Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Mu Yu awalnya mengira Qiu Ci hanya pulang untuk tidur semalam dan akan kembali ke lokasi syuting keesokan harinya.
Namun, setelah makan siang, Qiu Ci sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi lagi.
Dia mengenakan pakaian santai yang nyaman, bersandar miring di sofa ruang tamu. Satu tangannya memegang naskah, sementara tangan lainnya menggenggam pena. Cahaya matahari sore masuk melalui pintu geser kaca, membuat seluruh lantai satu tampak terang, dan sosok Qiu Ci yang duduk di sana menjadi pusat dari seluruh pemandangan.
Sementara itu, Mu Yu duduk di area teras luar yang bersebelahan dengan pintu geser, di hadapannya terdapat sebuah meja bundar dan laptop yang masih terbuka. Dia baru saja menyelesaikan rapat daring. Begitu rapat selesai, dia hanya menyesuaikan posisi duduk, lalu diam-diam menatap pria di dalam rumah yang sedang serius membaca naskah.
Pandangan matanya perlahan turun, beralih pada Xiao Jiu yang tergeletak di pangkuan Qiu Ci.
Qiu Ci sesekali membelai bulu kucing kecil itu, dan ketika matanya lelah membaca, dia akan tersenyum lembut lalu mengecup kepala Xiao Jiu, membisikkan sesuatu di dekat telinganya.
Mu Yu menatap pemandangan itu dengan rasa iri yang menyesakkan. Dia juga ingin berada dalam pelukan Qiu Ci, ingin mendengar suara rendahnya yang hangat di telinga, ingin dengan manja mencium orang yang dia sukai.
Ketika Qiu Ci tiba-tiba menyadari tatapan itu dan mengalihkan pandangannya ke arah luar, Mu Yu buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura menatap layar komputer seolah masih sibuk bekerja.
Angin lembut berembus dari luar, meniup ujung rambut dan kerah bajunya. Kacamata pelindung radiasi biru di hidungnya memantulkan cahaya, menutupi kegugupan yang tampak di matanya.
Yang tidak dia tahu, Qiu Ci sudah sejak lama diam-diam memperhatikannya dari arah itu.
Merasa diabaikan, Xiao Jiu berguling di pelukan Qiu Ci, memperlihatkan perut lembutnya, lalu mendorong tangan pria itu dengan cakarnya. Ketika Qiu Ci menoleh, kucing kecil itu segera mengeong manja, berusaha menarik perhatian.
Qiu Ci tersenyum, menatap Xiao Jiu yang sedang berebut kasih, lalu menyentuh ujung hidungnya dengan lembut.
“Pertama-tama, kita harus menyelesaikan masalah mendasarnya dulu, ‘kan?” katanya pelan.
Kucing itu memeluk lengan Qiu Ci dengan cakarnya, menatapnya dengan mata biru berkilau seperti permata. Dia memiringkan kepala, seolah bertanya, “Masalah apa, meong?”
Malam harinya, barulah Qiu Ci membuka pembicaraan dengan Mu Yu. “Senin depan aku akan membawamu ke kota Jiang. Menemui orang tuaku.”
Ini hari Sabtu. Berarti tinggal dua hari lagi.
Menurut kesepakatan mereka sebelumnya, Mu Yu tahu cepat atau lambat hari itu akan tiba. Tapi begitu dekat dengan harinya, rasa takut itu tetap ada.
Dia teringat kata-kata yang pernah diucapkan oleh Bibi Chu. Selama tahun pertama di luar negeri, dia tidak terhitung berapa kali menebak-nebak, apakah ucapan bibi itu diucapkan tanpa maksud atau justru disengaja. Tapi, baik sengaja maupun tidak, saat dia berdiri lagi di hadapan keluarga Qiu dengan identitas yang berbeda, beban yang harus ditanggung tetap berat.
Terlebih lagi, Paman Qiu, tidak peduli bagaimana pun, pasti tidak akan menerima kenyataan bahwa putra satu-satunya menikah dengan seorang pria.
Apakah Qiu Ci tidak takut? Tidak pernah memikirkan akibat dari semua ini?
Sudah enam tahun berlalu, tapi Mu Yu masih belum tahu bagaimana cara menyembunyikan emosinya dengan sempurna di depan Qiu Ci.
Melihat ketakutan dan kegelisahan yang jelas di wajahnya, Qiu Ci hanya mengulurkan tangan dan berkata dengan tenang, “Berikan tanganmu.”
Mu Yu sempat bingung, tapi tetap mengulurkan tangan tanpa dia sadari, Qiu Ci mengeluarkan sebuah kotak kecil. Bentuk dan ukurannya membuat napas Mu Yu tertahan seketika.
Ketika kotak itu dibuka, dugaannya benar, itu sepasang cincin.
Suara Qiu Ci terdengar santai, sedikit malas namun dalam, “Pasangan yang baru menikah harus memakai cincin pernikahan, supaya tidak menimbulkan kecurigaan.”
Jari-jari panjang dan ramping itu mengambil salah satu cincin dan perlahan menyentuh jarinya. Saat logam dingin itu melingkar di kulitnya, Mu Yu hampir lupa bernapas.
Dia menatap Qiu Ci dari jarak dekat. Dari sudut ini, yang terlihat hanya bulu mata pria itu yang panjang dan rapi, serta aroma khas tubuhnya yang lembut dan menenangkan.
Detak jantung Mu Yu makin cepat. Dalam sekejap, dunia seolah berubah menjadi gereja yang hening, dan di bawah saksi seorang pendeta, dia dan orang yang dicintainya akhirnya menjadi milik satu sama lain.
Padahal proses memakaikan cincin itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi bagi Mu Yu, rasanya seperti menempuh perjalanan satu abad, sampai akhirnya cincin itu benar-benar terpasang di jari yang melambangkan status pernikahan.
Menatap cincin itu, Qiu Ci tersenyum tipis. “Pas sekali.”
Mu Yu tidak menangkap nada ringan penuh kelegaan dalam suaranya; dia masih terlarut dalam momen itu.
“Sekarang giliranmu.”
Suara berat itu terdengar di dekat telinganya, dalam dan lembut, membuat seluruh tubuhnya bergetar.
Pipinya memanas. Dengan hati-hati, dia mengambil cincin satunya lagi. Saat itu, dia baru menyadari ukiran huruf kecil di bagian dalam cincin, huruf yang jelas mewakili nama mereka berdua.
Mu Yu tertegun, menatap pria di hadapannya dengan bingung, seolah menuntut penjelasan.
Mengukir nama di cincin memang bukan hal aneh, tapi… kalau ini hanya untuk berpura-pura di depan orang lain, mengapa harus sedetail itu?
Qiu Ci pura-pura tidak tahu, sedikit menengadahkan dagu sambil berkata santai, “Cepat.”
Mu Yu dengan lembut mengusap ukiran itu, lalu perlahan menyematkan cincin ke jari Qiu Ci. Gerakannya penuh kehati-hatian, seolah sedang melakukan upacara suci.
Kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya menyebar ke seluruh tubuh. Dia merasa, dengan setiap gerakan kecil itu, dia sedang mengikat Qiu Ci sedikit demi sedikit.
Matanya tanpa sadar tertuju ke bibir Qiu Ci. Dalam hatinya terlintas pikiran nakal, setelah saling memasangkan cincin, bukankah biasanya mereka akan saling berciuman?
Qiu Ci menatapnya diam-diam, bibirnya melengkung samar, membiarkan Mu Yu menebak-nebak tanpa berkata apa pun.
Namun, detik berikutnya, Qiu Ci malah bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang ganti. Ketika kembali, dia membawa sesuatu di tangannya.
“Ini untukmu.”
Mu Yu menunduk, melihat kartu yang dipegang Qiu Ci, lalu mengernyit. “Apa maksudnya ini?”
Mu Yu menatap kartu itu, tidak berani menatap wajahnya. “Seperti yang sudah kubilang sebelumnya… aku yang akan menanggung biaya hidupmu.”
Semakin lama dia berbicara, suaranya semakin pelan. Jantungnya berdegup kencang. Dia tahu Qiu Ci tidak kekurangan uang, tapi dia hanya ingin punya alasan, sedikit keberanian, untuk melakukan apa yang diinginkannya.
Baru setelah kartu itu diambil dari tangannya, Mu Yu memberanikan diri untuk melihat ekspresi pria itu.
Qiu Ci memutar-mutar kartu di tangannya sambil berbicara dengan nada setengah menggoda, “Presiden Mu, jadi… berapa banyak uang yang kamu rencanakan untuk membiayaiku?”
“Aku akan memberimu sebanyak yang kamu mau.” Dia bekerja keras selama bertahun-tahun hanya untuk menenangkan diri dan berhenti memikirkannya, sehingga dia menghasilkan banyak uang.
Qiu Ci tersenyum samar. “Begitu murah hati, hal buruk apa yang kau inginkan dariku?” Sambil berkata begitu, dia bangkit dan berjalan mendekat. Kartu di tangannya dia gunakan untuk mengait kerah kemeja Mu Yu, lalu dengan santai menelusuri deretan kancing ke bawah.
Tatapannya penuh makna. “Kamu ingin ini?”
“Ciuman saja sudah cukup,” jawab Mu Yu dengan nada malu, telinganya memerah. Dia berdeham kecil sebelum menambahkan lirih, “Yang lembut.”
Qiu Ci menunduk, suaranya rendah dan bernada geli. “Seperti ini?”
Lalu bibirnya menyentuh bibir Mu Yu, lembut dan dalam.
Ketika Mu Yu dengan gugup membuka mulut, dada Qiu Ci bergetar oleh tawa yang nyaris tidak terdengar, sebelum dia melanjutkan ciumannya, lebih dalam, lebih menguasai.
Awalnya, Mu Yu memejamkan mata rapat-rapat. Dia takut jika menatap Qiu Ci, yang akan dia lihat hanyalah ketenangan yang dingin, seolah semua ini tidak berarti.
Namun ciuman ini terlalu lembut dan penuh kasih sayang, bulu matanya sedikit bergetar, tapi dia tetap mengumpulkan keberanian untuk membuka matanya.
Pandangan mereka bertemu.
Seketika Mu Yu terpaku. Tatapan itu… begitu lembut. Sama lembutnya dengan ciuman itu.
Dalam sekejap, dia seperti terseret kembali ke enam tahun lalu, masa singkat yang indah dan manis, ketika Ci Ye-nya juga pernah menatapnya seperti itu. Di hari-hari yang lebih manis dari mimpi, mereka hanya memiliki satu sama lain.
Namun, seekor kucing kecil tiba-tiba mengeong nyaring, memecah momen itu. Qiu Ci terpaksa berhenti, matanya memancarkan sedikit rasa tidak berdaya. Dia menunduk, menangkap Xiao Jiu yang sedang mencakar ujung celananya, mencoba naik ke tempat tidur.
Begitu diangkat dari belakang lehernya, kucing itu langsung diam dan membeku. Tapi saat sudah diletakkan di atas kasur, dia segera bangkit dengan riang, manja seolah tidak menyadari bahwa dirinya baru saja merusak sesuatu yang penting.
Mu Yu menatapnya dengan kesal. Xiao Jiu benar-benar suka merebut perhatian. Tapi apa gunanya cemburu dengan seekor kucing?
Melihat detail-detail kecil yang membuatnya diam-diam merasa tertekan, Qiu Ci memeluk Xiao Jiu dan bertanya, “Apakah kamu ingin menyentuhnya?”
Seolah mengerti, Xiao Jiu mengeluarkan suara keberatan.
Mu Yu awalnya hendak menolak, tapi melihat reaksi si kucing, rasa kekanak-kanakannya muncul. Dia mengangguk.
“Jangan bergerak, cukup sentuh sedikit,” kata Qiu Ci sambil menepuk pelan cakar kecil itu.
Dengan dorongan dari tatapan Qiu Ci, Mu Yu perlahan mengulurkan tangan. Sejak dulu, hewan tampaknya tidak menyukainya, jadi dia tak pernah berpikir untuk memelihara hewan, dia tahu Xiao Jiu juga tidak menyukainya; saat Qiu Ci tidak ada, dia bahkan tidak berani mendekat, takut kucing itu mencakarnya.
Qiu Ci baru saja memotong kuku Xiao Jiu pagi tadi, tapi tetap menahan cakarnya, berjaga-jaga.
Saat telapak tangan Mu Yu akhirnya menyentuh kepala kecil itu dan merasakan gerakan halus telinganya, bibirnya tanpa sadar melengkung membentuk senyum kecil.
Lembut sekali… pantas saja Qiu Ci suka menggendongnya.
“Garuk bagian sini,” kata Qiu Ci, memandu tangannya ke bawah dagu si kucing.
Xiao Jiu segera mendengkur pelan, menikmati belaian itu. Beberapa saat kemudian, tanpa sadar Qiu Ci malah menempatkan kucing itu ke pelukan Mu Yu sendiri.
Dia langsung mengibaskan ekornya dengan jijik, melepaskan diri, dan pergi berlari ke Qiu Ci. Aku tidak akan membiarkannya menyentuhku, meong!
Mu Yu menatapnya selama beberapa detik, lalu tiba-tiba bertanya, “Kalau kita ke kota Jiang, apa kamu akan membawanya juga?”
Qiu Ci menggeleng. “Dia terlalu manja. Tidak cocok dibawa bepergian. Aku akan minta Qi Meng menjaganya beberapa hari.”
“Begitu ya… sayang sekali.” Mu Yu memicingkan mata, nada suaranya terdengar menggoda.
Qiu Ci meliriknya sekilas, lalu menatap kucing di pelukannya. Sudut bibirnya terangkat. “Dia bahkan tidak memyukaimu. Apa yang kamu sayangkan?”
Tepat di saat itu, Xiao Jiu mengeong lagi, seolah mengiyakan: Benar! Aku tidak menyukaimu!
Mu Yu tidak marah. Malah tersenyum kecil, membiarkan kucing itu menang kali ini.
Senin pun tiba. Sebelum Qi Meng membawa Xiao Jiu pergi, Mu Yu nekat mengelus kepala kucing itu sambil berbisik, “Ah-Ci milikku. Jangan berkelahi denganku untuk itu.”
Xiao Jiu mengeong beberapa kali, lalu menatapnya dengan pandangan yang hampir bisa diterjemahkan: hanya berani mengancam secara sembunyi-sembunyi, pengecut.
Sementara itu, Qi Meng yang memperhatikan mereka dari samping sempat menatap cincin di tangan keduanya. Setelah memastikan tidak salah lihat, dia menyikut Qiu Ci dengan siku.
“Sudah menikah?”
Qiu Ci memandang ke arah Mu Yu yang berdiri tidak jauh di sana, lalu bergumam pelan, “Hm.”
Qi Meng tersenyum miring. “Jika obat mujarab ini sudah kamu telan, kamu seharusnya sudah benar-benar sembuh.” Ucapannya terdengar setengah bercanda, setengah serius.
Qiu Ci meliriknya, nadanya mengandung peringatan. “Jaga ucapanmu.”
Qi Meng mengangkat bahu santai. “Menjaga rahasia pasien adalah tanggung jawab seorang dokter. Tapi tenang saja, aku sudah lama berhenti suka mencampuri urusan orang lain.”
Setelah berkata begitu, dia menunduk, mengangkat Xiao Jiu ke pelukannya.
“Ayo, Xiao Jiu, beberapa hari ke depan kamu yang bertugas menghibur Paman Qing Ning, oke.”
Begitu memastikan tidak ada yang tertinggal, Qiu Ci berjalan mendekati Mu Yu. “Ayo.”
Mu Yu menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan.
Kota Jiang.
Chu Qing duduk di taman rumah, menatap seekor kupu-kupu yang berputar di antara bunga-bunga. Tatapannya kosong sampai suaminya, Qiu Wei, pulang dari kantor dan duduk di sampingnya.
“Lao Jian bilang mereka sudah dijemput dan sedang di perjalanan,” kata Qiu Wei sambil melonggarkan dasinya.
Chu Qing hanya mengangguk tanpa ekspresi. Qiu Wei menggenggam tangannya yang dingin. “Kita hadapi bersama, oke?”
Wanita itu menatap suaminya, senyum getir muncul di bibirnya. “Kamu tampaknya lebih bisa menerima daripada diriku. Qiu Ci pasti menganggap aku ibu yang sangat jahat.”
Qiu Wei menggeleng pelan. “Kalau ini terjadi beberapa tahun lalu, mungkin aku akan bertindak lebih keras darimu.”
Sebenarnya, cara Chu Qing menangani masalah enam tahun lalu sudah cukup lembut. Dia hanya memanfaatkan ketidakseimbangan hubungan dua anak muda itu, sekadar permainan psikologis. Kalau saja cinta mereka sedikit lebih kuat, mereka tidak akan begitu mudah dipisahkan.
Qiu Wei membelai rambut istrinya dengan lembut, lalu berkata pelan, “Sekarang, aku ingin kamu bicara langsung dengan Qiu Ci. Selesaikan semuanya. Aku hanya ingin keluarga kita kembali utuh.”
Mendengar ucapan suaminya, hati Chu Qing terasa getir. Dia tidak percaya kalau persoalan ini bisa diselesaikan dengan mudah. Lima tahun jarak dan kesalahpahaman, mana mungkin hilang begitu saja hanya dengan satu pertemuan?
Dia masih belum bisa melupakan hari itu — hari ketika Qiu Ci mengetahui kebenaran dan datang menemuinya. Tatapan anaknya waktu itu begitu asing, dingin, bahkan menusuk.
“Bahkan anak kandung sendiri pun sanggup kamu permainkan,” kata Qiu Ci dengan nada penuh ejekan. “Tidak heran Nenek dulu sering mengatakan, tidak peduli seindah apa pun wajah yang kamu pakai, pada dasarnya kamu tetap seekor ular berbisa. Demi kepentinganmu sendiri, siapa pun bisa kamu korbankan.”
Chu Qing tidak pernah membayangkan kalau suatu hari putranya yang dulu digendong dan dibesarkannya sendiri akan mengucapkan kata-kata sekejam itu padanya. Lebih dari itu, tatapan dingin di mata Qiu Ci hari itu, tatapan yang bahkan tak menyisakan sedikit pun kehangatan, menjadi luka yang tidak pernah sembuh.
Tiba-tiba, terdengar suara dari arah taman.
“Mereka datang!” teriak seseorang yang sedang menyapu di luar.
Semua pandangan beralih ke arah jalan masuk rumah besar itu. Sebuah mobil perlahan meluncur di jalan setapak yang dikelilingi bunga-bunga yang sedang mekar.
Tanpa sadar, Chu Qing menggenggam tangan suaminya semakin erat. Baru ketika mendengar suara lembut suaminya berkata, “Ayo,” barulah dia menarik napas panjang dan berdiri.
Dari jauh, Qiu Ci adalah orang pertama yang keluar dari mobil. Begitu mengangkat pandangan, dia langsung melihat kedua orang tuanya yang sedang menunggu di ujung taman.
Tidak jauh di belakangnya, Mu Yu juga turun dari mobil. Pandangannya langsung bertemu dengan sosok Chu Qing dan Qiu Wei di depan sana. Jantungnya berdebar keras, seakan semua udara di sekitar menghilang. Baru ketika Qiu Ci menggenggam tangannya, dia bisa sedikit tenang.
Sinar matahari sore memantul di wajah Qiu Ci, menonjolkan garis tegas di rahangnya. Dia menoleh ke arah Mu Yu, menaikkan alis dengan senyum samar.
“Takut?” tanyanya pelan.
Refleks, Mu Yu menggeleng, tapi beberapa detik kemudian, dia mengangguk pelan.
Tawa pendek keluar dari dada Qiu Ci. Lalu, matanya yang berkilau karena pantulan cahaya matahari itu menatap Mu Yu dalam-dalam. Senyum lepas, hangat, dan jarang terlihat kini kembali menghiasi wajahnya.
“Apa yang perlu kamu takutkan?” katanya ringan. “Ada aku di sini.”
