Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki dan Rusma
Peringatan: Bab ini mengandung konten yang tidak sesuai untuk semua usia.
Jamuan pesta pribadi di Kota Ping selalu mewah.
Terlepas dari seberapa buruk kondisi ekonomi Kota Ping menurut laporan surat kabar lokal, yang berubah hanyalah wajah para tamu yang hadir, lokasi ruang perjamuan tempat acara diselenggarakan, musik orkestra, serta model tas tangan para tamu wanita yang hadir.
Luo Yu adalah pengunjung tetap di tempat-tempat seperti itu. Dia mengenakan setelan tiga potong berwarna abu-abu keperakan yang pas di badan dan merangkul teman wanita yang cantik saat dia mengobrol dan tertawa pelan dengan para pejabat Balai Kota Ping.
“——Tuan Luo!”
Teriakan tiba-tiba memecah keheningan, membuat beberapa tamu menoleh ke arah pintu.
Mendengar itu, Luo Yu menoleh; itu adalah asisten pribadinya, Lu Yi. Wajah Lu Yi pucat dan mengerutkan kening saat ia berlari mendekat, dua pengawal mengikuti di belakangnya.
Orang yang seharusnya tidak hadir di pesta malam ini adalah Lu Yi.
Alis Luo Yu sedikit berkerut. Dia mengangkat pergelangan tangannya untuk memeriksa arlojinya, lalu dengan sopan mengakhiri percakapannya dengan pria di depannya dan bergegas mendekati Lu Yi.
Lu Yi seharusnya sedang menyelesaikan transaksi untuknya.
Ada beberapa senjata api yang dijadwalkan tiba di dermaga kargo kecil di pulau terpencil di sebelah utara Kota Ping. Lu Yi adalah orang yang ditunjuk oleh Luo Yu untuk menerima barang tersebut.
“Tuan Luo.” Keringat dingin mengalir di wajah Lu Yi dan suaranya bergetar tidak terkendali. Lu Yi adalah orang yang sangat tenang, satu-satunya alasan ia akan sangat ketakutan adalah jika sesuatu telah terjadi pada pengiriman barang tersebut.
Luo Yu membimbingnya ke belakang pilar Romawi yang relatif tersembunyi dan memberi isyarat agar ia membersihkan keringatnya sebelum berbicara.
“Kapal kargo milik kita,” Lu Yi menelan ludah, “kosong.”
Ia menyerahkan ponselnya kepada Luo Yu; di dalamnya terdapat beberapa foto yang telah diambilnya.
Lingkungan di dalam gambar itu kotor dan berantakan. Awak kapal telah diikat dan dilempar ke area penyimpanan, mulut mereka ditutup dengan lakban dan punggung mereka disandarkan pada sebuah kontainer. Muatan resmi kapal ini adalah kapas dan mainan anak-anak, namun di lapisan tengah lima kontainer, terdapat sejumlah senapan runduk Barrett M82A1 dan puluhan ribu butir amunisi senapan mesin Browning.
Luo Yu hanyalah perantara untuk pengiriman senjata api ini. Dia telah mengamankan kesepakatan dengan pembeli dari Timur Tengah. Senapan M82A1 dan pelurunya hanya perlu berada di Kota Ping selama 10 jam sebelum dikirim ke gudang pembeli. Luo Yu akan menerima pembayaran sebesar delapan digit.
Bagi Luo Yu, ini bukanlah transaksi besar, itulah mengapa dia mengirim Lu Yi untuk menerima pengiriman. Namun, jika dia tidak dapat menyelesaikan bagiannya dalam kesepakatan bisnis ini, maka dia akan menghadapi masalah yang lebih besar.
Setelah foto-foto itu, ada video pendek yang tidak sengaja terekam saat Lu Yi berpindah dari mode foto ke mode video. Video itu terlihat goyah dan memperlihatkan wajah para awak kapal yang sedang diikat. Lu Yi menyuruh seseorang melepas lakban dari mulut salah satu awak. Namun setelah lakban dilepas, pria itu hanya dapat berteriak meminta tolong.
Lu Yi memegang ponsel di satu tangan dan senter yang sangat terang di tangan lainnya. Ia mengarahkan kamera dari wajah pria itu ke dinding kapal yang sudah berkarat. Di sana terlihat selembar kertas ukuran A4 yang dipaku secara miring pada panel dinding.
Di kertas itu, dengan huruf besar dan tebal, hanya tertulis satu kata: Ruan.
“Ruan Zheng.”
Luo Yu meludah ringan menyebut nama itu. Kepala Lu Yi semakin tertunduk.
Dia memikirkan sejenak, lalu menghapus video dan foto-foto tersebut. Dia berjalan kembali ke tempat yang masih dipenuhi tawa dan nyanyian, dan memberitahu teman wanitanya berita yang sedikit mengecewakan: dia punya urusan, jadi akan pergi terlebih dulu. Dia lalu bertanya kepada teman wanitanya apakah dia ingin pergi bersamanya, atau akan tinggal.
Wanita pendamping itu melihat ekspresi tidak menyenangkan Luo Yu dan berkata, “Aku—aku akan tinggal.” Luo Yu mengangguk padanya lalu pergi bersama Lu Yi. Mobilnya sudah menunggu di luar hotel.
Pria yang berdiri di dekat pintu mobil adalah tangan kanan Luo Yu, Xing Licheng. Xing Licheng melihat Luo Yu berjalan mendekat dan diam-diam membuka pintu mobil untuknya. Luo Yu sedikit membungkuk, mengangkat kakinya, dan masuk ke dalam mobil.
Kota Ping adalah kota penghubung antara darat dan laut. Transportasi laut, darat, dan udaranya sangat maju. Kota ini juga memiliki jalur laut terbaik yang terhubung ke berbagai benua besar. Dari luar, Kota Ping terlihat makmur, aman, dan penduduknya hidup tenang serta nyaman. Namun di balik ketenangan itu, sebenarnya ada banyak konflik tersembunyi.
Di kota ini ada tiga tokoh paling berpengaruh:
Huan An Technology dipimpin oleh Luo Yu.
Zhen Ting Investment dipimpin oleh Ruan Zheng.
Dan He Yonggui, pemimpin klan Barat, kelompok lama yang punya sejarah dan pengaruh besar.
Mereka bertiga adalah penguasa utama Kota Ping. Hubungan Mereka selalu berada di ambang konflik, tetapi setiap kali situasi memanas, mereka masih bisa menahan diri. Akibatnya, keadaan tetap stabil di permukaan, sementara orang-orang kecil hanya bisa berusaha bertahan hidup di bawah kekuasaan tiga pihak besar itu.
Ruan Zheng dan Luo Yu tidak akur. He Yonggui pun mencoba memanfaatkan perselisihan mereka untuk mencari keuntungan, tetapi belum berhasil. Sejak muncul kabar bahwa Luo Yu sedang merencanakan sesuatu, hubungan yang sudah rapuh di antara mereka bertiga menjadi semakin tidak stabil. Rasanya seperti ada sesuatu yang besar sedang disiapkan dan sebentar lagi akan meledak.
He Yonggui adalah orang lama di Kota Ping. Dia sudah puluhan tahun bertahan di kota itu, mulai dari bawahan biasa hingga akhirnya naik jabatan menjadi pemimpin Klan Barat. Karena pengalamannya panjang, dia sangat berhati-hati dalam mengambil langkah.
Berbeda dengan pria itu, Ruan Zheng adalah pendatang baru. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya, bahkan tidak ada yang tahu seperti apa wajah aslinya. Tiba-tiba saja semua orang tahu bahwa Ruan Zheng dari Zhen Ting adalah sosok yang sulit dilawan. Dia jarang turun tangan langsung, tetapi setiap kali bertindak, dia selalu menang.
Luo Yu adalah yang terakhir tiba di Kota Ping, tetapi dia memiliki identitas unik. Dia punya hubungan dengan banyak tokoh berpengaruh di wilayah daratan dan tidak pernah kekurangan uang. Selain itu, dia juga memiliki banyak koneksi. Tidak lama setelah kemunculannya, dia sudah berhasil menguasai setengah pasar gelap di Kota Ping seorang diri. Pada tahun-tahun awal Luo Yu berada di kota itu, ketiga pihak sepakat untuk tidak saling mengganggu. Meskipun diam-diam sering terjadi perselisihan kecil, di depan publik mereka tetap terlihat menjaga kedamaian.
Namun, mulai dari waktu yang tidak diketahui, Ruan Zheng mulai menentang segala hal yang dilakukan Luo Yu. Dia akan mencari cara untuk ikut campur dalam setiap transaksi bisnis Luo Yu atau mencoba mencuri muatan dari Luo Yu. Yang lebih buruk, dia sama sekali tidak takut jika Luo Yu tahu siapa pelakunya. Dia selalu melakukan semua itu terang-terangan dengan memakai namanya sendiri, seolah berkata, “Aku yang melakukannya.”
Seiring waktu, pertengkaran kecil mereka meningkat menjadi permusuhan besar, dengan masing-masing pihak berharap dapat menghancurkan pihak lain hingga menjadi debu dan melahap daging mereka.
Akhir-akhir ini Ruan Zheng tampaknya sudah lebih tenang, jadi Luo Yu hampir melupakannya. Dia menyuruh Lu Yi pergi sendirian untuk mengambil muatan karena dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk melatihnya. Namun, siapa sangka Ruan Zheng……
Luo Yu melirik Lu Yi yang duduk di depan dan berkata, “Bukan sepenuhnya salahmu.”
Bahu Lu Yi tampak santai.
“Tapi kamu tetap harus dihukum.” Luo Yu bersandar di kursinya dan memejamkan mata. Kedua tangannya saling bertaut dan diletakkan di atas pahanya. Setelah beberapa saat, dia menambahkan, “Nanti kamu sendiri yang pergi menemui Tetua Song untuk menerima hukumannya.”
“Baik,” jawab Lu Yi dengan lembut.
Luo Yu lalu menoleh untuk memerintahkan Xing Licheng yang berada di sampingnya, “Selidiki apa yang telah dilakukan Zhen Ting untukku.”
Luo Yu menggunakan koneksinya untuk memesan sejumlah barang dari teman-temannya di pedalaman untuk menutupi masalah ini, setengah benar setengah salah. Kapal milik tamu dari Timur Tengah itu tertunda keberangkatannya lebih dari tiga jam, dan hampir tertangkap. Mereka sempat mengeluhkan keterlambatan Luo Yu. Namun, Luo Yu memberikan banyak barang bagus sebagai kompensasi untuk menutupi masalah itu.
Ruan Zheng adalah sosok yang penuh misteri. Xing Licheng sudah menghabiskan banyak waktu untuk menyelidikinya, tetapi tetap tidak menemukan informasi yang benar-benar jelas. Hanya ada satu kabar yang beredar, yaitu Ruan Zheng baru saja meninggalkan Kota Ping karena alasan yang tidak diketahui—rumor itu pun sebenarnya sama saja seperti tidak ada kabar.
Mungkin saja ia sedang pergi berlibur ke pulau tropis.
Namun Luo Yu tidak punya waktu dan tenaga untuk terus memikirkan Ruan Zheng. Dia akan segera bertemu dengan putra tunggal seorang pengusaha besar perdagangan senjata dari Negara A, bernama A·L. Pertemuan itu bertujuan membahas jalur pengiriman baru.
A·L tiba sendirian. Untuk menunjukkan betapa Luo Yu menghargai kerja sama yang akan datang ini, dia dan sopirnya secara pribadi menyambutnya di bandara.
Di dalam mobil, A·L tidak sabar untuk memberitahu Luo Yu bahwa dia menyukai wanita Asia. Luo Yu tersenyum mengerti dan memerintahkan sopir untuk mengubah arah. Mereka akan terlebih dahulu membawa Tuan A·L ke Sarang Putih, klub pribadi yang diminta oleh seorang teman dari ibu kota untuk dia kelola atas namanya.
Sehalus apa pun sebuah klub pribadi menyamarkan diri lewat iklan, pada akhirnya tempat itu tetap bergerak dalam bisnis prostitusi. Bedanya, tempat seperti itu biasanya lebih bersih dan terlihat lebih mewah dibandingkan lokasi-lokasi kumuh di bangunan perumahan tua yang juga menerima pelanggan.
Sarang Putih terletak di area hutan tidak jauh dari bandara. Ada juga peternakan kuda dan lapangan golf di dekatnya. Sebuah bangunan putih tunggal yang tersembunyi di bawah naungan pohon, tempat itu sulit ditemukan.
Luo Yu sering mengunjungi lokasi ini, jadi sopir dengan mudah menemukan pintu masuk ke garasi bawah tanah dan masuk setelah menggesek kartu. Dia memarkir mobil di luar pintu masuk pelanggan reguler dan keluar untuk membuka pintu untuk bosnya. Kemudian, dia dengan sengaja pergi.
Manajer Sarang Putih, Neal, sudah menunggu di pintu sejak lama. Dia membawa Luo Yu dan A·L ke lift, lalu mereka langsung menuju kamar tamu di lantai tiga. Ada beberapa gadis Asia dengan gaya dan tipe yang berbeda berdiri di dalam ruangan.
A·L memilih gadis yang bisa berbahasa Inggris dengan baik; Neal menyuruh gadis itu merawat pelanggan terhormat ini dengan baik, lalu keluar dari ruangan bersama Luo Yu.
Neal kemudian bertanya, “Apakah Tuan Luo tertarik melihat ‘barang baru’ kami? Semuanya masih bersih.”
Luo Yu menggeleng kepala. “Tidak kali ini.”
Dia terus berjalan di sepanjang koridor, sambil bertanya kepada Neal tentang perkembangan bisnis Sarang Putih baru-baru ini. Neal tahu sifat Luo Yu sulit ditebak, jadi dia bersikap sangat hati-hati, seolah sedang berhadapan dengan musuh penting. Dia menjawab pertanyaan Luo Yu dengan gugup, takut akan mengatakan hal yang salah.
Pada saat itu, keributan tiba-tiba meledak dari ruangan terdekat. Seorang anak laki-laki berlari keluar saat seorang pria berwajah garang menggenggam tangannya dan mencoba menariknya kembali ke dalam dari belakang. Anak laki-laki itu melihat Luo Yu dan terdiam sejenak, sebelum menggunakan mata besar dan sedihnya untuk menatapnya. Dia memohon pertolongan dengan putus asa, “Tuan! Selamatkan aku!”
Penampilan anak laki-laki itu tampak polos. Bibirnya merah dan giginya putih, dia adalah tipe yang sangat disukai Luo Yu.
Oleh karena itu, Luo Yu menghentikan langkahnya. Dia melirik pria besar itu. Meskipun pria itu tidak mengenali Luo Yu, setelah melihat betapa ketakutan manajernya yang berdiri di sampingnya, dia juga tidak berani menimbulkan masalah. Dia hanya bisa melepaskan anak itu.
Begitu dia melepaskannya, anak itu kehilangan keseimbangan dan jatuh telentang di depan Luo Yu. Dia mengangkat kepalanya untuk menatap orang di depannya. Luo Yu melihat bekas cambukan segar di leher anak itu dan mengerutkan keningnya sambil bertanya kepada Neal, “Apakah Sarang Putih kekurangan orang sekarang sampai seperti ini?”
Neal juga belum pernah melihat anak itu sebelumnya. Dia mengerutkan keningnya dan bertanya kepada pria itu, “Ah Liang, apa yang terjadi?”
“Anak ini baik-baik saja waktu dibawa ke sini,” jawab Ah Liang dengan suara kasar. “Siapa sangka begitu kami masuk, dia malah betekad untuk mati demi menjaga kesuciannya!”
“Aku… aku tidak tahu saat aku datang ke sini……” Anak itu membantah dengan suara pelan.
Ah Liang juga hanya mengikuti perintah. Dia ingin menjelaskan bahwa dia tidak bersalah, tapi Neal memotongnya.
“Cukup.”
“Tuan Luo, bagaimana kalau kita masuk dan bicara?” Neal mengusulkan ini karena dia takut orang-orang yang lewat di lorong akan mengganggu Luo Yu.
Luo Yu mengangguk, jadi Neal membuka pintu. Di dalam adalah kamar tamu biasa yang berisi sofa dan kamar tidur.
Luo Yu menundukkan pandangannya untuk melihat anak itu. Dia bertanya, “Bisakah kamu berdiri?”
Anak itu mengangguk, tangannya memegang pintu saat dia berdiri. Dia berkata lembut, “Terima kasih.”
Dia lalu berjalan masuk ke dalam ruangan dengan gemetar.
Setelah pintu tertutup, Neal akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya, “Apa yang sedang terjadi?”
Ah Liang melirik Luo Yu yang tak berekspresi, lalu ke anak laki-laki di sampingnya. Dengan gugup, dia menjelaskan singkat apa yang terjadi.
Nama anak itu Su Jiawen. Dia adalah mahasiswa jurusan Sastra Tiongkok tahun kedua. Ibunya terlilit utang judi, dan dia ditipu untuk datang ke Sarang Putih demi melunasi utang tersebut.
Neal akhirnya ingat setelah mendengar hal itu. Su Jiawen jauh lebih tampan secara langsung daripada di fotonya, jadi dia tidak mengenalinya pada awalnya. Dia bertanya kepada Su Jiawen, “Bukankah kamu membaca perjanjiannya?”
Perjanjian bisnis seperti ini tidak memiliki nilai hukum dan hanya beberapa pedoman yang harus diikuti, tetapi cukup untuk memberikan gambaran tentang layanan yang ditawarkan oleh Sarang Putih.
“Aku tidak pernah membacanya,” kata Su Jiawen. “Ibuku bilang aku hanya akan menjadi pelayan di klub pribadi.”
Su Jiawen percaya pada apa yang dikatakan ibunya dan dengan polos mengikuti Ah Liang. Begitu dia masuk ke Sarang Putih dan mendengar apa yang dikatakan Ah Liang, dia akhirnya menyadari ada yang salah. Dia tidak ingin melakukannya lagi dan mengatakan ingin pergi.
Bagaimana mereka bisa membiarkan seseorang yang sudah setengah jalan mundur? Ah Liang mengira dia tiba-tiba berubah pikiran dan hendak memberinya pelajaran ketika, tanpa diduga, dia bergegas keluar dan bertemu bos besar.
“Su Jiawen?” panggil Luo Yu. Su Jiawen mengangkat kepalanya untuk melihatnya. Dagunya tajam dengan sedikit lemak di pipinya, membuatnya cocok dengan gambaran seorang pelajar. Karena Luo Yu barusan menolongnya, dia tanpa sadar mulai merasa bergantung pada pria itu. Tatapannya saat melihat Luo Yu penuh rasa percaya.
Luo Yu bertanya padanya, “Apakah kamu pernah menjalin hubungan?”
Mendengar pertanyaan itu, Su Jiawen terdiam sejenak sebelum menggeleng. “Tidak.”
“Lalu……” Luo Yu mendekat padanya; aroma asap rokok dan parfum di tubuhnya mengelilingi Su Jiawen. Dengan suara rendah, dia bertanya pelan di dekat telinganya, “Apakah kamu pernah bercinta sebelumnya?”
Mendengar kata “bercinta”, bahu Su Jiawen membeku. Dia menatap Luo Yu dengan panik. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya membuka mulutnya untuk menjawab dengan lembut, “Tidak.”
Luo Yu tersenyum, lalu menepuk bahu Su Jiawen. “Jiawen, bagaimana kalau begini. Kamu pilih.”
Su Jiawen menatapnya, menunggu kelanjutannya.
Meskipun Luo Yu tersenyum, tatapannya tidak ada yang bermain-main. Dia berkata, “Pilihan pertama, kamu ikut denganku. Pilihan kedua, kamu ikut dengannya.”
Su Jiawen mengedipkan mata. Sepertinya dia belum mengerti. Dia bertanya pelan, “Jika aku mengikutimu… apakah ada yang berbeda?”
Luo Yu tampak menganggap kepolosan dan rasa malu Su Jiawen menarik. Dia sedikit mendekat dan menjawab dengan suara rendah, “Jika kamu ikut denganku, kamu hanya akan ditiduri olehku. Jika kamu mengikutinya, siapa tahu berapa banyak orang yang akan menidurimu.”
Kata-kata yang terlalu terus terang itu membuat Su Jiawen pucat. Tubuhnya menegang dan bibirnya bergetar. Dia terdiam cukup lama. Saat Luo Yu hampir kehilangan minat menunggu jawabannya, akhirnya dia berkata pelan, “Aku akan ikut denganmu.”
Luo Yu melirik Neal. Neal langsung tersenyum kaku. “Terserah pada keputusan Tuan Luo.”
Dia hampir saja menyuruh Su Jiawen untuk berterima kasih kepada ”Kaisar” atas kebaikannya.
Luo Yu tidak membawa Su Jiawen pulang, tetapi ke sebuah kamar yang dia miliki di Sarang Putih.
Su Jiawen duduk di tepi tempat tidur. Luo Yu bertanya padanya, “Apakah kamu tahu apa yang harus dilakukan?”
Su Jiawen mengangguk ragu-ragu.
“Maka pergilah mandi,” perintah Luo Yu. “Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan.”
Saat melihat ekspresi terkejut Su Jiawen, Luo Yu mendekat untuk menakut-nakutinya, “Jika aku tidak puas, aku akan mengembalikanmu ke Neal.”
Setelah ketakutan itu, Su Jiawen segera berlari ke kamar mandi. Dia mandi selama lima belas menit sebelum keluar.
Dia mengenakan handuk mandi; ujung rambutnya masih basah, helaiannya menjuntai. Dia membuka pintu tetapi tidak keluar, hanya mengintip kepalanya untuk melihat Luo Yu. Matanya melebar saat dia berkata, “Tuan Luo, aku sudah selesai mandi.”
Luo Yu terkesan dengan penampilan Su Jiawen. Dia melambaikan tangannya, “Kemarilah.”
Su Jiawen berjalan perlahan, tubuhnya memancarkan aroma kelembapan yang menyegarkan, membuatnya menjadi pemandangan yang sempurna dan menyenangkan.
Luo Yu menyuruhnya berlutut di depannya, lalu mengulurkan tangan untuk membelai leher Su Jiawen dan dadanya yang tipis yang terlihat dari bawah jubahnya. Ujung jarinya sengaja menggosok dan memijat tonjolan kecil di dadanya. Su Jiawen langsung memerah dan mengangkat kepalanya untuk menatap Luo Yu.
“Naik ke tempat tidur.” Luo Yu menunjuk ke tempat tidur besar di dekatnya dan bertanya, “Apakah kamu sudah siap?”
Bibir Su Jiawen bergetar saat mengangguk.
Luo Yu mengangkat alisnya dan bertanya, “Apakah kamu menyukai laki-laki?”
Su Jiawen menolak menjawab. Dia berjalan ke sisi tempat tidur, wajahnya merah karena malu, dan duduk di sana menatap Luo Yu. Luo Yu suka melihat makhluk manis dan patuh ini, jadi tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia mendekati dan menekan Su Jiawen di atas tempat tidur.
Luo Yu tidak pernah mencium orang lain, tetapi kali ini dia melanggar aturannya sendiri dan mencium pipi Su Jiawen. Dia melepas tali jubah; Su Jiawen tidak mengenakan apa-apa di bawahnya. Organ kecil di antara pahanya tergeletak lemah di atas rambut kemaluan yang jarang. Dia benar-benar telah meregangkan dirinya, tetapi dengan buruk. Pelumas yang berkilau telah dioleskan oleh Su Jiawen di sepanjang celah di belahan pantatnya.
Luo Yu menyukainya. Bagian bawah tubuhnya juga terangsang. Dia berdiri di tepi tempat tidur dan melepas ikat pinggangnya, lalu berkata kepada Su Jiawen, “Jilat.”
Su Jiawen sangat patuh. Dia merangkak ke depan untuk berlutut di depan Luo Yu dan menarik turun celana Luo Yu. Seolah-olah menjilat permen lolipop, dia berulang kali menjilat dari pangkal hingga ujung. Luo Yu menatap bulu mata panjang dan tebal Su Jiawen serta matanya yang setengah tertutup, dan tidak lama kemudian dia menjadi tegang.
Dia menyuruh Su Jiawen memakaikan kondom untuknya dengan mulut, tapi Su Jiawen tidak tahu caranya. Dia memegang kondom di antara giginya dengan canggung, tidak tahu harus berbuat apa. Bibir bawahnya dengan lembut menyentuh ujung penis Luo Yu.
Luo Yu merasa hal ini sedikit tidak tahan, jadi dia menghela napas dan memakai kondomnya sendiri. Dia menepuk wajah Su Jiawen. “Berbaringlah.”
Su Jiawen membaringkan diri di tempat tidur, telanjang. Luo Yu tidak naik ke tempat tidur, dia tetap berdiri di samping dan menarik Su Jiawen ke depannya. Dia mengulurkan tangan untuk meraba anus Su Jiawen, lalu memegang pinggul Su Jiawen dengan erat sambil mendorong dirinya masuk sedikit demi sedikit.
Punggung Su Jiawen menegang karena rasa sakit. Bagian dalamnya terasa sangat panas dan sesak sehingga Luo Yu mulai bergerak tanpa belas kasihan. Setiap dorongannya membuat Su Jiawen gemetar sedikit. Su Jiawen terbaring lemah di depannya, lubang pantatnya yang lembut dan merah terus-menerus dimasuki oleh penis besar Luo Yu. Sepertinya dia begitu kesakitan hingga tidak punya tenaga lagi dan membiarkan Luo Yu menyetubuhinya sesuka hati.
Luo Yu awalnya berpikir hubungan seks ini hanyalah untuk melampiaskan hasratnya, karena dia benar-benar tidak sabar dengan pasangan tidurnya. Dia hanya membutuhkan seks, bukan cinta.
Siapa sangka setelah beberapa saat, dia membalikkan Su Jiawen, hanya untuk melihat organ di antara kakinya sudah setengah ereksi. Organ itu menggosok perut pucatnya seirama dengan gerakan ritmis Luo Yu, cairan keluar dari ujungnya dan berceceran di mana-mana.
Berbeda dengan pasangan ranjang Luo Yu biasanya yang selalu berpura-pura orgasme, Su Jiawen sepertinya benar-benar menikmati aktivitas seksual ini. Karena organ besar di dalam tubuhnya saat ini menggosok titik paling sensitifnya setelah dia berbalik, dia mengeluarkan desahan lembut yang membuat Luo Yu semakin tegang.
Setiap pria akan merasa sangat puas jika mendapat pengakuan tentang kemampuannya di bidang tertentu.
Rona merah di wajah Su Jiawen membentang dari sudut matanya hingga pangkal telinganya. Karena orgasmenya mendekat, mulutnya sedikit terbuka dan desahannya seolah-olah dipenuhi kenikmatan. Sebelum Luo Yu menyadari apa yang dia lakukan, dia sudah mencium bibir Su Jiawen.
Su Jiawen terasa sangat bersih; mulutnya lembut dan basah. Saat Luo Yu menciumnya, dia terus menabrakkan bagian bawah tubuhnya ke dalamnya. Erangan Su Jiawen terjebak di tenggorokan Luo Yu dan dia hanya bisa mengeluarkan suara kecil dari hidungnya.
Luo Yu merasa seluruh tubuhnya panas saat mendengarkan erangan teredam Su Jiawen. Kepalanya juga pusing. Dia membuka beberapa kancing kemejanya, lalu menindih Su Jiawen ke tempat tidur dan menyetubuhinya dengan kasar. Seolah-olah dia merasa perlu memaksa Su Jiawen mengeluarkan suara-suara yang paling liar. Pada akhirnya, Su Jiawen hampir pingsan saat Luo Yu akhirnya mencapai klimaks.
Dia menarik diri dari tubuh Su Jiawen dan awalnya ingin langsung pergi ke kamar mandi seperti biasa, tetapi ketika melihat betapa menyedihkannya penampilan Su Jiawen, dia berhenti sejenak. Kemudian menempelkan dirinya ke Su Jiawen.
Su Jiawen tidak memiliki kekuatan untuk melawan, jadi dia hanya mengerutkan kening karena dia tidak berani berbicara. Luo Yu mengganggunya selama beberapa detik lagi. Setelah selesai memanfaatkannya, dia berguling untuk berbaring di samping Su Jiawen dan membiarkannya bersandar pada bahunya.
Su Jiawen menempel erat pada Luo Yu, menutup matanya sambil terengah-engah.
Luo Yu jarang melakukan interaksi lembut seperti itu dengan pasangan tidurnya. Saat dia membiarkan Su Jiawen bersandar padanya, dia berpikir dalam hati, “pria kecil ini tidak buruk, aku bisa menyimpannya untuk sementara waktu”.
Setelah beristirahat sebentar, Luo Yu bertanya pada Su Jiawen, “Bisakah kamu berjalan?”
Su Jiawen akhirnya membuka matanya dan mengangkat kepalanya untuk menatap Luo Yu. Dia berkata, “Aku seharusnya bisa.”
Jadi Luo Yu menyuruhnya memilih pakaian untuk dipakai dari lemari. Dia sendiri masuk ke kamar mandi.
Saat dia keluar dengan handuk di pinggangnya, Luo Yu melihat Su Jiawen mengayunkan kedua kakinya dari tempat tidur, hendak berdiri, tetapi tiba-tiba terjatuh ke lantai dengan bunyi ‘gedebuk’.
Dia setengah berlutut, setengah tergeletak di lantai dan menatap Luo Yu. Kemudian, dengan malu-malu, dia berkata, “Tuan Luo, aku rasa aku tidak bisa berjalan lagi.”
Luo Yu menghampiri dan meraih pergelangan tangannya, berniat menariknya berdiri. Su Jiawen juga berusaha bangkit, bahkan mengangkat tangan satunya untuk berpegangan pada Luo Yu. Siapa sangka, alih-alih berhasil menariknya, Luo Yu justru ikut kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai di sampingnya.
Handuk di pinggang Luo Yu hampir terlepas. Dia merasa kesal di dalam hati, tetapi setelah melihat wajah Su Jiawen yang ketakutan dan meminta maaf, dia akhirnya tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, dia hanya mengangkat tubuh Su Jiawen dan meletakkannya kembali di atas ranjang.
“Diam dan tetap di sini,” katanya singkat.
Su Jiawen awalnya mengangguk patuh. Namun ketika melihat Luo Yu mulai berganti pakaian di ruang ganti, dia bertanya pelan, “Apa kamu akan pergi, Tuan Luo?”
Luo Yu tidak menutup pintu ruang ganti. Dia sedang mengikat dasinya sambil melirik Su Jiawen. “Jangan tanya hal-hal yang tidak seharusnya.”
“Tapi bagaimana denganku?” tanya Su Jiawen dengan panik. Dia sepertinya takut bahwa setelah tidur dengan Luo Yu, Luo Yu akan meninggalkannya di Sarang Putih lagi. Bahkan di bawah tatapan dingin Luo Yu, dia tetap bersikeras mendapatkan jawaban darinya.
Luo Yu mengenakan jaket dan berjalan keluar dengan tenang. Dia menatapnya sebentar lalu berkata, “Aku akan mengirim seseorang untuk menjemputmu nanti.”
Su Jiawen menghela napas lega dan menatap Luo Yu dengan bingung.
Luo Yu mengulurkan tangan untuk mengusap pipi halus Su Jiawen, lalu pergi.
Luo Yu melihat arlojinya; malam itu, dia memiliki rencana makan malam dengan beberapa pejabat yang baru dilantik di Kota Ping. Luo Yu memiliki jaringan yang tidak terhitung jumlahnya di lingkaran politik dalam negeri. Setiap kali seorang pejabat baru dilantik di Kota Ping, mereka akan makan malam dengannya sebagai cara untuk saling mengenal batas masing-masing dan bertukar informasi.
Pertemuan makan malam ini cukup melelahkan. Begitu Luo Yu masuk ke mobil, Xing Licheng menyerahkan dua set berkas kepadanya. Yang di atas lebih tebal dan dia sudah melihatnya sebelumnya. Berisi informasi tentang orang-orang yang akan dia temui pada makan malam, dikumpulkan melalui penyelidikan sederhana. Yang lebih tipis di bawahnya adalah milik Su Jiawen.
Luo Yu membalik-baliknya dengan malas. Su Jiawen adalah mahasiswa studi Tiongkok di Universitas Ping. Dia adalah mahasiswa biasa, rata-rata dalam segala hal kecuali penampilannya. Ayahnya telah meninggal dunia sejak dia masih kecil dan ibunya baru-baru ini menjadi kecanduan judi. Luo Yu sudah tahu sisanya.
Luo Yu melempar berkas-berkas itu ke samping. Sekarang dia tahu Su Jiawen tidak memiliki latar belakang yang unik, dia merasa sedikit lebih yakin. Jadi ketika Xing Licheng bertanya akan menempatkan orang dari Sarang Putih itu di mana, Luo Yu hampir tanpa berpikir menjawab, “Rumah.”
Di rumahnya ada seekor anjing besar yang galak. Di halaman belakang, ada tiga kuda ras murni. Yang kurang hanya pemanas tempat tidur untuk musim dingin.
Xing Licheng setuju, lalu melaporkan aktivitas A·L kepada Luo Yu. A·L masih tenggelam dalam surga Asia-nya dan belum bangun.
Luo Yu merasa A·L seperti bom asap, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu. Dia menanyakan beberapa pertanyaan lagi kepada Xing Licheng sebelum mereka tiba di tempat makan malam yang direncanakan.
Malam itu dipenuhi perdebatan. Luo Yu minum cukup banyak hingga sedikit mabuk. Karena lelah seharian, dia tertidur di perjalanan pulang.
Ketika dia keluar dari mobil, dia terbangun oleh hembusan angin dingin. Xing Licheng membantu dia masuk ke dalam rumah. Su Jiawen duduk di sofa menatapnya dengan waspada.
Luo Yu tidak pernah benar-benar mengingat orang-orang yang menemaninya di ranjang. Setelah beberapa jam tidak bertemu, dia hampir melupakan Su Jiawen. Sekarang setelah melihat Su Jiawen lagi, perasaannya tidak bisa dikategorikan sebagai senang atau sedih. Dia hanya meliriknya sebelum naik ke atas.
Ketika Xing Licheng membawa Su Jiawen ke rumah Luo Yu, dia merasa bahwa perlakuan Luo Yu terhadap orang ini istimewa, jadi dia sempat berbicara lebih lama dengannya. Dia menyiapkan kamar tamu di lantai bawah dan berpesan, “Ketika tuan tidak membutuhkan kehadiranmu, jangan mengganggunya.”
Su Jiawen mengingat kata-kata Xing Licheng, jadi dia berdiri di bawah tangga dan menatap Luo Yu. Luo Yu berjalan setengah jalan ke atas sebelum berhenti. Dia berkata kepada orang di bawah tangga, “Untuk apa kalian berdiri di situ? Tidak bisakah kalian berjalan?”
Su Jiawen menatap Xing Licheng. Ketika Xing Licheng mengangguk sedikit padanya, tanpa ekspresi, dia akhirnya berjalan pincang secepat mungkin untuk berdiri di samping Luo Yu.
Malam itu, Luo Yu tidak melakukan apa pun yang lebih jauh, tetapi tetap membuat Su Jiawen kelelahan.
Ketika Luo Yu mabuk, dia memiliki banyak permintaan. Satu saat dia memerintahkan Su Jiawen untuk menyiapkan air mandi untuknya, selanjutnya dia ingin Su Jiawen menginjak punggungnya dan memberinya pijat.
Su Jiawen hanyalah mahasiswa sastra, bagaimana dia tahu cara memijat? Ponselnya juga sudah diambil oleh Xing Licheng, jadi dia hanya bisa bertanya pada Luo Yu, “Bolehkah aku meminjam ponselmu, Tuan Luo. Aku ingin mencari bagaimana cara melakukannya.”
Luo Yu terbaring telanjang di tempat tidur. Otot punggungnya kaku dan menonjol. Dia menoleh memandang Su Jiawen dengan tatapan menilai. Setelah hening sejenak, dia berkata singkat, “Mencari apa? Pijat saja sesukamu.”
Su Jiawen tidak punya pilihan lain selain duduk di punggung Luo Yu. Tangannya bergerak di sekitar bahu Luo Yu, kadang menepuk di sebelah kiri, kadang menekan di sebelah kanan. Setiap kali dia ingin istirahat saat berpikir Luo Yu sudah tertidur, suara Luo Yu akan terdengar lagi dan bertanya, “Kamu mati?”
Saat memijat, Su Jiawen juga merasa mengantuk. Gerakannya menjadi semakin lambat hingga akhirnya Luo Yu merasa tekanan di punggungnya semakin ringan. Akhirnya, Su Jiawen jatuh di atasnya, sehingga dia mendorongnya dengan siku.
Luo Yu melirik untuk melihat Su Jiawen yang ternyata sudah tertidur. Dia sepertinya sudah tertidur nyenyak tetapi tangannya masih berbentuk kepalan, seolah-olah akan melanjutkan memijat bahu Luo Yu.
Luo Yu tertawa dalam hati. Dia tidak pernah tidur di tempat tidur yang sama dengan orang lain, tetapi Su Jiawen begitu lemah secara fisik sehingga tidak berbahaya. Luo Yu hanya mendorongnya ke lantai.
Su Jiawen telah mengalami ketakutan sepanjang hari, lalu terlibat dalam aktivitas kasar dengan Luo Yu; dia bahkan tidak terbangun setelah jatuh ke karpet. Luo Yu memberinya selimut, lalu pergi tidur sendiri.
