Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Dengan segenap tenaga yang tersisa, Qiu Ci memeluk erat tubuh di dalam dekapannya, seolah hanya dengan begitu orang itu tidak akan lenyap dari pandangannya.
“Anak bodoh, aku tidak pernah melepaskanmu.”
“Mu Yu, aku ternyata jauh lebih peduli padamu daripada yang kukira.”
Mendengar kalimat itu, tangan Mu Yu yang hendak memeluknya terhenti di udara. Ujung hidungnya terasa asam, matanya perlahan memerah.
Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia tidak tahu mengapa Qiu Ci tiba-tiba mengatakan hal seperti itu. Dengan tatapan kosong, dia bergumam pelan, “Kamu bohong.”
“Aku tidak bohong.” Qiu Ci menegaskan.
“Kamu bohong. Kamu lebih suka Yu Shan dari pada aku. Bao Shan-mu, putri kecilmu.”
Qiu Ci melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Mu Yu dengan kedua tangan. Dia menempelkan dahinya ke dahi pria itu, dan menjawab lirih, “Aku hanya menyukaimu. Hanya si bodoh kecilku.”
Mu Yu menarik napas tersendat, air matanya jatuh tanpa henti. Matanya yang basah sudah kehilangan fokus, menatap kosong ke depan, ke dalam kehampaan.
“Pembohong,” katanya dengan suara bergetar. “Semua orang tahu hanya Yu Shan lah yang benar-benar kamu pedulikan. Kamu tidak pernah menyembunyikan kebaikanmu padanya, tapi hubungan kita… bahkan harus kamu sembunyikan seolah itu hal yang salah.”
“Itu salahku.” Suara Qiu Ci serak, dia mengecup ujung mata Mu Yu yang basah. “Jangan menangis, hatiku sakit melihatmu seperti ini.”
Mendengar itu, tangis Mu Yu pecah. Dia tersedu hebat.
“Kamu bohong! Kamu tidak peduli padaku! Aku tahu aku tidak pernah disukai siapa pun sejak kecil. Aku takut… takut kamu akan meninggalkanku dan memilih putri kecilmu itu. Aku tidak tahu harus bagaimana supaya kamu benar-benar menyukaiku.”
“Aku benci Yu Shan. Aku benci diriku sendiri. Aku juga ingin membencimu… tapi aku tidak bisa. Aku terlalu menyukaimu.”
“Aku suka saat kamu memanggilku ‘si bodoh kecil’, aku suka tatapan lembutmu padaku. Suka saat kamu malu dan canggung, dan aku suka saat kamu meniduriku dengan keras.”
“Tapi rasa sukamu padaku tidak akan pernah sebesar rasa sukamu pada Yu Shan. Di antara semua orang yang kamu suka, hanya aku yang paling tidak berarti.”
Mu Yu menangis terisak tanpa bisa berhenti. Air mata membuat pandangannya buram; dia tidak lagi bisa melihat wajah orang yang dicintainya, hanya mendengar suara bergetar Qiu Ci “Qiu Ci, sejak awal hanya menyukai Mu Yu. Menyukai si bodoh kecilnya.”
Betapa indahnya kata-kata itu, kata yang selama ini ingin sekali dia dengar. Dia pernah berharap seribu kali agar orang itu mengatakannya sendiri, bahkan jika itu hanya kebohongan.
Dalam tangis yang nyaris membuatnya kehabisan napas, Mu Yu mulai cegukan, “Lalu, antara aku dan Yu Shan… siapa yang kamu pilih?”
“Kamu.”
“Aku dan Yu Shan… siapa yang lebih penting?”
“Kamu.”
“Kalau aku dan Yu Shan sama-sama jatuh—”
Kalimatnya belum selesai ketika bibirnya dibungkam oleh ciuman pria itu. Keheningan melingkupi mereka cukup lama, sampai Qiu Ci berbisik, “Tidak ada yang bisa dibandingkan denganmu. Mu Yu adalah satu-satunya di dunia Qiu Ci dan itu tak tergantikan.”
Setiap kata itu, adalah mimpi yang dulu tidak pernah terkabul.
“Kamu bohong…” Kata-kata bantahan itu tercekat di tenggorokannya yang sakit. Setelah beberapa kali tersedak tidak terkendali, dia mengubah sikapnya dan bertanya dengan takut-takut, “Benarkah?”
Sosoknya yang begitu hati-hati membuat dada Qiu Ci serasa diremas.
“Benar. Aku tidak suka Yu Shan, aku hanya menyukaimu.”
Yu Shan adalah rintangan yang tidak teratasi di hati Mu Yu. Butuh waktu lama bagi Qiu Ci untuk menyadari keseriusan masalah ini, tapi saat itu sudah terlambat.
Mereka sudah lama berpisah. Mungkin Mu Yu kini sudah menjalani hidup baru dan sudah menemukan seseorang yang lain, mungkin dia sudah tidak butuh dirinya lagi.
Kesombongan yang tumbuh bersama egonya membuat Qiu Ci tidak mampu menundukkan kepala, tidak mampu terbang ke negeri seberang hanya untuk mengatakan satu kata maaf.
Bahkan ketika mereka bertemu lagi, dia tetap bersikeras mengikuti pikirannya sendiri, dan sekali lagi, melukai Mu Yu.
Meski sudah berniat mengikatnya selamanya, Qiu Ci masih saja memandang segalanya dari sudutnya sendiri. Dia merancang masa depan mereka tanpa benar-benar melihat hati orang yang dia cintai.
Cinta si bodoh kecil terlalu rendah hati, sementara cintanya sendiri terlalu arogan. Dua ujung yang berlawanan, yang membuat mereka, akhirnya, memilih jalan yang berbeda.
Kini, Qiu Ci benar-benar mengerti.
Mu Yu menangis cukup lama, meluapkan semua perasaan yang selama ini dia pendam.
Dia tidak pernah menangis seperti ini sebelumnya – Tidak saat ayah tirinya memukul dan memakinya, tidak saat ibunya memandangnya dengan jijik, bahkan tidak pada hari ibunya meninggal.
Bahkan saat Qiu Ci meninggalkannya demi Yu Shan, dia pun tidak menangis sekeras ini.
Sejak kecil, Mu Yu sudah terbiasa menelan semua luka sendirian. Dia tahu, tidak ada yang menyukainya. Tidak ada yang peduli. Menangis sekeras apa pun, hanya akan membuat dirinya tampak lebih menyedihkan.
Namun, baru saja orang yang disukainya mengatakan secara langsung bahwa dia peduli dan menyukainya. Emosi yang terpendam di dalam dirinya meluap bagai banjir, dan tidak bisa lagi menyembunyikannya.
Dia menangis sampai suaranya serak, matanya bengkak, wajahnya berantakan, barulah perlahan dia tenang kembali.
Seluruh tubuh Mu Yu terasa seolah baru saja melepaskan beban seberat gunung, sekarang terasa ringan, tapi juga hampa. Begitu ringan hingga dia tidak tahu di mana harus berpijak.
Qiu Ci membawanya ke kamar mandi, mengambil handuk basah, dan dengan lembut membersihkan wajahnya. Ketika wajah itu kembali bersih dan pucat, dia menggandeng tangan Mu Yu, membawanya ke tempat tidur untuk berbaring.
Mereka tidak melakukan apa pun. Hanya berpegangan tangan, saling menatap dalam diam.
Perasaan yang terlalu menguras emosi membuat Mu Yu benar-benar kelelahan. Dalam tatapan Qiu Ci yang lembut, matanya perlahan terpejam. Dari saat dia berbaring hingga tertidur, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman Qiu Ci.
Menjelang makan malam, tidak ada seorang pun yang datang mengganggu mereka.
Keesokan paginya, ketika matahari mulai bersinar, Mu Yu sempat terbangun. Dia menatap wajah Qiu Ci yang sedang tertidur, lalu kembali memejamkan mata. Baru saat alarm ponsel Qiu Ci berbunyi, mereka berdua terbangun bersama.
Qiu Ci mematikan alarm yang lupa dia nonaktifkan, kemudian berbalik. Pria di sebelahnya sudah bangun, tapi pura-pura tidur lagi.
Senyum tipis muncul di bibir Qiu Ci. Dia mengusap rambut di dahi Mu Yu, jemarinya menyapu lembut kelopak mata yang masih sembab.
“Sudah pagi, bangunlah.”
Di bawah suara yang lembut itu, Mu Yu membuka mata perlahan. Dia tidak yakin, apakah ini nyata, atau masih bagian dari mimpi.
Baru setelah melihat bayangannya di cermin, mata bengkak dan sembab, dia sadar bahwa semua yang terjadi semalam bukanlah mimpi atau halusinasi.
Namun…
Dia menatap dirinya sendiri dengan wajah murung. Matanya begitu bengkak dan dia tampak sangat jelek.
Karena Mu Yu tidak kunjung keluar, jadi Qiu Ci melangkah ke kamar mandi. Dia menemukan pria itu sedang menekan-nekan matanya dengan handuk basah, seolah ingin mengempiskannya dalam sekejap.
Pemandangan itu lucu sekaligus menyayat hati.
“Jangan ditekan begitu, nanti akan bertambah parah.” Qiu Ci mengambil handuk itu, membasuhnya dengan air hangat, lalu memerasnya. “Angkat wajahmu.”
Mu Yu menuruti, mengangkat wajahnya. Saat handuk hangat menutupi matanya, dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya, lalu mendengar suara pelan itu berkata…
“Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi.”
Mu Yu tidak kuasa menahan diri untuk menegakkan wajahnya. Handuk di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi plak, dan matanya yang masih merah menatap Qiu Ci tanpa berkedip.
Melihat wajah bodoh itu, Qiu Ci menepuk keningnya ringan dan tersenyum, “Kecuali dalam keadaan khusus.”
Sekejap, bukan hanya matanya yang memerah, seluruh wajah Mu Yu pun ikut memerah.
Dia buru-buru membungkuk mengambil handuk yang jatuh, lalu kembali membasuhnya. Namun diam-diam, dia mencuri pandang lewat cermin ke arah Qiu Ci di belakangnya. Begitu tatapan mereka bertemu, dia panik dan langsung mengalihkan pandangannya.
Di antara suara air yang mengalir, terdengar suara Qiu Ci dari belakang: “Rawat matamu baik-baik. Aku akan minta mereka mengantarkan makanan ke kesini.”
Setelah Qiu Ci keluar, Mu Yu berdiri sendirian di kamar mandi, memegang handuk yang masih basah. Dalam hati dia bergumam, Benarkah semua ini bukan mimpi?
Qiu Ci turun ke bawah. Di dapur, pelayan sedang menyiapkan makanan. Karena semalam mereka berdua tidak makan apa pun, bahkan tidak muncul saat sarapan, Chu Qing memerintahkan kepala pelayan, Paman Jian, untuk membuat dua porsi makanan dan mengantarkannya ke kamar Qiu Ci.
Begitu melihat Qiu Ci, Paman Jian tampak ingin bicara tapi menahan diri.
Qiu Ci tahu alasannya. Dia tersenyum samar. “Semua sudah berlalu, Paman Jian.”
Namun rasa bersalah di wajah Paman Jian tidak berkurang. Dia masih menyalahkan diri sendiri. Dulu, dia ikut terlibat dalam urusan yang menyebabkan Nona Yu Shan koma. Semua “penyelesaian” setelah kejadian itu adalah perintah langsung dari Chu Qing.
Dan gadis yang waktu itu membawa Yu Shan ke rumah sakit, bukan orang asing yang kebetulan lewat. Dia adalah putri bungsu Paman Jian sendiri. Foto yang akhirnya sampai di tangan Chu Qing juga hasil jepretan diam-diam dari gadis itu, yang waktu itu bersekolah di kota Bin.
Qiu Ci tanpa sengaja menemukan kaitan antar mereka, dan menyadari jika semua itu berhubungan dengan Chu Qing. Sejak itulah, berbagai kesalahpahaman dan konflik terjadi berturut-turut.
Bagi Qiu Ci saat itu, tindakan Chu Qing adalah sebuah pengkhianatan.
Dalam ingatannya, ibunya adalah orang yang lembut dan elegan, penuh pengertian sekalipun dia cerdik dan berstrategi, tapi hanya terhadap musuh, bukan pada dirinya.
Qiu Ci dulu lebih khawatir pada ayahnya, yang keras kepala dan kejam. Dia tidak pernah menyangka bahwa orang yang justru menjatuhkan pukulan pertama… adalah Chu Qing.
Setelah memastikan makanan sedang disiapkan, Qiu Ci kembali ke kamar.
Mu Yu sedang duduk di kursi balkon, memandangi sebuah cincin di tangannya, membolak-baliknya seakan itu adalah benda paling berharga di dunia. Begitu mendengar langkah kaki, dia buru-buru menyembunyikannya dan memasang cincin itu kembali ke jarinya.
“Makanannya sebentar lagi datang,” kata Qiu Ci sambil duduk di hadapannya.
Hari itu cuaca cerah. Dari balkon, taman di bawah tampak hijau dan hidup. Tapi karena angin tidak bertiup, udara terasa panas.
Tatapan Qiu Ci meluncur ke arah pakaian Mu Yu, lalu dia berkata, “Setelah makan, aku ingin membawamu ke suatu tempat.”
Mu Yu mengangguk, matanya penuh rasa ingin tahu.
Setelah mereka selesai makan, Qiu Ci memeriksa pesan di ponselnya dan berkata,
“Aku akan turun sebentar, aku akan segera kembali.”
Begitu turun, dia melihat orang yang mengirim pesan itu sudah datang.
Sun Jialu sedang berbicara dengan Paman Jian. Melihat Qiu Ci, dia langsung menghampiri. “Hari ini panas sekali. Izinkan aku minum dulu.”
Setelah menghilangkan dahaganya, dia menyerahkan apa yang dipegangnya. Lalu bertanya dengan rasa ingin tau “Ci Ge, kenapa kamu mencari seragam sekolah? Dua set pula! Aku sudah lama mencari sampai akhirnya mendapatkan yang baru.”
Dia baru tahu kalau Qiu Ci sudah kembali ke kota Jiang. Belum sempat senang karena dapat bertemu kembali, Qiu Ci malah menyuruhnya mencari dua set seragam SMA Jiangbei.
Qiu Ci memandangi seragam baru di tangannya, ujung bibirnya melengkung.
“Mengingat masa mudaku.”
“Apa yang perlu dikenang sendiri?” Sun Jialu mengeluh, lalu tiba-tiba menyadari sesuatu dan menggaruk kepala canggung. “Eh, jangan katakan kamu mau mengenang bersamaku? Kalau begitu bilang dari tadi, seragam lamaku masih ada!”
Qiu Ci hanya memandang pria yang kini tubuhnya jelas lebih berisi dari dulu. Melihat ukuran tubuhnya, seragam lama itu jelas tidak akan muat.
Dia menjawab tenang, “Aku mau mengenang bersama istriku.”
“Oke, aku akan menelpon istriku juga—”
Sun Jialu berhenti di tengah kalimatnya. Tatapannya kosong sesaat, lalu beralih ke arah Qiu Ci dengan wajah terkejut.
“Tunggu… istrimu?”
“Kalau bukan istriku, lalu siapa lagi?” jawab Qiu Ci santai.
“Sejak kapan kamu punya istri?” tanyanya tidak percaya.
“Kami mendapatkan sirat nikah belum lama ini.”
Sun Jialu terdiam lama, menahan napas, lalu akhirnya bertanya dengan suara gemetar,
“S-siapa… siapa orangnya?”
Senyum lembut muncul di wajah Qiu Ci. “Mu Yu.”
Sun Jialu membeku. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Dia menatap langit yang terik dan berbisik dalam hati—
Ya ampun… mungkin cuaca hari ini memang terlalu panas, sampai aku mulai berhalusinasi.
