Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Setelah dia mengucapkan nama panggilan khusus yang selalu ingin dia ucapkan, bukannya merasa lega, itu justru membuatnya seratus kali lebih gugup.
Anak laki-laki yang dipanggil Ci Ye itu, berkedip lalu tiba-tiba tertawa terbahak.
“‘Ci Ye’? Kedengarannya sangat kekanak-kanakan.”
Tidak tahu apa yang membuat Qiu Ci tertawa sambil memegangi perutnya, bahkan bersandar pada tubuh Mu Yu tanpa peduli akan citranya.
Nama panggilan yang selama ini dijaga dalam hati dengan sangat hati-hati, kini diejek oleh orang yang bersangkutan, membuat wajah Mu Yu seketika memerah karena malu. Dia pun tak kuasa menahan diri membalas, “Ci Ge, bukankah ‘Tuan Kecil Qiu’ jauh lebih kekanak-kanakan?”
Itulah kali pertama dia melawan Qiu Ci secara verbal.
Qiu Ci menghentikan tawanya, lalu menjelaskan dengan cukup serius, “Kamu memanggilku Ci Ge karena aku memang pemimpin di antara kita, aku yang memutuskan semuanya . Sedangkan ‘Tuan Kecil Qiu’ itu karena ayahku dipanggil Tuan Qiu, dan aku sebagai anaknya, jadi otomatis dipanggil Tuan Kecil Qiu.”
Dia mendekat sedikit. “Menurutmu, wajah ayahku yang galak seperti itu, bukankah sangat cocok dipanggil Tuan Qiu?”
Penampilan Qiu Wei memang sangat mirip gangster. Orang yang tidak tahu latar belakangnya pasti akan mengira dia seorang gangster. Dan memang benar, di masa mudanya, Qiu Wei memang pernah menjadi gangster di masa mudanya, jadi julukan “Tuan Qiu” sangat layak disematkan padanya.
Wajah Qiu Ci adalah gabungan dari kedua orang tuanya, sehingga tidak terlalu tampak seperti gangster seperti ayahnya.
Karena merasa lucu dengan panggilan dari Mu Yu, suasana hati Qiu Ci membaik. Secara refleks, dia mengacak-acak rambut Mu Yu.
Ini adalah sesuatu yang sering dilakukannya pada Yu Shan, untuk menunjukkan rasa sayangnya.
“Kalau begitu, panggil saja aku ‘Ci Ye’. Tapi jangan panggil aku seperti itu di depan orang lain. Kamu sama seperti Si Bao Shan, cukup panggil aku A-Ci.”
Setelah pertarungan bersama mereka tadi, Qiu Ci semakin menyukai Mu Yu.
Karena dia sudah mengakui si bodoh kecil itu sebagai adiknya, dia harus memperlakukannya secara khusus.
“A-Ci.”
Suara itu tiba-tiba terdengar di telinga.
Mungkin karena dia terlalu dekat saat mereka berbicara, Qiu Ci merasakan lapisan kehangatan di telinganya.
Secara refleks dia menoleh dan menatap sepasang mata hitam yang begitu jernih. Di dalamnya, dia melihat pantulan dirinya di mata itu dan merasakan kecanggungan yang tak terlukiskan di hatinya.
Dia segera memalingkan wajah, mengusap ujung hidungnya, dan masih sempat bergumam, “Ngomong-ngomong, Bao Shan dulu memanggilku Ci Ge, tapi semakin tua, dia semakin tidak tahu bagaimana bersikap seperti anak manja lagi.”
Awalnya Mu Yu sangat senang, tapi begitu nama Yu Shan disebut, hatinya langsung terasa tidak nyaman.
Dia sangat ingin bertanya pada Qiu Ci, apakah ia benar-benar menyukai Yu Shan. Jika memang Yu Shan tidak menyukainya, apakah ia bisa mempertimbangkan untuk menyukai orang lain dan mempertimbangkan dirinya.
Tapi, pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokan, lalu ditelan kembali dengan paksa.
Karena luka di wajahnya, Qiu Ci berbohong kepada Chu Qing bahwa Mu Yu sedang dalam suasana hati yang buruk sejak mengunjungi makam, dan dia ingin membawanya ke tempat lain untuk bersantai dan menyesuaikan suasana hatinya.
Dia begitu bersenang-senang sehingga dia tidak kembali ke sekolah sampai sepuluh hari kemudian, dan tertinggal dalam banyak pelajaran.
Qiu Ci sendiri tidak terlalu ambil pusing.
Tapi karena telah mengakui Mu Yu sebagai adiknya, dia tetap menyempatkan diri mampir ke Kelas Satu. Ketika kembali, dia membawa beberapa buku catatan dan meletakkannya di meja Mu Yu.
Melihat tulisan tangan yang indah di sampulnya, tertulis nama Yu Shan, hati Mu Yu terasa rumit.
Qiu Ci tidak dapat melihat kepahitan cinta di hatinya, dan menunjuk ke buku catatannya: “Ini yang aku, Ge mu, beli dengan teh susu selama seminggu.”
Sejak Qiu Ci dan Mu Yu izin lalu kembali bersamaan, anak-anak di Kelas Delapan mulai mencium sesuatu yang mencurigakan.
Apalagi setelah kembali, sikap Qiu Ci terhadap teman sebangkunya itu jauh lebih ramah. Mereka pun mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi.
Waktu berlalu, dan beberapa teman lama Qiu Ci mulai merasa iri.
Bagaimanapun, mereka tumbuh bersama dengan Qiu Ci, jadi sudah seharusnya menjadi sahabat karibnya.
Sedangkan Mu Yu? Dia baru saja datang, tapi sudah berhasil menerobos masuk ke dalam lingkaran pertemanan mereka yang sudah terbentuk lebih dari sepuluh tahun. Tidak hanya masuk, bahkan langsung berada di pusatnya.
Ketika sedang berkumpul di akhir pekan, beberapa dari mereka mulai menyindir Mu Yu secara halus tapi tajam.
Mu Yu yang jelas-jelas diperlakukan dingin hanya memasang wajah datar sepanjang waktu, membuat serangan verbal mereka terasa seperti memukul kapas. Bukannya puas, mereka malah semakin kesal.
“Kenapa harus dia?”
Salah satu anak laki-laki merasa cemburu ketika melihat Qiu Ci mengajari Mu Yu cara menunggang kuda dari kejauhan.
Dia dan Ci Ge juga sudah seperti saudara seperjuangan, tapi tidak pernah diperlakukan seistimewa itu.
“Shan Jie, apa pendapatmu tentang Mu Yu?”
Dia begitu ingin mencari sekutu dalam ketidaksukaannya, dan Yu Shan adalah kandidat terbaik. Jika Yu Shan juga tidak suka Mu Yu, mungkin Qiu Ci akan menjauh dari si kutu buku lemah itu.
Siapa yang tidak tahu bahwa Qiu Ci paling menyayangi Yu Shan.
Yu Shan memakan piring buah dan berkedip: “Untuk saat ini, bagus.”
Jika sampai A-Ci bisa mengesampingkan sikap kerasnya, maka orang itu jelas tidak sembarangan. Bahkan Yu Shan cukup penasaran, apa sebenarnya yang terjadi selama mereka berdua izin sampai Qiu Ci bisa berubah sikap secepat itu.
“Aku juga merasa dia baik.” Suara perempuan terdengar dari sisi lain, seorang gadis berpenampilan menawan dalam pakaian berkuda duduk di samping Yu Shan.
Dia mengangkat kepala, memandang kedua anak laki-laki yang tidak jauh dari sana, lalu tersenyum kecil. “Mereka cukup serasi.”
Anak laki-laki di seberang tampaknya tidak mendengar, tapi Yu Shan menangkap kalimat itu dengan jelas. Secara refleks, dia mengikuti arah pandangan temannya.
Di bawah terik matahari, A-Ci mengajari Mu Yu yang kebingungan cara menunggang kuda, tanpa ada rasa tidak sabar di wajahnya.
Dia seperti sedang melamun, memikirkan masa lalu.
Melihat itu, Qi Meng mendekat ke telinga temannya dan terkekeh pelan, “Cemburu, ya?”
Yu Shan tampak tenang dan menggelengkan kepalanya: “Tidak.” Dia hanya sedikit beruntung bertemu seseorang seperti A-Ci saat dia masih kecil.
Setelah berjemur di bawah matahari selama beberapa jam, Qiu Ci akhirnya membawa Mu Yu ke area istirahat.
Yu Shan sudah lebih dulu menyuruh orang menyiapkan minuman dingin. Saat mengambil salah satu gelas, Qiu Ci bertanya pada Yu Shan, “Kamu mau pergi ke mana iburan musim panas nanti?”
Kelompok kecil mereka memiliki tradisi: setiap liburan musim dingin dan musim panas, mereka akan bergiliran memilih tempat liburan. Kali ini, giliran Lu Ning yang menentukan tujuan.
Karena semester ini sudah berjalan separuh, Lu Ning lebih dulu bertanya pada Qiu Ci, dan Qiu Ci pun kini bertanya pada Yu Shan.
Yu Shan menggigit bibir pelan, mencoba menawar, “Untuk liburan kali ini, bolehkah aku tidak ikut?”
Tangan Qiu Ci yang memegang cangkir terhenti, dan ekspresinya tidak dapat menunjukkan apakah dia senang atau marah untuk sesaat.
“Shan Jie, kamu sudah tidak ikut saat liburan musim dingin lalu,” seseorang mengingatkan, memecah suasana canggung.
Tentu saja Yu Shan tahu itu tidak baik, tapi liburan musim panas kali ini benar-benar ada yang harus dia kerjakan, dia harus mempersiapkan diri untuk sebuah kompetisi dan mengikuti kelas tambahan yang sangat langka.
“Hanya kali ini saja,” ucap Yu Shan pelan.
Qiu Ci tak berkata apa-apa. Di sisi lain, Mu Yu yang sejak tadi diam, memegang erat gelas dingin di telapak tangannya. Namun, dinginnya air tak mampu meredakan ketidakpuasannya terhadap Yu Shan.
Dia tahu betul bahwa perasaannya tidak seharusnya seperti itu. Sebagai orang luar, dia tidak memiliki hak. Namun, perasaan negatif itu sulit dibendung.
Sumber dari semua ini, tidak lain adalah satu kata “cemburu”.
“Aku mau jalan-jalan,” ujar Qiu Ci sambil meninggalkan mereka begitu saja dan melangkah pergi.
Beberapa anak laki-laki saling pandang, lalu menyusul Qiu Ci.
“Ci Ge, ayo bertaruh siapa yang duluan sampai garis akhir.”
“Iya, aku sudah lama tidak main game seru. Membayangkannya saja aku sudah senang. Ci Ge, ikutlah, aku berani bertaruh pada mobil sport yang kubeli bulan lalu.”
Tak lama kemudian, di area istirahat hanya menyisakan Yu Shan, Qi Meng, dan Mu Yu.
Mu Yu sebenarnya ingin ikut, tapi dia masih pemula. Ikut serta hanya akan menjadi beban.
Qi Meng menerima sebuah pesan, lalu berpamitan kepada Yu Shan dan buru-buru pergi.
Ini pertama kalinya Yu Shan dan Mu Yu berdua saja.
Dia tidak akrab sama sekali dengan anak laki-laki pendiam ini, bahkan hampir tidak pernah berbicara langsung dengannya. Tapi entah karena rasa curiga yang samar, Yu Shan kerap memperhatikan Mu Yu tanpa sadar. Seiring waktu, kecurigaannya semakin terasa masuk akal.
Yu Shan tidak berusaha menyembunyikan pandangannya. Mu Yu mengernyit halus, lalu menoleh.
Saat dia hendak memalingkan wajah, suara itu terdengar.
“Mu Yu, apakah kamu sangat membenciku?”
Wajah Mu Yu menegang, kelopak matanya menunduk. Dia tidak mengangguk, tapi juga tidak menggeleng.
Sikapnya yang ambigu membuat Yu Shan semakin yakin akan dugaannya.
“Kamu menyukai A-Ci, karena itu kamu membenciku.”
Tangan Mu Yu terasa dingin. Baru saat itu dia menyadari gelas di tangannya telah miring, dan air es di dalamnya tumpah keluar.
Mu Yu tak pernah menyangka seseorang bisa menebak isi hatinya dengan begitu tepat dan orang itu adalah Yu Shan.
Dia berusaha tetap tenang, tapi saat hendak meletakkan gelas, tangannya tidak stabil. Gelas itu jatuh ke tanah, dan air es memercik mengenai sepatunya.
Kepanikan tampak dalam setiap gerak-geriknya.
Apakah Yu Shan akan memberi tahu Qiu Ci?
Jika Qiu Ci tahu, bagaimana reaksinya? Akankah dia menatapnya dengan jijik? Tidak lagi tersenyum padanya, tidak lagi mengusap kepalanya sambil memanggilnya “si bodoh kecil”?
Mu Yu merasa haus akan kebaikan Qiu Ci terhadapnya, dan wajahnya menjadi pucat saat dia berpikir semua ini akan lenyap seperti asap.
Bahkan sinar matahari yang membakar pun tak mampu menghangatkan hatinya yang membeku.
Yu Shan tampak menangkap perasaan itu, suaranya diturunkan menjadi sangat pelan, “Tenang saja, aku tidak akan memberi tahu A-Ci.”
Kini dia telah yakin, Mu Yu diam-diam menyukai Qiu Ci.
“Terima kasih,” jawab Mu Yu, bibirnya terkatup. Namun di dalam hati, tak sedikit pun merasa lega.
Jika Yu Shan bisa menebaknya, bukan tidak mungkin orang lain pun akan menyadarinya. Bahkan, Qiu Ci sendiri bisa jadi akan merasakannya suatu saat nanti.
Yu Shan kembali bisa membaca pikirannya. Dia menyandarkan dagu ke tangan dan memandang ke arah Qiu Ci yang tengah berpacu menunggang kuda menuju garis akhir. Dia berkata dengan ringan, “Tenang saja. Selama kamu tidak mengatakannya, A-Ci tidak akan pernah menyadarinya.”
Saat Mu Yu menoleh, Yu Shan menjelaskan, “A-Ci itu sangat lamban dalam urusan perasaan. Dulu juga ada anak laki-laki yang menyukainya, dia sama sekali tidak menyadarinya.”
Detailnya tidak pantas dia ceritakan lebih jauh, tapi bahkan saat Lu Ning menyukai Qiu Ci dulu pun, Qiu Ci tidak mengetahuinya.
Kebaikannya memiliki arti yang berbeda di mata Mu Yu. Dia selalu merasa bahwa gadis di depannya sedang pamer dalam setiap kata-katanya.
Menyombongkan betapa dalam dia mengenal Qiu Ci, menyombongkan betapa banyak orang menyukai Qiu Ci, tapi hanya dia yang disukai Qiu Ci.
Yu Shan terdiam sejenak, lalu dengan suara pelan, memberi satu peringatan baik.
“Tapi menurut pengalamanku, kalau kamu tidak mengambil langkah pertama, maka kemungkinan bisa bersama A-Ci nyaris tidak ada.”
“Kadang, keberanian untuk melangkah duluan bisa membawa perubahan yang tak terduga.”
Mu Yu tidak menyangka Yu Shan sebaik itu. Dia berkata dengan suara berat, “Kamu ingin memanfaatkanku untuk mengalihkan perhatian A-Ci darimu.”
Niat baiknya disalahartikan, Yu Shan hanya mengangkat alis, tidak menjelaskan apa-apa. Dia hanya berkata, “Hubunganku dengan A-Ci tidak sesederhana yang kalian pikirkan.”
Semakin dijelaskan, justru semakin terasa menantang dan tidak menyenangkan, setidaknya bagi Mu Yu yang mendengarnya, itu terasa menyakitkan.
Apa yang tidak berani dia harapkan, dengan enteng diucapkan oleh Yu Shan seolah tak berarti.
Melihat Mu Yu tampaknya enggan membahas lebih jauh, Yu Shan pun berhenti bicara dan mengalihkan pandangannya pada Qiu Ci di kejauhan.
Pemuda yang berlari liar di bawah sinar matahari itu, terlihat jauh lebih bersinar daripada siapa pun.
Ingatan masa kecil pun kembali.
Saat kecil, setiap kali merasa sedih, satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah memeluk boneka beruang dan menangis.
Saat itu, Qiu Ci yang masih kecil tapi sudah ketus, akan menatapnya dengan jijik, lalu berkata, “Menangis lagi? Jelek sekali. Hanya orang tidak berguna yang suka menangis. Siapa pun yang berani mengganggumu, lawan saja!”
Qiu Ci kecil memiliki tubuh yang lemah, tapi sangat keras kepala dan kejam. Namun dia juga luar biasa, seperti matahari yang menyilaukan. Bahkan jika disebut sebagai pusat perhatian semua orang, itu bukanlah pujian yang berlebihan.
Yu Shan kecil yang terus merasa ditinggalkan oleh dunia, mulai mati-matian mengejar sosok itu.
Dia tahu, itu bukan cinta. Hanya seseorang yang sangat merindukan kasih sayang, yang tidak ingin ditinggalkan oleh anak lelaki yang selalu mencelanya, namun diam-diam mengajarinya untuk tumbuh kuat.
Dia pun paham, tidak mungkin bisa hidup selamanya di bawah perlindungannya. Cepat atau lambat, dia harus tumbuh dewasa.
Yu Shan menatap Qiu Ci yang baru saja menang dan turun dari kudanya, berjalan ke arahnya dan melemparkan barang hasil taruhan ke pangkuannya.
“Mobil balap Sun Jialu terlalu norak. Sekarang itu milikmu, bebas mau kamu apakan.”
Yu Shan memegang kunci mobil, dan menatap Qiu Ci yang kini sudah tidak marah lagi. Hatinya terasa hangat.
Qiu Ci lalu menoleh ke Mu Yu, dan berkata, “Ada bagian untukmu juga. Tapi kamu harus menunggu beberapa hari agar mereka menyiapkannya terlebih dulu.”
Bagi Qiu Ci dan teman-temannya, taruhan semacam itu adalah hal biasa. Qiu Ci ikut hanya untuk menang, bukan karena tertarik pada taruhannya.
Lima orang ikut lomba kali ini. Qiu Ci menang dan membawa pulang semua taruhan.
Kalau Bao Shan mendaptkan bagian, tentu saja si bodoh kecil yang baru saja dia akui sebagai adik, tidak akan dilupakan.
