Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Mu Yu ingin memberi kejutan pada Qiu Ci, jadi dia tidak memberi tahu Qiu Ci bahwa dia telah kembali ke Tiongkok.

Dia membuka pintu rumah dengan hati-hati, menaruh koper di ruang tamu, dan berniat naik ke lantai atas untuk melihat apakah Qiu Ci ada di sana.

Namun, baru sampai di ujung koridor lantai dua, dia justru berpapasan dengan Qiu Ci yang kebetulan hendak turun untuk mengambil camilan untuk Xiajiu.

Keduanya terhenti beberapa meter berjauhan, saling menatap tanpa bersuara. Setelah beberapa saat, Qiu Ci yang lebih dulu melangkah mendekat.

“Sudah selesai dengan urusanmu?” suara pria itu tenang, tanpa nada terkejut meski mereka telah lama tidak bertemu.

Mu Yu menatapnya, lalu mengangguk pelan. “Ya, sudah selesai.”

Percakapan singkat itu segera diselimuti keheningan. Namun, dalam tatapan yang saling bersinggungan, keduanya seakan saling memahami sesuatu tanpa perlu berkata-kata. Dengan langkah yang serempak dan penuh pengertian, mereka perlahan saling mendekat.

Sebuah sentuhan yang semula hanya percobaan berubah menjadi sesuatu yang tak dapat dihentikan, seolah masing-masing ingin melebur ke dalam jiwa satu sama lain, tanpa sisa.

Qiu Ci sama sekali lupa bahwa siaran langsung di kamar belum dimatikan. Mereka berciuman dari koridor hingga masuk ke kamar, nyaris menginjak Xiao Jiu yang datang karena mendengar suara.

Anak kucing kecil itu memiringkan kepalanya, menatap dua manusia yang sedang larut dalam perpisahan dan kerinduan yang panjang dengan sepasang mata biru beningnya.

Ketika Qiu Ci akhirnya membungkuk untuk mengangkatnya, Xiao Jiu menggoyangkan ujung ekornya dengan manja, namun masih sempat mengeong tidak ramah ke arah Mu Yu.

Belum sempat dia melanjutkan rengekannya, tubuh mungil itu sudah diturunkan ke lantai. Dia segera menyadari bahwa Qiu Ci telah menaruhnya di luar pintu kamar.

“Ini tidak pantas untuk anak kecil, pergilah bermain di bawah dulu,” ujar Qiu Ci sambil mengelus kepalanya.

Xiao Jiu tampak tidak mengerti, memiringkan kepala dan mengeong pelan, “Miau?”

Dalam tatapan jernih sepasang mata biru milik kucing itu, Qiu Ci mundur beberapa langkah, menutup pintu, lalu memutarnya hingga terkunci rapat.

Sesaat kemudian, dengan suara “duk” yang terdengar jelas, tubuhnya didorong keras ke pintu oleh seseorang yang sudah tidak mampu menahan diri. Ciuman yang sempat terputus di koridor tadi kembali berlanjut, panas, dalam, dan tidak terkendali. Hingga, di antara helaan napas yang saling bertaut, Qiu Ci membalik keadaan dan mendorong Mu Yu ke atas ranjang.

Ketika suasana mulai memanas dan segala hal tampak akan berlanjut secara alami, Qiu Ci tiba-tiba berhenti. Mu Yu menatapnya dengan kebingungan, ingin bertanya, namun lelaki itu tidak memberi penjelasan. Dia berbalik, mengambil ponselnya.

Baru setelah menutup siaran langsung, bahkan mematikan ponsel dan melemparkannya ke sofa di seberang, Qiu Ci kembali menindih tubuh Mu Yu.

Sambil berusaha membuka kancing bajunya, Mu Yu masih sempat bertanya pelan, “Kamu tadi merekam video?”

Ia hanya sempat melirik sekilas ke arah ponsel dan melihat gitar di dekatnya, mengira Qiu Ci sedang merekam video pendek saat bermain musik.

“Bukan, sedang live streaming,” jawab Qiu Ci mengikuti dagunya yang terangkat dan mencium ke bawah.

Sentuhan tiba-tiba di jakunnya mengirimkan sensasi aneh namun menyenangkan ke seluruh tubuh Mu Yu, membuat pikirannya kacau. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari betapa seriusnya situasi ini sebelum dia bertanya, “Apakah tidak apa-apa jika dibiarkan begitu saja?”

Bukankah seharusnya sesuatu seperti itu segera ditangani, agar dampaknya tidak besar?

“Qi Meng akan mengurusnya.” Qiu Ci menutup mulutnya dengan ciuman sebelum Mu Yu sempat berkata lebih jauh.

Dulu, saat baru memulai kariernya, Qiu Ci sudah sering membantu Qi Meng menyelesaikan banyak masalah. Sekarang, sebagai gantinya, biarlah Qi Meng yang menutupi kesalahannya.

Setelah itu, Mu Yu tidal lagi sempat berpikir apa pun. Dalam gelombang ciuman dan sentuhan yang tiada henti, kesadarannya perlahan larut, tenggelam bersama napas Qiu Ci.

Kebisingan di dalam ruangan itu berangsur-angsur mereda setelah mereka berkali-kali mengungkapkan kerinduan mereka satu sama lain.

Bau di udara dan kekacauan di kejauhan sudah cukup untuk menunjukkan betapa intensnya saat itu.

Sementara itu, internet dipenuhi dengan diskusi.

Pada saat Qi Meng mengetahui berita tersebut, netizen yang cerdik telah mengikuti petunjuk yang diduga sebelumnya, membuat berbagai spekulasi garis waktu dan membandingkan gambar.

Tidak lama kemudian, mereka bersikeras bahwa mahasiswa sebelumnya yang pernah menjalin hubungan awal, dan kisah asmara bak dongeng di bandara, semuanya adalah “Zuo Xun” sendiri.

Rekaman siaran langsung pun tersebar luas. Cuplikan Qiu Ci yang sedang menceritakan kisah cintanya dan wajahnya yang sempat tertangkap kamera sebelum siaran terputus, menyebar dengan cepat ke berbagai platform. Popularitasnya meledak berkali-kali lipat.

Dan karena wajah Mu Yu terlihat jelas di dalam video itu, publik segera menemukan identitas aslinya, seorang pengusaha besar lintas negara yang setahun lalu mulai merambah ke pasar domestik, dengan bisnis di bidang teknologi, farmasi, dan properti.

Kekayaannya pun tidak perlu diragukan. Walaupun pasti banyak modal dari orang tuanya sebagai yayasan, tapi tetap saja usianya masih muda!

Sementara para haters dengan jahat berspekulasi apakah “Zuo Xun” dipelihara oleh seorang sugar daddy, seseorang menggali lebih dalam dan berhasil mengungkap nama asli “Zuo Xun” yang kurang dikenal, Qiu Ci, dan mengungkapkan latar belakang keluarganya di Kota Jiang dan identitas orang tuanya.

Semua tuduhan bahwa dia menjadi terkenal karena disokong “sugar daddy” pun langsung menghilang setelah bukti-bukti kuat bermunculan.

Namun, melihat situasi di internet yang semakin panas dan hampir mengungkapkan seluruh kehidupan pribadi Qiu Ci, Qi Meng segera bertindak, Qi Meng akhirnya memerintahkan bawahannya untuk mengambil tindakan: menekan apa yang perlu ditekan, mencari orang untuk membantu, dan mengeluarkan pernyataan bila diperlukan.

Qi Meng bukan hanya bos perusahaan ini, tapi juga kepala keluarga Qi. Mengetahui bahwa dia sendiri yang menangani masalah ini, siapa pun yang cerdas pasti akan berinisiatif membantu, sehingga mereka dapat mempermudah urusannya di masa mendatang.

Setelah serangkaian langkah cepat, akhirnya dampak negatif berhasil ditekan seminimal mungkin.

Mengingat kembali perkataan Qiu Ci sebelumnya, Qi Meng hampir saja ingin menyeretnya langsung dan mengguncang bahunya sambil berteriak: “Sebelum melakukan hal seperti ini, tidakkah kamu seharusnya memberiku peringatan dulu?! Apa kamu tidak tahu bagaimana rasanya jadi rekan satu tim yang dijebak seperti ini?!”

Meski begitu, Qi Meng tahu, Qiu Ci tidak mungkin sengaja melakukan siaran seperti itu demi sensasi. Sekalipun dia dikenal santai dan acuh, tapi dia tidak sebodoh itu.

Kejadian ini jelas kecelakaan, meskipun mungkin juga, sebuah kecelakaan yang diam-diam sejalan dengan keinginannya.

Karena itulah Qi Meng juga tidak buru-buru menutup isu itu. Bahkan, dia sedikit “menyulut api”, membiarkan dunia melihat siapa Qiu Ci sebenarnya, sebelum akhirnya mengatur semuanya dengan rapi.

Setelah semuanya tenang, dia mengirim pesan pada Qiu Ci:

[Kirimkan satu foto pernikahan yang jelas. Unggah di akun utama, kita buat pengumuman resmi sekalian.]

Setelah sekitar setengah jam, dia akhirnya mengirim “hmm” singkat.

Memikirkan adegan terakhir siaran langsung itu, Qi Meng mendecak lidah sambil menyeringai nakal. “Sudah seharian dan masih belum berakhir? Mereka benar-benar punya banyak energi.”

Namun, dugaannya salah. Qiu Ci saat itu sedang menelepon Yu Shan.

Yu Shan sudah pindah dan menetap di luar negeri. Karena sibuk, dia jarang berhubungan lagi dengan Qiu Ci dan hampir tidak mengikuti berita dalam negeri. Baru setelah berbicara dengan Lu Ning, dia mengetahui berbagai kejadian heboh yang melibatkan Qiu Ci.

Setelah berpikir lama dan menyesuaikan perbedaan waktu, akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Qiu Ci.

Saat mereka berbincang, Mu Yu beberapa kali menatap lelaki yang sedang berdiri di balkon. Begitu Qiu Ci berbalik, dia pura-pura sibuk dengan hal lain.

Qiu Ci yang menyadarinya, tetap menjawab pertanyaan Yu Shan dengan tenang sambil melangkah mendekat.

Dia berdiri di belakang Mu Yu, memeluknya dari belakang, satu tangan melingkari pinggangnya, tangan lain memegang ponsel, dagunya bertumpu di bahu Mu Yu.

Sambil memejamkan mata menikmati aroma lembut yang khas dari tubuh Mu Yu, Qiu Ci menjawab santai, “Mm, tidak akan ada ‘kalau’. Aku tutup dulu.”

Selesai menutup telepon, dia sempat membalas pesan Qi Meng, lalu meletakkan ponselnya dan memeluk Mu Yu dengan kedua tangan.

Dia menunduk, menggigit lembut daun telinganya, dan berbisik, “Yu Shan bilang, kalau aku masih seperti dulu, terlalu mementingkan diri sendiri, kamu akhirnya akan menghilang seperti sebelumnya.”

Mu Yu terkekeh pelan, menghindar karena geli. “Aku tidak akan pergi.”

“Kmau tidak bisa lari meskipun kamu mau.” Nada suara Qiu Ci merendah, disertai gerakan lututnya yang menggoda di belakang lutut Mu Yu. “Kalau kamu berani lari, aku akan mematahkan kakimu dan menyeretmu pulang.”

Mu Yu menatapnya, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

“Kalau Ah Ci masih sama seperti dulu, aku tidak akan sebodoh itu kabur lagi, tapi aku akan mengurungmu di tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa menemukanmu selain aku, agar kamu hanya menjadi milikku selamanya.”

Dengan tatapan dan nada penuh ketulusan, dia melontarkan ancaman yang tidak kalah berbahaya dari Qiu Ci.

Qiu Ci memegang dagunya, menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum miring. “Bagaimana kalau aku duluan yang mematahkan kakimu? Lalu kita pergi ke pulau terpencil, hidup berdua sampai tua. Sekalian saja aku wujudkan impianmu dan impianku.”

Mu Yu benar-benar memikirkannya dengan serius sejenak sebelum bertanya,“Kalau begitu… bagaimana dengan Xiao Jiu?”

Sepertinya dia setuju dengan usulan Qiu Ci, tapi dia masih harus memikirkan di mana Xiao Jiu akan ditempatkan. Setelah itu, dia akan segera mewujudkan ide aneh ini.

Sementara itu, Xiao Jiu yang sedang menunduk makan di mangkuknya tiba-tiba mendongak, seolah merasa ada seseorang yang baru saja menyebut namanya. “Miau?”

Qiu Ci melirik ke arah kucing kecil itu, yang masih lahap menyantap makanannya, lalu menjawab, “Kita bawa dia bersama.”

Masalah pun selesai. Mu Yu segera melingkarkan tangannya di leher Qiu Ci, bersandar manja sambil berkata dengan nada lembut, “Kamu tahu aku takut sakit, jadi lakukanlah dengan cepat dan bersih.”

Dada Qiu Ci bergetar menahan tawa. “Baiklah, aku jamin patah kaki tanpa rasa sakit.”

“Pulau itu harus benar-benar terpencil, tempat di mana tidak ada seorang pun bisa menemukan kita.”

“Mm.”

“Bagaimana jika nantinya Xiao Jiu sakit? Dia manja sekali.”

“Itu memang masalah.”

“Kamu tidak bisa menggunakan kepincanganku sebagai alasan untuk diam-diam kabur bersama Xiao Jiu.”

“Baik.”

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku juga mematahkan kakimu? Supaya adil.”

“… boleh.”

Di bawah sinar lembut sore hari, Xiao Jiu yang baru saja kenyang menguap lebar, lalu berbaring di atas sofa, memperhatikan dua manusia di hadapannya, berpelukan, berbisik, lalu tanpa sadar saling berciuman.

Dan seperti biasa, tidak lama kemudian, ciuman itu berlanjut sampai Xiao Jiu dengan lembut “dipersilakan” keluar kamar.

Kucing kecil itu mengeong protes dengan nada kesal, mencakar sedikit pintu yang tertutup rapat, lalu melangkah pergi dengan gaya anggun khas seekor kucing yang sedang marah.

Empat hari setelah insiden siaran langsung, akun aktor Zuo Xun tetap diam.

Banyak orang masih menunggu, berharap mendapatkan pernyataan dari orang yang terlibat. Gadis yang merekam video di bandara adalah salah satunya.

Di sela pelajaran umum yang membosankan, gadis itu duduk di barisan belakang sambil membaca novel, lalu dengan kebiasaan refleks membuka aplikasi Weibo dan menggulir ke bawah.

Dua detik kemudian, matanya membulat. “Akhirnya!”

Seruannya sedikit terlalu keras, membuat beberapa teman di depan menoleh. Dia buru-buru menunduk, wajahnya memerah, lalu menggenggam ponselnya erat-erat sambil senyum girang, melakukan ritual lengkap, like, komentar, dan bagikan.

Postingan yang baru saja diunggah berbunyi:

[Setiap hari ingin menempel dengan Xun-Xun:  Aaaaa suamiku akhirnya resmi mengumumkan! Walau bukan aku yang dia umumkan, aku tetap bahagia sekali aaaaa!]

Unggahan asli dari akun itu menampilkan keterangan singkat:

[Tak ada yang lebih beruntung daripada pertemuan kembali setelah lama berpisah, dan mendapatkan kembali apa yang sempat hilang.]

Disertai tiga foto.

Foto pertama memperlihatkan dua remaja di tepi laut, dengan senyum muda yang jujur dan mata yang hanya tertuju pada satu sama lain.

Foto kedua adalah gambar buku nikah baru, merah dan mengilap.

Foto ketiga menunjukkan dua tangan yang saling menggenggam, dengan satu cakar kucing mungil yang bertengger di atasnya.

Tidak butuh waktu lama sampai orang-orang menyadari bahwa nama akun aktor Zuo Xun kini telah diganti menjadi Qiu Ci.


—— Cerita selesai ——


Catatan Penulis:

Bagian ketiga, tamat! Terima kasih untuk semua pembaca manis yang sudah menemani sampai akhir~

Untuk cerita tambahan (ekstra), saat ini aku belum menemukan feel-nya, jadi belum tahu apakah akan menulis atau tidak. Karya berikutnya mungkin akan kuambil dari daftar pra-simpan, atau mungkin akan mulai dari awal lagi. Akhir-akhir ini hasrat menulis sedang rendah, inspirasi juga belum muncul, jadi untuk sementara aku belum akan membuka proyek baru.


KONTRIBUTOR

San
Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply