Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Kedua video tersebut, satu demi satu, juga terhubung dengan topik yang sedang tren di waktu sebelumnya, sehingga menyebabkan popularitasnya melonjak lagi.

Qiu Ci sendiri bukanlah orang yang suka berselancar di dunia maya, sehingga dia sama sekali tidak tahu bahwa para netizen sedang sibuk mengulik identitas aslinya dan Mu Yu, serta memperdebatkan apakah dia benar-benar “Zuo Xun”.

Ketika dia akhirnya mendengar kabar itu dari Qi Meng, dia sudah meninggalkan Kota Jiang dan memasuki lokasi syuting untuk menjalani pengambilan gambar. Saat itu, kehebohan mengenai dirinya sudah lama digantikan oleh topik-topik baru.

Sisa adegan yang harus dia selesaikan tidak banyak, dan Qiu Ci menyelesaikannya hanya dalam waktu empat hari.

Sebelum dia pergi, Fan Dongxiao menghampirinya dengan langkah ringan ketika keadaan sekitar sedang sepi. “Cari waktu, ajak pasanganmu keluar untuk kumpul-kumpul, bagaimana?”

Qiu Ci tersenyum tipis. “Dia tidak sedang di dalam negeri.”

“Baru menikah tapi sudah harus berpisah,” kata Fan Dongxiao sambil menepuk bahunya sebagai tanda simpati. “Mau minum-minum nanti?”

Qiu Ci menggeleng. “Tidak bisa, aku ada urusan lain.”

Dia harus menjemput Xiao Jiu. Setelah kembali, dia langsung menginap di hotel, jadi tidak sempat membawa kucing kecil itu bersamanya.

Fan Dongxiao tidak memaksa. Dia malah teringat sesuatu. “Tentang naskah yang pernah aku sebutkan dulu, kamu benar-benar tidak tertarik untuk mencobanya?”

Dalam lingkaran dunia hiburan, sudah lama beredar kabar bahwa Qiu Ci mungkin akan pensiun dari dunia akting. Fan Dongxiao juga pernah menanyakannya langsung, namun hanya mendapat jawaban singkat: belum memutuskan. Keikutsertaan Qiu Ci dalam proyek kali ini pun semata-mata karena ingin membantu Fan Dongxiao.

Qiu Ci baru hendak menjawab ketika Fan Dongxiao menambahkan cepat, “Coba kamu pikirkan lagi. Kudengar, Sutradara Song belum memutuskan pemeran utama karena masih menunggu jawabanmu.”

Qiu Ci hanya tersenyum tanpa menegaskan pendiriannya. Setelah menyuruh asisten mudanya pulang, dia sendiri yang menyetir untuk menjemput Xiao Jiu.

Xu Qingning, yang biasanya merawat Xiao Jiu, sudah kembali bekerja di institut penelitian karena masa cutinya berakhir. Karena itu, Qi Meng-lah yang membawa Xiao Jiu ke kantor.

Resepsionis baru yang melihat Qiu Ci masuk tidak bisa menahan diri untuk terus menatap punggungnya. Baru dua hari bekerja, dan dia sudah melihat langsung sang “suami” yang telah menghilang dari media sosial lebih dari setahun. Keberuntungan seperti ini jelas harus dia pamerkan kepada teman-temannya nanti!

Di dalam kantor, Qi Meng sedang bersantai sambil bermain dengan Xiao Jiu. Kucing kecil itu pun dengan manis membiarkan dirinya dipeluk dan dielus tanpa melawan.

Namun, begitu Qiu Ci melangkah masuk, si kecil yang tadi begitu patuh langsung menepis pelukan Qi Meng dengan ekspresi tidak puas. Dia mengeong manja ke arah Qiu Ci, seolah memohon untuk digendong dan dicium.

Qiu Ci membungkuk, mengangkatnya ke dalam pelukan. Ekor tebal dan lembut itu menyapu wajahnya, menimbulkan rasa gatal yang ringan.

“Dasar tidak tahu terima kasih,” Qi Meng tertawa sambil memarahi dengan nada bercanda.

Xiao Jiu seolah mengerti, mengeong lembut dengan gaya menggemaskan, membuat siapa pun sulit untuk benar-benar marah padanya.

Ketika Qiu Ci sudah duduk sambil mengelus kucingnya, Qi Meng ikut duduk di kursi seberangnya. “Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanyanya. “Masih ingin berakting, atau mau pindah ke belakang layar? Atau langsung berhenti total dan kembali mengurus bisnis keluarga?”

Sebagai rekan kerja sekaligus teman dekat, Qi Meng tahu persis bagaimana situasi Qiu Ci.

Qiu Ci menatap Xiao Jiu yang tampak nyaman hingga menampakkan perutnya, lalu berkata setelah diam sejenak, “Qi Meng, kamu punya mimpi?”

Pertanyaan yang sama sekali tidak relevan itu membuat Qi Meng terdiam sesaat.

“Apa-apaan ini, kenapa tiba-tiba kamu bicara tentang mimpi?”

Baginya, kata mimpi sudah lama kehilangan makna sejak hari dia memutuskan untuk memberikan kebebasan pada kakaknya. Saat itu, yang dia inginkan hanyalah  hidup santai dan bersenang-senang sebagai pewaris keluarga kaya.

“Tidak ada apa-apa,” ucap Qiu Ci pelan. “Aku hanya teringat, dulu Yu Shan pernah menanyakan hal yang sama padaku.” Qiu Ci menusuk perut Xiao Jiu dengan jarinya, tatapannya kosong, sesuatu yang jarang terlihat. “Kalau kupikir-pikir, sepertinya aku memang tidak punya hal khusus yang benar-benar ingin kulakukan.”

Qi Meng mendengus. “KaMu bilang tidak punya keinginan, tapi sampai perlu pergi ke psikolog karena terlalu tenggelam dalam peran? KaMu bercanda?”

Lebih dari setahun yang lalu, Qiu Ci memang pernah mengalami kesulitan untuk keluar dari karakter yang dia perankan. Qi Meng-lah yang akhirnya memaksanya pergi ke psikolog.

Pada saat itu juga, Qiu Ci mengadopsi Xiao Jiu dan memanjakannya habis-habisan, dan kondisi mentalnya berangsur-angsur stabil.

Melihat kucing itu kini menggesekkan kepala pada telapak tangan Qiu Ci, Qi Meng sekali lagi membuktikan dalam hati bahwa makhluk menggemaskan memang benar-benar dapat menyembuhkan luka batin manusia.

Ucapan Qi Meng hanya membuat Qiu Ci tersenyum samar tanpa memberikan penjelasan.

Karena, hanya dia sendiri yang tahu, ketika dia begitu mendalami peran itu, dia benar-benar bisa merasakan apa yang pernah dirasakan Mu Yu.

Perasaan itu membelit di lubuk hatinya, seperti kabut hitam yang tiada ujung. Semakin dia mencoba mencari jalan keluar, semakin dia tersesat. Hingga akhirnya, dia berhenti berusaha dan memilih untuk tenggelam dalam kegelapan itu.

Alasan Qiu Ci memilih dunia akting sejak awal memang tidak sepenuhnya murni.

Pada awalnya, dia tidak berniat menjadi aktor. Dia hanya menjalankan bisnis bersama Qi Meng. Namun, setelah tanpa sengaja merasakan keajaiban dari berakting, dia pun memutuskan untuk terjun ke dunia itu sepenuhnya.

Dia tidak peduli seberapa besar atau kecil perannya, yang dia inginkan hanyalah menikmati proses menjadi orang lain di dalam setiap kisah yang berbeda.

Karena itu juga, ketika dia resmi menjadi aktor, dia menciptakan sosok “Zuo Xun” yang sopan dan berwibawa, sebuah citra yang sepenuhnya berbeda dari dirinya sendiri.

Semakin lama, Qiu Ci semakin terpesona oleh sensasi hidup sebagai orang lain. Demi menyatu dengan peran, dia mengerahkan seluruh tenaganya, menyelam begitu dalam hingga batasnya kabur. Dia meneliti, merasakan, dan memerankan dengan intensitas yang hampir menyerupai obsesi.

Dalam keadaan setengah gila dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri, Qiu Ci menerima peran baru, seorang tokoh yang kepribadiannya begitu mirip dengan Mu Yu. Peran itu seolah membuka kembali ingatan yang telah lama dia kubur dalam-dalam.

Dia tidak mampu mengendalikan dirinya. Dia terus-menerus mengulang pengalaman masa lalu itu dalam pikirannya, dengan dua suasana hati yang saling bertentangan: satu dari dirinya yang sekarang, dan satu lagi dari dirinya yang dulu, yang masih terperangkap dalam kenangan tentang Mu Yu.

Kekacauan batin itu membuat Qiu Ci akhirnya tidak sanggup melanjutkan. Dia memutus kontrak, meninggalkan proyek, dan membutuhkan waktu yang lama untuk bisa benar-benar keluar dari bayangan peran tersebut.

Saran untuk memelihara hewan datang dari psikolognya.

Dua hari sebelum dia memungut Xiao Jiu, Qiu Ci sempat kembali ke Kota Jiang. Dia duduk seharian di kamar yang dulu pernah ditempati Mu Yu, tidak melakukan apa-apa, hanya duduk, diam, dan memaksa dirinya untuk menatap kenyataan. Di sanalah dia berjanji untuk mencoba benar-benar melepaskan segalanya dari hati.

Awalnya, Qiu Ci berencana memelihara anjing besar, hewan yang bisa diajak berjalan-jalan agar pikirannya lebih tenang. Namun di tengah jalan menuju penangkaran anjing, dia melihat seekor anak kucing kotor penuh darah, meringkuk lemah di sudut jalan.

Suara tangisannya begitu pelan, hampir tidak terdengar.

Qiu Ci segera membawanya ke klinik hewan. Ajaibnya, makhluk kecil itu bertahan hidup setelah perawatan. Sejak saat itu, Qiu Ci memutuskan untuk merawatnya sendiri. Karena waktu dan tenaganya terbatas, dia pun mengurungkan niat untuk memelihara anjing.

Anak kucing itu ternyata sangat penurut, dan selalu ingin berada di dekat Qiu Ci, mengeong lembut seolah meminta perhatian tanpa henti.

Kedekatan seperti itu, rasa “kamu adalah seluruh duniaku” justru membuat Qiu Ci teringat pada seseorang yang tidak akan pernah bisa dia temui lagi. Dia bahkan sempat berpikir memberi kucing itu nama “Mùtóu” atau “Si Bodoh”, nama-nama yang seakan membawa bayangan masa lalu.

Semakin dia berusaha melepaskan, semakin dia tidak bisa.

Untungnya, kehadiran Xiao Jiu tidak membuat kondisinya memburuk. Justru sebaliknya, Xiao Jiu menjadi caranya untuk menenangkan diri, menjadi pengalih yang lembut, dan menjadi tempat berlabuh untuk segala hal yang tidak bisa dia ungkapkan.

Kata-kata yang tidak pernah dia ucapkan pada seseorang, hal-hal yang enggan dia bicarakan pada dokternya, semuanya dia bisikkan pada Xiao Jiu.

Orang-orang selalu bilang bahwa kucing itu sangat manja padanya. Namun, sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya: Qiu Ci-lah yang terlalu membutuhkan Xiao Jiu. Pada saat itu, dia sangat memerlukan sesuatu untuk menjadi sandaran emosinya.

Suara ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

Asisten Qi Meng masuk sambil membawa nampan berisi kopi. Ketika meletakkan cangkir di meja, perempuan itu diam-diam melirik ke arah Qiu Ci beberapa kali.

Kebetulan Qiu Ci mengangkat wajahnya, menangkap pandangan itu, lalu menanggapinya dengan senyum lembut dan sopan.

Mendapatkan senyum langsung dari pria yang dianggapnya “dewa layar kaca”, sang asisten langsung tersipu dan berjalan keluar ruangan. Sudah tiga tahun dia bekerja dengan Qi Meng, dan momen paling membahagiakannya selalu ketika bisa berdekatan dengan sosok “Zuo Xun” di dunia nyata.

Qi Meng menyesap sedikit kopinya, lalu berkata pelan, “Aku benar-benar kagum padamu. Kamu bisa mempertahankan citra ‘Zuo Xun’ selama ini tanpa sekalipun tergelincir.”

Karakter “Zuo Xun” digambarkan begitu realistis sampai terkadang Qi Meng sendiri merasa takut. Dia sering bertanya-tanya, apakah Qiu Ci benar-benar masih bisa membedakan mana dirinya yang asli dan mana yang hanya peran? Apakah dia sudah lupa seperti apa dirinya sebenarnya?

Qiu Ci berdiri, memasukkan Xiao Jiu ke dalam kandang kucing, lalu menatap Qi Meng.

“Tenang saja,” katanya dengan nada ringan. “Sebentar lagi mungkin akan runtuh.”

Dia sudah menelan obatnya, dan kini dia tidak lagi membutuhkan sosok “Zuo Xun” untuk menipu dirinya sendiri.

Sudah delapan belas hari sejak kepergian Mu Yu.

Untuk pertama kalinya, Qiu Ci benar-benar merasakan betapa besar dan kosongnya rumah tempat dia tinggal selama bertahun-tahun itu. Meski ada Xiao Jiu di sisinya, meski dia masih bisa melakukan panggilan video dengan Mu Yu, kesepian itu tetap terasa menusuk, memenuhi seluruh ruang dengan keheningan yang berat.

Pada sore yang sunyi, karena tidak ada hal yang bisa dia lakukan, Qiu Ci memutuskan membuka kembali siaran langsungnya. Dia masuk menggunakan akun kecil yang sudah lama tidak dipakai, dan mulai melakukan siaran langsung dengan bernyanyi.

Karena sudah lama menghilang dan tidak memberikan pengumuman apa pun sebelumnya, siarannya sepi penonton. Namun Qiu Ci tidak peduli. Dia duduk di atas karpet, memeluk gitar, dan menyanyikan lagu demi lagu dengan tenang.

Kamera ponsel yang dipasang di penyangga pada sudut aman sehingga hanya memperlihatkan bagian tubuhnya dari leher ke bawah, tanpa memperlihatkan wajah.

Entah dari mana, Xiao Jiu muncul, melangkah pelan dan berbaring di sampingnya, mengibas-ngibaskan ekor kecilnya sambil memejamkan mata, tampak puas dan mengantuk.

Setelah lagu ketiga, jumlah penonton tiba-tiba meningkat pesat.

[Akhirnya orang hilang ini muncul lagi!]

[Ahhh, Xiao Jiu-ku masih imut sekali, aku ingin membawanya pulang saja!】

[Tentang unggahan terakhirmu di Weibo, tidak mau bicara sedikit pun? Sepertinya ada cerita di baliknya. (siap-siap gosip ya)】

[Benar! Dulu kamu tidak pernah menulis apa pun tentang cinta. Pasti ada sesuatu yang terjadi!】

[Hei, kalian salah fokus! Lihat tangannya! Cepat lihat tangannya!】

[Astaga!!! Jari manis! Jadi alasan menghilang selama ini karena menikah?!】

Penemuan menakjubkan ini langsung memicu banjir komentar di layar yang mendoakan pasangan itu agar pernikahannya panjang dan bahagia.

Ketika semua orang mulai larut dalam lagu yang dia nyanyikan, sebuah komentar lain melintas:

[Ngomong-ngomong, aku juga pernah punya cincin pasangan seperti itu. Dulu kekasih pertamaku yang memberikannya saat sekolah.】

Lalu ada lagi yang menambahkan:

[Kalimat yang terukir di cincin itu artinya “cinta pertama”. Tapi cincin itu sudah berhenti diproduksi empat tahun lalu.]

Seorang penonton lain memperhatikan detail itu:

[Berhenti diproduksi empat tahun lalu? Kalau dihubungkan dengan unggahan lama ayah Xiao Jiu di Weibo… aku rasa aku menemukan sesuatu yang besar.]

[Begitu banyak informasi!]

[Jadi benar, postingannya soal “cinta lama yang kembali” itu ternyata tentang dirinya sendiri! Tiba-tiba aku jadi ingin sekali melihat ibu Xiao Jiu di layar!]

Ketika Qiu Ci kembali setelah meneguk air, dia mendapati bahwa para penonton sedang berdebat seru tentang kapan sebenarnya dia membeli cincin itu.

Lalu tiba-tiba, suaranya terdengar di tengah kehebohan itu.

“Enam tahun lalu aku membelinya.”

[Enam tahun lalu… kalau begitu, kemungkinan besar mereka berpisah tiga tahun lalu. Aku ingat siaran langsung pertama di mana tangannya terlihat, waktu itu dia tidak memakai cincin.]

Melihat Qiu Ci mulai meletakkan gitarnya dan menanggapi komentar, para penonton semakin bersemangat.

[Ingin mendengar kisah cinta mereka!]

[+1, Aku ingin mendengar tentang hubungan antara Ayah dan Ibu. Pasti sangat sulit bagi mereka untuk kembali bersama, ’kan?]

[Kenapa dulu kalian sempat berpisah?]

[Apakah dia ada di sana sekarang? Bisa bicara sedikit?]

[Bagaimana kalian bertemu pertama kali?]

Selama ini, Qiu Ci tidak pernah berbincang saat siaran. Dia hanya bernyanyi, lalu mengakhiri siaran atau berhenti sejenak untuk bermain dengan Xiao Jiu sebelum melanjutkan lagu berikutnya.

Penggemar lama, yang mengetahui kepribadiannya, tidak memiliki harapan besar untuk mendapat jawaban, tapi kejutan menyenangkan menanti mereka di detik berikutnya.

“Aku bertemu dengannya saat liburan musim dingin di kelas dua SMA,” katanya pelan. “Kami mulai bersama ketika kelas tiga.”

Nada suaranya ketika berbicara jauh berbeda dari saat bernyanyi, seperti seorang kekasih berbisik di telinga, sangat menenangkan.

Kolom komentar pun langsung meledak:

[Lanjut! Tolong lanjutkan! Aku rela memberikan semua kuota internetku demi cerita ini!]

“Waktu pertama kali ketemu dengannya, aku tidak terlalu menyukainya. Kupikir dia adalah tipe orang yang kaku dan membosankan.”

“Setelah mengenalnya, aku menyadari bahwa dia tidak hanya terlihat pintar, tapi sebenarnya agak konyol dan mudah malu. Meskipun dia agak nakal, dia tetap sangat imut”

Tampak pria itu mengulurkan kedua tangannya yang indah, menggendong kucing di pelukannya, lalu menutup telinganya dengan lembut sebelum berbisik dengan suara rendah,“Dia bahkan lebih menggemaskan daripada Xiao Jiu.”

[Aaaah aku tidak percaya! Xiao Jiu kami yang paling menggemaskan! Kecuali kamu bisa memberikan bukti!]

[Xiao Jiu: Jadi aku bukan anak kesayanganmu lagi, ya? QAQ]

[Biarkan aku merasa kasihan pada Xiao Jiu selama lima detik. Oke, sudah! Sekarang tunjukkan padaku siapa yang menjadi ibu Xiao Jiu paling imut di hati ayah Xiao Jiu!]

[Hahahahaha ekspresi Xiao Jiu sangat polos, sama sekali tidak tahu kalau dia baru saja dikalahkan oleh “ibu” sendiri.]

Untuk pertama kalinya, Qiu Ci berbicara kepada para pengikutnya tentang kisah cintanya sendiri. Semua orang mendengarkan dengan penuh minat. Sekitar sepuluh menit berlalu, lalu seseorang mengajukan pertanyaan dengan ragu.

[Maaf kalau pertanyaanku menyinggung, tapi… ibu Xiao Jiu itu laki-laki atau perempuan, ya? Kenapa aku merasa dia laki-laki (:з」∠)]

[Aku juga berpikir begitu. Banyak deskripsi ayah Xiao Jiu yang terasa seperti sedang bicara tentang seorang laki-laki.]

[Ternyata bukan hanya aku saja yang berpikir seperti itu. Semakin kudengarkan, semakin aku merasa itu laki-laki, tapi aku tak berani bertanya, takut salah tebak dan malah canggung.]

Saat itu, baru Qiu Ci sadar bahwa ia belum pernah mengatakan bahwa “dia” itu laki-laki.

Dia pun mengaku, “Ya, kami berjenis kelamin sama.”

Perubahan orientasi seksual yang tiba-tiba ini memicu teriakan dan sorak-sorai dalam obrolan langsung.

Qiu Ci kemudian bercerita sedikit tentang kenangan indahnya bersama Mu Yu, terutama masa-masa mereka di Kota Bin.

Nada suaranya lembut dan tenang, tapi setiap kali menyebut hal-hal kecil yang lucu,  suaranya akan menampakkan senyum yang jelas. Siapa pun bisa tahu bahwa dia sangat menyukai “dia” yang sedang dibicarakannya

Lalu seseorang menjadi semakin penasaran.

[Dari cara dia bicara, sangat jelas kalau ayah Xiao Jiu benar-benar mencintai ibu Xiao Jiu. Tapi kenapa mereka berpisah?]

[Mungkin karena keluarga, ya? Mungkin orang tua tidak setuju?]

[Sudahlah, jangan buat ayah Xiao Jiu mengingat hal menyakitkan. Cerita yang manis saja, …Ayah, tolong lanjutkan, aku ingin yang manis!]

Lebih dari satu jam berlalu. Air di gelas Qiu Ci sudah habis, jadi ia berpamitan sebentar untuk mengambil air minum.

Sambil menunggu, para penonton mulai bercakap-cakap di kolom komentar, atau mengamati Xiao Jiu yang kini meringkuk di karpet, tertidur pulas.

Namun lama sekali dan Qiu Ci masih belum kembali. Tepat ketika semua orang mulai bertanya-tanya, tiba-tiba Xiao Jiu di layar menggoyangkan telinganya, lalu berdiri.

Tidak lama kemudian, terdengar suara keras dari arah luar layar.

[Eh, apa itu barusan?]

[Astaga, jangan-jangan terjadi sesuatu?]

[Ya ampun, apa mungkin terjadi sesuatu? Haruskah kita panggil polisi?]

Ponsel yang dipasang di tripod berada tidak jauh dari tempat tidur, dan dari sudut itu, bagian tengah ranjang bisa terlihat jelas. Saat semua orang menahan napas karena tegang, tiba-tiba sebuah sosok jatuh ke atas ranjang.

Ya, jatuh!

Seseorang segera menyadari apa yang sedang terjadi.

[Astaga, astaga, jangan-jangan itu ibu Xiao Jiu?! Lihat dari samping saja sudah terlihat sangat tampan! Kulitnya bahkan lebih putih dariku! Setelan jas itu… aura pria kantoran elit, benar-benar tipe idealku!]

[Astaga, ini akan menjadi adegan yang seharusnya tidak aku tonton, tapi… aku tidak bisa berhenti nonton, tolong!]

[Kemejanya yang acak-acakan itu… ck ck ck, aku langsung bisa membayangkan apa yang terjadi antara Ayah dan Ibu selama sepuluh menit lebih mereka menghilang. Mereka pasti berciuman sampai ke kamar tidur, lalu Ibu dilempar ke tempat tidur. Sungguh intens dan seru!]

[Berhenti bicara, aku sudah bisa membayangkannya, aku itu masih terlalu kecil untuk menanganinya (tidak juga, cepatlah lakukan!)]

Tidak lama, lebih banyak penonton baru masuk ke siaran langsung itu. Begitu mereka masuk, kamera justru mengarah ke tempat tidur, memperlihatkan seorang pria berjas dengan pakaian sedikit kusut, sementara sesaat kemudian, seorang pria lain dengan kaus longgar muncul dan menindihnya dari atas.

Ketika pria berjas itu mengangkat tangannya, hendak menarik ujung kaus pria yang ada di atasnya, tangannya tiba-tiba ditahan.

Dengan suara rendah dan serak yang penuh nada godaan, pria berjas itu bertanya,

“Kenapa?”

Pria berbaju kaus hanya menghela napas pelan. “Sepertinya aku lupa sesuatu.” Ucapnya sambil menoleh ke arah perangkat perekam yang sedang menyiarkan langsung.

Pria berjas itu tampak bingung, lalu mengikuti arah pandangnya.

Dan pada saat bersamaan, para penonton akhirnya melihat wajah keduanya dengan jelas. Terutama wajah pria berbaju kaus itu.

Ketika menyadari bahwa wajah itu mirip dengan aktor terkenal Zuo Xun, kolom komentar langsung dipenuhi deretan seruan kaget.

Dia berdiri dan berjalan mendekati kamera, di mana versi wajah “Zuo Xun” yang diperbesar menjadi lebih jelas.

Siaran langsung terhenti ketika obrolan akhirnya bereaksi dan menyebarkan spam pertama “Astaga!”


KONTRIBUTOR

San
Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply