Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Qiu Ci menurunkan Xiao Jiu ke lantai, lalu berjalan mendekat dan menepuk lembut wajah Mu Yu.
Mu Yu tidak tidur nyenyak sejak awal, dan segera terbangun dalam keadaan linglung, memaksakan matanya terbuka untuk melihat siapa yang datang.
“Tidurlah di tempat tidur.”
Karena pikirannya masih belum sadar sepenuhnya, Mu Yu menatap wajah yang dikenalnya ini dan merasa sedih yang tidak bisa dijelaskan.
Dengan suara pelan dan serak, dia mengadu, “Xiao Jiu tidak akan membiarkanku tidur.”
Qiu Ci terdiam sejenak, lalu menunduk menatap si kucing kecil yang sedang duduk di lantai, ekornya bergoyang pelan dan wajahnya tampak penuh kepolosan.
“Aku sudah menegurnya. Sekarang dia tidak akan melakukannya lagi.”
Dia mengira Mu Yu akan menurut dan pergi tidur. Namun, Mu Yu justru duduk tegak dengan postur rapi dan menatap Qiu Ci.
Matanya masih setengah terpejam, bibirnya menekuk ke bawah, seperti menahan tangis.
Dengan nada penuh rasa kantuk, dia menuduh, “Kamu menindasku. Kucingmu juga menindasku.”
Dia terlihat seperti akan menangis. Qiu Ci menatap pria yang jelas-jelas tidak mengerti apa yang dia katakan. Jari-jari di sisi tubuhnya bergerak sedikit, dan suara nyaris tak terdengar keluar dari bibirnya.
Sebuah telapak tangan yang dingin membelai wajah pria itu, diikuti sentuhan lembut di dahinya.
“Tidurlah yang tenang.”
Hal pertama yang dilihat Mu Yu saat bangun tidur adalah wajah Qiu Ci.
Dia menatap cukup lama sebelum akhirnya berkedip. Samar-samar dia mengingat bahwa Qiu Ci memang sudah kembali. Jadi semua itu bukan mimpi.
Mu Yu mengangkat tangan, hendak menyentuh wajah Qiu Ci, tapi sebelum sempat menyentuhnya, yang mengenai telapak tangannya justru kepala berbulu halus.
Si kecil itu menggoyangkan telinganya dan menatapnya waspada dengan mata biru tajamnya. Baru setelah Mu Yu menurunkan tangannya, si kucing menoleh dan menggesekkan pipinya ke wajah Qiu Ci.
Suara lembutnya terdengar manja, membuat hati siapa pun bisa luluh.
Qiu Ci terbangun karena gesekan itu. Begitu melihat wajah kucing mungil itu yang tampak seperti makhluk dari dunia lain, dia tertawa pelan, mengusap kepalanya, lalu menggaruk dagunya. “Selamat pagi.”
Xiao Jiu mengeluarkan dengkuran kecil penuh kenikmatan.
Qiu Ci menggeser kucing itu ke samping dan memandang Mu Yu, yang sedang menatapnya dengan matanya yang jernih. Dia duduk sambil mengelus bulu kucing itu dan berkata tenang, “Kalau dokumen sudah siap dan waktunya cocok, lusa kita akan mengambil surat nikah.”
Nada bicaranya datar, seolah sedang membicarakan hal sepele, bukan tentang pernikahan.
Mu Yu hanya menjawab pelan, “Hmm.”
Qiu Ci turun dari tempat tidur dan berjalan beberapa langkah, lalu tidak tahan untuk menoleh. Suaranya terdengar dalam, “Belum terlambat bagimu untuk menyesal sekarang.”
Kamar itu hening. Xiao Jiu yang masih bersarang di pelukan Qiu Ci menyipitkan mata, menatap tamu tidak diundang di rumah itu.
Mu Yu menatap Qiu Ci. Rambutnya berantakan karena baru bangun dan ulah kucing kecil itu yang sempat menyapunya dengan cakar. Penampilannya tampak malas dan santai, begitu saja sudah cukup untuk menyeret Mu Yu kembali pada kenangan masa muda mereka.
Dulu, setiap pagi, Ci Ye-nya akan memberinya ciuman ringan dan berkata “selamat pagi” dengan suara serak yang masih mengantuk. Terkadang, mereka tidak berhenti di situ dan malah berlanjut pada “olahraga pagi” kecil yang manis tapi tidak terlalu liar.
Dia dulu mengira waktu bisa menghapus segalanya, bahwa jalan hidup mereka akan terus menjauh tanpa pernah bersinggungan lagi.
Enam tahun berlalu, waktu yang cukup panjang. Dia pikir, meski sesekali masih mengingatnya, saat bertemu lagi nanti dia bisa bersikap tenang dan terkendali.
Namun ternyata, dia salah besar.
Kenyataannya, dia tidak pernah benar-benar keluar dari manisnya kenangan singkat itu. Tidak bisa lepas, tidak bisa menghindar.
“Aku tidak menyesal,” ucapnya akhirnya.
Mereka datang begitu pagi di hari ketika mereka mengurus pernikahan. Ketika surat nikah benar-benar ada di tangannya, Mu Yu masih belum sepenuhnya sadar.
Rasa gugup dan canggung yang semula menekan dadanya perlahan memudar, berganti dengan kebingungan kosong yang tidak bisa dijelaskan.
Dia dan Qiu Ci… menikah?
Sesuatu yang enam tahun lalu bahkan tidak berani dia bayangkan, kini menjadi nyata, dengan alasan yang terdengar begitu tidak masuk akal.
Di perjalanan pulang, Qiu Ci melirik ke arahnya. Lelaki itu masih memandangi buku kecil merah itu, dengan wajah linglung, membuat Qiu Ci tanpa sadar tersenyum tipis.
Setibanya di rumah, Qiu Ci menunggu saat Mu Yu tidak memperhatikan, lalu diam-diam mengambil foto surat nikah itu dan dengan santai menyerahkannya kepadanya.
“Aku harus ke lokasi syuting sekarang. Simpan di laci kamar terlebih dulu untuk sementara.”
Sesampainya di lokasi, setelah menyelesaikan satu adegan, Qiu Ci membuka ponsel dan menatap lama foto yang baru diambilnya itu.
Akhirnya, dia mengetuk ikon berbagi dan mengirim foto itu ke salah satu kontak, dengan satu kalimat pendek:
[Aku sudah menikah. Minggu depan aku akan membawanya pulang.]
Setelah mengirimnya, Qiu Ci langsung mematikan ponselnya.
Kota Jiang.
Chu Qing sudah beberapa hari sibuk dengan proyek besar. Setelah memastikan semuanya berjalan lancar, dia menyerahkan tahap akhir pada bawahannya.
Sesampainya di rumah, bahkan sebelum dia sempat naik ke atas, ponsel pribadinya bergetar menandakan sebuah pesan. Dia tidak punya banyak kontak di ponsel ini, dan bahkan lebih sedikit lagi yang mengirim pesan daripada menelepon langsung.
Menduga siapa yang mengirimnya, Chu Qing menghela napas lelah, berdiri di tangga, membuka kunci ponsel, dan mengetuk pesan itu.
Sekilas pandang pada foto yang muncul di layar langsung menyita seluruh perhatiannya.
Dia bahkan tidak perlu membaca tulisan di bawahnya, hanya dengan melihat foto itu, dia sudah tahu apa artinya.
Foto dua orang di surat nikah itu menatapnya. Wajah yang sangat dikenalnya telah kehilangan kesan muda enam tahun lalu, digantikan oleh ketenangan dan kematangan.
Dan pria di sebelahnya tidak lain adalah putranya, Qiu Ci.
Jari Chu Qing yang menggenggam ponsel mengencang, lalu perlahan mengendur.
Ketika Qiu Wei pulang, dia mendapati istrinya duduk diam di kursi balkon, menatap kosong ke arah langit.
“Ada apa?” tanyanya lembut, menyibakkan rambut istrinya yang berantakan tertiup angin.
Chu Qing menatapnya, suaranya serak, “Qiu Ci sudah menikah.”
Jawaban itu membuat Qiu Wei terdiam. Setelah beberapa detik, dia hanya bisa tertawa getir, bercampur marah dan tidak percaya.
“Jadi dia benar-benar melakukannya?”
“Jadi hanya karena tidak mau pulang ke Kota Jiang, dia asal menikah dengan orang lain?”
Kalau Qiu Wei tahu anaknya bisa sebodoh itu, dia tidak akan pernah menggunakan alasan “harus menikah” sebagai ancaman agar dia mau pulang.
Melihat ekspresi istrinya yang sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa kabar pernikahan itu benar, Qiu Wei menatapnya tajam. “Kamu tahu dengan siapa dia menikah?”
Dia benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran anaknya. Qiu Ci bukan tipe orang yang akan mempermainkan pernikahan. Kalau dia seperti itu, dia tidak mungkin bertahan lajang selama bertahun-tahun hanya karena gadis keluarga Yu.
Dan orang yang mau begitu saja menikah dengannya, pasti juga tidak jauh berbeda. Dua orang yang menganggap pernikahan sebagai mainan… benar-benar konyol.
Chu Qing tidak menjawab langsung. Tatapannya dingin menyapu suaminya. “Kamu sebaiknya tidak tahu.”
Keheningan turun di antara mereka. Setelah beberapa saat, Qiu Wei menghela napas berat. “Kenapa kamu masih tidak mau bicara? Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Qiu Ci?”
Sejak Qiu Ci menolak pulang, dan Chu Qing pun bersikap seolah tidak peduli, Qiu Wei sudah merasa ada yang janggal. Tapi anehnya, keduanya sama-sama menutup mulut rapat.
Sejak Qiu Ci bekerja di perusahaan Qi Meng, jumlah kepulangannya ke rumah bisa dihitung dengan jari. Seolah-olah dia sedang bersikap melawan keluarganya sendiri. Bahkan saat Tahun Baru pun, dia selalu punya alasan untuk tidak datang.
Qiu Wei berbalik dan menatap istrinya serius. Dengan kedua tangannya, dia menggenggam bahunya dan memaksanya menatapnya. “Chu Qing, aku ini suamimu. Orang yang dulu berjanji akan menemanimu seumur hidup. Apa pun yang terjadi, kita seharusnya menghadapinya bersama.”
Angin yang berembus lembut justru membuat mata Chu Qing memerah sedikit demi sedikit. Hidungnya terasa perih seperti tersiram air jeruk, tenggorokannya mengencang, nyeri dan sesak. Butuh waktu lama sampai akhirnya dia bisa bicara pelan.
“Sepertinya… aku sudah melakukan kesalahan besar.”
Di sisi lain.
Qiu Ci baru selesai syuting ketika malam hampir tiba. Biasanya, demi kenyamanan, dia akan memilih menginap di hotel.
Tapi malam itu, pikirannya terus melayang pada kenyataan bahwa pagi tadi mereka baru saja menerima surat nikah. Membayangkan seseorang yang kini sendirian di rumah, mungkin duduk diam di kamar, dikelilingi keheningan, membuat dadanya terasa sesak dan berat.
Suara di hatinya saling bertentangan. Satu berkata bahwa semua sudah disepakati, itu pilihan Mu Yu sendiri. Tapi suara lain dengan marah: Apa gunanya kalau kamu justru menyakitinya?
“Cuti? Dan sepuluh hari pula?”
Fan Dongxiao, sutradara sekaligus sahabatnya, menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Mereka sudah bekerja sama di banyak proyek, dan dia tahu persis seberapa profesional Qiu Ci. Pria itu bahkan saat sakit pun tetap tampil prima, tidak pernah menunda pekerjaan.
Selama bekerja sama bertahun-tahun, ini pertama kalinya Fan Dongxiao mendengar Qiu Ci ingin mengambil cuti. Bukan beberapa jam, bukan sehari atau dua tapi sepuluh hari penuh.
Qiu Ci tahu hal itu akan sedikit mengganggu jadwal, dan jelas melanggar prinsip kerjanya sendiri. Jadi dia menambahkan dengan tenang, “Kalau tidak bisa, tidak apa-apa.”
“Tentu saja bisa,” jawab Fan Dongxiao setelah berpikir, “Asalkan aku menyelesaikan terlebih dulu adegan untuk episode berikutnya. Tapi… apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?”
Fan Dongxiao memang tidak tahu banyak soal keluarganya. Dia hanya tahu Qiu Ci dekat dengan Qi Meng, mereka sudah bekerja sama sejak masa awal kariernya.
Di dunia hiburan, rumor mengatakan mereka kekasih. Tapi kemudian muncul kabar bahwa Qi Meng sudah bertunangan dengan teman masa kecilnya. Dan mereka sangat cocok.
Melihat temannya penasaran, Qiu Ci hanya menjawab singkat, “Sedikit urusan.”
“Mau aku bantu?” tanya Fan Dongxiao tulus. “Kalau ada masalah mendesak, bilang saja. Aku bisa membantu semampuku.”
Qiu Ci mengangkat ujung bibirnya, nada suaranya ringan. “Cuti menikah jadi aku mau bertemu dengan keluarga. Sepertinya kamu tidak bisa membantu.”
Suasana seketika hening. Fan Dongxiao menatapnya dengan ekspresi campur antara bingung dan tidak percaya, lalu menurunkan suaranya. “Benarkah? Kalau kamu hanya ingin istirahat, katakan saja, tidak perlu mengarang alasan seperti ini.”
Di industri ini, Qiu Ci dikenal sebagai aktor yang menjaga diri. Fokusnya hanya pada pekerjaan, dari latihan karakter, riset naskah, hingga mempelajari detail peran. Pria seperti dia? Punya waktu untuk jatuh cinta, apalagi menikah? Mustahil.
“Tentu saja serius,” jawab Qiu Ci tenang.
Fan Dongxiao terpana sejenak, lalu terkekeh tidak percaya. “Hebat juga kamu ini.” Dia menepuk bahu Qiu Ci sambil tertawa. “Nanti kenalkan padaku. Aku dan istriku akan memberikan kalian amplop besar.”
Qiu Ci tersenyum samar. “Lebih tepatnya, bukan istri. Tapi suami.”
Fan Dongxiao menatapnya tanpa berkedip, terdiam beberapa detik karena otaknya butuh waktu untuk memproses kalimat itu. Lalu Qiu Ci mengangkat tangan dan melemparkan sesuatu padanya.
Refleks, Fan Dongxiao menangkapnya.
“Permen pernikahan,” ucap Qiu Ci ringan.
Melihat sebutir permen di telapak tangannya, Fan Dongxiao terkekeh, “Satu biji saja? Pelit sekali! Jangan-jangan itu permen milik figuran yang kamu ambil diam-diam?”
Saat Qiu Ci tiba di rumah, malam sudah larut.
Dia mengira Mu Yu sudah tidur. Namun begitu memarkir mobil dan mengadah, dia melihat semua lampu rumah masih menyala terang.
Lupa dimatikan, atau memang belum tidur?
Begitu masuk, yang pertama menyambutnya adalah Xiao Jiu, berlari kecil sambil mengeong ceria, seperti biasa menyambut tuannya pulang.
Lalu Qiu Ci melihat Mu Yu, lengan bajunya digulung sampai ke siku, tangan kanan memegang pel.
Saat menyadari keberadaan Qiu Ci, wajah Mu Yu menegang. Dia menunduk, memandang kemeja putihnya yang kotor dan kakinya yang telanjang. Tanpa perlu cermin, dia tahu dirinya tampak berantakan.
“Aku sedang bersih-bersih,” ujarnya pelan. Sejak pagi dia merasa hari ini seperti mimpi yang aneh. Untuk memastikan semuanya nyata, dia terus mencari hal yang bisa dikerjakan. Dan akhirnya, dia memutuskan untuk melakukan pembersihan besar-besaran.
Qiu Ci menaruh kunci mobil di meja, melirik ke arah keningnya yang basah oleh keringat. “Aku tahu. kamu sudah makan?”
Mu Yu menggeleng. Sejak tadi dia sibuk dan memang tidak punya selera makan. Lagipula, rasa lapar membantunya merasa sedikit lebih “hidup” di hari yang terasa tidak masuk akal ini.
Qiu Ci mengambil pel dari tangannya, dan baru saat itu dia melihat telapak tangan Mu Yu memerah, bahkan mulai berkerut — jelas karena terlalu lama terendam air yang mengandung cairan pembersih.
Bodoh sekali, pikir Qiu Ci dalam hati. Tidak tahu pakai sarung tangan karet untuk melindungi tanganmu?
“Naik ke atas, bersihkan diri,” katanya tegas. “Mulai sekarang, pekerja harianlah yang akan mengurus semua ini.”
Qiu Ci terlebih dahulu menaruh pel di kamar mandi lantai satu, lalu menyuruh Xiao Jiu yang terus manja di sekelilingnya untuk bermain di tempat lain. Setelah itu, dia berjalan menuju lemari es untuk melihat ada bahan makanan apa saja di dalamnya.
Dua hari lalu dia baru saja mengisinya, jadi pilihannya cukup banyak.
Ketika Mu Yu selesai mandi dan turun ke bawah, Qiu Ci masih sibuk di dapur. Karena dapurnya bergaya terbuka, begitu mengangkat kepala, Qiu Ci bisa langsung melihatnya. Dengan suara tenang dia berkata, “Sebentar lagi selesai.”
Begitu hidangan tersaji di meja, Mu Yu menyendok satu suapan, tapi tidak menyentuhnya lagi untuk begitu lama.
Qiu Ci mengernyit. “Tidak enak?”
Tidak mungkin, pikirnya. Masakannya memang tidak sampai setara koki profesional, tapi setelah bertahun-tahun memasak sendiri, dibilang enak pun rasanya tidak berlebihan.
“Enak sekali.” Mu Yu menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. “Sepertinya ini pertama kalinya aku makan masakanmu.”
Saat masih di Kota Bin dulu, Qiu Ci pernah mencoba membuatkan semangkuk mi untuknya, tapi hasilnya malah lembek dan belum sempat dimakan, Qiu Ci sendiri sudah membuangnya dengan kesal.
Jadi, hari ini adalah pertama kalinya Mu Yu benar-benar mencicipi masakan Qiu Ci.
Ucapan itu membuat Qiu Ci teringat pada semangkuk mi lembek enam tahun lalu. Entah kenapa, dia justru merasa sedikit lega karena dulu cukup pintar untuk tidak membiarkan Mu Yu memakannya.
Saat Mu Yu sudah tertidur, Qiu Ci yang tadinya memejamkan mata tiba-tiba membuka mata. Dia turun dari tempat tidur, membuka laci, dan mengambil buku nikah mereka. Dia berjalan ke ruang kerja sebelah, menurunkan lukisan yang tergantung di dinding. Di balik lukisan itu tersembunyi sebuah brankas kecil.
Dia membuka kuncinya dan menatap satu-satunya benda di dalam sana, sebuah kotak cincin berwarna hitam.
Beberapa saat kemudian, dia meletakkan buku nikah ke dalam brankas, lalu mengambil kotak cincin itu, menutup kembali brankas, dan memasang lukisan di tempatnya.
Qiu Ci tidak langsung kembali ke kamar. Dia duduk di kursi, menatap kosong pada kotak cincin di atas meja.
Seekor tubuh kecil yang lincah melompat ke meja. Xiao Jiu berputar di sekitar kotak itu, mengendus pelan, lalu ketika melihat Qiu Ci tidak memperhatikan, dia mengulurkan kaki mungilnya mencoba menyentuh kotak tersebut.
Melihat Qiu Ci masih melamun, dia kembali mengayunkan ekornya dan menyenggol kotak itu. Tepat saat kotak itu hampir terjatuh, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram tengkuknya dan mengangkatnya ke udara.
“Meong~” seolah berkata: aku ini anak manis, mana mungkin punya niat jahat.
“Kamu tidak boleh bermain-main dengan ini.” Qiu Ci memeluk Xiao Jiu, lalu mengambil kotak cincin itu dan membuka tutupnya dengan satu tangan.
Pandangan matanya terfokus pada ukiran di cincin pasangan itu.
“Xiao Jiu, menurutmu, aku harus memberikannya padanya atau tidak?”
“Meong~” — berikan saja padaku, meong.
Qiu Ci tersenyum samar. Dia mengambil salah satu cincin dan memasangkannya ke jarinya. Ukurannya masih sama seperti enam tahun lalu—pas sekali.
Dia menatapnya beberapa saat, lalu mengambil cincin yang satu lagi, mengusap lembut huruf-huruf ukiran di bagian dalamnya, dan berbisik pelan:
“Aku tahu kami tidak cocok, jadi aku memutuskan untuk melepaskannya, juga melepaskan diriku sendiri. Enam tahun berlalu, kenapa dia masih harus datang mengusikku lagi?”
“Tidak peduli bagaimana aku memperlakukannya, dia tetap saja seperti dulu, bodoh, polos, dan terlalu baik.”
“Xiao Jiu, aku sungguh ingin melepaskannya, tapi sepertinya sudah terlambat.”
Namun perhatian Xiao Jiu hanya tertuju pada cincin di jari tangan panjang Qiu Ci. Dia mengulurkan cakarnya, ingin mengambilnya untuk bermain.
Qiu Ci menahan cakarnya agar tidak mengganggu, lalu mengembalikan cincin itu ke dalam kotak. Saat menutup kotak cincin, sorot matanya tampak kelam.
Kalau memang sudah terlambat, maka biarlah dia mengikatnya selamanya.
