Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
[Bonus kecil: Melahirkan Seorang Putri (Kesalahpahaman Besar)]
Entah siapa yang menyebarkan kabar bahwa Chu Qing dan Qiu Wei berencana agar Qiu Ci mengadopsi seorang anak. Setelah kabar itu sampai ke keluarga besar Qiu, mereka langsung punya niat tersendiri.
“Kalau begitu, kenapa membiarkan orang luar yang mendapat keuntungan?” pikir mereka. “Daripada Qiu Ci mengadopsi anak asing, lebih baik mengadopsi anak dari keluarga sendiri.”
Maka dimulailah rencana mereka, yaitu ingin menyerahkan anak-anak yang cocok dari keluarga mereka sendiri untuk diadopsi oleh Qiu Ci, dengan tujuan agar harta keluarga jatuh ke tangan mereka juga.
Sayang sekali, meski rencana licik itu terlihat rapi, Qiu Ci sama sekali tidak memberi muka. Hanya dengan beberapa kalimat tajam, dia sudah membuat mereka malu dan tidak berani lagi datang ke rumahnya.
Namun, para kerabat itu tidak menyerah. Jika jalur Qiu Ci tertutup, maka mereka mencoba mencari jalan melalui Chu Qing dan Qiu Wei, berpikir bahwa Qiu Wei, sebagai bagian dari keluarga Qiu, pasti bersedia menerima anak dari keluarga sendiri untuk diadopsi.
Ketika kabar ini sampai ke telinga Mu Yu, dia awalnya tidak terlalu peduli, sampai hari pernikahan Qi Meng, di mana dia melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa sesak.
Di sana, Qiu Ci sedang berdiri sambil memegang sekantong permen. Dia membungkuk lembut di hadapan seorang anak kecil yang duduk di kursi anak.
“Ayo, panggil Paman,” ucapnya dengan suara lembut.
Gadis kecil berusia hampir tiga tahun itu memanggil, “Paman~” dengan suara lembut dan manja. Hati Qiu Ci luluh, dia mencubit pipi gadis kecil itu, lalu berkata dengan lembut, “Xiao Xiao benar-benar anak yang manis.”
Dia menyerahkan permen di tangannya. Gadis itu menerima sambil berkata manis, “Terima kasih.”
Setelah mengatakan itu, gadis kecil itu meletakkan tangannya di atas meja kursi anak-anak. Sebelum sempat berdiri, dia cemberut dan hendak mencium Qiu Ci.
Xiao Xiao akhirnya mendapatkan keinginannya dan mencium pipi Qiu Ci, lalu memalingkan wajahnya ke arahnya, ingin Qiu Ci menciumnya juga.
Qiu Ci menatapnya dengan tatapan penuh kasih, kemudian mengecup lembut pipi gadis itu. Namun si kecil tidak puas, dia cepat-cepat mencium balik, menyuruh Qiu Ci untuk mencium lagi.
Melihat adegan itu, Sun Jialu tertawa sambil menjelaskan, “Belakangan ini dia sedang suka mencium wajah orang. Bulan lalu saat kami pulang kampung, semua kakak sepupunya juga dicium satu-satu.”
Lu Ning menambahkan, “Apalagi orang tampan, mereka bisa dicium berkali-kali.”
Begitu mengatakan itu, dia melirik ke arah Mu Yu yang wajahnya sudah berubah. Dia pun menggoda, “Xiao Xiao, cukup sekali saja oke, nanti Paman Mu cemburu.”
Qiu Ci menoleh, melihat ekspresi Mu Yu yang agak aneh, mengira dia benar-benar cemburu pada seorang anak kecil. Dia pun diam-diam meraih tangan Mu Yu di bawah meja, menggenggamnya lembut.
Mu Yu hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa.
Pernikahan Qi Meng dan Xu Qingning ini digelar jauh lebih lambat dari perkiraan semua orang.
Xu Qingning telah mengikuti Qi Meng selama dua belas tahun, saat itu dia masih bernama Gu Qingning.
Mereka resmi berpacaran di usia delapan belas, bertunangan di usia dua puluh empat, lalu tinggal bersama. Karena berbagai alasan, baru menjelang usia tiga puluh mereka bisa menggelar pernikahan ini untuk akhirnya hidup bersama seumur hidup.
Pernikahan ini sungguh mengharukan, terutama saat Xu Qingning menyampaikan pidatonya di mikrofon. Suaranya perlahan tercekat dan matanya memerah, banyak teman yang ikut merasa terharu, perjuangan cintanya sungguh panjang dan melelahkan.
Melihat suaminya, seorang ilmuwan yang biasanya berwajah dingin, kini berubah menjadi pria cengeng di depan semua orang, Qi Meng tidak kuasa menahan tawa, tapi air matanya pun ikut jatuh.
Setelah pernikahan usai dengan lancar, mereka kembali ke rumah. Namun malam itu, Mu Yu tampak murung.
Saat mereka mau tidur, dia menoleh pada Qiu Ci yang sedang bermain dengan Xiao Jiu, lalu bertanya dengan suara pelan, “Ah Ci, apakah kamu ingin memiliki anak sendiri?”
Qiu Ci mengangkat alis. “Kenapa? KaMu mau melahirkannya untukku?” tanyanya, menatap sekilas ke arah perut Mu Yu.
Mu Yu menunduk, merasa sedikit kesal. “Kalau bisa, aku mau,” gumamnya pelan. Tapi sayang, bahkan sampai dia mati, teknologi tampaknya belum cukup maju untuk membuat dua pria memiliki anak bersama.
Qiu Ci menjawab santai, “Itu mudah. Kalau kamu mau, aku akan mengajarimu.”
Belum sempat Mu Yu menanggapi, Qiu Ci sudah meletakkan Xiao Jiu dan membalikkan tubuhnya.
Tangannya bergerak ke bawah, mengangkat baju Mu Yu hingga memperlihatkan perutnya. Ujung jarinya yang dingin menyusuri dari bawah ke atas, dan di antara desah napas tertahan, suara lembut terdengar di atasnya.
“A… Ah Ci?”
Mu Yu tidak tahu apa yang sedang dilakukan Qiu Ci. Dia mengerutkan bibirnya, otot perutnya menegang dan naik turun sedikit mengikuti napasnya. Saat pinggangnya digenggam erat, dia bahkan panik hingga tanpa sadar menarik rambut Qiu Ci.
Dia merasakan Qiu Ci mencium perutnya lagi, dan seluruh tubuhnya bergetar. Dia mengepalkan tinjunya dan menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh.
Di tengah ketegangannya, suara Qiu Ci terdengar rendah dan pelan.
“Kamu merasakannya?”
“Ha? Apa?” tanya Mu Yu bingung.
Mu Yu tersadar dari linglungnya, hanya untuk melihat Qiu Ci tersenyum padanya: “Bayinya bergerak.”
“?!”
Mu Yu benar-benar merasa ada sesuatu yang bergerak di perutnya. Dia menatap ke bawah, dan melihat bajunya terangkat dan kain itu tampak tonjolan kecil.
Qiu Ci melihat benda di bawah pakaian itu menggelengkan kepalanya dan tertawa, “Kepalanya keluar.”
Lalu, dari balik baju itu, muncul Xiao Jiu yang digendong oleh Qiu Ci, menatap Mu Yu dengan wajah tidal puas dan mengeong pelan, seolah protes karena tiba-tiba diseret keluar dari tempat persembunyiannya.
Qiu Ci merangkul Xiaojiu dengan satu tangan, lalu menggenggam tangan Mu Yu dan membimbingnya untuk mengelus kepala kucing kecil itu.
“Putri kecil yang manis,” katanya lembut.
Xiao Jiu menggonggong pelan seolah mengerti, ekornya yang lebat bergoyang dengan gembira, seakan benar-benar senang mendengar pujian itu.
Mu Yu mencubit lembut ujung telinga Xiao Jiu sambil tersenyum samar.
“Ya, benar. Putri kecil yang sangat manis.”
Xiao Jiu mengibas-ibaskan telinganya, lalu memanjakan diri selama beberapa detik kepada Mu Yu sebagai balasan atas pujiannya.
Qiu Ci kemudian menatap keduanya dan bertanya, “Kita sudah seperti keluarga kecil beranggotakan tiga orang. Masih belum cukup puas juga?”
Mu Yu, yang posisinya sedang berdekatan dengannya, memeluk Qiu Ci dari belakang. Xiao Jiu terjepit di antara mereka berdua, mendongak dan menggosokkan kepala ke dagu Qiu Ci, sebelum akhirnya berlari menjauh. Begitu penghalang itu pergi, Mu Yu menatap Qiu Ci dalam-dalam, lalu mencium bibirnya dengan lembut.
“Sangat puas,” jawabnya pelan.
Dalam pelukan hangat itu, Qiu Ci menunduk dan berbisik di telinganya, suaranya lembut namun penuh makna.
“Si bodoh kecil.”
“Hm?” Mu Yu menatapnya.
“Aku ini orang yang egois. Aku tidak ingin ada orang lain yang merebut cintamu, bahkan anak siapa pun juga tidak boleh.”
Mu Yu tertawa pelan.
“Kebetulan sekali, aku juga begitu.”
Xiao Jiu menyalak pelan, seolah sedang memprotes.
Qiu Ci tertawa ringan dan menambahkan, ”Tentu saja, kecuali Xiao Jiu.”
Mu Yu mengangguk, lalu menyandarkan kepala ke bahunya.
“Ya, Xiao Jiu tidak termasuk.”
Setelah itu, Qiu Ci tidak lagi berniat mengadopsi anak. Chu Qing dan Qiu Wei pun tidak menyinggungnya lagi.
Sebaliknya, karena menyadari bahwa mereka tidak akan memiliki cucu, pasangan tua itu memutuskan untuk menikmati hidup sepuasnya. Qiu Wei bahkan berpikir, Kalau memang tidak akan punya keturunan untuk diwarisi, untuk apa menyimpan harta sebanyak itu? Lebih baik dihabiskan untuk bersenang-senang.
Akhirnya, mereka berdua pensiun total, menjual semua aset yang bisa diuangkan, lalu memulai perjalanan keliling dunia dengan manisnya, membiarkan Qiu Ci mengurus perusahaannya sendiri. Bahkan jika Qiu Ci sampai gagal dan perusahaannya bangkrut, mereka pun tidak peduli.
Bertahun-tahun kemudian, Qiu Ci melakukan hal yang sama. Pikiran serupa yang dulu dimiliki orang tuanya kini diwarisinya, membuat semua niat serakah keluarga besar Qiu benar-benar kandas. Mereka hanya bisa mengeluh di belakang, menyindir bahwa Qiu Ci tetap sama seperti dulu, tidak dewasa, tidak punya pandangan luas, dan tidak memikirkan keluarganya.
Namun, apa pun yang mereka katakan, tidak satu pun mampu menggoyahkan kebahagiaan Qiu Ci dan “si bodoh kecil”nya, yang tetap saling mencintai dan menemani hingga menua bersama.
Catatan Penulis:
Ini adalah bagian ekstra terakhir~
Sebenarnya, aku sempat merencanakan banyak cerita tambahan, tapi setelah ditulis hasilnya terasa tidak memuaskan, jadi semuanya aku hapus. Sejujurnya, selama menulis kisah ini, aku juga tidak tahu sudah berapa kali aku mengedit dan menghapus bagian-bagiannya. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak menulis, rasanya seperti kehilangan rasa yang dulu ( ˘̩̩̩̩̩̩̩︿˘̩̩̩̩̩̩̩)
Sebagai penutup, izinkan aku menambahkan sedikit bagian yang tidak sempat kutulis di cerita utama.
Setelah cincin pasangan mereka hilang waktu itu, Qiu Ci sebenarnya langsung pergi ke toko keesokan harinya untuk membeli ulang. Namun karena barangnya sedang habis, dia harus menunggu beberapa waktu. Seminggu setelah Mu Yu pergi, barulah toko itu menghubunginya.
Saat cincin itu akhirnya ada di tangannya, awalnya dia ingin membuangnya sebagai pelampiasan. Tapi begitu cincin itu terlempar, dia langsung menyesal dan mencari-carinya dalam waktu lama hingga akhirnya ditemukan kembali.
Dka sebenarnya tidak ingin membuangnya, tapi juga tidak sanggup untuk terus melihatnya. Maka, cincin itu dia sembunyikan.
Di tahun saat dia sakit, kadang-kadang dia akan mengeluarkan cincin itu dan menatapnya lama. Beberapa kali dka sempat tergoda untuk benar-benar membuangnya… namun dia tetap tidak sanggup melalukannya.
-Tamat-
Anak ayam memiliki sesuatu untuk dikatakan:
San: Ni hao mina saaan~
San disiniiii, tidak kerasa udah projek ke tiga ku yang selesai, Yeeeeahhh pencapaian tahun ini, semoga tahun depan bisa 7 atau 8 judul mhehhehehhe (ngayal).
Walau willy hanya 30an chapter, tapi pas awal-awal susah banget buat tl karena kemakan emosi duluan (pengen jambak si lontong Qiu Ci) jadi agak lama memang, hiks maaf gaes.
Meski gitu willy itu agak spesial bagiku, karena ini judul pertama yang aku pilih sendiri (implusif) gegara patah hati, trus mau semua orang ikut tersiksa Wakakakakakakka.
Ekhem, oke kembali ke topik, tapi setelah ngikutin perjalanan baby Mu ku dan lontong Qiu, aku malah ikut hanyut ke ceritanya hiks, senang skali pas liat mereka bersama, padahal awalnya aku sebagai ibu tiri Mu Yun tidak merestui hubungan mereka dan mau liat si lontong Qiu sujud² minta balikan ke baby Mu ku tapi karna cinta mereka sangat kuat sampai buat ibu tiri ini menerima hubungan mereka, HWEEEEEQ.
Aku sangat berterimakasih ke kalian para pembaca yang udah ngikutin novel ini sampai selesai, apalagi ini bukan tipe cerita yang cocok untuk semua orang, dan terimakasih juga atas supportnya, apalagi untuk kak keyuky yang bantu editkan walau lagi sibuk-sibuknya dan kakak-kakak hiyo yang supportif bangeeet, FULL LOVE YEAH!
Sampai jumpa di judul selanjutnyaa
Keiyuki: Selesai juga ngedit inii.. ada gila-gilanya kamu San pilih nih judul, pas awal-awal buat darah tinggi tapi untung beberapa bab terakhir manis kek hampir diabetes.. makasih juga buat readers hiyoko yang sudah mau baca sampai sinii.. apa lagi yak, belum kepikiran kalimat lagi aku.. intinya see you di judul-judul kami selanjutnyaa.. baibaiii
Rusma: Haiii ini Meowzai, aku no komen untuk novel ini, awalnya ikut ngedit tapi gak kuat karena plotnya gak masuk akal HAHAHAHA. terima kasih untuk San dan Keiyuki atas kerja kerasnya, terima kasih juga untuk teman-teman Hiyoko yang sudah membaca judul ini. Sampai Jumpa di projek selanjutnya ฅ^>⩊<^ ฅ
