Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
[Kisah Pendek: Kehidupan Suami-Istri dari Sudut Pandang Xiao Jiu]
Namaku Xiao Jiu. Aku seekor kucing ragdoll yang cantik, anggun, dan tentu saja, luar biasa menggemaskan.
Pada suatu hari yang cerah, aku ditemukan oleh makhluk berkaki dua bernama Qiu Ci. Dia tidak hanya menyelamatkanku, tapi juga membawaku pulang dan menjadikanku anak kesayangannya.
Namun, Ayah berkaki dua adalah orang yang sangat aneh.
Dia memanggilku “Meow-meow” selama hampir setengah bulan sebelum akhirnya teringat untuk memberiku nama. Nama pertamaku adalah… “Si Bodoh Kecil”.
Aku tahu, sangat tidak cocok untuk kucing secantik aku.
Beberapa hari kemudian, dia mengelus kepalaku dan berkata lembut, “Rasanya nama ini tidak cocok untukmu, aku akan menggantinya.”
Baiklah (╯▽╰), aku juga tidak terlalu keberatan. Memang, nama itu sama sekali tidak menunjukkan aura bidadariku.
Akhirnya, dia memberiku nama baru “Xiao Mutou”, yang berarti “Kepala Kayu Kecil”. Tapi, jujur saja… nama itu bahkan lebih buruk dari yang sebelumnya.
Seminggu kemudian, sambil mengelus kepalaku lagi, dia berkata dengan nada lembut, “Sudahlah, ‘Kepala Kayu Kecil’ juga tidak cocok. Kamu adalah kamu, dan dia adalah dia.”
Dan begitu, akhirnya namaku benar-benar ditetapkan “Xiao Jiu”. (Anggur Kecil).
Alasan di balik nama itu? Karena malam itu ayah berkaki dua sedang minum dan itu adalah hal yang sangat asal-asalan untuk dilakukan…
Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Aku sangat menyukainya, dipanggil Anggur Kecil juga tidak buruk.
Namun, Ayah berkaki dua ini punya kebiasaan aneh lainnya: dia sering berbicara sendiri, menyebut-nyebut nama yang tidak kumengerti.
Yang paling sering kudengar adalah “Mu Yu” dan “Si Bodoh Kecil”.
Kedua nama itu muncul begitu sering, sepertinya itu adalah nama kucing sebelumnya. Mungkin juga… kucing yang sama?
Dan kalau benar, itu berarti aku hampir saja menjadi pengganti si “Mu Yu” itu. Aku sedikit marah kalau mengingatnya.
Aku sangat mencintai ayah berkaki dua, tentu saja aku tidak mungkin membencinya. Tapi aku bisa membenci kucing bernama “Mu Yu” itu, bukan?
Selain karena hampir dijadikan pengganti, aku punya alasan lain.
Setiap kali nama “Mu Yu” disebut, ekspresi ayah berkaki dua selalu berubah, entah sedih, entah murung, tapi jelas bukan bahagia.
Aku paling suka melihat ayah berkaki dua tersenyum, jadi aku memutuskan: semuanya salah si “Mu Yu” itu!
Barulah bertahun-tahun kemudian aku tahu, ternyata “Mu Yu” bukan kucing… tapi manusia.
Dan tanpa peringatan, manusia bernama Mu Yu itu tiba-tiba datang dan merusak kehidupan manis kami berdua.
Aku benar-benar membencinya. Karena sejak dia muncul, aku bukan lagi satu-satunya “anak manja” di hati ayah berkaki dua ku. QAQ
Memang, setelah kehadirannya, senyum di wajah ayah berkaki dua jadi jauh lebih sering muncul… tapi aku tetap membencinya.
Orang itu telah mengambil tempatku di dalam pelukannya.
Ketika mereka berdua duduk di sofa, berpelukan manis sambil menonton drama, aku hanya bisa meringkuk sendirian di sudut, bahkan camilan ikan kecil pun tidak lagi terasa nikmat.
Dan yang paling keterlaluan…!
Mu Yu, si kaki dua itu, berusaha merebut identitasku sebagai kucing!
Pada suatu malam yang gelap, saat aku sudah lebih dulu menempati pelukan ayah berkaki dua ku, Mu Yu keluar dari kamar mandi dengan penampilan aneh, di kepalanya ada telinga kucing palsu, di belakangnya terpasang ekor berbulu besar, bahkan di lehernya ada lonceng kecil yang lucu.
Aku? Aku bahkan tidak punya lonceng sekecil itu!
Aku mendengus kesal. Ekor dan telinganya palsu, tidak bisa bergerak. Dibandingkan denganku yang berbulu lembut dan alami, dia jelas kalah telak.
Aku mengibaskan ekor dan menggoyangkan telingaku dengan manja, menunjukkan betapa imutnya aku.
Namun, Ayah berkaki dua sama sekali tidak melihatku! Tatapannya hanya terarah pada “kucing palsu” itu.
Dan kemudian, hal yang paling keterlaluan pun terjadi. Mu Yu mulai meniruku, mengeong dengan suara lembut. Padahal suaranya jauh dari imut, tapi ayah berkaki dua malah memeluknya sambil berkata, “Bisakah kamu berhenti selucu itu?”
Aku berteriak protes, dan akhirnya ayah berkaki dua menoleh padaku, hanya untuk mengangkatku dan membawa keluar kamar!
Pintunya dikunci.
Malam itu, aku kembali menjadi kucing malang yang ditinggalkan. Lebih menyakitkan lagi, aku digantikan oleh “kucing palsu” yang bahkan tidak seimut aku!
Aku benar-benar marah. Bahkan sepuluh bungkus ikan kering pun tidak bisa menenangkanku.
Pada hari ketiga aku masih kesal, tiba-tiba Mu Yu menghilang selama beberapa hari. Dalam waktu itu, aku kembali menjadi satu-satunya harta kesayangan ayah berkaki dua.
Awalnya aku senang… tapi-
Suatu malam yang sunyi, ayah berkaki dua pulang kerja. Dia menggendongku dan duduk di ayunan taman, menatap langit dengan mata sayu.
“Xiao Jiu,” katanya pelan, “aku… sedikit merindukannya.”
Dia mengangkatku tinggi, menatap mataku dengan lembut, lalu tersenyum samar.
“Kamu juga merindukannya, ’kan?”
Meow! Tidak! Aku tidak mungkin merindukan dia!
Malam itu, meski keinginanku terkabul dan aku digendong dalam pelukan ayah berkaki dua tercinta, aku terpaksa mendengarkan banyak pembicaraan tentang Mu Yu.
Apa yang harus aku lakukan jika aku merasa semakin kesal?
Malam itu, angin bertiup agak dingin. Ayah berkaki dua terkena angin malam dan jatuh sakit. Keesokan harinya, dia tidak pergi bekerja.
Ayah berkaki dua yang sedang sakit tampak begitu lemah. Dia hanya berbaring di tempat tidur dan tertidur sepanjang waktu. Melihat keadaannya, aku yang tidak bisa melakukan apa pun tiba-tiba merasa sangat merindukan Mu Yu.
Seandainya Mu Yu ada di sini, pasti dia bisa merawat Ayah berkaki dua dengan baik.
Mungkin karena rinduku begitu kuat, keajaiban pun terjadi, Mu Yu benar-benar datang kembali.
Melihat Ayah berkaki dua yang tampak begitu lemah, wajah Mu Yu terlihat agak kesal. Namun tidak lama kemudian, dia sudah ditarik masuk ke pelukan Ayah berkaki dua, lalu keduanya jatuh di atas ranjang bersama.
“Si bodoh kecil, kepalaku sakit,” kata Ayah berkaki dua dengan suara serak.
Mu Yu menunduk, mengecup lembut keningnya, lalu berkata dengan nada tidak berdaya, “Berbaringlah dengan tenang, aku akan membuatkan sesuatu untuk dimakan.”
Agar tidak mengganggu Ayah berkaki dua beristirahat, aku hanya bisa mengikuti Mu Yu dari belakang, memperhatikan bagaimana dia sibuk ke sana kemari menyiapkan makanan dan mengurusnya dengan penuh perhatian.
Yang membuatku senang, di bawah perawatan Mu Yu, Ayah berkaki dua pulih dengan cepat.
Namun setelah itu, pelukan yang seharusnya menjadi milikku kembali direbut dariku. QAQ
Seperti biasa, keduanya duduk di sofa, saling berpelukan dan berciuman, menukar kata-kata manis yang membuat telinga panas.
Aku hanya bisa diam dan memalingkan pandangan, menatap pemandangan di luar pintu kaca.
Sudahlah… siapa suruh Ayah berkaki dua begitu menyukainya? Mungkin aku harus belajar untuk tidak terlalu membencinya, dan mencoba membangun keluarga kecil kami yang harmonis, kami bertiga.
