Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Malam terasa panjang.

Qiu Ci berbaring miring di atas ranjang dengan linglung. Dia baru saja bermimpi panjang, sebuah mimpi yang hampir merangkum seluruh perjalanan dari pertemuan dengan seseorang hingga berakhir dengan perpisahan.

Mimpi itu seakan menghantuinya dan dia tidak dapat melupakannya, sehingga dia tidak dapat tidur dan hanya dapat bermain ponsel.

Cahaya layar memantul di wajahnya. Saat menyadari ada suara di belakang, dia segera menyelipkan ponsel ke bawah bantal.

Setelah menunggu beberapa saat, Qiu Ci pun duduk. Cahaya redup dari lampu samping tempat tidur sudah cukup baginya untuk melihat wajah orang di sebelahnya.

Namun, orang ini tampak berubah, sekaligus terasa tidak berubah.

Sebuah desahan ringan melayang di udara, Qiu Ci menelusuri wajahnya dengan tatapan.

Mengingat kembali semua yang terjadi hanya dalam hitungan hari, dia menekan pelipisnya. Keinginan untuk merokok kembali muncul.

Qiu Ci sama sekali tidak merasa mengantuk. Dia kembali mengambil ponselnya, masuk ke akun Weibo, lalu menulis sebuah unggahan.

[Sangat penasaran, apakah sebuah hubungan benar-benar bisa diperbaiki setelah putus?]

Akun itu sudah dia kelola tiga tahun. Awalnya hanya untuk iseng mengunggah rekaman nyanyiannya, melakukan siaran langsung tanpa memperlihatkan wajah. Setelah memelihara kucing, dia sering mengunggah video hewan peliharaan, ditambah sesekali mengadakan undian hadiah dengan jumlah besar. Dengan cara itu, dia berhasil mengumpulkan hampir dua juta pengikut.

Malam hari, banyak orang berselancar di internet. Tidak lama, beberapa komentar pun bermunculan.

[Akhirnya muncul lagi! Unggah foto kucingmu, maka aku akan memaafkanmu. Atau lebih baik, unggah fotomu saja (emotikon anjing).]

[Bukankah waktu itu kamu sudah berjanji akan siaran langsung untuk menyanyi lagu-lagu cinta? Ke mana saja kamu selama ini!]

[Menurutku tidak mungkin. Cermin yang sudah pecah, meski disatukan lagi, tetap menyisakan retakan. Lebih baik ganti cermin baru dan mulai dari awal.]

[Setuju. Kisah “cermin retak kembali utuh” hanya ada dalam novel. Di dunia nyata, semakin lama berpisah, semakin kecil kemungkinan untuk kembali.]

[Tidak sepenuhnya benar. Aku pernah melihat pasangan yang berhasil kembali bersama, bahkan lebih saling mencintai daripada sebelumnya. Jika bisa bersatu kembali, bukankah itu berarti kalian masih saling mencintai?]

[Aku tidak setuju dengan sudut pandangmu. Bahkan jika cermin yang pecah disatukan kembali, kemungkinan besar cermin itu akan pecah lagi.]

[Kenapa kamu begitu sentimental larut malam? Di saat-saat seperti ini, menyanyikan beberapa lagu yang ceria biasanya bisa menyelesaikan masalah (Aku sudah menjelaskannya, jadi kapan siaran langsungnya?)]

Puluhan komentar masuk, sebagian besar berpendapat hal itu tidak mungkin.

Qiu Ci berkerut kening, keluar dari Weibo, lalu kembali menyelipkan ponsel ke bawah bantal.

Ketika dia terbangun, unggahannya itu sudah disebarkan oleh beberapa akun pemasaran, naik ke daftar populer, dan jumlah komentar meningkat berkali lipat.

Banyak orang berbagi pengalaman pribadi. Beberapa komentar dengan jumlah tanda suka terbanyak menunjukkan ada yang berhasil kembali bersama, ada pula yang gagal.

Salah satu komentar menarik perhatian Qiu Ci:

[Aku dan suamiku sudah bersama sejak masa sekolah. Saat kuliah, karena perbedaan tujuan, kami sering bertengkar dan salah paham, lalu berpisah selama empat tahun. Kini anak kami hampir masuk sekolah dasar.

Dalam empat tahun itu dia berubah, aku juga berubah. Yang kami cintai kembali adalah sosok satu sama lain setelah empat tahun. Jadi menurutku ini tidak bisa disebut cermin retak kembali utuh, melainkan kami menggunakan cermin baru untuk memulai lagi dari awal.]

—Memulai lagi dari awal.

Qiu Ci memegang ponsel dengan satu tangan dan memasukkan makanan ke mulutnya dengan tangan lainnya, mengunyah tanpa ekspresi, matanya tertuju pada empat kata ini.

Setelah menelan makanan, dia mengusap bibir dengan tisu, lalu berkata datar, “Malam ini aku naik pesawat. Setelah kamu menyelesaikan urusan di sini, hubungi aku saat sudah sampai di Tiongkok.”

Mu Yu menekan bibir, mengingatkan, “Aku tidak punya nomormu.”

“Nomor lamaku masih kupakai, hubungi saja yang itu.” Qiu Ci berhenti sejenak, kemudian menambahkan, “Lupa? Sudahlah, aku akan berikan nomor baruku.”

“Aku tidak lupa.”

“Baiklah. Aku akan pulang berkemas. Sampai jumpa di Tiongkok.”

Barang yang dibawa Qiu Ci tidak banyak. Dengan cepat dia merapikan koper, lalu sebelum berangkat ke bandara, sempat melirik ranjang yang sudah rapi.

Yu Shan tahu dia akan pergi, dia sudah menunggu cukup lama di luar gedung. Saat melihat Qiu Ci, dia ingin bicara, tapi kata-kata itu tertahan.

Qiu Ci melepas kacamata hitamnya. Tatapannya melintas pada wajah polos tanpa riasan itu. Jika diperhatikan lebih dekat, tampak sebuah bekas luka samar sepanjang ibu jari di pipinya.

“Yu Shan.” Qiu Ci memandang jauh ke depan, suaranya datar. “Di dalam hatimu, apakah aku adalah orang yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, hanya mementingkan diri sendiri?”

“Aku tidak—”

Qiu Ci kembali menatapnya pagi, bibirnya terangkat dalam senyum mengejek. “Sebenarnya, sejak lama aku sudah memutuskan…”

Suaranya melemah, begitu lirih hingga Yu Shan yang sedikit teralihkan pikirannya kehilangan kesempatan mendengar kelanjutannya.

Dia hanya berdiri terpaku, menatap sosok pria itu yang kembali mengenakan kacamata hitam, menarik koper, dan pergi menjauh.

Namun, Yu Shan tetap mendengar satu kalimat darinya.

—“untuk melepaskannya.”

Pada saat itu, akhirnya dia teringat satu hari di lima tahun lalu, ketika Qiu Ci mabuk berat di sebuah bar.

Dia menerima telepon untuk menjemputnya, lalu mendapati Qiu Ci tergeletak di meja bar, setengah sadar, suaranya bergetar dengan isak, terus-menerus mengucapkan kata maaf.

Sebelum benar-benar tidak sadarkan diri, dia berkata, “Maaf, aku sudah melepaskanmu.”

Kalimat itu sebenarnya belum selesai. Seharusnya lengkapnya adalah: “Maaf, aku sudah melepaskanmu, sekaligus melepaskan diriku sendiri.”

Sejak hari itu, Qiu Ci bergabung dengan perusahaan milik Qi Meng, hampir seluruh waktunya dicurahkan pada dunia akting. Menurut Qi Meng yang sekaligus menjadi manajernya, dia nyaris tenggelam sampai titik obsesi.

Karena alasan pekerjaan, jumlah kepulangan Qiu Ci ke rumah di kota Jiang bisa dihitung dengan jari.

Apa yang benar-benar terjadi pada hari itu, hanya Qiu Ci sendiri yang tahu.


Qiu Ci baru kembali ke dalam negeri beberapa hari, namun dia sudah langsung masuk ke lokasi syuting.

Drama kali ini adalah sebuah serial antologi bertema investigasi. Karena hubungannya cukup baik dengan sutradara, dia datang sebagai bintang tamu, memerankan salah satu tokoh utama dalam salah satu episode.

Matahari bersinar terik hari ini, dan adegannya di luar ruangan. Begitu Qiu Ci menyelesaikan pengambilan gambar, asistennya segera menyerahkan air minum.

“Xun ge, barusan ada telepon untukmu. Sepertinya cukup mendesak, sudah berdering berkali-kali.”

Zuo Xun adalah nama panggung yang digunakan Qiu Ci.

Qiu Ci mengangguk, lalu dengan santai melirik nomor asing yang tidak memiliki catatan nama, sebelum menekan tombol panggil balik.

Nafasnya tertahan, dia mendengarkan nada sambungan beberapa kali, hingga akhirnya tersambung.

“Ah Ci.” Suara di seberang terdengar dalam dan bergetar magnetis, mengalun di telinganya. “Aku baru saja turun dari pesawat, tapi terjadi sedikit masalah.”

Tangan Qiu Ci yang lain tanpa sadar mengusap pakaiannya, “Ada masalah apa?”

“Sekretaris memesan kamar dengan tanggal yang salah. Aku baru dapat check-in mingu depan. Jadi… aku tidak punya tempat untuk tinggal.”

Kalimat itu penuh celah, bahkan Mu Yu sendiri menyadarinya. Maka di ujung telepon, bibirnya terkatup rapat, menunggu cemas akan jawaban.

“Aku sedang syuting dan tidak punya waktu. Biarkan manajerku menjemputmu. Kamu bisa tinggal di rumahku terlebih dulu.”

Manajer Qiu Ci adalah Qi Meng. Meski disebut manajer, sebenarnya hanya sebatas nama. Bagaimanapun, Qiu Ci juga pemilik saham di perusahaannya, sehingga sulit bagi siapa pun untuk benar-benar mengatur “Tuan Muda Qiu” yang suka bertindak semaunya.

Saat Qi Meng datang dengan mobil untuk menjemput Mu Yu, dia bersiul kecil.

“Qiu Ci bilang aku akan tahu siapa yang harus dijemput saat aku tiba. Awalnya aku tidak percaya, tapi sekarang aku percaya. Aku hampir tidak mengenalinya setelah enam tahun.”

Enam tahun terakhir, Qi Meng telah menyelesaikan seluruh ujian keluarga dan sepenuhnya mengambil alih urusan keluarga Qi. Aura kepribadiannya semakin kuat, meski masih menyimpan sedikit bayangan sifat mudanya.

Ketika Mu Yu membuka pintu kursi penumpang depan, Qi Meng melambai dengan jarinya. “Itu kursi khusus calon suami. Kalau ketahuan duduk di sana, dia bisa marah besar padaku.”

Mu Yu tertegun sejenak, lalu berbalik dan memilih duduk di belakang.

Begitu mobil melaju, Qi Meng segera membuka percakapan. “Kalian berdua kembali bersama? Bagus sekali. Aku kira seumur hidupnya, satu-satunya istri Qiu Ci hanyalah naskah drama. Kalau tidak, dia mungkin sudah pergi menjadi biksu pertapa.”

Dia terus berbicara, sementara wajah Mu Yu tetap datar tanpa ekspresi.

Beberapa menit kemudian, telepon masuk. Qi Meng menekan sambungan.

“Siapa yang bilang aku sedang bermain-main dengan pria muda? Aku sedang menjemput harta kesayangan Qiu Ci—”

Qi Meng sengaja menyeret nada ucapannya, lalu melirik pria di kaca spion. Melihat ekspresinya yang jelas-jelas salah paham, dia baru mengangkat sudut bibirnya dan menambahkan, “—putrinya.”

Kata itu membuat wajah Mu Yu menegang. Kebetulan pandangannya jatuh pada sebuah taman kanak-kanak di tepi jalan. Wajahnya seketika memucat.

Qiu Ci… punya anak? Bagaimana mungkin? Ataukah selama ini dia terlalu pandai menyembunyikan?

Qi Meng memarkirkan mobil perlahan, melepas sabuk pengaman, lalu berkata, “Tunggu di sini. Aku harus menjemput putrinya dulu. Oh ya, dia menitip pesan: kalau kamu ingin tinggal di rumahnya, kamu juga harus menjaga putrinya dengan baik.”

Mobil pun hening kembali.

Mu Yu berkali-kali menggenggam ponsel, ingin menelpon untuk bertanya, mengapa tidak pernah diberitahukan soal anak itu.

Apakah anak itu secantik dirinya? Siapa ibu dari anak itu? Jika sudah memiliki anak, mengapa masih ingin menikah dengannya?

Tidak tahu sudah berapa lama, samar-samar Mu Yu mendengar sebuah suara.

“Kamu melamun? Cepat, pegang dia.”

Mu Yu kaget, dia mengira akan melihat seorang gadis kecil yang manis. Namun, yang berada dalam pelukannya justru seekor kucing Ragdoll, berbulu halus bak peri.

Sepasang mata biru lautan menatap tajam padanya, lalu terdengar suara “meong!” yang galak.

“Apakah kamu marah?”

Qi Meng mengangkat si kucing ke pelukan, membelai bulunya. Dia melirik Mu Yu dengan heran. “Pertama kalinya aku melihat Xiao Jiu semarah ini.”

Padahal kucing Qiu Ci ini biasanya jinak, terlebih pada pemiliknya. Sepanjang hari hanya mengeong manja, membiarkan Qiu Ci mengusap sesuka hati tanpa sedikit pun marah.

Mu Yu mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Baru saat itu dia melihat bahwa tidak jauh dari taman kanak-kanak tadi, ada sebuah klinik hewan.

Dia tiba-tiba tertawa kecil, seperti lepas dari beban, malu pada pikiran-pikirannya yang berlebihan.

Melihat Xiao Jiu tidak ingin bersama Mu Yu, Qi Meng terpaksa memasukkannya ke kandang.

Tempat tinggal Qiu Ci terletak cukup jauh, di kawasan vila dalam taman ekologi. Hunian ini bahkan tidak bisa ditempati hanya dengan uang, karna keamanannya luar biasa ketat. Hampir mustahil ada paparazi yang bisa menyusup.

Qi Meng sendiri juga tinggal di kawasan itu, hanya agak jauh dari kediaman Qiu Ci.

Setibanya di rumah, Qi Meng segera melepaskan Xiao Jiu dari kandang. Si kecil berbulu itu menggoyang ekornya yang lebat, berjalan anggun seolah rumah itu miliknya.

“Xiao Jiu sangat cerdas, juga tidak suka membuat masalah. Karena dia tidak menyukaimu, kamu tidak perlu repot mengurusnya. Di lemari itu ada semua makanan kucing. Kalau lapar, biasanya dia akan manja meminta makan.”

“Oh ya, Qiu Ci memintaku untuk memberitahumu bahwa di dalam kulkas ada bahan makanan. Kalau kamu lapar, masaklah sendiri. Aku masih ada urusan, jadi harus pergi.”

Sebelum keluar, Qi Meng mengusap bulu Xiao Jiu sekali lagi, lalu berbisik di telinganya, “Lebih baik jangan galak padanya. Kalau dia terluka, hati-hati ayahmu akan marah besar padamu.”

Entah si kucing mengerti atau tidak, ekornya malah mencambuk wajah Qi Meng. Dia segera melompat turun, lalu berjalan ke lantai atas.

Rumah besar itu kini hanya menyisakan Mu Yu dan seekor kucing yang jelas tidak menyukainya.

Dia berkeliling di lantai satu. Rumah itu hanya dua lantai, namun sangat luas. Tinggal seorang diri di dalamnya menimbulkan rasa dingin yang aneh.

Terutama di malam hari, suasananya begitu sunyi sehingga satu-satunya suara yang dapat didengar hanyalah kicauan jangkrik dan gemerisik dedaunan serta ranting yang tertiup angin.

Jarak antar rumah sangat lebar. Berdiri di balkon, dia tidak bisa melihat orang lain yang berlalu-lalang. Dia selalu merasa akan ada sesuatu yang tiba-tiba muncul dari balik rimbunnya pepohonan.

Mu Yu merasa sedikit takut.

Dia sendiri tidak akan pernah tinggal di rumah sebesar itu.

Angin malam bertiup pelan. Saat hendak tidur, dia terperanjat ketika pintu kamar terbuka tanpa peringatan apa pun.

Lorong di luar begitu gelap dan dia tidak melihat seorang pun berdiri di sana.

Jika bukan manusia yang membukanya, berarti…

“Meong~” suara seekor kucing terdengar. Dengan langkah anggun, Xiao Jiu segera melompat naik ke tempat tidur.

Di rumah Qiu Ci tidak ada kamar tamu, jadi Mu Yu tidur di kamar tidurnya. Xiao Jiu menatap pria asing di tempat tidur dengan mata kucingnya, melengkungkan punggungnya, dan menggeram dengan suara rendah yang keras.

Sepertinya dia mencoba mengusir Mu Yu dan tidak mengizinkannya tidur di tempat tidur Qiu Ci.

Pria dan kucing itu menemui jalan buntu, dan akhirnya Mu Yu tidur di sofa.

Xiao Jiu puas dapat menikmati ranjang besar seorang diri. Di dalam kamar memang ada sofa, namun Mu Yu harus merelakan diri tidur di atas sofa yang bahkan panjangnya tidak cukup.

Tengah malam.

Qiu Ci yang mendadak pulang, begitu memasuki kamar tidur langsung melihat pria itu terbaring di sofa dengan kaki menjuntai keluar, memperlihatkan sebagian betisnya. Bagaimana mungkin bisa tidur dengan posisi begitu?

Qiu Ci lalu menoleh ke arah Xiao Jiu yang meringkuk di atas ranjang.

“Meong?”

Mendengar suara, Xiao Jiu segera terbangun lalu melompat turun, menggesek manja di sisi kaki Qiu Ci, seolah meminta gendongan.

Qiu Ci mengangkatnya, mencubit lembut telinganya.

“Itu ulahmu?”

Xiao Jiu menggeliat, menggesek-gesek tubuhnya mencari posisi nyaman, menampilkan raut yang sangat polos.

“Jangan mengusiknya, dia bisa menangis,” mata Qiu Ci mengandung kepedihan samar. “Aku tidak tahu bagaimana cara menenangkannya.”

Xiao Jiu memiringkan kepala: Meong?


KONTRIBUTOR

San
Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply