Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


[Jika Kita Tumbuh Bersama②(Tamat)]


Belakangan ini, Qiu Ci sedang diliputi kegelisahan. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa cinta pertamanya justru akan jatuh kepada seorang laki-laki, atau bahkan sahabatnya yang tumbuh bersamanya.

Tapi orang lain jelas tidak memiliki kekhawatiran seperti itu, dia dengan tenang dan sepenuhnya menerima peran sebagai “pacar” tanpa sedikit pun keraguan.

Sebagai contoh, saat ini, pacar barunya yang baru saja “resmi naik jabatan” sedang duduk di seberangnya. Anak itu mengambil sepotong lauk, lalu dengan santai menyodorkannya ke depan mulutnya.

“Ini enak, kamu harus mencobanya.”

Qiu Ci menatap makanan yang disodorkan di hadapannya, kemudian melirik sekeliling kafetaria yang ramai. Dalam hati dia hanya bisa mengeluh, anak ini benar-benar tidak takut orang lain tahu kalau mereka sedang berpacaran, huh?

Dia sudah melihat beberapa pasang mata melirik ke arah mereka, sebagian bahkan menunduk dan mulai berbisik-bisik pelan.

“Tidak suka?” Ketika melihat Qiu Ci tidak bergerak, Mu Yu menarik kembali sumpitnya, seolah yang barusan hanyalah hal biasa. Dia kembali makan dengan tenang, tanpa merasa canggung sedikit pun.

Namun, orang lain jelas tidak berpikir demikian.

Benar saja, beberapa hari kemudian Qiu Ci menerima pesan penuh rasa ingin tahu dari Sun Jialu:

[Ci Ge, belakangan ini kamu dan Mu Yu kelihatannya agak… mesra, jangan-jangan kalian diam-diam pacaran, ya? Hehehe.]

Saat itu Mu Yu sedang bersandar di pangkuan Qiu Ci sambil bermain ponsel. Begitu melihat Qiu Ci menunduk menatapnya, dia mengedipkan mata, lalu mendekat dan mencium pipinya ringan.

“Ada apa?” tanyanya polos.

Qiu Ci meletakkan ponselnya, menahan wajah Mu Yu dengan tangan, lalu dengan nada yakin berkata, “Kamu sengaja.”

Karena wajahnya ditekan dengan kuat, bibir Mu Yu terpaksa mengerucut. Qiu Ci menatapnya beberapa detik, lalu menciumnya sebelum mendengus dingin, “Baiklah, aku akan melepaskanmu kali ini.”

Melihat kembali apa yang telah terjadi selama ini, Qiu Ci akhirnya paham mengapa Qiao Yi pernah berkata bahwa Mu Yu sebenarnya sangat licik.

Awalnya mereka bersepakat untuk diam-diam berpacaran. Tapi anak ini, meskipun mengiyakan dengan cepat, dia terus-menerus mengungkap hubungan mereka secara halus melalui detail-detail yang terkesan. Licik, benar-benar licik.

Meski begitu, Qiu Ci sama sekali tidak membencinya.

Siapa yang bisa menyalahkannya? Ketika pria ini melakukan sesuatu yang nakal, dia tampak tenang, tapi telinganya yang merah menunjukkan rasa malunya, membuatnya semakin imut jika semakin diperhatikan.

Setidaknya, dia masih cukup pintar untuk tidak melakukan semua itu di depan nyonya Chu dan tuan Qiu yang terkenal galak.

“Lalu kalau lain kali aku melakukannya lagi,” tanya Mu Yu, menatapnya dengan mata berkilat nakal, “bagaimana kamu mau menghukumku?”

Sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan itu, Qiu Ci baru ingin menjawab ketika Mu Yu tiba-tiba menarik pinggangnya dan membalik posisi mereka hingga dia terbaring di bawah.

“Kita lihat saja.” Dia hanya membuat ancaman simbolis.

“Ah Ci, aku mau tanya sesuatu.”

“Apa?”

Mu Yu menatapnya serius, bibirnya menegang sedikit. “Aku dan Yu Shan… siapa yang lebih kamu sukai?” dia masih mengingat jelas ucapan Qiu Ci waktu itu.

Qiu Ci tidak langsung menjawab. Tatapannya menggelap sesaat, lalu tiba-tiba dia menggigit dagu Mu Yu dengan geram.

“Sial, apakah kamu seekor anjing?”

Dengan suara itu, Mu Yu merasa pusing dan kehilangan arah. Ketika ia tersadar, Qiu Ci sudah menindihnya.

“Apakah kamu tidak menjawab karena kamu lebih menyukai Yu Shan?” tanyanya dengan nada sedih.

“Kenapa kamu harus menyebut dia lagi?” Qiu Ci melotot.

Sudah lama sekali dia tidak bertemu si cengeng Yu Shan itu. Gadis itu kini sibuk sekali dan bahkan tidak bersekolah di kota Jiang lagi, jadi sulit bagi mereka untuk bertemu.

Kalau mau cemburu, setidaknya cemburulah pada orang yang masih sering terlihat, pikir Qiu Ci.

Mu Yu mengerucutkan bibir. “Tapi kamu sendiri mengatakan dulu kamu menyukainya. Kamu mengatakan kalau ingin berpacaran, orang pertama yang akan kamu pilih adalah dia.

Qiu Ci terdiam. Sudah lama sekali hal itu berlalu, tapi ternyata anak ini masih mengingatnya sejelas itu.

“Berarti kamu memang tidak menyukaiku.”

Nada kecewa yang keluar begitu pelan langsung membuat hati Qiu Ci terasa mencengkeram.

Qiu Ci mengumpat pelan, lalu duduk tegak, membelakanginya, dan bergumam, “Siapa bilang aku tidak menyukaimu? Perasaanku padanya berbeda dengan perasaanku padamu.”

“Kalau begitu, lihat aku dan katakan itu.”

Suara dari belakangnya terdengar penuh dengan keluhan.

Menjalin hubungan ternyata merepotkan juga, pikir Qiu Ci.

Tapi meski menggerutu dalam hati, tetapi berbalik dan kembali menekan Mu Yu. Dia menempelkan dahinya ke dahi Mu Yu, menatap tajam ke mata hitam putih Mu Yu yang jernih.

Begitu mata mereka bertemu, kata-kata yang hendak dia ucapkan seketika tersangkut di tenggorokan. Wajahnya langsung memanas.

“Po-pokoknya, dua rasa suka itu beda,” katanya terbata.

Mungkin karena jaraknya terlalu dekat, wajah Mu Yu pun ikut memerah, tapi dia masih sempat bertanya dengan suara pelan, “Beda… bagaimana?”

“Pikir sendiri,” jawab Qiu Ci cepat, buru-buru duduk dan membalikkan badan lagi.

Tidak lama kemudian, dia merasa ada sesuatu menekan punggungnya. Suara lirih terdengar di telinganya, “Kamu menyukaiku… dengan cara yang sama seperti aku menyukaimu, ’kan?”

Nada itu terdengar hati-hati, seolah takut jika jawabannya salah.

Qiu Ci mengangguk asal saja. Namun sebelum pikirannya sempat jernih, dia merasakan hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya dan secara naluriah meraih tangan Mu Yu yang sedang iseng menurunkan pakaiannya.

“Apa yang ingin kamu lakukan?” desisnya di antara gigi.

Tidak bisa bicara baik-baik, begitu sedikit emosi langsung mencoba melepas bajunya, apa-apaan kebiasaan ini?!

Ketahuan di tempat, Mu Yu langsung memerah sampai ke leher, matanya tidak berani menatap Qiu Ci. Dengan suara sangat pelan ia beralasan, “Aku sedikit bersemangat dan ingin menenangkan diri bersamamu.”

“…”

Dalam keheningan, Qiu Ci mengulurkan tangan dan tanpa ampun mendorong dahinya, menciptakan jarak di antara mereka.

Sebelum wajahnya terbakar seluruhnya, dia segera meninggalkan tempat kejadian perkara.

Sementara itu, orang yang baru saja ditolak hanya bisa menenggelamkan wajahnya di bantal, wajahnya masih membara.

Meskipun aku ingin sekali melangkah lebih jauh, rasanya malu sekali untuk mengatakannya. Aku hanya ingin mencari tempat untuk mengubur diriku sendiri.

Setelah kejadian itu, keduanya tetap melanjutkan hubungan mereka secara diam-diam, berusaha menyembunyikannya dari mata para orang tua.

Hingga akhirnya, setelah lulus SMA, ketika Mu Yu pergi ke luar negeri untuk menjenguk ayahnya, Qiu Ci mengambil sebuah keputusan besar.

Dia duduk di sofa berhadapan dengan Chu Qing dan Qiu Wei, memantapkan hati seolah akan berangkat ke medan perang, lalu berkata, “Aku menyukai Mu Yu, dalam arti kami berpacaran.”

Suami istri itu saling pandang. Tidak satu pun berbicara. Qiu Ci merasa suasana janggal dan akhirnya bertanya ragu, “Kalian tidak ingin mengatakan apa pun?”

Setidaknya marah, menggebrak meja, atau mengancam akan mematahkan kakinya, begitu pikirnya.

Wajah Chu Qing tampak rumit. Dia hanya menghela napas pelan. “Lalu, apa yang ingin kamu dengar dari kami?”

Qiu Ci terpaku. Dia bahkan sudah menyiapkan diri untuk diusir dari rumah, tapi… reaksi mereka sesantai ini?

Saat dia masih kebingungan, Qiu Wei mendengus. “Orang lain telah mengurus apa yang harus kamu lakukan.”

Qiu Ci kemudian menyadari bahwa Mu Yu sudah lebih dulu menemui kedua orang tuanya dan mengakui semuanya. Dia bahkan menanggung semua kesalahan sendirian, berani menghadapi ancaman dua orang tua yang keras itu, semuanya demi melindunginya.

Qiu Ci akhirnya secara tidak sadar mengaku, membuat hubungannya dengan Mu Yu kini benar-benar terbuka di hadapan semua orang. Tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi, mereka bahkan dengan terang-terangan mendaftar ke universitas yang sama, lalu memulai kehidupan manis bersama di kota baru, dua anak muda itu sedang tenggelam dalam cinta pertama.

Pada hari ulang tahun Mu Yu yang ke-19, dia berdiri di depan kue, menutup mata dengan khidmat, dan dalam hati berdoa agar dia dan Qiu Ci bisa bahagia selamanya.

Ketika membuka mata untuk meniup lilin, sebuah tangan tiba-tiba terulur ke hadapannya, telapak tangan terbuka. Di atasnya tergeletak sebuah kotak kecil berwarna hitam, tampak elegan dan berkilau di bawah cahaya lilin.

“Hadiah untukmu,” kata Qiu Ci, suaranya datar tapi ujung telinganya sudah merah.

Bulu mata Mu Yu bergetar. Dia menahan napas, perlahan membuka kotak itu, dan di dalamnya, sepasang cincin tergeletak dengan tenang. Di bagian dalam cincin, terukir huruf inisial nama mereka berdua.

Saat Mu Yu masih dilanda keraguan, seolah takut semua ini hanyalah mimpi, dari seberang meja terdengar suara batuk kecil yang canggung.

“Jika kamu memikirkan hal lain, aku juga tak bisa berbuat apa-apa,” kata Qiu Ci cepat-cepat, pura-pura tenang.

Mu Yu mengerjap, lalu tersenyum kecil sambil menarik napas. Dia mengulurkan tangan dan berbisik, “Aku bersedia.”


KONTRIBUTOR

San
Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply