• Post category:Embers
  • Reading time:27 mins read

“Aku pikir kamu lebih hangat dariku.”

Penerjemah : Kueosmanthus
Editor : _yunda


Sheng Renxing pura-pura tidak melihat pesan itu dan mengunci teleponnya.

Sebenarnya, dia sangat tidak suka ketika orang lain menggunakan barang-barangnya.

Tetapi ketika dia menyadari Xing Ye telah menggunakan handuknya, dibanding merasa tidak suka, dia lebih merasa tidak nyaman.

Itu seperti ketika kamu mencoba pakaian baru yang biasanya tidak kamu kenakan. Itu membuat kamu merasa sedikit tidak nyaman, tetapi juga terasa baru.

Xing Ye saat ini sedang duduk di tempat tidur, bersandar di kepala tempat tidur. Dia mengutak-atik Nokia-nya. Sepertinya dia mengirim pesan teks.

Alisnya berkerut. Sepertinya percakapan itu tidak berjalan dengan baik.

Nokia-nya tampak kecil dan seperti mainan di tangannya.

Sheng Renxing mengeringkan rambutnya, memperhatikan Xing Ye melalui cermin.

Tak satu pun dari mereka berbicara. Suara pengering rambut memecah kesunyian.

Setelah dia selesai mengeringkan rambut, rambutnya dibiarkan berantakan. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum menyisirnya dengan jari. Dia kemudian menatap dirinya di cermin.

Sheng Renxing mengangguk, senang dengan penampilannya. Dia tetap tampan seperti biasanya.

Saat dia menoleh, dia menangkap Xing Ye menatapnya.

“……”

“……”

Sheng Renxing meraih ponselnya dengan kesal dan mulai mengetuk layar secara acak. Dia berpura-pura sibuk.

Dia kemudian mendengar suara gemerisik. Dia mendongak dan melihat bahwa Xing Ye telah meletakkan teleponnya dan masuk ke dalam selimut.

“Apakah kamu akan tidur sekarang?”

“Mn.”

“Oh.” Sheng Renxing juga mengunci ponselnya. Dia berpikir bahwa dia harus pergi tidur sekarang juga.

Dengan sekali klik, lampu samping tempat tidur dimatikan.

Sheng Renxing menatap langit-langit. Dia merasa sangat terjaga, dia pikir dia mungkin bisa berlari beberapa putaran di luar.

Dia tidak berbagi tempat tidur sejak dia masih di sekolah dasar. Dia sama sekali tidak terbiasa dengan ini.

Meskipun tempat tidurnya besar, dia merasa seperti akan menabrak yang lain jika dia bergerak sejauh satu inci. Kehadiran yang lain kuat. Panas yang memancar dari tubuhnya bisa dirasakan melalui kedua selimut mereka.

Dia bisa mencium aroma antiseptik yang berasal dari tubuh Xing Ye. Baunya tidak enak.

Tapi dialah yang mengoleskannya pada laki-laki itu.

Xing Ye mungkin telah mencoba yang terbaik untuk menghindari membasahinya saat mandi. Kalau tidak, aromanya tidak akan sekuat ini.

Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan Sheng Renxing.

Saat dia merenungkan ini, dia tiba-tiba menyadari betapa buruknya ide ini. Yang lainnya penuh dengan luka. Apa yang harus dia lakukan jika dia akhirnya memukul yang lain saat tidur?

Cukup. Sheng Renxing berbalik, masih terjaga. Dia menebak bahwa dia tidak akan bisa tidur sedikit pun malam ini.

Bertentangan dengan harapannya, gelombang kantuk akhirnya menghantamnya. Dia tidak tahu apakah itu karena antiseptiknya memiliki aroma yang menghipnotis, atau dia hanya kelelahan.

Sementara imajinasinya menjadi liar, pikirannya berangsur-angsur memudar, berubah menjadi mimpi yang mempesona.

Perlahan, tidur menguasainya.

Mimpi buruk yang kelam bergegas ke arahnya. Dalam mimpinya yang seperti kenyataan, dia menemukan dirinya kembali ke gedung besi bergelombang.

Xing Ye berdiri di atas ring.

Namun baik penonton maupun lawannya telah menghilang.

Hanya mereka berdua di ruangan itu. Sheng Renxing mendapati dirinya juga berdiri di atas ring, menatap lurus ke mata pemuda itu.

“Mengapa kamu di sini?” Kepala Xing Ye sedikit diturunkan, poninya yang terlalu panjang menutupi matanya.

Di bawah bayang-bayang, putih pucat matanya sangat kontras dengan pupilnya yang hitam pekat. Sheng Renxing bisa merasakan tatapan orang lain padanya.

Xing Ye melanjutkan: “Kamu seharusnya tidak datang.”

“Apa?” Sheng Renxing bingung.

Tiba-tiba, semuanya mulai bergetar. Gambar-gambar melintas di benaknya, seperti sebuah montage.1 Lubang-lubang mulai membakar melalui alam mimpinya, seolah-olah itu adalah gambar dan seseorang sedang memegang api di atasnya. Lubang-lubang itu hitam pekat, seperti jurang tak berujung.

Sheng Renxing memutar kepalanya. Xing Ye sekarang berdiri di belakangnya, kulitnya begitu putih sehingga tampak seperti semua darah telah terkuras dari tubuhnya. Cairan hitam kental menetes darinya, menyebar ke arah lubang hitam di belakangnya.

Xing Ye tiba-tiba mengulurkan tangan dan meraih lehernya. Bibirnya mendekati telinga Sheng Renxing saat dia berkata, “Selamatkan aku.”

Semuanya tiba-tiba mulai runtuh di sekitar mereka. Geraman dan suara napas terengah dari beberapa hewan buas keluar dari lubang hitam.

Shen Rexing terkejut saat bangun. Dadanya naik-turun dengan keras dan dahinya sedikit basah. Dia linglung, belum membebaskan dirinya sepenuhnya dari mimpinya.2

Hal terakhir yang dilihatnya — mata hitam Xing Ye yang seolah menelan semua cahaya — memenuhi pikirannya.

Dia mencoba mengangkat tangannya, ingin menyentuh lehernya, tetapi dia tidak sengaja menabrak sesuatu di sampingnya. hangat dan elastis…..

Sheng Renxing terkejut dan menarik tangannya, dirinya kembali ketakutan. Sensasi taktil3 yang memberitahunya bahwa ada seseorang di sebelahnya menjalar melalui jari-jarinya dan ke otaknya. Film horor yang tak terhitung jumlahnya melintas di benaknya. Dia benar-benar terjaga sekarang.

Dia kemudian memperhatikan Xing Ye.

Xing Ye berbaring miring, menghadapnya. Dia tertidur lelap, tetapi alisnya berkerut erat. Dia terlihat sangat tidak nyaman. Setengah dari wajahnya telah tenggelam ke dalam ruang di antara bantal mereka. Sepertinya dia akan mengubur dirinya ke dalam celah bantal.

Tidak ada apa-apa di belakangnya. Selimutnya terjepit di antara kedua kakinya, dengan sebagian besar didorong ke sisi Sheng Renxing. Sepertinya dia merasa terlalu panas.

Setengah dari selimut Sheng Renxing sendiri ada di lantai. Jika dia berguling ke arah yang berlawanan dari Xing Ye, dia akan terbangun di lantai.

“……”

Sheng Renxing berpikir, tidak heran aku berkeringat.

Orang ini begitu tenang ketika dia bangun. Dia tidak pernah berharap bahwa anak laki-laki lain akan menyiksa orang lain dalam tidurnya.

Sheng Renxing menarik selimutnya sepenuhnya kembali ke tempat tidur, melipatnya sedikit. Dia kemudian menatap Xing Ye dengan rasa ingin tahu.

Sedetik kemudian, dia memperhatikan bahwa pernapasan Xing Ye tidak normal. Dia tampak terengah-engah.

Sheng Renxing terkejut. Sebuah firasat buruk muncul di dadanya. Dia mengangkat tangannya dan menyentuh sisi wajah Xing Ye.

Itu panas.

Persetan. Dia demam.

Sheng Renxing duduk dan membungkuk, mengguncang Xing Ye. “Bangun, bangun! Xing Ye?”

Xing Ye terbangun karena guncangannya. Matanya terbuka tapi pikirannya masih kabur. Dia tampak sadar, yah, setidaknya sampai dia mendorong wajahnya kembali ke celah di antara bantal mereka sedetik kemudian.

Sheng Renxing mengguncang bahunya lagi. “Kamu demam. Apakah kamu ingin aku membawamu ke rumah sakit?”

Xing Ye tidak bereaksi. Dia menatapnya dengan mata kabur untuk sementara waktu sebelum dia mengerutkan kening. Dia terlihat agak mengintimidasi.

Ketika Sheng Renxing mengulangi pertanyaannya, dia menjawab, “Tidak.”

Suaranya rendah dan serak.

Dia kemudian mengusap wajahnya dan duduk dengan susah payah.

Sheng Renxing membantunya bangun. “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Xing Ye tidak memiliki kekuatan di tubuhnya. Dia bersandar di kepala tempat tidur, menutupi wajahnya dengan satu tangan. Dia tampak kacau. Bibirnya terkatup rapat dan dia tidak menjawab.

Sheng Renxing memeriksanya. Dia juga terkejut terbangun di tengah malam sehingga dia merasa sangat marah. Ada kurangnya kesabaran dalam nada suaranya: “Jika kamu tidak memberi tahuku aku akan menelepon EMS.4

Xing Ye masih diam. Ketika Sheng Renxing berpikir bahwa demam telah menyebabkan yang lain kehilangan kemampuannya untuk berpikir, Xing Ye angkat bicara.

“Aku punya obat penurun demam di ranselku.” Jari-jari Xing Ye menekan pelipisnya yang berdenyut. Dia terdengar seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri dengan suaranya yang rendah dan kesakitan. “Aku akan baik-baik saja setelah meminumnya.”

Dia kemudian mulai turun dari tempat tidur.

Sheng Renxing menekan bahunya. “Aku akan mengambilkannya.”

Dia kemudian pergi ke tas yang lain, membuka kotak P3K dan menemukan obat penurun demam.

“Penghilang rasa sakit juga.”

Sheng Renxing berhenti. Bisakah ini diminum bersama?

Dia mengobrak-abrik tas tetapi tidak dapat menemukannya. Karena itu, dia membawa seluruh ransel ke tempat tidur. “Aku tidak tahu yang mana. Temukan sendiri.”

Dia kemudian pergi untuk mengambilkan segelas air untuk anak laki-laki lainnya.

Ada ketel di kamar. Karena dia tidak pernah minum air panas, dia tidak pernah menggunakannya. Dia mengutak-atik alat untuk sementara waktu sebelum mencari cara untuk membuka tutupnya. Setelah melakukannya, dia melihat ada debu di dalamnya.

“Ketel sialan macam apa ini?” Dia mendorong poninya ke belakang dan melemparkan ketel ke satu sisi.

Dia kemudian mengambil botol air mineral yang belum dibuka di dekatnya dan memutar tutupnya.

Xing Ye menerimanya. Dia memasukkan obat ke dalam mulutnya dan kemudian menelannya dengan air.

“Terima kasih.”

Sheng Renxing duduk kembali di tempat tidur dan menatapnya.

Xing Ye mengangguk. “Aku baik-baik saja sekarang.”

Sheng Renxing tidak tahu apakah itu karena demam, tetapi kecepatan bicara orang lain sangat lambat. Ada sedikit jeda di antara setiap kata, dan sepertinya dia harus mempertimbangkan setiap kata dengan hati-hati sebelum mengucapkannya dengan lantang. Seolah-olah mereka sedang mendiskusikan beberapa masalah serius.

Dia juga terlihat seperti melamun.

Sheng Renxing mengangkat tangannya, ingin menyentuh dahi pihak lain.

Tapi Xing Ye menghindari sentuhannya.

Dia meneguk air lagi. “Itu tidak akan berpengaruh secepat itu. Demamnya akan hilang besok pagi.”

“Jadi begitu.” Sheng Renxing menarik tangannya.

Dia mencoba mengingat kapan terakhir kali dia demam dan menyadari bahwa itu tahun lalu atau tahun sebelumnya. Dia sudah lupa bagaimana rasanya demam.

“Apakah itu menyakitkan?” Sheng Renxing melihat alis berkerut Xing Ye. “Apakah kamu benar-benar tidak akan pergi ke rumah sakit?”

Setelah dia mengatakan ini, dia menyadari bahwa dia terdengar seperti bibi yang cerewet dan bermuka masam.

“Aku baik-baik saja.” Emosi Xing Ye jauh lebih baik saat dia demam. Dia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Sheng Renxing kepadanya. “Aku pikir lukaku hanya meradang. Aku akan lebih baik setelah minum obat penghilang rasa sakit dan penurun demam.”

“Kamu yakin?” Sheng Renxing menaikan volume suaranya sedikit.

Xing Ye: “Terlepas dari apa itu, itu akan turun setelah aku minum obat penurun demam.”

“….” Sheng Renxing terdiam. Apakah tidak apa-apa untuk secara acak meminum dua jenis obat yang berbeda bersama-sama seperti ini?

Dia merasa Xing Ye benar-benar tidak terlalu memikirkan penyakitnya dan dia juga merasa terlalu banyak ikut campur. Karena itu, dia cemberut dan berkata, “Apa pun yang membuatmu bahagia.”

Dia kemudian memasukkan obat itu kembali ke dalam tas.

Setelah itu, dia menopang bantalnya dan bersandar di kepala tempat tidur.

Xing Ye menatapnya, mata setengah tiang. Dia berbisik, “Apakah kamu tidak akan kembali tidur?”

“Aku akan tidur setelah bermain ponselku sebentar.” Sheng Renxing mematikan lampu dan membuka kunci ponselnya.

Dia membuka Baidu dan mencari informasi mengenai demam.

Artikel pertama yang ditemukannya mengatakan, jika pasien berkeringat, berarti demamnya turun.

Dia kemudian memutuskan untuk menunggu sampai Xing Ye mulai berkeringat sebelum dia pergi tidur.

Xing Ye telah diam untuk sementara waktu sekarang. Sepertinya dia kembali tertidur.

Napasnya masih agak kasar tetapi sekarang lebih panjang. Sepertinya dia masih kesakitan.

Sheng Renxing membuka WeChat. Kepala Besar Qiu telah memposting ke Momennya5 beberapa menit yang lalu:

【Memanfaatkan ketidakhadiran Xingxing gege untuk menunggangi istri kecilnya.

[Foto][Foto]】

Salah satu fotonya adalah Kepala besar Qiu dan teman-teman mereka yang lain. Itu adalah selfie di puncak gunung. Ada cukup banyak gadis di sekitar mereka dan banyak sepeda motor di belakang mereka. Salah satunya milik Sheng Renxing.

Foto lainnya juga diambil di puncak gunung. Kali ini, itu di malam hari. Lampu-lampu di gambar itu menyilaukan.

Komentar itu dipenuhi dengan orang-orang yang menembak dari mulut mereka.6

Seseorang berkata: [Hati-hati, Sheng-ge akan kembali dan menghajarmu.]

Orang lain membalas komentar itu: [Sheng-ge tidak ada di kota? Ke mana dia pergi?]

Dia terus menggulir ke bawah. Banyak orang dalam grup telah memposting ke Momen mereka.

Jika dia tidak berada di Xuancheng sekarang, dia mungkin akan pergi ke gunung bersama mereka.

Sheng Renxing menatap layarnya dengan dingin. Agitasi7 menggelegak di dadanya.

Dia mengetuk layar dan mengetik balasannya.

Smoke Tyrant: [Sheng-ge tidak ada di kota? Ke mana dia pergi?]

X membalas Smoke Tyrant: [Apakah itu urusanmu?]

Setelah menjawab, dia keluar dari aplikasi. Jari-jarinya berkedut, dorongan untuk merokok muncul di dalam dirinya. Tapi dia menahannya.

Dia membuka Angry Birds dan mematikan suaranya.

Dia kemudian mulai menghabiskan waktu.

Sheng Renxing tidak bermain dengan serius. Tapi setelah menembakkan beberapa burung kecil, suasana hatinya membaik.

Beberapa saat dia bermain, dia mendengar suara di sebelahnya. “Apa yang kamu mainkan?”

Sheng Renxing terkejut, ponselnya hampir lepas dari tangannya. Dia menenangkan jantungnya yang berdebar kencang dan memaksa ekspresinya untuk tetap tenang. “Angry Birds.”

Dia kemudian bertanya, “Apakah kamu tidak tidur?”

“Tidak. Tidak bisa tidur.” Xing Ye berbalik. Dia benar-benar jatuh ke dalam tidur yang dangkal tetapi telah terbangun karena rasa sakit.

Dalam pandangan kaburnya, dia berpikir bahwa kemanjuran obatnya telah menurun. Sepertinya tubuhnya telah membangun resistensi terhadap obat.

Sheng Renxing berpikir bahwa yang lain tidak bisa tidur karena rasa sakit. Ketika dia memikirkan sikap buruknya yang tidak masuk akal barusan, dia tidak bisa membantu tetapi melembutkan suaranya dalam rasa bersalah. “Apakah kamu ingin bermain?”

“Hm?”

“Itu akan mengalihkan perhatianmu.” Sheng Renxing mengulurkan tangan untuk menyalakan lampu tempat tidur.

Cahaya kuning hangat tumpah ke dalam ruangan.

Dia menyerahkan teleponnya ke Xing Ye.

Xing Ye mengangkat tangannya untuk memblokir cahaya yang tiba-tiba. Dia kemudian bersandar di kepala tempat tidur seperti Sheng Renxing.

Dia menerima ponsel itu. Sheng Renxing telah bermain cukup lama sehingga bagian belakang ponselnya agak panas. “Bagaimana caranya bermain?”

“Seperti ini.” Sheng Renxing mencondongkan tubuh ke arahnya dan mendemonstrasikan cara bermain, jarinya mengetuk layar di samping jari Xing Ye.

Dia menggesek layar: “Kamu menggunakan burung merah kecil ini untuk memukul babi.”

“Seperti ini.” Sheng Renxing mengetuk burung kecil itu dan menyeretnya ke belakang. Setelah dilepaskan, burung itu diluncurkan ke udara.

“Lebih menyenangkan dengan suara.” Setelah bermain seperti ini untuk beberapa saat, dia pikir itu membosankan tanpa suara jadi dia menekan sisi telepon untuk menyalakannya kembali.

Xing Ye tidak bergerak. Jari-jari mereka bersentuhan secara tidak sengaja. Sheng Renxing berpikir bahwa tangan yang lain benar-benar hangat.

“Seperti ini?” Xing Ye mengusap layar dengan ibu jari kirinya. Dia membidik dan menembak.

Itu menabrak, tetapi rintangannya tidak roboh.

“Pukul yang biru.” Sheng Renxing menunjuk ke benteng babi kecil. “Itu akan menyebabkannya roboh sepenuhnya.”

Xing Ye mengeluarkan suara ‘oh’ sebelum menembak ke arah itu. Burung kecil itu menyebabkan salah satu benteng runtuh.

Tapi masih ada satu yang tersisa.

“Itu tidak jatuh,” kata Xing Ye saat keduanya menatap benteng.

Saat dia mengatakan ini, dia bersiap untuk menembakkan burung kecil lainnya.

Sheng Renxing meraih tangannya. “Tunggu.”

Sesaat kemudian, sepotong benteng yang telah jatuh sebelumnya perlahan menabrak benteng lainnya, menyebabkan yang terakhir jatuh.

“Seolah-olah strategiku akan gagal.” Sheng Renxing tertawa dengan bangga.

Dia berbalik untuk melihat Xing Ye dan bertemu dengan pemandangan Xing Ye tersenyum ke layar.

Melihat tatapan Sheng Renxing, Xing Ye juga menoleh untuk menatap matanya. Matanya gelap seperti sepasang mata dalam mimpinya, tapi mata Xing Ye saat ini berkilauan, memantulkan cahaya dari ponsel sambil membawa jejak senyuman.

Pikiran Sheng Renxing menjadi kosong. Secara tidak tepat, kata ‘memikat’ muncul di benaknya.

Dia kemudian menyadari bahwa mereka terlalu dekat dan bahwa dia masih berpegangan pada tangan yang lain.

Sheng Renxing tidak bisa menahan diri untuk tidak memalingkan muka, mengalihkan pandangannya. “Apakah kamu merasa lebih baik?”

Saat itu, sebuah notifikasi masuk.

Smoke Tyrant telah membalas komentarnya di WeChat: [Maaf, Sheng-ge. Aku belum pernah melihatmu di salah satu kumpul-kumpul kami jadi aku pikir kamu melakukan perjalanan atau sibuk dengan pacarmu. Aku tidak bermaksud apa-apa dengan itu….]

Sheng Renxing bahkan belum selesai membaca pesan saat dia buru-buru melepaskan tangan Xing Ye. Dia kemudian menghapus notifikasi sebelum menariknya kembali.

“Apakah kamu tidak perlu membalasnya?” Xing Ye bertanya.

“Hah?” Pikiran Sheng Renxing berantakan sehingga dia tidak menyadari apa yang ditanyakan orang lain pada awalnya. Dua detik kemudian, dia berkata, “Aku tidak ingin memperhatikan orang tolol itu.”

Saat dia mengatakan ini, dia melompat dari tempat tidur, bingung. “Aku akan mengambil sebotol air.”

Xing Ye menutupi dahinya dengan tangan. Dia kemudian pindah untuk menggosok pelipisnya, masih kesakitan. Namun, dia memang berpikir bahwa dia merasa lebih baik sekarang, meskipun itu mungkin hanya di kepalanya.

Ketika Sheng Renxing kembali, dia melihat bahwa yang lain telah mengangkat poninya.

“?” Sheng Renxing menatapnya sambil memperhatikan yang lain.

Xing Ye: “Mau mencoba?”

Apakah dia memintanya untuk menguji suhu tubuhnya?

Sheng Renxing meletakkan botol air itu. Dia kemudian meletakkan satu tangan di dahinya sendiri sambil meletakkan yang lain di tangan Xing Ye.

Dia telah menyentuh ponselnya yang terlalu panas dan kemudian sebotol air dingin. Karena itu, dia tidak bisa merasakan apa-apa.

Xing Ye mendecakkan lidahnya dan kemudian melepaskan tangan Sheng Renxing. Setelah itu, dia pindah lebih dekat.

Sheng Renxing membeku. Xing Ye kemudian menempelkan dahinya sendiri ke dahi yang lain dan membandingkan suhu tubuh mereka.

Itu berlangsung beberapa detik.

Xing Ye: “Aku pikir kamu lebih hangat dariku.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Proses atau teknik memilih, menyunting, dan menyatukan bagian-bagian terpisah dari film untuk membentuk satu kesatuan yang berkesinambungan.
  2. Belum sepenuhnya sadar.
  3. Sensasi taktil mengacu pada indera peraba, khususnya informasi yang diterima dari berbagai tekanan atau getaran terhadap kulit. Sensasi taktil dianggap sebagai sensasi somatik, artinya berasal dari permukaan tubuh, bukan internal.
  4. Emergency Medical Services lebih dikenal sebagai EMS, adalah sistem yang menyediakan perawatan medis darurat
  5. Pikirkan seperti status Facebook atau mungkin seperti feed twitter.
  6. Untuk berbicara terlalu banyak dengan cara yang keras dan tidak terkendali.
  7. Keadaan cemas atau gugup.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments