Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Hari Rabu.
Qiu Ci dan Mu Yu sudah merencanakan untuk menonton film bersama. Namun, Qiu Ci harus membantu dosen pembimbingnya menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu, jadi dia menyuruh Mu Yu pergi lebih dulu ke bioskop. Setelah urusannya selesai, dia akan menyusul.
Selesai membantu, ketika Qiu Ci hendak naik mobil menuju bioskop, tiba-tiba sosok yang familiar melintas sekilas dalam pandangannya, lalu naik ke dalam sebuah bus.
Itu Yu Shan!
Melihat bus mulai melaju, Qiu Ci tidak sempat berpikir banyak, dia segera menyalakan mobil dan mengejarnya.
Setelah mengikuti selama lima pemberhentian, dia akhirnya melihat Yu Shan di antara orang-orang yang turun dari bus.
Sudah lama tidak bertemu, kulit putih gadis itu kini berubah menjadi kecokelatan, rambutnya dipotong pendek dan diikat ke belakang, tampak segar dan rapi. Celana kargo dipadu dengan tank top hitam pendek menampakkan pinggang ramping dengan garis otot yang tegas, membuat penampilannya benar-benar berbeda.
Sambil berjalan, Yu Shan mengunyah permen karet, terlihat acuh tak acuh namun tenang.
Qiu Ci segera mencari tempat untuk memarkir mobil, lalu mengejarnya hingga ke sebuah bar, dia melihat Yu Shan hendak mendorong pintu masuk ke sebuah ruang karaoke. Qiu Ci melangkah cepat dan menangkap lengannya.
“A… Ah-Ci?”
Tiba-tiba ada yang menarik tangannya, Yu Shan terkejut. Begitu melihat wajah yang familiar, dia semakin terkejut.
Qiu Ci neliriknya, lalu menahan amarahnya sambil bertanya, “Inikah mimpi yang ingin kamu kejar?”
Meninggalkan semester terakhir di kelas tiga SMA, hanya demi menjadi gadis nakal yang suka ke bar? Apakah itu kehidupan yang dia inginkan?
“Siapa kamu, lepaskan dia.” Dari dalam, dua orang pria melihat ada masalah, segera datang membantu.
“Enyahlah!” Tatapan dingin Qiu Ci langsung membuat mereka berhenti. Dia lalu menatap mereka dengan sinis.
Yu Shan sadar situasi akan menjadi rumit, segera menjelaskan, “Ini salah paham, salah paham, dia kenalanku.”
Kedua pria itu bergantian menatap Qiu Ci dan Yu Shan yang berdiri di depannya, lalu mendadak paham, mengedipkan mata sambil menggoda, “Pacar? Lumayan tampan, hanya saja sedikit galak.”
“Pacar apanya, ini kakakku.” Yu Shan buru-buru menjelaskan, khawatir Qiu Ci marah. Dia menariknya keluar.
Begitu sampai di tempat yang sedikit sepi, Yu Shan melihat wajah Qiu Ci masih gelap, lalu berdeham, “Kenapa kamu bisa berada di sini?”
Baru dua hari lalu dia tiba di Kota Bin dan sama sekali tidak menyangka akan bertemu Qiu Ci di tempat ini.
Qiu Ci hanya mendengus. Dia sangat marah sekarang. Baru sebentar saja, gadis ini sudah berubah jadi seperti ini. Kalau tahu akan begini, dulu dia pasti sudah menggali tanah demi menyeretnya kembali ke sekolah.
“Dengan siapa kamu datang ke sini?” Yu Shan mengira dia datang untuk bersenang-senang dengan temannya, lalu mereka kebetulan bertemu.
“Aku—” Qiu Ci baru saja membuka mulut, tiba-tiba teringat Mu Yu masih menunggunya di depan bioskop. Namun, dia khawatir Yu Shan kabur, jadi langsung menyeretnya masuk ke mobil.
“Kita mau ke mana?” Yu Shan bingung. Padahal sebentar lagi dia ada penampilan dengan bandnya.
Qiu Ci tidak menjawab. Dia mengemudi menuju bioskop. Dari jauh, dia melihat si bodoh kecil sedang duduk di kursi tunggu. Wajah tegangnya perlahan melunak menampakkan senyuman tipis.
Yu Shan yang terpaksa ikut, sedang menunduk membalas pesan. Dia meminta teman-teman band-nya untuk bersenang-senang terlebih dulu dan dia akan mencari mereka saat penampilan dimulai.
Mu Yu sudah menunggu lama, tapi tidak juga melihat Qiu Ci datang. Takut mengganggu urusannya, dia tidak menelepon.
Filmnya sudah dimulai sepuluh menit lalu, tapi Qiu Ci belum datang. Mu Yu berniat keluar untuk menelepon sekaligus menghirup udara segar.
Begitu berbalik, dia langsung melihat Qiu Ci berjalan ke arahnya. Senyum yang hendak muncul di bibirnya justru membeku saat melihat Yu Shan di samping Qiu Ci.
Sekejap, kepalanya kosong, telinganya berdengung, jantungnya sempat berhenti lalu berdetak kencang tidak terkendali, seakan ada palu yang menghantam berkali-kali membuat dadanya terasa tenggelam.
Qiu Ci, yang berjalan ke arahnya, tidak menyadari perubahan ekspresinya.
Ketika melihat jam, ia menyadari bahwa filmnya sudah lama dimulai. Ia tak kuasa menahan diri untuk memelototi Yu Shan di sampingnya dan berkata kepada Mu Yu, “Ayo jalan-jalan dulu, nanti kita nonton film berikutnya.”
“Aku masih ada urusan, jadi aku tidak akan menjadi orang ketiga,” kata Yu Shan.
“Siapa yang mengizinkanmu pergi?” Qiu Ci langsung menangkapnya kembali. Pada saat bersamaan, tangan kirinya yang kosong digenggam oleh Mu Yu.
Telapak tangannya dingin namun berkeringat.
Qiu Ci baru menyadari keanehan ini, segera menoleh, melihat wajah Mu Yu yang pucat dan ekspresinya tidak baik.
“Kenapa?” Qiu Ci melepaskan tangan Yu Shan, lalu menyentuh wajah Mu Yu, leher, dan tangannya. Semua terasa dingin.
Mu Yu memaksakan senyum, “Mungkin karena AC terlalu dingin.”
“Ayo keluar dulu.” Qiu Ci memegang tangannya, lalu menoleh ke Yu Shan, “Ikut, jangan coba-coba kabur.”
Begitu sampai di tempat yang terkena sinar matahari, Qiu Ci kembali mengecek suhu tubuh Mu Yu. Setelah merasa cukup membaik, barulah dia lega.
Mereka bertiga kemudian pergi ke sebuah kafe es krim, duduk di bawah payung besar. Qiu Ci menatap Yu Shan dan menggerakkan dagunya, “Ceritakan.”
Yu Shan akhirnya menjelaskan apa yang terjadi setelah meninggalkan Kota Jiang.
Sekarang dia menjadi drummer di sebuah band. Datang ke Kota Bin untuk mengikuti festival musik bersama teman-teman bandnya.
“Jadi, mimpimu itu jadi pemain drum?” Dahi Qiu Ci langsung mengernyit, sebelumnya ia tampak tidak terlalu menyukai musik.
Yu Shan menggaruk belakang leher, menunjukkan ekspresi canggung. “Tidak sepenuhnya begitu, lebih karena aku merasa senang. Teman-teman di band juga baik, jadi aku terus bermain bersama mereka.”
Dia benar-benar menikmati saat memukul drum, seolah semua masalah menghilang. Perasaan itu tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
“Itu… festival musiknya sangat ramai. Aku punya tiket lebih, kalian mau ikut?”
Di bawah tatapan penuh harap dan sedikit merayu dari Yu Shan, Qiu Ci hanya mendengus kecil lalu setuju dengan enggan.
Dia harus melihat sendiri seperti apa teman-teman baru Yu Shan, jangan sampai gadis itu salah jalan.
Rencana menonton film akhirnya berubah menjadi pergi ke festival musik. Yu Shan perlu bersiap-siap terlebih dulu, jadi dia tidak masuk bersama mereka.
Setelah berhasil masuk, Qiu Ci menyadari Mu Yu tampak murung. Dia mengira Mu Yu kesal karena gagal menonton film.
Qiu Ci tahu Mu Yu sudah lama ingin menonton film itu, jadi dia memaklumi kalau ia sedikit merajuk. Dia pun berbisik di telinganya: “Besok aku akan menemanimu nonton.”
Suasana di tempat itu begitu ramai, semua larut dalam suasana penuh semangat, namun Mu Yu sama sekali tidak bisa merasakannya. Dia tidak terbiasa dengan keramaian seperti ini, apalagi dengan alasan mereka datang.
Qiu Ci sendiri juga tidak terlalu tertarik. Hanya setelah band Yu Shan naik ke panggung barulah dia memperhatikan.
Gadis itu duduk di belakang drum, memukul stiknya dengan penuh energi, sepenuhnya larut dalam pesta musik miliknya.
Qiu Ci belum pernah melihatnya seperti ini, mendadak muncul perasaan getir, seakan menyadari anak perempuan di rumahnya sudah tumbuh besar.
Namun, perasaan itu jatuh di mata orang yang sedang sensitif, jadi maknanya tampak berbeda. Mu Yu menatap profil wajahnya dengan kosong, hatinya terasa getir.
Selama ada Yu Shan, tatapan Qiu Ci tidak pernah beralih padanya.
Benar, dibandingkan dengan puluhan tahun kebersamaan antara Qiu Ci dan Yu Shan, dirinya yang baru sebentar bersama tentu tidak ada apa-apanya. Dia seharusnya sadar diri.
Setelah keluar dari venue, Yu Shan memperkenalkan teman-teman bandnya pada Qiu Ci. Vokalisnya seorang perempuan dua puluhan dengan kepribadian ceria, sedangkan dua pria yang dia temui siang itu juga merupakan anggota band.
Sejauh ini, orang-orang itu terlihat cukup baik.
Mengantar Yu Shan ke hotel tempat dia menginap, barulah Qiu Ci dan Mu Yu pulang. Begitu pintu rumah tertutup, Mu Yu tanpa berkata apa-apa langsung merangkul pinggangnya, mendorongnya ke dinding.
“Ada apa?” Qiu Ci mengira dia kembali merasa tidak enak badan.
Tapi ketika sisi lehernya tiba-tiba digigit lembut, dia justru terkekeh, menggigit telinganya sambil tertawa rendah “Begitu haus? Kamu tidak malu?”
Wajah Mu Yu sedikit memerah, namun tetap terus menggoda.
“Kamu penuh keringat, mandi dulu.” Qiu Ci pasrah.
Alih-alih melepaskan, Mu Yu justru mulai mencium bibirnya, dengan serangan cepat bagaikan hujan badai, rapat dan intens.
Sampai tubuh mereka sama-sama terbakar panas, Mu Yu terengah dan berkata “Kita mandi bersama.”
Suara air dari kamar mandi berpadu dengan suara samar, membentuk melodi yang bergetar di udara.
Ada bekas air di mana-mana di lantai, di kamar tidur, koridor, dan ruang tamu.
Mawar-mawar yang digunakan sebagai hiasan berserakan di tanah, bantal-bantal di sofa berserakan di lantai, dan beberapa benda juga berserakan di lantai. Membuatnya tampak seperti tempat yang sudah dibobol pencuri.
Qiu Ci menyukai melakukan hal semacam ini dengan si bodoh kecil. Dulu, karena gegabah dia sempat melukai Mu Yu, tapi setelah terbiasa dia sudah tahu bagaimana cara membuat keduanya puas.
Sekarang bukan karena dia tidak tahu menahan diri, melainkan karena si bodoh kecil ini terlalu berani, sampai harus bermain dengan beberapa trik yang cukup ekstrem baru bisa tenang.
Menatap wajah lelah di pelukannya, Qiu Ci mengusap dahinya dengan ujung jari, lalu mengetuknya ringan “Pantas saja kamu begitu serakah.”
Mu Yu hanya mengeluarkan suara pelan, terdengar sedikit manja, lalu terus meringkuk dalam pelukannya.
Qiu Ci tidak mampu menahan senyum di bibirnya, mendekapnya erat dan menutup mata. Setelah kerja fisik yang melelahkan, dia ingin tidur dengan nyenyak.
Namun, kemunculan Yu Shan membuat Mu Yu jadi semakin tidak tenang.
Dia sangat membutuhkan rasa aman dari Qiu Ci, ingin terus menempel padanya tanpa lepas.
Sampai pada Minggu sore, seseorang yang tidak diundang tiba-tiba datang.
Itu ayah kandungnya yang tinggal di luar negeri, sudah empat bulan sejak terakhir kali mereka bertemu.
Mu Chenyang berdiri di pintu, dengan tenang menatap anaknya yang terlihat sangat waspada setelah membuka pintu.
Mu Yu hanya mengenakan kaos longgar, garis tulang selangkanya terlihat di kerah, sementara di kulitnya ada bekas-bekas mencolok, jelas terlihat betapa kuatnya orang yang meninggalkan tanda itu.
Sadar akan tatapan itu, hati Mu Yu tenggelam.
Dia tahu sudah terlambat untuk menutupi, hanya bisa menenangkan diri dengan berpikir kalau orang ini tidak tahu hubungan antara dirinya dan Ah-Ci.
Mu Chenyang tetap datar wajahnya, hanya berkata: “Bisakah kita bicara?”
“Tunggu sebentar.” Mu Yu menutup pintu, masuk untuk memberi tahu Qiu Ci, lalu berganti pakaian sebelum keluar.
Mereka pergi ke sebuah kafe terdekat. Selama percakapan, wajah Mu Yu tetap dingin. Mu Chenyang tidak tahu sedang memikirkan apa, hanya tersenyum tipis.
“Soal ke luar negeri, apa sudah kamu pikirkan?”
“Sudah bilang, aku tidak akan pergi.” Mu Yu menegaskan sekali lagi.
Nada Mu Chenyang ringan: “Jangan terburu-buru menolak, manusia bisa berubah pikiran.”
“Apa maksudmu?” Mu Yu menatapnya dengan waspada.
“Bisa tinggal bersama orang yang disukai itu pasti bahagia, ‘kan? Qiu Ci pasti sangat menyukaimu, kalau tidak, dia tidak akan meninggalkan begitu banyak tanda kepemilikan di tubuhmu.”
Mengingat yang dia lihat tadi, lelaki itu terkekeh pelan. Tidak ada amarah, tidak juga jijik.
Tahu semuanya sudah terbongkar, Mu Yu menggenggam erat tangannya sendiri, memaksa diri tetap tenang.
Mata Mu Chenyang menyipit, tatapannya penuh arti.
“Katakan padaku, kalau orang tuanya tahu kamu menyeret putra kesayangan mereka ke jalan ini, bagaimana reaksi mereka?”
“Bukankah dulu Qiu Ci sangat menyukai sahabat kecilnya? Seharusnya dia sejak awal tidak menyukai laki-laki.”
Dengan nada ringan, dia mengucapkan kata-kata yang membuat wajah anaknya semakin pucat. Meski begitu, Mu Yu hanya bisa menatapnya dengan mata yang suram.
“Jadi kamu sedang mengancamku?” Mu Yu berkata dingin.
Mu Chenyang menggeleng. “Bukan ancaman, hanya peringatan. Aku sudah mengenal orang tua Qiu Ci sejak mahasiswa. Mereka berdua bukan orang yang berhati lembut.”
“Jangan lupa, alasan kamu bisa tinggal di rumah itu adalah karena aku. Mereka mungkin memperlakukanmu dengan baik, bahkan sungguh-sungguh menyayangimu. Tapi kalau mereka tahu hubunganmu dengan Qiu Ci—”
Dia tidak melanjutkan, tapi maksudnya sudah sangat jelas.
“Apa menurutmu seorang tuan muda yang sejak kecil hidup serba dimanja akan memilihmu? Meskipun saat ini dia berani melawan orang tuanya demi dirimu, tapi bagaimana kedepannya? Apakah dia tidak akan menyesal karenanya, menyesal telah berselisih dengan orang tuanya, menyesal melepaskan segala sesuatu yang sebenarnya ada dalam genggamannya?”
“Kamu seharusnya lebih paham daripada siapa pun, bahwa kamu dan Qiu Ci berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda.”
Seorang sejak kecil selalu dipuja, seorang lagi sejak lama hidup dalam lumpur tanpa ada yang peduli. Bagaimana pun melihatnya, keduanya tidak sepadan.
Ucapan Mu Chenyang tanpa ragu mendorong Mu Yu untuk menghadapi kenyataan yang kejam.
Saat ini dia memang bisa menikmati kehidupan manis bersama Qiu Ci secara diam-diam di Kota Bin, tapi pada suatu hari, dia tetap harus menghadapi Chu Qing dan Qiu Wei.
Apakah dia rela membiarkan Qiu Ci berselisih dengan kedua orang tuanya demi dirinya? Atau menunggu akhir yang sudah ditakdirkan: ditinggalkan?
Terlebih lagi sekarang Yu Shan kembali hadir dalam kehidupan Qiu Ci, seorang putri kecil yang gemerlap dan menawan, sementara dirinya hanyalah si bodoh kecil. Jika harus memilih, siapakah yang akan Qiu Ci pilih?
Mu Yu tidak berani memikirkan, juga tidak ingin memikirkannya, karena sepanjang hidupnya, dia selalu menjadi pihak yang ditinggalkan.
Amarah dan kegelapan menyelubungi hatinya, membuat tatapannya sedingin es, menusuk lurus ke arah orang di hadapannya.
Bagi Mu Chenyang, ekspresi itu justru menarik. Di tersenyum tipis dan berkata, “Jika kamu benar-benar menyukainya, justru kamu seharusnya ikut denganku ke luar negeri. Dan kembali saat kamu cukup kuat, tidak ada lagi yang bisa menghalangimu.”
Tatapan Mu Yu bergetar samar.
Mu Chenyang melanjutkan, “Sekarang yang kamu miliki hanyalah sedikit kasih sayangnya. Jika perasaan itu pudar, kamu yang tidak memiliki apa-apa akan dengan apa dipertahankan? Tapi jika suatu hari nanti kamu berdiri di puncak, meskipun dia tidak lagi mencintaimu, kamu tetap bisa memilikinya.”
Dia menundukkan kepala, meniup perlahan permukaan kopi di cangkir. “Pikirkan baik-baik pilihanmu.”
Melihat Mu Yu hendak berbicara, dia melemparkan kalimat santai, “Tidak perlu menjawab sekarang, kamu punya banyak waktu untuk memikirkannya.”
Kopi itu sudah dingin, dan cukup lama setelah Mu Yu meninggalkan kafe, barulah Mu Chenyang mengeluarkan ponsel dan menekan sebuah nomor.
“Hal yang kamu minta sudah kulakukan. Soal apakah dia mau pergi atau tidak, itu bukan urusanku lagi.”
Mendengar suara di seberang, dia terkekeh ringan. “Jangan lupa, bagaimanapun juga dia tetap anakku. Tidak mungkin aku menodongnya dengan senjata? Kalau dia mau, mungkin aku malah akan menculik anakmu jug dan membawanya pergi bersama.”
Setelah meninggalkan kafe, Mu Yu tidak langsung pulang. Dia menenangkan diri di luar terlebih dulu, baru kemudian kembali untuk menghadapi Qiu Ci.
Saat ditanya, dia tidak menyebutkan alasan sebenarnya, hanya mengatakan bahwa Mu Chenyang ingin membawanya ke luar negeri.
Melihatnya murung, Qiu Ci mencubit wajahnya sambil bertanya, “Lalu, apa kamu ingin pergi?”
Mu Yu menatapnya dalam-dalam, menggeleng, lalu menyembunyikan wajahnya di pelukan Qiu Ci. “Tidak ingin pergi, aku tidak ingin meninggalkan Ci Ye-ku.”
Qiu Ci memainkan helai rambutnya, mendengar jawaban itu dia berdecak pura-pura tidak senang. “Siapa milikmu?”
“Kamu milikku.” Mu Yu mengangkat wajahnya, kata demi kata diucapkan dengan tegas, “Qiu Ci adalah milik Mu Yu.”
Tatapan matanya penuh dengan kasih sayang, membuat wajah Qiu Ci memanas. Dia batuk kecil, berusaha menutupi rasa canggung, lalu mengalihkan topik, “Benar, ibuku akan datang besok. Hari ini bantu aku bereskan rumah.”
Pelukan Mu Yu sedikit menegang, kemudian dia tersenyum tipis. “Baik.”
Apakah ini hanya sebuah kebetulan?
Hari itu Qiu Ci benar-benar sibuk, dia harus menyembunyikan semua foto mesra mereka, menyamarkan “mainan kecil”, membuang bungkus kondom di tempat sampah, dan membuat kamar tidur yang kosong tampak seperti dihuni seseorang.
Segala sesuatu harus dipastikan tidak ada yang mencurigakan, semua hanya terlihat seperti dua mahasiswa laki-laki biasa yang sekadar tinggal bersama.
Keesokan harinya, saat Chu Qing tiba, Qiu Ci masih di kampus. Hanya Mu Yu seorang yang berada di rumah.
“Bibi Chu.” Mu Yu sedikit canggung, menyingkir memberi jalan.
Chu Qing tersenyum ramah, melangkah masuk sambil sekilas meneliti keadaan rumah, akhirnya berhenti di balkon.
Saat mencari rumah untuk ditinggali, Qiu Ci memang memilih di lantai atas, karena dari balkon menawarkan pemandangannya yang luas, dapat melihat ke segala arah.
Karena merasa tidak tenang, Mu Yu beberapa kali melirik ke sekeliling, khawatir masih ada sesuatu yang mencurigakan tertinggal.
“Lingkungannya cukup bagus.” Chu Qing menarik pandangan, kemudian duduk di sofa ruang tamu.
Di meja terdapat foto-foto Qiu Ci. Dia mengambil satu, tersenyum sambil menghela napas. “Waktu berlalu begitu cepat. Dalam sekejap, anak itu sudah sebesar ini. Saat tubuhnya masih sering sakit, dia suka membuat keributan. Setelah kesehatannya membaik, dia malah semakin tidak terkendali, membuatku dan pamanmu kewalahan.”
Karena tidak dapat menebak maksud kedatangannya, Mu Yu memilih untuk diam.
“Sejak kecil Xiao Ci selalu menyukai hal-hal baru. Begitu rasa seru itu hilang, dia akan segera mengabaikannya. Sangat jarang dia benar-benar menaruh perhatian pada sesuatu. Mungkin hanya Yu Shan yang bisa membuatnya selalu peduli.”
Meletakkan foto, Chu Qing tersenyum pada pemuda di hadapannya. “Aku cukup menyukai Yu Shan. Selama ini aku selalu mengira mereka berdua akan bersama.”
Mungkin ucapannya hanya sekadar obrolan biasa, tapi bagi Mu Yu, kata-kata itu bagai duri yang menusuk hati. Wajah Chu Qing tampak tenang, nada bicaranya wajar, sikapnya pun sama seperti biasanya, tapi bila digabungkan dengan perkataan Mu Chenyang sebelumnya, luka di hati Mu Yu semakin dalam.
Ketika Qiu Ci akhirnya pulang, Mu Yu justru harus pergi ke kelas.
Sebelum dia sempat pergi jauh, Qiu Ci berpura-pura dia lupa sesuatu lalu menyusul, menggenggam tangannya di tempat yang tidak terlihat Chu Qing, menunduk berbisik, “Jangan khawatir.”
Mu Yu mengangguk. Bagi dirinya, yang terpenting hanyalah sikap Qiu Ci. Selama Qiu Ci tidak meninggalkannya, dia tidak takut apa pun.
Chu Qing merasa tujuannya sudah tercapai. Dia pun tidak berniat lama-lama tinggal di rumah itu. Setiap kali teringat apa saja yang mungkin dilakukan kedua anak itu di sini, hatinya terasa sesak.
“Temani ibumu keluar berjalan-jalan.”
Sepanjang jalan, Qiu Ci bercerita banyak tentang hal-hal menarik di Kota Bin, sementara Chu Qing mendengarkan dengan senyum. Ketika Qiu Ci menyebut bahwa Yu Shan juga berada di Kota Bin, sorot mata Chu Qing berkilat, lalu bertanya, “Kamu masih ingin bertunangan dengan Shan Shan?”
Andai saja insiden itu tidak pernah terjadi, kakek sudah hampir menentukan tanggal dengan Nyonya Yu.
“Sudah berlalu begitu lama, mengapa tiba-tiba menyinggung hal itu?” Ekspresi Qiu Ci tampak tidak wajar. Tangannya yang semula berada di dalam saku celana terangkat, menggaruk hidungnya. “Lagipula dia tidak menyukaiku, mengapa aku harus menunggu-nunggu pertunangan?”
“Kalau begitu, apakah kamu masih menyukainya?”
“Sepertinya tidak lagi,” jawab Qiu Ci pelan. Dia menekankan bibir, lalu menoleh pada Chu Qing di sisinya, hatinya bergejolak. “Bu, sepertinya aku sudah menyukai orang lain.”
Langkah Chu Qing sempat terhenti sejenak, kemudian dia menggoda, “Gadis seperti apa yang bisa membuat Shan Shan, si cengeng, kalah bersaing?”
Bukan gadis. Kata-kata itu hampir saja keluar dari mulut Qiu Ci, tapi akalnya segera menghentikan bahaya itu.
Dia sudah memikirkan hal ini: untuk mengaku kepada orang tuanya, dia sama sekali tidak boleh gegabah. Dia harus menyusun sebuah rencana matang.
“Dia seseorang yang sangat manis.” Tatapan Qiu Ci berkilat, senyumnya semakin lebar. “Biasanya penakut, mudah sekali malu, tapi terkadang bisa sangat berani.”
Mengingat keberanian si bodoh kecil dalam kondisi-kondisi tertentu, wajah Qiu Ci seketika memanas. Khawatir Chu Qing menyadarinya, dia buru-buru mengalihkan pandangan. “Di luar terlalu panas, bagaimana kalau kita pergi berbelanja saja?”
Mereka pun melangkah ke sebuah toko perhiasan di bawah merek C.
Ketika sedang memilih kalung untuk Chu Qing, Qiu Ci mendengar pegawai toko sedang memperkenalkan sepasang cincin terbaru untuk pasangan, bernama “Cinta Pertama”.
“Apa yang kamu lihat?” Suara Chu Qing menyadarkannya. Baru saat itu Qiu Ci sadar dirinya tengah berdiri di depan etalase cincin pasangan.
“Tidak ada, hanya melihat-lihat.” dia segera mengalihkan tatapannya dari cincin itu. Ulang tahun si bodoh kecil sudah dekat, dia masih belum menemukan hadiah yang tepat…
Chu Qing mengikuti arah pandangan putranya, lalu tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, ia bertanya, “Kamu ingin memberikannya untuk orang yang sedang kamu sukai sekarang?”
“Tidak.” Qiu Ci segera memalingkan wajah. “Aku hanya sedang memikirkan hadiah ulang tahunnya.”
Chu Qing tidak berkata apa-apa lagi, hanya menatap cincin-cincin itu dengan pandangan yang sulit ditebak.
Setelah makan malam bersama, Chu Qing kembali ke hotel. Katanya, dia memang ada urusan di sini, jadi sekalian saja melihat keadaan Qiu Ci di Kota Bin.
Dalam perjalanan pulang, pikiran Qiu Ci masih terpaut pada cincin pasangan itu. Memberikan cincin pada pasangan seharusnya adalah hal yang wajar, bukan?
Hampir lima menit lamanya dia merenung, dia akhirnya memutar balik langkahnya.
Karena harus diukir dengan nama, cincin itu baru bisa diambil lima hari kemudian, tepat pada hari ulang tahun Mu Yu.
Dalam lima hari itu, selain kuliah dan bersama si bodoh kecil, Qiu Ci juga menyempatkan diri menemui Yu Shan, untuk membuka kembali “pohon harapan” lama mereka.
Kebanyakan waktu dia habiskan untuk berdiskusi dengannya, bagaimana caranya agar Nyonya Chu yang ramah serta Qiu Wei yang keras kepala dapat menerima kenyataan bahwa putra mereka mencintai seorang laki-laki.
Bagi Qiu Ci, yang paling sulit sebenarnya bukanlah ibunya yang terbuka dan lembut, melainkan ayahnya yang sekeras batu. Karena itu, dia harus merancang rencana tanpa celah.
Bagi Qiu Ci, bertemu Yu Shan adalah hal biasa. Namun bagi Mu Yu, hal itu lain lagi maknanya.
Dalam hubungan mereka yang sejak awal sudah timpang ini, Qiu Ci terlalu tinggi menaruh harapan bahwa Mu Yu akan merasa aman, sementara Mu Yu justru meremehkan sedalam apa perasaan Qiu Ci padanya.
Kecemasan dan kepanikan yang terus menumpuk di hatinya sudah di ambang kehancuran dan sewaktu-waktu bisa meledak karena hal kecil yang tampaknya tidak penting.
Hari ini adalah hari ulang tahun Mu Yu.
Saat dia membuka mata, Qiu Ci memberinya ciuman pagi yang lembut sekaligus panjang. Dia sengaja tidak menyebut soal ulang tahun, berharap bisa memberinya kejutan.
Kue sudah dipesan. Cincin akan diambil sepulang kuliah.
Semuanya berjalan sesuai rencana. Selesai mengambil kue, Qiu Ci mengendarai mobil menuju toko untuk mengambil cincin pasangan yang sudah diukir.
Begitu menerima kotak cincin dari pegawai toko, jemarinya membelai ukiran di bagian dalam, huruf-huruf awal namanya dan si bodoh kecil.
Sejujurnya, hubungan ini sama sekali berbeda dari gambaran cinta yang dulu dia idamkan.
Dulu, sosok yang ingin dia jadikan kekasih adalah Yu Shan. Impiannya sederhana, hanya bepergian bersama, sesekali berbincang tentang kehidupan dan cita-cita. Tidak perlu berapi-api, cukup tenang dan mengalir seperti air.
Adapun tentang ciuman, pelukan, atau kedekatan fisik lainnya, dia bahkan tidak pernah memikirkannya, dia juga tidak menyukai keintiman fisik seperti itu.
Namun kehadiran Mu Yu telah menghancurkan seluruh konsep itu. Mereka berpegangan tangan, berciuman, berpelukan, melakukan hampir semua hal yang biasanya dilakukan pasangan saat hubungan semakin dalam.
Dia juga suka, dan bahkan terobsesi, berkomunikasi dengan tubuh Mu Yu.
Jantung Qiu Ci berdebar kencang memikirkan orang ini, wajahnya terasa panas, dia bahkan panik dan berbicara tanpa berpikir.
Perasaan seperti ini tidak pernah dia temui pada siapa pun. Mungkin benar kata Shan Shan, sejak awal dirinya memang sudah…
Cincin di tangannya dingin, namun tidak mampu mendinginkan panas yang menjalari tubuhnya.
Dia menaruh cincin itu dengan hati-hati di dalam kotaknya, lalu membayangkan ekspresi si bodoh kecil saat menerimanya. Sudut bibirnya pun tidak kuasa menahan senyum.
Sepanjang jalan pulang, Qiu Ci menahan debaran gugup bercampur gembira di dadanya. Setiap kali lampu lalu lintas menyala merah, dia tidak tahan untuk meraba kotak cincin dalam saku.
Hanya sebuah hadiah ulang tahun, mungkinkah si bodoh kecil salah paham? Kalau pun salah paham… ya, tidak masalah. Terlebih, setelah berusia dua puluh tahun, mereka bisa benar-benar menikah.
Senja hari itu langitnya terbakar merah, seolah menyalin isi hati Qiu Ci yang diliputi nyala api, meninggalkan jejak hangat menggoda.
Ketika malam benar-benar turun, dia hampir sampai di rumah.
Menatap angka-angka di layar lift yang terus bertambah, semakin dekat dengan lantai tempat mereka tinggal, lengkungan senyumnya sama sekali tidak dapat ditekan.
Begitu pintu lift terbuka, dia keluar dengan kue di tangan, lalu sekali lagi memastikan semua hal penting sudah bersamanya.
Terdengar bunyi klik, pintu terbuka.
Orang di dalam rumah mendengar suara halus itu, menahan senyum di bibir, lalu berpura-pura tidak tahu sambil menata mangkuk dan sumpit di tangannya. Sejak kemarin dia sudah melihat pesanan kue ulang tahun yang disimpan Qiu Ci di dalam laci.
Beberapa detik kemudian, Mu Yu mendengar telepon Qiu Ci berdering, dan kemudian mendengarnya berkata, “Oke, aku akan segera ke sana.”
Dia menyaksikan bagaimana ekspresi Qiu Ci berubah panik, buru-buru menutup panggilan, bahkan tidak sempat menoleh ketika menjelaskan: “Yu Shan mengalami kecelakaan, aku harus ke rumah sakit.”
Qiu Ci bergegas menuju pintu, namun tidak kuasa menahan diri untuk menoleh ke belakang. Entah karena tatapannya terlalu cepat, seolah dia melihat lingkar mata si kecil sudah memerah.
Mu Yu berdiri di ambang pintu, menahan perih di matanya, menatap pintu yang terbuka lebar itu begitu lama.
Dia ingin bertanya pada Qiu Ci berkali-kali, jika dia hanya bisa memilih satu orang untuk dilindungi, siapa yang akan dia pilih antara Mu Yu dan Yu Shan pada akhirnya.
Sekarang, sepertinya dia sudah tahu jawabannya. Atau mungkin, sejak lama dia sudah mengerti. Hanya saja, sedikit harapan membuatnya percaya bahwa waktu dapat mengubah segalanya. Nyatanya, impian itu kembali hancur, menyeretnya lagi ke dalam kenyataan yang kejam.
Qiu Ci tiba di rumah sakit, bertemu dengan gadis yang meneleponnya. Gadis itu menjelaskan, saat pulang dia menemukan Yu Shan pingsan di jalan, lalu membawanya ke rumah sakit. Karena tidak membawa cukup uang, dia hanya bisa menggunakan sidik jari Yu Shan untuk membuka ponselnya dan menelepon. Nomor yang tersimpan sedikit, dan catatan kontak Qiu Ci diberi nama “ge”, sehingga dia pun menghubungi.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada gadis itu, Qiu Ci tetap di rumah sakit menunggu Yu Shan bangun.
Menjelang pagi, Yu Shan akhirnya membuka mata. Dia menatap sekeliling dengan bingung, dan ketika melihat Qiu Ci, keterkejutan itu semakin dalam.
Mengapa dirinya berada di rumah sakit?
Dia mengingat, semalam merayakan sesuatu bersama rekan band. Karena sedang datang bulan, dia tidak minum alkohol, hanya meminum susu. Setelah itu, dalam perjalanan membeli sesuatu, dia merasa sangat mengantuk. Begitu terbangun, dia sudah berada di sini.
Mendengar penjelasannya, Qiu Ci mengerutkan kening. Dia merasa ada yang tidak beres, tapi tak menemukan letak masalahnya.
Dilihat dari situasi saat ini, tampaknya ada yang mengincar Yu Shan dan memberinya obat bius dengan tujuan melakukan kejahatan, namun karena suatu alasan gagal dan dia dibawa ke rumah sakit oleh seorang gadis baik hati yang lewat.
Polisi dipanggil, berita dicatat, dan waktu pun banyak terbuang.
“Kamu pulanglah terlebih dulu,” ucap Yu Shan melihat Qiu Ci begitu lelah.
Qiu Ci ingin berkata tidak, tapi ketika dia teringat pada si bodoh kecil yang tampak seperti hendak menangis, dia bergumam pelan dan meminta Yu Shan untuk meneleponnya jika ada sesuatu, dan memikirkan baik-baik detail yang telah dia lewatkan tadi malam.
Saat kembali, Qiu Ci mendengar suara televisi di ruang tamu. Dia berjalan mendekat, melihat Mu Yu duduk memeluk lutut di sofa, menatap layar tanpa berkedip.
Mendengar langkahnya, Mu Yu menoleh, tersenyum lembut. “Kamu sudah kembali.”
Senyuman itu tipis, begitu patuh.
Mu Yu bangkit, mengeluarkan kue dari kulkas.“Seharusnya masih bisa dimakan. Aku akan menyalakan lilin.”
Meski hatinya terluka, dia sama sekali tidak mengeluh. Tenggorokan Qiu Ci terasa tercekik, butuh waktu lama untuk akhirnya berbisik “Maaf.”
“Tidak apa-apa.” Mu Yu menatapnya dengan penuh kelembutan. “Aku tahu Yu Shan sangat penting bagimu. Jika dia mengalami masalah, wajar jija kamu cemas. Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Sudah ada yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit, tidak apa-apa.”
“Untungnya dia baik-baik saja.” Mu Yu menancapkan lilin, meniupnya setelah berdoa, lalu berkedip nakal. “Ada hadiah?”
Baru saat itu Qiu Ci teringat hadiah yang belum sempat diberikan. Saat merogoh saku, itu kosong. Dia begitu sibuk sehingga tidak tahu di mana dia menjatuhkannya secara tidak sengaja.
“Kurasa aku kehilangannya.” Suara Qiu Ci agak lemah. Bukan hanya dia tidak merayakan ulang tahunnya bersama, tapi dia juga kehilangan hadiahnya.
“Tidak apa-apa.” Mu Yu memeluknya. “Memilikimu saja sudah cukup bagiku.”
Hari itu, si bodoh kecil bukan hanya tidak marah, tapi malah berperilaku begitu baik.
Selama hari-hari ketika Mu Yu pernah menghilang tanpa kabar, Qiu Ci selalu bertanya pada diri sendiri, seandainya saat itu dia lebih peka, lebih peduli pada perasaan si bodoh kecil, tidak sebegitu egois, mungkinkah semua ini tidak akan terjadi?
Namun saat ini, Qiu Ci hanya merasa betapa patuhnya si bodoh kecil. Dia membungkuk dan menciumnya, berjanji akan mengembalikan hadiah itu. Dia juga mengatakan bahwa Yu Shan mungkin sedang diincar oleh seseorang yang berniat jahat, dan dia akan memeriksanya dalam beberapa hari ke depan.
Apa pun yang dia ucapkan, Mu Yu hanya menjawab dengan lembut, “Baiklah.”
Seminggu kemudian.
Qiu Ci teringat bunga-bunga di rumah sudah layu. Dalam perjalanan pulang, dia mampir ke toko bunga membeli seikat bunga baru, lalu singgah ke toko kue membeli hidangan manis kesukaan Mu Yu.
Pelukannya penuh bunga, tangannya memegang kantong kue, dan dengan tangan satunya dia membuka pintu rumah.
Suasana rumah begitu hening. Qiu Ci mengira Mu Yu ada di kamar. Setelah mengganti bunga, ia melangkah perlahan ke kamar untuk memeriksanya.
Tidak ada seorang pun?
Sambil menelpon, dia mencari di ruangan lain. Sekilas matanya menangkap sesuatu di meja makan.
Sebuah surat, dari siapa?
Saat hendak mengambilnya, bel pintu berbunyi.
Orang yang datang adalah Yu Shan. Ia dan teman-teman bandnya harus meninggalkan Kota Bin karena ada urusan mendesak, jadi mereka datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Qiu Ci.
“Di mana si bodoh kecilmu?” tanya Yu Shan.
“Entahlah, dia pasti pergi keluar untuk sesuatu,” jawab Qiu Ci sambil membalik amplop itu. Tidak ada tulisan apa pun di sana, jadi dia tidak tahu untuk siapa.
Dia ragu sejenak, lalu membukanya.
Isinya singkat, dengan tulisan tangan yang sangat dia kenal:
[Ah-Ci, aku lelah. Aku menyerah, semoga kamu bahagia.]
Hari itu, Mu Yu pergi diam-diam. Dia tidak membawa apa pun, hanya meninggalkan sepucuk surat.
Surat itu, bersama semua benda lain yang berkaitan dengannya, satu per satu Qiu Ci lemparkan ke dalam tong besi, lalu membakarnya hingga habis.
