Penerjemah: Keiyuki


[Bab Bonus: Siapa yang paling imut?]


Qiu Ci memperhatikan bahwa Mu Yu telah bertingkah aneh beberapa hari terakhir ini, selalu tersenyum bodoh.

Hari ini sama saja.

Presiden Mu yang sedang bekerja dengan laptop itu berada di area istirahat luar ruang di lantai satu. Dia mengambil secangkir kopi dengan satu tangan dan menyesapnya, sementara tangan lainnya menggerakkan tetikus, mengenakan headphone Bluetooth di telinganya, dan senyuman lebar tampak wajahnya.

Xiao Jiu, dengan langkah santai seperti kucing, melompat ke kursi di sebelah Mu Yu, lalu naik ke atas meja.

Dengan langkah seolah sedang berjalan-jalan, ia bergerak ke sisi laptop. Melihatnya hendak mengulurkan cakar untuk menepuk-nepuk papan tik, seseorang langsung memegang kakinya untuk menghentikan aksi itu.

Gagal melakukan kenakalan, si kecil itu menyipit tidak senang, memperlihatkan giginya—galak sekali.

”Xiao Jiu, jangan membuat masalah.”

Begitu suara itu terdengar, Mu Yu refleks menutup laptopnya, dan menekan tombol earphone di telinganya.

Ada yang mencurigakan.

Qiu Ci melirik laptop yang ditutup sangat rapat itu, lalu menggendong Xiao Jiu ke dalam pelukannya dan mencubit lembut bagian belakang lehernya. “Anak baik, pergilah bermain di tempat lain.”

Sepanjang seluruh proses itu, Mu Yu sama sekali tidak menoleh, hanya mengangkat cangkir kopi dan meminumnya.

“Kamu terlihat sangat mencurigakan,” kata Qiu Ci sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Mu Yu menatapnya dengan ekspresi polos.

Qiu Ci mengangkat satu sudut bibir dan mengarahkan tangan ke depan. Mu Yu tegang dan segera menutup telinganya yang memakai earphone, tidak menyangka tangan Qiu Ci berputar di tengah jalan dan malah mendarat di laptop.

“Tidak ada apa-apa,” suara Mu Yu terdengar lemah, namun dia tidak berusaha merebut laptopnya.

Qiu Ci tidak membuka laptop itu, hanya bertanya, “Nonton film porno?”

“Mana mungkin!” Mu Yu membelalakkan mata dan buru-buru membantah. Dia sama sekali tidak suka menonton orang lain “melakukan itu”. Daripada membuang waktu, lebih baik dia menghabiskan waktu “mencoba posisi baru” bersama Ci Ye-nya.

“Menonton drama romance? Apa kamu mengikuti pasangan favorit?”

Qi Meng memang sangat menyukai mengikuti pasangan favorit (CP), Qiu Ci sudah sering melihat dia di kantor memelototi ponselnya sambil menonton konten yang dibintangi oleh CP-nya, tertawa… entah bagaimana menggambarkannya. Yang jelas, jika pacarnya yang sangat cemburuan itu melihatnya, ia pasti langsung iri setengah mati.

Mu Yu menggeleng. Dia hanya menonton film dan drama yang dibintangi Qiu Ci, dan kebanyakan waktunya dia gunakan untuk bekerja. Dia bahkan tidak begitu mengerti apa itu “mengikuti pasangan favorit”.

Qiu Ci semakin penasaran. Apa yang bisa membuat si bodoh kecil itu tersenyum begitu konyol? jangan-jangan—

“In karena aku?” Qiu Ci menopang wajah dengan satu tangan sambil menatap orang di seberangnya, sementara ujung jari tangan satunya menunjuk dirinya sendiri. Mu Yu langsung memerah sampai ke ujung telinga, menjawab pelan, “Mm.”

Pria itu mencubit telinganya yang panas. Sebenarnya, hal yang dia tonton itu kebanyakan orang sudah menontonnya, hanya saja dia sendiri baru mengetahuinya belakangan.

Di bawah tatapan Qiu Ci yang tenang namun menusuk, Mu Yu akhirnya mengaku jujur.

Beberapa hari ini, dia terus mengulang menonton rekaman siaran langsung saat identitas Qiu Ci terbongkar, terutama dua klip yang paling tersebar luas di internet.

Awalnya, dia mengira sebelum Qiu Ci “ketahuan”, ia hanya sedang bermain gitar dan bernyanyi. Sampai hari Qiu Ci membuat pengumuman resmi, Mu Yu penasaran dengan situasi kolom komentar dan baru sadar ada hal lain yang terjadi.

Berdasarkan petunjuk para penggemar, dia mencari alamat video itu. Dia mendengarnya sekali, lalu tak tahan mendengarnya lagi.

Dalam suara rendah dan lembut itu, yang diceritakan adalah “dia di dalam hatinya”.

Pada masa-masa yang sudah lewat itu, Ci Ye-nya sama sekali tidak jujur, dan tidak pernah mengatakan hal-hal seperti yang ada di dalam video. Karena itulah Mu Yu tidak bisa menahan diri untuk mendengarkannya berulang kali.

Setelah mengetahui kebenaran itu, Qiu Ci memutar posisi laptopnya, lalu menangkap Xiao Jiu yang lagi-lagi datang mencari perhatian. Sambil mengelus bulunya, ia bertanya, “Tidak bosan mendengarnya?”

“Tidak. Setiap kali aku mendengarnya, hatiku terasa begitu manis.” Mengingat kata-kata yang Qiu Ci ucapkan sebelumnya, ujung hati Mu Yu terasa manis sampai bergetar.

“……”

Tangan Qiu Ci kembali terulur, mencopot earphone Mu Yu, lalu terus mengelus bulu Xiao Jiu.

Di tengah suara dengkuran nyaman dari Xiao Jiu, terdengar suara batuk ringan. “Terlalu lama mengenakan earphone tidaklah baik. Kalau kamu ingin mendengar sesuatu, aku bisa mencoba mengatakannya untukmu.”

Qiu Ci sedang berusaha mengubah sifatnya—mengubah kebiasaan buruknya yang, setiap kali berhadapan dengan si bodoh kecil ini, selalu ingin mengatakan kebalikan dari apa yang dia rasakan.

Karena orang di depannya lama sekali tidak berbicara, Qiu Ci melirik sekilas. Ia mendapati senyum yang perlahan merekah di wajah Mu Yu seperti riak air dan semakin besar, matanya terang memandang dirinya.

Qiu Ci menahan ekspresinya, pura-pura tenang sambil terus menggaruk dagu Xiao Jiu.

“Ah Ci.”

“Hmm?”

“Kamu lucu sekali.”

Cahaya luar ruangan begitu terang, membuat tubuh pria itu dipenuhi cahaya lembut berlapis, bahkan senyumnya pun diselimuti kilau yang memukau. Senyum yang bersih dan cerah itu sedikit demi sedikit mengetuk hati Qiu Ci, meninggalkan kesan abadi yang tak terlupakan.

Satu tarikan napas kemudian, Qiu Ci kembali mengalihkan pandangannya ke sana.

“Kamulah yang paling lucu.”

Ia batuk kecil, tidak terlalu natural, lalu menegaskan, “Yang paling lucu di dunia.”

Angin hangat melewati wajah keduanya, membuat aroma manis memenuhi udara.

Tiba-tiba, Xiao Jiu yang berada di pelukan pria itu mengeong sangat keras.

“Meong! Pembohong! Akulah yang paling paling paling paling lucu sedunia! QAQ”


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply