• Post category:Embers
  • Reading time:23 mins read

Pecundang Dengan Alias Bertemu Satu Sama Lain

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: _yunda


Sheng Renxing duduk di meja di dalam restoran hotpot mala. Saat ini pukul tiga sore dan tidak ada banyak pelanggan lain di sekitar. Karyawan yang bosan setengah mati menatap mejanya, tidak sedikit pun memiliki keinginan untuk menutup-nutupi pandangannya.

Sheng Renxing mencoba menahannya tetapi pada akhirnya, dia masih berbalik untuk menatap kembali ke karyawan itu.

Karyawan itu terkejut. Dia segera menundukkan kepalanya dan berpura-pura sibuk dengan daftar penjualan. Aktingnya sangat realistis, Sheng Renxing hampir mengira dia sedang menonton drama.

Karyawan itu diam-diam mengalihkan pandangannya untuk sementara waktu. Setelah sudah merasa cukup lama, dia mengangkat kepalanya kembali untuk mengintip kedua pelanggan itu.

Tanpa diduga, dia akhirnya bertatapan dengan Sheng Renxing, yang masih menatapnya tanpa ekspresi.

Karyawan: “….”

“Kamu lihat apa?” Wei Huan, yang duduk di depan Sheng Renxing, bertanya.

Sheng Renxing berbalik untuk menatapnya. “Melihat o…” Dia hendak mengatakan ‘orang bodoh’ tetapi menyadari bahwa pamannya adalah orang yang sedang dia ajak bicara, dia mengubah kata-katanya, “pada keanekaragaman makhluk hidup.”

“?” Wei Huan melirik ke arah yang dilihat Sheng Renxing sebelum menghentikan topik pembicaraan. “Apa kamu suka makanan di sini?”

Ada semburat senyum di matanya. “Ibumu mengatakan kepadaku kalau kamu suka makan makanan pedas.”

Wei Huan mengenakan blazer, kemeja, dan celana panjang hari ini. Setelah masuk, dia melepas blazernya dan meletakkannya di samping. Dua kancing teratas kemeja merah mudanya dilepas dan dia menyingsingkan lengan bajunya.

Dia mengeluarkan aura dewasa, tapi sedikit provokatif. Sambaran listrik seolah mengalir melalui setiap gerakannya.

Dia sangat berbeda dari kesannya di telepon.

Sheng Renxing masih mengenakan pakaiannya yang kemarin: hoodie dan celana jins. Awalnya, dia berpikir bahwa dia terlihat sangat keren. Sekarang jika dibandingkan dengan penampilan pamannya, bagaimanapun, dia merasa seperti anak nakal.

Merasa dipengaruhi oleh hormon pria, dia diam-diam menggulung lengan bajunya juga.

Dia merasa seperti dia terlihat lebih dewasa seperti ini.

Sebenarnya, dia juga memiliki jas dari merek yang sama. Dia membelinya untuk pamer.

Tapi dia hanya memakainya sekali. Ketika dia melihat pantulan dirinya di cermin, tidak peduli dari sudut mana dia memandang, sesuatu selalu tampak tidak beres. Pada akhirnya, dia sampai pada kesimpulan berikut: pakaian itu tidak layak untuknya.

Jadi dia segera melepasnya.

Tanpa diduga, itu terlihat bagus jika dikenakan oleh Wei Huan.

Sheng Renxing mengalihkan pandangannya dari pakaian orang lain ke mata pria yang lebih tua itu. “Aku menyukainya.”

“…Terima kasih paman.”

“Aku senang kamu menyukainya.” Mata Wei Huan melengkung menjadi senyuman saat dia mengamati Sheng Renxing. Bocah itu saat ini menundukkan kepalanya saat dia membenamkan dirinya pada sepotong nian gao1 di depan.

Tiba-tiba, Wei Huan tertawa terbahak-bahak. “Ibumu juga memberitahuku kalau kamu tidak suka makan daun bawang dan ketumbar, kamu juga benci wortel, daging kelinci, bawang….”

Sheng Renxing tiba-tiba tersedak makanannya dan dia mulai batuk dengan keras.

Wei Huan berusaha untuk tidak tertawa saat dia memberikan segelas air dan serbet untuknya.

Sheng Renxing terbatuk sebentar, sementara itu wajahnya memerah. Dia menyeka bibirnya dengan serbet dan mencoba menyelamatkan citranya. “… Wortel bukan masalah.”

Wei Huan tidak bisa menahan diri saat dia tertawa terbahak-bahak.

Telinga Sheng Renxing memerah. Setelah berkubang dalam rasa malunya sejenak, dia bertanya, “Kenapa dia memberitahumu semua hal ini?”

Wei Huan mengambil beberapa waktu untuk mengatur kembali napasnya. “Saat kamu masih kecil, ada saat di mana aku ingin membawamu ke Xuancheng saat kamu sedang liburan.”

“Ibumu khawatir kamu tidak akan terbiasa tinggal di sini, jadi dia mencatat semua yang harus aku perhatikan selama setengah jam.” Ketika dia melihat ekspresi kosong di wajah Sheng Renxing, dia pura-pura menggerutu. “Dia memberitahuku semua ini. Dia bahkan memaksaku untuk mengulangi semuanya karena takut aku akan melupakan sesuatu.”

Sheng Renxing menyisir ingatannya. “Apa itu … saat aku kelas empat?”

“Kamu ingat?” Wei Huan tercengang.

“Mn.” Sheng Renxing mengarahkan pandangannya ke lantai dan mengetuk bagian bawah meja dengan sumpitnya. “Dia bertanya apa aku ingin menghabiskan liburan musim panasku di tempat Paman….”

Saat itu, perdebatan antara orang tuanya telah berubah menjadi ganas.

Dia telah setuju, tetapi perjalanan itu pada akhirnya tidak terjadi.

Wei Huan: “Lalu apa jawabanmu?”

“Aku bilang kalau aku ingin pergi,” jawab Sheng Renxing.

Wei Huan menaikkan alisnya ketika mendengar ini, terkejut. “Aku pikir dia memaksamu.”

“Tidak.” Sheng Renxing menggelengkan kepalanya dan mengambil udang dari panci. “Dia tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan.”

Wei Huan kembali tersenyum dan menghela napas setelahnya. “Sayang sekali rencananya gagal.”

Sheng Renxing tidak ingin mengotori tangannya sehingga dia menggigit kepala udang itu. Dia kemudian terus menggunakan giginya untuk mengupas kulit udang sebelum memakannya dalam satu gigitan. Setelah mendengar kata-kata pamannya, dia mengangguk dan bergumam ‘mn’.

Alasan mengapa rencananya gagal adalah karena ayahnya tidak setuju.

Wei Huan: “Apa yang kamu lakukan musim panas itu?”

Sheng Renxing menundukkan kepalanya untuk memuntahkan ekor udang. “Kelas musim panas.”

Wei Huan memikirkan ini sejenak. “Benar, nilaimu sangat bagus, bukan?” Setiap kali dia berbicara dengan kakak perempuannya, mereka selalu mengobrol banyak tentang penghargaan dan prestasi keponakannya.

“Bukan itu.” Sheng Renxing menggelengkan kepalanya dan menambahkan, “Aku menghadiri les piano, les biola, les kaligrafi … Aku harus mengikuti kelas-kelas ini setiap hari.”

“!” Wei Huan mengambil waktu sejenak untuk memproses informasi ini. “Liburan musim panasnya pasti menyebalkan, ya?”

“Tidak, itu baik-baik saja.” Sheng Renxing dengan lugas mengakui: “Aku bolos setengahnya.”

“?” Wei Huan mengedipkan matanya dengan bodoh. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak dan mengacungkan jempol kepada keponakannya. “Apa ayahmu tahu?”

Sheng Renxing mengangkat bahu. Dia terdengar tidak peduli tetapi ada sedikit ejekan dalam suaranya. “Selama hasilnya memuaskan, dia tidak akan mengatakan apa-apa.”


Saat mereka berdua mengobrol, Sheng Renxing secara bertahap mulai santai di sekitar pamannya. Dia merasa Wei Huan adalah orang yang sangat mudah diajak bicara.

Makan malam berlangsung sekitar dua jam. Saat akhir makan mereka semakin dekat, restoran perlahan mulai dipenuhi orang.

Wei Huan melihat sekeliling dan bertanya pada Sheng Renxing, “Apa kamu ingin pergi sekarang?”

“Tentu.” Dia sudah kenyang sejak lama.

“Apa yang mau kamu lakukan setelah ini? Kembali ke hotel?” Wei Huan bangkit dan merapikan pakaiannya.

Bertentangan dengan harapannya, Sheng Renxing menggelengkan kepalanya. “Aku akan berbelanja pakaian.”

Setelah mendengar ini, Wei Huan menilai dia dan memujinya, “Sepatumu bagus.”

Dia kemudian meninggalkan tempat duduknya dan menuju ke luar.

Sheng Renxing mengikutinya, tangannya di saku. Dia mengangkat dagunya sedikit dan ada sedikit kebanggaan dalam ekspresi cerahnya. “Hanya ada 87 pasang di dunia.”

Wei Huan mengangguk. Dia tidak benar-benar menyukai sepatu. “Mau belanja baju ke mana? Mau aku antar?”

Sheng Renxing: “Aku mungkin hanya akan melihat-lihat dalam perjalanan kembali ke hotel.”

Mengingat Sheng Renxing belum terbiasa dengan Xuancheng, Wei Huan bertanya, “Apa kamu ingin aku menunjukkan jalannya?”

Sheng Renxing belum menjawab ketika ponsel Wei Huan berbunyi.

Wei Huan menariknya keluar dan melihatnya. Dia kemudian melemparkan senyum minta maaf kepada Sheng Renxing. “Maaf, aku harus menjawab ini.”

Sheng Renxing mengangguk dan menyaksikan yang lain menjawab telepon dengan tenang, “Aku sedang sibuk.”

Dia tidak mendengar apa yang dikatakan orang di seberang sana. Dia melihat pamannya mengerutkan kening, ekspresi yang lain semakin berat.

Ketika pamannya tidak tersenyum, dia terlihat agak menakutkan.

Dia tidak terlihat seperti seseorang yang mudah dihadapi ketika dia seperti ini.

Sheng Renxing memperhatikan Wei Huan beberapa saat saat pikiran acak berputar di kepalanya.

Wei Huan segera memperhatikan tatapannya. Dia melembutkan ekspresinya dan membuat gerakan ke arah Sheng Renxing sebelum mengambil beberapa langkah menjauh. Punggungnya kini menghadapnya.

Sheng Renxing menatap punggung pria yang lebih tua itu selama beberapa detik.

Dia tidak memiliki ingatan apapun yang berhubungan dengan pamannya ini. Kesannya terhadap orang lain didasarkan pada kenyataan bahwa pria ini akan mengiriminya segala macam hadiah selama berbagai liburan setiap tahun.

Setelah berinteraksi dengannya hari ini, dia merasa pamannya adalah orang yang baik.

Dia agak mirip ibunya.

Sheng Renxing mengerutkan bibirnya dan menundukkan kepalanya. Dia mengeluarkan ponselnya sendiri, merasa sedikit bosan.

Saat dia memasukkan kata sandinya, dia bertanya-tanya apakah Xing Ye sudah membalas.

Dia belum memeriksa ponselnya sejak bangun tidur.

Layar ponselnya terbuka dan kebetulan berada di ruang obrolannya dan Xing Ye.

[Terserah kamu.]

Sheng Renxing melirik waktu pada pesan itu. Dikirim jam 2 pagi.

Matanya melengkung membentuk senyuman.

Dia mengira pihak lain akan menyuruhnya untuk menyimpannya.

Pada saat ini, Wei Huan kembali setelah menyelesaikan panggilannya.

Emosi yang dia tunjukkan barusan telah sepenuhnya tersapu. Dia bertanya sambil tersenyum, “Apa yang membuatmu tersenyum?”

“Hm?” Sheng Renxing mematikan layar ponselnya dan dengan cepat menarik bibirnya kembali ke bawah menjadi garis lurus agar terlihat seperti ‘pria keren.’ “Sekadar ngobrol.”

Wei Huan mengangguk. Dia bisa melihat kecanggungan pada anak laki-laki itu. Dia bergumam pada dirinya sendiri dan kemudian berkata, “Sesuatu terjadi di tokoku. Aku tidak bisa mengajakmu berbelanja.”

Sheng Renxing sebenarnya lebih suka ini. Dia berpikir bahwa hanya anak-anak yang membutuhkan orang dewasa untuk mengajak mereka berbelanja.

Jadi dia mengangguk dengan sikap dingin. “Tidak apa-apa. Tokomu lebih penting. Apa kamu butuh bantuan?”

Wei Huan tertawa. “Tidak perlu. Jangan meremehkan pamanmu. Aku akan membawamu ke tokoku ketika semuanya sudah ditangani. Bagaimana?”

“Tentu.” Sheng Renxing setuju. Dia kemudian bertanya, “Toko macam apa itu?”

Wei Huan berkedip padanya: “Sebuah klub malam.”

Sheng Renxing: “….”

Sheng Renxing terdiam beberapa saat.

Bukannya dia belum pernah ke klub sebelumnya. Hanya saja, tidak peduli seberapa muda Wei Huan, dia tetaplah yang lebih tua.

Apa dia seharusnya berdansa di klub malam pamannya?

Memikirkannya saja sudah membuatnya merasa tidak enak.

“Hahahahahaha,” Wei Huan tertawa, “Aku hanya menggodamu.”

Sebelum Sheng Renxing bisa menghela napas lega, dia mengoreksi: “Ini bar.”

Sheng Renxing: “….”

Okelah, bar lebih baik daripada klub malam.

Mereka saat ini berdiri di trotoar dekat pintu masuk restoran yang baru saja mereka masuki. Langit saat itu gelap, seolah-olah hujan akan turun kapan saja.

Para pejalan kaki datang dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Tatapan beberapa orang tertarik oleh penampilan mereka, tapi hanya itu.

Setiap orang hanyalah pejalan kaki bagi satu sama lain.

Tapi tiba-tiba, salah satu pejalan kaki mendadak berbalik. “Paman?”

Baik Wei Huan dan Sheng Renxing menoleh untuk melihat.

Mereka berdiri di trotoar lebih dekat ke restoran sedangkan anak laki-laki yang memanggil —dan teman wanitanya— berdiri di sisi yang lebih dekat ke jalan.

Ada kerumunan orang yang berjalan mondar-mandir di antara mereka.

Setelah anak laki-laki itu memanggil, dia segera melepaskan tangan gadis itu. Dia juga dengan cepat mendorong gadis itu sedikit menjauh sebelum berjalan mendekat.

Gadis itu: “?”

Tatapan Sheng Renxing berkedip di antara mereka berdua sebelum membuang muka, tidak tertarik.

Dia terus memikirkan kapan dia harus mengembalikan payung, ponselnya masih di tangannya.

Wei Huan bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sini?”

Dia terdengar seperti dia mengenal anak itu dengan baik.

“Ah,” Bocah itu membeku, “Aku membeli buku referensi dengan teman sekelasku!”

Wei Huan tersenyum padanya. Dia kemudian mengangguk pada gadis yang masih berada di sisi lain kerumunan dan memelototi bocah itu.

Gadis itu segera memperbaiki ekspresinya. Dia menyambutnya dengan senyuman. Dia kemudian merasa ragu-ragu, tidak yakin apakah dia juga harus menyapa atau tidak.

Wei Huan kemudian memperkenalkan Sheng Renxing. “Ini Chen Ying, putra salah satu temanku. Dia seperti keponakan bagiku.”

Dia kemudian menoleh ke Chen Ying: “Ini….”

Chen Ying memotongnya sebelum dia bisa menyelesaikannya. “Aku mengenalmu! Sheng Renxing!”

Sheng Renxing mengangkat alisnya dan menatap anak laki-laki itu dengan penuh tanya.

Anak laki-laki itu tampak bersemangat. “Aku berada di antara penonton saat kamu pergi balap gunung di Gunung Long dengan Xiangzi ge dan yang lain! Aku bahkan berfoto dengan sepeda motormu!”

Sheng Renxing mencari melalui ingatannya untuk waktu yang lama sambil berhadapan dengan mata penuh harap yang lain.

Perlombaan malam itu di Gunung Long diselenggarakan oleh salah satu teman Kepala Besar Qiu. Dia tidak mengenal satupun dari mereka.

Semua peserta sudah memodifikasi sepeda motor mereka agar mesinnya bergejolak saat berakselerasi. Sangat jelas bagaimana perasaan percaya diri mereka saat itu.

Begitu dia tiba, mereka mengatakan bahwa mereka ingin melihat keterampilan balapnya. Mereka berkata jika ingin melakukan balapan yang cepat dan berapi-api.

Apa yang terjadi pada akhirnya adalah dia telah menyaksikan sekelompok pecundang bertarung dari kaca spionnya.

Setelah balapan, Kepala Besar Qiu bertanya bagaimana hasilnya. Sheng Renxing yang sudah melepas helmnya mendengus. Dia berkata: “Pemandangan di malam hari sangat bagus.”

Adapun wajah-wajah para pecundang itu, dia tidak ingat satu pun dari mereka, apalagi orang-orang yang datang untuk berfoto dengan sepeda motornya.

Menanggapi kesunyiannya, Chen Ying tertawa canggung. “Tidak apa-apa. Ada begitu banyak orang yang mengambil foto dengan sepeda motor mu, normal kalau kamu tidak ingat aku! Tapi kalian luar biasa!”

“…” Keluarkan ‘aku’ dari ‘kalian.’

Sheng Renxing mengerutkan alisnya. “Kenapa aku tidak tahu kalau banyak orang memotret sepeda motorku?”

Chen Ying: “….”

“Oh!” Gadis sebelumnya telah berjalan mendekat pada titik waktu yang tidak diketahui. Dia terdengar seperti menyadari sesuatu. “Jadi sepeda motor yang kamu posting adalah sepeda motornya!”

Chen Ying panik. Dia sedikit marah dan malu karena diekspos di depan pemilik motor yang sebenarnya. “Tidak! Jangan mengada-ada!”

Wei Huan memperhatikan mereka dengan tenang dengan senyum di wajahnya. Dia tidak bertanya apa itu balap gunung atau tentang sepeda motor. Melihat gadis itu mendekat, dia bertanya pada Chen Ying, “Bukankah seharusnya kamu memperkenalkan teman sekelasmu?”

Gadis itu sangat ceria. Dia tidak menunggu Chen Ying untuk memperkenalkannya dan hanya melakukannya sendiri. “Hai Paman, namaku Cui Xiaoxiao. Aku teman sekelas Chen Ying!”

“Hai.” Wei Huan tersenyum seperti orang tua. “Apa kamu sedang dalam perjalanan untuk membeli buku referensi?”

“Kami sudah membelinya!” Cui Xiaoxiao berkata, “Aku akan pulang!”

“Mau aku antar?”

“Sempurna.” Chen Ying cemberut, “Kamu bisa membawanya pulang!”

Gadis itu mencubitnya. Dia mendesis kesakitan.

Wei Huan bertanya, “Bagaimana denganmu?”

“Aku —— aku ingin pergi ke tempat lain!” Tatapannya teralih.

Wei Huan tidak ingin mengganggunya jadi dia menoleh ke Sheng Renxing. “Apa kamu mau aku antar ke toko?”

“Tidak,” kata Sheng Renxing, “Aku bisa berjalan.”

Setelah semua orang mengucapkan selamat tinggal, Sheng Renxing berjalan sambil mengetik di ponselnya: [Besok?]

Dia kemudian mengklik ‘kirim’.


Catatan Penulis:

Sudah lima bab dan Xingxing gege masih belum bisa membeli pakaian.

Baiklah, Fs dalam obrolan2.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Kue Tahun Baru.
  2. Aslinya sedikit berbeda tapi ini setara dengan bahasa Inggris. Bagi siapa saja yang bukan gamer/memer, ini dari game Call of Duty dan pada dasarnya seperti mengucapkan RIP dalam bahasa sehari-hari.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments