera dia memanggil, “Bodoh Kecil! Saatnya makan!”
Mu Yu berhenti dan berkata, “Aku merasa sedikit tidak nyaman dan tidak ada selera makan.”
Qiao Yi mengangkat alis dan anak laki-laki sampingnya berjalan mendekat dan bertanya dengan suara pelan, “Ada apa denganmu? Aku akan membawamu ke rumah sakit.”
Mu Yu menggelengkan kepalanya: “Tidak, hanya butuh istirahat sebentar saja.”
Melihatnya terlihat sangat buruk, Qiu Ci mengerutkan kening dan berkata, “Ayo pergi ke rumah sakit.”
Tak ada orang tua di rumah, jadi sudah jadi tanggung jawabnya untuk menjaga “adiknya”.
Namun, bukan fisik Mu Yu yang sakit, tapi hatinya. Meski begitu, dia tidak mungkin memberitahu alasan sesungguhnya.
”Tidak apa-apa. Jika belum sembuh nanti aku akan kesana.”
Qiu Ci tak tahu harus berbuat apa lagi dan mengangguk: “Kalau begitu pergilah istirahat dulu, kalau butuh apa-apa datang saja padaku.”
Setelah Qiu Ci kembali, Qiao Yi sudah membawa makanan ke meja. Sambil menyusun piring dan sendok, dia bertanya, “Kamu terlihat akrab sekali dengan Mu Yu.”
”Tentu aja, dia adik angkatku.” Qiu Ci tertawa ringan. “Qiao Norak, apa kamu cemburu?”
Qiao Yi mengangguk serius: “Ya, aku cemburu. Kamu bahkan memanggilnya si bodoh kecil. Kalau orang tidak tahu, mereka mungkin mengira kamu sedang memanggil orang yang kamu sukai.”
Setelah dia menyebutkannya, Qiu Ci merasa nama sederhana itu sebenarnya memiliki sedikit arti, tapi dia menjawab: “Aku tidak akan memanggil seseorang yang aku sukai dengan sebutan orang bodoh.”
”Jika itu pacar, bagaimana kamu kan memanggilnya?” Qiao Yi menatapnya sambil mengangkat mangkuk.
”Pastinya yang lebih mesra, seperti… ‘sayang’, atau ‘istri’.”
Sudut bibir Qiao Yi terangkat. “Hmm.”
“Ya ampun! Apa kamu punya rasa malu?” Qiu Ci segera tersadar dan pura-pura hendak melempar sumpitnya.
”Jangan, jangan! Tuan Muda Qiu, Qiu Ge, Xiao Qiu Ye! Aku salah, kita makan saja. Makanannya tidak akan enak kalau dingin.”
Setelah beberapa jam, teman-teman tiba satu demi satu dan menyiapkan pesta penyambutan di loteng.
Qiu Ci dan Yu Shan keluar sebentar untuk membeli barang. Sementara itu, sang bintang utama Qiao Yi justru berada di kamar Qiu Ci, menonton film dengan komputer Qiu Ci.
Dalam perjalanan pulang, Qiu Ci melihat Yu Shan tampak murung, lalu menjentikkan jarinya di depan wajah gadis itu.
“Kenapa kamu begitu tertekan? Apa wanita itu mengganggumu lagi?” Qiu Ci mengacu pada ibu tiri Yu Shan.
”Tidak.”
”Kamu tidak senang Qiao Yi pulang?”
”Tidak.”
”Serius?” Qiu Ci menatap curiga. Sejak kecil, Bao Shan dan Qiao Norak itu memang sering bertengkar.
Yu Shan menatapnya. “Iya, sungguh.”
Qiu Ci menghela napas dan mengusap kepalanya: “Masih menyimpan dendam? Kejadian itu bukan salahnya.”
”Kenapa bukan salahnya!” Yu Shan tiba-tiba emosi. “Kalau bukan karena dia, kalau bukan—”
Matanya mulai memerah, suaranya gemetar, air mata nyaris jatuh. Qiu Ci buru-buru mengetukkan jari ke keningnya.
“Jangan menangis, aku masih hidup dan sehat, mengapa kamu menangis?”
Gadis kecil itu menyeka air matanya dan melotot ke arahnya.
Begitu sampai di rumah, loteng sudah hampir selesai dihias.
Qiu Ci membawa Yu Shan menemui si Qiao yang Norak itu. Saat hendak masuk, dia teringat bahwa si bodoh kecil sedang tidak enak badan, jadi ia berbalik.
”Kamu masuk dulu, aku akan menemui Mu Yu.”
Belajar dari kejadian canggung sebelumnya, kali ini Qiu Ci dengan sopan mengetuk pintu dan baru masuk setelah mendapat izin.
Qiu Ci tidak menutup pintu saat dia masuk. Yu Shan di koridor menyipitkan matanya, menatap kamar tidur Qiu Ci, melangkah maju dan menutup pintu kamar tidur Mu Yu.
Setelah menyelesaikan semuanya, Yu Shan pergi ke loteng tanpa menoleh ke belakang. Bah, siapa yang mau bertemu penjahat keji itu?
Di dalam kamar.
“Apakah kamu merasa lebih baik?”
Melihat Mu Yu masih tampak lesu, Qiu Ci mendekat dan menyentuh dahinya, curiga apakah dia demam ringan.
Kondisi fisiknya sangat buruk saat kecil. Dia sering mengalami demam ringan dan tampak seperti sedang sekarat.
Mu Yu yang tak siap disentuh, merasakan hangatnya telapak tangan itu dan pipinya perlahan memerah. Kebetulan, dia memang sedikit demam.
Qiu Ci tak bisa memastikan. “Tunggu sebentar, aku ambil termometer dulu.”
Mu Yu yang hatinya sedang kacau hanya mengangguk pelan.
Saat Qiu Ci keluar, ia bertemu Qiao Yi yang juga hendak naik.
”Kamu mau ke mana?” Qiao Yi melirik ke kamar Mu Yu di belakangnya.
”Mengambil termometer, untuk Mu Yu. Dia agak demam.” Qiu Ci menjawab sambil mengecek ponsel. “Di atas sudah siap semua. Kamu ke atas saja duluan, aku akan menyusul.”
Hari ini adalah acaranya Qiao yang Norak, telat beberapa menit juga tidak masalah.
Mata Qiao Yi gelap, lalu dia mengangguk: “Baiklah, aku pergi dulu.”
Qiu Ci tak menyadari ada yang aneh. Setelah mengambil termometer, dia kembali ke kamar Mu Yu. Beberapa menit kemudian, hasilnya menunjukkan suhu tubuh normal.
“Aku merasa jauh lebih baik setelah tidur sebentar.”
Melihat Qiu Ci mengerutkan kening, Mu Yu hanya bisa berbohong lagi. Dia sedang tidak ingin tidur, dan menghabiskan seluruh waktunya di kamar, tenggelam dalam rasa tak berhak untuk cemburu.
Qiao Yi jelas menyukai Qiu Ci, dan dia sangat pandai menggunakan identitas “teman lama” untuk mendekatinya.
Sementara dia hanya bisa menahan perasaannya, takut terbaca, lalu kehilangan segalanya.
“Apakah suasana hatimu sedang buruk?” Qiu Ci akhirnya menyadari masalahnya dan mendekat untuk mengamati.
Aneh sekali, dia bisa mengerti jika Bao Shan sedang dalam suasana hati yang buruk, tapi si bodoh kecil?
”Apa kamu punya masalah cinta? Apakah itu ada hubungannya dengan orang yang kamu suka?”
Sampai sekarang, Qiu Ci belum tahu siapa yang disukai Mu Yu. Dia juga tak pernah membicarakannya.
Terus terang, Qiu Ci agak kesal.
Mereka sepakat untuk menjadi saudara tiri, jadi bukankah membicarakan masalah hubungan adalah cara yang baik untuk memperkuat hubungan mereka? Tapi anak ini selalu menyembunyikan sesuatu dan sama sekali tidak peduli dengan saudaranya.
Tuan muda Qiu tidak bahagia, dan tipe orang yang sulit ditenangkan.
Mu Yu menunduk. Dia tak melihat perubahan ekspresi Qiu Ci. Sambil menarik napas dalam-dalam, dia mengangguk pelan.
”Hmm.”
Melihat ini, suasana hati Qiu Ci langsung cerah. Apakah si kecil bodoh itu akan terbuka? Akhirnya, mereka bisa mempererat persaudaraan mereka.
Dengan persiapan mental, Mu Yu akhirnya memberanikan diri menatap Qiu Ci.
”Aku menyukai seseorang… tapi orang itu belum tahu perasaanku.”
