English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 9 Part 5

Suara nyaring yang memekakkan telinga melintasi cakrawala saat guntur membelah awan gelap di atas. Gemuruh petir yang tak terhitung jumlahnya menembus langit seperti naga yang melonjak mengalir keluar dari laut, semuanya terbang menuju Shangjing pada saat yang bersamaan.

Hujan mulai turun dengan lebat; hujan deras yang membasahi segalanya menyalurkan air dari langit ke bumi, memadamkan neraka yang mengamuk di seluruh kota. Dari jauh terdengar suara gong pasukan Mongol, menandakan bahwa mereka akan mundur untuk sementara.

Terbatuk, Duan Ling keluar dari reruntuhan, dan setelah beberapa kali berbelok di gang, dia kembali ke Viburnum. Bagian dalam Viburnum adalah gambaran dari ketenangan.

“Xunchun! Seseorang membunuh kusirnya—”

Dia berlari melewati serambi yang berkelok-kelok, dan suaranya tiba-tiba berhenti. Ada dua orang di halaman depan, berdiri di bawah guyuran hujan.

Gaun cantik Xunchun basah kuyup oleh hujan. Rambut basahnya menempel ke wajahnya. Dia memegang Zhanshanhai.

Lang Junxia memakai topi kerucut, dan dia berdiri di halaman, memegang Qingfengjian. Mereka berdiri melawan satu sama lain dengan jarak di antara mereka.

Langkah Duan Ling melambat saat dia berjalan ke halaman. Dia menatap Lang Junxia dengan bingung.

“Ini aku. Aku datang untuk menjemputmu. Terlalu berbahaya untuk berada di sini.”

“Jangan pergi dengannya! Yang mulia Pangeran!”

Sesaat, Duan Ling merasa sedikit bingung.

“Shangjing pasti akan diterobos hari ini. Kau tidak dapat tinggal di sini lebih lama lagi.”

“Yang Mulia memberitahuku bahwa kecuali dia ada di sini secara pribadi, tidak ada yang dapat membawanya.”

Hujan badai tampaknya ada di mana-mana; suara air yang jatuh sudah sangat keras sehingga tidak mungkin ada yang dapat mendengar percakapan ini. Ada guntur lain. Duan Ling berteriak, “Hentikan!”

Mata Xunchun menyipit, tetapi sejak saat itu dia sudah kehilangan inisiatif. Lang Junxia menyerang tenggorokan Xunchun dengan pedangnya; dia berbalik, melangkah ke aliran air hujan yang mengalir, gaun merahnya berkibar ketika itu memutar air di sekelilingnya.

Sejuta tetes air hujan tampaknya membeku dalam sekejap cahaya yang menyambar, dunia membiaskan setiap tetesan kristal hujan, seolah-olah menjadi fosil dalam waktu — Duan Ling menghunuskan pedangnya, Xunchun mundur ke posisi bertahan, pedang Lang Junxia mendorong ke depan.

Xunchun mencabut tusuk rambutnya, dan melemparkannya.

Gerakan Lang Junxia menusuk perut Xunchun, sementara tusuk rambut Xunchun berputar di udara, menembus tetesan air hingga meledak, mengubur dirinya sendiri di bawah tulang rusuk Lang Junxia.

Detik berikutnya, Lang Junxia menebas dengan Qingfengjian, tetapi Xunchun mengambil risiko menerima serangan ini secara langsung dan bergegas ke arahnya, tangannya terulur, dan kedua telapak tangannya terhubung dengan dada Lang Junxia. Energi internalnya meletus di dalam tubuh Lang Junxia yang terhalang oleh titik meridian yang disegel oleh tusuk rambutnya — dan getaran tersebut merusak organ dalamnya sekaligus.

Lang Junxia berbalik, melangkah ke sisi pilar kayu dan bergegas menuju Duan Ling; Duan Ling segera menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya ke Lang Junxia. Jelas telah terluka parah, Lang Junxia tidak berhenti tepat waktu dan tersandung pedang. Duan Ling segera mundur karena takut menyakitinya.

Baru kemudian darah tersembur keluar dari mulut Lang Junxia; pedang di tangan Duan Ling kini berlumuran darah. Setelah itu, Lang Junxia melarikan diri dari Viburnum dan menghilang. Tepat sebelum dia pergi, mata mereka bertemu, dan sorot mata Lang Junxia membuat Duan Ling sangat menyadari sesuatu, tetapi itu tetap berada di ujung lidahnya.

Hujan turun dengan lebat. Duan Ling mengambil beberapa langkah untuk mengejarnya, tetapi lambat laun dia berhenti, dan berbalik.

“Xunchun!” Duan Ling berkata dengan cemas.

Perut Xunchun telah tertusuk; gaunnya berlumuran darah. Duan Ling dengan cepat membantunya masuk. Ding Zhi tiba, dan dengan teriakan kaget dia bergegas menemui mereka untuk memeriksa keadaan luka Xunchun.


Pada saat yang sama, pasukan Chen Selatan mendekati Perbukitan Barat, dua ratus mil jauhnya dari Shangjing.1 Hujan turun dengan tiba-tiba dan sepertinya hanya akan bertambah lebat; medan di bawah pegunungan penuh dengan lumpur. Seluruh pasukan mengarungi sungai, dan hampir empat puluh ribu orang mendekat ke bagian belakang pasukan Mongol.

“Lapor—” seorang pengintai berlari ke arah mereka.

“Bala bantuan Mongolia telah tiba, pasukan di luar Shangjing berjumlah seratus ribu!”

Li Jianhong basah kuyup. Hujan deras mengalir di zirahnya, membasahi seluruh pakaiannya, lebih dingin dari apa pun yang pernah dia rasakan.

“Apakah mereka menerobos kota?”

Suaranya sendiri terdengar seperti datang dari jarak yang sangat jauh. Li Jianhong merasa seolah-olah itu bukan miliknya lagi.

“Mereka bertarung di jalanan.” Pengintai itu berkata dengan terengah-engah, “Unit barisan depan menyelamatkan sekelompok siswa yang melarikan diri dari Akademi Biyong. Mereka mengatakan bahwa Yelü Dashi telah tiada.”

“Bawa mereka ke sini,” Li Jianhong berkata.

Beberapa siswa mendekat, berlumuran tanah dan lumpur. Mereka memeras air berlumpur dari pakaian mereka dan berlutut di depan Li Jianhong.

“Jenderal!” Para murid itu meratap, “Jenderal, selamatkan kami—”

“Berapa banyak orang yang berhasil melarikan diri?” Li Jianhong bertanya, napasnya tersengal-sengal.

“Hanya kami saja!” Murid itu berkata sambil terisak, “Ketua menyuruh kami untuk lari terlebih dahulu, dan dia ditembak oleh orang Mongolia…”

Dunia tampaknya berputar di sekitar Li Jianhong; dia telah memaksa membuat barisan selama berhari-hari, kemampuan mentalnya telah mencapai batasnya. Ketika dia mendengar hal ini, vertigo menguasainya.

Tapi saat itulah bencana tiba-tiba melanda — salah satu siswa tiba-tiba mendongak dan dengan jentikan lidahnya, beberapa jarum yang tersembunyi terbang menembus hujan untuk menguburkan mereka di tangan kanan Li Jianhong. Li Jianhong dengan cepat mundur dan menghunuskan pedangnya dengan tangan kirinya. Saat dia berbalik, pembunuh yang menyamar sebagai siswa kebetulan menerkam tepat pada saat itu, dan Li Jianhong menusukkan pedang ke tenggorokannya.

“Yang Mulia!”

Wajah dari para pengawal pribadinya memucat, dan mereka berbondong-bondong ke depan, segera mengelilingi “siswa” yang begitu penuh celah dengan panah mereka sehingga menyerupai sarang lebah. Tangan kanan Li Jianhong terkena jarum, dan dalam beberapa saat mati rasa telah menyebar ke seluruh lengan kanannya. Dia menekan jari manis tempat jarum itu tertancap ke pedangnya dengan tegas, memotong seluruh jarinya. Darah hitam mengucur dari lukanya sehingga berubah menjadi merah tua, tapi racun telah merembes ke lengannya.

“Panggil dokter!” Seseorang berteriak.

“Tidak perlu.” Li Jianhong berkata, “Kirimkan pesan bahwa kita akan menarik tenda dan pergi. Beri tahu pasukan Khitan di antara kita bahwa Shangjing belum diterobos dan kita masih memiliki peluang. Pastikan mereka tahu untuk tidak menyerah!”

Sore itu, Li Jianhong memimpin pasukan Liao yang terdiri dari sepuluh ribu orang dan kavaleri Chen yang berjumlah empat puluh ribu melewati medan yang sulit ke Perbukitan Barat, melewati ngarai yang sempit, menantang sisi tebing yang runtuh, mengambil jalan pintas ketika mereka bergegas ke Shangjing.

“Lapor—”

Unit barisan depan di depannya bergerak dengan cepat. Seorang pria memacu kudanya ke arah Li Jianhong di tengah hujan lebat.

“Ada penyergapan di depan.” Wu Du melepas helmnya; ada lumpur di sekujur wajahnya. Dia berkata kepada Li Jianhong, “Hampir sepuluh ribu orang menjaga jalan di dalam ngarai Perbukitan Barat. Mari pergi berkeliling, Yang Mulia. Itu terlalu berbahaya.”

“Tubruk mereka,” kata Li Jianhong, dan diikuti dengan teriakan tegas, “Pasukan Khitan, ikuti aku! Bawa barisan depan! Pasukan Chen yang Agung akan berada tepat di belakang kalian! Kita akan melewati Perbukitan Barat dalam dua jam! Pemanah, ikuti aku!”

Wu Du terlihat terkejut, tetapi Li Jianhong hanya melemparkan dua saber panjang padanya. Wanlibenxiao memimpin dan menyerang ke arah ngarai.

Tepat di belakangnya, hati mereka masih di Shangjing, pasukan Khitan menyerbu ke ngarai dengan teriakan yang menghancurkan bumi, masing-masing dengan perisai di depan mereka untuk melindungi unit pasukan penyerangan inti, kuku kuda mereka menendang air berlumpur ketika mereka pergi. Li Jianhong memimpin hampir lima puluh ribu orangnya dan bertubrukan dengan kejam dengan formasi pertahanan pasukan Mongol.

Pasukan Mongol telah memasang perangkap banjir bandang dan kayu gelondongan di sepanjang jalur alternatif, dan segera setelah Li Jianhong memutuskan untuk memutar di sekitar penyergapan, mereka akan menghentikan semuanya. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Li Jianhong justru akan mencoba untuk menghancurkan mereka secara langsung. Ketika kedua belah pihak bertemu, dia mengangkat Zhenshanhe dan memotong seorang prajurit Mongol, menembus perisai, darah dan dagingnya terbang ke kedua sisi Li Jianhong. Jubah merah tua Li Jianhong berkibar di belakangnya; ke mana pun dia pergi, tanah yang dia tutupi akan seperti penggiling daging, kilatan cahaya bersinar dari pedangnya, dan di depan bayangan yang ditimbulkannya, dia berlari tanpa ampun melewati ngarai yang berbahaya.

Pasukan Khitan menyerang, diikuti oleh empat puluh ribu kavaleri Chen; untuk sesaat, pasukan mereka bertemu untuk menjadi arus yang kuat, mengatasi garis pertahanan Pasukan Mongol. Lengan Li Jianhong menjadi lemah karena membunuh dan dia hampir tidak dapat melihat apa yang ada di depannya lagi; hujan mengalir ke matanya, mengubah pandangannya menjadi kabur. Di tengah-tengah pertempuran, racun yang belum sepenuhnya keluar dari tubuhnya menyebar ke lengannya, merembes ke dalam hatinya.

Bibirnya telah berubah pucat pasi, tetapi dia masih menerobos medan perang dengan seluruh kekuatannya. Mereka kurang dari seribu langkah dari mulut ngarai sekarang; pintu keluar tepat di depannya. Di tebing di atas terdengar desiran angin ketika sesuatu menembus udara — seorang pria jatuh ke arah pasukan seperti kera.

Pada saat itu, Li Jianhong menatap kematian sebelum memberinya firasat seperti intuisi. Dalam sekejap, dia bersandar dan bergerak dengan cepat ke punggung kudanya, melompat ke udara. Wanlibenxiao meringkik dan mengelak ke satu sisi. Saat itu, seorang pembunuh terbang dengan pedang raksasa di tangan, dan memotong prajurit Khitan yang telah melangkah ke tempat di mana Li Jianhong menempatinya sebelumnya menjadi dua!

Ujung dari mulut pembunuh itu berubah menjadi pecahan dari suatu sudut.

Bumi di bawah mereka berguncang, hujan turun di sekeliling mereka seperti ember air, sambaran petir, dan gemuruh guntur; tidak ada pihak yang dapat mendengar apa pun yang dikatakan pihak lain lagi, tetapi siluet pembunuh bergerak dengan ketangkasan ekstrim di tengah kekuatan militer yang hebat ini, mengunci posisi Li Jianhong sebelum melangkah melewati kuda perang dan pasukan untuk berlari ke arahnya dengan pedang raksasa di punggungnya. Li Jianhong melompat ke tebing. Pembunuh itu menangkapnya; pedangnya meninggalkan sarungnya.

Li Jianhong menarik Zhenshanhe dan si pembunuh menghunuskan pedang besarnya. Kedua pedang itu berbenturan bersama dalam dentang logam di atas logam, bunyi denting bergema melalui ngarai; itu segera dikalahkan oleh suara gemuruh perang di bawah.

Wu Du menyerbu di mulut ngarai bersama dengan pasukan, dan menemukan suara itu di tengah hujan badai, dia tiba-tiba melihat ke arah Li Jianhong.

Li Jianhong tidak mengatakan apa-apa lagi. Pembunuh itu dan Li Jianhong bertukar sepuluh gerakan aneh di depan tebing, bergerak seperti tornado, setiap gerakan datang lebih cepat dari yang terakhir. Pedang pembunuh itu mendatanginya seperti angin kencang; gaya pedang Li Jianhong memotong amukan lautan badai. Di ujung akhir pertarungan, semua gerakan mereka didorong oleh naluri mereka yang berdiri di puncak seni bela diri. Kilatan petir menyambar di langit yang tak berbatas; satu-satunya hal yang tercermin pada pupil Li Jianhong adalah pedang itu.

Duanchenyuan—

Hidup ini sangat singkat; putuskan hubunganmu dengan samsara.

Li Jianhong terbungkam dalam amarah dan mengayunkan pedang ke pedang, melawannya dengan Zhenshanhe, tetapi di hatinya terasa seperti ada pisau yang berputar di dalamnya, membuat tangan kirinya bergetar hebat. Kedua pedang itu bertabrakan sekali lagi, dan begitu ujungnya bersentuhan, Li Jianhong membiarkan pedangnya menghancurkan sampai ke Duanchenyuan. Pembunuh itu melemparkan semua kekuatannya ke dalam lompatan ke belakang, dan empat jarinya terpotong sekaligus!

Duanchenyuan menebas penyokong Li Jianhong, dan darah mengalir di tangan kirinya. Li Jianhong menerkam ke depan untuk melemparkan dirinya ke arah pembunuh itu, dan saat dia baru saja akan menusukkan pedangnya ke arahnya, pembunuh itu tiba-tiba membuka mulutnya dan memuntahkan seikat jarum kecil, masing-masing sekecil rambut sapi.

Pada saat itu, Wu Du akhirnya berhasil mengejarnya. Dia merentangkan tangannya dan mendorongnya ke depan. Sebuah cakram magnet hitam muncul di pelindung telapak tangan di antara kedua tangannya, menarik setiap jarum terakhir ke sana, dan dengan serangkaian suara denting yang tajam, jarum-jarum itu mendarat di cakram. Li Jianhong terus menyerang ke depan, tetapi si pembunuh telah jatuh dari tebing ke medan perang yang penuh sesak.

Li Jianhong menopang dirinya dengan pedangnya. Penglihatannya menjadi gelap gulita.

“Yang Mulia?!” Wu Du berkata dengan keras.

“Membuatmu menebus kejahatanmu dengan bekerja untukku,” kata Li Jianhong, “Adalah salah satu dari sedikit keputusan benar yang pernah aku buat sepanjang hidupku…”

Wu Du berkata, “Yang Mulia, saya telah mendapatkan senjata tersembunyi mereka. Itu mungkin adalah racun ular. Saya akan segera membuat penawarnya.”

Li Jianhong berdiri di sana sambil terengah-engah. Dia dapat merasakan racun menyebar ke seluruh tubuhnya dengan keganasan dari pertarungan, dan itu telah membuatnya sedikit mati rasa. Dia mencoba yang terbaik untuk memindahkan energi melalui meridiannya, mendorong racun kembali ke lengan kanannya.

“Biarkan aku beristirahat sebentar.” Li Jianhong berkata dengan muram, sambil menatap pasukannya di bawah ngarai, mengatur napas.

Wu Du tidak berani berbicara. Dia berdiri di sana menunggu beberapa saat, sampai Li Jianhong pulih dan menyarungkan Zhenshanhe. Li Jianhong berkata, “Ayo pergi!”

Ketika pasukan keluar dari ngarai, mereka sudah dapat melihat Shangjing di kejauhan. Di bawah hujan badai yang deras, tembok kota telah runtuh di beberapa tempat. Di atas Shangjing, asap hitam bergulung membubung ke langit.

“Lapor—” Seorang utusan berlari ke arahnya. “Jalan ke Xiliang telah dibuka, Putri Helian telah kembali ke tanah airnya, pasukan yang menggunakan Jalan Zhongjing telah melewati Xiliang dan mereka datang ke sini secepat mungkin—!”

“Di mana mereka?” Li Jianhong menatap siluet buram Shangjing. Dalam banjir besar tersebut, pasukan Mongol telah memperhatikan bahwa bala bantuan telah tiba. Mereka mengubah unit belakang menjadi barisan depan dan mengalokasikan lima puluh ribu orang untuk menangani mereka.

“Mereka dapat tiba dalam dua hari!” Utusan itu berkata.

“Di mana Wu Du?” Suara Li Jianhong serak dan dalam.

“Dia pergi untuk membuat penawar untuk Yang Mulia,” pengawal pribadinya berkata, “Dia pergi ke Altyn-tagh dan dia dapat kembali dalam setengah hari.”

“Baiklah. Ikutlah denganku dan serang formasi mereka.” Li Jianhong berkata, “Kita akan segera berangkat ke Shangjing—!”

Sebelum kata-katanya selesai bergema, pertempuran terakhir yang menentukan akhirnya terungkap; di bawah komando Li Jianhong, empat puluh ribu pasukan bala bantuan dari Chen Selatan dan sepuluh ribu prajurit Khitan yang kuat menyerbu ke dalam formasi raksasa yang dibangun dengan tergesa-gesa yang disatukan oleh pasukan Mongol, dengan kekuatan yang mengguncang bumi.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Dekat Beijing. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Western_Hills.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments