Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Begitu pintu dibuka, suasana di ruang tamu lantai satu seketika berubah sunyi. Setelah yang lain disuruh keluar, hanya tersisa empat orang, Qiu Wei, Chu Qing, Qiu Ci, dan Mu Yu.
Sudah satu tahun sejak terakhir kali Qiu Ci pulang ke rumah.
Waktu itu pun dia hanya tinggal satu hari, bahkan bukan di kamarnya sendiri, melainkan di kamar yang dulu ditempati Mu Yu. Keesokan harinya, dia menghilang tanpa sepatah kata pun.
Kini, setelah sekian lama, meski mereka satu keluarga, duduk bersama seperti ini justru terasa canggung. Tidak seorang pun tahu harus memulai dari mana.
Dua orang tua duduk di seberang, sementara wajah Mu Yu tampak tenang, meski di dalam dadanya badai sudah berkecamuk.
Dia sempat membayangkan, ketika para orang tua itu melihat dia dan Qiu Ci masuk sambil bergandengan tangan, mereka akan marah besar, mungkin membanting pintu, atau berusaha semaksimal mungkin untuk bersabar dan menunjukkan ketidaksenangan mereka.
Namun tidak satupun dari itu terjadi.
Tidak ada kemarahan, tidak ada kata-kata kasar, hanya udara yang mendadak berat. Tekanan yang mencekam ini bukan diarahkan padanya, melainkan pada Qiu Ci.
“Biasanya kamu banyak bicara, kenapa sekarang diam saja?”
Qiu Wei akhirnya memecah keheningan, alisnya berkerut tajam, membuat wajahnya tampak lebih garang dari biasanya.
“Aku sudah menikah,” suara Qiu Ci akhirnya terdengar. Dia duduk tegak, menatap lurus ke depan. “Entah kalian setuju atau tidak, dia satu-satunya orang yang ingin aku nikahi seumur hidupku.”
Satu-satunya orang yang ingin aku nikahi.
Enam kata sederhana itu menghantam hati Mu Yu begitu keras hingga dia hampir lupa bahwa antara dirinya dan Qiu Ci hanya ada kesepakatan.
Selama berbicara, pandangan Qiu Ci tertuju pada Chu Qing, yang sejak tadi duduk dengan wajah tenang dan mata dingin.
Mendengar pengakuan penuh kasih sayang dari putranya, Qiu Wei hanya mengerutkan kening.
Dia memang sudah tahu, dan dalam hati perlahan menerima kenyataan ini, tapi untuk benar-benar merelakannya tanpa sedikit pun luka, itu hal yang tidak mudah.
Chu Qing tampak teralihkan. Butuh waktu lama sebelum akhirnya dia memindahkan pandangan ke arah anaknya. Qiu Wei menepuk lembut punggung tangannya, memberi dorongan kecil.
Tangan Chu Qing tiba-tiba mengepal, lalu dia berdiri dan pergi.
Dia tidak sanggup. Tidak sanggup berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa, tersenyum menerima perubahan anaknya yang dia tidak pernah bayangkan. Tidak sanggup mendengar anaknya berbicara dengan nada begitu tegas demi seseorang yang baru dikenalnya kurang dari dua tahun.
Dia tahu dirinya salah… tapi tetap saja, dia tidak sanggup.
Reaksi itu sama sekali tidak mengejutkan Qiu Ci. Dia hanya menundukkan kepala, menutupi emosi di matanya.
Qiu Wei pun tidak menyangka istrinya akan benar-benar pergi. Wajahnya tampak lelah, lalu dia berkata pelan pada dua anak muda di depannya, “Kalian pasti lelah. Pergilah beristirahat dulu.”
Mu Yu tentu bisa merasakan kejanggalan suasana itu. Setelah mereka sampai di kamar, pikirannya masih penuh dengan dugaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik sikap keluarga itu.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Suara Qiu Ci memecah lamunannya.
Mu Yu menatapnya ragu. “Kamu dan Bibi Chu…”
“Mu Yu.” Qiu Ci memotong ucapannya. Dia sedang mengeluarkan barang-barang dari koper, suaranya terdengar datar. “Kalau waktu itu aku tidak pergi mencari Yu Shan, apa kamu akan tetap pergi?”
Pertanyaan itu membuat Mu Yu terdiam lama. Dia sama sekali tidak menyangka Qiu Ci akan menyinggung hal itu. Setelah lama hening, dia menjawab pelan, “Ya.”
“Begitu ya.”
Nada Qiu Ci datar sekali, seolah jawabannya tidak berarti apa-apa.
Namun ketidakpedulian itu justru membuat dada Mu Yu terasa sesak. Lalu tiba-tiba, Qiu Ci berbalik. Dia berdiri, langkahnya cepat dan tegas, hingga Mu Yu terdesak ke dinding.
Ada bara menyala di dalam hatinya, entah untuk siapa. Dia menahan amarah itu, suaranya dalam, “Kalau ibuku tidak pernah mendatangimu waktu itu… apa kamu tetap akan pergi?”
Mu Yu tertegun. Dia memang sempat menebak sesuatu dari suasana di ruang tamu tadi, tapi mendengar langsung dari mulut Qiu Ci tetap membuatnya terpana.
Dia tidak tahu bagaimana Qiu Ci tahu ini. Tidak mungkin Bibi Chu yang memberitahunya. Mungkinkah selain percakapan itu, Bibi Chu telah melakukan hal lain yang ditemukan Qiu Ci?
Melihat Mu Yu melamun, Qiu Ci menahan wajahnya, memaksa menatap, “Jawab aku. Iya atau tidak?”
Suara Mu Yu serak ketika menjawab, “Iya.”
“Jika-” Qiu Ci tampak tidak mau menerima sesuatu dan bersikeras mencari tahu penyebabnya.
“Ah Ci, tidak ada ‘jika ’,” potong Mu Yu pelan. “Masalahnya tidak pernah berhenti pada satu hal atau satu ucapan. Sekalipun bukan itu penyebabnya, akan ada hal lain yang menghancurkanku sepenuhnya.”
Bibir Qiu Ci menegang. Tangannya perlahan terangkat, membelai pipi Mu Yu dengan lembut tapi menahan diri, suaranya nyaris bergetar,
“Sebenarnya, aku…”
“Qiu Ci, keluarlah dan mari kita bicara.”
Bersamaan dengan ketukan di pintu, suara Qiu Wei terdengar, menyela kata-kata Qiu Ci selanjutnya.
Qiu Ci menatap Mu Yu lama sekali, hanya sedikit lagi, sedikit lagi, dia akan membuat lelaki itu membuka hatinya, mengatakan apa yang sebenarnya terpendam selama ini.
Dia tidak berniat sampai sejauh ini hari ini, tapi entah mengapa, hatinya ingin menyingkirkan semua perhitungan, semua rencana, ingin menghancurkan dinding yang mereka bangun di antara mereka.
“Bodoh kecil…”
Qiu Ci memanggil nama yang sudah bertahun-tahun tidak dipanggilnya. Nama ini mengandung banyak emosi yang tidak bisa dipahami Mu Yu.
“Qiu Ci?” Qiu Wei, yang berada di luar pintu, tidak mendengar jawaban dan meninggikan suaranya. Ia tidak ingin situasi semakin buruk, jadi ia harus berbicara dengan Qiu Ci.
Kali ini pintu akhirnya terbuka dan tanpa sadar dia melihat ke dalam.
“Di mana kita akan bicara?” Qiu Ci menutup pintu.
Keduanya menuju loteng, tempat yang dulu menjadi dunia kecil Qiu Ci sendiri. Orang tuanya jarang sekali ke sana. Setelah dia pergi dari rumah, ruangan itu nyaris tidak pernah digunakan lagi kecuali saat bersih-bersih besar.
“Ibumu sudah menceritakan semuanya padaku.” Qiu Wei mengeluarkan dua batang rokok dan memberikan satu kepada Qiu Ci.
Qiu Ci menggeleng. “Sudah berhenti.”
“Bagus. Merokok memang tidak baik.” Qiu Wei tersenyum tipis, memainkan batang rokok di jarinya tanpa menyalakannya.
Ia menghela napas pelan sebelum berbicara lagi.
“Qiu Ci, ibumu menjalani kehidupan yang sangat sulit dan pahit di masa mudanya. Jalan hidupnya sangat berbeda dari jalanmu, jalanku, dan bahkan jalan kebanyakan orang biasa. Di mata banyak orang, dia gadis yang berhati gelap, penuh dendam, dan sulit disukai.”
Tatapan Qiu Wei melembut, seolah tenggelam dalam kenangan lama.
“Tapi justru itu yang membuatku jatuh cinta. Karena dia, untuk pertama kalinya aku ingin melindungi seseorang. Aku ingin menghapus ketakutannya pada dunia ini, mengajarkannya mencintai dunia, mencintai dirinya sendiri… bahkan mencintaiku.”
“Karena luka masa lalunya, butuh waktu lama sampai dia bisa mempercayaiku. Aku berusaha keras agar bisa masuk ke dalam hidupnya, memahami lukanya.”
Itu pertama kalinya Qiu Ci mendengar kisah cinta orang tuanya dari sisi yang sebenarnya. Selama ini, yang dia tahu hanya versi singkat:
Bahwa Chu Qing seorang yatim piatu, bahwa nenek menentang hubungan mereka karena dia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya melawan segalanya demi cinta, dan akhirnya mereka hidup bahagia, kisah cinta yang tampak sempurna di mata orang lain.
Namun kini, dia menyadari, kebahagiaan itu dibangun dari banyak luka yang disembunyikan.
Qiu Wei menatap anaknya dengan lembut.
“Aku tahu, kami bukan orang tua yang sempurna. Kami sering salah. Dalam hal ini, ibumu memang keliru. Tapi meski begitu, seharusnya kamu tidak perlu berkata begitu kasar padanya.”
“Hanya aku dan kamu yang benar-benar dia cintai tanpa pamrih di dunia ini. Dia bisa menerima kebencian orang lain, tapi tidak akan sanggup menanggung kebencian dari kita.”
Kata demi kata keluar dari mulut ayahnya, menembus dada Qiu Ci. Dia hanya diam, mendengarkan, membiarkan kalimat itu meresap.
Akhirnya, Qiu Wei menepuk bahunya.
“Dia tidak sulit menerima pilihanmu, Nak. Yang sulit baginya adalah perasaan bersalah. Karena orang yang membuatmu terluka, adalah dia. Dan justru karena itu, kamulah yang harus mengambil langkah pertama lebih dulu.”
Setelah ayahnya pergi, Qiu Ci tetap duduk lama di loteng itu. Hampir dua jam dia hanya menatap kosong sebelum akhirnya berdiri.
Awalnya ia hendak mencari Mu Yu. Tapi di tengah jalan, langkahnya berubah arah, menuju ruang teh tempat ibunya sering menyendiri.
Ruangan itu dulunya milik sang kakek, yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Sejak itu, Chu Qing sering datang ke sana, seolah mencari ketenangan.
Saat Qiu Ci masuk, aroma teh langsung menyambutnya, lembut dan menenangkan. Ibunya tengah menuang teh perlahan, gerakannya tenang sekali.
Qiu Ci sudah menyiapkan banyak kata. Tapi ketika duduk di hadapannya, semua yang dia rencanakan lenyap.
Dia hanya memutar cangkir kosong di tangannya, lalu perlahan berkata. “Bu, aku memang pernah marah padamu. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri. Aku hanya menyalahkan Ibu atas semua kesalahanku, seolah-olah itu akan mengurangi rasa bersalahku.”
“Kalau saja aku bisa menerima perasaanku lebih cepat… kalau saja aku bisa lebih peka terhadap perasaannya, dan jujur lebih awal pada kalian berdua…”
“Bahkan kalau aku bisa membawanya kembali dari luar negeri dan menghadapi masalah kita bersama, hal-hal tidak akan menjadi seperti ini.”
Chu Qing menggerakkan bibirnya, namun tetap tidak mengatakan apa pun.
Qiu Ci menatapnya. “Bahkan ketika aku bertemu dengannya lagi di pernikahan Yu Shan, aku tetap melakukan kesalahan karena dendam, dan Yu Shan pun tidak tahan.”
“Aku menikahinya karena aku tidak sanggup melepaskannya, bukan karena aku marah pada siapa pun. Aku sungguh berharap mendapatkan restu darimu dan Ayah.”
Setelah semua itu keluar, dadanya terasa lebih ringan. Dia mengira akan sulit, ternyata tidak.
Chu Qing meneguk teh yang tersisa di cangkir, jemarinya gemetar. Untuk pertama kalinya di depan anaknya, suaranya pecah,
“Maafkan ibu.”
Dia meminta maaf atas apa yang terjadi tahun itu.
Percakapan itu menenangkan sesuatu di dada Qiu Ci. Dia ingin segera menemui Mu Yu, ingin menuntaskan semua yang belum selesai di antara mereka.
Dia berjalan cepat ke lantai tiga dan mendorong pintu kamar tidur dengan cemas, tapi kamar tidur itu sunyi dan tidak ada seorang pun yang terlihat.
Kehangatannya lenyap seketika, berganti dingin yang menembus tulang.
Pada saat ini, ia seakan kembali ke hari itu, sinar matahari yang hangat menyinari seluruh ruangan melalui kaca, dan orang yang seharusnya ada di dalam pergi dengan tenang, hanya meninggalkan sepucuk surat perpisahan singkat untuknya.
Saat itu, dia baru tahu rasanya kehilangan arah. Semua emosi bercampur, kecewa, sedih, dan marah menumpuk tanpa bisa diurai. Dan kini, rasa itu kembali, bahkan lebih dalam.
Udara musim panas masih panas di luar sana, tapi dia merasa dingin… lebih dingin dari sebelumnya.
Di tengah dengingnya telinganya, tepat saat tali kekang yang tegang hendak putus, sebuah suara yang dikenalnya terdengar dari belakangnya: “Ah-Ci?”
Semua emosi buruk di dalam dirinya seakan tersapu bersih. Dia berbalik, langkahnya cepat, lalu langsung memeluk orang itu erat-erat.
“Selama hidupku,” katanya pelan, suaranya berat menahan emosi, “Aku sudah belajar melepaskan banyak hal. Aku pikir aku bisa menerima dan melepaskan apa pun.”
“Tapi butuh waktu lama untuk menyadari… satu-satunya yang tidak bisa aku lepaskan adalah dirmu.”
Catatan Penulis:
Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa perlu menulis ini.
Awalnya aku hanya ingin menulis cerita manis pendek, sekitar lima puluh hingga enam puluh ribu kata. Tidak pernah berniat memperpanjang bagian masa muda mereka. Tapi karena cerita ini sempat tertunda lama, pikiranku berkembang terlalu jauh, dan arahnya pun bergeser.
Aku tahu, mungkin tidak banyak yang menyukai cerita semacam ini, kisah yang tidak selalu nyaman dibaca. Apalagi dengan kemampuanku yang terbatas, mungkin semakin lama justru terasa semakin berat bagi sebagian orang.
Tapi… aku tetap ingin menulisnya. Karena ada hal-hal yang, seperti Qiu Ci, aku juga tidak bisa melepaskan.
Jadi setiap kali aku menulis bagian cerita yang penuh konflik dan emosi, hatiku selalu diliputi rasa gugup, tapi entah kenapa, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk terus menulis ke arah itu.
Mungkin ini adalah cerita dengan perkembangan paling lambat dan paling sedikit adegan manis yang pernah kutulis.
Terima kasih untuk semua pembaca manis yang masih bertahan sampai di sini.
(Tiba-tiba terasa seperti sedang menulis kata penutup untuk cerita yang sudah tamat (:з」∠) )
